Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan

"Seperti Pertama Kalinya"

Aku selalu mencintaimu

seperti pertama kalinya meski jarak menjelma dinding, meski waktu sering mencuri pertemuan.

Di setiap senja yang sunyi, aku mendengar namamu berbisik dari doa yang tak pernah letih, menyulam rindu jadi kekuatan.

Kau di sana, aku di sini, namun hati kita tak pernah berpisah. Setiap tatap yang tertunda, setiap pelukan yang menunggu, tetap hangat, tetap utuh, seperti pertama kalinya.

Dan bila esok kita kembali bertemu, biarlah dunia tahu cinta ini tak pernah menua, ia selalu lahir kembali, seperti pertama kalinya.



Daily Ramadhan ke-6

Kadang kaki lelah melangkah,

hati ragu menatap jalan yang belum pasti.
Namun di sela napas, terdengar lembut bisikan:
"Laa tahzan, innallaha ma’ana"

Setiap langkah kecil di jalan kebaikan adalah doa,
setiap tetes keringat adalah cahaya,
dan setiap niat ikhlas pasti Allah mudahkan jalannya. 

Meski sendiri, aku tak pernah benar-benar sendiri.
Allah menuntun, Allah memberi kekuatan,
Allah menyiapkan pertolongan tepat pada waktunya.

Di sinilah aku belajar,
bahwa kebaikan tidak selalu mudah,
tapi selalu indah bagi yang sabar dan yakin.


Ramadhan Day 5: Melangkah Meski Sendiri

Proposal sudah selesai: dicetak, dijilid rapi, dimasukkan ke dalam amplop—tinggal diantar.

Qadarullah… sampai hari ini belum ada satu pun teman pengurus yang Allah gerakkan untuk membantu proses pengantaran.

Sementara aku sendiri terbatas, karena untuk mengantar proposal butuh tenaga dan biaya. Harus sewa mobil, harus ada yang mendampingi, dan ini bukan kegiatan pribadi, ini amanah sosial. Yayasan ini bukan milik perseorangan, tapi milik bersama. Tidak ada gaji, tidak ada keuntungan. Semua benar-benar gerakan hati yang tulus dan ikhlas.

Kadang Allah membuka pintu pahala, tetapi kembali lagi pada hati masing-masing:
Ada yang siap melangkah duluan, ada yang menunggu semuanya “siap” baru ingin bergerak.

Bismillah…
Meski sendiri, aku tetap mulai menghubungi orang-orang yang setiap tahun ikut berdonasi Ramadhan. Semoga Allah cukupkan langkah kecil ini menjadi keberkahan besar, dan semoga apa pun yang dilakukan hari ini ditulis Allah sebagai amal shalih.



“Jangan titipkan harapanmu pada manusia
mereka hanya bayang yang datang dan pergi.
Titipkanlah pada Allah,
Dzat yang tak terlihat oleh mata,
namun selalu hadir dalam setiap detak hati.”

Ramadhan Hari ke-3: Tentang Ikhlas yang Tidak Tampak

Belajar berjalan sendiri tanpa merasa sendirian, karena Allah selalu melihat.

Ramadhan hari ke-3…
di antara sepi dan lelah yang tidak selalu terlihat, aku belajar satu hal:
bahwa tidak semua yang berjalan sendirian itu berarti tak ada yang peduli.
Kadang, Allah hanya ingin menunjukkan siapa yang benar-benar bertahan karena-Nya.

Ada saat-saat di mana usaha terasa berat, langkah terasa sendiri, 
Bukan karena aku ingin disanjung, bukan ingin dipuji
hanya berharap ada yang ikut menguatkan.
Tapi justru dari sepinya respons, Allah mengajariku arti keikhlasan yang sesungguhnya.

Bahwa sosial itu bukan tentang banyaknya orang.
Bukan tentang siapa yang datang atau tidak datang.
Sosial adalah tentang hati.
Tentang kesediaan untuk tetap melangkah, meski langkah orang lain tak selalu seirama.
Tentang terus memberi, meski tidak ada yang melihat.

Di Ramadhan ini, semoga aku dipertemukan dengan orang-orang baik yang hatinya lembut 
Mereka datang tanpa diminta, membantu tanpa diminta,

Dan aku belajar…
bahwa kebaikan itu tidak selalu datang dari tempat yang kita kira.

Hari ini aku kembali mengingatkan diri sendiri:
bahwa setiap langkah kecil membawa keberkahan besar,
bahwa setiap tetes lelah dicatat sebagai amal,
bahwa setiap senyum anak yatim adalah doa yang naik ke langit tanpa jeda.

Ramadhan hari ke-3…
semoga Allah menerima setiap usaha yang mungkin tak terlihat oleh manusia,
namun tak pernah luput dari pandangan-Nya.



Pelukan yang Menyapa dalam Mimpi

Siang itu, dalam hening yang lembut,

ada sosok datang menyapa, membawa pelukan yang lama tak singgah.

Aku tak pernah menunggu, tak pernah menyebut namanya, namun semesta menitipkan kehadiran, sekilas rindu, sekilas bahagia, lalu pergi, meninggalkan senyum samar di hati.