Di balik tumpukan berkas
dan agenda yang menunggu,
ada hatiku yang diam-diam letih,
menyimpan segala yang tak mungkin kuceritakan
pada siapa pun.
Aku berjalan sendirian
di jalan yang seharusnya dilalui bersama,
menggendong amanah yang kadang terlalu berat,
namun tetap kupeluk erat
karena aku tahu ini bukan sekadar tugas,
ini jalan kebaikan.
Aku yang tak pernah bersuara keras,
menyembunyikan luka di balik senyum kecil,
dan menyeka air mata
di sela-sela doa panjangku malam hari.
Bukan karena aku lemah,
tapi karena aku terlalu sering kuat
hingga tak ada tempat tersisa
untuk mengeluh pada manusia.
Kadang aku iri
pada mereka yang bisa meminta tolong
tanpa ragu,
yang dikelilingi tangan-tangan yang siap membantu.
Sementara aku…
menyusun rencana demi rencana
dengan tangan sendiri,
dengan rezeki yang tak seberapa,
dengan hati yang terus berkata,
“Bertahanlah… ini semua karena Allah.”
Jika dunia tak melihat,
tak apa…
karena aku tahu Allah melihat
bahkan setetes air mata yang jatuh
sebelum aku sempat menyentuhnya.
Jika manusia diam,
tak apa…
karena cukup satu doa kecil
untuk menjadikan langkahku kembali kuat.
Aku bukan ingin pujian,
hanya ingin sedikit dipahami.
Sedikit saja…
Tapi bila itu pun tak ada,
aku tetap berjalan
dengan bekal sabar,
dengan roda yang menemani,
dengan senyum anak-anak binaan
yang membuatku kembali ingat:
inilah alasanku bertahan.
Dan pada akhirnya,
aku yakin…
Allah akan mengembalikan setiap lelahku
dengan sesuatu yang jauh lebih indah
daripada yang pernah kupinta.
.jpg)