Tampilkan postingan dengan label VOLUNTEER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VOLUNTEER. Tampilkan semua postingan

ALLAHUMMA A'INNI 'ALA HADZIHIL AMANAH | Official Lyric Video - Langit Didada

Di setiap langkah yang Kau titipkan...

Ada amanah yang harus kujaga...
Kadang hatiku mulai lelah...
Namun kasih-Mu tak pernah berubah...

Ku tatap langit, kuangkat doa...
Memohon kuat dari Yang Esa...
Bukan karena aku mampu...
Namun karena Engkau penolongku...

Saat langkahku mulai goyah...
Saat air mata jatuh berserah...
Peluklah hatiku dengan rahmat-Mu...
Jangan biarkan aku menjauh...

Allahumma a'inni...
'Ala hadzihil amanah...

Allahumma a'inni...
'Ala hadzihil amanah...

Ya Allah...
Tolonglah hamba-Mu...

Saat lemah kuatkan aku...
Saat letih peluk hatiku...

Ku percaya...
Engkau tak pernah meninggalkanku...

Jika jalan terasa panjang...
Ajarkan sabar dalam perjuangan...
Jika dunia menutup pintu...
Rahmat-Mu selalu mengetuk kalbu...

Aku hanyalah hamba-Mu...
Yang belajar ikhlas setiap waktu...
Semoga langkah kecil ini...
Menjadi jalan menuju ridha-Mu...

Bukan tentang hebat diriku...
Bukan tentang kuat pundakku...

Semua hanya karena-Mu...
Semua hanya untuk-Mu...

Allahumma a'inni...
'Ala hadzihil amanah...

Allahumma a'inni...
'Ala hadzihil amanah...

Tuntun langkahku...
Jaga hatiku...

Hingga kelak...
Aku pulang...
Dengan senyum karena-Mu...

Bismillahilladzi laa yadhurru ma'asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa' wa huwas samii'ul 'aliim. 

Lirik dan Ciptaan: Ana Restuningtyas
Channel: Langit di Dada
© 2026 Langit Didada. All Rights Reserved.


https://youtu.be/r4lKa26JmqA?si=gkXVJW36vLEWhoiC

Allahumma Sugeh: Catatan Seorang Pengurus Yayasan yang Masih Belajar Istiqomah

Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri, mengapa aku masih bertahan?

Padahal mengurus yayasan tidak mudah. Ada laporan yang harus diselesaikan, data anak binaan yang harus diperbarui, arsip yang harus dirapikan, program yang harus dijalankan, dan kebutuhan operasional yang selalu menunggu untuk dipenuhi.

Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, aku selalu menemukan jawaban yang sama:

Karena Allah masih mengizinkan.

LKSA Peduli Sahabat Batang berdiri pada tahun 2017. Saat itu aku tidak pernah membayangkan seperti apa perjalanan yang akan dilalui. Yang ada hanya keinginan sederhana, semoga yayasan ini bisa menjadi tempat yang bermanfaat bagi anak-anak yatim dan mereka yang membutuhkan.

Tahun demi tahun berlalu.

Ada masa mudah, ada masa sulit.

Ada saat-saat ketika bantuan datang tanpa diduga, ada pula saat ketika aku harus berpikir keras bagaimana memenuhi kebutuhan operasional yang mendesak.

Tahun 2023 menjadi salah satu momen yang tidak akan kulupakan. Dengan segala keterbatasan yang ada, LKSA Peduli Sahabat Batang mengikuti proses akreditasi dan Alhamdulillah memperoleh nilai A.

Saat itu aku kembali belajar bahwa Allah tidak melihat seberapa besar kemampuan kita, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita berusaha.

Namun perjalanan tidak berhenti di sana.

Setelah ibuku wafat pada tahun 2021, banyak hal berubah. Rumah yang sebelumnya dapat digunakan sebagai kantor yayasan tidak lagi bisa dipakai seperti dulu. Kami harus mencari tempat lain dan akhirnya menyewa kantor.

Sejak saat itu, aku semakin memahami bahwa menjalankan yayasan membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Dibutuhkan biaya, tenaga, waktu, dan kesabaran yang panjang.

Kadang aku harus mencari donasi untuk biaya sewa kantor.

Kadang aku harus memperbaiki bagian-bagian bangunan yang rusak.

Kadang aku harus menggunakan uang pribadi untuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Sedih?

Tentu saja pernah.

Lelah?

Sering.

Menangis?

Berkali-kali.

