Tampilkan postingan dengan label refleksi penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi penulis. Tampilkan semua postingan

31 Juli 2026 — Ketika Hujan Datang Membawa Doa

Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillah...

Semalam Allah kembali menurunkan hujan.

Sudah cukup lama bumi terasa haus. Ketika rintik pertama mulai terdengar di atap, disusul petir kecil yang sesekali menyapa langit, hatiku langsung dipenuhi rasa syukur.

Bagiku, hujan bukan sekadar air yang turun dari langit.

Hujan adalah salah satu waktu yang selalu mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa.

Seperti biasanya, aku mengangkat doa kepada Allah.

"Ya Allah... jadikan hujan yang Engkau turunkan ini sebagai hujan yang membawa kebaikan. Hujan kesejahteraan. Hujan keberkahan. Hujan kedamaian. Hujan ketenangan. Hujan kerukunan. Hujan yang menjaga kelestarian alam dan menjadi rahmat bagi seluruh makhluk-Mu."

"Namun jika di dalamnya terdapat mudarat, maka jauhkanlah dari kami. Pindahkanlah ke tempat yang tidak membahayakan manusia, ke tengah lautan atau tempat yang Engkau kehendaki."

Di sela-sela derasnya hujan, lisanku terus membaca Surah Al-Kautsar.

Tiga ayat yang singkat, tetapi selalu menghadirkan rasa cukup di dalam hati.

Hujan terus turun selama kurang lebih dua hingga tiga jam.

Setelah bumi mulai tenang dan rintiknya berhenti, aku kembali membuka laptop.

Masih ada bab-bab novel yang menunggu untuk diselesaikan.

Aku melanjutkan menulis, menikmati sunyinya malam, sambil menunggu datangnya waktu yang selalu kurindukan.

Waktu tahajud.

Pukul 03.30 aku menghadap Allah.

Membawa syukur, harapan, dan seluruh isi hati yang hanya mampu kupasrahkan kepada-Nya.

Pukul 04.00 aku bersahur.

Sederhana.

Sebutir telur rebus dan segelas air putih.

Alhamdulillah.

Aku kembali diingatkan bahwa nikmat tidak selalu diukur dari banyaknya hidangan yang tersaji.

Kadang, satu butir telur dan segelas air putih yang Allah berkahi sudah lebih dari cukup untuk menguatkan langkah hari ini.

Aku belajar lagi...

Bahwa hujan mengajarkan kesabaran.

Malam mengajarkan keheningan.

Tahajud mengajarkan kepasrahan.

Dan sahur mengajarkan kesederhanaan.

Ya Allah...

Sebagaimana Engkau menurunkan hujan yang membasahi bumi, basahilah pula hati kami dengan rahmat-Mu.

Sebagaimana Engkau menghidupkan tanah yang kering, hidupkanlah hati kami dengan iman, syukur, dan ketenangan.

Jadikan setiap tetes hujan sebagai saksi bahwa kami tidak pernah berhenti berharap kepada-Mu.

Bismillah... sing tenang.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.



Jalur Langit Tak Pernah Tutup

Malam itu, sebuah puisi telah kutitipkan untuk mengikuti lomba cipta puisi tingkat nasional.

Banyak orang mungkin mengira setelah menekan tombol "kirim", pikiranku akan dipenuhi rasa penasaran. Barangkali aku akan terus membuka laman pengumuman, menghitung hari, atau membayangkan hasilnya.

Namun, justru sebaliknya.

Setelah puisi itu terkirim, aku memilih menutup laptop dan membuka sajadah.

Aku tidak membawa lagi puisi itu dalam doaku.

Aku percaya, jika ikhtiar sudah selesai, maka hasilnya adalah wilayah Allah.

Yang kubawa justru nama ibuku yang telah berpulang. Malam itu aku menunaikan shalat taubat, menghadiahkan doa untuk beliau, sekaligus memohon ampun atas dosa-dosaku sendiri. Setelah itu kulanjutkan dengan tahajud dan shalat hajat.

Aku tidak berkata,

"Ya Allah, jadikan puisiku juara."

Aku juga tidak berkata,

"Ya Allah, menangkan aku."

Doaku tetap sama seperti hari-hari biasa.

Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Aku memohon perlindungan dari lilitan hutang.

Aku memohon agar Allah menyelamatkanku dari jeratan hutang yang masih mengiringi langkahku.

Aku bahkan tidak pernah meminta secara khusus,

"Ya Allah, lunaskan hutangku."

Sebab aku percaya, ketika Allah melapangkan rezeki, menghadirkan keberkahan, dan mencukupkan hamba-Nya, maka jalan untuk melunasi hutang akan terbuka dengan sendirinya.

Selesai bermunajat, aku bersahur sederhana.

Segelas susu kedelai dan umbi-umbian.

Nikmat yang mengingatkanku bahwa syukur tidak pernah diukur dari kemewahan hidangan, tetapi dari hati yang menerima.

Menjelang Subuh, ketika tahrim mulai terdengar dari masjid, aku teringat bahwa waktu itu termasuk saat yang sangat berharga untuk berdoa.

