Ketika Rezeki Berubah Menjadi Peluang

Bismillahirrahmanirrahim.

Hari ini kembali mengajarkanku bahwa Allah sering kali bekerja dengan cara yang tidak pernah kuduga.

Pagi ini, setelah menunaikan salat Dhuha, aku melanjutkan menulis novel bab baru novelku di KBM App

Satu bab selesai kutulis.

Entah karena semalam kurang istirahat atau memang tubuh sedang lelah, aku tertidur di depan laptop.

Begitu terbangun, aku melihat dua panggilan WhatsApp dan beberapa pesan yang belum sempat kubaca.

Aku membukanya.

Ternyata dari petugas BRI.

Beliau memberi kabar bahwa rekannya akan datang ke rumah untuk melakukan survei.

Beberapa bulan yang lalu aku memang mendaftarkan diri menjadi Agen BRILink tanpa mesin EDC.

Kalau dipikir-pikir, mungkin orang akan bertanya,

"Berani sekali?"

Aku hanya bisa tersenyum.

Karena sebenarnya modal terbesarku bukan uang.

Modal terbesarku adalah Bismillah.

Dan keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya.

Aku memang belum memiliki modal besar.

Tetapi rekeningku hampir setiap hari menjadi saksi.

Ada uang yang masuk.

Lalu keluar lagi.

Untuk kebutuhan

Untuk menggaji orang-orang yang bekerja.

Untuk berbagai amanah yang Allah titipkan.

Lalu mengapa aku tetap mendaftar menjadi Agen BRILink?

Karena aku tidak sedang berpikir untuk sehari.

Tidak juga untuk sebulan.

Aku sedang belajar mempersiapkan sesuatu yang bisa menjadi ikhtiar jangka panjang.

Selama ini aku sering melakukan transaksi.

Mengapa tidak memiliki layanan sendiri?

Kalau Allah berkenan memberikan rezeki melalui usaha ini, aku sudah memiliki niat sejak awal.

Tujuh puluh persen untuk kebutuhanku.

Tiga puluh persen untuk kas yayasan.

Mungkin jumlahnya belum besar.

Tetapi sedikit demi sedikit, semoga bisa menjadi salah satu sumber pemasukan yang halal dan berkelanjutan.

Selama ini ketika ada yang bertanya,

"Yayasannya punya usaha apa?"

Aku sering tersenyum.

Insyaa Allah...

Hari ini aku mulai memiliki jawaban.

Ini adalah salah satu ikhtiar kecil.

Setelah semua proses selesai, aku kembali bercerita kepada sahabatku yang juga menjadi pembina yayasan.

Karena Agen BRILink tanpa EDC tidak mencetak bukti transaksi, aku berpikir untuk membeli printer Bluetooth agar pelanggan tetap bisa menerima bukti pembayaran.

Aku teringat...

Pagi tadi Allah mengirimkan rezeki melalui sahabatku.

Dan tanpa kusangka, rezeki itu langsung menemukan tempatnya.

Untuk membeli perlengkapan usaha yang baru saja Allah bukakan jalannya.

Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, Wa alaa ali Sayyidina Muhammad

Menjelang Magrib, beduk berkumandang.

Aku membatalkan puasa dengan seteguk air putih.

Lalu seperti biasa, aku berdoa.

Namun sore ini ada doa yang terasa lebih panjang.

Lebih khusus.

Aku menyebut nama sahabat baikku.

Sahabat sejak kecil.

Yang hari ini kembali Allah jadikan perantara datangnya rezeki.

Aku belajar lagi.

Terkadang kita mengira Allah sedang memberi kita uang.

Padahal sesungguhnya Allah sedang memberi kita kesempatan.

Kesempatan untuk memulai sebuah usaha.

Kesempatan untuk membangun masa depan.

Kesempatan untuk menghadirkan manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi yayasan yang sedang diperjuangkan.

Hari ini aku kembali diingatkan.

Bahwa ketika niat diarahkan kepada kebaikan, Allah mampu mempertemukan satu rezeki dengan rezeki lainnya.

Satu bantuan dengan satu peluang.

Dan satu doa dengan satu jawaban.


SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bi fadlika amman siwak.

LangitDiDada 


Allah Menjawab Sebelum Aku Selesai Khawatir

Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini aku kembali menjalani Puasa Daud.

Sieharian tadi aku sengaja mengingatkan semua yang ada di rumah.

Malam ini adalah malam menjelang purnama (Full Moon)

Aku selalu mengajak diri sendiri dan orang-orang di sekitarku untuk menjaga hati.

Jangan mudah sedih.

Jangan mengeluh.

Jangan mudah emosi.

Bukan hanya ketika bulan sedang penuh.

Tetapi setiap hari.

Karena hati yang tenang lebih mudah melihat pertolongan Allah.

Semalam aku kembali menulis.

Novel baru untuk persiapan mengikuti Kompetisi Literasi Indonesia (KLI 18) KBM App.

Sedikit demi sedikit kerangka cerita mulai terbentuk.

Menjelang pukul tiga dini hari, aku menutup laptop.

Saatnya tahajud.

Malam itu aku memilih mengamalkan Surah Al-Fatihah sebanyak 313 kali.

Setiap tujuh kali membaca, aku berdoa.

Biasanya ada banyak doa yang kupanjatkan.

Namun semalam berbeda.

Aku hanya membawa satu permohonan.

Aghnini bifadlika amman siwak.

Ya Allah...

Cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Doa itu terus kuulang hingga bacaan Al-Fatihah genap 313 kali.

Selesai tahajud, aku menyiapkan sahur.

Sahurku sederhana.

Segelas air putih hangat dan sebuah pisang.

Aku memang jarang makan berat ketika sahur.

Bagiku, yang penting tetap bisa menyambut puasa dengan rasa syukur.

Setelah Subuh, seperti biasa, aku menunaikan sedekah subuh.

Alhamdulillah, sedekah itu berasal dari hasil kecil affiliate TikTokku.

Kadang lima ribu rupiah.

Kadang empat ribu.

Kadang tiga ribu.

Kadang hanya dua ribu.

Aku setiap buka akun affiliate ku, aku selalu ajak ngobrol sambil bercanda kepada "akun TikTok"-ku.

Tolong ya... setiap hari datangkan yang beli. Biar aku bisa terus sedekah subuh. 

Entah kenapa, aku senang sekali dengan kebiasaan ini.

Karena aku percaya, bukan besarnya yang Allah lihat, tetapi keikhlasannya.

Setelah salat Subuh biasanya aku melanjutkan membaca Surah Yasin, Surah Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.

Namun pagi ini kepalaku terasa sangat berat.

Aku memilih berbaring sejenak.

Sekitar pukul enam lewat sedikit...

Teleponku berbunyi.

Notifikasi dari mobile banking.

Lalu sebuah pesan masuk.

Alhamdulillah.

Allah kembali mengirimkan rezeki melalui seorang sahabat baik yang selalu menolongku,

Aku terdiam.

Lalu tanpa sadar, mataku berkaca-kaca.

Kemarin aku masih memikirkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan yayasan.

Pagi ini Allah mengirimkan jalan keluarnya.

Aku bisa segera mengembalikan pinjaman itu.

Dan seperti biasa, setiap kali Allah menitipkan rezeki kepadaku, aku ingin ada bagian yang kembali kubagikan.

Pagi ini pun aku kembali bersedekah kepada orang yang selama ini setia membantu

Aku ingin belajar bahwa rezeki yang datang tidak hanya berhenti di tanganku, tetapi juga mengalir kepada orang lain.

Mungkin itulah salah satu cara sederhana untuk mensyukuri nikmat Allah.

Saat menulis catatan ini, waktu menunjukkan pukul 07.45 pagi.

