Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan

Hari yang Penuh Isyarat

 Di balik sakit dan listrik padam, ada semangat yang tetap menyala

Hari ini terasa begitu padat, penuh kejadian yang datang bertubi‑tubi. Tubuhku sedang sakit, tapi tetap harus menanggapi pesan dari dinas yang meminta soft file lama, sesuatu yang sudah bertahun‑tahun tersimpan.

Belum selesai urusan itu, listrik mati seharian. Tugas yang harusnya bisa kuselesaikan jadi tertunda, dan di saat yang sama ada kabar dari pengadilan yang membuat hatiku bergetar.

Ketika listrik kembali menyala, aku membuka WhatsApp. Grup LKKS sudah ramai dengan surat undangan untuk Senin besok. Rasanya seperti dunia bergerak cepat, sementara aku masih berusaha menata langkah.

Di tengah semua itu, aku tetap berusaha menulis. Novel untuk kompetisi harus selesai 30 bab dalam 17 hari. Alhamdulillah, sudah 11 bab kutuntaskan. Meski sakit, meski listrik mati, meski pikiran bercabang ke pengadilan dan undangan, aku tetap menulis.

Hari ini mengajarkanku bahwa hidup memang penuh kejutan. Ada sakit, ada tugas, ada listrik padam, ada panggilan pengadilan, ada undangan mendadak. Tapi ada juga semangat yang terus hidup, ada doa yang terus terucap: Allahumma yassir wa laa tu’assir.

Aku belajar menerima bahwa semua ini bagian dari perjalanan. Aku tidak bisa mengendalikan segalanya, tapi aku bisa memilih untuk tetap melangkah, tetap menulis, tetap berharap.

Fa inna ma’al ‘usri yusra. Inna ma’al ‘usri yusra



PERJALANAN DZULHIJJAHKU

Di awal Dzulhijah, tubuhku sempat rapuh,

Namun hati tetap berbisik lirih:

“Ya Allah, sehatkan aku,

Aku ingin puasa penuh sembilan hari.”


Alhamdulillah, Engkau kabulkan,

Langkahku ringan, puasaku terjaga,

Sembilan hari tanpa halangan,

Hanya syukur yang mengalir deras di dada.


Hari Arafah pun tiba,

Air mata jadi saksi keikhlasan,

Doa untuk sahabat, doa untuk keluarga,

Doa untuk jiwa yang mendamba ketentraman.


Idul Adha menyapa dengan takbir agung,

Allahu Akbar menggema di langit dan bumi,

Mengajarkan arti pengorbanan,

Menguatkan hati dalam ridha Ilahi.


BERBUKA DI DZULHIJJAH 9

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melancarkan ibadah puasa dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah tanpa halangan apapun. Hati terasa ringan menjalankannya, meski di awal sempat sakit. Dalam sahur aku berdoa: “Ya Allah, sehatkan aku, aku ingin puasa full 9 hari.” Dan benar, doa itu Engkau kabulkan.

Terima kasih ya Allah atas kesehatan, kekuatan, dan ketentraman hati yang Engkau anugerahkan. Semoga puasa ini menjadi amal yang Engkau terima, dan menjadi jalan menuju ridha-Mu

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Laa ilaaha illallahu wallahu Akbar

Allahu Akbar wa lillahil hamd


Kirain jam 4.20, ternyata masih 3.20 😅

Semalam aku tidur lebih awal, sekitar jam 10. Biasanya terbangun di jam 1 atau 2, tapi kali ini aku lihat jam sudah menunjukkan 4.20. Aku pun buru‑buru sahur dengan air putih, pisang, dan obat. Namun hati masih bingung, karena biasanya menjelang subuh terdengar lantunan sholawat dan bacaan Al‑Qur’an dari masjid, tapi kali ini sepi.


Aku buka jadwal imsakiyah, ternyata belum masuk subuh. Lalu aku cek HP, kaget sekali… ternyata baru jam 03.20. Ya Allah, aku salah lihat jam dinding yang tertutup lighting live streaming. Alhamdulillah, masih banyak waktu untuk sahur dan bisa tahajud.


Pagi ini aku belum selesai menulis bab baru, masih berupa kerangka dan coretan. Ada kejadian lain juga: aku beli antena TV indoor, ternyata tidak bisa dipakai. Sudah panggil ahli pemasangan, tapi beliau baik sekali, tidak mau menerima ongkos karena antena tidak jadi dipasang. Disarankan pakai antena luar rumah, insyaAllah nanti kalau ada rezeki.


Hari ini puasa Dzulhijjah berjalan lancar hingga maghrib. Alhamdulillah, setiap kejadian kecil terasa sebagai pelajaran: tentang waktu, tentang syukur, dan tentang kebaikan orang lain.