Tetapi setiap kali aku hampir menyerah, Allah selalu menunjukkan satu hal:

Bahwa pertolongan-Nya tidak pernah terlambat.

Mungkin tidak datang dalam bentuk yang aku inginkan.

Mungkin tidak datang dari orang yang aku harapkan.

Tetapi selalu datang pada waktu yang tepat.

Karena itulah sampai hari ini aku masih sering berdoa:

"Allahumma sugeh."

Bukan karena aku ingin hidup mewah.

Bukan karena aku ingin menjadi kaya untuk diriku sendiri.

Aku hanya ingin LKSA Peduli Sahabat Batang berdiri lebih kokoh.

Aku ingin suatu hari nanti yayasan ini memiliki rumah sendiri yang bisa digunakan sebagai kantor dan panti.

Aku ingin ada kendaraan operasional agar mobilitas tidak selalu bergantung pada biaya sewa.

Aku ingin anak-anak yatim yang dibina memiliki tempat yang nyaman untuk tumbuh dan belajar.

Aku tidak memiliki keturunan.

Karena itu, aku berharap jika Allah mengabulkan semua impian ini, manfaatnya bisa terus mengalir bahkan ketika aku sudah tidak ada.

Jika suatu hari nanti berdiri sebuah rumah panti yang penuh dengan tawa anak-anak yatim, jika kegiatan-kegiatan sosial terus berjalan, jika yayasan ini mampu bertahan dan berkembang, maka itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Dan sampai hari itu tiba, tugasku adalah terus melangkah.

Satu laporan demi satu laporan.

Satu arsip demi satu arsip.

Satu program demi satu program.

Satu Jumat demi satu Jumat.

Karena aku percaya, bangunan yang kokoh tidak dibangun dalam satu hari.

Begitu pula dengan mimpi.

Hari ini mungkin hanya Jumat Berbagi Episode 26.

Minggu depan Episode 27.

Lalu Episode 28.

Sedikit demi sedikit.

Tetapi bukankah setiap perjalanan panjang memang dimulai dari langkah-langkah yang terus dijaga?

Untuk itu, aku menitipkan doa kepada Allah:

Ya Allah, kuatkan langkahku selama Engkau masih memberiku usia.

Ya Allah, sehatkan badanku agar aku bisa terus melayani.

Ya Allah, lapangkan rezekiku agar aku bisa terus berbagi.

Ya Allah, cukupkan kebutuhan LKSA Peduli Sahabat Batang dari jalan yang halal dan penuh keberkahan.

Ya Allah, karuniakan rumah sendiri untuk kantor dan panti yayasan.

Ya Allah, karuniakan kendaraan operasional yang memudahkan pelayanan kepada anak-anak binaan.

Ya Allah, hadirkan orang-orang baik yang mau membantu karena cinta kepada-Mu.

Ya Allah, jadikan setiap tetes keringat, setiap air mata, dan setiap langkah dalam mengurus amanah ini sebagai amal jariyah yang Engkau terima.

Dan jika suatu hari nanti semua impian ini terwujud, izinkan aku melihatnya dengan penuh syukur.

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.



Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya, Tapi AKU

Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya

Hari ini aku belajar satu hal penting: jangan buru-buru menyalahkan link.

Beberapa saat lalu Dinas Sosial mengirimkan file Instrumen Akreditasi LKS. Semangat sekali aku ingin mempelajarinya. Namun ketika file itu kubuka, hasilnya nihil. Tidak terbuka. Aku mencoba lagi. Tetap tidak bisa.

Dalam hati mulai muncul berbagai dugaan.

"Mungkin link-nya rusak."

"Mungkin filenya bermasalah."

Karena merasa ada yang tidak beres, aku pun menghubungi petugas yang mengirimkan file tersebut. Dengan penuh keyakinan aku menyampaikan bahwa file tidak bisa dibuka.

Beberapa saat kemudian beliau membalas singkat.

"Link apa?"

Di titik itu aku mulai sedikit bingung, tetapi tetap menjelaskan dengan serius. Setelah itu aku menunggu balasan.

Sementara menunggu, aku mencoba membuka file itu lagi. Kali ini aku memperhatikan lebih teliti. Lalu aku melihat tiga huruf kecil yang sebelumnya tidak terlalu kuperhatikan:

RAR.

Aku terdiam.

RAR?

Bukankah itu berarti file harus diekstrak terlebih dahulu?

Dengan rasa penasaran bercampur harap-harap cemas, aku menekan tombol "Ekstrak".

Dan...

Subhanallah.

Semua file langsung muncul dengan rapi.

Instrumen ada.

Dokumen ada.

