Tampilkan postingan dengan label VOLUNTEER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VOLUNTEER. Tampilkan semua postingan

Sembilan Tahun di Balik Layar

Sembilan tahun...

Kadang aku sendiri masih tidak percaya sudah selama itu.

Sembilan tahun berada di balik layar.
Mengurus banyak hal yang mungkin tidak terlihat oleh siapa-siapa.

Ada begitu banyak cerita yang tidak pernah tertulis.

Tentang malam-malam ketika pikiran tidak mau berhenti bekerja.

Tentang menghitung ini dan itu, memikirkan kebutuhan yang belum selesai, mencari jalan ketika keadaan sedang sempit, mencoba tersenyum ketika sebenarnya hati sedang penuh.

Tentang pesan-pesan yang harus dijawab.

Tentang tanggung jawab yang tetap harus berjalan, bahkan ketika diri sendiri sedang ingin berhenti sebentar.

Orang mungkin hanya melihat ketika sebuah kegiatan terlaksana.

Melihat bantuan sampai.

Melihat anak-anak tersenyum.

Melihat semuanya seperti berjalan biasa saja.

Tapi mereka tidak selalu tahu berapa banyak hal yang harus dipikirkan sebelum semuanya terlihat baik-baik saja.

Dan mungkin memang begitu menjadi seseorang yang berada di balik layar.

Tidak banyak yang tahu ketika kita sedang lelah.

Tidak banyak yang tahu ketika kita sedang bingung.

Tidak banyak yang tahu berapa kali kita menangis diam-diam, lalu keesokan harinya kembali duduk dan mengerjakan semuanya seperti biasa.

Aku pernah merasa ingin berhenti.

Bukan sekali.

Ada masa ketika aku bertanya dalam hati,

“Apakah aku masih sanggup?”

Kadang aku ingin sekali ada seseorang yang berkata,

"Sudah, kamu istirahat saja. Biar kali ini aku yang mengurusnya."

Tapi ternyata, tidak semua hal bisa seperti itu.

Ada yang tetap harus dikerjakan.

Ada yang tetap harus dipikirkan.

Dan akhirnya aku belajar berjalan sambil membawa lelah.

Aku juga belajar bahwa dalam perjalanan panjang, orang-orang bisa datang dan pergi.

Ada yang dulu begitu dekat, kemudian perlahan menjauh.

Ada yang pernah berjalan bersama, lalu memilih jalan masing-masing.

Ada yang mungkin tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik layar.

Dulu, mungkin semua itu membuatku sedih.

Sekarang aku hanya belajar menerima.

Karena mungkin memang begitulah perjalanan.

Tidak semua orang ditakdirkan tinggal sampai akhir.

Dan tidak semua yang pergi berarti meninggalkan keburukan.

Sebagian hanya selesai pada waktunya.

Sembilan tahun membuatku banyak berubah.

Aku tidak lagi terlalu ingin menjelaskan semuanya kepada semua orang.

Tidak lagi terlalu ingin membuktikan bahwa aku sudah melakukan banyak hal.

Sebab semakin lama aku berada di sini, semakin aku memahami bahwa tidak semua kebaikan membutuhkan tepuk tangan.

Ada hal-hal yang cukup Allah saja yang tahu.

Tentang usaha yang tidak terlihat.

Tentang air mata yang tidak diketahui.

Tentang doa-doa yang hanya disampaikan dalam sujud.

Tentang berkali-kali hampir menyerah, tetapi entah bagaimana selalu diberi kekuatan untuk mencoba sekali lagi.

Mungkin itulah bagian paling sunyi dari menjadi seorang pengurus.

Kita sering sibuk memastikan orang lain mendapatkan apa yang mereka butuhkan, sampai lupa bertanya kepada diri sendiri:

"Aku sendiri sebenarnya bagaimana?"

Dan hari ini aku ingin bertanya itu kepada diriku.

Bagaimana kabarmu?

Apakah kamu masih bahagia?

Apakah kamu masih ikhlas?

Apakah kamu masih kuat?

Atau sebenarnya kamu hanya sudah terlalu terbiasa mengatakan, “InsyaAllah bisa,” setiap kali keadaan terasa berat?

Aku tidak tahu.

Mungkin jawabannya sedikit dari semuanya.

Aku lelah.

Tapi aku masih peduli.

Aku pernah kecewa.

Tapi aku masih ingin berbuat baik.

Aku pernah ingin menyerah.

