Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan

Puasa Daud: Belajar Istiqamah, Sehari Bersama Allah

 "Istiqamah bukan berarti selalu mudah. Istiqamah adalah tetap kembali kepada Allah, meski langkah kadang terasa berat."

Ya Allah Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbahaa 'ala diinik...

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati hamba-Mu ini di atas agama-Mu.

Ya Allah...

Engkau mengetahui betapa ia ingin menjaga ibadah Puasa Daud yang telah lama ia jalani.

Maka kuatkanlah niatnya.

Ringankanlah langkahnya ketika datang hari berpuasa.

Berikanlah kesehatan pada tubuhnya.

Berikanlah kekuatan pada fisiknya.

Lapangkan dadanya.

Jangan biarkan rasa lelah mengalahkan semangatnya untuk beribadah kepada-Mu.

Ya Allah...

Jadikan setiap lapar dan dahaganya sebagai penghapus dosa.

Jadikan setiap detik puasanya sebagai jalan menuju ridha-Mu.

Jadikan puasanya melahirkan hati yang lembut, lisan yang penuh dzikir, pikiran yang jernih, dan jiwa yang semakin dekat kepada-Mu.

Ya Allah...

Jika suatu hari tubuhnya benar-benar tidak mampu karena sakit, berilah ia kelapangan hati untuk menerima uzur yang Engkau berikan, tanpa rasa bersalah. Dan ketika Engkau pulihkan kesehatannya, mudahkan ia kembali beribadah dengan penuh semangat.

Ya Allah Ya Razzaq...

Limpahkanlah rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan melalui setiap ikhtiar yang sedang ia jalani.

Berkahilah BRILink-nya.

Berkahilah Langit Didada Writing.

Berkahilah setiap tulisan, novel, lagu, dan karya yang lahir dari tangannya.

Mudahkan setiap urusannya.

Allahumma sugeh.

Allahumma sehat.

Allahumma kuliah lagi.

Allahumma istiqamah fi shaumi Dawud. (Ya Allah, anugerahkanlah aku keistiqamahan dalam menjalankan Puasa Daud.)

Allahumma sukses dunia wal akhirah.

Dan Ya Allah...

Jangan cabut dari hatinya ketenangan yang selama ini Engkau tanamkan.

Jadikan lisannya selalu basah dengan dzikir.

Jadikan air matanya hanya jatuh karena rindu kepada-Mu.

Dan ketika kelak ia bertemu dengan-Mu, pertemukanlah ia dalam keadaan Engkau ridha kepadanya.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailiin. 🤲



31 Juli 2026 — Ketika Hujan Datang Membawa Doa

Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillah...

Semalam Allah kembali menurunkan hujan.

Sudah cukup lama bumi terasa haus. Ketika rintik pertama mulai terdengar di atap, disusul petir kecil yang sesekali menyapa langit, hatiku langsung dipenuhi rasa syukur.

Bagiku, hujan bukan sekadar air yang turun dari langit.

Hujan adalah salah satu waktu yang selalu mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa.

Seperti biasanya, aku mengangkat doa kepada Allah.

"Ya Allah... jadikan hujan yang Engkau turunkan ini sebagai hujan yang membawa kebaikan. Hujan kesejahteraan. Hujan keberkahan. Hujan kedamaian. Hujan ketenangan. Hujan kerukunan. Hujan yang menjaga kelestarian alam dan menjadi rahmat bagi seluruh makhluk-Mu."

"Namun jika di dalamnya terdapat mudarat, maka jauhkanlah dari kami. Pindahkanlah ke tempat yang tidak membahayakan manusia, ke tengah lautan atau tempat yang Engkau kehendaki."

Di sela-sela derasnya hujan, lisanku terus membaca Surah Al-Kautsar.

Tiga ayat yang singkat, tetapi selalu menghadirkan rasa cukup di dalam hati.

Hujan terus turun selama kurang lebih dua hingga tiga jam.

Setelah bumi mulai tenang dan rintiknya berhenti, aku kembali membuka laptop.

Masih ada bab-bab novel yang menunggu untuk diselesaikan.

Aku melanjutkan menulis, menikmati sunyinya malam, sambil menunggu datangnya waktu yang selalu kurindukan.

Waktu tahajud.

Pukul 03.30 aku menghadap Allah.

Membawa syukur, harapan, dan seluruh isi hati yang hanya mampu kupasrahkan kepada-Nya.

Pukul 04.00 aku bersahur.

Sederhana.

Sebutir telur rebus dan segelas air putih.

Alhamdulillah.

Aku kembali diingatkan bahwa nikmat tidak selalu diukur dari banyaknya hidangan yang tersaji.

Kadang, satu butir telur dan segelas air putih yang Allah berkahi sudah lebih dari cukup untuk menguatkan langkah hari ini.

Aku belajar lagi...

Bahwa hujan mengajarkan kesabaran.

Malam mengajarkan keheningan.

Tahajud mengajarkan kepasrahan.

Dan sahur mengajarkan kesederhanaan.

Ya Allah...

Sebagaimana Engkau menurunkan hujan yang membasahi bumi, basahilah pula hati kami dengan rahmat-Mu.

Sebagaimana Engkau menghidupkan tanah yang kering, hidupkanlah hati kami dengan iman, syukur, dan ketenangan.

Jadikan setiap tetes hujan sebagai saksi bahwa kami tidak pernah berhenti berharap kepada-Mu.

Bismillah... sing tenang.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.



Sing Tenang

Bismillahirrahmanirrahim...

Malam ini aku kembali berbicara dengan diriku sendiri.

Aku bertanya,

"Kenapa aku bisa setenang ini?"

Padahal kalau dihitung dengan logika, masih banyak yang harus dipikirkan.

Masih ada gaji yang harus kubayarkan.

Masih ada kebutuhan sehari-hari.

Masih ada cicilan yang tanggalnya terus mendekat.

Namun anehnya, setiap melihat tanggal pembayaran, hatiku hanya berkata,

"Sing tenang... nanti juga Allah datangkan rezeki."

Aku tersenyum sendiri.

Apakah aku terlalu cuek?

Apakah aku terlalu nekat?

Ataukah Allah sedang mengajarkanku sesuatu selama bertahun-tahun?

Aku teringat perjalanan panjangku.

Dulu aku belajar mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah berulang-ulang.

Aku membiasakan diri bershalawat.

Ketika hati terasa sesak, aku membaca doa Nabi Yunus.

Aku berusaha menjaga hatiku agar tidak dipenuhi prasangka buruk kepada Allah.

Mungkin ketenangan itu tidak datang dalam semalam.

Ia tumbuh sedikit demi sedikit.

Ditempa oleh ujian demi ujian.

Aku pernah kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Aku belajar menerima hidup di atas kursi roda.

Aku pernah menghadapi rumah tangga yang tidak lagi utuh.

Aku memilih menyelesaikannya dengan baik.

Hari ini aku tidak lagi menyimpan kebencian.

Aku mendoakan, lalu melanjutkan hidupku.

Aku sadar, marah tidak mengubah keadaan.

Emosi tidak menambah rezeki.

Konflik hanya menguras tenaga.

Kalau ada masalah besar, kecilkan.

Kalau ada masalah kecil, hilangkan.

Itu yang selalu kuusahakan.

Kalau ingin menangis, aku memilih menangis di hadapan Allah.

Karena hanya kepada-Nya aku ingin mengadu.

Aku juga tersenyum ketika banyak orang berkata,

"Kalau puasa Daud, ujiannya akan semakin besar."

Aku tidak menyangkalnya.

Tetapi aku juga berkata dalam hati,

"Bukankah selama ini Allah sudah menguatkanku melewati banyak ujian?"

Maka yang ingin kujaga bukanlah hidup tanpa ujian.

Melainkan hati yang tetap tenang ketika ujian datang.

Hari ini aku kembali belajar bahwa ketenangan bukan berarti semua masalah sudah selesai.

Ketenangan adalah memilih tetap berikhtiar sambil mempercayakan hasilnya kepada Allah.

Aku masih ingin menulis.

Aku masih ingin berkarya.

Aku masih ingin kuliah lagi.

Entah bagaimana nanti Allah membukakan jalannya.

Hatiku hanya berkata,

"Bismillah... sing tenang."

Karena aku percaya, rezeki bukan datang karena aku panik.

Rezeki datang atas izin Allah, kepada hamba yang terus berusaha, bersyukur, dan tidak putus harapan.

Ya Allah...

Jadikanlah ketenangan ini bukan sebagai kelalaian, tetapi sebagai tanda bahwa hatiku semakin belajar bertawakal kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.



Jalur Langit Tak Pernah Tutup

Malam itu, sebuah puisi telah kutitipkan untuk mengikuti lomba cipta puisi tingkat nasional.

