Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

"Seperti Pertama Kalinya"

Aku selalu mencintaimu

seperti pertama kalinya meski jarak menjelma dinding, meski waktu sering mencuri pertemuan.

Di setiap senja yang sunyi, aku mendengar namamu berbisik dari doa yang tak pernah letih, menyulam rindu jadi kekuatan.

Kau di sana, aku di sini, namun hati kita tak pernah berpisah. Setiap tatap yang tertunda, setiap pelukan yang menunggu, tetap hangat, tetap utuh, seperti pertama kalinya.

Dan bila esok kita kembali bertemu, biarlah dunia tahu cinta ini tak pernah menua, ia selalu lahir kembali, seperti pertama kalinya.



Terbiasa Sendiri

Walau tidak ditemani,

aku belajar berjalan sendiri, menyulam langkah di jalan sepi, menemani diriku dengan doa yang tak pernah mati.

Walau tidak didengar, aku memilih diam, membiarkan suara hatiku menjadi rahasia yang hanya aku pahami.

Kesepian datang seperti bayangan, melekat di sudut ruang, namun aku berusaha, agar terbiasa dengan sunyi yang panjang.

Karena dalam sepi, aku menemukan kekuatan, dalam diam, aku belajar ketabahan.

Walau tidak ditemani, aku tetap bisa berdiri, walau tidak didengar, aku tetap bisa berarti.



“Senyum bisa menipu. Tapi intuisi jarang salah.”

Senyum itu manis,  

tapi tidak selalu tulus.  

Ada yang menyapa dengan cahaya,  

ada pula yang menyimpan bayangan di balik mata.


Tidak semua yang tersenyum padamu,  

mendoakanmu tetap utuh.  

Beberapa hanya ingin melihatmu retak,  

dengan wajah yang tetap ramah.


Jangan takut berjalan sendiri,  

yang tulus akan tetap tinggal tanpa perlu topeng.



“Tak semua senyum itu doa. Kadang cuma topeng.”

Di dunia yang penuh sorot dan sapaan,  

aku belajar satu hal:  

senyum bukan selalu tanda cinta.  

Kadang, itu hanya formalitas.  

Kadang, itu hanya strategi.


Aku pernah percaya semua yang tersenyum padaku,  

adalah teman.  

Ternyata, beberapa hanya menunggu aku jatuh  

agar mereka bisa berkata, “Sudah kuduga.”


Tapi aku tak marah.  

Aku hanya lebih bijak sekarang.  

Dan lebih selektif pada siapa yang aku izinkan masuk ke dalam doa-doaku.



DIAM YANG BERSUARA

Angin lewat, tak bertanya

Langit redup, tak menjelaskan

Ada yang gugur di dalam dada

Tapi tak satu pun daun terlihat jatuh


Waktu berjalan seperti biasa

Jam berdetak, lampu menyala

Tak ada yang berubah di luar

Kecuali suara yang tak sempat keluar


Jika ada yang membaca,

mereka hanya akan melihat kata

Tapi yang mengenal,

akan mendengar diamnya suara




HUJAN PAGI INI

Di balik tirai

Hujan jatuh tanpa henti,

Menyusuri tanah, menyusuri sepi,

Membawa aroma rindu yang sulit dimengerti.


Derasnya mengetuk lembut,

Seolah mengetuk pintu hati,

Mengingatkan bahwa setiap luka,

Punya caranya sendiri untuk sembuh.


Aku duduk menatap diam,

Hujan jadi teman yang paling setia,

Menyimpan cerita,

Yang hanya bisa dibaca oleh jiwa.



RINDU TAK PERNAH USAI

Ada rindu yang tak pernah usai,

seperti malam yang setia pada bintang.

Ada luka yang tak terucap,

hanya bisa kutitipkan pada langit yang diam.


Kadang sakit itu tak terlihat,

tapi terasa dalam setiap detak.

Dan di balik senyum yang kubagi,

ada hati yang diam-diam berdarah sendiri.


Masyaa Allah… sakiiittt, tapi biarlah waktu yang merawat.

Karena aku percaya, setiap rasa yang patah

akan Allah ganti dengan indah.






WAKTU

Waktu…

adalah saksi yang tak pernah lelah

mengikuti langkah kita, dari gelap hingga cahaya

dari air mata yang jatuh di pagi buta

hingga tawa yang pecah di senja merah.

Kita pernah tersesat

pernah terdiam di persimpangan sunyi

namun genggaman itu tak pernah lepas

meski badai menampar, meski ombak mencaci.

Kita belajar,

bahwa cinta bukan hanya tentang rasa manis

tapi juga luka yang dirawat bersama

bukan hanya tentang janji di awal

tapi kesetiaan yang tumbuh di tengah ujian.

Hari ini…

aku tak minta emas atau permata

aku hanya ingin waktumu,

utuh, hangat, sederhana

karena di setiap detik bersamamu,

aku menemukan rumahku.