Tapi ternyata hatiku belum benar-benar bisa meninggalkan amanah ini.

Sembilan tahun bukan tentang seberapa hebat aku bertahan.

Justru semakin lama aku berjalan, semakin aku sadar bahwa aku tidak mungkin bertahan hanya dengan kekuatanku sendiri.

Ada pertolongan Allah di setiap langkah yang bahkan sering tidak kusadari.

Ada rezeki yang datang di saat yang tepat.

Ada orang baik yang muncul ketika aku hampir tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa.

Ada jalan yang tiba-tiba terbuka ketika semua terasa buntu.

Maka kalau hari ini aku masih berada di sini, mungkin bukan karena aku hebat.

Mungkin karena Allah masih mengizinkan.

Dan itu cukup untuk membuatku bersyukur.

Sembilan tahun...

Ternyata perjalanan ini bukan hanya tentang mengurus sebuah lembaga.

Perjalanan ini juga tentang mengurus hati.

Belajar ikhlas.

Belajar sabar.

Belajar menerima.

Belajar melepaskan.

Belajar bahwa tidak semua yang kita rencanakan akan berjalan sesuai keinginan.

Dan belajar bahwa terkadang, bertahan bukan berarti harus terus memaksakan diri.

Ada waktunya berhenti sebentar.

Menangis.

Mengambil napas.

Lalu kembali berjalan ketika hati sudah sedikit lebih tenang.

Hari ini aku tidak ingin mengatakan bahwa aku akan selalu kuat.

Aku tidak tahu.

Aku juga tidak tahu berapa lama lagi perjalanan ini akan berlangsung.

Yang aku tahu, sembilan tahun ini sudah menyimpan terlalu banyak cerita untuk sekadar disebut sebagai sebuah perjalanan.

Ada bagian dari hidupku yang tertinggal di dalamnya.

Ada air mata.

Ada tawa.

Ada kecewa.

Ada harapan.

Ada doa.

Dan ada begitu banyak nama yang pernah hadir dalam perjalanan ini.

Untuk semuanya, aku hanya bisa berkata:

terima kasih.

Dan untuk diriku sendiri...

terima kasih sudah bertahan.

Terima kasih sudah tetap mencoba meskipun berkali-kali merasa tidak sanggup.

Terima kasih sudah tetap memilih kebaikan, bahkan ketika keadaan tidak selalu baik kepadamu.

Kalau suatu hari nanti aku benar-benar merasa lelah, semoga aku tidak merasa bersalah untuk beristirahat.

Sebab aku sudah berjalan cukup jauh.

Dan kalau ternyata masih ada jalan panjang di depan sana, semoga Allah yang menggenggam tanganku.

Bukan karena aku yakin bisa.

Tetapi karena aku percaya,

selama Allah masih menitipkan amanah, Allah pula yang akan memberikan kekuatan untuk menjalaninya.

Sembilan tahun di balik layar.

Tidak selalu terlihat.

Tidak selalu dipahami.

Tidak selalu mudah.

Tapi Alhamdulillah...

aku masih di sini.



Langkah yang Kembali Menguatkan

Ada hari-hari ketika perjuangan terasa begitu sunyi.

Laporan dikirim ke grup, tetapi hanya centang biru yang datang. Ajakan untuk bersedekah disampaikan dengan harapan ada hati yang tergerak, namun balasan sering kali hanya keheningan. Rasanya seperti berbicara kepada ruang yang kosong.

Aku pernah bertanya dalam hati, "Haruskah aku terus membuat laporan? Haruskah aku terus mengingatkan?"

Lalu aku tersenyum sendiri.

Bukankah sejak awal perjuangan ini memang bukan tentang banyaknya tepuk tangan? Bukan pula tentang banyaknya orang yang memuji. Yayasan ini lahir karena ingin menjadi jalan manfaat. Selama masih ada anak-anak yang menunggu uluran tangan, selama masih ada amanah yang harus dijaga, maka langkah ini akan terus berjalan, meski perlahan.

Hari ini Allah kembali memberikan hadiah kecil yang membuat hatiku hangat.

Nomor Induk Berusaha (NIB) yayasan akhirnya resmi terbit.

Mungkin bagi sebagian orang itu hanya selembar dokumen. Namun bagiku, itu adalah jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan diam-diam. Bukti bahwa setiap berkas yang diurus, setiap antrean yang dijalani, setiap usaha yang tampak sederhana, tidak pernah luput dari perhatian Allah.

