Tampilkan postingan dengan label Refleksi Dzulhijjah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Dzulhijjah. Tampilkan semua postingan

CERPEN - “Iduladha di Dusun Negeri Angin”

Menjelang siang, matahari sudah mulai naik tinggi. Panitia mulai membereskan peralatan, anak-anak yang tadi main kejar-kejaran kini duduk kecapekan sambil makan es lilin, dan Ibu-ibu… tentu masih berkumpul, belum bubar. Mak-mak kalau sudah kumpul itu ibarat rapat desa tanpa agenda, ngalor-ngidul tapi seru.

Bu Mirna masih memandangi plastik dagingnya seperti memandangi mantan yang tidak sesuai ekspektasi.

“Cuma segini… rasanya tuh… kayak nunggu chat yang tak pernah dibalas,” gumamnya.

Bu Rina langsung ngakak sampai melorot jilbabnya.

“Ya ampun Mirna, kamu tuh puitis banget kalau lagi kecewa.”

“Terserah. Yang penting sore ini aku mau masak juga, tapi jadi bingung mau masak apa…”

Tiba-tiba Bu Tatik ikut nimbrung. Ibu satu ini terkenal suka berkomentar pedas, tapi justru dia yang paling jarang bantu-bantu panitia.

“Ya masak apa aja lah, Bu. Sedikit juga yang penting jadi. Kita ini harus bersyukur…”
Nada suaranya terdengar… menggurui.

Bu Rina bisik-bisik ke Bu Mirna:
“Itu mulut paling nyinyir sedusun. Sering bilang ‘bersyukur’ karena dia tadi dapat bagian yang paling banyak.”

Bu Mirnai langsung manyun,
“Iyaaa! Pantes ngomongnya gampang betul. Dia dapat bagian besar. Kalo dapat kecil, pasti langsung bikin IG story ‘Dunia tidak adil’.”

Ibu-ibu lain langsung ngakak.

Bu Tatik yang merasa dirinya sedang diperhatikan mendadak mendekat,
“Apa tuh? Pada ketawa apa? Cerita lucu yaaa?”

Ibu-ibu kompak jawab,
“Lagi bahas resep masakan, Bu!”

Padahal tidak ada hubungannya sama resep.

Di pojokan balai, tampak Pak Karman dan anaknya yang kemarin upload foto sapi.

Si anak tampak gelisah karena sejak pagi banyak ibu-ibu nyeletuk,
“Lho, sapinya mana nak? Kok nggak disembelih di sini?”

Anaknya sudah lelah senyum palsu.

“Astaghfirullah… salah sendiri ngaku-ngaku,” bisik Bu Mirna.

Bu Rina menoyor lengannya,
“Jangan gituu… kasian kalau didenger. Tapi ya memang salah sendiri sih.”

Sementara itu, Mbah Dargo sudah pulang. Setelah sekian kali bolak-balik mengawasi timbangan digital yang dia tidak percaya, akhirnya beliau duduk di kursi depan rumah sambil nyeruput kopi.

“Yen panitia akeh ngono, yo sing nimbang gantian wae, ben ora curiga terus…” gumamnya, meski tidak ada siapa pun yang dimintai pendapat.

Istrinya cuma geleng-geleng.

“Mbah iki, urip kok isine curiga thok…”

Sore harinya, aroma masakan mulai merebak di seluruh Dusun Negeri Angin. Masing-masing rumah punya menu andalan.

Ada yang bikin sate, ada yang bikin gulai, ada yang bikin sop. Ada juga yang cuma bikin tumisan daging tipis karena bagian yang mereka dapat belum cukup buat satu piring besar.

Di rumah Bu Mirna, keadaan dapur seperti lokasi lomba memasak dadakan.

Bu Rina datang membawa tambahan daging seperti janjinya tadi.
“Ini yaaa… aku tambahin dikit, biar gulaimu nggak cuma rasa kuah.”

Bu Mirnai langsung memeluknya dramatis,
“Rinn… kamu tuh pahlawan keluarga kecilku!”

“Ya ampun lebay banget, Mir. Masak sanaaa!”

Mereka berdua akhirnya memasak bersama. Sambil nguleg bumbu, sambil gibah manis, sambil ngakak tiap kali ingat kejadian pagi tadi.

“Rin… kamu lihat ekspresi Bu Tatik waktu dipanggil dapat jatah? Kayak mau photoshoot majalah dapur!”

“HAHHAHA iyaaa! Dan dia sempat bilang, ‘Ah sedikit…’ padahal itu paling banyak!”

“Makanya… yang nyuruh orang lain bersyukur itu biasanya yang bagiannya paling gede!”

Mereka berdua ngakak lagi sampai harus pegangan meja.

Saat waktu Maghrib tiba, dusun itu terdengar sangat damai.

