https://www.eventmenulisnasional.com/2026/07/ana-restuningtyas-doa-yang-menemukan.html
PESERTA LCP 47
BENIH DOA
Kutanam doa di ladang waktu,
Bukan untuk dipanen esok pagi.
Aku percaya, hujan rahmat-Mu
Tak pernah salah memilih musim sendiri.
Kupupuk dengan sabar yang menggigil,
Kusiram dengan sujud yang panjang.
Meski angin ragu berulang kali datang,
Akar harap tetap menembus terang.
Hingga suatu fajar mengetuk jendela,
Bukan membawa semua yang kuminta.
Melainkan menghadirkan jawaban paling sempurna,
Yang bahkan tak sempat kususun dalam kata.
Kini kutahu, doa bukan sekadar suara,
Ia adalah benih yang hidup dalam jiwa.
Dan ketika Allah berkehendak menyapa,
Seluruh semesta ikut berkata: "Inilah waktunya.
Pancasila, Nafas Persatuan - Langit Didada
Di tanah yang terbentang dari sabang hingga merauke,
berjuta langkah menapaki jalan yang sama.
Berbeda bahasa, adat, dan warna,
namun tetap satu dalam cinta Indonesia.
Pancasila hadir bagai pelita,
menerangi jalan bangsa yang beragam.
Menuntun hati untuk saling menghargai,
menguatkan tangan dalam semangat gotong royong.
Ketuhanan menjadi cahaya jiwa,
kemanusiaan menjadi wajah bangsa.
Persatuan menjelma ikatan yang kokoh,
musyawarah menghadirkan kebijaksanaan,
keadilan menjadi cita-cita bersama.
Hari ini, kita mengenang lahirmu,
bukan sekadar sebagai dasar negara,
melainkan sebagai janji yang terus dijaga,
agar Indonesia tetap berdiri megah dan bermartabat.
Wahai Pancasila,
engkau bukan hanya rangkaian kata,
engkau adalah nafas persatuan,
yang menghidupkan harapan di setiap generasi.
Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila
1 Juni 2026
Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia
https://www.wattpad.com/1632980398-pancasila-nafas-persatuan
Di Antara Takbir dan Doa yang Diam
Di antara gema takbir yang bersahutan,
ada doa-doa yang diam-diam dilangitkan.
Tentang hati yang ingin tetap kuat,
tentang langkah yang ingin tetap taat.
Idul Adha mengajarkan ikhlas,
meski kadang hidup tak selalu jelas.
Tentang melepaskan yang berat,
dan percaya Allah selalu paling tepat.
Maka hari ini,
biarlah air mata menjadi doa,
biarlah rindu menjadi sabar,
dan biarlah segala luka perlahan Allah tukar dengan bahagia.
Taqabbalallahu minna wa minkum
Semoga Allah menerima setiap ketulusan yang tak pernah sempat diceritakan.
PERJALANAN DZULHIJJAHKU
Di awal Dzulhijah, tubuhku sempat rapuh,
Namun hati tetap berbisik lirih:
“Ya Allah, sehatkan aku,
Aku ingin puasa penuh sembilan hari.”
Alhamdulillah, Engkau kabulkan,
Langkahku ringan, puasaku terjaga,
Sembilan hari tanpa halangan,
Hanya syukur yang mengalir deras di dada.
Hari Arafah pun tiba,
Air mata jadi saksi keikhlasan,
Doa untuk sahabat, doa untuk keluarga,
Doa untuk jiwa yang mendamba ketentraman.
Idul Adha menyapa dengan takbir agung,
Allahu Akbar menggema di langit dan bumi,
Mengajarkan arti pengorbanan,
Menguatkan hati dalam ridha Ilahi.
Cahaya Sedekah di Pagi Hari
Bismillah
Pagi selalu datang membawa pesan syukur. Di setiap langkah kecil berbagi, ada doa yang terbang ke langit, ada senyum yang tumbuh di wajah orang lain. Inilah catatan hati, refleksi sederhana tentang bagaimana Allah melapangkan rezeki lewat tangan yang memberi.
Ya Allah,
Sang Maha Pemberi,
cukupkanlah
aku dengan kasih-Mu,
lapangkanlah
rezeki yang Engkau titipkan,
agar
tangan ini tak pernah letih memberi.