Aku bahkan mencetaknya, melaminatingnya, lalu memasangnya dalam pigura.

Bukan untuk berbangga diri.

Tetapi agar setiap kali melihatnya, aku kembali diingatkan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang terus berikhtiar.

Perjalanan ini masih panjang.

Masih banyak mimpi yang belum terwujud. Aku masih berharap suatu hari nanti yayasan memiliki tempat yang lebih layak, program yang semakin luas, dan semakin banyak anak yang bisa merasakan kasih sayang dari orang-orang baik yang Allah kirimkan.

Namun hari ini aku memilih untuk berhenti sejenak.

Bukan berhenti melangkah.

Melainkan berhenti untuk bersyukur.

Karena sering kali kita terlalu sibuk mengejar tujuan besar hingga lupa merayakan langkah-langkah kecil yang telah Allah mudahkan.

Aku belajar satu hal.

Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar, dan menjaga amanah sebaik mungkin.

Adapun siapa yang Allah gerakkan untuk membantu, dari mana rezeki itu datang, dan kapan pertolongan itu tiba, semuanya adalah hak Allah.

Maka aku ingin terus melangkah dengan tenang.

Tidak menggantungkan harapan kepada manusia.

Tidak mengukur keberhasilan dari ramainya komentar atau banyaknya respons.

Cukup memastikan bahwa setiap hari ada satu langkah kecil yang mendekatkanku kepada tujuan yang Allah ridai.

Hari ini langkah kecil itu bernama NIB.

Besok, entah apa lagi hadiah dari langit.

Aku tidak tahu.

Tetapi aku percaya, selama Allah masih menuntunku untuk melangkah, selalu ada alasan untuk menjaga harapan.

"Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)."
(QS. At-Talaq: 3)

Semoga suatu hari nanti, ketika aku membaca kembali catatan ini, aku bisa tersenyum sambil berkata,

"Ya Allah... ternyata benar. Engkau tidak pernah meninggalkan hamba-Mu yang terus mengetuk pintu-Mu."

Allahumma aghnini bi fadhlika 'amman siwak.

Allahumma sugeh. Allahumma duit okeh. Allahumma sehat. Allahumma bahagia. Allahumma sukses.

Aamiin ya Mujibassailiin.


Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya, Tapi AKU

Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya

Hari ini aku belajar satu hal penting: jangan buru-buru menyalahkan link.

Beberapa saat lalu Dinas Sosial mengirimkan file Instrumen Akreditasi LKS. Semangat sekali aku ingin mempelajarinya. Namun ketika file itu kubuka, hasilnya nihil. Tidak terbuka. Aku mencoba lagi. Tetap tidak bisa.

Dalam hati mulai muncul berbagai dugaan.

"Mungkin link-nya rusak."

"Mungkin filenya bermasalah."

Karena merasa ada yang tidak beres, aku pun menghubungi petugas yang mengirimkan file tersebut. Dengan penuh keyakinan aku menyampaikan bahwa file tidak bisa dibuka.

Beberapa saat kemudian beliau membalas singkat.

"Link apa?"

Di titik itu aku mulai sedikit bingung, tetapi tetap menjelaskan dengan serius. Setelah itu aku menunggu balasan.

Sementara menunggu, aku mencoba membuka file itu lagi. Kali ini aku memperhatikan lebih teliti. Lalu aku melihat tiga huruf kecil yang sebelumnya tidak terlalu kuperhatikan:

RAR.

Aku terdiam.

RAR?

Bukankah itu berarti file harus diekstrak terlebih dahulu?

Dengan rasa penasaran bercampur harap-harap cemas, aku menekan tombol "Ekstrak".

Dan...

Subhanallah.

Semua file langsung muncul dengan rapi.

Instrumen ada.

Dokumen ada.

Semuanya ada.

Saat itulah aku menyadari sebuah fakta yang cukup menampar harga diri:

Linknya tidak bermasalah.

File-nya tidak bermasalah.

Yang bermasalah adalah...

Aku.😄

Dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, aku sudah lebih dulu melapor bahwa file tidak bisa dibuka. Padahal aku sendiri belum mengekstraknya.

Akhirnya aku kembali menghubungi petugas tersebut.

"Maaf, Pak. Ternyata filenya sudah bisa dibuka. Saya lupa mengekstrak file RAR terlebih dahulu."