Cahaya Sedekah di Pagi Hari

Bismillah

Pagi selalu datang membawa pesan syukur. Di setiap langkah kecil berbagi, ada doa yang terbang ke langit, ada senyum yang tumbuh di wajah orang lain. Inilah catatan hati, refleksi sederhana tentang bagaimana Allah melapangkan rezeki lewat tangan yang memberi.

Ya Allah, Sang Maha Pemberi,

cukupkanlah aku dengan kasih-Mu,

lapangkanlah rezeki yang Engkau titipkan,

agar tangan ini tak pernah letih memberi.

Ya Razzaq, Ya Dzul Quwwah,

kuatkan langkah meski kursi roda menuntun,

jadikan setiap sedekah cahaya,

yang membahagiakan hati banyak insan.

Dan kembalikanlah, ya Rabb,

setiap yang keluar dari genggamanku,

dengan lipatan rahmat,

agar aku tetap bisa menjadi jalan kebaikan.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan kasih-Mu,

lapangkanlah rezeki yang Engkau titipkan,

agar aku tetap bisa memberi,

meski pundak ini lelah,

meski langkah ini terbatas.

Jadikanlah setiap sedekah cahaya,

yang menghapus gelap dari hati,

dan mengundang senyum dari banyak wajah.

Aamiinn..

Semoga setiap langkah untuk berbagi menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup kita. Semoga Allah melipatgandakan rezeki, menguatkan hati, dan menjadikan kita perantara kebahagiaan bagi banyak orang. Ya Allah, jadikanlah sedekah ini bukan sekadar pemberian, tetapi jembatan menuju ridha-Mu.



SUKA & DUKA MENJADI PENULIS NOVEL

Menjadi penulis novel itu ibarat naik roller coaster emosi. 

Ada saat-saat penuh tawa, ada pula momen yang bikin hati ikut sesak.

Sukanya:

Menulis adegan bahagia membuatku seolah kembali jadi remaja, penuh mimpi dan semangat. Musik remaja jadi latar, imajinasi berlarian bebas.

Menciptakan tokoh yang hidup di kepala lalu menjelma di halaman, rasanya seperti punya sahabat baru.

Melihat pembaca baper karena cerita yang kutulis, itu menjadi kebahagiaan tersendiri.

Dukanya:

Ikut baper sendiri saat menulis konflik, sampai gemas dan malah memperpanjang adegan.

Disangka kisah pribadi, padahal itu hanya imajinasi.🤦🏻‍♀️

Lelah tapi puas, begadang demi menyelesaikan bab, lalu tersenyum melihat cerita akhirnya rampung.

Jadi...

Menulis novel bukan sekadar pekerjaan, tapi perjalanan rasa. Setiap kata adalah cermin hati, setiap bab adalah potongan jiwa. Suka dukanya justru yang membuat proses ini indah dan layak dikenang.

🔥 Siap-siap emosinya naik turun



Are you oke? Aman saja

Kalimat sederhana “Are you ok?” sering muncul sebagai bentuk kepedulian. Pertanyaan itu seolah mengetuk pintu hati, menanyakan keadaan seseorang di balik senyum atau diamnya.

Jawaban “aman saja” terdengar singkat, tapi menyimpan makna: ada ketenangan, ada kekuatan, meski mungkin banyak hal sedang terjadi. Kata “aman” memberi rasa lega, seolah berkata: aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir.

Dalam percakapan sehari-hari, kombinasi ini bisa menjadi simbol komunikasi yang hangat. Pertanyaan singkat, jawaban ringkas, namun keduanya mencerminkan perhatian dan keteguhan.


KALIAN GA TAU KAN?

Hari ini aku kembali menyusuri rutinitas di kantor: menata arsip yang mulai menumpuk, mencetak kegiatan Jumat Berbagi, dan memperbarui cetakan surat masuk dari dinas untuk lembaga tri semester pertama. Di sela kesibukan itu, waktuku juga terbagi untuk live affiliate di TikTok, sambil menjaga ritme menulis bab‑bab baru novel yang sudah terjadwal setiap harinya.

Kadang aku tersenyum sendirI.... kalian ga tahu kan? semua ini aku jalani sendiri. Kalau pun minta bantuan orang, aku yang menanggung biayanya, bukan yayasan. Di sini tidak ada gaji, hanya niat dan keikhlasan yang terus aku jaga.