Ratib Al-Haddad yang tadi belum sempat kubaca akan kulanjutkan.

Kemudian Sholawat Ibrahim seratus kali.

Dan Sholawat Jibril sebanyak yang Allah mampukan lisanku.

Tiga hari lagi aku akan menjalani sidang kedua perceraianku.

Aku tidak tahu bagaimana Allah akan menuliskan takdir itu.

Tetapi hari ini aku memilih untuk tidak mendahului ketetapan-Nya dengan rasa takut.

Karena beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali mengajarkanku satu hal.

Pertolongan-Nya selalu datang.

Kadang melalui orang.

Kadang melalui ide.

Kadang melalui ketenangan.

Dan kadang datang tepat sebelum kita selesai merasa khawatir.

Hari ini aku kembali belajar...

Bahwa doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh tidak pernah sia-sia.

Mungkin Allah tidak selalu menjawab sesuai waktu yang kita inginkan.

Tetapi Dia selalu menjawab pada waktu yang paling kita butuhkan.


SING TENANG

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bifadlika amman siwak.


Langit DiDada





COMING SOON... KLI 18 - KBM App

Katanya...

Waktu bisa menyembuhkan segalanya.

Lalu mengapa, setelah bertahun-tahun berlalu, aku masih belum sanggup melupakan lelaki berseragam loreng itu?

Ia datang bukan membawa janji-janji manis.

Ia datang membawa kesungguhan.

Bahkan keberaniannya mengetuk pintu rumahku jauh lebih besar daripada keberanianku memberikan jawaban.

Ada cinta yang tidak kalah karena hadirnya orang ketiga.

Ada cinta yang tidak berakhir karena pengkhianatan.

Melainkan... karena sebuah keraguan yang datang pada waktu yang salah.

DI UJUNG SERAGAM LORENG

Sebuah novel remaja yang terinspirasi dari kisah yang pernah singgah dalam hidup.

Insya Allah... segera hadir.

Siapkan hati, karena mungkin... kamu akan menemukan sepotong kisahmu di dalamnya. 

A Novel by Langit Didada






Ketika Allah Memberi Ide

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah.

Kemarin Allah masih mempertemukanku dengan puasa Asyura.

Hari ini, jadwal Puasa Daud kembali menyapaku.

Maka aku melanjutkan puasa dengan hati yang penuh syukur.

Sahur seadanya.

Sedekah subuh seperti biasa.

Lalu membuka laptop dan melanjutkan rutinitas yang sudah menjadi bagian dari hidupku: menulis.

Pagi ini aku membuka aplikasi KBM

Di halaman utama sudah terpampang banner besar.

KLI 18.

Periode menulis dimulai tanggal 2 Juli hingga 6 Agustus.

Aku tersenyum kecil.

Masih ada beberapa hari untuk mempersiapkan semuanya.

Namun kemudian aku diam.

Aku bertanya dalam hati.

"Ya Allah... kali ini aku harus menulis kisah apa?"

Aku memejamkan mata.

Tidak lama kemudian, sebuah cerita hadir begitu saja.

Bukan cerita orang lain.

Bukan kisah yang harus kucari ke mana-mana.

Tetapi kisahku sendiri.

Tentang masa remaja.

Tentang sekolah.

Tentang mimpi-mimpi yang pernah tumbuh.

Tentang seorang lelaki berseragam TNI yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Aku tersenyum.

Kalau ceritanya berasal dari pengalaman sendiri, membuat kerangka terasa jauh lebih mudah.

Tentu nanti akan kukembangkan dengan sentuhan fiksi agar menjadi sebuah novel yang dapat dinikmati siapa saja

Remaja bisa membaca.

Para ibu bisa menikmati.

Para ayah pun mungkin akan menemukan pelajaran di dalamnya.

Bismillah...

Fokus.

Namun di balik semangat itu, masih ada satu hal yang sesekali singgah di pikiranku.

Kemarin pagi, pemilik rumah yang saat ini disewa yayasan menyampaikan kebutuhan untuk meminjam sejumlah uang, yang nantinya akan dipotong dari pembayaran uang sewa

Beliau memberi waktu dua hari.

Aku hanya bisa menjawab pelan,

"Insyaa Allah."

Padahal di dalam hati, aku tahu keadaan kas yayasan sedang kosong.

Aku pun menyampaikan informasi itu kepada grup pengurus yayasan.

Aku berharap akan ada ide.

Atau mungkin sekadar kalimat penyemangat.

Namun grup itu tetap sunyi.

Tidak ada balasan.

Tidak ada usulan.

Bahkan ketua yayasan pun belum memberikan tanggapan.

Sejenak aku kembali menarik napas.

Lalu doa itu kembali terucap pelan.

Aghnini bi fadlika amman siwak.

Ya Allah...

Cukupkan aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Karena jika akhirnya harus mencari jalan keluar, kemungkinan besar aku juga yang akan mengusahakannya

Padahal kebutuhaku sendiri masih banyak.

Namun aku belajar, tidak semua beban harus dipikul dengan rasa panik.

Ada yang cukup dipikul dengan doa.

Ada yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan semampunya.

Bukankah beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali menunjukkan bahwa pertolongan-Nya selalu datang dengan cara yang tidak pernah kusangka?

Maka hari ini aku kembali memilih untuk percaya.

Tetap berusaha.

Tetap menulis.

Tetap berdoa.

Dan tetap menjaga hati agar tidak kehilangan harapan.

Karena aku percaya...

Allah yang memberikan sebuah ide untuk sebuah novel, juga mampu memberikan jalan keluar untuk setiap persoalan hidup

.

SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

Aghnini bi fadlika amman siwak.



LangitDiDada


 

Sepuluh Nama dalam Doaku

Bismillah

Malam ini adalah malam 10 Muharram.

 

Malam Asyura yang penuh keberkahan, bertepatan pula dengan malam Jumat.

 

Alhamdulillah, hari ini aku menjalani puasa Daud sekaligus puasa Tasu'a.

 

Setelah berbuka dan menunaikan salat Maghrib, aku menjalani malam seperti biasanya.

 

Ba'da Isya, aku beristirahat sejenak. Lantunan sholawat dari YouTube menemani suasana tidurku. Entah mengapa, setiap kali mendengarnya, hati terasa lebih tenang.

 

Sekitar pukul 22.30 aku terbangun.

 

Rasanya seperti sudah tidur sangat lama.

 

Aku duduk sejenak, berdoa, lalu minum. Malam ini terasa haus sekali. Mungkin karena saat berbuka tadi aku belum banyak minum.

 

Tepat pukul 00.00, laptop kembali kubuka.

 

Menulis sudah menjadi rutinitas malamku.

 

Aku memberi batas sampai pukul 03.00. Setelah itu, waktunya fokus untuk tahajud dan menikmati sepertiga malam yang begitu istimewa.

 

Malam ini aku sengaja memilih menulis cerita yang ringan dan bahagia.

 

Aku tertawa sendiri mengingat kebiasaanku.

 

Kadang saat menulis cerita sedih, suasana hati ikut terbawa alur cerita.

 

Karena itu malam ini aku memilih kisah yang membuat hati tetap ringan.

 

Malam Asyura harus disambut dengan bahagia.

 

Apalagi ini malam Jumat yang penuh keberkahan.

 

Namun ada satu kebiasaan yang mungkin lebih berarti daripada semua rutinitas itu.

 

Setiap hari aku memiliki sepuluh nama.

 

Sepuluh nama orang-orang baik yang kuselipkan dalam doa.

 

Saat berbuka puasa, ada sepuluh nama.

 

Saat tahajud, ada sepuluh nama.

 

Dan setelah dhuha pun ada sepuluh nama.

 

Aku sengaja membatasi jumlahnya.

 

Bukan karena doa harus dibatasi.