Alhamdulillah beliau belum sempat repot-repot mencari solusi untuk masalah yang ternyata berasal dari diriku sendiri

Pelajaran hari ini:

Sebelum menyalahkan sistem, link, aplikasi, atau jaringan internet, pastikan dulu file RAR sudah diekstrak

Karena terkadang masalah teknologi yang terlihat rumit ternyata hanya membutuhkan satu tombol kecil bernama"Ekstrak".

Dan terkadang, rasa malu datang bukan karena kita gagal, melainkan karena kita terlalu percaya diri sebelum membaca petunjuk. 😅


Belakangan aku baru sadar, mungkin akar masalahnya bukan pada file RAR itu.

Akar masalahnya dimulai hari sebelumnya.

Aku tidak hadir dalam Rakor LKKS.

Setelah itu, aku juga lupa meminta notulen kepada sekretaris LKKS

Akibatnya, ketika semua orang sudah memahami alur dan berkas yang dibagikan, aku masih sibuk menebak-nebak sendiri.

Dan seperti biasa, orang yang menebak tanpa informasi lengkap sering kali sampai pada kesimpulan yang salah.

Termasuk aku yang dengan percaya diri mengira link bermasalah, padahal file itu hanya menunggu untuk diekstrak.

KALIAN GA TAU KAN?

Hari ini aku kembali menyusuri rutinitas di kantor: menata arsip yang mulai menumpuk, mencetak kegiatan Jumat Berbagi, dan memperbarui cetakan surat masuk dari dinas untuk lembaga tri semester pertama. Di sela kesibukan itu, waktuku juga terbagi untuk live affiliate di TikTok, sambil menjaga ritme menulis bab‑bab baru novel yang sudah terjadwal setiap harinya.

Kadang aku tersenyum sendirI.... kalian ga tahu kan? semua ini aku jalani sendiri. Kalau pun minta bantuan orang, aku yang menanggung biayanya, bukan yayasan. Di sini tidak ada gaji, hanya niat dan keikhlasan yang terus aku jaga.

Setiap aktivitas terasa seperti potongan puzzle yang perlahan membentuk gambaran besar perjalanan hidup. Ada kerja, ada berbagi, ada kreativitas yang terus tumbuh. Semoga Allah senantiasa melapangkan hati, melapangkan rezeki, memberi kesehatan, dan menguatkan langkah dalam setiap ikhtiar… 🤲



Pelan-Pelan Menuju Rumah yang Allah Siapkan

Rabu pagi yang sederhana,

namun penuh makna yang tak biasa.

 

Aku duduk di hadapan layar,

mendengarkan satu per satu kata,

tentang aturan, tentang langkah,

tentang bagaimana sebuah lembaga bertumbuh dengan arah.

 

Hari ini aku belajar,

bahwa tidak semua langkah harus berlari,

tidak semua mimpi harus segera dimiliki.

 

Ada yang perlu dipersiapkan,

ada yang harus dipantaskan,

dan ada yang memang harus menunggu waktu terbaiknya datang.

 

Kami mungkin belum memiliki tanah,

belum berdiri di atas bangunan sendiri,

namun kami tetap berdiri

di atas niat, doa, dan kepedulian yang tak pernah berhenti.

 

Karena bagi kami,

rumah bukan sekadar dinding dan atap,

melainkan tempat di mana harapan anak-anak

tetap hidup dan dijaga.

 

Dan hari ini, aku mengerti,

bahwa setiap proses adalah bagian dari perjalanan.

Pelan… tapi pasti.

 

Menuju tempat yang telah Allah siapkan,

di waktu yang paling tepat.


 

Ucapan Terima Kasih

Di antara perjalanan hari ini,

ada satu hal yang tidak ingin aku lewatkan:

ucapan terima kasih

untuk seseorang yang telah meluangkan waktunya,

meninggalkan kesibukannya,

dan memilih untuk hadir demi sebuah amanah kecil

yang tidak mungkin kuselesaikan sendiri.


Terima kasih…

atas support yang tidak pernah setengah hati,

atas kesediaan mengantar, menunggu, dan mendampingi,

atas kesabaran yang menenangkan langkahku hari ini.


Tanpa beliau,

SPT yayasan ini tidak akan terkirim.

Karena NPWP beliau terhubung otomatis di sistem,

karena tanda tangan beliau yang dibutuhkan,

karena kehadirannya yang memudahkan.


Segala kemudahan hari ini

adalah bentuk kasih Allah

yang disampaikan melalui tangan-tangan baik

yang Allah hadirkan tepat pada waktunya.