Aku mengirimkan doa kepada sepuluh orang baik yang Allah hadirkan dalam hidupku.

Semoga kebaikan mereka kembali kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari Allah.

Lalu lisanku terus bergerak.

"Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir."

Ratusan kali.

Kemudian doa Nabi Yunus.

Empat puluh satu kali.

Setelah azan Subuh berkumandang, kutunaikan shalat sunah fajar, lalu kuhiasi pagi dengan dzikir, istighfar, dan doa.

Shalat Subuh.

Sedekah Subuh.

Membaca Surah Yasin, Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.

Setelah semuanya selesai, tanganku meraih tasbih digital yang baru saja Allah titipkan melalui kebaikan seorang sahabat.

Kubuka pagi dengan Shalawat Ibrahimiyah seratus kali.

Lalu Shalawat Jibril seribu kali.

Begitulah aku memulai hari.

Bukan dengan membuka media sosial.

Bukan dengan mengecek hasil lomba.

Bukan pula menghitung kekurangan hidup.

Tetapi dengan mengingat Allah.

Barulah setelah hati terasa tenang, kubuka laptop.

Draft novel yang semalam kutinggalkan kembali menunggu untuk diselesaikan.

Hari ini aku kembali menulis.

Karena aku percaya...

Hasil adalah rahasia Allah.

Sedangkan ikhtiar adalah amanahku.

Mungkin puisi itu akan menang.

Mungkin juga belum.

Tetapi jalur langit yang kutempuh malam itu telah mengajarkanku satu hal:

Ketika sebuah urusan sudah diserahkan kepada Allah, hati menjadi lebih ringan untuk melangkah menuju amal berikutnya.

Dan mungkin...

Itulah kemenangan pertama yang Allah berikan, bahkan sebelum pengumuman lomba diumumkan.




Langkah yang Kembali Menguatkan

Ada hari-hari ketika perjuangan terasa begitu sunyi.

Laporan dikirim ke grup, tetapi hanya centang biru yang datang. Ajakan untuk bersedekah disampaikan dengan harapan ada hati yang tergerak, namun balasan sering kali hanya keheningan. Rasanya seperti berbicara kepada ruang yang kosong.

Aku pernah bertanya dalam hati, "Haruskah aku terus membuat laporan? Haruskah aku terus mengingatkan?"

Lalu aku tersenyum sendiri.

Bukankah sejak awal perjuangan ini memang bukan tentang banyaknya tepuk tangan? Bukan pula tentang banyaknya orang yang memuji. Yayasan ini lahir karena ingin menjadi jalan manfaat. Selama masih ada anak-anak yang menunggu uluran tangan, selama masih ada amanah yang harus dijaga, maka langkah ini akan terus berjalan, meski perlahan.

Hari ini Allah kembali memberikan hadiah kecil yang membuat hatiku hangat.

Nomor Induk Berusaha (NIB) yayasan akhirnya resmi terbit.

Mungkin bagi sebagian orang itu hanya selembar dokumen. Namun bagiku, itu adalah jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan diam-diam. Bukti bahwa setiap berkas yang diurus, setiap antrean yang dijalani, setiap usaha yang tampak sederhana, tidak pernah luput dari perhatian Allah.

Aku bahkan mencetaknya, melaminatingnya, lalu memasangnya dalam pigura.

Bukan untuk berbangga diri.

Tetapi agar setiap kali melihatnya, aku kembali diingatkan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang terus berikhtiar.

Perjalanan ini masih panjang.

Masih banyak mimpi yang belum terwujud. Aku masih berharap suatu hari nanti yayasan memiliki tempat yang lebih layak, program yang semakin luas, dan semakin banyak anak yang bisa merasakan kasih sayang dari orang-orang baik yang Allah kirimkan.

Namun hari ini aku memilih untuk berhenti sejenak.

Bukan berhenti melangkah.

Melainkan berhenti untuk bersyukur.

Karena sering kali kita terlalu sibuk mengejar tujuan besar hingga lupa merayakan langkah-langkah kecil yang telah Allah mudahkan.

Aku belajar satu hal.

Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar, dan menjaga amanah sebaik mungkin.

Adapun siapa yang Allah gerakkan untuk membantu, dari mana rezeki itu datang, dan kapan pertolongan itu tiba, semuanya adalah hak Allah.

Maka aku ingin terus melangkah dengan tenang.

Tidak menggantungkan harapan kepada manusia.

Tidak mengukur keberhasilan dari ramainya komentar atau banyaknya respons.

Cukup memastikan bahwa setiap hari ada satu langkah kecil yang mendekatkanku kepada tujuan yang Allah ridai.

Hari ini langkah kecil itu bernama NIB.

Besok, entah apa lagi hadiah dari langit.

Aku tidak tahu.

Tetapi aku percaya, selama Allah masih menuntunku untuk melangkah, selalu ada alasan untuk menjaga harapan.

"Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)."
(QS. At-Talaq: 3)

Semoga suatu hari nanti, ketika aku membaca kembali catatan ini, aku bisa tersenyum sambil berkata,

"Ya Allah... ternyata benar. Engkau tidak pernah meninggalkan hamba-Mu yang terus mengetuk pintu-Mu."