 

Tetapi agar aku bisa konsisten dan tidak ada yang terlewat.

 

Agar aku tahu siapa yang sudah dan siapa yang belum kusebut dalam doa.

 

Aku senang mendoakan orang-orang baik.

 

Mungkin karena doa adalah salah satu cara yang paling mampu kulakukan untuk membalas kebaikan mereka.

 

Aku percaya, doa yang baik tidak pernah sia-sia.

 

Jika hari ini aku mendoakan kemudahan untuk orang lain, semoga Allah juga menurunkan kemudahan.

 

Jika hari ini aku mendoakan kesehatan untuk orang lain, semoga Allah juga menjaga kesehatan mereka.

 

Dan jika hari ini aku mendoakan kebahagiaan untuk orang lain, semoga Allah melimpahkan kebahagiaan kepada mereka dan keluarganya.

 

Aku tidak tahu doa mana yang akan Allah ijabah terlebih dahulu.

 

Tetapi aku percaya bahwa tidak ada doa yang hilang.

 

Semuanya sampai.

 

Semuanya didengar.

 

Dan semuanya dicatat oleh Allah Yang Maha Mendengar.

 

Maka malam ini, di antara lantunan sholawat, halaman-halaman novel yang sedang kutulis, dan waktu yang berjalan menuju tahajud, aku kembali bersyukur.

 

Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berdoa.

 

Bersyukur karena masih memiliki orang-orang baik untuk disebut namanya dalam doa.

 

Dan bersyukur karena Allah masih menjaga hati ini agar tetap mencintai kebaikan.

 

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

 

Setelah menulis hingga menjelang pukul 03.00, aku menutup laptop dan mempersiapkan diri untuk tahajud.

 

Malam ini terasa istimewa. Setelah puasa Daud dan Tasu'a, insyaa Allah esok akan melanjutkan puasa Asyura.

 

Di antara lantunan sholawat yang masih menemani malam, aku kembali bersyukur.

 

Bersyukur masih diberi umur untuk bertemu Muharram.

 

Bersyukur masih diberi kesempatan untuk berdoa, menulis, dan menyebut nama-nama orang baik dalam sujud-sujudku.

 

Semoga Allah menerima amal ibadah kami, mengampuni dosa-dosa kami, dan melimpahkan keberkahan kepada orang-orang yang kami cintai.

 

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


 

Nawaitu shauma 'Asyuraa sunnatan lillaahi ta'aalaa.

 

"Aku berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala."



Menulis secukupnya.

Berdoa sebanyak-banyaknya.

Sisanya biar Allah yang bekerja.

LangitDiDada

Belajar dari Bintang: Perjalanan Kak Ayu Wandira

Rabu, 24 Juni 2026. Malam ini kembali hadir Belajar Dari Bintang 📚

Kisah Kak Ayu Wandira, penulis KBM jenjang Gold, menjadi pengingat bahwa mimpi seorang penulis bisa menemukan jalannya di waktu yang tepat.

Hingga hari ini, ia telah melahirkan 17 buku. ✨ Ipar Jadi IstriDulu Dibuang, Sekarang DikejarOTW Jadi Janda

Dan justru buku ke-17 inilah yang mengubah segalanya. 🔥 OTW Jadi Janda berhasil FYP di awal Juni 2026. Bertahan beberapa hari di posisi TBS 1. Terus diperbincangkan pembaca. Dan memecahkan rekor pendapatan tertinggi sepanjang perjalanan kepenulisannya.

Perjalanan Kak Ayu Wandira adalah bukti nyata bahwa konsistensi melahirkan keajaiban. Menulis 17 buku bukanlah hal mudah. Ada jatuh bangun, ada karya yang mungkin tidak sepopuler lainnya. Namun ia terus melangkah, hingga akhirnya satu karya menemukan jalannya menuju cahaya.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa:

  • Ketekunan adalah kunci, meski hasil belum terlihat.

  • Kesabaran menjaga mimpi tetap hidup.

  • Momentum bisa datang dari satu karya yang mengubah segalanya.

  • Syukur dan cahaya menjadikan setiap karya bermakna, bahkan melampaui waktu.

Mari kita jadikan kisah ini sebagai pengingat: jangan pernah berhenti menulis, jangan pernah berhenti bermimpi. Karena bisa jadi, karya berikutnya adalah yang akan membuka pintu cahaya dan rezeki.




Menulis, Lagu, dan Pertarungan dalam Kepala

Ada saat-saat ketika menulis bukan sekadar merangkai kata, tapi juga merangkai suasana. Aku sering memilih lagu yang sesuai dengan alur cerita, seolah musik menjadi jembatan antara imajinasi dan kenyataan. Setiap bab punya nuansa berbeda, maka setiap lagu pun berganti, mengikuti ritme kisah yang sedang kutulis.

Lagu yang menyayat hati bukan berarti penulis sedang larut dalam kesedihan. Justru di balik nada yang pilu, ada pertarungan dalam kepala: bagaimana menemukan kata yang tepat, bagaimana menjaga emosi agar tetap hidup di setiap kalimat, bagaimana melahirkan karya terbaik dari pergulatan batin.

Menulis adalah perjalanan panjang, kadang melelahkan, kadang penuh kejutan. Namun di setiap detik perjuangan itu, musik hadir sebagai teman setia, menjadi pengingat bahwa karya lahir bukan dari keheningan semata, melainkan dari keberanian menghadapi riuh pikiran sendiri.



Allah Tidak Pernah Terlambat

Bismillah.

Hari ini aku kembali belajar satu hal:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Sejak pagi hari, rasanya semua berjalan di luar rencana.

Orang yang biasa menggantikan yang libur ternyata libur juga.

Aku mulai menghubungi beberapa orang. Telepon sana-sini. Mencari siapa yang mungkin bisa membantu hari itu.

Namun satu per satu belum menemukan jalan keluar.

Seorang sahabat bahkan menawarkan bantuan jika benar-benar tidak ada orang yang datang.

Aku bersyukur sekali atas niat baiknya.

Dalam hati aku berpikir, tidak apa-apa. Yang penting aku bisa mandi dan menjalani hari dengan baik. Untuk urusan lain, nanti bisa dicari jalan keluarnya.

Karena hari itu aku sedang menjalankan puasa Daud, aku berusaha tetap tenang.

Sedih ada.

Khawatir sedikit juga ada.

Tetapi entah mengapa hati tidak panik.

Lalu Allah menunjukkan pertolongan-Nya.

Ketika aku baru saja selesai menelepon seseorang, tiba-tiba terdengar suara dari luar:

"Assalamualaikum..."

Aku menjawab salam itu dan mempersilakan tamu masuk.

Beliau seorang ibu yang belum pernah bekerja di tempatku.

Kalimat pertama yang membuatku hampir menangis adalah:

"Katanya mbak masih cari rewang ya?"

Saat itu rasanya ingin langsung mengucapkan:

Alhamdulillah ya Allah.

Di saat aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi, Allah mengirimkan seseorang mengetuk pintu rumahku.

Tepat pada waktunya.

Namun rupanya pertolongan Allah belum berhenti di situ.

Sore hari aku mengalami kesulitan yang cukup membuatku kesakitan.

Orang-orang yang biasanya bisa membantu sedang tidak bisa dihubungi.

Aku mencoba menghubungi seorang bidan.

Beliau menjawab dengan ramah dan berjanji akan datang setelah Maghrib.

Dan benar saja, beliau datang.

Yang membuatku terharu, beliau berkata bahwa hari itu kebetulan sedang libur.

Biasanya beliau bertugas hingga malam.

Aku hanya bisa mengucap syukur.

Seolah Allah sedang berkata:

"Kalau hari ini dia tidak libur, mungkin dia tidak bisa datang membantumu."

Masyaa Allah.