Dan aku bersyukur…

benar-benar bersyukur,

bahwa di tengah lelahku,

ada seseorang yang tetap memilih berada di sisiku

hingga amanah ini terselesaikan.


Terima kasih…

semoga setiap langkah dan waktunya

Allah balas dengan kebaikan yang lebih luas dari langit.

Tubuh yang Bicara

Hari ini aku duduk di ruang kerja, menatap layar komputer yang terus menyala. Pikiran ramai, tapi tubuh mulai memberi tanda. Rasanya seperti ditinju dari dalam, sakit, keringat dingin keluar, bahkan ingin muntah.

Mungkin ini akibat beberapa hari lembur tanpa jeda. Kadang kita lupa, tubuh pun punya bahasa. Ia bicara lewat rasa lelah, lewat diam, lewat sakit yang datang tiba-tiba.

Aku belajar bahwa hening bukan hanya dari pikiran, tapi juga dari tubuh yang meminta perhatian. Diam di depan layar hari ini bukan sekadar kosong, melainkan panggilan untuk berhenti, menarik napas, dan memberi ruang bagi diri sendiri.

Semoga esok lebih ringan, semoga tubuh kembali kuat. Karena setiap lelah pun bisa menjadi doa, agar kita tetap diberi keteguhan untuk melangkah.


Yang Menanggung Senyap

Di sudut kecil ruang kerja yang sunyi,

aku menata tugas demi tugas
dengan tangan yang pernah lelah,
tapi tak pernah benar-benar berhenti.

Ada amanah yang datang tanpa mengetuk,
ada tanggung jawab yang jatuh ke pangkuan
begitu saja,
tanpa ditanya apakah aku mampu,
atau sedang baik-baik saja.

Mereka diam.
Tapi aku tetap berjalan.
Dengan roda yang setia memeluk lantai,
dan doa yang tak pernah putus dari dada.

Aku bukan ingin disanjung,
bukan pula menagih balasan.
Hanya ingin sedikit bahu tempat bersandar,
sedikit suara yang berkata,
“Aku bantu.”

Tapi dunia tidak selalu begitu…
dan kadang, yang kuat harus menangis diam-diam,
agar esok pagi tetap terlihat tegar.

Hari-hari terakhir ini,
aku mengumpulkan remah keberanian
untuk menata program,
untuk menyambut kunjungan,
untuk menjaga senyum anak-anak binaan
agar tetap tumbuh meski kantong sendiri kosong.

Ya Allah…
Aku bukan pahlawan.
Hanya seorang hamba yang tak enak hati
melihat amanah tergeletak tanpa penjaga.

Maka biarkan air mata turun malam ini.
Biarkan beban itu luruh pada sajadah.
Karena aku tahu…
rezeki, kekuatan, dan pertolongan
tak pernah datang dari manusia,
tapi dari-Mu yang Maha Melihat
setiap langkah kecilku di tempat yang sepi.

Dan biarlah dunia tak paham,
asal Engkau paham.
Biarkan manusia diam,
asal Engkau mendengar.

Aku akan tetap berjalan,
pelan…
tapi pasti.
Dengan hati yang remuk,
tapi tetap hidup.

Karena aku percaya…
Selama tujuan ini lillah,
Engkau akan menuntun
walau jalanku penuh sunyi. 





Di Antara Amanah dan Sunyi

Di balik tumpukan berkas

dan agenda yang menunggu,
ada hatiku yang diam-diam letih,
menyimpan segala yang tak mungkin kuceritakan
pada siapa pun.

Aku berjalan sendirian
di jalan yang seharusnya dilalui bersama,
menggendong amanah yang kadang terlalu berat,
namun tetap kupeluk erat
karena aku tahu ini bukan sekadar tugas,
ini jalan kebaikan.

Aku yang tak pernah bersuara keras,
menyembunyikan luka di balik senyum kecil,
dan menyeka air mata
di sela-sela doa panjangku malam hari.

Bukan karena aku lemah,
tapi karena aku terlalu sering kuat
hingga tak ada tempat tersisa
untuk mengeluh pada manusia.

Kadang aku iri
pada mereka yang bisa meminta tolong
tanpa ragu,
yang dikelilingi tangan-tangan yang siap membantu.
Sementara aku…
menyusun rencana demi rencana
dengan tangan sendiri,
dengan rezeki yang tak seberapa,
dengan hati yang terus berkata,
“Bertahanlah… ini semua karena Allah.”

