Tampilkan postingan dengan label PUASA DAWUD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUASA DAWUD. Tampilkan semua postingan

Sahur Terakhir Puasa Dawud

Sebuah puisi menjelang Ramadhan

Sahur ini terasa berbeda... Langit masih gelap, tapi hati mulai terang. Insyaa Allah, tinggal dua kali sahur lagi, Puasa Dawud pamit sejenak, Memberi ruang bagi Ramadhan yang agung.

Ada rindu yang pelan-pelan tumbuh, Pada lantunan doa yang lebih panjang, Pada malam-malam yang lebih sunyi, Pada tangis yang lebih jujur di sepertiga malam.

Aku bersiap, bukan hanya dengan makanan, Tapi dengan harapan dan taubat yang diam-diam. Semoga Allah terima lelah dan niatku, Semoga Ramadhan nanti jadi pelukan yang hangat, Bagi hati yang kadang dingin, kadang rapuh.

Sahur ini, aku belajar bersyukur. Karena diberi waktu untuk bersiap, Karena diberi kesempatan untuk kembali. Karena Ramadhan… Selalu datang sebagai cahaya.



Jendela yang Tak Pernah Tertidur – Kisah Cahaya Menyambut Ramadhan

Malam itu begitu sunyi. Gang kecil di ujung kampung tertutup gelap, hanya suara jangkrik yang sesekali terdengar. Namun ada satu jendela yang tak pernah tertidur, cahaya lampu kuningnya menembus tirai tipis, seolah menjadi tanda bahwa ada seseorang yang masih terjaga. Orang-orang yang lewat sering bertanya-tanya, siapa yang selalu menyalakan jendela itu di tengah malam?

Di balik jendela itu, seorang perempuan duduk dengan tenang. Tangannya sibuk menulis, kadang berhenti untuk berdoa, kadang hanya menatap kosong ke luar. Ia terbiasa terjaga di sepertiga malam, bukan karena tak bisa tidur, melainkan karena hatinya menemukan kedamaian dalam sunyi. Lampu kecil yang ia nyalakan bukan hanya untuk dirinya, tapi juga sebagai tanda bagi siapa pun yang melihat: sahur sudah dekat, Ramadhan semakin mendekat.

Anak-anak kecil di gang sering mengintip ke arah jendela itu. Mereka merasa ditemani, seolah ada yang menjaga malam mereka. Kadang seorang tetangga yang pulang terlambat tersenyum lega, karena cahaya dari jendela itu mengingatkan bahwa sahur sudah dekat. Jendela sederhana itu menjadi tanda kehidupan, pengingat bahwa ada seseorang yang selalu terjaga, menulis, dan berdoa di tengah sunyi.

Menjelang Ramadhan, perempuan itu berhenti dari puasa Dawud. Namun jendelanya tetap menyala, seakan enggan menyerah pada gelap. Malam-malam terakhir sebelum bulan suci, cahaya itu menjadi lebih berarti: bukan hanya tanda sahur, tapi juga simbol harapan. Orang-orang yang melihatnya tahu, Ramadhan sudah di depan mata, dan ada seseorang yang diam-diam menjaga semangat mereka dengan cahaya kecil dari balik jendela.

Jendela itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar cahaya. Ia adalah doa yang diam-diam dipanjatkan, harapan yang tak pernah padam, dan pengingat bahwa Ramadhan selalu datang membawa kesempatan baru. Orang-orang mungkin hanya melihat lampu kecil yang menyala di tengah malam, tapi sesungguhnya mereka sedang menyaksikan hati yang tak pernah lelah mencari cahaya. Jendela yang tak pernah tertidur itu pun menjadi simbol: bahwa dalam gelap sekalipun, selalu ada sinar yang menuntun menuju Ramadhan.



Berhenti sejenak untuk sahur

Pukul 03.14, malam masih sunyi, dan aku berhenti sejenak dari laporan yang menumpuk.

Hanya segelas susu kedelai menemani sahur sederhana ini, tapi rasanya cukup untuk menenangkan hati yang lelah dan menyiapkan tubuh untuk hari yang panjang.

Dalam hening itu, aku membisikkan niatku:
“Nawaitu shauma dawud lillahi ta’ala.”
Puasa Daud, puasa sunnah selang sehari, aku jalani hanya karena Allah.

Tiada kemewahan, tiada yang terlihat—hanya kesederhanaan dan ketulusan hati.
Semoga sahur ini menjadi berkah, semoga puasa hari ini menguatkan tubuh dan jiwa, dan semoga setiap langkah kecilku hari ini dicatat sebagai amal shalih.

Dan meski malam masih panjang, aku yakin setiap detik yang kutitipkan pada Allah tidak akan sia-sia.
Bismillah… untuk kesabaran, untuk keberkahan, dan untuk hari yang Allah mudahkan.