Ya Razzaq,
Ya Dzul Quwwah,
kuatkan
langkah meski kursi roda menuntun,
jadikan
setiap sedekah cahaya,
yang
membahagiakan hati banyak insan.
Dan
kembalikanlah, ya Rabb,
setiap
yang keluar dari genggamanku,
dengan
lipatan rahmat,
agar aku
tetap bisa menjadi jalan kebaikan.
Ya Allah,
cukupkanlah aku dengan kasih-Mu,
lapangkanlah
rezeki yang Engkau titipkan,
agar aku
tetap bisa memberi,
meski
pundak ini lelah,
meski
langkah ini terbatas.
Jadikanlah
setiap sedekah cahaya,
yang
menghapus gelap dari hati,
dan mengundang senyum dari banyak wajah.
Aamiinn..
Semoga setiap langkah untuk berbagi menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup kita. Semoga Allah melipatgandakan rezeki, menguatkan hati, dan menjadikan kita perantara kebahagiaan bagi banyak orang. Ya Allah, jadikanlah sedekah ini bukan sekadar pemberian, tetapi jembatan menuju ridha-Mu.
Refleksi Hari Ini
Di antara lelah yang singgah,
ada lega karena amanah terjaga.
Jadwal berbagi sudah tertata,
bab-bab baru lahir setiap hari,
Novel pun menyapa dunia.
Jumat ini bukan sekadar hari,
ia jadi saksi doa dan karya.
Semoga setiap langkah ini
menjadi cahaya besar di jalan panjang.
PENA YANG TERLUPA RAK BUKU
Aku mencintaimu dengan jiwa,
meski kadang kau tak merasa.
Ketulusanku tak pernah sirna,
meski hatimu sering terlupa.
Hari-hari kulalui dengan doa,
agar cintamu tetap terjaga.
Namun kau sibuk dengan dunia,
hingga aku hanya jadi bayang semata.
Kelak saat aku tiada,
kau akan merindukan suara.
Baru kau tahu cinta sejati ada,
dalam hatiku yang penuh setia.
Jangan tunggu aku tiada,
baru kau hargai cinta yang nyata.
Karena kasih takkan kembali lagi,
saat aku pergi selamanya.
MELEPASKAN DAN MENERIMA
Di gerbang Mei yang baru terbuka,
Aku lepaskan lelah yang sempat bertahta.
Setiap baris doa kini mulai menyala,
Mengganti ragu menjadi percaya yang nyata.
Aku layak untuk bahagia yang tenang,
Aku pantas untuk hasil yang gemilang.
Bulan ini, rezeki datang tanpa penghalang,
Segala usaha berbuah manis dan terang.
Mei adalah tentang tumbuh dan mekar,
Menjadi kuat meski jalanan sempat sukar.
Aku adalah pemenang yang takkan gentar,
Menjemput mimpi dengan langkah yang sabar.
PERJALANAN HIDUP MENUJU AKU
Ada hari yang terasa jauh
Langkah berat, hati pun rapuh
Namun waktu terus membawaku
Menemukan arti di tiap ragu
Ada luka yang tak terlihat
Kupendam dalam sunyi yang pekat
Tapi diri tak ingin rebah
Meski perjalanan tak selalu ramah
Ku belajar menerima
Tak semua tanya harus terjawab sempurna
Beginilah perjalanan ini
Mengajariku berdiri lagi
Saat dunia terasa sepi
Tetap kutemukan cara untuk berani
Dan bila bayangan masa lalu
Mencoba menahan langkahku
Ku percaya setiap detikku
Sedang membentuk siapa diriku
Ada mimpi yang hampir hilang
Tertutup waktu yang panjang
Namun hati tetap mencoba
Menjaga nyala kecil di dada
Ku belajar percaya
Bahwa esok bisa membawa cahaya
Beginilah perjalanan ini
Mengajariku berdiri lagi
Saat dunia terasa sepi
Tetap kutemukan cara untuk berani
Dan bila bayangan masa lalu
Mencoba menahan langkahku
Ku percaya setiap detikku
Sedang membentuk siapa diriku
Dan bila suatu hari nanti
Ku memandang kembali
Ku tahu semua langkah ini
Tak ada yang pergi tak berarti
Tentang Perempuan, Cahaya, dan Perjalanan – Hari Kartini 2026
Tidak semua perjuangan terdengar nyaring.