Jika dunia tak melihat,
tak apa…
karena aku tahu Allah melihat
bahkan setetes air mata yang jatuh
sebelum aku sempat menyentuhnya.

Jika manusia diam,
tak apa…
karena cukup satu doa kecil
untuk menjadikan langkahku kembali kuat.

Aku bukan ingin pujian,
hanya ingin sedikit dipahami.
Sedikit saja…

Tapi bila itu pun tak ada,
aku tetap berjalan
dengan bekal sabar,
dengan roda yang menemani,
dengan senyum anak-anak binaan
yang membuatku kembali ingat:
inilah alasanku bertahan.

Dan pada akhirnya,
aku yakin…
Allah akan mengembalikan setiap lelahku
dengan sesuatu yang jauh lebih indah
daripada yang pernah kupinta. 


Tiga Tahun Mengetuk Pintu, Hingga Allah Membukanya




Ada perjalanan yang tak pernah terlihat oleh mata orang lain.
Ada lelah yang tidak tercatat dalam laporan, tetapi tercetak dalam tulang belakang seseorang yang terus berdiri.
Ada doa yang tidak bersuara, tetapi mengguncang langit.
Dan itulah perjalanan kecilku bersama LKSA Peduli Sahabat Batang.

Tahun 2022, aku memberanikan diri mengirim proposal.
Dengan harapan sederhana: agar yayasan kecil ini punya napas untuk berjalan.
Belum ada jawaban.

Tahun 2023, aku kirim lagi.
Masih dengan keyakinan yang sama, meski jalannya terasa makin panjang.
Belum ada titik terang.

Tahun 2024 aku tetap mengetuk pintu yang sama.
Sampai akhirnya…
Tahun 2025, setelah tiga tahun menunggu,
pintu itu benar-benar dibukakan oleh Allah.
Dana hibah itu cair.
Dan aku menangis… bukan karena nominalnya,
tapi karena akhirnya yayasan ini diperhatikan.

 

Delapan tahun kami berjalan tanpa sarana prasarana.
Delapan tahun semua alat kerja adalah milikku pribadi
laptopku, meja kerjaku, printerku, semua kupakai untuk yayasan.
Sampai dua laptopku rusak dipakai untuk kerja sosial.

Aku masih ingat hari itu…
Laptopku mati total.
Tepat saat deadline tugas-tugas LKSA menumpuk.
Dan aku duduk lama… bingung harus bagaimana.
Sampai akhirnya aku menyewa laptop hanya untuk menyelesaikan laporan.
Begitu berat.
Tapi tetap kulakukan karena amanah ini bukan main-main.

Di titik paling lelah itu, Allah kirimkan bantuan:
seorang sahabat alumni SMA,
yang dengan kebaikan hatinya berkata,
“Pakai laptopku dulu an”
Dan hari itu… aku merasa seperti diberi napas.

Laptop pinjaman itu menjadi nyawa yayasan.
Menjadi jembatan agar semua laporan bisa selesai.
Menjadi bukti bahwa Allah menolong lewat tangan-tangan yang tak disangka.

Dan kini…
Yayasan kecil yang dulu tak punya apa-apa,
pelan-pelan bisa membeli laptop sendiri, komputer sendiri, meja, kursi, lemari arsip, perlengkapan kantor, dan semua kebutuhan dasar.

Bukan karena kami hebat.
Tetapi karena Allah menggerakkan hati banyak orang baik.

 

Hari ini, LPJ itu akhirnya selesai dan diserahkan.
Tebal, rapi, penuh perjuangan,
penuh malam tidak tidur, penuh kekhawatiran yang aku simpan sendiri.
Tapi juga penuh kelegaan…
karena untuk pertama kalinya, yayasan ini berdiri dengan fasilitas yang layak.

Aku menuliskan ini bukan untuk membanggakan diri
tetapi untuk mengingatkan diriku sendiri:

Bahwa doa yang terus dipanjatkan tidak pernah sia-sia.
Bahwa perjuangan sunyi suatu saat akan berbuah.
Bahwa kalau niatnya baik, Allah akan menolong dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dan bahwa setiap langkah kecil yang kutapakkan hari ini,
adalah hadiah dari tiga tahun yang tidak pernah berhenti mengetuk pintu.

Alhamdulillah…
Alhamdulillah…
Alhamdulillah ya Rabb.

LKSA Peduli Sahabat Batang,
semoga terus menjadi rumah bagi banyak harapan.
Dan semoga Allah menjaga setiap amanah yang dipercayakan kepada kami.

