Allahumma aghnini bi fadhlika 'amman siwak.

Allahumma sugeh. Allahumma duit okeh. Allahumma sehat. Allahumma bahagia. Allahumma sukses.

Aamiin ya Mujibassailiin.


Ketika Allah Memberi Ide

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah.

Kemarin Allah masih mempertemukanku dengan puasa Asyura.

Hari ini, jadwal Puasa Daud kembali menyapaku.

Maka aku melanjutkan puasa dengan hati yang penuh syukur.

Sahur seadanya.

Sedekah subuh seperti biasa.

Lalu membuka laptop dan melanjutkan rutinitas yang sudah menjadi bagian dari hidupku: menulis.

Pagi ini aku membuka aplikasi KBM

Di halaman utama sudah terpampang banner besar.

KLI 18.

Periode menulis dimulai tanggal 2 Juli hingga 6 Agustus.

Aku tersenyum kecil.

Masih ada beberapa hari untuk mempersiapkan semuanya.

Namun kemudian aku diam.

Aku bertanya dalam hati.

"Ya Allah... kali ini aku harus menulis kisah apa?"

Aku memejamkan mata.

Tidak lama kemudian, sebuah cerita hadir begitu saja.

Bukan cerita orang lain.

Bukan kisah yang harus kucari ke mana-mana.

Tetapi kisahku sendiri.

Tentang masa remaja.

Tentang sekolah.

Tentang mimpi-mimpi yang pernah tumbuh.

Tentang seorang lelaki berseragam TNI yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Aku tersenyum.

Kalau ceritanya berasal dari pengalaman sendiri, membuat kerangka terasa jauh lebih mudah.

Tentu nanti akan kukembangkan dengan sentuhan fiksi agar menjadi sebuah novel yang dapat dinikmati siapa saja

Remaja bisa membaca.

Para ibu bisa menikmati.

Para ayah pun mungkin akan menemukan pelajaran di dalamnya.

Bismillah...

Fokus.

Namun di balik semangat itu, masih ada satu hal yang sesekali singgah di pikiranku.

Kemarin pagi, pemilik rumah yang saat ini disewa yayasan menyampaikan kebutuhan untuk meminjam sejumlah uang, yang nantinya akan dipotong dari pembayaran uang sewa

Beliau memberi waktu dua hari.

Aku hanya bisa menjawab pelan,

"Insyaa Allah."

Padahal di dalam hati, aku tahu keadaan kas yayasan sedang kosong.

Aku pun menyampaikan informasi itu kepada grup pengurus yayasan.

Aku berharap akan ada ide.

Atau mungkin sekadar kalimat penyemangat.

Namun grup itu tetap sunyi.

Tidak ada balasan.

Tidak ada usulan.

Bahkan ketua yayasan pun belum memberikan tanggapan.

Sejenak aku kembali menarik napas.

Lalu doa itu kembali terucap pelan.

Aghnini bi fadlika amman siwak.

Ya Allah...

Cukupkan aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Karena jika akhirnya harus mencari jalan keluar, kemungkinan besar aku juga yang akan mengusahakannya

Padahal kebutuhaku sendiri masih banyak.

Namun aku belajar, tidak semua beban harus dipikul dengan rasa panik.

Ada yang cukup dipikul dengan doa.

Ada yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan semampunya.

Bukankah beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali menunjukkan bahwa pertolongan-Nya selalu datang dengan cara yang tidak pernah kusangka?

Maka hari ini aku kembali memilih untuk percaya.

Tetap berusaha.

Tetap menulis.

Tetap berdoa.

Dan tetap menjaga hati agar tidak kehilangan harapan.

Karena aku percaya...

Allah yang memberikan sebuah ide untuk sebuah novel, juga mampu memberikan jalan keluar untuk setiap persoalan hidup

.

SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

Aghnini bi fadlika amman siwak.



LangitDiDada


 

Menulis, Lagu, dan Pertarungan dalam Kepala

Ada saat-saat ketika menulis bukan sekadar merangkai kata, tapi juga merangkai suasana. Aku sering memilih lagu yang sesuai dengan alur cerita, seolah musik menjadi jembatan antara imajinasi dan kenyataan. Setiap bab punya nuansa berbeda, maka setiap lagu pun berganti, mengikuti ritme kisah yang sedang kutulis.

Lagu yang menyayat hati bukan berarti penulis sedang larut dalam kesedihan. Justru di balik nada yang pilu, ada pertarungan dalam kepala: bagaimana menemukan kata yang tepat, bagaimana menjaga emosi agar tetap hidup di setiap kalimat, bagaimana melahirkan karya terbaik dari pergulatan batin.

Menulis adalah perjalanan panjang, kadang melelahkan, kadang penuh kejutan. Namun di setiap detik perjuangan itu, musik hadir sebagai teman setia, menjadi pengingat bahwa karya lahir bukan dari keheningan semata, melainkan dari keberanian menghadapi riuh pikiran sendiri.