Tampilkan postingan dengan label PESAN CINTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PESAN CINTA. Tampilkan semua postingan

Milad Ke-8 Yayasan

Delapan tahun sudah jejak ini terukir,

Dari langkah kecil yang penuh ragu,

Hingga menjadi perjalanan panjang,

Menyulam kasih, doa, dan harapan.


Tak selalu mudah,

Ada hujan deras ujian yang mengguyur,

Ada jalan terjal yang melelahkan,

Namun selalu ada cahaya,

Dari senyum anak-anak yatim yang menjadi alasan kami bertahan.


Dari ruang sederhana hingga meluas jadi rumah cinta,

Dari keraguan hingga teguh dengan keyakinan,

Dari sedikit tangan hingga kini banyak hati bersatu,

Semua karena kasih Allah yang tak pernah putus.


Hari ini,

Kami bersyukur bukan pada angka,

Tapi pada setiap cerita yang terukir,

Pada setiap doa yang terpanjat,

Pada setiap tawa kecil yang kembali menguatkan.


Delapan tahun bukan akhir,

Melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang,

Semoga langkah ini selalu terjaga dalam ridho-Nya,

Menjadi jalan kebaikan tanpa henti,

Untuk anak-anak yatim yang menjadi amanah sekaligus cahaya




HUT RI KE-80

Bendera Merah Putih

Merah menyala, putih bersih,

Berkibar di langit pertiwi.

80 tahun kita merdeka,

Bersatu, berdaulat, terus melangkah pasti.

Dari sabang sampai merauke,

Suara rakyat adalah nyanyian jiwa.

Semangat pahlawan takkan pudar,

Untuk Indonesia, tanah air tercinta


2nd

Dua tahun,

bukan tentang siapa yang tahu,

tapi tentang siapa yang tetap mendoakan,

meski tak pernah disebut dalam syair resmi.

Kita bukan rahasia,

hanya cerita yang belum waktunya dibaca.

Pernikahan ini bukan sembunyi,

tapi perlindungan dari dunia yang tak mengerti.


Aku tak menuntut hadir,

karena aku tahu, cinta sejati tak selalu harus dekat.

Aku hanya ingin kau damai,

dengan dia yang pertama,

karena aku tak ingin jadi luka,

aku ingin jadi pelipur.


Selamat ulang tahun,

untuk pernikahan yang tak bersuara,


DERITA YANG KUCINTA

Aku mencinta takdirku,

Meski setiap helaan napas terasa pedih,

Meski luka menari di relung hatiku,

Aku tetap bertahan…

Hanya karena Engkau, Ya Allah,

Menyaksikan kesetiaanku dalam sepi.


Tugasku sederhana: bertahan.

Bertahan menahan rindu akan kebahagiaan

Yang entah kapan akan Engkau kirimkan,

Atau menanti kematian memelukku perlahan.


Aku takut, Ya Rabb…

Takut hati ini jauh dari cahaya-Mu,

Takut Engkau meninggalkanku dalam gelap,

Namun aku tahu…

Setiap air mata, setiap derita,

Adalah bait-bait cinta-Mu padaku,

Yang meski pahit, tetap harus kucintai




Loving a Writer Through Harsh Criticism

Menjadi pasangan seorang penulis…

means standing beside someone

whose words are constantly judged.


Kadang dia terlihat kuat,

padahal hatinya baru saja runtuh

karena satu komentar:

“Cerita kamu nggak masuk akal.”


She smiles,

but you know that smile is stitched with self-doubt.


“Am I too much?”

“Is my writing too emotional?”

“Should I stop?”


And you remind her:

Her words have healed strangers.

Her stories have made people feel seen.


Kamu peluk dia,

bukan untuk membungkam rasa sakit…

tapi untuk menguatkan suara yang sempat gemetar.


Because loving a writer

means loving someone

who bleeds silently through every sentence.


Dan kamu adalah satu-satunya pembaca

yang tak pernah menuntut ending bahagia…

cukup dia tetap menulis,

dan tetap menjadi dirinya sendiri.


Terima kasih…

karena kamu nggak pernah minta aku jadi sempurna.

You just asked me to be real.

And for that…

I’ll keep writing,

with you in every page.


PASANGAN SIBUK

Mereka sibuk di dunia masing-masing,

Tapi tak satu pun merasa ditinggal.

Tak ada tanya, tak ada interupsi,

Hanya keyakinan bahwa cinta tak perlu pengawasan.


Mereka sepakat:

Bahagia itu bukan banyak bicara,

Tapi hadir saat waktu sedang sepi.