Ruang Tamu & Tugas

Di ruang tamu kutemukan ketenangan,

lantai kuning, dinding hijau jadi saksi. Laptop terbuka, tugas perlahan kutulis, di sela cahaya yang masuk dari pintu kaca.

Ada langkah-langkah lewat di luar sana, seperti ide yang datang, lalu pergi. Kadang fokus pecah, kadang hati tertawa, namun semangat tetap duduk di kursi ini.

Ruang sederhana, perjalanan besar, hari ini tugasku jadi semangatku



Selembar Mori dan Titipan yang Tak Bertepi

Seringkali kita terlalu sibuk mematut diri di depan cermin dunia, hingga lupa bahwa pakaian terakhir kita hanyalah selembar kain mori. Tanpa saku, tanpa perhiasan, tanpa gelar yang kita banggakan.

Dunia ini memang panggung yang penuh prasangka. Kadang, saat kita memegang sebuah amanah besar, orang lain hanya melihat "bungkusnya". Mereka mengira ada kemewahan di sana, mengira ada keuntungan duniawi yang melimpah, hingga tanpa sadar mereka datang hanya untuk memanfaatkan atau sekadar mencari celah.

Padahal, hanya Allah yang tahu betapa seringnya pundak ini gemetar. Hanya Allah yang tahu berapa banyak "rahasia" yang harus disimpan rapat antara diri ini dengan sajadah sepertiga malam. Tentang bagaimana harus tetap tegak berdiri demi harapan orang lain, sementara diri sendiri sedang berjuang tertatih memenuhi kebutuhan pribadi.

Menjadi "penjaga amanah" itu sunyi. Kita dituntut untuk selalu ada, selalu memberi, dan selalu kuat. Namun, saya hanyalah manusia biasa. Ada kalanya rasa lelah itu datang menyapa, bukan karena ingin berhenti, tapi karena butuh jeda untuk sekadar bernapas dan menyadari bahwa saya pun butuh dicukupkan oleh-Nya.

Kelak, saat waktu saya selesai, saya akan meninggalkan semua ini. Entah itu gedung, sistem, atau nama baik yang selama ini dijaga. Saya ingin pulang dengan hati yang lapang, tanpa membawa beban dunia yang bukan milik saya.

Terima kasih untuk setiap ujian "prasangka" yang datang. Itu adalah cara Allah agar saya tidak terlalu cinta pada dunia dan lebih berharap pada balasan-Nya yang tak pernah salah alamat.


Daily Volunteer

A quiet corner, not grand just sincere.  

A green wall, a soft rug, a tray of water.

This is where kindness sits,  

where prayers echo in silence,  

where the weak are welcomed without judgment. I sit here not to impress, but to serve, to protect, to remember.  

That even in a small room,  Allah's mercy can fill every corner


Hasbunallahu wa ni'mal wakil. 

La hawla wa la quwwata illa billah


Daily Volunteer

“Tidak semua perjuangan terlihat, tetapi setiap langkah kebaikan bernilai di sisi Allah.

Advokasi ini merupakan salah satu ikhtiar yayasan untuk memastikan keluarga pra-sejahtera mendapatkan hak bantuan sosial yang layak.

Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi untuk semakin memperkuat kepedulian dan solidaritas bersama.”



Milad Ke-8 Yayasan

Delapan tahun sudah jejak ini terukir,

Dari langkah kecil yang penuh ragu,

Hingga menjadi perjalanan panjang,

Menyulam kasih, doa, dan harapan.


Tak selalu mudah,

Ada hujan deras ujian yang mengguyur,

Ada jalan terjal yang melelahkan,

Namun selalu ada cahaya,

Dari senyum anak-anak yatim yang menjadi alasan kami bertahan.


Dari ruang sederhana hingga meluas jadi rumah cinta,

Dari keraguan hingga teguh dengan keyakinan,

Dari sedikit tangan hingga kini banyak hati bersatu,

Semua karena kasih Allah yang tak pernah putus.


Hari ini,

Kami bersyukur bukan pada angka,

Tapi pada setiap cerita yang terukir,

Pada setiap doa yang terpanjat,

Pada setiap tawa kecil yang kembali menguatkan.


Delapan tahun bukan akhir,

Melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang,

Semoga langkah ini selalu terjaga dalam ridho-Nya,

Menjadi jalan kebaikan tanpa henti,

Untuk anak-anak yatim yang menjadi amanah sekaligus cahaya




RAKOR LKKS

Di antara dinding hitam dan meja kayu,  

Kita duduk dalam lingkaran niat baik.  