Semuanya ada.

Saat itulah aku menyadari sebuah fakta yang cukup menampar harga diri:

Linknya tidak bermasalah.

File-nya tidak bermasalah.

Yang bermasalah adalah...

Aku.😄

Dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, aku sudah lebih dulu melapor bahwa file tidak bisa dibuka. Padahal aku sendiri belum mengekstraknya.

Akhirnya aku kembali menghubungi petugas tersebut.

"Maaf, Pak. Ternyata filenya sudah bisa dibuka. Saya lupa mengekstrak file RAR terlebih dahulu."

Alhamdulillah beliau belum sempat repot-repot mencari solusi untuk masalah yang ternyata berasal dari diriku sendiri

Pelajaran hari ini:

Sebelum menyalahkan sistem, link, aplikasi, atau jaringan internet, pastikan dulu file RAR sudah diekstrak

Karena terkadang masalah teknologi yang terlihat rumit ternyata hanya membutuhkan satu tombol kecil bernama"Ekstrak".

Dan terkadang, rasa malu datang bukan karena kita gagal, melainkan karena kita terlalu percaya diri sebelum membaca petunjuk. 😅


Belakangan aku baru sadar, mungkin akar masalahnya bukan pada file RAR itu.

Akar masalahnya dimulai hari sebelumnya.

Aku tidak hadir dalam Rakor LKKS.

Setelah itu, aku juga lupa meminta notulen kepada sekretaris LKKS

Akibatnya, ketika semua orang sudah memahami alur dan berkas yang dibagikan, aku masih sibuk menebak-nebak sendiri.

Dan seperti biasa, orang yang menebak tanpa informasi lengkap sering kali sampai pada kesimpulan yang salah.

Termasuk aku yang dengan percaya diri mengira link bermasalah, padahal file itu hanya menunggu untuk diekstrak.

LANGKAH DI JALAN BERKAH

Bismillah

Langkah kecil di jalan sunyi,

menjadi jejak menuju cahaya.

Senyum yatim, doa dermawan,

bertemu di pintu keberkahan 

Aku hanyalah perantara amanah,

namun setiap amplop yang terbuka

adalah doa yang terbang ke langit,

mengetuk rahmat Allah tanpa henti.


"Ya Allah, di hari penuh berkah ini aku bersyukur atas para dermawan yang Engkau gerakkan hatinya untuk berbagi dengan anak-anak yatim.

Aku hanyalah perantara kecil yang menyalurkan amanah, namun setiap senyum mereka adalah cahaya yang menenangkan hati.

Rezeki mungkin datang dari arah yang tak terduga, kadang cukup, kadang kurang, namun Engkau selalu menjaga jalan kebaikan ini.

Selama ada niat tulus untuk menjadi jalan bahagia bagi orang lain, aku percaya Engkau akan menjaga langkah kami.

Kuatkan aku dalam puasa, dalam amanah sosial, dan dalam karya-karya yang kutulis.

Jadikan setiap Jumat sebagai pintu keberkahan, ketenangan, dan kekuatan baru.

Aamiin.



KALIAN GA TAU KAN?

Hari ini aku kembali menyusuri rutinitas di kantor: menata arsip yang mulai menumpuk, mencetak kegiatan Jumat Berbagi, dan memperbarui cetakan surat masuk dari dinas untuk lembaga tri semester pertama. Di sela kesibukan itu, waktuku juga terbagi untuk live affiliate di TikTok, sambil menjaga ritme menulis bab‑bab baru novel yang sudah terjadwal setiap harinya.

Kadang aku tersenyum sendirI.... kalian ga tahu kan? semua ini aku jalani sendiri. Kalau pun minta bantuan orang, aku yang menanggung biayanya, bukan yayasan. Di sini tidak ada gaji, hanya niat dan keikhlasan yang terus aku jaga.

Setiap aktivitas terasa seperti potongan puzzle yang perlahan membentuk gambaran besar perjalanan hidup. Ada kerja, ada berbagi, ada kreativitas yang terus tumbuh. Semoga Allah senantiasa melapangkan hati, melapangkan rezeki, memberi kesehatan, dan menguatkan langkah dalam setiap ikhtiar… 🤲



Pelan-Pelan Menuju Rumah yang Allah Siapkan

Rabu pagi yang sederhana,

namun penuh makna yang tak biasa.

 

Aku duduk di hadapan layar,

mendengarkan satu per satu kata,

tentang aturan, tentang langkah,

tentang bagaimana sebuah lembaga bertumbuh dengan arah.