Beliau bahkan tidak mau menerima bayaran.

Belum selesai sampai di situ.

Menjelang berbuka, seorang teman alumni datang membawa buah pepaya, makanan berbuka, dan sedikit rezeki untukku.

Mungkin bagi sebagian orang itu sederhana.

Tetapi bagiku saat itu sangat berarti.

Bukan karena jumlahnya.

Melainkan karena aku merasa Allah sedang mengirim pesan:

"Aku tahu keadaanmu."

Hari ini aku benar-benar belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang dari orang yang kita harapkan.

Kadang dua orang yang biasa membantu justru sedang tidak bisa hadir.

Namun Allah menggantinya dengan orang-orang lain yang bahkan tidak sedang kita tunggu.

Karena itu malam ini aku ingin mengingatkan diriku sendiri:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Berusahalah semaksimal mungkin.

Berdoalah semampu mungkin.

Lalu serahkan sisanya kepada Allah.

Karena ketika ikhtiar sudah dilakukan, Allah tahu kapan waktu terbaik untuk membuka jalan.

Dan hari ini aku menjadi saksi atas itu.

Allah tidak pernah terlambat.

Tidak pernah.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Sebelum menutup catatan hari ini, aku ingin berdoa.

Ya Allah...

Balaslah kebaikan orang-orang yang telah Engkau kirimkan untuk membantuku hari ini.

Lapangankan rezeki mereka.
Sehatkan tubuh mereka.
Bahagiakan keluarga mereka.
Mudahkan segala urusan mereka.
Jaga mereka sebagaimana Engkau menjaga diriku hari ini.

Dan jika aku belum mampu membalas kebaikan mereka, maka Engkaulah sebaik-baik Pembalas kebaikan.

Jazakumullahu khairan katsiran kepada semua orang baik yang telah Allah hadirkan dalam hidupku.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Ketika Hati Sedih, Tapi Tidak Panik

Bismillah.

Hari ini Allah kembali mengajarkanku tentang ketenangan.

Sejak pagi ada sedikit perubahan rencana. Hari Minggu biasanya ada petugas pengganti yang membantu karena petugas utama sedang libur. Namun qadarullah, petugas yang biasa menggantikan tidak bisa datang karena anaknya sedang kurang sehat.

Sempat kaget ketika membaca pesan itu. Manusiawi.

Tetapi anehnya, hati tetap tenang.

Aku mencoba mencari solusi satu per satu. Menghubungi orang yang mungkin bisa membantu, memberi arahan pekerjaan, dan menyesuaikan keadaan yang ada.

Di tengah semua itu, ada hal lain yang juga sedang kupikirkan.

Ada sebuah kewajiban yang harus segera diselesaikan. Nominalnya tidak kecil bagiku. Sementara bulan ini Allah belum menghadirkan rezeki sebanyak yang kubutuhkan.

Sedih?

Tentu saja.

Aku juga manusia.

Tetapi aku tidak ingin panik.

Karena sepanjang hidupku, aku sudah terlalu sering melihat bagaimana Allah membuka jalan dari arah yang tidak pernah kusangka.

Hari ini aku kembali mengulang doa yang sering kupanjatkan:

"Aghnini bifadhlika 'amman siwak."

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Aku juga tersenyum mengingat kebiasaanku sendiri.

Kadang aku berkata:

"Allahumma sugeh."

"Allahumma duit okeh."

Dengan bahasa sederhana yang hanya ingin menyampaikan satu hal:

Ya Allah, Engkau Maha Kaya.

Dan aku percaya kepada-Mu.

Kebutuhanku memang banyak. Ada biaya operasional, kebutuhan harian, gaji pekerja, belanja, dan berbagai tanggung jawab lainnya.

Tetapi hari ini aku memilih untuk tetap percaya.

Karena sering kali pertolongan Allah datang bukan ketika aku sudah melihat jalan keluarnya.

Melainkan ketika aku masih duduk menunggu sambil berusaha tenang.

Mungkin hari ini aku belum tahu dari mana jawabannya akan datang.

Namun aku tahu kepada siapa aku meminta.

Dan itu sudah cukup untuk membuat hati lebih tenang.

Maka hari ini aku ingin mencatat satu hal:

Sedih itu manusiawi. Tetapi percaya kepada Allah adalah pilihan yang ingin terus kujaga.

Alhamdulillah 'ala kulli hal.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.



H-2 KLI 17 📖


Ada langkah yang sudah sampai di titik cukup,

tapi jiwa memilih untuk melampaui.
Bab minimal telah terlewati,
dan kini pena kembali bergerak
menyusuri bab-bab yang belum bernama.
Semangat, jangan padam.

Sing Tenang

Refleksi ini kutulis untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa rezeki, pertolongan, dan jalan keluar selalu datang dari-Nya. Tugas kita hanyalah berikhtiar, bersabar, dan menjaga hati tetap "sing tenang".

Hari ini aku belajar bahwa tidak semua beban datang dalam bentuk kekurangan uang. Kadang beban terbesar adalah menunggu kepastian dari orang lain.

Sudah beberapa hari pikiranku tertuju pada cicilan yang akan jatuh tempo. Selama ini aku dan seorang teman berbagi tanggung jawab. Ketika Allah memberiku kelapangan rezeki, aku berusaha membantu dan menutupi kekurangan. Namun kali ini keadaanku berbeda. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga aku tidak lagi mampu menanggung semuanya sendiri.

Yang membuat hati terasa berat bukan semata soal uang, tetapi sikap diam ketika komunikasi sangat dibutuhkan. Seandainya belum ada rezeki, katakanlah. Seandainya belum mampu, sampaikanlah. Karena kejujuran sering kali lebih menenangkan daripada diam tanpa kabar.

Meski demikian, aku bersyukur. Aku masih memikirkan masalah ini, tetapi tidak panik. Aku masih merasa cemas, tetapi tidak kehilangan harapan. Aku percaya bahwa rezeki tidak bergantung pada manusia. Allah mampu menghadirkan pertolongan dari jalan yang tidak pernah kusangka.

Hari ini aku memilih untuk tetap berikhtiar, tetap mengingatkan dengan baik, dan tetap menjaga hati agar tidak dipenuhi prasangka. Jika Allah berkehendak, Dia akan mencukupkan segala kebutuhan pada waktu yang paling tepat.

Ya Allah, lapangkanlah urusanku. Berikan rezeki yang halal dan berkah untukku serta orang-orang yang memiliki tanggungan bersamaku. Jauhkan hatiku dari rasa kecewa yang berlebihan, dan dekatkan aku kepada keyakinan bahwa pertolongan-Mu selalu lebih besar daripada kekhawatiranku.

Aamiin.


Dulu, setiap kali hidup terasa berat, aku menangis.

Hari ini masalah belum sepenuhnya selesai. Pertolongan yang kutunggu juga belum tampak jelas. Namun ada sesuatu yang berbeda di dalam hati.

Aku tidak menangis.

Bukan karena tidak peduli.
Bukan karena tidak memiliki beban.

Mungkin karena Allah sedang mengajariku cara yang lain.

Air mata itu sudah selesai pada masanya.

Kini, Allah menggantinya dengan ketenangan.

Sing tenang.

