Tampilkan postingan dengan label Refleksi Dzulhijjah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Dzulhijjah. Tampilkan semua postingan

PERJALANAN DZULHIJJAHKU

Di awal Dzulhijah, tubuhku sempat rapuh,

Namun hati tetap berbisik lirih:

“Ya Allah, sehatkan aku,

Aku ingin puasa penuh sembilan hari.”


Alhamdulillah, Engkau kabulkan,

Langkahku ringan, puasaku terjaga,

Sembilan hari tanpa halangan,

Hanya syukur yang mengalir deras di dada.


Hari Arafah pun tiba,

Air mata jadi saksi keikhlasan,

Doa untuk sahabat, doa untuk keluarga,

Doa untuk jiwa yang mendamba ketentraman.


Idul Adha menyapa dengan takbir agung,

Allahu Akbar menggema di langit dan bumi,

Mengajarkan arti pengorbanan,

Menguatkan hati dalam ridha Ilahi.


BERBUKA DI DZULHIJJAH 9

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melancarkan ibadah puasa dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah tanpa halangan apapun. Hati terasa ringan menjalankannya, meski di awal sempat sakit. Dalam sahur aku berdoa: “Ya Allah, sehatkan aku, aku ingin puasa full 9 hari.” Dan benar, doa itu Engkau kabulkan.

Terima kasih ya Allah atas kesehatan, kekuatan, dan ketentraman hati yang Engkau anugerahkan. Semoga puasa ini menjadi amal yang Engkau terima, dan menjadi jalan menuju ridha-Mu

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Laa ilaaha illallahu wallahu Akbar

Allahu Akbar wa lillahil hamd


Refleksi Dzulhijjah ke‑9

Semalam penuh doa, ba’da Isya aku tenggelam dalam dzikir:

Laa ilaha illallahu wahdahu la syarika lah… seribu kali, sebagai penguat tauhid di dada.

Selesai dzikir, aku melanjutkan berbuka, lalu menulis bab demi bab novel KBM. Malam ini aku tidak tidur, bergadang demi menyelesaikan bab kedua. Setelah rampung, aku berdiri dalam tahajud, lalu sahur, dan menunaikan sedekah subuh.

Usai shalat Subuh, aku tenggelam dalam lantunan Surah Al‑Ikhlas seribu kali, mengisi pagi dengan cinta kepada Allah.

Mumpung masih pagi, aku siapkan tenaga untuk siang nanti: mengedit video produk affiliate sebelum Asar, agar ikhtiar duniawi tetap berjalan seiring ibadah.





DOA SAHUR DI BULAN MULIA

Tubuh lemah, perut bergejolak,

asam lambung naik, muntah yang tak tertahan.

Aku sudah hati-hati memilih santapan,

namun pikiran dan lelah tetap mengetuk pintu sakit.

 

Di sela bab novel yang harus rampung,

di antara live TikTok dan sunyi edit video,

badan berbisik lirih: “Istirahatlah, aku pun punya hak.”

 

Namun Alhamdulillah…

di bulan mulia ini, aku masih mampu

menjalankan puasa Dawud, puasa Dzulhijjah.

Saat sahur aku berdoa:

“Ya Allah, sehatkan, hamba ingin berpuasa sunah besok.”

 

Obat hadir, dikirim sahabat lama,

siang aku rebah, malam selepas Isya aku terlelap,

lalu bangun jam satu atau dua,

menyulam kata, menulis bab baru.

 

Sakit bukan penghalang,

justru ia mengajarkan sabar,

menyulam syukur di sela doa,

menjadikan ibadah lebih dekat,

lebih tulus, lebih indah

 

- Langit Didada

 

“Di sahur yang sunyi, doa tulus menjadi cahaya.”