Selamat Anniversary,

untuk kita yang masih berdiri,

meski waktu tak selalu ramah…

namun selalu mengajarkan,

bahwa bersama… adalah waktu terbahagia




DERITA YANG KUCINTA

Aku mencinta takdirku,

Meski setiap helaan napas terasa pedih,

Meski luka menari di relung hatiku,

Aku tetap bertahan…

Hanya karena Engkau, Ya Allah,

Menyaksikan kesetiaanku dalam sepi.


Tugasku sederhana: bertahan.

Bertahan menahan rindu akan kebahagiaan

Yang entah kapan akan Engkau kirimkan,

Atau menanti kematian memelukku perlahan.


Aku takut, Ya Rabb…

Takut hati ini jauh dari cahaya-Mu,

Takut Engkau meninggalkanku dalam gelap,

Namun aku tahu…

Setiap air mata, setiap derita,

Adalah bait-bait cinta-Mu padaku,

Yang meski pahit, tetap harus kucintai




HBD SANG EXPLORE


 Di batas senja, usia bertambah,

bukan sekadar angka… tapi jejak penuh makna.

Ada tawa, ada air mata,

ada cerita yang tak semua orang bisa baca.


Cak Bolang, Sang Explore 

engkau bukan sekadar penjelajah jalan,

tapi penjelajah hati banyak orang.

Dengan langkah yang ringan,

engkau hadir membawa terang.

Setiap candamu menghapus duka,

setiap aksi gilamu menyemai suka.

Tapi di balik tawa itu,

ada niat tulus yang tak pernah kamu pamerkan.


Hari ini, semesta turut mengucap:

“Barakallahu fii umrik, wahai penebar bahagia.”

Semoga Allah jaga langkahmu,

panjangkan umurmu dalam taat,

dan lapangkan hatimu untuk terus menguatkan sesama.


Selamat milad,

tetaplah jadi kamu yang tak tergantikan.

Kami di sini, bangga pernah mengenalmu

sebagai sahabat... sekaligus pahlawan untuk anak2 yatim piatu

yang senantiasa menunggu genggaman tanganmu.




"Yang Dikhianati Tak Pernah Benar-Benar Kalah"

Pernah ku jatuh dalam luka,

Dikhianati tanpa sedikit pun curiga.
Aku menangis, bukan karena lemah,
Tapi karena percaya yang salah.

Aku tak melawan, hanya diam.
Kutitipkan pedih pada Tuhan yang paham.

Lalu waktu berjalan...

Mereka yang menyakiti kini runtuh,
Saling menyakiti, saling menghancurkan.

Sementara aku?
Bangkit.
Berkembang.
Dan dicintai oleh seseorang yang tak perlu ku minta untuk setia.

Dulu aku dianggap biasa,
Kini aku jadi perempuan luar biasa.

Tak perlu balas dengan dendam,
Cukup buktikan...

Yang sabar selalu menang di akhir kisah.


LUKA

Ada luka yang tak terlihat,tapi menetap dalam diam.

Bukan karena siapa yang menyakiti,
tapi karena siapa yang pernah membuat kita percaya...
lalu pergi,
meninggalkan ruang hampa yang tak bisa diisi lagi.

Aku pernah ada di sana
di batas antara menerima dan menyangkal,
antara memaafkan atau memudar perlahan
dari kehidupan orang yang dulu kucintai sepenuh jiwa.

Tapi luka bukan akhir dari cerita.
Ia bagian dari perjalanan...
yang membentuk aku hari berikutnya


"Dalam Diamku"

Dalam diamku ada ribuan kata

Yang tak sempat kutuliskan pada semesta

Tapi Allah tahu segalanya

Tentang luka, tentang doa yang kusembunyikan di balik senyuman biasa


Wajah ini mungkin tampak tenang

Tapi hati? Pernah karam berkali-kali dan tetap memilih pulang

Pulang pada harap, pada cinta yang tak menuntut balasan

Pada perjuangan yang tak semua orang mengerti jalan


Aku tak butuh tepuk tangan

Tak perlu dipahami oleh setiap insan

Cukuplah Allah tahu apa yang kuperjuangkan

Dan aku tetap di sini… melangkah dalam iman


AKU HARI INI

Aku hari ini,

Memeluk pena dengan hati yang penuh,

Menulis kisah di sela tugas dan waktu,

Menyusun huruf demi huruf

di antara panggilan sosial dan kewajiban hidup.


Ada tanggung jawab yang mengetuk,

Ada jiwa yang harus dilayani,

Dan ada diriku sendiri

Yang masih ingin tumbuh,

masih ingin berarti.


Aku hari ini,

Menyeka lelah dengan senyum yang tak selalu terlihat,

Berjualan meski tubuh ingin rebah,

Menjawab satu per satu kebutuhan

Yang tak pernah menunggu esok.


Tapi aku tetap melangkah.

