Sekuat apa diriku, ya Allah, sehingga Engkau sangat percaya bahwa aku bisa melewatinya?
Air mata malam ini bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kejujuran hati. Aku menangis bukan karena kalah, tapi karena percaya: Engkau selalu ada, bahkan saat aku merasa rapuh.
Tahajud ini menjadi ruang paling intim untukku berbicara dengan-Mu. Aku ingin menyerahkan seluruh letih, seluruh rasa takut, dan seluruh harapan. Karena aku tahu, Engkau lebih dulu percaya aku mampu, meski aku sering meragukan diriku sendiri.
"Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin."
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Ayat ini menjadi penguat: bahwa setiap langkah, setiap doa, bahkan setiap air mata, semuanya kembali kepada-Mu.