Laa Ilaaha Illaa Anta, Subhaanaka Innii Kuntu Minazh-Zhaalimiin


REFLEKSI HARIAN

Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.

Hari ini aku ingin bercerita tentang sesuatu yang cukup berat bagiku.

Tentang niat baik yang ternyata membawa beban panjang.

Tentang kepercayaan yang kuberikan kepada seseorang.

Dan tentang bagaimana aku belajar menyerahkan sesuatu yang tidak mampu kuselesaikan sendiri kepada Allah.

Awalnya, ada seseorang yang berutang melalui aku. Ketika tiba waktunya membayar angsuran, ia mengatakan belum bisa membayar karena ada keluarganya yang sakit.

Aku mencoba memahami keadaannya.

Kebetulan saat itu aku masih memiliki rezeki, maka kubayarkan angsurannya terlebih dahulu.

Bulan berikutnya, ia kembali belum bisa membayar. Kali ini karena keluarganya yang sakit meninggal dunia.

Aku kembali mencoba memahami keadaannya. Aku tahu kehilangan seseorang yang dicintai bukan perkara mudah. Maka sekali lagi, aku membayarkan angsurannya.

Bulan demi bulan berlalu.

Ada kebutuhan lain yang harus diurus keluarganya. Aku terus berusaha memahami, hingga akhirnya empat bulan berturut-turut aku membayarkan angsuran yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Aku tidak pernah menyangka, niatku membantu justru membuatku berada dalam keadaan yang sulit.

Ketika masa berduka sudah berlalu, aku mulai menagih uangku.

Sebab uang yang kugunakan untuk membayar angsurannya bukan seluruhnya milikku. Aku sampai meminjam dengan menggadaikan kalung milik seorang teman.

Aku sudah jujur sejak awal. Aku mengatakan bahwa kalung itu harus segera ditebus atau dibayar sebelum jatuh tempo.

Waktu terus berjalan.

Ketika aku menghubunginya, tidak ada jawaban yang kudapatkan. Pesan demi pesan kukirimkan, tetapi tetap tidak ada respons.

Sekarang sudah lima bulan berlalu.

Uangku belum kembali.

Sementara waktu jatuh tempo gadai semakin dekat. Aku bahkan sudah berusaha mencari jalan keluar, tetapi orang yang kuharapkan bisa menyelesaikan tanggung jawabnya justru tidak memberikan kabar.

Di sinilah aku mulai merasakan beratnya keadaan.

Aku juga punya kebutuhan.

Aku juga punya kewajiban.

Aku juga harus memikirkan kehidupan sehari-hariku.

Dan yang mungkin tidak selalu dipahami orang lain, aku adalah seorang penyandang disabilitas dengan kondisi lumpuh. Aku tidak memiliki keleluasaan untuk bekerja dan mencari uang seperti kebanyakan orang.

Dulu, keadaan ekonomiku tidak seperti sekarang. Ada pemasukan yang bisa kuandalkan. Tetapi hari ini, aku harus lebih berhati-hati dalam mengatur setiap rupiah yang kumiliki.

Aku pun sedang berjuang memenuhi kebutuhanku sendiri.

Lalu mengapa aku harus terus memikul kewajiban orang lain, sementara keadaanku sendiri juga sedang sulit?

Aku tidak menuliskan ini untuk membenci siapa pun.

Aku hanya manusia yang bisa merasa lelah.

Aku bisa kecewa.

Aku bisa sedih ketika niat baikku tidak diiringi tanggung jawab yang sama.

Tetapi di tengah semua itu, aku tidak ingin kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang: ketenangan hatiku.

Maka aku kembali mengingat doa Nabi Yunus AS ketika beliau berada dalam kegelapan:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.

Doa ini mengingatkanku bahwa ketika keadaan terasa gelap, aku masih memiliki tempat untuk kembali.

Allah.

Aku tidak harus menyimpan semua kegelisahan ini sendirian. Aku bisa menceritakan semuanya kepada-Nya, tanpa perlu menyusun kata-kata yang indah.

Aku bisa mengakui bahwa aku lelah.

Aku bisa memohon agar Allah membukakan jalan.

Aku bisa menangis dalam doa, lalu kembali berusaha ketika hatiku lebih tenang.

