Menjelang siang, matahari sudah mulai naik tinggi. Panitia mulai membereskan peralatan, anak-anak yang tadi main kejar-kejaran kini duduk kecapekan sambil makan es lilin, dan Ibu-ibu… tentu masih berkumpul, belum bubar. Mak-mak kalau sudah kumpul itu ibarat rapat desa tanpa agenda, ngalor-ngidul tapi seru.
Bu Mirna masih memandangi plastik dagingnya seperti
memandangi mantan yang tidak sesuai ekspektasi.
“Cuma segini… rasanya tuh… kayak nunggu chat yang tak pernah
dibalas,” gumamnya.
Bu Rina langsung ngakak sampai melorot jilbabnya.
“Ya ampun Mirna, kamu tuh puitis banget kalau lagi kecewa.”
“Terserah. Yang penting sore ini aku mau masak juga, tapi
jadi bingung mau masak apa…”
Tiba-tiba Bu Tatik ikut nimbrung. Ibu satu ini terkenal suka
berkomentar pedas, tapi justru dia yang paling jarang bantu-bantu panitia.
“Ya masak apa aja lah, Bu. Sedikit juga yang penting jadi. Kita
ini harus bersyukur…”
Nada suaranya terdengar… menggurui.
Bu Rina bisik-bisik ke Bu Mirna:
“Itu mulut paling nyinyir sedusun. Sering bilang ‘bersyukur’ karena dia tadi
dapat bagian yang paling banyak.”
Bu Mirnai langsung manyun,
“Iyaaa! Pantes ngomongnya gampang betul. Dia dapat bagian besar. Kalo dapat
kecil, pasti langsung bikin IG story ‘Dunia tidak adil’.”
Ibu-ibu lain langsung ngakak.
Bu Tatik yang merasa dirinya sedang diperhatikan mendadak
mendekat,
“Apa tuh? Pada ketawa apa? Cerita lucu yaaa?”
Ibu-ibu kompak jawab,
“Lagi bahas resep masakan, Bu!”
Padahal tidak ada hubungannya sama resep.
Di pojokan balai, tampak Pak Karman dan anaknya yang kemarin
upload foto sapi.
Si anak tampak gelisah karena sejak pagi banyak ibu-ibu
nyeletuk,
“Lho, sapinya mana nak? Kok nggak disembelih di sini?”
Anaknya sudah lelah senyum palsu.
“Astaghfirullah… salah sendiri ngaku-ngaku,” bisik Bu Mirna.
Bu Rina menoyor lengannya,
“Jangan gituu… kasian kalau didenger. Tapi ya memang salah sendiri sih.”
Sementara itu, Mbah Dargo sudah pulang. Setelah sekian kali
bolak-balik mengawasi timbangan digital yang dia tidak percaya, akhirnya beliau
duduk di kursi depan rumah sambil nyeruput kopi.
“Yen panitia akeh ngono, yo sing nimbang gantian wae, ben
ora curiga terus…” gumamnya, meski tidak ada siapa pun yang dimintai pendapat.
Istrinya cuma geleng-geleng.
“Mbah iki, urip kok isine curiga thok…”
Sore harinya, aroma masakan mulai merebak di seluruh Dusun
Negeri Angin. Masing-masing rumah punya menu andalan.
Ada yang bikin sate, ada yang bikin gulai, ada yang bikin
sop. Ada juga yang cuma bikin tumisan daging tipis karena bagian yang mereka
dapat belum cukup buat satu piring besar.
Di rumah Bu Mirna, keadaan dapur seperti lokasi lomba
memasak dadakan.
Bu Rina datang membawa tambahan daging seperti janjinya
tadi.
“Ini yaaa… aku tambahin dikit, biar gulaimu nggak cuma rasa kuah.”
Bu Mirnai langsung memeluknya dramatis,
“Rinn… kamu tuh pahlawan keluarga kecilku!”
“Ya ampun lebay banget, Mir. Masak sanaaa!”
Mereka berdua akhirnya memasak bersama. Sambil nguleg bumbu,
sambil gibah manis, sambil ngakak tiap kali ingat kejadian pagi tadi.
“Rin… kamu lihat ekspresi Bu Tatik waktu dipanggil dapat
jatah? Kayak mau photoshoot majalah dapur!”
“HAHHAHA iyaaa! Dan dia sempat bilang, ‘Ah sedikit…’ padahal
itu paling banyak!”
“Makanya… yang nyuruh orang lain bersyukur itu biasanya yang
bagiannya paling gede!”
Mereka berdua ngakak lagi sampai harus pegangan meja.
Saat waktu Maghrib tiba, dusun itu terdengar sangat damai.
Suara takbir bersahutan dari musala kecil, aroma masakan
menguar dari setiap rumah, dan para warga, meski sempat ada drama kecil,
keluhan, dan nyinyiran, tetap duduk makan malam bersama keluarga masing-masing
dengan hati hangat.
Di rumah Bu Mirna, gulai akhirnya jadi.
Tidak terlalu banyak memang… tapi cukup membuat seluruh
keluarga makan dengan senyum puas.
“Bu, enak banget…” kata anaknya.
“Yaiyalah, ini gulai perjuangan,” jawab
Bu Mirna sambil bangga.
Bu Rina menyusul datang sambil bawa sepiring sate,
“Mir, aku bagi sate juga. Biar komplit hari ini.”
Bu Mirna sampai terharu,
“Masyaa Allah, Rin… kamu tuh memang temen sejati…”
“Udah udah, jangan lebay. Makan sanaaaa!”
Mereka berdua makan sambil saling cerita, sambil tertawa,
sambil sesekali saling sindir.
Dan begitulah…
Hari Raya Kurban di Dusun Negeri Angin selalu penuh warna.
Ada drama, ada tawa, ada ibu-ibu julid, ada kakek suudzon,
ada bapak-bapak sok sibuk, ada yang dapat bagian banyak, ada yang dapat bagian
sedikit, ada yang ngaku-ngaku kurban sapi, ada yang upload foto palsu…
Tapi pada akhirnya, semua kembali pada satu hal:
Kebersamaan.
Keikhlasan.
Dan tawa-tawa kecil yang membuat kehidupan terasa ringan.
Karena di dusun seperti ini,
bahkan perbedaan ukuran plastik daging pun bisa jadi bahan cerita seru sampai
tahun depan.
— Tamat —




