Pages-Menu

Yang Menanggung Senyap

Di sudut kecil ruang kerja yang sunyi,

aku menata tugas demi tugas
dengan tangan yang pernah lelah,
tapi tak pernah benar-benar berhenti.

Ada amanah yang datang tanpa mengetuk,
ada tanggung jawab yang jatuh ke pangkuan
begitu saja,
tanpa ditanya apakah aku mampu,
atau sedang baik-baik saja.

Mereka diam.
Tapi aku tetap berjalan.
Dengan roda yang setia memeluk lantai,
dan doa yang tak pernah putus dari dada.

Aku bukan ingin disanjung,
bukan pula menagih balasan.
Hanya ingin sedikit bahu tempat bersandar,
sedikit suara yang berkata,
“Aku bantu.”

Tapi dunia tidak selalu begitu…
dan kadang, yang kuat harus menangis diam-diam,
agar esok pagi tetap terlihat tegar.

Hari-hari terakhir ini,
aku mengumpulkan remah keberanian
untuk menata program,
untuk menyambut kunjungan,
untuk menjaga senyum anak-anak binaan
agar tetap tumbuh meski kantong sendiri kosong.

Ya Allah…
Aku bukan pahlawan.
Hanya seorang hamba yang tak enak hati
melihat amanah tergeletak tanpa penjaga.

Maka biarkan air mata turun malam ini.
Biarkan beban itu luruh pada sajadah.
Karena aku tahu…
rezeki, kekuatan, dan pertolongan
tak pernah datang dari manusia,
tapi dari-Mu yang Maha Melihat
setiap langkah kecilku di tempat yang sepi.

Dan biarlah dunia tak paham,
asal Engkau paham.
Biarkan manusia diam,
asal Engkau mendengar.

Aku akan tetap berjalan,
pelan…
tapi pasti.
Dengan hati yang remuk,
tapi tetap hidup.

Karena aku percaya…
Selama tujuan ini lillah,
Engkau akan menuntun
walau jalanku penuh sunyi.