Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

BENIH DOA

Kutanam doa di ladang waktu,

Bukan untuk dipanen esok pagi.
Aku percaya, hujan rahmat-Mu
Tak pernah salah memilih musim sendiri.

Kupupuk dengan sabar yang menggigil,
Kusiram dengan sujud yang panjang.
Meski angin ragu berulang kali datang,
Akar harap tetap menembus terang.

Hingga suatu fajar mengetuk jendela,
Bukan membawa semua yang kuminta.
Melainkan menghadirkan jawaban paling sempurna,
Yang bahkan tak sempat kususun dalam kata.

Kini kutahu, doa bukan sekadar suara,
Ia adalah benih yang hidup dalam jiwa.
Dan ketika Allah berkehendak menyapa,
Seluruh semesta ikut berkata: "Inilah waktunya.



Pancasila, Nafas Persatuan - Langit Didada

Di tanah yang terbentang dari sabang hingga merauke,

berjuta langkah menapaki jalan yang sama.

Berbeda bahasa, adat, dan warna,

namun tetap satu dalam cinta Indonesia.


Pancasila hadir bagai pelita,

menerangi jalan bangsa yang beragam.

Menuntun hati untuk saling menghargai,

menguatkan tangan dalam semangat gotong royong.


Ketuhanan menjadi cahaya jiwa,

kemanusiaan menjadi wajah bangsa.

Persatuan menjelma ikatan yang kokoh,

musyawarah menghadirkan kebijaksanaan,

keadilan menjadi cita-cita bersama.


Hari ini, kita mengenang lahirmu,

bukan sekadar sebagai dasar negara,

melainkan sebagai janji yang terus dijaga,

agar Indonesia tetap berdiri megah dan bermartabat.


Wahai Pancasila,

engkau bukan hanya rangkaian kata,

engkau adalah nafas persatuan,

yang menghidupkan harapan di setiap generasi.


Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila

1 Juni 2026

Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia


https://www.wattpad.com/1632980398-pancasila-nafas-persatuan

MENANG

Aku tidak tertarik menang di mata orang.

Karena kemenangan yang sejati bukanlah tepuk tangan, bukan pula sorak sorai.

Aku lebih tertarik membangun hidup yang kokoh,

hidup yang tidak runtuh saat tidak dipilih,

tidak goyah saat dibandingkan,

dan tidak hancur meski ditinggalkan.

 

Menjadi kuat bukan berarti tak pernah jatuh,

tetapi mampu berdiri lagi dengan hati yang utuh.

Menjadi teguh bukan berarti tak pernah rapuh,

tetapi tetap melangkah meski luka masih terasa.

 

Aku ingin hidup yang berdiri di atas fondasi cinta

cinta pada diri sendiri, cinta pada perjalanan,

cinta pada Tuhan yang selalu menuntun.

Karena ketika cinta itu kokoh,

tak ada penolakan yang bisa meruntuhkan,

tak ada perbandingan yang bisa menggoyahkan,

tak ada kepergian yang bisa menghancurkan.

 

Dan di sanalah aku menemukan arti:

bahwa hidup bukan tentang terlihat menang,

melainkan tentang tetap utuh,

meski dunia mencoba merobeknya.

 


MELEPASKAN DAN MENERIMA

Di gerbang Mei yang baru terbuka,

Aku lepaskan lelah yang sempat bertahta.

Setiap baris doa kini mulai menyala,

Mengganti ragu menjadi percaya yang nyata.


Aku layak untuk bahagia yang tenang,

Aku pantas untuk hasil yang gemilang.

Bulan ini, rezeki datang tanpa penghalang,

Segala usaha berbuah manis dan terang.


Mei adalah tentang tumbuh dan mekar,

Menjadi kuat meski jalanan sempat sukar.

Aku adalah pemenang yang takkan gentar,

Menjemput mimpi dengan langkah yang sabar.


