Tampilkan postingan dengan label cerita harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita harian. Tampilkan semua postingan

Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya, Tapi AKU

Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya

Hari ini aku belajar satu hal penting: jangan buru-buru menyalahkan link.

Beberapa saat lalu Dinas Sosial mengirimkan file Instrumen Akreditasi LKS. Semangat sekali aku ingin mempelajarinya. Namun ketika file itu kubuka, hasilnya nihil. Tidak terbuka. Aku mencoba lagi. Tetap tidak bisa.

Dalam hati mulai muncul berbagai dugaan.

"Mungkin link-nya rusak."

"Mungkin filenya bermasalah."

Karena merasa ada yang tidak beres, aku pun menghubungi petugas yang mengirimkan file tersebut. Dengan penuh keyakinan aku menyampaikan bahwa file tidak bisa dibuka.

Beberapa saat kemudian beliau membalas singkat.

"Link apa?"

Di titik itu aku mulai sedikit bingung, tetapi tetap menjelaskan dengan serius. Setelah itu aku menunggu balasan.

Sementara menunggu, aku mencoba membuka file itu lagi. Kali ini aku memperhatikan lebih teliti. Lalu aku melihat tiga huruf kecil yang sebelumnya tidak terlalu kuperhatikan:

RAR.

Aku terdiam.

RAR?

Bukankah itu berarti file harus diekstrak terlebih dahulu?

Dengan rasa penasaran bercampur harap-harap cemas, aku menekan tombol "Ekstrak".

Dan...

Subhanallah.

Semua file langsung muncul dengan rapi.

Instrumen ada.

Dokumen ada.

Semuanya ada.

Saat itulah aku menyadari sebuah fakta yang cukup menampar harga diri:

Linknya tidak bermasalah.

File-nya tidak bermasalah.

Yang bermasalah adalah...

Aku.😄

Dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, aku sudah lebih dulu melapor bahwa file tidak bisa dibuka. Padahal aku sendiri belum mengekstraknya.

Akhirnya aku kembali menghubungi petugas tersebut.

"Maaf, Pak. Ternyata filenya sudah bisa dibuka. Saya lupa mengekstrak file RAR terlebih dahulu."

Alhamdulillah beliau belum sempat repot-repot mencari solusi untuk masalah yang ternyata berasal dari diriku sendiri

Pelajaran hari ini:

Sebelum menyalahkan sistem, link, aplikasi, atau jaringan internet, pastikan dulu file RAR sudah diekstrak

Karena terkadang masalah teknologi yang terlihat rumit ternyata hanya membutuhkan satu tombol kecil bernama"Ekstrak".

Dan terkadang, rasa malu datang bukan karena kita gagal, melainkan karena kita terlalu percaya diri sebelum membaca petunjuk. 😅


Belakangan aku baru sadar, mungkin akar masalahnya bukan pada file RAR itu.

Akar masalahnya dimulai hari sebelumnya.

Aku tidak hadir dalam Rakor LKKS.

Setelah itu, aku juga lupa meminta notulen kepada sekretaris LKKS

Akibatnya, ketika semua orang sudah memahami alur dan berkas yang dibagikan, aku masih sibuk menebak-nebak sendiri.

Dan seperti biasa, orang yang menebak tanpa informasi lengkap sering kali sampai pada kesimpulan yang salah.

Termasuk aku yang dengan percaya diri mengira link bermasalah, padahal file itu hanya menunggu untuk diekstrak.

"Seperti Pertama Kalinya"

Aku selalu mencintaimu

seperti pertama kalinya meski jarak menjelma dinding, meski waktu sering mencuri pertemuan.

Di setiap senja yang sunyi, aku mendengar namamu berbisik dari doa yang tak pernah letih, menyulam rindu jadi kekuatan.

Kau di sana, aku di sini, namun hati kita tak pernah berpisah. Setiap tatap yang tertunda, setiap pelukan yang menunggu, tetap hangat, tetap utuh, seperti pertama kalinya.