Dan ketika mereka bertemu,

Segalanya menjadi sakral…

Bukan untuk dilihat dunia,

Tapi untuk dirasakan berdua.


Pasangan yang aneh, katanya.

Padahal mereka hanya tahu,

Bahwa cinta itu bukan soal ribut,

Tapi soal saling mengerti tanpa harus menjelaskan




Peluk sebentar boleh,


 

Karena dunia terasa sunyi dan berat belakangan ini.  

Aku tak minta kau ubah langit,  

hanya jadi pelangi kecil di hujan pikiranku.


Kita diam bersama, tak perlu kata,  

biar detik pelan-pelan menyembuhkan luka.  

Dalam pelukmu, aku bukan sekadar tubuh yang lelah,  

tapi jiwa yang ingin percaya bahwa esok bisa cerah.


Dan kalau pun harus hujan lagi,  

biarlah kita basah bersama, bukan sendiri

LOMBA CIPTA PUISI 2025

 Kukira hanya menulis rasa, ternyata bisa ikut serta...

Bismillah, sudah terkirim puisinya ✍️

Langkah kecil dari Alas Roban, menuju semesta kata


AKU CEMBURU

Aku cemburu,

Ketika tak sengaja membaca

Jejak yang pernah ramai di dunia maya

Walau kini, semuanya sudah redup dan tak ada rasa


Aku diam tak berkata,

Tentang gemuruh kecil yang singgah di dada

Seperti biasa,

Menyimpannya hingga kapanpun jua


Aku cemburu,

Pada komentar lama yang terbaca,

Pada tawa digital yang tersisa,

Meski kini tak lagi ada alasan untuk marah.


Bukan karena tak percaya,

Tapi karena pernah terluka,

Dan rasa itu kadang membisik di saat tak terduga.


Dan aku di sini,

Mendengar, mengerti,

Menampung tanpa bertanya,

Karena cinta yang kuat,

Ditempa oleh kesabaran yang teramat sangat

dan kini ia tumbuh

Untuk berjalan bersama hingga kelah ke surgaNya



TEMPATKU BERSANDAR

Tak perlu janji manis,  

bahumu sudah cukup jadi alasan  

kenapa aku bertahan dalam sepi,  

meski dunia tak selalu ramah  


Saat kau pegang setir,  

aku bersandar di bahu yang tak goyah oleh hujan  

dan tanganmu yang menjaga kepalaku,  

seolah bilang: “di sini, cintamu aman”


Kita tak butuh ribuan pesan,  

satu pelukan diam di tengah laju  

sudah jadi pengingat,  

bahwa cinta itu bukan ramai, tapi dalam


Doaku sederhana…  

semoga bahu ini tetap jadi tempat pulang,  

meski waktu dan jarak  

kadang mengetuk kesabaran kita.


TERIMAKASIH, KAMU

Terima Kasih, Kamu

Terima kasih, kamu, yang tahu caraku bernapas

di antara debur ombak dan pasir halus yang memeluk langkah.

Sampai dua pantai kita datangi, demi satu yang aku suka,

karena yang pertama hanya singgah, yang kedua jadi rumah.


Terima kasih, kamu, yang meluangkan waktumu

di tengah riuhnya dunia,

menemani dari pagi sampai senja

tanpa hitung-hitungan,

tanpa jeda.


Terima kasih, kamu, yang bilang “iya”

meski arahku kadang muter, kadang nyasar,

dan kita tetap ketawa

karena jalan salah bisa jadi cerita.


Terima kasih, kamu, yang sabar diam-diam

di tengah ributnya aku yang tak tahu diam,

mengikuti alur pikirku yang loncat sana-sini

dan tetap dengar, walau kadang isinya cuma receh dan nyeleneh.


Terima kasih, kamu,

karena hadirmu

adalah tempat tenang yang kutemukan tanpa harus mencari.


Selamat malam, LDR-ku.

Selamat malam, LDR-ku.

Tidurlah, dan biarkan rindu pelan-pelan berkemas.

Biar hatimu tenang,

dan semesta tahu:

ada seseorang yang menjagamu, meski dari jauh.


Pagi dari Sebuah Jarak

Ada pagi yang datang tanpa suara,

cukup dengan gambar kecil yang dikirim

dari tempat yang entah berapa ribu langkah jauhnya,

tapi rasanya seperti dekat

karena dikirim dengan rasa.


Angin pesisir menyapa lewat layar,

sementara mata mencoba menerka

apakah di sana seseorang juga memikirkan hal yang sama.

Kadang jarak memang ajaib

semakin jauh, semakin terasa.