Sebagian memilih diam… namun tak pernah benar-benar hilang.
Ia hidup dalam langkah-langkah
dalam sabar yang tak ditampilkan,
dalam air mata yang disembunyikan,
dan dalam hati yang tetap memilih kuat, meski lelah berkali-kali datang.
Kartini pernah menyalakan cahaya itu.
Bukan sekadar untuk zamannya,
tetapi untuk masa-masa yang bahkan belum sempat ia saksikan.
Hari ini, cahaya itu masih ada.
Ia berpindah…
dari satu hati ke hati lain,
dari satu perempuan ke perempuan lain,
tumbuh dalam bentuk yang berbeda,
namun dengan makna yang sama:
harapan yang tak pernah padam.
Menjadi perempuan bukan tentang siapa yang paling terlihat kuat,
melainkan siapa yang tetap bertahan,
meski dunia tak selalu memberi ruang.
Dan di antara semua itu,
ada satu hal yang selalu menemukan jalannya...
kebaikan.
Kebaikan yang sederhana,
kebaikan yang tulus,
kebaikan yang tak selalu diketahui dunia,
namun cukup untuk menghangatkan satu kehidupan… lalu kehidupan lainnya.
Maka hari ini,
bukan hanya tentang mengenang,
tetapi tentang melanjutkan.
Melanjutkan cahaya itu,
melanjutkan harapan itu,
melanjutkan langkah-langkah kecil yang mungkin terlihat biasa,
namun sejatinya… sedang mengubah banyak hal.
Karena pada akhirnya,
kita semua sedang berjalan menuju satu tempat yang sama,
tempat di mana cahaya tidak lagi dicari,
melainkan lahir dari dalam diri.
— Langit Didada
https://www.wattpad.com/story/410413746-cahaya-perempuan-renungan-hari-kartini
LCPN 2026 - EVENT MENULIS NASIONAL
Alhamdulillah, dengan penuh syukur hari ini saya telah mengirimkan satu karya puisi untuk mengikuti Lomba Menulis Puisi 2026
Mengikuti ajang seperti ini menjadi ruang belajar sekaligus cara saya merawat rasa melalui tulisan.
Semoga mendatangkan keberkahan, pengalaman, dan ilmu baru.
Terima kasih kepada semua yang selalu memberi dukungan tanpa henti.
— Langit Didada
“Batang Bahagia, Tanah yang Menumbuhkan Kita”
Di tanah tempat matahari pertama kali kita sapa,
Batang berdiri teduh, enam puluh tahun sudah usianya.
Di sela angin pesisir dan sejuk pegunungan,
ada doa-doa yang tumbuh pelan,
menjadi harapan, menjadi masa depan.
Batang adalah rumah—
tempat langkah kecil kita belajar berjalan,
tempat tawa dan kerja keras bertemu,
tempat setiap lorong menyimpan cerita
tentang siapa yang pernah kita jadi,
dan siapa yang ingin kita tuju.
Enam puluh tahun bukan hanya angka,
melainkan perjalanan panjang
yang ditopang gotong royong,
dihidupkan oleh tangan-tangan sederhana,
dan dijaga oleh hati-hati yang tak pernah lelah mencinta.
Di setiap bukitnya, ada harap bertunas.
Di setiap lautnya, ada mimpi terhampar luas.
Di setiap warganya,
ada bahagia yang saling menaut,
membentuk jalinan yang kita sebut:
Batang Bahagia.
Selamat ulang tahun ke-60, Kabupaten Batang.
Semoga tanah ini terus tumbuh,
mewarnai hari-hari kita
dengan kedamaian,
kelimpahan,
dan kebahagiaan yang tak terputus.
Ucapan Terima Kasih
Di antara perjalanan hari ini,
ada satu hal yang tidak ingin aku lewatkan:
ucapan terima kasih
untuk seseorang yang telah meluangkan waktunya,
meninggalkan kesibukannya,
dan memilih untuk hadir demi sebuah amanah kecil
yang tidak mungkin kuselesaikan sendiri.
Terima kasih…
atas support yang tidak pernah setengah hati,
atas kesediaan mengantar, menunggu, dan mendampingi,
atas kesabaran yang menenangkan langkahku hari ini.
