Tampilkan postingan dengan label VOLUNTEER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VOLUNTEER. Tampilkan semua postingan

Salah Jam di Hari Sabtu: Panik Kecil yang Jadi Kenangan Ramadhan

Tentang fokus, lelah, dan tawa kecil yang lahir dari amanah Ramadhan.

Hari Sabtu itu harusnya jadi hari istirahat.
Tapi sejak pagi aku sudah duduk di depan meja yang penuh kertas, amplop coklat, dan print-printan proposal.
Tanganku sibuk menempel, melipat, menyusun, sementara pikiranku fokus pada jasa jilid yang tutup jam empat sore.

Aku terlalu tenggelam dalam pekerjaan.
Terlihat dari betapa mudahnya aku salah membaca waktu.

Saat jam menunjukkan pukul 14.00, entah kenapa di pikiranku berubah menjadi jam 16.00.
Aku langsung panik.
Kalau telat sedikit saja, tukang jilid tutup.
Kalau tutup, besok Minggu libur.
Kalau libur, Senin aku tidak bisa mengantar proposal ke bu ketua dan instansi-instansi yang menunggu.

Tanpa pikir panjang, aku panggil mbak yang sedang memasak.
“Cepet, mbak… jilid sekarang, keburu tutup!”
Mbak sampai mematikan kompor dan buru-buru pergi.


Aku pun chat pegawai tempat print.

“Sudah tutup belum, mbak?”

Dijawab: “Belum, masih buka mbak”

Masyaa Allah, lega.
Tapi panikku masih tersisa.

Beberapa menit kemudian, sambil mengetik “nama-nama” untuk amplop berikutnya, aku melirik jam lagi.
Dan di sana aku baru sadar…

Itu masih jam 2 siang.


Masih panjang.
Perjalanan pun dekat.

Aku terdiam sejenak, lalu tertawa pelan sambil istighfar.
Panikku barusan ternyata hanyalah akibat kecapekan.
Sejak malam belum tidur, fokus dari pagi, sampai waktu rasanya berjalan lebih cepat dari biasanya.

Tapi di balik semua itu, aku merasa hangat.
Karena di tengah kekacauan kecil ini, aku sedang menyiapkan sesuatu yang insyaa Allah bernilai besar:
untuk anak-anak yatim,
untuk Ramadhan,
untuk amanah.

Kadang, kesalahan kecil, bahkan salah jam, justru jadi kenangan manis.
Karena ia mengingatkanku bahwa lelah dalam kebaikan tetap terasa ringan,
selama niatnya karena Allah.



Ramadhan Hari ke-3: Tentang Ikhlas yang Tidak Tampak

Belajar berjalan sendiri tanpa merasa sendirian, karena Allah selalu melihat.

Ramadhan hari ke-3…
di antara sepi dan lelah yang tidak selalu terlihat, aku belajar satu hal:
bahwa tidak semua yang berjalan sendirian itu berarti tak ada yang peduli.
Kadang, Allah hanya ingin menunjukkan siapa yang benar-benar bertahan karena-Nya.

Ada saat-saat di mana usaha terasa berat, langkah terasa sendiri, 
Bukan karena aku ingin disanjung, bukan ingin dipuji
hanya berharap ada yang ikut menguatkan.
Tapi justru dari sepinya respons, Allah mengajariku arti keikhlasan yang sesungguhnya.

Bahwa sosial itu bukan tentang banyaknya orang.
Bukan tentang siapa yang datang atau tidak datang.
Sosial adalah tentang hati.
Tentang kesediaan untuk tetap melangkah, meski langkah orang lain tak selalu seirama.
Tentang terus memberi, meski tidak ada yang melihat.

Di Ramadhan ini, semoga aku dipertemukan dengan orang-orang baik yang hatinya lembut 
Mereka datang tanpa diminta, membantu tanpa diminta,

Dan aku belajar…
bahwa kebaikan itu tidak selalu datang dari tempat yang kita kira.