PERJALANAN HIDUP MENUJU AKU

Ada hari yang terasa jauh

Langkah berat, hati pun rapuh

Namun waktu terus membawaku

Menemukan arti di tiap ragu

 

Ada luka yang tak terlihat

Kupendam dalam sunyi yang pekat

Tapi diri tak ingin rebah

Meski perjalanan tak selalu ramah

 

Ku belajar menerima

Tak semua tanya harus terjawab sempurna

 

Beginilah perjalanan ini

Mengajariku berdiri lagi

Saat dunia terasa sepi

Tetap kutemukan cara untuk berani

 

Dan bila bayangan masa lalu

Mencoba menahan langkahku

Ku percaya setiap detikku

Sedang membentuk siapa diriku

 

Ada mimpi yang hampir hilang

Tertutup waktu yang panjang

Namun hati tetap mencoba

Menjaga nyala kecil di dada

 

Ku belajar percaya

Bahwa esok bisa membawa cahaya

 

Beginilah perjalanan ini

Mengajariku berdiri lagi

Saat dunia terasa sepi

Tetap kutemukan cara untuk berani

 

Dan bila bayangan masa lalu

Mencoba menahan langkahku

Ku percaya setiap detikku

Sedang membentuk siapa diriku

 

Dan bila suatu hari nanti

Ku memandang kembali

Ku tahu semua langkah ini

Tak ada yang pergi tak berarti

 



“Batang Bahagia, Tanah yang Menumbuhkan Kita”

Di tanah tempat matahari pertama kali kita sapa,

Batang berdiri teduh, enam puluh tahun sudah usianya.

Di sela angin pesisir dan sejuk pegunungan,

ada doa-doa yang tumbuh pelan,

menjadi harapan, menjadi masa depan.


Batang adalah rumah

tempat langkah kecil kita belajar berjalan,

tempat tawa dan kerja keras bertemu,

tempat setiap lorong menyimpan cerita

tentang siapa yang pernah kita jadi,

dan siapa yang ingin kita tuju.


Enam puluh tahun bukan hanya angka,

melainkan perjalanan panjang

yang ditopang gotong royong,

dihidupkan oleh tangan-tangan sederhana,

dan dijaga oleh hati-hati yang tak pernah lelah mencinta.


Di setiap bukitnya, ada harap bertunas.

Di setiap lautnya, ada mimpi terhampar luas.

Di setiap warganya,

ada bahagia yang saling menaut,

membentuk jalinan yang kita sebut:

Batang Bahagia.


Selamat ulang tahun ke-60, Kabupaten Batang.

Semoga tanah ini terus tumbuh,

mewarnai hari-hari kita

dengan kedamaian,

kelimpahan,

dan kebahagiaan yang tak terputus.




Seperti Pertama Kalinya

Aku selalu mencintaimu

seperti pertama kalinya meski jarak menjelma dinding, meski waktu sering mencuri pertemuan.

Di setiap senja yang sunyi, aku mendengar namamu berbisik dari doa yang tak pernah letih, menyulam rindu jadi kekuatan.

Kau di sana, aku di sini, namun hati kita tak pernah berpisah. Setiap tatap yang tertunda, setiap pelukan yang menunggu, tetap hangat, tetap utuh, seperti pertama kalinya.

Dan bila esok kita kembali bertemu, biarlah dunia tahu cinta ini tak pernah menua, ia selalu lahir kembali, seperti pertama kalinya.



Terbiasa Sendiri

Walau tidak ditemani,

aku belajar berjalan sendiri, menyulam langkah di jalan sepi, menemani diriku dengan doa yang tak pernah mati.

Walau tidak didengar, aku memilih diam, membiarkan suara hatiku menjadi rahasia yang hanya aku pahami.

Kesepian datang seperti bayangan, melekat di sudut ruang, namun aku berusaha, agar terbiasa dengan sunyi yang panjang.

Karena dalam sepi, aku menemukan kekuatan, dalam diam, aku belajar ketabahan.

Walau tidak ditemani, aku tetap bisa berdiri, walau tidak didengar, aku tetap bisa berarti.





Pelukan yang Menyapa dalam Mimpi

Siang itu, dalam hening yang lembut,

ada sosok datang menyapa, membawa pelukan yang lama tak singgah.

Aku tak pernah menunggu, tak pernah menyebut namanya, namun semesta menitipkan kehadiran, sekilas rindu, sekilas bahagia, lalu pergi, meninggalkan senyum samar di hati.



Doa kecil dari hati yang penuh syukur, semoga langkah kita selalu dalam ridho Allah

Di malam Nisfu Sya’ban yang hening,

langit seakan membuka pintu rahmat,

doa-doa naik bersama bisikan hati,

mengharap ampunan, mengharap kasih Ilahi.