Bukan sekadar menghadiri undangan,  

Tapi menyambung silaturahmi,  

Menguatkan ikatan, dan merajut rencana untuk kesejahteraan.  


Setiap senyum adalah semangat baru,  

Setiap bincang adalah langkah maju,  

Karena kita percaya,  

Kebaikan akan sampai lebih jauh, jika dijalankan bersama.  


Kamis itu menjadi saksi,  

LKKS tak hanya nama,  

Tapi rumah bagi hati

Yang ingin melayani.


Dari Pelukan Kecil, Kini Mereka Berlari

Dulu...

Kami menyambut mereka dalam pelukan kecil

Tangis tanpa ayah, senyum yang tetap kuat walau kehilangan arah.

Satu per satu kami datangi, bukan sekadar memberi,

tapi mendengarkan... merangkul... menemani tumbuhnya harapan.


Hari ini, mereka berlari kecil ke sekolah

dengan seragam yang dulu hanya mimpi,

dengan tawa yang kini tak lagi diselimuti sepi.

Mereka tumbuh... dan kami menjadi saksi

bahwa kasih yang tulus tak pernah sia-sia.


Ada rindu di dada ini

rindu mengetuk pintu rumah mereka,

rindu cerita polos dan peluk hangat dari anak-anak luar biasa.

Semoga kelak, langkah kaki kami kembali diberi daya,

untuk menjemput senyum mereka satu per satu...

dalam kasih yang tak pernah padam.


Untuk anak-anak binaan tercinta, dari LKSA Peduli Sahabat Batang


RINDU YANG TAK BISA DIAM

(Kutulis untuk anak2 LKSA Peduli Sahabat Batang)


Hari-hari berlalu dalam kesibukan,

tapi di sela itu, ada rindu yang diam-diam tumbuh dalam diam.

Rindu senyum-senyum polos penuh harapan,

rindu tawa kecil yang tulus, tanpa beban.


Mereka bukan sekadar anak binaan,

mereka bagian dari doa yang kusebutkan setiap malam.

Setiap nama, setiap wajah,

tersimpan rapi di ruang hati yang tak pernah lelah.


Andai bisa kugenggam waktu,

ingin sekali datang dan memeluk satu-satu.

Bercerita, mendengar, dan menyeka duka,

walau hanya dengan tatapan hangat seadanya.


Ya Robb.. sampaikan rinduku lewat angin,

biar mereka tahu:

di manapun aku berada…

mereka tak pernah jauh dari doa.



LILLAH, MAKA KUAT

Kami melangkah bukan karena kuat,

tapi karena Allah yang menguatkan niat.

Tak digaji, tak dipuji,

tapi hati ini cukup dengan ridha Ilahi.


Kami relawan,

bekerja senyap dalam bising dunia,

mengulurkan tangan di kala lupa,

mengusap luka yang tak tampak mata.


Tak perlu sanjungan,

karena yang kami harap hanya pandangan Tuhan.

Tak perlu upah,

karena yang kami cari adalah berkah.


Jika lelah mulai menjalar,

kami ingat:

“Barang siapa meringankan beban saudaranya,

maka Allah akan ringankan hidupnya di dunia dan akhirat.”


Jangan lelah, wahai hati yang ikhlas,

karena kerja kita bukan untuk dilihat manusia,

tapi agar bernilai di hadapan-Nya.


DAILY VOLUNTEER


Di pagi yang sunyi, langkah pun berlari,

Menggapai harapan di sudut negeri,
Bukan mahkota, bukan puji,
Hanya hati yang ingin berbagi.

Tangan-tangan kecil menyapa hangat,
Mata berbinar meski langkah terpijat,
Relawan datang bukan untuk harta,
Tapi cinta yang selalu nyata.

Setiap hari adalah cerita baru,
Menghapus duka, membangun mimpi yang semu,
Di balik letih, senyum pun mekar,
Karena peduli tak pernah pudar.

Tak ada bayaran, tak ada tanda jasa,
Namun hati lapang penuh makna,
Daily volunteer, cahaya di kelam,
Menjadi pelita di malam yang suram.

Meski lelah menyapa di penghujung hari,
Hati bahagia, jiwa pun berseri,
Karena di setiap langkah yang tak terhitung,
Ada cinta yang terus menyambung.