Banyak orang mungkin mengira setelah menekan tombol "kirim", pikiranku akan dipenuhi rasa penasaran. Barangkali aku akan terus membuka laman pengumuman, menghitung hari, atau membayangkan hasilnya.

Namun, justru sebaliknya.

Setelah puisi itu terkirim, aku memilih menutup laptop dan membuka sajadah.

Aku tidak membawa lagi puisi itu dalam doaku.

Aku percaya, jika ikhtiar sudah selesai, maka hasilnya adalah wilayah Allah.

Yang kubawa justru nama ibuku yang telah berpulang. Malam itu aku menunaikan shalat taubat, menghadiahkan doa untuk beliau, sekaligus memohon ampun atas dosa-dosaku sendiri. Setelah itu kulanjutkan dengan tahajud dan shalat hajat.

Aku tidak berkata,

"Ya Allah, jadikan puisiku juara."

Aku juga tidak berkata,

"Ya Allah, menangkan aku."

Doaku tetap sama seperti hari-hari biasa.

Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Aku memohon perlindungan dari lilitan hutang.

Aku memohon agar Allah menyelamatkanku dari jeratan hutang yang masih mengiringi langkahku.

Aku bahkan tidak pernah meminta secara khusus,

"Ya Allah, lunaskan hutangku."

Sebab aku percaya, ketika Allah melapangkan rezeki, menghadirkan keberkahan, dan mencukupkan hamba-Nya, maka jalan untuk melunasi hutang akan terbuka dengan sendirinya.

Selesai bermunajat, aku bersahur sederhana.

Segelas susu kedelai dan umbi-umbian.

Nikmat yang mengingatkanku bahwa syukur tidak pernah diukur dari kemewahan hidangan, tetapi dari hati yang menerima.

Menjelang Subuh, ketika tahrim mulai terdengar dari masjid, aku teringat bahwa waktu itu termasuk saat yang sangat berharga untuk berdoa.

Aku mengirimkan doa kepada sepuluh orang baik yang Allah hadirkan dalam hidupku.

Semoga kebaikan mereka kembali kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari Allah.

Lalu lisanku terus bergerak.

"Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir."

Ratusan kali.

Kemudian doa Nabi Yunus.

Empat puluh satu kali.

Setelah azan Subuh berkumandang, kutunaikan shalat sunah fajar, lalu kuhiasi pagi dengan dzikir, istighfar, dan doa.

Shalat Subuh.

Sedekah Subuh.

Membaca Surah Yasin, Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.

Setelah semuanya selesai, tanganku meraih tasbih digital yang baru saja Allah titipkan melalui kebaikan seorang sahabat.

Kubuka pagi dengan Shalawat Ibrahimiyah seratus kali.

Lalu Shalawat Jibril seribu kali.

Begitulah aku memulai hari.

Bukan dengan membuka media sosial.

Bukan dengan mengecek hasil lomba.

Bukan pula menghitung kekurangan hidup.

Tetapi dengan mengingat Allah.

Barulah setelah hati terasa tenang, kubuka laptop.

Draft novel yang semalam kutinggalkan kembali menunggu untuk diselesaikan.

Hari ini aku kembali menulis.

Karena aku percaya...

Hasil adalah rahasia Allah.

Sedangkan ikhtiar adalah amanahku.

Mungkin puisi itu akan menang.

Mungkin juga belum.

Tetapi jalur langit yang kutempuh malam itu telah mengajarkanku satu hal:

Ketika sebuah urusan sudah diserahkan kepada Allah, hati menjadi lebih ringan untuk melangkah menuju amal berikutnya.

Dan mungkin...

Itulah kemenangan pertama yang Allah berikan, bahkan sebelum pengumuman lomba diumumkan.




Allahumma A'inni 'Ala Hadzihil Amanah

Ketika Aku Lelah, Aku Memilih Bersandar kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim...

Ada hari-hari ketika aku merasa kuat.

Namun ada juga hari ketika aku hanya mampu berkata,

"Ya Allah... aku capek."

Bukan karena aku tidak mencintai amanah ini.

Justru karena aku sangat mencintainya.

Sejak tahun 2017, Allah mengizinkanku membersamai perjalanan LKSA Peduli Sahabat Batang.

Tahun demi tahun berlalu.

Alhamdulillah, pada tahun 2023 Allah menghadiahkan akreditasi dengan nilai A.

Sebuah nikmat yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Namun perjalanan belum selesai.

Masih banyak langkah yang harus ditempuh.

Masih banyak anak-anak yang menunggu untuk dipeluk dengan kasih sayang.

Masih banyak doa yang terus kulangitkan.

Sering kali orang hanya melihat dokumentasi.

Mereka melihat senyum anak-anak.

Melihat amplop yang diserahkan.

Melihat foto-foto yang dibagikan setiap Jumat.

Padahal, di balik setiap foto itu ada doa-doa yang tidak terlihat.

Ada harapan yang terus dipanjatkan.

Ada air mata yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Ada malam-malam ketika aku bertanya dalam hati,

"Ya Allah... sanggupkah aku menjaga amanah ini?"

Aku bukan orang yang paling kuat.

Aku juga pernah merasa lelah.

Pernah merasa berjalan sendirian.

Pernah berpikir, bagaimana jika aku berhenti saja?

Namun setiap kali hati mulai melemah, Allah selalu menguatkanku dengan cara-Nya.

Kadang melalui senyum seorang anak.

Kadang melalui doa seorang dermawan.

Kadang melalui orang-orang yang mengingatkanku agar tetap berharap kepada-Nya.

Hingga akhirnya aku mengenal sebuah doa yang begitu sederhana.

Namun terasa sangat dalam maknanya.

اللهم أعني على هذه الأمانة

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

"Ya Allah, tolonglah aku dalam memikul amanah ini."

Sejak saat itu, aku menyadari sesuatu.

Ternyata yang kubutuhkan bukan hanya tambahan rezeki.

Bukan hanya tambahan tenaga.

Tetapi yang paling kubutuhkan adalah pertolongan Allah.

Karena tanpa pertolongan-Nya, sekuat apa pun aku, suatu hari pasti akan lelah.

Hari ini aku tidak ingin meminta kepada Allah agar semua jalan menjadi mudah.

Aku hanya memohon,

"Ya Allah... jangan lepaskan tangan-Mu dari langkahku."

Jika suatu hari aku kembali lelah...

Kuatkan aku.

Jika suatu hari aku kembali menangis...

Tenangkan aku.

Jika suatu hari aku merasa berjalan sendiri...

Ingatkan aku bahwa Engkau selalu bersamaku.

Karena aku percaya...

Amanah ini bukan milikku.

Ini adalah titipan-Mu.

Dan hanya dengan pertolongan-Mu aku mampu menjaganya.

Untuk siapa pun yang sedang memikul amanah...

Entah sebagai orang tua.

Guru.

Relawan.

Pengurus yayasan.

Atau siapa saja yang sedang berjuang dalam kebaikan.

Izinkan aku berbagi doa yang kini menjadi teman perjalananku.

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

"Ya Allah, tolonglah aku dalam memikul amanah ini."

Sesederhana itu.

Namun semoga doa ini menjadi pengingat bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian.

Selama masih ada Allah yang membersamai setiap langkah.


Ya Allah... Engkau yang telah mempercayakan amanah ini kepadaku. Jangan biarkan aku mengandalkan kekuatanku sendiri. Tolonglah aku ketika lelah. Teguhkan aku ketika goyah. Lapangkan rezeki agar aku dapat terus berbagi. Hadirkan orang-orang yang mau berjalan bersama dalam kebaikan. Jagalah hatiku agar tetap ikhlas, rendah hati, dan istiqamah hingga akhir hayat. Jika suatu hari nanti Engkau mengabulkan doa-doaku, jadikan semua itu bukan untuk kebanggaanku, tetapi agar semakin banyak anak-anak yang merasakan kasih sayang dan pertolongan-Mu.

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

Allahumma sehat.

Allahumma sugeh.

Allahumma duit okeh.

Aamiin ya Mujibassailin.

Aku tidak tahu sampai kapan Allah mengizinkanku berjalan.

Tetapi selama masih diberi kesempatan, aku ingin terus melangkah.

Bukan karena aku merasa mampu.

Melainkan karena setiap kali aku hampir menyerah, selalu ada doa yang menguatkanku.

"Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah."

Dan semoga, ketika suatu hari nanti perjalanan ini selesai, aku dapat menghadap Allah dengan hati yang tenang seraya berkata,

"Ya Allah... aku sudah berusaha menjaga amanah yang Engkau titipkan kepadaku. Selebihnya, semua karena pertolongan-Mu."