Ya Allah, aku tidak tahu bagaimana urusan ini akan selesai.

Aku tidak tahu bagaimana uangku akan kembali.

Aku tidak tahu bagaimana aku harus menghadapi jatuh tempo gadai yang semakin dekat.

Tetapi aku tahu bahwa Engkau mengetahui seluruh keadaanku.

Engkau tahu niatku ketika membantu.

Engkau tahu keterbatasanku.

Engkau tahu bahwa aku pun sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidupku sendiri.

Maka aku memohon kepada-Mu, ya Allah, bukakanlah jalan keluar yang baik.

Lunakkanlah hati orang yang memiliki tanggung jawab kepadaku agar ia tergerak untuk menyelesaikan kewajibannya.

Berikanlah ia kesadaran untuk tidak menghindar dari tanggung jawabnya.

Dan berikanlah aku kekuatan untuk menjaga hakku tanpa harus kehilangan ketenangan hati.

Aku ingin tetap menjadi orang yang suka membantu.

Tetapi aku juga harus belajar bahwa membantu orang lain bukan berarti mengabaikan keselamatan dan kebutuhan diriku sendiri.

Aku boleh berempati kepada kesulitan orang lain, tetapi aku juga harus jujur terhadap keterbatasanku.

Aku boleh memberi pertolongan, tetapi aku tidak harus terus-menerus menanggung kewajiban yang bukan milikku.

Berbuat baik tidak berarti aku harus membiarkan diriku sendiri berada dalam kesulitan yang semakin besar.

Hari ini aku belajar untuk lebih bijaksana.

Aku akan tetap berdoa untuknya dan untuk diriku sendiri.

Aku akan tetap mengusahakan jalan keluar.

Aku akan menagih hakku dengan baik dan tegas.

Dan aku akan belajar menyerahkan hasil yang tidak mampu kukendalikan kepada Allah.

Sebab aku percaya, mendekat kepada Allah bukan berarti aku tidak boleh memperjuangkan hakku.

Justru aku ingin melakukannya tanpa kebencian, tanpa kezaliman, dan tanpa kehilangan arah.

🤲 Doa Hari Ini

Ya Allah...

Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.

Ya Allah, aku datang kepada-Mu dengan segala kegelisahan yang tidak selalu mampu kuceritakan kepada manusia.

Engkau mengetahui apa yang sedang kuhadapi.

Engkau mengetahui kewajiban yang harus kuselesaikan.

Engkau mengetahui uang yang harus kembali kepadaku, tanggung jawab yang sedang menungguku, dan keterbatasan yang harus kujalani setiap hari.

Ya Allah, jangan biarkan kesulitan ini membuat hatiku dipenuhi kebencian.

Namun jangan pula biarkan aku kehilangan keberanian untuk memperjuangkan hakku.

Tunjukkan kepadaku jalan keluar yang halal dan baik.

Cukupkan rezekiku.

Mudahkan urusanku.

Bantulah aku menyelesaikan kewajiban yang ada di hadapanku.

Jika ada hakku yang tertahan, mudahkanlah agar hak itu kembali kepadaku.

Jika ada jalan yang belum kulihat, tunjukkanlah.

Jika aku harus mengambil keputusan, bimbinglah agar aku tidak bertindak karena amarah ataupun ketakutan.

Ya Allah, aku ingin terus berbuat baik, tetapi aku juga ingin belajar menjadi lebih bijaksana.

Ajari aku menolong tanpa melampaui kemampuanku.

Ajari aku ikhlas tanpa mengabaikan tanggung jawab.

Ajari aku berserah diri tanpa berhenti berikhtiar.

Dan ketika aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, ingatkan aku untuk kembali kepada-Mu.

Aku tidak tahu bagaimana jalan keluarnya, ya Allah. Tetapi aku percaya Engkau mengetahui jalan yang tidak kuketahui.

Aku serahkan kegelisahanku kepada-Mu, sambil terus melakukan apa yang masih mampu kulakukan.

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin. 🤲🏻

Catatan untuk Diriku

Aku boleh memiliki hati yang lembut, tetapi aku juga harus memiliki batas yang sehat.

Aku boleh membantu orang lain, tetapi aku tidak harus mengorbankan kebutuhan pokokku sendiri.