 

Hari ini aku belajar,

bahwa tidak semua langkah harus berlari,

tidak semua mimpi harus segera dimiliki.

 

Ada yang perlu dipersiapkan,

ada yang harus dipantaskan,

dan ada yang memang harus menunggu waktu terbaiknya datang.

 

Kami mungkin belum memiliki tanah,

belum berdiri di atas bangunan sendiri,

namun kami tetap berdiri

di atas niat, doa, dan kepedulian yang tak pernah berhenti.

 

Karena bagi kami,

rumah bukan sekadar dinding dan atap,

melainkan tempat di mana harapan anak-anak

tetap hidup dan dijaga.

 

Dan hari ini, aku mengerti,

bahwa setiap proses adalah bagian dari perjalanan.

Pelan… tapi pasti.

 

Menuju tempat yang telah Allah siapkan,

di waktu yang paling tepat.


 

Ucapan Terima Kasih

Di antara perjalanan hari ini,

ada satu hal yang tidak ingin aku lewatkan:

ucapan terima kasih

untuk seseorang yang telah meluangkan waktunya,

meninggalkan kesibukannya,

dan memilih untuk hadir demi sebuah amanah kecil

yang tidak mungkin kuselesaikan sendiri.


Terima kasih…

atas support yang tidak pernah setengah hati,

atas kesediaan mengantar, menunggu, dan mendampingi,

atas kesabaran yang menenangkan langkahku hari ini.


Tanpa beliau,

SPT yayasan ini tidak akan terkirim.

Karena NPWP beliau terhubung otomatis di sistem,

karena tanda tangan beliau yang dibutuhkan,

karena kehadirannya yang memudahkan.


Segala kemudahan hari ini

adalah bentuk kasih Allah

yang disampaikan melalui tangan-tangan baik

yang Allah hadirkan tepat pada waktunya.


Dan aku bersyukur…

benar-benar bersyukur,

bahwa di tengah lelahku,

ada seseorang yang tetap memilih berada di sisiku

hingga amanah ini terselesaikan.


Terima kasih…

semoga setiap langkah dan waktunya

Allah balas dengan kebaikan yang lebih luas dari langit.

Salah Jam di Hari Sabtu: Panik Kecil yang Jadi Kenangan Ramadhan

Tentang fokus, lelah, dan tawa kecil yang lahir dari amanah Ramadhan.

Hari Sabtu itu harusnya jadi hari istirahat.
Tapi sejak pagi aku sudah duduk di depan meja yang penuh kertas, amplop coklat, dan print-printan proposal.
Tanganku sibuk menempel, melipat, menyusun, sementara pikiranku fokus pada jasa jilid yang tutup jam empat sore.

Aku terlalu tenggelam dalam pekerjaan.
Terlihat dari betapa mudahnya aku salah membaca waktu.

Saat jam menunjukkan pukul 14.00, entah kenapa di pikiranku berubah menjadi jam 16.00.
Aku langsung panik.
Kalau telat sedikit saja, tukang jilid tutup.
Kalau tutup, besok Minggu libur.
Kalau libur, Senin aku tidak bisa mengantar proposal ke bu ketua dan instansi-instansi yang menunggu.

Tanpa pikir panjang, aku panggil mbak yang sedang memasak.
“Cepet, mbak… jilid sekarang, keburu tutup!”
Mbak sampai mematikan kompor dan buru-buru pergi.


Aku pun chat pegawai tempat print.

“Sudah tutup belum, mbak?”

Dijawab: “Belum, masih buka mbak”

Masyaa Allah, lega.
Tapi panikku masih tersisa.

Beberapa menit kemudian, sambil mengetik “nama-nama” untuk amplop berikutnya, aku melirik jam lagi.
Dan di sana aku baru sadar…

Itu masih jam 2 siang.


Masih panjang.
Perjalanan pun dekat.

Aku terdiam sejenak, lalu tertawa pelan sambil istighfar.
Panikku barusan ternyata hanyalah akibat kecapekan.
Sejak malam belum tidur, fokus dari pagi, sampai waktu rasanya berjalan lebih cepat dari biasanya.

Tapi di balik semua itu, aku merasa hangat.
Karena di tengah kekacauan kecil ini, aku sedang menyiapkan sesuatu yang insyaa Allah bernilai besar:
untuk anak-anak yatim,
untuk Ramadhan,
untuk amanah.

Kadang, kesalahan kecil, bahkan salah jam, justru jadi kenangan manis.
Karena ia mengingatkanku bahwa lelah dalam kebaikan tetap terasa ringan,
selama niatnya karena Allah.