Langkah yang Kembali Menguatkan

Ada hari-hari ketika perjuangan terasa begitu sunyi.

Laporan dikirim ke grup, tetapi hanya centang biru yang datang. Ajakan untuk bersedekah disampaikan dengan harapan ada hati yang tergerak, namun balasan sering kali hanya keheningan. Rasanya seperti berbicara kepada ruang yang kosong.

Aku pernah bertanya dalam hati, "Haruskah aku terus membuat laporan? Haruskah aku terus mengingatkan?"

Lalu aku tersenyum sendiri.

Bukankah sejak awal perjuangan ini memang bukan tentang banyaknya tepuk tangan? Bukan pula tentang banyaknya orang yang memuji. Yayasan ini lahir karena ingin menjadi jalan manfaat. Selama masih ada anak-anak yang menunggu uluran tangan, selama masih ada amanah yang harus dijaga, maka langkah ini akan terus berjalan, meski perlahan.

Hari ini Allah kembali memberikan hadiah kecil yang membuat hatiku hangat.

Nomor Induk Berusaha (NIB) yayasan akhirnya resmi terbit.

Mungkin bagi sebagian orang itu hanya selembar dokumen. Namun bagiku, itu adalah jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan diam-diam. Bukti bahwa setiap berkas yang diurus, setiap antrean yang dijalani, setiap usaha yang tampak sederhana, tidak pernah luput dari perhatian Allah.

Aku bahkan mencetaknya, melaminatingnya, lalu memasangnya dalam pigura.

Bukan untuk berbangga diri.

Tetapi agar setiap kali melihatnya, aku kembali diingatkan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang terus berikhtiar.

Perjalanan ini masih panjang.

Masih banyak mimpi yang belum terwujud. Aku masih berharap suatu hari nanti yayasan memiliki tempat yang lebih layak, program yang semakin luas, dan semakin banyak anak yang bisa merasakan kasih sayang dari orang-orang baik yang Allah kirimkan.

Namun hari ini aku memilih untuk berhenti sejenak.

Bukan berhenti melangkah.

Melainkan berhenti untuk bersyukur.

Karena sering kali kita terlalu sibuk mengejar tujuan besar hingga lupa merayakan langkah-langkah kecil yang telah Allah mudahkan.

Aku belajar satu hal.

Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar, dan menjaga amanah sebaik mungkin.

Adapun siapa yang Allah gerakkan untuk membantu, dari mana rezeki itu datang, dan kapan pertolongan itu tiba, semuanya adalah hak Allah.

Maka aku ingin terus melangkah dengan tenang.

Tidak menggantungkan harapan kepada manusia.

Tidak mengukur keberhasilan dari ramainya komentar atau banyaknya respons.

Cukup memastikan bahwa setiap hari ada satu langkah kecil yang mendekatkanku kepada tujuan yang Allah ridai.

Hari ini langkah kecil itu bernama NIB.

Besok, entah apa lagi hadiah dari langit.

Aku tidak tahu.

Tetapi aku percaya, selama Allah masih menuntunku untuk melangkah, selalu ada alasan untuk menjaga harapan.

"Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)."
(QS. At-Talaq: 3)

Semoga suatu hari nanti, ketika aku membaca kembali catatan ini, aku bisa tersenyum sambil berkata,

"Ya Allah... ternyata benar. Engkau tidak pernah meninggalkan hamba-Mu yang terus mengetuk pintu-Mu."

Allahumma aghnini bi fadhlika 'amman siwak.

Allahumma sugeh. Allahumma duit okeh. Allahumma sehat. Allahumma bahagia. Allahumma sukses.

Aamiin ya Mujibassailiin.


Bismillah.. SAFAR 1448 H

Kamis, 1 Safar 1448H

Pagi ini ditemani segelas susu kedelai pemberian seorang sahabat.

Aku kembali diingatkan bahwa rezeki tidak selalu datang dalam jumlah yang besar. Kadang ia hadir dalam bentuk perhatian, kepedulian, dan kebaikan-kebaikan sederhana yang menghangatkan hati.

Alhamdulillah atas setiap nikmat yang sering kali datang tanpa diduga.

Bismillah...

Semoga Allah menjaga orang-orang baik di sekelilingku, melapangkan rezeki mereka, menguatkan langkah mereka, dan membalas setiap kebaikan dengan balasan yang jauh lebih indah.



Modal Pertamaku Bernama Bismillah

Malam ini aku kembali menulis. Bukan tentang novel. Bukan pula tentang yayasan. Melainkan tentang perjalanan kecil yang baru saja dimulai.

Beberapa hari lalu aku resmi menjadi Agen BRILink.

Kalau orang bertanya, "Modalnya berapa?"

Aku mungkin hanya tersenyum.

Sebab sejujurnya, modal pertamaku adalah Bismillah.

Bukan berarti aku mengabaikan ikhtiar. Justru karena aku sadar modal yang kumiliki belum banyak, aku belajar menghargai setiap transaksi yang datang.

Hari-hari pertama menjadi agen ternyata penuh cerita.

Aku sempat bingung menentukan tarif.

Bingung mencatat pembukuan.

Bingung membedakan biaya admin dan jasa agen.

Bahkan transfer pertama membuatku deg-degan.

Ada pelanggan yang membeli pulsa.

Ada yang membeli token listrik.

Ada yang transfer ke bank lain.

Ada pula yang ingin membayar tagihan listrik sekitar delapan ratus lima puluh ribu rupiah.

Sayangnya, saat itu limit yang tersedia di aplikasiku hanya sekitar lima ratus ribu rupiah.

Aku tidak mencari alasan.

Aku hanya berkata jujur,

"Mohon maaf, Pak. Saat ini saya belum bisa melayani nominal sebesar itu."

Beliau kemudian melanjutkan pembayaran di tempat lain.

Aneh ya...

Aku tidak merasa gagal.

Justru aku merasa sedang belajar menjaga kepercayaan.

Lebih baik mengatakan belum mampu daripada memaksakan sesuatu yang belum bisa kulakukan.

Malam demi malam, aku juga mulai belajar tentang pembukuan.

Mana transaksi pelanggan.

Mana transaksi pribadi.

Mana yang menjadi pendapatan usaha.

Mana yang tidak boleh dicampur.

Aku ingin usaha kecil ini bertumbuh dengan tertib.

Aku juga sempat berpikir tentang Dana Talangan.

Bukan karena ingin memiliki uang.

Tetapi karena terlintas keinginan sederhana.

"Kalau suatu hari ada pelanggan dengan transaksi besar, semoga aku tetap bisa melayaninya."

Namun aku juga belajar, setiap fasilitas harus dipahami terlebih dahulu.

Tidak semua yang tersedia harus langsung digunakan.

Ada hal lain yang membuatku tersenyum malam ini.

Ternyata sejak resmi menjadi agen, sudah ada sekitar dua puluh transaksi.

Mungkin bagi sebagian orang angka itu kecil.

Tetapi bagiku, dua puluh transaksi berarti dua puluh kali seseorang mempercayakan uangnya kepadaku.

Dan kepercayaan selalu lebih mahal daripada angka.

Aku masih malu bertanya kepada pendamping BRI.

Masih khawatir dianggap terlalu baru.

Masih takut terlihat belum bisa.

Namun aku mulai menyadari...

Belajar bukanlah sesuatu yang memalukan.

Yang memalukan adalah berpura-pura tahu, padahal belum paham.

Malam ini aku menutup buku pembukuan dengan satu doa.

Semoga suatu hari nanti, ketika buku ini telah penuh oleh catatan transaksi, aku masih mengingat malam-malam ketika semuanya berawal dari kebingungan rasa malu, dan keberanian kecil untuk terus belajar.

Karena mungkin...

Allah tidak langsung memberiku modal yang besar.

Tetapi Allah memberiku pelanggan, satu per satu.

Dan mungkin memang begitulah cara Allah mengajarkan aku membangun usaha.

Pelan-pelan.

Sedikit demi sedikit.

Dengan jujur.

Dengan amanah.

Dan selalu dimulai dengan satu kalimat yang sama.

Bismillahirrahmanirrahim.


Refleksi Malamku

"Ya Allah... aku tidak meminta jalan yang mudah. Aku hanya memohon agar Engkau selalu membersamai setiap langkah kecilku. Jadikan setiap transaksi sebagai amanah, setiap pelanggan sebagai jalan rezeki yang halal, dan setiap kebingungan sebagai pintu ilmu. Jika hari ini usahaku masih kecil, berkahilah yang kecil itu hingga tumbuh dengan cara yang Engkau ridhai."

Allahumma yassir wa la tu'assir.

Allahumma barik fi rizqi.

Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.