LANGIT DI DADA | Official Lyric Video

 https://youtu.be/yhsCABUvDqQ?si=CxMF2Mg_u4r3XDsM

LANGIT DI DADA

Lirik & Ciptaan: Ana Restuningtyas


Tak semua jalan mudah kulalui

Tak semua mimpi hadir seperti yang kuingini

Namun kupercaya di setiap cerita

Allah selalu menjaga langkah hamba-Nya


Meski roda menjadi teman perjalanan

Tak menghalangi luasnya harapan

Kutulis doa di setiap karya

Menitipkan cahaya untuk sesama


Karena ada langit di dada

Tempat kusimpan doa-doa

Saat dunia terasa lelah

Allah selalu ada


Karena ada langit di dada

Tempat harapan tetap menyala

Apa pun yang datang menyapa

Kuucap Alhamdulillah


Malam-malam panjang jadi saksi

Air mata berubah menjadi syukur di hati

Kutemukan arti hidup yang nyata

Menjadi manfaat walau sederhana


Jika rezeki belum juga tiba

Aku percaya Allah Maha Kaya

Selama hati tetap bersama-Nya

Tak ada yang sia-sia


Karena ada langit di dada

Tempat kusimpan doa-doa

Saat dunia terasa lelah

Allah selalu ada


Karena ada langit di dada

Tempat harapan tetap menyala

Apa pun yang datang menyapa

Kuucap Alhamdulillah


Bukan tentang kuatnya diriku

Tapi kuatnya pertolongan-Mu

Bukan tentang langkah yang sempurna

Tapi tentang cinta-Mu yang selalu ada


Karena ada langit di dada

Tempat kusebut nama-Mu selalu

Dalam sujud dan setiap doa

Kuserahkan hidupku


Karena ada langit di dada

Hingga akhir usia tiba

Innasholati wanusuki

Lillahi Ta'ala...



Allah Menghadirkan Pertolongan Melalui Tangan-Tangan Baik

 Bismillah.

Alhamdulillah, hari ini salah satu proses yang cukup panjang dalam hidupku dimulai. Sidang pertama perceraianku berjalan dengan baik.

Jujur, ada banyak hal yang kupikirkan sebelumnya. Bukan hanya tentang sidang itu sendiri, tetapi juga tentang segala sesuatu yang menyertainya.

Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, setiap kali harus keluar rumah ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Ada biaya transportasi, biaya sewa mobil, bantuan tenaga untuk mengangkatku ke kursi roda dan ke dalam kendaraan, serta berbagai kebutuhan lain yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang.

Karena itulah, kehadiran tim kuasa hukum yang mendampingi hari ini menjadi nikmat yang sangat besar bagiku.

Aku juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim pendamping dari LBH Garda Keadilan Indonesia yang telah dengan sabar membantu, mendampingi, dan mewakili kepentinganku dalam proses ini.

Terima kasih atas kesabaran, perhatian, dan profesionalisme yang diberikan. Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, pendampingan ini sangat berarti bagiku karena membantu meringankan berbagai kendala yang harus kuhadapi dalam proses persidangan.

Mungkin bagi sebagian orang ini adalah pekerjaan dan tanggung jawab yang biasa. Namun bagiku, bantuan tersebut sangat berarti dan meringankan banyak hal.

Hari ini kembali mengingatkanku bahwa Allah sering kali menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan baik yang ada di sekitar kita.

Ketika kita merasa tidak mampu melakukan semuanya sendiri, Allah mengirimkan orang-orang yang membantu menyempurnakan kekurangan kita.

Untuk sidang berikutnya, insyaa Allah akan dilaksanakan bulan depan. Aku tidak tahu bagaimana proses ke depannya, tetapi hari ini aku memilih untuk bersyukur.

Bersyukur karena Allah memberikan kemudahan.

Bersyukur karena Allah menghadirkan orang-orang baik.

Bersyukur karena Allah menguatkan hati untuk menjalani setiap tahap kehidupan.

Aku percaya, setiap takdir yang Allah tuliskan pasti mengandung hikmah yang terbaik.

Dan hari ini, aku hanya ingin mencatat satu hal:

Terima kasih ya Allah, karena sekali lagi Engkau menunjukkan bahwa aku tidak berjalan sendirian.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin. 🤲



Bismillah, Judul Baru untuk Perjalanan yang Sama

 

Hari ini aku ingin menyampaikan sebuah kabar kecil terkait novel yang sedang saya ikutsertakan dalam Kompetisi Literasi Indonesia (KLI) 17 di KBM App.

Setelah melalui perjalanan penulisan dan perkembangan cerita hingga puluhan bab, aku memutuskan untuk mengganti judul novel yang sebelumnya berjudul:

📖 Cintai Aku Karena Allah (Perjalanan Hati Menggapai Cinta Sejati)

menjadi:

🏠 Ketika Kakakku Menjadi Rumah

Perubahan ini dilakukan karena seiring berjalannya cerita, aku merasa judul baru lebih mewakili isi novel, perjalanan para tokohnya, serta pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.

Novel ini tetap menceritakan Gladis dan Kakaknya dengan segala perjuangan, harapan, dan pelajaran hidup yang mereka jalani.

Yang berubah hanyalah judul, cover, dan penyesuaian identitas cerita agar lebih selaras dengan isi novel yang telah berkembang hingga saat ini.

Alhamdulillah, atas izin Allah, novel ini juga telah melewati batas minimal jumlah bab yang dipersyaratkan untuk mengikuti KLI 17 yang insya Allah akan ditutup pada tanggal 22 Juni.

Perjalanan ini masih panjang.

Masih banyak bab yang akan ditulis.

Masih banyak pelajaran yang akan saya dapatkan sebagai penulis.

Karena itu aku ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca yang telah membersamai perjalanan ini sejak awal.

Terima kasih atas doa, dukungan, komentar dan semangat yang diberikan.

Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan kebaikan yang berlipat.

Bismillah.

Semoga judul baru ini menjadi pengingat bahwa rumah tidak selalu berupa bangunan.

Kadang rumah hadir dalam sosok yang menjaga, menguatkan, dan tidak pernah lelah mendoakan.

Allahumma yassir

Allahumma barik.

Allahumma sehat.

Allahumma lancar.

Allahumma sugeh.

Semoga Allah memberkahi setiap proses, memudahkan setiap langkah, dan menjadikan karya ini bermanfaat bagi banyak orang.

Aamiin ya Rabbal 'Alamiinn




https://kbm.id/book/detail/e9f7b585-93c4-4b79-a099-12e469302744

Menulis Adalah Perjalanan: Inspirasi dari Mas Dwi Wahyudi

 






Komunitas penulis KBM malam ini kembali belajar dari bintang. Kisah Mas Dwi Wahyudi dari Blora adalah pengingat bahwa mimpi seorang penulis tidak pernah mati, meski jalan penuh liku.

Bertahun-tahun ia menulis tanpa hasil besar. Naik sedikit, turun lagi. Ada masa ketika hasilnya nyaris tak terlihat. Namun ia tidak berhenti. Ia tetap menulis, tetap mengirim naskah, tetap mengikuti lomba.

Perlahan, namanya mulai dikenal: 🏆 Finalis Inspiring Story: Sang Petarung 🏆 Finalis KLI 12: Jerat Dosa Nadia 🏆 Juara Harapan KLI 13: Pernikahan yang Sempurna

Puncaknya datang ketika karyanya Surga di Bawah Telapak Kaki Terpidana Mati berhasil menjadi Juara Utama Spesial Ramadan 3. Sebuah capaian yang bukan hanya penghargaan, bukan hanya apresiasi, tetapi juga hadiah perjalanan umroh 🕋.

Kisah ini bukan hanya milik Mas Dwi Wahyudi, tetapi juga milik kita semua sebagai penulis KBM. Ia mengajarkan bahwa:

  • Ketekunan adalah kunci, meski hasil belum terlihat.

  • Kesabaran menjaga mimpi tetap hidup.

  • Syukur dan cahaya menjadikan setiap karya bermakna, bahkan melampaui waktu.

Mari kita jadikan kisah ini sebagai pengingat: jangan pernah berhenti menulis, jangan pernah berhenti bermimpi. Setiap kata yang kita tulis adalah doa, setiap karya adalah cahaya.

Dengan syukur dan cahaya, kita akan terus belajar… belajar… dan belajar.