Ramadhan Hari ke-3: Tentang Ikhlas yang Tidak Tampak

Belajar berjalan sendiri tanpa merasa sendirian, karena Allah selalu melihat.

Ramadhan hari ke-3…
di antara sepi dan lelah yang tidak selalu terlihat, aku belajar satu hal:
bahwa tidak semua yang berjalan sendirian itu berarti tak ada yang peduli.
Kadang, Allah hanya ingin menunjukkan siapa yang benar-benar bertahan karena-Nya.

Ada saat-saat di mana usaha terasa berat, langkah terasa sendiri, 
Bukan karena aku ingin disanjung, bukan ingin dipuji
hanya berharap ada yang ikut menguatkan.
Tapi justru dari sepinya respons, Allah mengajariku arti keikhlasan yang sesungguhnya.

Bahwa sosial itu bukan tentang banyaknya orang.
Bukan tentang siapa yang datang atau tidak datang.
Sosial adalah tentang hati.
Tentang kesediaan untuk tetap melangkah, meski langkah orang lain tak selalu seirama.
Tentang terus memberi, meski tidak ada yang melihat.

Di Ramadhan ini, semoga aku dipertemukan dengan orang-orang baik yang hatinya lembut 
Mereka datang tanpa diminta, membantu tanpa diminta,

Dan aku belajar…
bahwa kebaikan itu tidak selalu datang dari tempat yang kita kira.

Hari ini aku kembali mengingatkan diri sendiri:
bahwa setiap langkah kecil membawa keberkahan besar,
bahwa setiap tetes lelah dicatat sebagai amal,
bahwa setiap senyum anak yatim adalah doa yang naik ke langit tanpa jeda.

Ramadhan hari ke-3…
semoga Allah menerima setiap usaha yang mungkin tak terlihat oleh manusia,
namun tak pernah luput dari pandangan-Nya.



Ketika Langit Membuka Jalan

Jumat Berbagi — Ramadhan 2026

Sejak pagi, hujan turun tanpa jeda. Langit kelabu, bumi basah, dan udara terasa berat.

Di tengah derasnya hujan itu, ada satu kegelisahan kecil yang tumbuh di hatiku:
“Bagaimana anak yatim itu bisa datang ke kantor? Hujannya terlalu deras… kasihan dia.”

Jam terus berjalan.
Undangan kami terjadwal pukul 13.00.
Hujan masih deras, seolah tidak ingin berhenti.
Aku hanya bisa menatap jendela dan berdoa dalam hati,
“Ya Allah… mudahkan langkah kecilnya. Jangan biarkan ia kehujanan.”

Lalu sesuatu terjadi.
Ketika jarum jam tepat menyentuh pukul satu…
hujan tiba-tiba reda.
Awan membuka diri.
Cahaya matahari turun dengan lembut, seperti salam dari langit.

Adik yatim itu datang tepat waktu.
Kakinya tidak basah, bajunya tidak basah, langkahnya ringan.
Seolah alam pun menunggu kedatangannya.

Dan setelah ia pulang…
hujan turun lagi.
Lebih deras dari sebelumnya.
Seolah langit menutup pintunya kembali setelah memberi ruang bagi satu urusan kebaikan.

Masyaa Allah…
Hatiku langsung bergetar.

Betapa lembutnya Allah menata setiap detik.
Betapa halus pertolongan-Nya.
Betapa besar perhatian-Nya pada niat baik sekecil apa pun.

Ini bukan kebetulan.
Ini adalah cara Allah menunjukkan:

“Selama kau berjalan di jalan kebaikan, Aku akan buka jalannya.”

Jumat Berbagi hari ini terasa berbeda.
Tidak hanya tentang santunan, tidak hanya tentang program.
Tapi tentang bagaimana Allah sendiri turun tangan
untuk melindungi satu langkah kecil menuju sebuah kebaikan.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
Semoga kisah ini menjadi penguat bagi siapa pun yang membacanya.
Bahwa Allah selalu dekat…
bahkan di sela-sela rintik hujan.



Tubuh yang Bicara

Hari ini aku duduk di ruang kerja, menatap layar komputer yang terus menyala. Pikiran ramai, tapi tubuh mulai memberi tanda. Rasanya seperti ditinju dari dalam, sakit, keringat dingin keluar, bahkan ingin muntah.

Mungkin ini akibat beberapa hari lembur tanpa jeda. Kadang kita lupa, tubuh pun punya bahasa. Ia bicara lewat rasa lelah, lewat diam, lewat sakit yang datang tiba-tiba.