Sebuah Tasbih, Sejuta Doa

 Bismillahirrahmanirrahim...

Ada benda kecil yang hampir tidak pernah lepas dari tanganku.

Bukan karena harganya mahal.

Bukan karena bentuknya istimewa.

Tetapi karena di dalam benda kecil itu, tersimpan ribuan shalawat, dzikir, dan doa yang setiap hari menemani langkahku.

Tasbih digitalku.

Beberapa hari terakhir, baterainya mulai melemah.

Sering kali ketika hitungan baru mencapai beberapa ratus, tiba-tiba layarnya mati.

Aku mengulang lagi.

Lalu mati lagi.

Yang paling membuatku sedih adalah ketika tahajud.

Setiap malam aku memiliki amalan yang sangat kujaga.

Membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 313 kali.

Setiap tujuh kali bacaan, aku berhenti sejenak untuk berdoa.

Ketika hitungannya hilang karena tasbih mati, rasanya seperti kehilangan jejak di tengah perjalanan.

Aku sempat berpikir untuk membeli tasbih baru.

Namun ketika melihat harganya, aku tersenyum sendiri.

Di kepalaku langsung muncul hitungan lain.

"Uang ini bisa untuk membayar mbak beberapa hari."

Akhirnya aku mengurungkan niat.

Lalu Allah mengingatkanku kepada seorang sahabat yang sangat gemar bersedekah.

Aku memanggilnya dengan penuh sayang,

Nokji.

Dengan sedikit rasa malu, aku memberanikan diri mengirim pesan.

Bukan meminta uang.

Tetapi meminta dibelikan sebuah tasbih digital.

Aku berharap, semoga tasbih ini menjadi salah satu jalan pahala yang terus mengalir untuk beliau. Setiap kali aku berdzikir, bershalawat, atau membaca Al-Fatihah, semoga Allah Yang Maha Mengetahui niat menerima amal kami dan melipatgandakan kebaikan itu.

Masyaa Allah...

Tidak lama kemudian beliau menjawab,

"Iya, Mbak. Kirim alamatnya."

Beliau bahkan memilih membelikannya secara online agar langsung sampai ke rumahku.

Hari ini...

Tasbih itu akhirnya tiba.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Aku memegangnya dengan rasa syukur yang sulit diungkapkan.

Pembuka hitungannya bukan angka besar.

Melainkan rasa syukur.

Aku memulai dengan Shalawat Ibrahimiyah 100 kali.

Lalu kulanjutkan Shalawat Adrikni 1.000 kali, sambil menunggu waktu berbuka Puasa Daud.

Di tanganku, tasbih itu hanyalah alat.

Tetapi bagiku...

Ia adalah pengingat agar lisanku tidak lelah menyebut nama Allah dan bershalawat kepada Rasulullah ï·º.

Hari ini aku kembali belajar.

Allah tidak selalu mengirim pertolongan dalam bentuk yang besar.

Kadang pertolongan itu datang dalam bentuk sebuah tasbih kecil yang mampu menjaga istiqamah seseorang dalam berdzikir.

Terima kasih, Nokji.

Semoga setiap butir dzikir yang terhitung melalui tasbih ini menjadi saksi kebaikanmu di hadapan Allah.

Dan semoga Allah membalasmu dengan balasan yang jauh lebih indah daripada apa yang telah engkau berikan.

Karena sesungguhnya...

Sedekah terbaik bukanlah yang paling mahal.

Tetapi yang paling bermanfaat.

Doa untuk Nokji 🤲

Ya Allah, Rabb Yang Maha Pemurah...

Limpahkanlah rahmat dan keberkahan-Mu kepada sahabatku, Nokji, yang telah menjadi jalan kebaikan bagiku.

Jadikan setiap dzikir, setiap shalawat, setiap istighfar, dan setiap doa yang kuhitung dengan tasbih ini sebagai sebab bertambahnya pahala baginya, sejauh Engkau berkenan menerima niat baik kami.

Berikanlah kepadanya kesehatan yang sempurna, umur yang penuh berkah, keluarga yang sakinah, rezeki yang halal dan berlimpah, hati yang selalu dekat kepada-Mu, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Balaslah setiap sedekahnya dengan balasan yang jauh lebih baik, sebagaimana hanya Engkau yang mampu membalas segala kebaikan hamba-hamba-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailin.


 

🌤️ Catatan Langit Di Dada

Kadang yang paling berharga bukanlah benda yang kita miliki.

Tetapi benda yang membuat kita semakin dekat kepada Allah.

Dan kadang...

Allah mengirimkannya melalui tangan seorang sahabat yang baik.

SING TENANG.

"Uangnya dari Mana?"

 "Uangnya dari mana?"

Pertanyaan itu beberapa kali mampir kepadaku.

Mungkin karena orang melihat aku masih bisa menggaji seseorang yang membantuku setiap hari. Masih membayar listrik, WiFi, membeli obat-obatan, dan memenuhi kebutuhan hidup.

Aku mengerti jika mereka bertanya.

Kalau melihat dari luar, memang semuanya tampak membingungkan.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Aku masih harus berhitung.

Masih ada kebutuhan yang datang setiap bulan.

Masih ada hari-hari ketika aku harus benar-benar mengatur pengeluaran dengan hati-hati.

Bahkan, ada kalanya aku harus berutang agar kebutuhan yang mendesak tetap terpenuhi.

Namun aku selalu berusaha untuk tidak lari dari tanggung jawab.

Sedikit demi sedikit, aku berusaha melunasinya.

Alhamdulillah, Allah selalu membukakan jalan.

Lalu... apakah aku hidup sendirian?

Tidak.

Dan aku tidak ingin menghapus bagian itu dari cerita hidupku.

Allah menghadirkan sahabat-sahabat yang luar biasa.

Mereka bukan hanya bertanya, "Apa kabar?"

Sebagian dari mereka, dengan penuh ketulusan, rutin mengirimkan bantuan setiap bulan.

Ada yang membantu membeli obat.

Ada yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mereka tahu keadaanku. Mereka tahu aku sedang berjuang. Dan mereka memilih menjadi bagian dari perjuangan itu.

Aku tidak melihatnya sebagai sekadar bantuan.

Aku melihatnya sebagai kasih sayang Allah yang datang melalui tangan-tangan hamba-Nya.

Karena itu, jika ada yang bertanya,

"Rezekinya dari mana?"

Aku akan menjawab dengan penuh keyakinan,

"Dari Allah."

Allah yang menggerakkan hati sahabat-sahabatku.

Allah yang memberiku kesempatan untuk terus menulis.

Allah yang membukakan jalan melalui usaha kecil yang sedang kurintis.

Allah yang menguatkanku untuk terus berikhtiar.

Allah pula yang berkali-kali mencukupkan, ketika hitung-hitungan manusia berkata, "Seharusnya tidak cukup."

Aku belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu turun dalam bentuk uang yang melimpah.

Kadang Allah menghadirkan orang-orang baik.

Kadang Allah memberi kesehatan untuk terus berusaha.

Kadang Allah memberi ketenangan agar hati tidak putus asa.

Dan sering kali...

Allah memberi lebih dari yang mampu kusyukuri.

Aku teringat firman Allah:

"...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..."
(QS. At-Talaq: 2–3)

Ayat itu selalu menguatkanku.

Terlebih setelah aku melewati banyak hal dalam hidup.

Aku percaya, Allah tidak pernah terlambat menolong.

Tidak selalu dengan cara yang kuinginkan.

Tetapi selalu dengan cara yang kubutuhkan.

Karena itu, hari ini aku tidak ingin menghitung berapa kali aku merasa kekurangan.

Aku ingin menghitung berapa kali Allah mencukupkan.

Dan ternyata...

Jumlahnya jauh lebih banyak.

Sing tenang...

Karena Allah Maha Kaya.

Afirmasi Doaku:

Bismillahirrahmanirrahim...

Allahumma sugeh...

Allahumma duit okeh...

Allahumma sehat...

Allahumma bahagia...

Allahumma sukses dunia akhirat...

Aghnini bifadhlika 'amman siwak.

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu."

Aamiin ya Rabbal 'Alamiin. Aamiin ya Mujibassailiin. 🤲

 


Terima Kasih untuk Tim Kuasa Hukumku

 Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Hari ini, Allah mengizinkan satu perjalanan panjang dalam hidupku sampai pada titik akhirnya.

Gugatan perceraianku telah dikabulkan oleh Pengadilan Agama.

Segala puji hanya milik Allah, Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati dan sebaik-baik Penolong.

Di balik setiap proses yang telah kulalui, ada banyak orang yang Allah hadirkan sebagai jalan pertolongan.

Melalui tulisan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Tim Kuasa Hukum dari LBH Garda Keadilan Indonesia.