Dan bila esok kita kembali bertemu, biarlah dunia tahu cinta ini tak pernah menua, ia selalu lahir kembali, seperti pertama kalinya.



Catatan Ramadhan 19

Hari ini aku belajar bahwa ketenangan adalah anugerah yang tidak ternilai. Meski badan kurang sehat, urusan datang satu per satu, dan banyak kejadian tak terduga, Allah tetap menjagaku agar mampu melewati semuanya dengan hati yang sabar.

Dari asisten yang sakit, kaca lemari yang pecah, hingga mesin cuci yang rewel, semuanya terasa berat. Namun Alhamdulillah, Allah menghadirkan bantuan lewat tangan-tangan baik yang sigap menolong.

Di tengah riwehnya hari, aku tetap dapat menyempurnakan puasa. Setiap lelah dan pengeluaran mendadak, aku niatkan sebagai sedekah Ramadhan dan bagian dari perjalanan ibadah.

Semoga Allah mengganti semua capek hari ini dengan keberkahan yang luas.
Alhamdulillah untuk setiap ujian yang mendewasakan dan setiap pertolongan yang menenangkan hati.



Salah Jam di Hari Sabtu: Panik Kecil yang Jadi Kenangan Ramadhan

Tentang fokus, lelah, dan tawa kecil yang lahir dari amanah Ramadhan.

Hari Sabtu itu harusnya jadi hari istirahat.
Tapi sejak pagi aku sudah duduk di depan meja yang penuh kertas, amplop coklat, dan print-printan proposal.
Tanganku sibuk menempel, melipat, menyusun, sementara pikiranku fokus pada jasa jilid yang tutup jam empat sore.

Aku terlalu tenggelam dalam pekerjaan.
Terlihat dari betapa mudahnya aku salah membaca waktu.

Saat jam menunjukkan pukul 14.00, entah kenapa di pikiranku berubah menjadi jam 16.00.
Aku langsung panik.
Kalau telat sedikit saja, tukang jilid tutup.
Kalau tutup, besok Minggu libur.
Kalau libur, Senin aku tidak bisa mengantar proposal ke bu ketua dan instansi-instansi yang menunggu.

Tanpa pikir panjang, aku panggil mbak yang sedang memasak.
“Cepet, mbak… jilid sekarang, keburu tutup!”
Mbak sampai mematikan kompor dan buru-buru pergi.


Aku pun chat pegawai tempat print.

“Sudah tutup belum, mbak?”

Dijawab: “Belum, masih buka mbak”

Masyaa Allah, lega.
Tapi panikku masih tersisa.

Beberapa menit kemudian, sambil mengetik “nama-nama” untuk amplop berikutnya, aku melirik jam lagi.
Dan di sana aku baru sadar…

Itu masih jam 2 siang.


Masih panjang.
Perjalanan pun dekat.

Aku terdiam sejenak, lalu tertawa pelan sambil istighfar.
Panikku barusan ternyata hanyalah akibat kecapekan.
Sejak malam belum tidur, fokus dari pagi, sampai waktu rasanya berjalan lebih cepat dari biasanya.

Tapi di balik semua itu, aku merasa hangat.
Karena di tengah kekacauan kecil ini, aku sedang menyiapkan sesuatu yang insyaa Allah bernilai besar:
untuk anak-anak yatim,
untuk Ramadhan,
untuk amanah.

Kadang, kesalahan kecil, bahkan salah jam, justru jadi kenangan manis.
Karena ia mengingatkanku bahwa lelah dalam kebaikan tetap terasa ringan,
selama niatnya karena Allah.



Pelukan yang Menyapa dalam Mimpi

Siang itu, dalam hening yang lembut,

ada sosok datang menyapa, membawa pelukan yang lama tak singgah.

Aku tak pernah menunggu, tak pernah menyebut namanya, namun semesta menitipkan kehadiran, sekilas rindu, sekilas bahagia, lalu pergi, meninggalkan senyum samar di hati.