Aku belajar bahwa hening bukan hanya dari pikiran, tapi juga dari tubuh yang meminta perhatian. Diam di depan layar hari ini bukan sekadar kosong, melainkan panggilan untuk berhenti, menarik napas, dan memberi ruang bagi diri sendiri.

Semoga esok lebih ringan, semoga tubuh kembali kuat. Karena setiap lelah pun bisa menjadi doa, agar kita tetap diberi keteguhan untuk melangkah.


Yang Menanggung Senyap

Di sudut kecil ruang kerja yang sunyi,

aku menata tugas demi tugas
dengan tangan yang pernah lelah,
tapi tak pernah benar-benar berhenti.

Ada amanah yang datang tanpa mengetuk,
ada tanggung jawab yang jatuh ke pangkuan
begitu saja,
tanpa ditanya apakah aku mampu,
atau sedang baik-baik saja.

Mereka diam.
Tapi aku tetap berjalan.
Dengan roda yang setia memeluk lantai,
dan doa yang tak pernah putus dari dada.

Aku bukan ingin disanjung,
bukan pula menagih balasan.
Hanya ingin sedikit bahu tempat bersandar,
sedikit suara yang berkata,
“Aku bantu.”

Tapi dunia tidak selalu begitu…
dan kadang, yang kuat harus menangis diam-diam,
agar esok pagi tetap terlihat tegar.

Hari-hari terakhir ini,
aku mengumpulkan remah keberanian
untuk menata program,
untuk menyambut kunjungan,
untuk menjaga senyum anak-anak binaan
agar tetap tumbuh meski kantong sendiri kosong.

Ya Allah…
Aku bukan pahlawan.
Hanya seorang hamba yang tak enak hati
melihat amanah tergeletak tanpa penjaga.

Maka biarkan air mata turun malam ini.
Biarkan beban itu luruh pada sajadah.
Karena aku tahu…
rezeki, kekuatan, dan pertolongan
tak pernah datang dari manusia,
tapi dari-Mu yang Maha Melihat
setiap langkah kecilku di tempat yang sepi.

Dan biarlah dunia tak paham,
asal Engkau paham.
Biarkan manusia diam,
asal Engkau mendengar.

Aku akan tetap berjalan,
pelan…
tapi pasti.
Dengan hati yang remuk,
tapi tetap hidup.

Karena aku percaya…
Selama tujuan ini lillah,
Engkau akan menuntun
walau jalanku penuh sunyi. 





Di Antara Amanah dan Sunyi

Di balik tumpukan berkas

dan agenda yang menunggu,
ada hatiku yang diam-diam letih,
menyimpan segala yang tak mungkin kuceritakan
pada siapa pun.

Aku berjalan sendirian
di jalan yang seharusnya dilalui bersama,
menggendong amanah yang kadang terlalu berat,
namun tetap kupeluk erat
karena aku tahu ini bukan sekadar tugas,
ini jalan kebaikan.

Aku yang tak pernah bersuara keras,
menyembunyikan luka di balik senyum kecil,
dan menyeka air mata
di sela-sela doa panjangku malam hari.

Bukan karena aku lemah,
tapi karena aku terlalu sering kuat
hingga tak ada tempat tersisa
untuk mengeluh pada manusia.

Kadang aku iri
pada mereka yang bisa meminta tolong
tanpa ragu,
yang dikelilingi tangan-tangan yang siap membantu.
Sementara aku…
menyusun rencana demi rencana
dengan tangan sendiri,
dengan rezeki yang tak seberapa,
dengan hati yang terus berkata,
“Bertahanlah… ini semua karena Allah.”

Jika dunia tak melihat,
tak apa…
karena aku tahu Allah melihat
bahkan setetes air mata yang jatuh
sebelum aku sempat menyentuhnya.

Jika manusia diam,
tak apa…
karena cukup satu doa kecil
untuk menjadikan langkahku kembali kuat.

Aku bukan ingin pujian,
hanya ingin sedikit dipahami.
Sedikit saja…

Tapi bila itu pun tak ada,
aku tetap berjalan
dengan bekal sabar,
dengan roda yang menemani,
dengan senyum anak-anak binaan
yang membuatku kembali ingat:
inilah alasanku bertahan.

Dan pada akhirnya,
aku yakin…
Allah akan mengembalikan setiap lelahku
dengan sesuatu yang jauh lebih indah
daripada yang pernah kupinta. 