Terima kasih telah mendampingi setiap proses sejak awal hingga putusan dibacakan.

Terima kasih atas kesabaran dalam memberikan arahan, menjawab setiap pertanyaan, serta mendampingi setiap tahapan persidangan dengan profesional.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanyalah sebuah perkara hukum.

Namun bagiku, ini adalah perjalanan yang penuh doa, air mata, dan harapan untuk memperoleh satu hal yang sederhana.

Kejelasan status.

Alhamdulillah...

Hari ini Allah mengabulkan doa itu.

Aku juga menyadari bahwa keberhasilan sebuah proses tidak pernah berdiri sendiri.

Ada ikhtiar.

Ada ilmu.

Ada kerja keras.

Dan di atas semuanya...

Ada pertolongan Allah.

Semoga setiap waktu, tenaga, ilmu, dan kebaikan yang telah diberikan kepada klien-kliennya menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Semoga Allah membalas dengan kesehatan, keberkahan rezeki, kemudahan dalam setiap urusan, serta perlindungan di dunia dan akhirat.

Aku juga mendoakan semoga LBH Garda Keadilan Indonesia semakin maju, semakin dipercaya masyarakat, dan semakin banyak menjadi jalan hadirnya keadilan bagi mereka yang membutuhkan pendampingan hukum.

Kini tinggal satu langkah administrasi yang tersisa, yaitu pengambilan Akta Cerai yang juga akan diurus oleh tim kuasa hukum.

Insyaa Allah, semoga Allah mudahkan hingga seluruh proses benar-benar selesai dengan baik.

Sekali lagi...

Terima kasih.

Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan balasan yang jauh lebih baik.

Jazakumullahu khairan katsiran.

🤲 Barakallahu fiikum.

Ya Allah...

Limpahkanlah rahmat-Mu kepada seluruh tim kuasa hukum yang telah menjadi jalan pertolongan bagi banyak orang.

Berikan kesehatan, keberkahan umur, keluasan rezeki yang halal, kemudahan dalam setiap langkah, dan jadikan setiap ilmu serta tenaga yang mereka berikan sebagai amal saleh yang Engkau lipatgandakan pahalanya.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailin.


 

 "Terima kasih telah menjadi bagian dari ikhtiar saya. Selebihnya, saya meyakini bahwa Allah-lah sebaik-baik Penolong dan sebaik-baik Pemberi Keputusan."

Ketika Allah Mengajarkanku Berdiri

Bismillahirrahmanirrahim.

Beberapa hari ini tubuhku sedang beristirahat.

Saluran pipisku terluka.

Efek obat membuatku lebih banyak tidur.

Namun Alhamdulillah, aku masih Allah kuatkan untuk menjalani Puasa Daud.

Di sela-sela rasa sakit itu, ada satu urusan besar yang juga sedang berjalan.

Sidang perceraianku.

Tanggal 2 Juli, sidang berlangsung dengan baik.

Kini aku hanya menunggu keputusan pada tanggal 8 Juli.

Aku sudah menyerahkannya kepada Allah.

Aku tidak datang untuk memperpanjang luka.

Aku juga tidak datang untuk menuntut ini dan itu.

Yang kuinginkan hanyalah kejelasan status agar aku bisa melanjutkan hidup dan mengurus kebutuhan yang memang harus kuselesaikan.

Tentang masa lalu...

Biarlah Allah yang menjadi sebaik-baik Hakim.

Aku memilih melangkah ke depan.

Namun rupanya, setelah satu ujian berlalu, Allah kembali menghadirkan ujian yang lain.

Bulekku yang selama ini membantuku memutuskan berhenti bekerja karena ingin mencoba peruntungan di pabrik.

Aku ikut mendoakan semoga Allah memberikan yang terbaik untuknya.

Walaupun, jujur saja, aku kembali harus memulai dari awal.

Mencari orang baru.

Belajar lagi.

Menyesuaikan lagi.

Di tengah kondisi tubuh yang belum sepenuhnya pulih.

Kadang aku bertanya dalam hati,

"Ya Allah... hari ini aku masih mampu berusaha seperti ini. Bagaimana kalau suatu hari nanti aku benar-benar tidak mampu?"

Pertanyaan itu datang.

Lalu aku terdiam.

Karena aku sadar...

Bukankah selama ini Allah selalu menunjukkan bahwa pertolongan-Nya tidak pernah habis?

Orang yang datang mungkin berganti.

Yang membantu mungkin berbeda.

Tetapi Allah tetap sama.

Dialah yang tidak pernah meninggalkanku.

Aku juga teringat perjalanan hidupku.

Aku belajar menjalani kehidupan dengan keadaan yang Allah tetapkan.

Mungkin itulah sebabnya aku sering berdoa,

Allahumma Sugih.

Bukan karena ingin hidup bermewah-mewahan.

Tetapi karena aku ingin memiliki kemampuan untuk tetap berdiri.

Untuk menggaji orang yang membantuku.

Untuk menghidupkan yayasan.

Untuk bersedekah.

Untuk terus menulis.

Dan untuk tidak menjadi beban bagi siapa pun.

Aku percaya...

Allah mengetahui isi hati yang tidak selalu mampu kuucapkan.

Hari ini aku kembali belajar.

Kekuatan bukan berarti tidak pernah lelah.

Kekuatan adalah tetap percaya kepada Allah, bahkan ketika tubuh sedang sakit dan jalan di depan belum terlihat jelas.


SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bifadlika amman siwak.

#LangitDiDada


Ketika Rezeki Berubah Menjadi Peluang

Bismillahirrahmanirrahim.

Hari ini kembali mengajarkanku bahwa Allah sering kali bekerja dengan cara yang tidak pernah kuduga.

Pagi ini, setelah menunaikan salat Dhuha, aku melanjutkan menulis novel bab baru novelku di KBM App

Satu bab selesai kutulis.

Entah karena semalam kurang istirahat atau memang tubuh sedang lelah, aku tertidur di depan laptop.

Begitu terbangun, aku melihat dua panggilan WhatsApp dan beberapa pesan yang belum sempat kubaca.

Aku membukanya.

Ternyata dari petugas BRI.

Beliau memberi kabar bahwa rekannya akan datang ke rumah untuk melakukan survei.

Beberapa bulan yang lalu aku memang mendaftarkan diri menjadi Agen BRILink tanpa mesin EDC.

Kalau dipikir-pikir, mungkin orang akan bertanya,

"Berani sekali?"

Aku hanya bisa tersenyum.

Karena sebenarnya modal terbesarku bukan uang.

Modal terbesarku adalah Bismillah.

Dan keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya.

Aku memang belum memiliki modal besar.

Tetapi rekeningku hampir setiap hari menjadi saksi.

Ada uang yang masuk.

Lalu keluar lagi.

Untuk kebutuhan

Untuk menggaji orang-orang yang bekerja.

Untuk berbagai amanah yang Allah titipkan.

Lalu mengapa aku tetap mendaftar menjadi Agen BRILink?

Karena aku tidak sedang berpikir untuk sehari.

Tidak juga untuk sebulan.

Aku sedang belajar mempersiapkan sesuatu yang bisa menjadi ikhtiar jangka panjang.

Selama ini aku sering melakukan transaksi.

Mengapa tidak memiliki layanan sendiri?

Kalau Allah berkenan memberikan rezeki melalui usaha ini, aku sudah memiliki niat sejak awal.

Tujuh puluh persen untuk kebutuhanku.

Tiga puluh persen untuk kas yayasan.

Mungkin jumlahnya belum besar.

Tetapi sedikit demi sedikit, semoga bisa menjadi salah satu sumber pemasukan yang halal dan berkelanjutan.

Selama ini ketika ada yang bertanya,

"Yayasannya punya usaha apa?"

Aku sering tersenyum.

Insyaa Allah...

Hari ini aku mulai memiliki jawaban.

Ini adalah salah satu ikhtiar kecil.

Setelah semua proses selesai, aku kembali bercerita kepada sahabatku yang juga menjadi pembina yayasan.

Karena Agen BRILink tanpa EDC tidak mencetak bukti transaksi, aku berpikir untuk membeli printer Bluetooth agar pelanggan tetap bisa menerima bukti pembayaran.

Aku teringat...

Pagi tadi Allah mengirimkan rezeki melalui sahabatku.

Dan tanpa kusangka, rezeki itu langsung menemukan tempatnya.

Untuk membeli perlengkapan usaha yang baru saja Allah bukakan jalannya.

Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, Wa alaa ali Sayyidina Muhammad

Menjelang Magrib, beduk berkumandang.

Aku membatalkan puasa dengan seteguk air putih.

Lalu seperti biasa, aku berdoa.

