Allah Tidak Pernah Terlambat

Bismillah.

Hari ini aku kembali belajar satu hal:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Sejak pagi hari, rasanya semua berjalan di luar rencana.

Orang yang biasa menggantikan yang libur ternyata libur juga.

Aku mulai menghubungi beberapa orang. Telepon sana-sini. Mencari siapa yang mungkin bisa membantu hari itu.

Namun satu per satu belum menemukan jalan keluar.

Seorang sahabat bahkan menawarkan bantuan jika benar-benar tidak ada orang yang datang.

Aku bersyukur sekali atas niat baiknya.

Dalam hati aku berpikir, tidak apa-apa. Yang penting aku bisa mandi dan menjalani hari dengan baik. Untuk urusan lain, nanti bisa dicari jalan keluarnya.

Karena hari itu aku sedang menjalankan puasa Daud, aku berusaha tetap tenang.

Sedih ada.

Khawatir sedikit juga ada.

Tetapi entah mengapa hati tidak panik.

Lalu Allah menunjukkan pertolongan-Nya.

Ketika aku baru saja selesai menelepon seseorang, tiba-tiba terdengar suara dari luar:

"Assalamualaikum..."

Aku menjawab salam itu dan mempersilakan tamu masuk.

Beliau seorang ibu yang belum pernah bekerja di tempatku.

Kalimat pertama yang membuatku hampir menangis adalah:

"Katanya mbak masih cari rewang ya?"

Saat itu rasanya ingin langsung mengucapkan:

Alhamdulillah ya Allah.

Di saat aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi, Allah mengirimkan seseorang mengetuk pintu rumahku.

Tepat pada waktunya.

Namun rupanya pertolongan Allah belum berhenti di situ.

Sore hari aku mengalami kesulitan yang cukup membuatku kesakitan.

Orang-orang yang biasanya bisa membantu sedang tidak bisa dihubungi.

Aku mencoba menghubungi seorang bidan.

Beliau menjawab dengan ramah dan berjanji akan datang setelah Maghrib.

Dan benar saja, beliau datang.

Yang membuatku terharu, beliau berkata bahwa hari itu kebetulan sedang libur.

Biasanya beliau bertugas hingga malam.

Aku hanya bisa mengucap syukur.

Seolah Allah sedang berkata:

"Kalau hari ini dia tidak libur, mungkin dia tidak bisa datang membantumu."

Masyaa Allah.

Beliau bahkan tidak mau menerima bayaran.

Belum selesai sampai di situ.

Menjelang berbuka, seorang teman alumni datang membawa buah pepaya, makanan berbuka, dan sedikit rezeki untukku.

Mungkin bagi sebagian orang itu sederhana.

Tetapi bagiku saat itu sangat berarti.

Bukan karena jumlahnya.

Melainkan karena aku merasa Allah sedang mengirim pesan:

"Aku tahu keadaanmu."

Hari ini aku benar-benar belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang dari orang yang kita harapkan.

Kadang dua orang yang biasa membantu justru sedang tidak bisa hadir.

Namun Allah menggantinya dengan orang-orang lain yang bahkan tidak sedang kita tunggu.

Karena itu malam ini aku ingin mengingatkan diriku sendiri:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Berusahalah semaksimal mungkin.

Berdoalah semampu mungkin.

Lalu serahkan sisanya kepada Allah.

Karena ketika ikhtiar sudah dilakukan, Allah tahu kapan waktu terbaik untuk membuka jalan.

Dan hari ini aku menjadi saksi atas itu.

Allah tidak pernah terlambat.

Tidak pernah.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Sebelum menutup catatan hari ini, aku ingin berdoa.

Ya Allah...

Balaslah kebaikan orang-orang yang telah Engkau kirimkan untuk membantuku hari ini.

Lapangankan rezeki mereka.
Sehatkan tubuh mereka.
Bahagiakan keluarga mereka.
Mudahkan segala urusan mereka.
Jaga mereka sebagaimana Engkau menjaga diriku hari ini.

Dan jika aku belum mampu membalas kebaikan mereka, maka Engkaulah sebaik-baik Pembalas kebaikan.

Jazakumullahu khairan katsiran kepada semua orang baik yang telah Allah hadirkan dalam hidupku.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.