Pages-Menu

Refleksi Ramadhan Hari ke-11: Allah Tahu Apa yang Terbaik Untukku

Allah Tahu Apa yang Terbaik Untukku

Pada suatu malam Ramadhan,
aku pernah duduk di atas sajadah
bukan untuk meminta,
bukan untuk mengadukan siapa pun,
bahkan bukan untuk mengurai doa panjang seperti biasanya.

Aku hanya diam.
Menarik napas perlahan,
meletakkan semua yang berat dari pundakku,
dan membiarkan hatiku berbicara tanpa suara.

Malam itu tidak ada air mata,
tidak ada permintaan khusus,
tidak ada daftar harapan yang kunamai satu per satu.

Hanya satu kalimat yang terucap
di dalam hati yang paling dalam:

“Allah tahu apa yang terbaik untukku.”

Dan entah kenapa,
di titik itu aku merasa
ketenangan yang paling tulus justru datang
ketika aku berhenti memaksa keadaan
dan mulai menyerahkan semuanya kepada-Nya.

Ramadhan mengajarkan bahwa
bukan semua doa harus berbentuk kata-kata.
Kadang diam pun bisa menjadi ibadah,
bisa menjadi pasrah yang paling khusyuk,
dan bisa menjadi tanda bahwa aku percaya sepenuh hati
pada rencana yang belum terlihat.

Hari ke-11 ini,
aku belajar lagi bahwa
yang terbaik menurutku belum tentu terbaik menurut Allah.
Dan apa pun yang belum datang,
apa pun yang diambil,
apa pun yang diganti
semuanya ada dalam skenario yang tidak pernah salah.

Malam itu aku hanya duduk,
diam,
dan percaya.

Karena itu sudah cukup.