Hari ini, aku ingin menyapamu dengan diam,

dengan rindu yang tak perlu dijelaskan,

cukup lewat senyuman yang tertangkap kamera,

cukup lewat “pagi” yang tak pernah benar-benar biasa,

karena kamu adalah alasannya.


Kertas-kertas pun tahu rasanya rindu

Di ujung meja, kertas-kertas meliuk pelan,

tertiup angin dari jendela yang tak pernah tertutup harapan.

Laptop menyala dalam sunyi,

mencatat rindu yang tak selesai-selesai.


Ada piagam, ada piala,

Kacamata tergeletak, diam saja,

tapi pernah melihat segalanya:

dari tawa yang hangat,

hingga tangis yang dipeluk malam.


Kertas-kertas itu,

seolah mengerti isi hati

mereka terbang ringan,

menuju namamu yang kusimpan rapi

di antara lembar buku dan doa-doa panjangku.


Dan saat angin menyapa,

ia tak hanya membawa udara,

tapi juga pesan rindu…

yang perlahan terbang ke arahmu.


RINDU

Lucu ya,

kalau kamu jauh, aku bisa tiba-tiba kangen,

tapi kalau kamu dekat, meski jarang jumpa,

aku justru tenang.


Mungkin karena aku tahu,

kita sibuk bukan berarti saling lupa,

dan diam kita bukan akhir dari rasa.


Cinta kita tidak berisik,

ia tidak butuh kabar tiap jam

atau janji yang harus diulang-ulang.

Ia cukup tahu…

bahwa di sela kesibukan,

kita tetap saling titip nama

di dalam doa yang lirih.


UJUG UJUG MELINTAS

Terkadang,  

tanpa aba-aba,  

aku tersenyum lirih,  

di tengah sepi yang bersandar di bahuku sendiri.  


Hanya karena wajahmu

datang,  

melintas pelan di kepala,  

seolah langit sore menitipkan bayangmu lewat angin.  


Efek rindu, mungkin.  

Atau doaku yang menjelma menjadi kenangan  

lalu singgah tanpa permisi—  

membuat dadaku hangat,  

meski kau tak di sin


DALAM DOA, AKU MENEMUKANMU

Setiap hari,  

aku belajar memelukmu dalam doa—  

bukan sekadar kata, tapi harap yang melekat  

di tiap helai sajadah yang basah oleh rindu.


Aku belajar,  

bahwa rindu tak selalu perlu reda,  

cukup ia kuat… agar tak patah.


Dan anehnya,  

dalam gelombang jarak yang sunyi,  

aku tetap bersyukur.


Karena dari jutaan kemungkinan,  

Tuhan memilihkan kamu—  

penenang yang tak bersuara,  

tapi mampu meredakan ributku,  

meski hanya dari kejauhan


AKU MENULIS PUISI TENTANG KAMU

Aku menulis puisi tentang kamu

bukan karena kata-kata itu manis,  

tapi karena di matamu,  

semua luka bisa berubah jadi doa yang tenang.


Aku menulis puisi tentang kamu,  

sebab diam-mu lebih jujur dari ribuan bait—  

dan dalam senyum kecilmu,  

aku menemukan alasan untuk percaya lagi.


Bukan cuma tinta yang bicara,  

tapi rindu, syukur, dan harap yang kau ajarkan tanpa sadar.  

Kamu...

adalah puisi yang tak pernah selesai kutulis.


AKU DIAM MENDOAKANMU

Tak kupanggil namamu,  

tapi kutitipkan pada angin subuh  

agar sampai di sela-sela langkahmu  

sebagai pelindung yang tak tampak,  

sebagai harap yang tak lekang.


Aku tak hadir di hadapanmu,  

tapi dalam setiap sujud,  

ada namamu yang tak pernah luput—  

kusisipkan dalam sunyi,  

karena mencintaimu,  

adalah menjaga dari jauh  

tanpa harus kau tahu


TAHUN BARUKU MASIH BERJARAK

Hari ini,

bulan menyapu langit dengan cahaya yang pelan,

dan aku berdiri di antara jejak yang kutinggalkan

seraya memeluk harapan yang baru kupintal.


Tahun baruku bukan sekadar tanggal,

ia adalah zikir yang kusematkan di dada,

doa yang kutanam di sepi malam,

dan luka yang perlahan kupelajari untuk sembuhkan.


Aku melangkah,

tidak lagi mengejar sempurna,

tapi memilih menjadi lebih bermakna.

Dengan segala letih, ragu, dan syukur yang tak putus-putus,

aku ucapkan:

Selamat datang, tahun hijrahku.