Tiga Tahun Mengetuk Pintu, Hingga Allah Membukanya




Ada perjalanan yang tak pernah terlihat oleh mata orang lain.
Ada lelah yang tidak tercatat dalam laporan, tetapi tercetak dalam tulang belakang seseorang yang terus berdiri.
Ada doa yang tidak bersuara, tetapi mengguncang langit.
Dan itulah perjalanan kecilku bersama LKSA Peduli Sahabat Batang.

Tahun 2022, aku memberanikan diri mengirim proposal.
Dengan harapan sederhana: agar yayasan kecil ini punya napas untuk berjalan.
Belum ada jawaban.

Tahun 2023, aku kirim lagi.
Masih dengan keyakinan yang sama, meski jalannya terasa makin panjang.
Belum ada titik terang.

Tahun 2024 aku tetap mengetuk pintu yang sama.
Sampai akhirnya…
Tahun 2025, setelah tiga tahun menunggu,
pintu itu benar-benar dibukakan oleh Allah.
Dana hibah itu cair.
Dan aku menangis… bukan karena nominalnya,
tapi karena akhirnya yayasan ini diperhatikan.

 

Delapan tahun kami berjalan tanpa sarana prasarana.
Delapan tahun semua alat kerja adalah milikku pribadi
laptopku, meja kerjaku, printerku, semua kupakai untuk yayasan.
Sampai dua laptopku rusak dipakai untuk kerja sosial.

Aku masih ingat hari itu…
Laptopku mati total.
Tepat saat deadline tugas-tugas LKSA menumpuk.
Dan aku duduk lama… bingung harus bagaimana.
Sampai akhirnya aku menyewa laptop hanya untuk menyelesaikan laporan.
Begitu berat.
Tapi tetap kulakukan karena amanah ini bukan main-main.

Di titik paling lelah itu, Allah kirimkan bantuan:
seorang sahabat alumni SMA,
yang dengan kebaikan hatinya berkata,
“Pakai laptopku dulu an”
Dan hari itu… aku merasa seperti diberi napas.

Laptop pinjaman itu menjadi nyawa yayasan.
Menjadi jembatan agar semua laporan bisa selesai.
Menjadi bukti bahwa Allah menolong lewat tangan-tangan yang tak disangka.

Dan kini…
Yayasan kecil yang dulu tak punya apa-apa,
pelan-pelan bisa membeli laptop sendiri, komputer sendiri, meja, kursi, lemari arsip, perlengkapan kantor, dan semua kebutuhan dasar.

Bukan karena kami hebat.
Tetapi karena Allah menggerakkan hati banyak orang baik.

 

Hari ini, LPJ itu akhirnya selesai dan diserahkan.
Tebal, rapi, penuh perjuangan,
penuh malam tidak tidur, penuh kekhawatiran yang aku simpan sendiri.
Tapi juga penuh kelegaan…
karena untuk pertama kalinya, yayasan ini berdiri dengan fasilitas yang layak.

Aku menuliskan ini bukan untuk membanggakan diri
tetapi untuk mengingatkan diriku sendiri:

Bahwa doa yang terus dipanjatkan tidak pernah sia-sia.
Bahwa perjuangan sunyi suatu saat akan berbuah.
Bahwa kalau niatnya baik, Allah akan menolong dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dan bahwa setiap langkah kecil yang kutapakkan hari ini,
adalah hadiah dari tiga tahun yang tidak pernah berhenti mengetuk pintu.

Alhamdulillah…
Alhamdulillah…
Alhamdulillah ya Rabb.

LKSA Peduli Sahabat Batang,
semoga terus menjadi rumah bagi banyak harapan.
Dan semoga Allah menjaga setiap amanah yang dipercayakan kepada kami.

















Ruang Tamu & Tugas

Di ruang tamu kutemukan ketenangan,

lantai kuning, dinding hijau jadi saksi. Laptop terbuka, tugas perlahan kutulis, di sela cahaya yang masuk dari pintu kaca.

Ada langkah-langkah lewat di luar sana, seperti ide yang datang, lalu pergi. Kadang fokus pecah, kadang hati tertawa, namun semangat tetap duduk di kursi ini.

Ruang sederhana, perjalanan besar, hari ini tugasku jadi semangatku



Selembar Mori dan Titipan yang Tak Bertepi

Seringkali kita terlalu sibuk mematut diri di depan cermin dunia, hingga lupa bahwa pakaian terakhir kita hanyalah selembar kain mori. Tanpa saku, tanpa perhiasan, tanpa gelar yang kita banggakan.