Tanpa beliau,
SPT yayasan ini tidak akan terkirim.
Karena NPWP beliau terhubung otomatis di sistem,
karena tanda tangan beliau yang dibutuhkan,
karena kehadirannya yang memudahkan.
Segala kemudahan hari ini
adalah bentuk kasih Allah
yang disampaikan melalui tangan-tangan baik
yang Allah hadirkan tepat pada waktunya.
Dan aku bersyukur…
benar-benar bersyukur,
bahwa di tengah lelahku,
ada seseorang yang tetap memilih berada di sisiku
hingga amanah ini terselesaikan.
Terima kasih…
semoga setiap langkah dan waktunya
Allah balas dengan kebaikan yang lebih luas dari langit.
"Seperti Pertama Kalinya"
Aku selalu mencintaimu
seperti pertama kalinya meski jarak menjelma dinding, meski waktu sering mencuri pertemuan.
Di setiap senja yang sunyi, aku mendengar namamu berbisik dari doa yang tak pernah letih, menyulam rindu jadi kekuatan.
Kau di sana, aku di sini, namun hati kita tak pernah berpisah. Setiap tatap yang tertunda, setiap pelukan yang menunggu, tetap hangat, tetap utuh, seperti pertama kalinya.
Dan bila esok kita kembali bertemu, biarlah dunia tahu cinta ini tak pernah menua, ia selalu lahir kembali, seperti pertama kalinya.
Terbiasa Sendiri
Walau tidak ditemani,
aku belajar berjalan sendiri, menyulam langkah di jalan sepi, menemani diriku dengan doa yang tak pernah mati.
Walau tidak didengar, aku memilih diam, membiarkan suara hatiku menjadi rahasia yang hanya aku pahami.
Kesepian datang seperti bayangan, melekat di sudut ruang, namun aku berusaha, agar terbiasa dengan sunyi yang panjang.
Karena dalam sepi, aku menemukan kekuatan, dalam diam, aku belajar ketabahan.
Walau tidak ditemani, aku tetap bisa berdiri, walau tidak didengar, aku tetap bisa berarti.
“Senyum bisa menipu. Tapi intuisi jarang salah.”
Senyum itu manis,
tapi tidak selalu tulus.
Ada yang menyapa dengan cahaya,
ada pula yang menyimpan bayangan di balik mata.
Tidak semua yang tersenyum padamu,
mendoakanmu tetap utuh.
Beberapa hanya ingin melihatmu retak,
dengan wajah yang tetap ramah.
Jangan takut berjalan sendiri,
yang tulus akan tetap tinggal tanpa perlu topeng.
“Tak semua senyum itu doa. Kadang cuma topeng.”
Di dunia yang penuh sorot dan sapaan,
aku belajar satu hal:
senyum bukan selalu tanda cinta.
Kadang, itu hanya formalitas.
Kadang, itu hanya strategi.
Aku pernah percaya semua yang tersenyum padaku,
adalah teman.
Ternyata, beberapa hanya menunggu aku jatuh
agar mereka bisa berkata, “Sudah kuduga.”
Tapi aku tak marah.
Aku hanya lebih bijak sekarang.
Dan lebih selektif pada siapa yang aku izinkan masuk ke dalam doa-doaku.
DIAM YANG BERSUARA
Angin lewat, tak bertanya
Langit redup, tak menjelaskan
Ada yang gugur di dalam dada
Tapi tak satu pun daun terlihat jatuh
Waktu berjalan seperti biasa
Jam berdetak, lampu menyala
Tak ada yang berubah di luar
Kecuali suara yang tak sempat keluar
Jika ada yang membaca,
mereka hanya akan melihat kata
Tapi yang mengenal,
akan mendengar diamnya suara
HUJAN PAGI INI
Di balik tirai
Hujan jatuh tanpa henti,
Menyusuri tanah, menyusuri sepi,
Membawa aroma rindu yang sulit dimengerti.
Derasnya mengetuk lembut,
Seolah mengetuk pintu hati,
Mengingatkan bahwa setiap luka,
Punya caranya sendiri untuk sembuh.
Aku duduk menatap diam,
Hujan jadi teman yang paling setia,
Menyimpan cerita,
Yang hanya bisa dibaca oleh jiwa.















%20(1).jpg)