Namun sore ini ada doa yang terasa lebih panjang.

Lebih khusus.

Aku menyebut nama sahabat baikku.

Sahabat sejak kecil.

Yang hari ini kembali Allah jadikan perantara datangnya rezeki.

Aku belajar lagi.

Terkadang kita mengira Allah sedang memberi kita uang.

Padahal sesungguhnya Allah sedang memberi kita kesempatan.

Kesempatan untuk memulai sebuah usaha.

Kesempatan untuk membangun masa depan.

Kesempatan untuk menghadirkan manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi yayasan yang sedang diperjuangkan.

Hari ini aku kembali diingatkan.

Bahwa ketika niat diarahkan kepada kebaikan, Allah mampu mempertemukan satu rezeki dengan rezeki lainnya.

Satu bantuan dengan satu peluang.

Dan satu doa dengan satu jawaban.


SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bi fadlika amman siwak.

LangitDiDada 


Allah Menjawab Sebelum Aku Selesai Khawatir

Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini aku kembali menjalani Puasa Daud.

Sieharian tadi aku sengaja mengingatkan semua yang ada di rumah.

Malam ini adalah malam menjelang purnama (Full Moon)

Aku selalu mengajak diri sendiri dan orang-orang di sekitarku untuk menjaga hati.

Jangan mudah sedih.

Jangan mengeluh.

Jangan mudah emosi.

Bukan hanya ketika bulan sedang penuh.

Tetapi setiap hari.

Karena hati yang tenang lebih mudah melihat pertolongan Allah.

Semalam aku kembali menulis.

Novel baru untuk persiapan mengikuti Kompetisi Literasi Indonesia (KLI 18) KBM App.

Sedikit demi sedikit kerangka cerita mulai terbentuk.

Menjelang pukul tiga dini hari, aku menutup laptop.

Saatnya tahajud.

Malam itu aku memilih mengamalkan Surah Al-Fatihah sebanyak 313 kali.

Setiap tujuh kali membaca, aku berdoa.

Biasanya ada banyak doa yang kupanjatkan.

Namun semalam berbeda.

Aku hanya membawa satu permohonan.

Aghnini bifadlika amman siwak.

Ya Allah...

Cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Doa itu terus kuulang hingga bacaan Al-Fatihah genap 313 kali.

Selesai tahajud, aku menyiapkan sahur.

Sahurku sederhana.

Segelas air putih hangat dan sebuah pisang.

Aku memang jarang makan berat ketika sahur.

Bagiku, yang penting tetap bisa menyambut puasa dengan rasa syukur.

Setelah Subuh, seperti biasa, aku menunaikan sedekah subuh.

Alhamdulillah, sedekah itu berasal dari hasil kecil affiliate TikTokku.

Kadang lima ribu rupiah.

Kadang empat ribu.

Kadang tiga ribu.

Kadang hanya dua ribu.

Aku setiap buka akun affiliate ku, aku selalu ajak ngobrol sambil bercanda kepada "akun TikTok"-ku.

Tolong ya... setiap hari datangkan yang beli. Biar aku bisa terus sedekah subuh. 

Entah kenapa, aku senang sekali dengan kebiasaan ini.

Karena aku percaya, bukan besarnya yang Allah lihat, tetapi keikhlasannya.

Setelah salat Subuh biasanya aku melanjutkan membaca Surah Yasin, Surah Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.

Namun pagi ini kepalaku terasa sangat berat.

Aku memilih berbaring sejenak.

Sekitar pukul enam lewat sedikit...

Teleponku berbunyi.

Notifikasi dari mobile banking.

Lalu sebuah pesan masuk.

Alhamdulillah.

Allah kembali mengirimkan rezeki melalui seorang sahabat baik yang selalu menolongku,

Aku terdiam.

Lalu tanpa sadar, mataku berkaca-kaca.

Kemarin aku masih memikirkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan yayasan.

Pagi ini Allah mengirimkan jalan keluarnya.

Aku bisa segera mengembalikan pinjaman itu.

Dan seperti biasa, setiap kali Allah menitipkan rezeki kepadaku, aku ingin ada bagian yang kembali kubagikan.

Pagi ini pun aku kembali bersedekah kepada orang yang selama ini setia membantu

Aku ingin belajar bahwa rezeki yang datang tidak hanya berhenti di tanganku, tetapi juga mengalir kepada orang lain.

Mungkin itulah salah satu cara sederhana untuk mensyukuri nikmat Allah.

Saat menulis catatan ini, waktu menunjukkan pukul 07.45 pagi.

Ratib Al-Haddad yang tadi belum sempat kubaca akan kulanjutkan.

Kemudian Sholawat Ibrahim seratus kali.

Dan Sholawat Jibril sebanyak yang Allah mampukan lisanku.

Tiga hari lagi aku akan menjalani sidang kedua perceraianku.

Aku tidak tahu bagaimana Allah akan menuliskan takdir itu.

Tetapi hari ini aku memilih untuk tidak mendahului ketetapan-Nya dengan rasa takut.

Karena beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali mengajarkanku satu hal.

Pertolongan-Nya selalu datang.

Kadang melalui orang.

Kadang melalui ide.

Kadang melalui ketenangan.

Dan kadang datang tepat sebelum kita selesai merasa khawatir.

Hari ini aku kembali belajar...

Bahwa doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh tidak pernah sia-sia.

Mungkin Allah tidak selalu menjawab sesuai waktu yang kita inginkan.

Tetapi Dia selalu menjawab pada waktu yang paling kita butuhkan.


SING TENANG

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bifadlika amman siwak.


Langit DiDada





Ketika Allah Memberi Ide

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah.

Kemarin Allah masih mempertemukanku dengan puasa Asyura.

Hari ini, jadwal Puasa Daud kembali menyapaku.

Maka aku melanjutkan puasa dengan hati yang penuh syukur.

Sahur seadanya.

Sedekah subuh seperti biasa.

Lalu membuka laptop dan melanjutkan rutinitas yang sudah menjadi bagian dari hidupku: menulis.

Pagi ini aku membuka aplikasi KBM

Di halaman utama sudah terpampang banner besar.

KLI 18.

Periode menulis dimulai tanggal 2 Juli hingga 6 Agustus.

Aku tersenyum kecil.

Masih ada beberapa hari untuk mempersiapkan semuanya.

Namun kemudian aku diam.

Aku bertanya dalam hati.

"Ya Allah... kali ini aku harus menulis kisah apa?"

Aku memejamkan mata.

Tidak lama kemudian, sebuah cerita hadir begitu saja.

Bukan cerita orang lain.

Bukan kisah yang harus kucari ke mana-mana.

Tetapi kisahku sendiri.

Tentang masa remaja.

Tentang sekolah.

Tentang mimpi-mimpi yang pernah tumbuh.

Tentang seorang lelaki berseragam TNI yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Aku tersenyum.

Kalau ceritanya berasal dari pengalaman sendiri, membuat kerangka terasa jauh lebih mudah.

Tentu nanti akan kukembangkan dengan sentuhan fiksi agar menjadi sebuah novel yang dapat dinikmati siapa saja

Remaja bisa membaca.

Para ibu bisa menikmati.

Para ayah pun mungkin akan menemukan pelajaran di dalamnya.

Bismillah...

Fokus.

Namun di balik semangat itu, masih ada satu hal yang sesekali singgah di pikiranku.

Kemarin pagi, pemilik rumah yang saat ini disewa yayasan menyampaikan kebutuhan untuk meminjam sejumlah uang, yang nantinya akan dipotong dari pembayaran uang sewa

Beliau memberi waktu dua hari.

Aku hanya bisa menjawab pelan,

"Insyaa Allah."

Padahal di dalam hati, aku tahu keadaan kas yayasan sedang kosong.

Aku pun menyampaikan informasi itu kepada grup pengurus yayasan.

Aku berharap akan ada ide.

Atau mungkin sekadar kalimat penyemangat.

Namun grup itu tetap sunyi.

Tidak ada balasan.

Tidak ada usulan.

Bahkan ketua yayasan pun belum memberikan tanggapan.

Sejenak aku kembali menarik napas.

Lalu doa itu kembali terucap pelan.

Aghnini bi fadlika amman siwak.

Ya Allah...

Cukupkan aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Karena jika akhirnya harus mencari jalan keluar, kemungkinan besar aku juga yang akan mengusahakannya

Padahal kebutuhaku sendiri masih banyak.

Namun aku belajar, tidak semua beban harus dipikul dengan rasa panik.

Ada yang cukup dipikul dengan doa.

Ada yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan semampunya.

Bukankah beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali menunjukkan bahwa pertolongan-Nya selalu datang dengan cara yang tidak pernah kusangka?