Suara takbir bersahutan dari musala kecil, aroma masakan menguar dari setiap rumah, dan para warga, meski sempat ada drama kecil, keluhan, dan nyinyiran, tetap duduk makan malam bersama keluarga masing-masing dengan hati hangat.

Di rumah Bu Mirna, gulai akhirnya jadi.

Tidak terlalu banyak memang… tapi cukup membuat seluruh keluarga makan dengan senyum puas.

“Bu, enak banget…” kata anaknya.

“Yaiyalah, ini gulai perjuangan,” jawab Bu Mirna sambil bangga.

Bu Rina menyusul datang sambil bawa sepiring sate,
“Mir, aku bagi sate juga. Biar komplit hari ini.”

Bu Mirna sampai terharu,
“Masyaa Allah, Rin… kamu tuh memang temen sejati…”

“Udah udah, jangan lebay. Makan sanaaaa!”

Mereka berdua makan sambil saling cerita, sambil tertawa, sambil sesekali saling sindir.

Dan begitulah…
Hari Raya Kurban di Dusun Negeri Angin selalu penuh warna.

Ada drama, ada tawa, ada ibu-ibu julid, ada kakek suudzon, ada bapak-bapak sok sibuk, ada yang dapat bagian banyak, ada yang dapat bagian sedikit, ada yang ngaku-ngaku kurban sapi, ada yang upload foto palsu…

Tapi pada akhirnya, semua kembali pada satu hal:

Kebersamaan.
Keikhlasan.
Dan tawa-tawa kecil yang membuat kehidupan terasa ringan.

Karena di dusun seperti ini,
bahkan perbedaan ukuran plastik daging pun bisa jadi bahan cerita seru sampai tahun depan.

— Tamat —

 

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447H
Taqobalallahu minna wa minkum



© 2026 Langit Didada
Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang menyalin, mengutip, mempublikasikan ulang tanpa izin penulis

Di Antara Takbir dan Doa yang Diam


Di antara gema takbir yang bersahutan,

ada doa-doa yang diam-diam dilangitkan.

Tentang hati yang ingin tetap kuat,

tentang langkah yang ingin tetap taat.


Idul Adha mengajarkan ikhlas,

meski kadang hidup tak selalu jelas.

Tentang melepaskan yang berat,

dan percaya Allah selalu paling tepat.


Maka hari ini,

biarlah air mata menjadi doa,

biarlah rindu menjadi sabar,

dan biarlah segala luka perlahan Allah tukar dengan bahagia.


Taqabbalallahu minna wa minkum 

Semoga Allah menerima setiap ketulusan yang tak pernah sempat diceritakan.





PERJALANAN DZULHIJJAHKU

Di awal Dzulhijah, tubuhku sempat rapuh,

Namun hati tetap berbisik lirih:

“Ya Allah, sehatkan aku,

Aku ingin puasa penuh sembilan hari.”


Alhamdulillah, Engkau kabulkan,

Langkahku ringan, puasaku terjaga,

Sembilan hari tanpa halangan,

Hanya syukur yang mengalir deras di dada.


Hari Arafah pun tiba,

Air mata jadi saksi keikhlasan,

Doa untuk sahabat, doa untuk keluarga,

Doa untuk jiwa yang mendamba ketentraman.


Idul Adha menyapa dengan takbir agung,

Allahu Akbar menggema di langit dan bumi,

Mengajarkan arti pengorbanan,

Menguatkan hati dalam ridha Ilahi.


BERBUKA DI DZULHIJJAH 9

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melancarkan ibadah puasa dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah tanpa halangan apapun. Hati terasa ringan menjalankannya, meski di awal sempat sakit. Dalam sahur aku berdoa: “Ya Allah, sehatkan aku, aku ingin puasa full 9 hari.” Dan benar, doa itu Engkau kabulkan.

Terima kasih ya Allah atas kesehatan, kekuatan, dan ketentraman hati yang Engkau anugerahkan. Semoga puasa ini menjadi amal yang Engkau terima, dan menjadi jalan menuju ridha-Mu

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Laa ilaaha illallahu wallahu Akbar

Allahu Akbar wa lillahil hamd


Refleksi Dzulhijjah ke‑9

Semalam penuh doa, ba’da Isya aku tenggelam dalam dzikir:

Laa ilaha illallahu wahdahu la syarika lah… seribu kali, sebagai penguat tauhid di dada.

Selesai dzikir, aku melanjutkan berbuka, lalu menulis bab demi bab novel KBM. Malam ini aku tidak tidur, bergadang demi menyelesaikan bab kedua. Setelah rampung, aku berdiri dalam tahajud, lalu sahur, dan menunaikan sedekah subuh.

Usai shalat Subuh, aku tenggelam dalam lantunan Surah Al‑Ikhlas seribu kali, mengisi pagi dengan cinta kepada Allah.

Mumpung masih pagi, aku siapkan tenaga untuk siang nanti: mengedit video produk affiliate sebelum Asar, agar ikhtiar duniawi tetap berjalan seiring ibadah.