Aku boleh memaafkan, tetapi aku tetap berhak meminta pertanggungjawaban.

Dan aku boleh menyerahkan segala urusan kepada Allah, sambil terus berusaha menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabku.

Ya Allah, jagalah hatiku agar tetap baik, dan tuntunlah langkahku agar tetap bijaksana.




AFIRMASI SUGEH HARI KE 5

Aku pantas menerima rezeki yang melimpah dan penuh keberkahan.

Aku membuka hati untuk menerima kebaikan, kemudahan, dan peluang-peluang baru dalam hidupku.

Aku bersyukur atas setiap rezeki yang datang, sekecil apa pun, karena aku percaya kelimpahan terus bertumbuh dalam hidupku.



Belajar Bahagia Melihat Kebahagiaan Orang Lain

 


Catatan 23

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain...”
(QS. An-Nisa: 32)

Tidak selalu mudah melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang sedang kita doakan.

Ketika seseorang mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan.

Ketika orang lain memperoleh rezeki yang sedang kita perjuangkan.

Ketika melihat seseorang mencapai impian yang selama ini kita harapkan.

Hati terkadang diam-diam bertanya,

"Kapan giliranku?"

Perasaan itu manusiawi.

Namun, jangan biarkan rasa iri membuat kita lupa bahwa Allah memiliki pembagian rezeki yang berbeda untuk setiap hamba-Nya.

Kebahagiaan orang lain tidak mengurangi jatah kebahagiaan kita.

Keberhasilan seseorang tidak berarti pintu keberhasilan kita tertutup.

Rezeki orang lain bukan tanda bahwa rezeki kita berkurang.

Allah bisa memberikan sesuatu kepada mereka tanpa mengambil apa pun dari apa yang telah Dia siapkan untuk kita.

Maka, ketika melihat seseorang mendapatkan nikmat, cobalah belajar berkata:

“Masyaa Allah. Semoga Allah memberkahinya. Semoga suatu hari Allah memberikan yang terbaik untukku juga.”

Mungkin awalnya terasa sulit.

Tetapi perlahan, hati akan belajar.

Belajar bahwa kita tidak perlu kecewa atas kebahagiaan orang lain.

Belajar bahwa mendoakan kebaikan untuk orang lain tidak membuat kita menjadi lebih miskin.

Justru hati menjadi lebih lapang.

Dan ketika kita mampu ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain, kita sedang membebaskan hati dari beban perbandingan.

Tetaplah berdoa untuk impianmu.

Tetaplah berusaha untuk rezekimu.

Tetapi jangan lupa menikmati perjalananmu sendiri.

Karena bisa jadi, tanpa kita sadari, ada orang lain yang sedang melihat hidup kita dan berharap memiliki nikmat yang saat ini kita anggap biasa.

Renungan Hari Ini

Ketika melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang kuinginkan, apakah aku mampu tetap bersyukur dan mendoakan kebaikan untuknya?

🤲 Doa

Ya Allah, bersihkan hatiku dari iri dan dengki.

Jika aku melihat nikmat pada orang lain, ajarkan aku untuk mengucapkan syukur dan mendoakan keberkahan baginya.

Jangan biarkan kebahagiaan orang lain menjadi alasan hatiku bersedih.

Berikan aku rezeki yang terbaik menurut-Mu, pada waktu yang paling tepat, dengan cara yang Engkau ridai.

Dan jadikan hatiku selalu lapang terhadap ketetapan-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir

Ya Allah, cukupkanlah rezekiku untuk segala kebutuhan yang harus kutunaikan. Mudahkan langkahku, bukakan jalan yang baik, dan hadirkan pertolongan-Mu dari arah yang tidak kusangka-sangka. Jangan jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, tetapi cukupkan aku dengan pertolongan-Mu. Aamiinn ya Mujibassailiin.. 



KUN FAYAKUN

 

Refleksi Harian

Hari ini aku kembali mengingat satu kalimat yang begitu sederhana, tetapi begitu besar maknanya:

KUN FAYAKUN.

Jadilah, maka jadilah.

Betapa sering aku melihat masalah dari ukuranku sendiri.

Aku menghitung kemampuan.

Aku menghitung uang.

Aku menghitung waktu.

Aku menghitung siapa yang bisa membantu.