Maka hari ini aku kembali memilih untuk percaya.

Tetap berusaha.

Tetap menulis.

Tetap berdoa.

Dan tetap menjaga hati agar tidak kehilangan harapan.

Karena aku percaya...

Allah yang memberikan sebuah ide untuk sebuah novel, juga mampu memberikan jalan keluar untuk setiap persoalan hidup

.

SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

Aghnini bi fadlika amman siwak.



LangitDiDada


 

Allah Tidak Pernah Terlambat

Bismillah.

Hari ini aku kembali belajar satu hal:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Sejak pagi hari, rasanya semua berjalan di luar rencana.

Orang yang biasa menggantikan yang libur ternyata libur juga.

Aku mulai menghubungi beberapa orang. Telepon sana-sini. Mencari siapa yang mungkin bisa membantu hari itu.

Namun satu per satu belum menemukan jalan keluar.

Seorang sahabat bahkan menawarkan bantuan jika benar-benar tidak ada orang yang datang.

Aku bersyukur sekali atas niat baiknya.

Dalam hati aku berpikir, tidak apa-apa. Yang penting aku bisa mandi dan menjalani hari dengan baik. Untuk urusan lain, nanti bisa dicari jalan keluarnya.

Karena hari itu aku sedang menjalankan puasa Daud, aku berusaha tetap tenang.

Sedih ada.

Khawatir sedikit juga ada.

Tetapi entah mengapa hati tidak panik.

Lalu Allah menunjukkan pertolongan-Nya.

Ketika aku baru saja selesai menelepon seseorang, tiba-tiba terdengar suara dari luar:

"Assalamualaikum..."

Aku menjawab salam itu dan mempersilakan tamu masuk.

Beliau seorang ibu yang belum pernah bekerja di tempatku.

Kalimat pertama yang membuatku hampir menangis adalah:

"Katanya mbak masih cari rewang ya?"

Saat itu rasanya ingin langsung mengucapkan:

Alhamdulillah ya Allah.

Di saat aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi, Allah mengirimkan seseorang mengetuk pintu rumahku.

Tepat pada waktunya.

Namun rupanya pertolongan Allah belum berhenti di situ.

Sore hari aku mengalami kesulitan yang cukup membuatku kesakitan.

Orang-orang yang biasanya bisa membantu sedang tidak bisa dihubungi.

Aku mencoba menghubungi seorang bidan.

Beliau menjawab dengan ramah dan berjanji akan datang setelah Maghrib.

Dan benar saja, beliau datang.

Yang membuatku terharu, beliau berkata bahwa hari itu kebetulan sedang libur.

Biasanya beliau bertugas hingga malam.

Aku hanya bisa mengucap syukur.

Seolah Allah sedang berkata:

"Kalau hari ini dia tidak libur, mungkin dia tidak bisa datang membantumu."

Masyaa Allah.

Beliau bahkan tidak mau menerima bayaran.

Belum selesai sampai di situ.

Menjelang berbuka, seorang teman alumni datang membawa buah pepaya, makanan berbuka, dan sedikit rezeki untukku.

Mungkin bagi sebagian orang itu sederhana.

Tetapi bagiku saat itu sangat berarti.

Bukan karena jumlahnya.

Melainkan karena aku merasa Allah sedang mengirim pesan:

"Aku tahu keadaanmu."

Hari ini aku benar-benar belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang dari orang yang kita harapkan.

Kadang dua orang yang biasa membantu justru sedang tidak bisa hadir.

Namun Allah menggantinya dengan orang-orang lain yang bahkan tidak sedang kita tunggu.

Karena itu malam ini aku ingin mengingatkan diriku sendiri:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Berusahalah semaksimal mungkin.

Berdoalah semampu mungkin.

Lalu serahkan sisanya kepada Allah.

Karena ketika ikhtiar sudah dilakukan, Allah tahu kapan waktu terbaik untuk membuka jalan.

Dan hari ini aku menjadi saksi atas itu.

Allah tidak pernah terlambat.

Tidak pernah.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Sebelum menutup catatan hari ini, aku ingin berdoa.

Ya Allah...

Balaslah kebaikan orang-orang yang telah Engkau kirimkan untuk membantuku hari ini.

Lapangankan rezeki mereka.
Sehatkan tubuh mereka.
Bahagiakan keluarga mereka.
Mudahkan segala urusan mereka.
Jaga mereka sebagaimana Engkau menjaga diriku hari ini.

Dan jika aku belum mampu membalas kebaikan mereka, maka Engkaulah sebaik-baik Pembalas kebaikan.

Jazakumullahu khairan katsiran kepada semua orang baik yang telah Allah hadirkan dalam hidupku.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Ketika Hati Sedih, Tapi Tidak Panik

Bismillah.

Hari ini Allah kembali mengajarkanku tentang ketenangan.

Sejak pagi ada sedikit perubahan rencana. Hari Minggu biasanya ada petugas pengganti yang membantu karena petugas utama sedang libur. Namun qadarullah, petugas yang biasa menggantikan tidak bisa datang karena anaknya sedang kurang sehat.

Sempat kaget ketika membaca pesan itu. Manusiawi.

Tetapi anehnya, hati tetap tenang.

Aku mencoba mencari solusi satu per satu. Menghubungi orang yang mungkin bisa membantu, memberi arahan pekerjaan, dan menyesuaikan keadaan yang ada.

Di tengah semua itu, ada hal lain yang juga sedang kupikirkan.

Ada sebuah kewajiban yang harus segera diselesaikan. Nominalnya tidak kecil bagiku. Sementara bulan ini Allah belum menghadirkan rezeki sebanyak yang kubutuhkan.

Sedih?

Tentu saja.

Aku juga manusia.

Tetapi aku tidak ingin panik.

Karena sepanjang hidupku, aku sudah terlalu sering melihat bagaimana Allah membuka jalan dari arah yang tidak pernah kusangka.

Hari ini aku kembali mengulang doa yang sering kupanjatkan:

"Aghnini bifadhlika 'amman siwak."

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Aku juga tersenyum mengingat kebiasaanku sendiri.

Kadang aku berkata:

"Allahumma sugeh."

"Allahumma duit okeh."

Dengan bahasa sederhana yang hanya ingin menyampaikan satu hal:

Ya Allah, Engkau Maha Kaya.

Dan aku percaya kepada-Mu.

Kebutuhanku memang banyak. Ada biaya operasional, kebutuhan harian, gaji pekerja, belanja, dan berbagai tanggung jawab lainnya.

Tetapi hari ini aku memilih untuk tetap percaya.

Karena sering kali pertolongan Allah datang bukan ketika aku sudah melihat jalan keluarnya.

Melainkan ketika aku masih duduk menunggu sambil berusaha tenang.

Mungkin hari ini aku belum tahu dari mana jawabannya akan datang.

Namun aku tahu kepada siapa aku meminta.

Dan itu sudah cukup untuk membuat hati lebih tenang.

Maka hari ini aku ingin mencatat satu hal:

Sedih itu manusiawi. Tetapi percaya kepada Allah adalah pilihan yang ingin terus kujaga.

Alhamdulillah 'ala kulli hal.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.



Sing Tenang

Refleksi ini kutulis untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa rezeki, pertolongan, dan jalan keluar selalu datang dari-Nya. Tugas kita hanyalah berikhtiar, bersabar, dan menjaga hati tetap "sing tenang".

Hari ini aku belajar bahwa tidak semua beban datang dalam bentuk kekurangan uang. Kadang beban terbesar adalah menunggu kepastian dari orang lain.

Sudah beberapa hari pikiranku tertuju pada cicilan yang akan jatuh tempo. Selama ini aku dan seorang teman berbagi tanggung jawab. Ketika Allah memberiku kelapangan rezeki, aku berusaha membantu dan menutupi kekurangan. Namun kali ini keadaanku berbeda. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga aku tidak lagi mampu menanggung semuanya sendiri.

Yang membuat hati terasa berat bukan semata soal uang, tetapi sikap diam ketika komunikasi sangat dibutuhkan. Seandainya belum ada rezeki, katakanlah. Seandainya belum mampu, sampaikanlah. Karena kejujuran sering kali lebih menenangkan daripada diam tanpa kabar.

Meski demikian, aku bersyukur. Aku masih memikirkan masalah ini, tetapi tidak panik. Aku masih merasa cemas, tetapi tidak kehilangan harapan. Aku percaya bahwa rezeki tidak bergantung pada manusia. Allah mampu menghadirkan pertolongan dari jalan yang tidak pernah kusangka.

Hari ini aku memilih untuk tetap berikhtiar, tetap mengingatkan dengan baik, dan tetap menjaga hati agar tidak dipenuhi prasangka. Jika Allah berkehendak, Dia akan mencukupkan segala kebutuhan pada waktu yang paling tepat.