Refleksi Perjalanan 30 Bab KLI 17: Tentang Ikhtiar, Doa, dan Tidak Menyerah

Alhamdulillah.

Hari ini aku ingin berhenti sejenak, bukan untuk merayakan kemenangan, melainkan untuk bersyukur atas sebuah proses.

Target minimal 30 bab untuk naskah KLI 17 akhirnya tercapai.

Mungkin bagi sebagian orang, angka 30 bab adalah hal biasa. Namun bagiku, angka ini menyimpan banyak cerita. Ada rasa lelah, ada rasa ragu, ada hari-hari ketika ide terasa mengalir deras, dan ada hari-hari ketika aku hanya bisa menatap layar sambil berdoa agar Allah memudahkan langkah berikutnya.

Aku sadar bahwa perjalanan ini masih panjang.

Views ku masih jauh dibandingkan para penulis senior yang mengikuti kompetisi yang sama. Namun saya memilih untuk tidak menjadikan mereka sebagai pembanding yang melemahkan semangat.

Sebaliknya, aku memilih melihat mereka sebagai bukti bahwa sebuah perjalanan panjang memang mungkin ditempuh.

Jika mereka bisa sampai di titik itu, maka saya pun harus terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus melangkah.

Karena setiap penulis besar pun pernah memulai dari nol.

Melalui perjalanan menulis ini, aku belajar bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada kesempurnaan.

Satu bab yang selesai lebih berharga daripada seratus rencana yang tidak pernah ditulis.

Satu langkah kecil lebih berarti daripada menunggu waktu yang dianggap sempurna.

Dan satu doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh sering kali mampu menguatkan hati ketika semangat mulai menurun.

Aku juga belajar bahwa hasil bukanlah wilayahku.

Tugasku hanyalah berikhtiar.

Menulis sebaik mungkin.

Mengunggah sebaik mungkin.

Belajar sebaik mungkin.

Sedangkan hasil akhirnya adalah hak Allah semata.

Karena itu hari ini aku tidak ingin terlalu sibuk memikirkan peringkat, jumlah views, atau hasil kompetisi.

Aku hanya ingin bersyukur.

Bersyukur karena Allah masih memberi kesehatan.

Bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan untuk belajar.

Bersyukur karena Allah masih mengizinkan saya menyelesaikan target yang dulu terasa begitu berat.

Dan saya ingin menyimpan tulisan ini sebagai pengingat.

Kelak ketika semangat menurun.

Kelak ketika merasa tertinggal dari orang lain.

Kelak ketika merasa perjalanan terlalu panjang.

Semoga saya bisa kembali membaca tulisan ini dan mengingat bahwa Allah pernah membantuku sampai sejauh ini.

Afirmasi dan doa yang ingin terus aku pegang:

Bismillah.

Allahumma yassir wa la tu'assir.

Allahumma barik.

Allahumma sehat.

Allahumma lancar.

Allahumma mudahkan setiap langkah yang baik.

Allahumma berkahi setiap ilmu yang dipelajari.

Allahumma berkahi setiap huruf yang ditulis.

Dan doa yang selalu membuatku tersenyum:

Allahumma sugeh.

Ya Allah, cukupkan rezeki kami dengan rezeki yang halal, berkah, dan bermanfaat.

Jika tulisan ini kelak menjadi jalan rezeki, jadikan ia rezeki yang mendekatkan kepada-Mu.

Jika tulisan ini kelak dibaca banyak orang, jadikan ia sumber kebaikan.

Jika tulisan ini kelak berhasil, jangan biarkan hati menjadi sombong.

Dan jika belum berhasil, jangan biarkan hati kehilangan harapan.

Alhamdulillah atas 30 bab pertama.

Bismillah untuk bab-bab berikutnya.

Karena perjalanan ini belum selesai.



Baca selengkapnya di KBM App:

https://kbm.id/book/detail/e9f7b585-93c4-4b79-a099-12e469302744







Allahumma Sugeh: Catatan Seorang Pengurus Yayasan yang Masih Belajar Istiqomah

Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri, mengapa aku masih bertahan?

Padahal mengurus yayasan tidak mudah. Ada laporan yang harus diselesaikan, data anak binaan yang harus diperbarui, arsip yang harus dirapikan, program yang harus dijalankan, dan kebutuhan operasional yang selalu menunggu untuk dipenuhi.

Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, aku selalu menemukan jawaban yang sama:

Karena Allah masih mengizinkan.

LKSA Peduli Sahabat Batang berdiri pada tahun 2017. Saat itu aku tidak pernah membayangkan seperti apa perjalanan yang akan dilalui. Yang ada hanya keinginan sederhana, semoga yayasan ini bisa menjadi tempat yang bermanfaat bagi anak-anak yatim dan mereka yang membutuhkan.

Tahun demi tahun berlalu.

Ada masa mudah, ada masa sulit.

Ada saat-saat ketika bantuan datang tanpa diduga, ada pula saat ketika aku harus berpikir keras bagaimana memenuhi kebutuhan operasional yang mendesak.

Tahun 2023 menjadi salah satu momen yang tidak akan kulupakan. Dengan segala keterbatasan yang ada, LKSA Peduli Sahabat Batang mengikuti proses akreditasi dan Alhamdulillah memperoleh nilai A.

Saat itu aku kembali belajar bahwa Allah tidak melihat seberapa besar kemampuan kita, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita berusaha.

Namun perjalanan tidak berhenti di sana.

Setelah ibuku wafat pada tahun 2021, banyak hal berubah. Rumah yang sebelumnya dapat digunakan sebagai kantor yayasan tidak lagi bisa dipakai seperti dulu. Kami harus mencari tempat lain dan akhirnya menyewa kantor.

Sejak saat itu, aku semakin memahami bahwa menjalankan yayasan membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Dibutuhkan biaya, tenaga, waktu, dan kesabaran yang panjang.

Kadang aku harus mencari donasi untuk biaya sewa kantor.

Kadang aku harus memperbaiki bagian-bagian bangunan yang rusak.

Kadang aku harus menggunakan uang pribadi untuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Sedih?

Tentu saja pernah.

Lelah?

Sering.

Menangis?

Berkali-kali.

Tetapi setiap kali aku hampir menyerah, Allah selalu menunjukkan satu hal:

Bahwa pertolongan-Nya tidak pernah terlambat.

Mungkin tidak datang dalam bentuk yang aku inginkan.

Mungkin tidak datang dari orang yang aku harapkan.

Tetapi selalu datang pada waktu yang tepat.

Karena itulah sampai hari ini aku masih sering berdoa:

"Allahumma sugeh."

Bukan karena aku ingin hidup mewah.

Bukan karena aku ingin menjadi kaya untuk diriku sendiri.

Aku hanya ingin LKSA Peduli Sahabat Batang berdiri lebih kokoh.

Aku ingin suatu hari nanti yayasan ini memiliki rumah sendiri yang bisa digunakan sebagai kantor dan panti.

Aku ingin ada kendaraan operasional agar mobilitas tidak selalu bergantung pada biaya sewa.

Aku ingin anak-anak yatim yang dibina memiliki tempat yang nyaman untuk tumbuh dan belajar.

Aku tidak memiliki keturunan.

Karena itu, aku berharap jika Allah mengabulkan semua impian ini, manfaatnya bisa terus mengalir bahkan ketika aku sudah tidak ada.

Jika suatu hari nanti berdiri sebuah rumah panti yang penuh dengan tawa anak-anak yatim, jika kegiatan-kegiatan sosial terus berjalan, jika yayasan ini mampu bertahan dan berkembang, maka itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Dan sampai hari itu tiba, tugasku adalah terus melangkah.

Satu laporan demi satu laporan.

Satu arsip demi satu arsip.