Bukan karena kuat,

Melainkan karena cinta

Dan rasa ingin terus berguna.


Aku hari ini

Bukan sempurna,

Tapi selalu mencoba

Jadi versi terbaik

Meski hari kadang berat terasa.


MENELUSURI GELAPNYA ALAS ROBAN



Malam turun tanpa suara,

aku dan langkah kecilku menelusuri sunyi semesta.

Di antara kabut, hening, dan bisik dedaunan,

Alas Roban bercerita—dengan caranya yang diam.


Tak hanya gelap yang kami lawan,

tapi juga ragu, dan bayang-bayang dalam pikiran.

Namun niat baik menuntun jalan,

dan cahaya hati jadi penerang di belantara kehidupan.


Bukan uji nyali, ini bagian dari langkah cinta,

untuk sebuah harapan, untuk secercah bahagia.

Malam ini, aku menyapa hutan dengan doa,

semoga setiap langkahku diridhoi-Nya.


LAPTOP YANG TANGGUH

Aku punya sahabat, bukan mesin biasa  

keyboard-nya sudah tak lentur,  

layarnya menyala dengan azam,  

walau kadang error jadi bahasa cinta


Dulu pinjaman, kini jadi mitra  

tak perlu dikembalikan—karena mungkin tahu,  

aku butuh teman yang bisa bertahan,  

lebih lama dari mood tulisanku


Ia tak pernah protes,  

meski CV, proposal, dan puisi  

menumpuk bagai harapan yang belum cair  

Dan aku pun tak mematikannya…  

bukan karena lupa,  

tapi karena tahu:  

jika ia mati, aku yang ikut diam 


Aku Masih Melangkah

Aku tidak punya sayap,

tapi aku punya harapan.

Aku tak bisa berlari,

tapi aku tak pernah berhenti berjalan.


Meski langit kadang gelap,

aku percaya fajar selalu datang.

Meski dunia tak selalu ramah,

aku percaya Allah selalu mendekap.


Aku mungkin terjatuh,

tapi aku tak akan tinggal di bawah.

Aku menangis,

tapi aku tak pernah menyerah.


Karena aku tahu,

setiap sabar akan diganti tawa,

setiap luka akan berubah doa,

dan setiap langkahku…

pasti mengarah ke surga.


KAMU

Satu yang Ditakdirkan

Di bawah langit yang tak lelah menyimpan rahasia,

Ada satu nama yang kusebut pelan dalam setiap sujudku.

Bukan karena sempurna,

Tapi karena ia menuntunku mendekat kepada-Nya.


Bukan hanya aku yang mencintai,

Tapi doa-doa pun ikut jatuh hati padamu.

Kau bukan sekadar teman hidup,

Kau adalah harapan untuk hidup setelah hidup.


Aku mencintaimu dengan ridha, bukan ragu.

Dengan sabar, bukan sekadar senang.

Dengan yakin, bahwa cinta ini bukan milikku,

Tapi titipan yang akan kukembalikan pada surga-Nya.


Jika waktu menua dan kulit kita berubah,

Biar cinta tetap muda dalam amal dan taqwa.

Satu, karena dua akan terlalu ramai,

dan kamu sudah menjadi arah yang paling tenang


Tak Harus Sendiri

Ada hari-hari di mana aku memilih diam,  

bukan karena kalah,  

tapi karena sedang menata ulang semangatku.


Aku mundur selangkah,  

bukan untuk menyerah,  

melainkan mengatur napas  

agar langkah selanjutnya lebih mantap.


Di balik sunyi,  

ada percakapan dengan diri sendiri—  

tentang impian yang belum padam,  

dan harapan yang terus tumbuh diam-diam.


Aku tidak menghindar,  

aku sedang memeluk diriku sendiri,  

mengisi ruang kosong dengan keberanian baru.


Karena mencintai hidup,  

kadang artinya memberi jeda sejenak—  

bukan untuk berhenti,  

tapi untuk kembali melangkah  

dengan hati yang lebih teguh  

dan cahaya yang lebih terang.


Peluklah Diri Sendiri (untuk segala hal yang membuatmu lelah)

Peluklah diri sendiri,  

seperti langit memeluk senja dalam tenang.  

Untuk setiap letih yang tak terucap,  

Allah tahu—dan itu cukup.


Peluklah diri sendiri,  

karena hatimu telah berjalan jauh,  

melewati badai yang tak semua orang lihat.  

Dan dalam setiap langkah tersembunyi,  

ada malaikat yang mencatat sabarmu.


Peluklah diri sendiri,  

bukan karena kau lemah,  

tapi karena kau telah kuat terlalu lama.  

Istirahatlah dalam dzikir,  

biarkan namanya menjadi pelipur lelahmu.


Peluklah diri sendiri,  

sebab Rabb-mu tak pernah jauh.  

Dalam sujud yang lirih,  

dalam doa yang nyaris tak bersuara,  

Dia mendengar segalanya.