Ya Allah, lapangkanlah urusanku. Berikan rezeki yang halal dan berkah untukku serta orang-orang yang memiliki tanggungan bersamaku. Jauhkan hatiku dari rasa kecewa yang berlebihan, dan dekatkan aku kepada keyakinan bahwa pertolongan-Mu selalu lebih besar daripada kekhawatiranku.

Aamiin.


Dulu, setiap kali hidup terasa berat, aku menangis.

Hari ini masalah belum sepenuhnya selesai. Pertolongan yang kutunggu juga belum tampak jelas. Namun ada sesuatu yang berbeda di dalam hati.

Aku tidak menangis.

Bukan karena tidak peduli.
Bukan karena tidak memiliki beban.

Mungkin karena Allah sedang mengajariku cara yang lain.

Air mata itu sudah selesai pada masanya.

Kini, Allah menggantinya dengan ketenangan.

Sing tenang.

Allah Menghadirkan Pertolongan Melalui Tangan-Tangan Baik

 Bismillah.

Alhamdulillah, hari ini salah satu proses yang cukup panjang dalam hidupku dimulai. Sidang pertama perceraianku berjalan dengan baik.

Jujur, ada banyak hal yang kupikirkan sebelumnya. Bukan hanya tentang sidang itu sendiri, tetapi juga tentang segala sesuatu yang menyertainya.

Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, setiap kali harus keluar rumah ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Ada biaya transportasi, biaya sewa mobil, bantuan tenaga untuk mengangkatku ke kursi roda dan ke dalam kendaraan, serta berbagai kebutuhan lain yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang.

Karena itulah, kehadiran tim kuasa hukum yang mendampingi hari ini menjadi nikmat yang sangat besar bagiku.

Aku juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim pendamping dari LBH Garda Keadilan Indonesia yang telah dengan sabar membantu, mendampingi, dan mewakili kepentinganku dalam proses ini.

Terima kasih atas kesabaran, perhatian, dan profesionalisme yang diberikan. Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, pendampingan ini sangat berarti bagiku karena membantu meringankan berbagai kendala yang harus kuhadapi dalam proses persidangan.

Mungkin bagi sebagian orang ini adalah pekerjaan dan tanggung jawab yang biasa. Namun bagiku, bantuan tersebut sangat berarti dan meringankan banyak hal.

Hari ini kembali mengingatkanku bahwa Allah sering kali menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan baik yang ada di sekitar kita.

Ketika kita merasa tidak mampu melakukan semuanya sendiri, Allah mengirimkan orang-orang yang membantu menyempurnakan kekurangan kita.

Untuk sidang berikutnya, insyaa Allah akan dilaksanakan bulan depan. Aku tidak tahu bagaimana proses ke depannya, tetapi hari ini aku memilih untuk bersyukur.

Bersyukur karena Allah memberikan kemudahan.

Bersyukur karena Allah menghadirkan orang-orang baik.

Bersyukur karena Allah menguatkan hati untuk menjalani setiap tahap kehidupan.

Aku percaya, setiap takdir yang Allah tuliskan pasti mengandung hikmah yang terbaik.

Dan hari ini, aku hanya ingin mencatat satu hal:

Terima kasih ya Allah, karena sekali lagi Engkau menunjukkan bahwa aku tidak berjalan sendirian.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin. 🤲



Allahumma Sugeh: Catatan Seorang Pengurus Yayasan yang Masih Belajar Istiqomah

Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri, mengapa aku masih bertahan?

Padahal mengurus yayasan tidak mudah. Ada laporan yang harus diselesaikan, data anak binaan yang harus diperbarui, arsip yang harus dirapikan, program yang harus dijalankan, dan kebutuhan operasional yang selalu menunggu untuk dipenuhi.

Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, aku selalu menemukan jawaban yang sama:

Karena Allah masih mengizinkan.

LKSA Peduli Sahabat Batang berdiri pada tahun 2017. Saat itu aku tidak pernah membayangkan seperti apa perjalanan yang akan dilalui. Yang ada hanya keinginan sederhana, semoga yayasan ini bisa menjadi tempat yang bermanfaat bagi anak-anak yatim dan mereka yang membutuhkan.

Tahun demi tahun berlalu.

Ada masa mudah, ada masa sulit.

Ada saat-saat ketika bantuan datang tanpa diduga, ada pula saat ketika aku harus berpikir keras bagaimana memenuhi kebutuhan operasional yang mendesak.

Tahun 2023 menjadi salah satu momen yang tidak akan kulupakan. Dengan segala keterbatasan yang ada, LKSA Peduli Sahabat Batang mengikuti proses akreditasi dan Alhamdulillah memperoleh nilai A.

Saat itu aku kembali belajar bahwa Allah tidak melihat seberapa besar kemampuan kita, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita berusaha.

Namun perjalanan tidak berhenti di sana.

Setelah ibuku wafat pada tahun 2021, banyak hal berubah. Rumah yang sebelumnya dapat digunakan sebagai kantor yayasan tidak lagi bisa dipakai seperti dulu. Kami harus mencari tempat lain dan akhirnya menyewa kantor.

Sejak saat itu, aku semakin memahami bahwa menjalankan yayasan membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Dibutuhkan biaya, tenaga, waktu, dan kesabaran yang panjang.

Kadang aku harus mencari donasi untuk biaya sewa kantor.

Kadang aku harus memperbaiki bagian-bagian bangunan yang rusak.

Kadang aku harus menggunakan uang pribadi untuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Sedih?

Tentu saja pernah.

Lelah?

Sering.

Menangis?

Berkali-kali.

Tetapi setiap kali aku hampir menyerah, Allah selalu menunjukkan satu hal:

Bahwa pertolongan-Nya tidak pernah terlambat.

Mungkin tidak datang dalam bentuk yang aku inginkan.

Mungkin tidak datang dari orang yang aku harapkan.

Tetapi selalu datang pada waktu yang tepat.

Karena itulah sampai hari ini aku masih sering berdoa:

"Allahumma sugeh."

Bukan karena aku ingin hidup mewah.

Bukan karena aku ingin menjadi kaya untuk diriku sendiri.

Aku hanya ingin LKSA Peduli Sahabat Batang berdiri lebih kokoh.

Aku ingin suatu hari nanti yayasan ini memiliki rumah sendiri yang bisa digunakan sebagai kantor dan panti.

Aku ingin ada kendaraan operasional agar mobilitas tidak selalu bergantung pada biaya sewa.

Aku ingin anak-anak yatim yang dibina memiliki tempat yang nyaman untuk tumbuh dan belajar.

Aku tidak memiliki keturunan.

Karena itu, aku berharap jika Allah mengabulkan semua impian ini, manfaatnya bisa terus mengalir bahkan ketika aku sudah tidak ada.

Jika suatu hari nanti berdiri sebuah rumah panti yang penuh dengan tawa anak-anak yatim, jika kegiatan-kegiatan sosial terus berjalan, jika yayasan ini mampu bertahan dan berkembang, maka itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Dan sampai hari itu tiba, tugasku adalah terus melangkah.

Satu laporan demi satu laporan.

Satu arsip demi satu arsip.

Satu program demi satu program.

Satu Jumat demi satu Jumat.

Karena aku percaya, bangunan yang kokoh tidak dibangun dalam satu hari.

Begitu pula dengan mimpi.

Hari ini mungkin hanya Jumat Berbagi Episode 26.

Minggu depan Episode 27.

Lalu Episode 28.

Sedikit demi sedikit.

Tetapi bukankah setiap perjalanan panjang memang dimulai dari langkah-langkah yang terus dijaga?

Untuk itu, aku menitipkan doa kepada Allah:

Ya Allah, kuatkan langkahku selama Engkau masih memberiku usia.

Ya Allah, sehatkan badanku agar aku bisa terus melayani.

Ya Allah, lapangkan rezekiku agar aku bisa terus berbagi.

Ya Allah, cukupkan kebutuhan LKSA Peduli Sahabat Batang dari jalan yang halal dan penuh keberkahan.

Ya Allah, karuniakan rumah sendiri untuk kantor dan panti yayasan.

Ya Allah, karuniakan kendaraan operasional yang memudahkan pelayanan kepada anak-anak binaan.

Ya Allah, hadirkan orang-orang baik yang mau membantu karena cinta kepada-Mu.

Ya Allah, jadikan setiap tetes keringat, setiap air mata, dan setiap langkah dalam mengurus amanah ini sebagai amal jariyah yang Engkau terima.

Dan jika suatu hari nanti semua impian ini terwujud, izinkan aku melihatnya dengan penuh syukur.

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.