Setiap aktivitas terasa seperti potongan puzzle yang perlahan membentuk gambaran besar perjalanan hidup. Ada kerja, ada berbagi, ada kreativitas yang terus tumbuh. Semoga Allah senantiasa melapangkan hati, melapangkan rezeki, memberi kesehatan, dan menguatkan langkah dalam setiap ikhtiar… 🤲



MENANG

Aku tidak tertarik menang di mata orang.

Karena kemenangan yang sejati bukanlah tepuk tangan, bukan pula sorak sorai.

Aku lebih tertarik membangun hidup yang kokoh,

hidup yang tidak runtuh saat tidak dipilih,

tidak goyah saat dibandingkan,

dan tidak hancur meski ditinggalkan.

 

Menjadi kuat bukan berarti tak pernah jatuh,

tetapi mampu berdiri lagi dengan hati yang utuh.

Menjadi teguh bukan berarti tak pernah rapuh,

tetapi tetap melangkah meski luka masih terasa.

 

Aku ingin hidup yang berdiri di atas fondasi cinta

cinta pada diri sendiri, cinta pada perjalanan,

cinta pada Tuhan yang selalu menuntun.

Karena ketika cinta itu kokoh,

tak ada penolakan yang bisa meruntuhkan,

tak ada perbandingan yang bisa menggoyahkan,

tak ada kepergian yang bisa menghancurkan.

 

Dan di sanalah aku menemukan arti:

bahwa hidup bukan tentang terlihat menang,

melainkan tentang tetap utuh,

meski dunia mencoba merobeknya.

 


DIA HADIR & ANTUSIAS

Bisa bersama orang yang aksinya menunjukkan seberapa besar cintanya, itu adalah KEMENANGAN besar. 

Ultahmu, makanan favoritmu, hal-hal yang membahagiakanmu,

DIA HADIR DAN ANTUSIAS! 



HBD MY BEST FRIEND


Selamat Ulang Tahun, Sahabat Baikku

24 April 2026


Semoga di usia yang baru ini,

Allah senantiasa melimpahkan kesehatan,

kebahagiaan, serta keberkahan dalam setiap langkahmu.


Terima kasih atas kebaikan, kepedulian,

dan ketulusan yang selama ini diberikan.

Kehadiranmu membawa banyak arti,

menjadi penyemangat dan inspirasi


Semoga segala kebaikan yang telah ditanam,

kembali sebagai pahala yang berlipat,

dan setiap doa yang dipanjatkan

dikabulkan oleh-Nya.


Barakallahu fii umrik, 

Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.

Pelan-Pelan Menuju Rumah yang Allah Siapkan

Rabu pagi yang sederhana,

namun penuh makna yang tak biasa.

 

Aku duduk di hadapan layar,

mendengarkan satu per satu kata,

tentang aturan, tentang langkah,

tentang bagaimana sebuah lembaga bertumbuh dengan arah.

 

Hari ini aku belajar,

bahwa tidak semua langkah harus berlari,

tidak semua mimpi harus segera dimiliki.

 

Ada yang perlu dipersiapkan,

ada yang harus dipantaskan,

dan ada yang memang harus menunggu waktu terbaiknya datang.

 

Kami mungkin belum memiliki tanah,

belum berdiri di atas bangunan sendiri,

namun kami tetap berdiri

di atas niat, doa, dan kepedulian yang tak pernah berhenti.

 

Karena bagi kami,

rumah bukan sekadar dinding dan atap,

melainkan tempat di mana harapan anak-anak

tetap hidup dan dijaga.

 

Dan hari ini, aku mengerti,

bahwa setiap proses adalah bagian dari perjalanan.

Pelan… tapi pasti.

 

Menuju tempat yang telah Allah siapkan,

di waktu yang paling tepat.


 

HIDUP ITU CAPEK

"Hidup itu cape, makanya kita butuh yang sama-sama éxcited, someone to talk, sefrekuensi dan saling mengerti."


— Langit Didada


Apa yang paling mahal?


Apa yang paling mahal?  

Bukan emas, bukan permata.

Melainkan:

Waktu, Kesempatan, Kepercayaan, Kejujuran,

Pemahaman, Komunikasi, Maaf, dan Terima kasih.


Menurutmu, mana yang paling sulit dijaga?

UPDATE BAB BARU

Cerita tak berhenti, kata-kata terus lahir…

BAB baru sudah tayang di Langit Didada, 💫

https://www.wattpad.com/user/langitdidada1608

Ikuti perjalanan ini dan rasakan setiap detiknya — follow akun Langit Didada di Wattpad sekarang 📚






Quote - Langit Di Dada

 “Kadang aku rindu… tapi aku belajar diam, karena yang kunanti selalu sibuk.”



"Seperti Pertama Kalinya"

Aku selalu mencintaimu

seperti pertama kalinya meski jarak menjelma dinding, meski waktu sering mencuri pertemuan.

