Ramadhan mulai merapikan cahanya.
Hari-harinya yang tenang terasa seperti daun yang gugur perlahan indah, tapi membuat hati ikut lirih.
Setiap malam semakin sunyi, namun justru di sanalah doa-doa menemukan bisikannya yang paling jujur.
Ada haru yang pelan-pelan tumbuh,
bukan karena Ramadhan pergi,
tapi karena kita takut tak diberi kesempatan untuk kembali memeluknya tahun depan.
Di sela keheningan itu, doa ini kembali terucap, lebih lembut dari sebelumnya:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Ya Allah… Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau mencintai maaf.
Maka ampuni, lapangkan, dan kuatkan aku.
Semoga umur ini Allah jaga.
Semoga langkah ini Allah arahkan.
Semoga hati ini tetap dekat dengan-Nya,
hingga Ramadhan kembali datang mengetuk,
dan kita masih diberi ruang untuk menyambutnya lagi.

.jpg)
.jpg)