Satu program demi satu program.

Satu Jumat demi satu Jumat.

Karena aku percaya, bangunan yang kokoh tidak dibangun dalam satu hari.

Begitu pula dengan mimpi.

Hari ini mungkin hanya Jumat Berbagi Episode 26.

Minggu depan Episode 27.

Lalu Episode 28.

Sedikit demi sedikit.

Tetapi bukankah setiap perjalanan panjang memang dimulai dari langkah-langkah yang terus dijaga?

Untuk itu, aku menitipkan doa kepada Allah:

Ya Allah, kuatkan langkahku selama Engkau masih memberiku usia.

Ya Allah, sehatkan badanku agar aku bisa terus melayani.

Ya Allah, lapangkan rezekiku agar aku bisa terus berbagi.

Ya Allah, cukupkan kebutuhan LKSA Peduli Sahabat Batang dari jalan yang halal dan penuh keberkahan.

Ya Allah, karuniakan rumah sendiri untuk kantor dan panti yayasan.

Ya Allah, karuniakan kendaraan operasional yang memudahkan pelayanan kepada anak-anak binaan.

Ya Allah, hadirkan orang-orang baik yang mau membantu karena cinta kepada-Mu.

Ya Allah, jadikan setiap tetes keringat, setiap air mata, dan setiap langkah dalam mengurus amanah ini sebagai amal jariyah yang Engkau terima.

Dan jika suatu hari nanti semua impian ini terwujud, izinkan aku melihatnya dengan penuh syukur.

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.



Belajar dari Bintang: Malam Penuh Syukur dan Cahaya




 Malam ini aku kembali duduk di antara cahaya layar Zoom, menyimak ilmu dari para bintang.

Sesi pertama bersama CEO KBM App, Bapak Isa Alamsyah, membuka mata tentang perjalanan menulis dan membangun karya. Sesi kedua bersama Asma Nadia dan penulis senior Kak Rona Mentari, menyalakan semangat untuk menjaga jati diri penulis di tengah derasnya arus digital.

Aku yang masih seumur jagung di dunia menulis KBM, merasa seperti benih kecil yang disiram cahaya. Setiap kata mereka adalah pelita, menuntun langkahku agar tidak padam di jalan panjang ini.

Syukurku malam ini begitu dalam. Karena setiap ilmu yang kuterima bukan sekadar teori, melainkan cahaya yang menuntun hati. Perjalanan ini masih panjang, tapi dengan syukur dan cahaya, aku akan terus belajar… belajar… dan belajar

Hari ini mungkin sedang kosong. Tapi hatiku tidak lagi seberisik dulu

Catatan Jumat Mubarak

Jumat, 12 Juni 2026

Alhamdulillah, pagi ini kembali dibuka dengan Bismillah. Sebelum tahajud tadi, Allah izinkan aku menyelesaikan satu novel baru. Novel itu lahir dari kisah seseorang yang dengan tulus mempercayakan ceritanya kepadaku untuk ditulis. Tentu saja sudah kubumbui dengan fiksi, agar menjadi karya yang lebih utuh dan tetap menjaga banyak hal.

Aku tersenyum sendiri setelah menulis kata terakhirnya. Rasanya seperti Allah sedang mengingatkanku bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Dari tempat tidur pun, Allah masih memberi jalan untuk menulis dan menebar manfaat.

Untuk kegiatan sosial Jumat Berbagi Anak Yatim dari yayasan, hari ini sudah kutugaskan kepada Korwil Timur. Aku memang sengaja mengacak penerima manfaat setiap Jumat, agar keberkahan itu bisa menyapa lebih banyak anak-anak yang membutuhkan.

Alhamdulillah juga untuk kesehatan hari ini. Badan terasa lebih ringan, hati lebih tenang. Nikmat sehat memang sering terasa sederhana, padahal ia adalah salah satu karunia terbesar dari Allah.

Lalu tentang keuangan…

Hari ini mungkin sedang kosong. Tapi anehnya, hatiku tidak lagi seberisik dulu. Aku percaya bahwa Allah Maha Kaya dan tidak pernah salah mengatur rezeki hamba-Nya. Yang tugasku hanyalah berikhtiar, berdoa, dan menjaga hati agar tetap baik sangka kepada-Nya.

Aku kembali mengulang doa yang sering kupeluk dalam diam:

Aghnini bifadlika ‘amman siwak

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”

Dan sungguh, berkali-kali Allah membuktikan bahwa pertolongan-Nya datang dari arah yang tak pernah kusangka.

Hari ini aku hanya ingin bersyukur.

Atas nafas yang masih Allah titipkan.

Atas tangan yang masih bisa menulis.

Atas hati yang masih ingin dekat dengan-Nya.

Atas kesempatan untuk tetap menjadi manfaat, walau sedikit.

Semoga Jumat ini membawa keberkahan untuk kita semua. Semoga Allah melapangkan rezeki yang halal dan baik, menjaga kesehatan, menguatkan iman, dan menerima setiap amal yang kita lakukan hanya karena-Nya. Aamiinn..




Catatan Puasa Daud: Ketika Aku Hanya Ingin Dekat dengan Allah

Banyak orang bertanya kepadaku, mengapa aku menjalankan puasa Daud?

Ada yang berkata, "Kamu puasa terus, tapi kok nggak kurus-kurus?"

Aku biasanya hanya tersenyum lalu menjawab, "Tujuanku puasa bukan untuk kurus. Aku berpuasa karena Allah Ta'ala."

Ada pula yang berkomentar, "Kalau aku jadi kamu juga kuat puasa. Orang cuma rebahan saja."

Kalimat seperti itu kadang membuat hati sedih. Sebab mereka tidak tahu bagaimana hari-hariku berjalan. Mereka hanya melihat tubuh yang terbaring, tetapi tidak melihat aktivitas yang kulakukan dari tempat tidur.

Aku menulis. Aku mengedit video setiap hari sebagai affiliate. Aku mengurus yayasan. Aku harus selalu siap ketika ada tugas yang datang dari dinas. Ada banyak hal yang tetap harus diselesaikan meski kondisi fisik tidak sempurna.

Namun aku belajar satu hal. Tidak semua orang akan mengerti perjuangan kita. Dan tidak semua penjelasan harus diberikan.

Aku memilih diam dan melanjutkan langkahku.

Awalnya, setelah kecelakaan yang mengubah hidupku, aku terbiasa berpuasa hampir setiap hari, kecuali saat ada uzur syar'i. Sampai suatu hari aku mendengar tausiah bahwa puasa sunnah yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud, yaitu sehari puasa dan sehari tidak.

Aku sempat mencoba puasa Senin-Kamis. Namun entah mengapa hati ini masih ingin lebih banyak bersama Allah. Akhirnya aku memilih puasa Daud.

Bukan karena ingin terlihat salehah.

Bukan karena ingin dipuji kuat.

Aku hanya ingin dekat dengan Allah.

Aku ingin setiap hari mengingat-Nya.

Aku ingin hidupku, ibadahku, matiku, semuanya karena-Nya.

Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin.

Seiring waktu, aku mulai merasakan banyak sekali hikmah dari puasa yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Bukan harta berlimpah.

Bukan kemewahan.

Tetapi kemudahan-kemudahan yang datang tepat pada waktunya.

Saat aku dirawat di rumah sakit, pernah terjadi kesalahan administrasi sehingga biaya pengobatan tidak masuk ke jaminan yang seharusnya. Aku baru menyadarinya ketika hendak pulang.

Aku menangis.

Aku tidak tahu harus membayar dari mana.

Namun Allah kembali menunjukkan pertolongan-Nya. Teman-temanku datang pada waktu yang tepat dan membantu melunasi biaya rumah sakit.

Bukan sekali itu saja.

Berkali-kali aku menyaksikan bagaimana Allah membuka jalan ketika jalan itu terlihat buntu.

Mungkin karena itulah aku semakin yakin bahwa tidak ada yang sia-sia dari setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas.

Tahun 2022 aku menandatangani formulir donor mata.

Aku ingin, ketika suatu saat Allah memanggilku, masih ada bagian tubuhku yang bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Karena itulah aku berusaha menjaga mata ini dari hal-hal yang tidak baik. Aku ingin mata ini lebih banyak digunakan untuk membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu, dan melihat hal-hal yang diridhai Allah.

Aku juga berusaha menjaga tubuhku sebaik mungkin. Bahkan jika suatu hari ada yang membutuhkan organ tubuhku dan aku mampu menolongnya, aku ingin bisa menjadi manfaat.

Mungkin hidupku tidak sempurna.

Bantuan dari keluarga pun tidak selalu ada.

Kadang aku juga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kadang harus menggali lubang dan menutup lubang.

Namun aku memilih untuk tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti bersyukur.

Aku lebih suka mengumpulkan alasan untuk tetap tersenyum.

Aku menghindari kebiasaan mengeluh.

Aku menghindari pikiran-pikiran negatif.

Aku memilih berprasangka baik kepada Allah.

Aku memilih memperbanyak doa.

Aku memilih memperbanyak shalawat.

Aku memilih memperbanyak syukur.

Karena aku percaya, hidup akan mengikuti arah hati kita memandangnya.

Jika hari ini ada yang bertanya apa manfaat terbesar dari puasa Daud yang kulakukan selama bertahun-tahun, jawabanku sederhana:

Bukan tubuh yang lebih sehat.

Bukan rezeki yang lebih banyak.

Bukan pula pujian manusia.

Manfaat terbesar yang kurasakan adalah hati yang lebih dekat kepada Allah.

Dan ketika hati sudah dekat kepada-Nya, segala sesuatu terasa lebih ringan untuk dijalani.

Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita semua dalam beribadah.

Semoga setiap lelah yang kita sembunyikan dari manusia menjadi amal yang Allah terima.

Dan semoga ketika hidup terasa berat, kita selalu ingat bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita sangka.

Aamiin.



Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya, Tapi AKU

Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya

Hari ini aku belajar satu hal penting: jangan buru-buru menyalahkan link.

Beberapa saat lalu Dinas Sosial mengirimkan file Instrumen Akreditasi LKS. Semangat sekali aku ingin mempelajarinya. Namun ketika file itu kubuka, hasilnya nihil. Tidak terbuka. Aku mencoba lagi. Tetap tidak bisa.

Dalam hati mulai muncul berbagai dugaan.

"Mungkin link-nya rusak."

"Mungkin filenya bermasalah."

Karena merasa ada yang tidak beres, aku pun menghubungi petugas yang mengirimkan file tersebut. Dengan penuh keyakinan aku menyampaikan bahwa file tidak bisa dibuka.

Beberapa saat kemudian beliau membalas singkat.

"Link apa?"

Di titik itu aku mulai sedikit bingung, tetapi tetap menjelaskan dengan serius. Setelah itu aku menunggu balasan.

Sementara menunggu, aku mencoba membuka file itu lagi. Kali ini aku memperhatikan lebih teliti. Lalu aku melihat tiga huruf kecil yang sebelumnya tidak terlalu kuperhatikan:

RAR.

Aku terdiam.

RAR?

Bukankah itu berarti file harus diekstrak terlebih dahulu?

Dengan rasa penasaran bercampur harap-harap cemas, aku menekan tombol "Ekstrak".

Dan...

Subhanallah.

Semua file langsung muncul dengan rapi.

Instrumen ada.

Dokumen ada.

Semuanya ada.

Saat itulah aku menyadari sebuah fakta yang cukup menampar harga diri:

Linknya tidak bermasalah.

File-nya tidak bermasalah.

Yang bermasalah adalah...

Aku.😄

Dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, aku sudah lebih dulu melapor bahwa file tidak bisa dibuka. Padahal aku sendiri belum mengekstraknya.

Akhirnya aku kembali menghubungi petugas tersebut.

"Maaf, Pak. Ternyata filenya sudah bisa dibuka. Saya lupa mengekstrak file RAR terlebih dahulu."

Alhamdulillah beliau belum sempat repot-repot mencari solusi untuk masalah yang ternyata berasal dari diriku sendiri

Pelajaran hari ini:

Sebelum menyalahkan sistem, link, aplikasi, atau jaringan internet, pastikan dulu file RAR sudah diekstrak

Karena terkadang masalah teknologi yang terlihat rumit ternyata hanya membutuhkan satu tombol kecil bernama"Ekstrak".

Dan terkadang, rasa malu datang bukan karena kita gagal, melainkan karena kita terlalu percaya diri sebelum membaca petunjuk. 😅


Belakangan aku baru sadar, mungkin akar masalahnya bukan pada file RAR itu.

Akar masalahnya dimulai hari sebelumnya.

Aku tidak hadir dalam Rakor LKKS.

Setelah itu, aku juga lupa meminta notulen kepada sekretaris LKKS

Akibatnya, ketika semua orang sudah memahami alur dan berkas yang dibagikan, aku masih sibuk menebak-nebak sendiri.

Dan seperti biasa, orang yang menebak tanpa informasi lengkap sering kali sampai pada kesimpulan yang salah.

Termasuk aku yang dengan percaya diri mengira link bermasalah, padahal file itu hanya menunggu untuk diekstrak.

Hari yang Penuh Isyarat

 Di balik sakit dan listrik padam, ada semangat yang tetap menyala

Hari ini terasa begitu padat, penuh kejadian yang datang bertubi‑tubi. Tubuhku sedang sakit, tapi tetap harus menanggapi pesan dari dinas yang meminta soft file lama, sesuatu yang sudah bertahun‑tahun tersimpan.

Belum selesai urusan itu, listrik mati seharian. Tugas yang harusnya bisa kuselesaikan jadi tertunda, dan di saat yang sama ada kabar dari pengadilan yang membuat hatiku bergetar.

Ketika listrik kembali menyala, aku membuka WhatsApp. Grup LKKS sudah ramai dengan surat undangan untuk Senin besok. Rasanya seperti dunia bergerak cepat, sementara aku masih berusaha menata langkah.

Di tengah semua itu, aku tetap berusaha menulis. Novel untuk kompetisi harus selesai 30 bab dalam 17 hari. Alhamdulillah, sudah 11 bab kutuntaskan. Meski sakit, meski listrik mati, meski pikiran bercabang ke pengadilan dan undangan, aku tetap menulis.

Hari ini mengajarkanku bahwa hidup memang penuh kejutan. Ada sakit, ada tugas, ada listrik padam, ada panggilan pengadilan, ada undangan mendadak. Tapi ada juga semangat yang terus hidup, ada doa yang terus terucap: Allahumma yassir wa laa tu’assir.

Aku belajar menerima bahwa semua ini bagian dari perjalanan. Aku tidak bisa mengendalikan segalanya, tapi aku bisa memilih untuk tetap melangkah, tetap menulis, tetap berharap.

Fa inna ma’al ‘usri yusra. Inna ma’al ‘usri yusra



BELAJAR DARI BINTANG – Zoom Hari Ini




 

Masyaa Allah, sesi perdana BDB KBM bersama Bapak Isa Alamsyah, CEO KBM App. Dari tanda tangan di surat perjanjian, kini satu frame langsung penuh inspirasi 📚

Dilanjutkan sesi kedua bersama Asma Nadia, dengan bintang tamu Dr. Helvy Tiana Rosa. ✍️ Menulis Tanpa Menunggu Mood 🔥 Sebuah pelajaran berharga: konsistensi lebih penting daripada menunggu mood datang