Di setiap senja yang sunyi, aku mendengar namamu berbisik dari doa yang tak pernah letih, menyulam rindu jadi kekuatan.

Kau di sana, aku di sini, namun hati kita tak pernah berpisah. Setiap tatap yang tertunda, setiap pelukan yang menunggu, tetap hangat, tetap utuh, seperti pertama kalinya.

Dan bila esok kita kembali bertemu, biarlah dunia tahu cinta ini tak pernah menua, ia selalu lahir kembali, seperti pertama kalinya.



Daily Ramadhan ke-6

Kadang kaki lelah melangkah,

hati ragu menatap jalan yang belum pasti.
Namun di sela napas, terdengar lembut bisikan:
"Laa tahzan, innallaha ma’ana"

Setiap langkah kecil di jalan kebaikan adalah doa,
setiap tetes keringat adalah cahaya,
dan setiap niat ikhlas pasti Allah mudahkan jalannya. 

Meski sendiri, aku tak pernah benar-benar sendiri.
Allah menuntun, Allah memberi kekuatan,
Allah menyiapkan pertolongan tepat pada waktunya.

Di sinilah aku belajar,
bahwa kebaikan tidak selalu mudah,
tapi selalu indah bagi yang sabar dan yakin.


Ramadhan Day 5: Melangkah Meski Sendiri

Proposal sudah selesai: dicetak, dijilid rapi, dimasukkan ke dalam amplop—tinggal diantar.

Qadarullah… sampai hari ini belum ada satu pun teman pengurus yang Allah gerakkan untuk membantu proses pengantaran.

Sementara aku sendiri terbatas, karena untuk mengantar proposal butuh tenaga dan biaya. Harus sewa mobil, harus ada yang mendampingi, dan ini bukan kegiatan pribadi, ini amanah sosial. Yayasan ini bukan milik perseorangan, tapi milik bersama. Tidak ada gaji, tidak ada keuntungan. Semua benar-benar gerakan hati yang tulus dan ikhlas.

Kadang Allah membuka pintu pahala, tetapi kembali lagi pada hati masing-masing:
Ada yang siap melangkah duluan, ada yang menunggu semuanya “siap” baru ingin bergerak.

Bismillah…
Meski sendiri, aku tetap mulai menghubungi orang-orang yang setiap tahun ikut berdonasi Ramadhan. Semoga Allah cukupkan langkah kecil ini menjadi keberkahan besar, dan semoga apa pun yang dilakukan hari ini ditulis Allah sebagai amal shalih.



“Jangan titipkan harapanmu pada manusia
mereka hanya bayang yang datang dan pergi.
Titipkanlah pada Allah,
Dzat yang tak terlihat oleh mata,
namun selalu hadir dalam setiap detak hati.”

Ramadhan Hari ke-3: Tentang Ikhlas yang Tidak Tampak

Belajar berjalan sendiri tanpa merasa sendirian, karena Allah selalu melihat.

Ramadhan hari ke-3…
di antara sepi dan lelah yang tidak selalu terlihat, aku belajar satu hal:
bahwa tidak semua yang berjalan sendirian itu berarti tak ada yang peduli.
Kadang, Allah hanya ingin menunjukkan siapa yang benar-benar bertahan karena-Nya.

Ada saat-saat di mana usaha terasa berat, langkah terasa sendiri, 
Bukan karena aku ingin disanjung, bukan ingin dipuji
hanya berharap ada yang ikut menguatkan.
Tapi justru dari sepinya respons, Allah mengajariku arti keikhlasan yang sesungguhnya.

Bahwa sosial itu bukan tentang banyaknya orang.
Bukan tentang siapa yang datang atau tidak datang.
Sosial adalah tentang hati.
Tentang kesediaan untuk tetap melangkah, meski langkah orang lain tak selalu seirama.
Tentang terus memberi, meski tidak ada yang melihat.

Di Ramadhan ini, semoga aku dipertemukan dengan orang-orang baik yang hatinya lembut 
Mereka datang tanpa diminta, membantu tanpa diminta,

Dan aku belajar…
bahwa kebaikan itu tidak selalu datang dari tempat yang kita kira.

Hari ini aku kembali mengingatkan diri sendiri:
bahwa setiap langkah kecil membawa keberkahan besar,
bahwa setiap tetes lelah dicatat sebagai amal,
bahwa setiap senyum anak yatim adalah doa yang naik ke langit tanpa jeda.

Ramadhan hari ke-3…
semoga Allah menerima setiap usaha yang mungkin tak terlihat oleh manusia,
namun tak pernah luput dari pandangan-Nya.