Aku menghitung kemungkinan-kemungkinan.

Lalu aku berpikir,

“Bagaimana mungkin semuanya bisa selesai?”

Padahal aku lupa...

Aku sedang menghitung dengan kemampuan manusia.

Sementara aku memiliki Allah Yang Maha Kuasa.

Apa yang terasa mustahil bagiku, tidak mustahil bagi Allah.

Apa yang tidak bisa kubuka dengan tanganku, bisa Allah bukakan melalui jalan yang tidak pernah terpikirkan.

Apa yang tidak mampu kuselesaikan dengan kekuatanku, bisa Allah selesaikan dengan kehendak-Nya.

Maka hari ini aku tidak ingin terlalu sibuk memikirkan “bagaimana caranya?”

Aku ingin lebih banyak mengingat siapa yang memiliki segala cara.

Allah.

Allah yang menciptakan langit dan bumi.

Allah yang menggenggam seluruh rezeki.

Allah yang membolak-balikkan keadaan.

Allah yang mampu mengubah kesulitan menjadi kemudahan.

Allah yang mampu menghadirkan pertolongan dari arah yang tidak pernah kusangka.

KUN FAYAKUN.

Jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, tidak ada manusia yang mampu menghalanginya.

Dan jika Allah belum menghendaki sesuatu terjadi, aku pun tidak perlu memaksakan kehendakku.

Tugasku adalah meminta.

Berdoa.

Berikhtiar.

Bersabar.

Kemudian percaya kepada keputusan-Nya.

Aku tidak tahu kapan pertolongan itu datang.

Aku tidak tahu melalui pintu yang mana.

Aku tidak tahu seperti apa bentuknya.

Tetapi aku percaya...

Allah tahu.

Dan itu cukup untuk membuat hatiku tenang.

Hari ini aku melihat banyak hal yang belum selesai.

Tetapi aku tidak ingin lagi melihatnya hanya dengan mata dan pikiranku sendiri.

Aku ingin melihatnya dengan keyakinan kepada Allah.

Sebab bisa jadi hari ini aku melihat jalan yang buntu.

Tetapi Allah melihat jalan yang belum terbuka.

Bisa jadi hari ini aku melihat kekurangan.

Tetapi Allah sedang menyiapkan kecukupan.

Bisa jadi hari ini aku melihat masalah yang besar.

Tetapi di hadapan Allah, tidak ada sesuatu pun yang terlalu besar.

Maka hari ini aku berkata kepada hatiku:

Tenanglah.

Kita punya Allah.

Allah Maha Kaya.

Allah Maha Kuasa.

Allah tidak pernah kehabisan jalan.

Jika Dia berkehendak, KUN FAYAKUN.

🤲 Doa Hari Ini

Ya Allah...

Aku datang kepada-Mu dengan segala sesuatu yang terasa sulit bagiku.

Ada hal-hal yang tidak mampu kuselesaikan sendiri.

Ada jalan yang belum kutemukan.

Ada kebutuhan yang belum terpenuhi.

Ada doa yang masih menunggu jawaban.

Tetapi hari ini aku tidak ingin takut.

Aku percaya kepada-Mu.

Jika sesuatu itu baik untukku, bukakan jalannya dengan cara-Mu yang terbaik.

Jika ada rezeki yang Engkau takdirkan untukku, dekatkanlah.

Jika ada pertolongan yang sedang Engkau siapkan, mudahkanlah kedatangannya.

Dan jika ada sesuatu yang belum Engkau berikan, berikan aku hati yang ikhlas untuk menunggu waktu-Mu.

Ya Allah...

Jadikan aku hamba yang tetap berikhtiar tanpa kehilangan tawakal.

Tetap berharap tanpa memaksa takdir.

Tetap berdoa tanpa berputus asa.

Dan tetap yakin bahwa kuasa-Mu jauh melampaui segala keterbatasanku.

Aku tidak tahu bagaimana semuanya akan terjadi.

Tetapi aku tahu...

Engkau Maha Mengetahui.

Maka hari ini aku serahkan semuanya kepada-Mu.

Dan aku percaya pada satu hal:

Jika Engkau berkehendak, tidak ada yang mustahil.

KUN FAYAKUN.

Aamiinn ya Mujibassailiin. 🤲🏻