MENIMBUN MASA LALU



Sejuta aksara menari di angkasa
mengeja kata tanpa makna
mengisi puisi-puisi sunyi
membisu dalam sepi
pada tiap ikhlas di ujung sujud
memeluk takdir suratan akhir

ada rapuh yang tersimpan rapih, tak ingin diintip angin lalu 
ada luka yang tersembunyi tawa, agar tak dibawa aliran gerimis jadi cerita
Mari kita menatakan senyuman
Biar masa lalu menjadi cerminan

JEDA



 

Pagi yang selalu kunanti

Ku awali dengan menyebut Asma Alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang

Memulai hari melangkah dengan pasti

Hangatnya mentari memberi semangat setiap insani

 

Pagi yang selalu menakjubkan

Dari udaranya yang segar, aku belajar tentang kesabaran

Kita adalah luka yang belum tersembuhkan

Kita masih butuh jeda untuk saling berinstropeksi diri

 

Menikmati sarapan dengan sebait puisi

Masih banyak hal yang ingin kutuliskan

Ingin ku ungkapkan rasa dalam kata

Tentang kita yang dipisahkan oleh keadaan

 

Secangkir kopi menemani pagi

Menghirup sinar matahari

Segala hal tentangmu, membuatku kian mencandu

Semakin liar dalam ruang imajiku

Bahwa aku sangat merindukanmu