Bulan separuh bercahaya lembut,

menyapa jiwa yang rindu ketenangan,

di antara sujud dan sholawat,

terasa dekat dengan Sang Pengasih.


Ya Allah, catatkan kebaikan untuk kami,

hapuskan dosa yang membelenggu langkah,

panjangkan umur dalam keberkahan,

lapangkan rezeki dalam ridho-Mu.


Nisfu Sya’ban, malam penuh harapan,

tempat hati bersandar tanpa ragu,

semoga Ramadhan nanti menyambut kita,

dengan cahaya iman yang semakin utuh.




Jangan Biarkan Aku Sendiri, Ya Hayyu Ya Qayyum

Di sepertiga malam yang sunyi,  

aku bersandar pada cahaya-Mu,  

Ya Hayyu, Yang Maha Hidup,  

Ya Qayyum, Yang Maha Berdiri Sendiri.  


Dengan rahmat-Mu aku memohon,  

biarlah segala urusanku Kau perbaiki,  

agar langkahku tak tersesat,  

dan hatiku tetap terikat pada-Mu.  


Jangan biarkan aku sendiri,  

walau sekejap mata,  

karena tanpa-Mu,  

aku hanyalah rapuh yang tak berdaya.  



Ya Hayyu Ya Qayyum,  

dalam dzikirku aku bernaung,  

dalam doa ini aku menemukan,  

cahaya yang tak pernah padam.


Lakal Hamdu dalam Gelapku

Allahumma…

Lakal hamdu, meski dadaku sesak, meski langkahku berat, meski malam terasa panjang tanpa cahaya.

Kepada-Mu segala pengaduan, aku titipkan air mata yang tak terlihat, aku serahkan resah yang tak terucap.

Engkaulah tempatku bersandar, saat dunia menutup pintu, saat hati hampir runtuh.

Tiada daya, tiada kuasa, kecuali Engkau yang Maha Tinggi, yang mengangkatku dari lumpur lelah, yang menyalakan lilin kecil di tengah gelap.

Maka biarlah aku diam dalam doa, biarlah aku kuat dalam pasrah, biarlah aku hidup dalam harapan, karena Engkau, ya Rabb, tak pernah meninggalkan hamba-Mu.


Rindu yang Tak Bersuara

Rindu ini berjalan tanpa suara,

menyusuri lorong hati yang sepi,

setiap detik terasa panjang,

menunggu hadir yang tak kunjung tiba.


Aku titipkan rindu pada angin,

biar ia menyapa dari kejauhan,

membawa kabar lembut,

tentang hati yang masih setia menanti.


Rindu bukan sekadar jarak,

ia adalah doa yang tak pernah padam,

meski tak bertemu di dunia,

semoga Allah pertemukan di surga-Nya.






Maaf dari Raga, Cinta dari Hati

Kata hatiku lirih berbisik,

maafkan aku yang tak mampu,

raga ini terbatas, lumpuh tak berdaya,

namun cinta dan doa selalu setia.


Aku tak bisa melayani seperti yang lain,

tangan ini lemah, langkah tak berjalan,

tapi hatiku tetap ingin memberi,

dengan sabar, dengan doa, dengan kasih.


Ya Allah, jadikan kekuranganku cahaya,

agar orang melihat bukan kelemahan,

melainkan ketulusan yang tak pernah padam,

karena cinta sejati tak butuh balasan.



Ketika Aku Harus Melepaskanmu

Aku pernah mundur dari seseorang

bukan karena cinta ini padam,
bukan karena hatiku berhenti bergetar,
tapi karena ada hati lain
yang lebih memanggil namanya.

Ada tangan lain
yang lebih ia cari,
ada dekap lain
yang lebih menenangkan jiwanya.

Dan aku…
hanya menepi,
memberi ruang bagi takdir
untuk memilih tempat terbaik baginya.

Mundur bukan berarti kalah,
bukan berarti rasa ini berakhir.
Justru di sanalah cinta diuji—
mampu merelakan,
meski dada sendiri
yang paling terasa hampa.

Aku mundur dengan perlahan,
tanpa drama,
tanpa meminta ia kembali.
Sebab aku tahu,
di suatu tempat,
ada sosok yang lebih ia butuhkan…
dan ia pun lebih bahagia di sana.