Dunia ini memang panggung yang penuh prasangka. Kadang, saat kita memegang sebuah amanah besar, orang lain hanya melihat "bungkusnya". Mereka mengira ada kemewahan di sana, mengira ada keuntungan duniawi yang melimpah, hingga tanpa sadar mereka datang hanya untuk memanfaatkan atau sekadar mencari celah.

Padahal, hanya Allah yang tahu betapa seringnya pundak ini gemetar. Hanya Allah yang tahu berapa banyak "rahasia" yang harus disimpan rapat antara diri ini dengan sajadah sepertiga malam. Tentang bagaimana harus tetap tegak berdiri demi harapan orang lain, sementara diri sendiri sedang berjuang tertatih memenuhi kebutuhan pribadi.

Menjadi "penjaga amanah" itu sunyi. Kita dituntut untuk selalu ada, selalu memberi, dan selalu kuat. Namun, saya hanyalah manusia biasa. Ada kalanya rasa lelah itu datang menyapa, bukan karena ingin berhenti, tapi karena butuh jeda untuk sekadar bernapas dan menyadari bahwa saya pun butuh dicukupkan oleh-Nya.

Kelak, saat waktu saya selesai, saya akan meninggalkan semua ini. Entah itu gedung, sistem, atau nama baik yang selama ini dijaga. Saya ingin pulang dengan hati yang lapang, tanpa membawa beban dunia yang bukan milik saya.

Terima kasih untuk setiap ujian "prasangka" yang datang. Itu adalah cara Allah agar saya tidak terlalu cinta pada dunia dan lebih berharap pada balasan-Nya yang tak pernah salah alamat.


Pesona hari Ahad,

Ahad datang lagi

matahari tersenyum lebih hangat,

pemain inti tak mengenal libur, 

karena perjuangan tak pernah berhenti.


Hari Ahad tetap tempur, 

bertarung dengan file yang menumpuk, 

menyibak tumpukan kertas, 

dikejar deadline


Di balik lelah ada cahaya, 

di balik tempur ada doa, 

dan di setiap langkah, 

ada Allah yang menjaga.


Wa Ufawwidu Amri Ilallah

Di antara kertas dan deadline, 

Aku berbisik lirih: Wa ufawwidu amri ilallah.

Ya Allah, 

Aku berusaha sekuat yang kupunya, 

Namun aku tahu, 

Hasilnya tetap dalam genggaman-Mu.

Maka tenangkan hatiku,

Ringankan langkahku, 

Jadikan setiap tugas ini jalan menuju ridha-Mu.


Di Antara Amanah dan Doa

Di sepertiga malam yang sunyi,

aku duduk bersama lelah dan harap,
menyebut nama-Mu lirih, ya Rabb,
karena hidupku penuh titipan.

Aku pernah bercerita pada-Mu,
tentang langkah yang tertatih,
tentang amanah yang kupikul
lebih berat dari yang terlihat mata.

Aku tak tahu esok bagaimana,
apakah tanganku masih Kau kuatkan
untuk menjaga amanah ini,
atau kakiku masih Kau izinkan melangkah
di jalan pengabdian.

Ya Allah,
jika aku masih Kau percaya,
jagalah hatiku agar tak lalai,
luruskan niatku agar tak goyah,
kuatkan badanku agar tak mudah menyerah.

Aku ingin tetap bisa membantu
anak-anak yatim di bawah lindungan-Mu,
menjadi perantara kasih sayang-Mu,
meski hanya dengan tenaga yang terbatas,
meski hanya dengan doa dan kesungguhan.

Jika suatu hari aku lelah,
ingatkan aku bahwa ini bukan milikku,
bahwa semua hanya titipan,
dan aku hanyalah hamba
yang Kau beri kesempatan berkhidmat.

Ya Rabb,
jika aku masih bisa mendampingi,
jadikan aku pendamping yang lembut,
yang sabar, yang ikhlas,
yang tak berharap selain ridha-Mu.

Dan jika kelak Kau ambil amanah ini dariku,
ambil pula dengan husnul khatimah,
tanpa luka di hati,
tanpa penyesalan yang panjang.

Cukuplah Engkau tahu,
aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa,
menjaga, mendampingi,
dan mencintai amanah ini
karena-Mu semata.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.


Daily Volunteer

“Tidak semua perjuangan terlihat, tetapi setiap langkah kebaikan bernilai di sisi Allah.

Advokasi ini merupakan salah satu ikhtiar yayasan untuk memastikan keluarga pra-sejahtera mendapatkan hak bantuan sosial yang layak.

Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi untuk semakin memperkuat kepedulian dan solidaritas bersama.”