Aku Tidak Bertanya, Tapi Aku Tahu

Aku menemukan potongan masa lalu,

sebuah komentar yang tertimbun tujuh tahun, namun masih mampu membangunkan rasa yang pernah kutidurkan dalam doa.

Dia, lelaki yang kini menjadi suamiku, dulu bukan pilihanku, dan aku pun bukan pilihannya. Aku hanyalah diam yang kalah oleh tawa, oleh kata-kata yang pandai menjerat, oleh ramah yang terlalu mudah akrab.

Aku pernah merasa tak terlihat, seperti bayangan yang berdiri di sudut ruangan, menunggu dipanggil, namun tak pernah disebut.

Maka aku memilih jeda. Menjauh, bukan untuk menghilang, tapi agar luka bisa kulipat rapi dalam lemari doa. Aku sibuk merajut diriku sendiri, menyulam sabar dengan benang air mata, menyusun harapan di antara sujud panjang.

Tiga tahun lalu, ia kembali. Di sebuah agenda kemanusiaan, di tengah wajah-wajah yang penuh semangat, ia hadir seolah tak pernah pergi. Tanpa basa-basi ia berkata: "Kita nikah yuk."

Aku terkejut, wajahku memerah, dan bodohnya aku bertanya, "Sudah pernah menikah siri berapa kali?" Ia tertawa, lalu menjawab, "Tidak pernah sama sekali."

Sebelum aku mengiyakan, aku bercerita pada sahabat, tentang keraguan yang masih tinggal, tentang luka yang pernah kupendam. Sahabatku tersenyum, "Diterima saja… aku lihat dia serius."

Sejak malam itu, aku belajar percaya. Pelan-pelan rasa tumbuh menjadi keyakinan. "Cinta kita sampai surga-Nya ya," katanya. Dan aku, yang dulu terbiasa diam, hanya bisa tersenyum, menangis, bahagia.

Namun diamku masih ada. Tiga tahun pernikahan, aku kembali tersandung masa lalu. Komentar seorang perempuan, gurauan lama yang membuatku cemburu. Padahal ia sudah lama meninggalkan dunia maya itu.

Aku tidak bertanya, tapi aku tahu. Bahwa sebagian rasa butuh waktu untuk benar-benar sembuh.

Karena yang terluka bukan aku hari ini, melainkan aku tujuh tahun lalu, yang tak pernah diberi ruang bicara.

Sayangnya, ia hanya mencintai versi aku yang sembuh, bukan versi aku yang dulu diam, tersisih, namun tetap bertahan.

Maka biarlah aku pendam sendiri cemburu ini. Aku sudah belajar, bahwa perempuan yang bertahan tak selalu harus dimengerti, cukup didengar, walau hanya lewat cerita.

Dan malam ini, aku menulis. Menulis bukan untuk bertanya, bukan untuk menggugat, tapi untuk mengingatkan diriku sendiri: bahwa cinta adalah perjalanan panjang, kadang penuh luka, kadang penuh sabar, namun selalu ada ruang untuk sembuh.