Akhir Tahun 2025

Ada hari-hari ketika aku berjalan pelan,

Bukan karena lemah,

melainkan karena ingin lebih dekat pada-Nya.

Di antara sunyi dan sibuknya rasa,
seperti ada bisikan lembut dari langit:
“Tenanglah… Aku menjagamu.”

Maka aku tundukkan hati,
kulepaskan semua takut yang kupeluk terlalu lama,
kuserahkan seluruh perjalanan ini
pada Dia yang tak pernah meninggalkan.

Jika langkahku pelan,
biarlah, yang penting tetap menuju-Nya.

Dan di setiap jeda,
kusimpan doa:
semoga hidupku ditata
dengan cara paling indah oleh Allah,

meski aku hanya melangkah perlahan.








Pesona hari Ahad,

Ahad datang lagi

matahari tersenyum lebih hangat,

pemain inti tak mengenal libur, 

karena perjuangan tak pernah berhenti.


Hari Ahad tetap tempur, 

bertarung dengan file yang menumpuk, 

menyibak tumpukan kertas, 

dikejar deadline


Di balik lelah ada cahaya, 

di balik tempur ada doa, 

dan di setiap langkah, 

ada Allah yang menjaga.


Wa Ufawwidu Amri Ilallah

Di antara kertas dan deadline, 

Aku berbisik lirih: Wa ufawwidu amri ilallah.

Ya Allah, 

Aku berusaha sekuat yang kupunya, 

Namun aku tahu, 

Hasilnya tetap dalam genggaman-Mu.

Maka tenangkan hatiku,

Ringankan langkahku, 

Jadikan setiap tugas ini jalan menuju ridha-Mu.


Di Antara Amanah dan Doa

Di sepertiga malam yang sunyi,

aku duduk bersama lelah dan harap,
menyebut nama-Mu lirih, ya Rabb,
karena hidupku penuh titipan.

Aku pernah bercerita pada-Mu,
tentang langkah yang tertatih,
tentang amanah yang kupikul
lebih berat dari yang terlihat mata.

Aku tak tahu esok bagaimana,
apakah tanganku masih Kau kuatkan
untuk menjaga amanah ini,
atau kakiku masih Kau izinkan melangkah
di jalan pengabdian.

Ya Allah,
jika aku masih Kau percaya,
jagalah hatiku agar tak lalai,
luruskan niatku agar tak goyah,
kuatkan badanku agar tak mudah menyerah.

Aku ingin tetap bisa membantu
anak-anak yatim di bawah lindungan-Mu,
menjadi perantara kasih sayang-Mu,
meski hanya dengan tenaga yang terbatas,
meski hanya dengan doa dan kesungguhan.

Jika suatu hari aku lelah,
ingatkan aku bahwa ini bukan milikku,
bahwa semua hanya titipan,
dan aku hanyalah hamba
yang Kau beri kesempatan berkhidmat.

Ya Rabb,
jika aku masih bisa mendampingi,
jadikan aku pendamping yang lembut,
yang sabar, yang ikhlas,
yang tak berharap selain ridha-Mu.

Dan jika kelak Kau ambil amanah ini dariku,
ambil pula dengan husnul khatimah,
tanpa luka di hati,
tanpa penyesalan yang panjang.

Cukuplah Engkau tahu,
aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa,
menjaga, mendampingi,
dan mencintai amanah ini
karena-Mu semata.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.


Pesona Hari Kamis

Pagi ini, Kamis datang dengan derasnya hujan. 

Langit seakan menumpahkan rahmat, menyejukkan bumi, membasuh segala resah. 

Ada pesona tersendiri saat hujan turun di hari Kamis seolah membuka pintu doa, 

mengingatkan kita pada kelembutan Allah yang selalu hadir.

Hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit, 

ia adalah tanda kasih. 

Ia mengajarkan sabar, menumbuhkan harapan, 

dan menyuburkan doa-doa yang kita titipkan pada-Nya.



Allahumma ṣayyiban nāfi‘an

Renungan Kamis Hujan

- Hujan adalah rahmat, bukan beban.

- Setiap tetesnya membawa pesan: jangan pernah putus asa.

- Kamis hujan adalah kesempatan untuk menenangkan hati, menulis doa, dan merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta.