Di balik sakit dan listrik padam, ada semangat yang tetap menyala
Hari ini terasa begitu padat, penuh kejadian yang datang bertubi‑tubi. Tubuhku sedang sakit, tapi tetap harus menanggapi pesan dari dinas yang meminta soft file lama, sesuatu yang sudah bertahun‑tahun tersimpan.
Belum selesai urusan itu, listrik mati seharian. Tugas yang harusnya bisa kuselesaikan jadi tertunda, dan di saat yang sama ada kabar dari pengadilan yang membuat hatiku bergetar.
Ketika listrik kembali menyala, aku membuka WhatsApp. Grup LKKS sudah ramai dengan surat undangan untuk Senin besok. Rasanya seperti dunia bergerak cepat, sementara aku masih berusaha menata langkah.
Di tengah semua itu, aku tetap berusaha menulis. Novel untuk kompetisi harus selesai 30 bab dalam 17 hari. Alhamdulillah, sudah 11 bab kutuntaskan. Meski sakit, meski listrik mati, meski pikiran bercabang ke pengadilan dan undangan, aku tetap menulis.
Hari ini mengajarkanku bahwa hidup memang penuh kejutan. Ada sakit, ada tugas, ada listrik padam, ada panggilan pengadilan, ada undangan mendadak. Tapi ada juga semangat yang terus hidup, ada doa yang terus terucap: Allahumma yassir wa laa tu’assir.
Aku belajar menerima bahwa semua ini bagian dari perjalanan. Aku tidak bisa mengendalikan segalanya, tapi aku bisa memilih untuk tetap melangkah, tetap menulis, tetap berharap.
Fa inna ma’al ‘usri yusra. Inna ma’al ‘usri yusra