Hari ini aku kembali mengingatkan diri sendiri:
bahwa setiap langkah kecil membawa keberkahan besar,
bahwa setiap tetes lelah dicatat sebagai amal,
bahwa setiap senyum anak yatim adalah doa yang naik ke langit tanpa jeda.

Ramadhan hari ke-3…
semoga Allah menerima setiap usaha yang mungkin tak terlihat oleh manusia,
namun tak pernah luput dari pandangan-Nya.



Ketika Langit Membuka Jalan

Jumat Berbagi — Ramadhan 2026

Sejak pagi, hujan turun tanpa jeda. Langit kelabu, bumi basah, dan udara terasa berat.

Di tengah derasnya hujan itu, ada satu kegelisahan kecil yang tumbuh di hatiku:
“Bagaimana anak yatim itu bisa datang ke kantor? Hujannya terlalu deras… kasihan dia.”

Jam terus berjalan.
Undangan kami terjadwal pukul 13.00.
Hujan masih deras, seolah tidak ingin berhenti.
Aku hanya bisa menatap jendela dan berdoa dalam hati,
“Ya Allah… mudahkan langkah kecilnya. Jangan biarkan ia kehujanan.”

Lalu sesuatu terjadi.
Ketika jarum jam tepat menyentuh pukul satu…
hujan tiba-tiba reda.
Awan membuka diri.
Cahaya matahari turun dengan lembut, seperti salam dari langit.

Adik yatim itu datang tepat waktu.
Kakinya tidak basah, bajunya tidak basah, langkahnya ringan.
Seolah alam pun menunggu kedatangannya.

Dan setelah ia pulang…
hujan turun lagi.
Lebih deras dari sebelumnya.
Seolah langit menutup pintunya kembali setelah memberi ruang bagi satu urusan kebaikan.

Masyaa Allah…
Hatiku langsung bergetar.

Betapa lembutnya Allah menata setiap detik.
Betapa halus pertolongan-Nya.
Betapa besar perhatian-Nya pada niat baik sekecil apa pun.

Ini bukan kebetulan.
Ini adalah cara Allah menunjukkan:

“Selama kau berjalan di jalan kebaikan, Aku akan buka jalannya.”

Jumat Berbagi hari ini terasa berbeda.
Tidak hanya tentang santunan, tidak hanya tentang program.
Tapi tentang bagaimana Allah sendiri turun tangan
untuk melindungi satu langkah kecil menuju sebuah kebaikan.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
Semoga kisah ini menjadi penguat bagi siapa pun yang membacanya.
Bahwa Allah selalu dekat…
bahkan di sela-sela rintik hujan.



Tubuh yang Bicara

Hari ini aku duduk di ruang kerja, menatap layar komputer yang terus menyala. Pikiran ramai, tapi tubuh mulai memberi tanda. Rasanya seperti ditinju dari dalam, sakit, keringat dingin keluar, bahkan ingin muntah.

Mungkin ini akibat beberapa hari lembur tanpa jeda. Kadang kita lupa, tubuh pun punya bahasa. Ia bicara lewat rasa lelah, lewat diam, lewat sakit yang datang tiba-tiba.

Aku belajar bahwa hening bukan hanya dari pikiran, tapi juga dari tubuh yang meminta perhatian. Diam di depan layar hari ini bukan sekadar kosong, melainkan panggilan untuk berhenti, menarik napas, dan memberi ruang bagi diri sendiri.

Semoga esok lebih ringan, semoga tubuh kembali kuat. Karena setiap lelah pun bisa menjadi doa, agar kita tetap diberi keteguhan untuk melangkah.


Yang Menanggung Senyap

Di sudut kecil ruang kerja yang sunyi,

aku menata tugas demi tugas
dengan tangan yang pernah lelah,
tapi tak pernah benar-benar berhenti.

Ada amanah yang datang tanpa mengetuk,
ada tanggung jawab yang jatuh ke pangkuan
begitu saja,
tanpa ditanya apakah aku mampu,
atau sedang baik-baik saja.

Mereka diam.
Tapi aku tetap berjalan.
Dengan roda yang setia memeluk lantai,
dan doa yang tak pernah putus dari dada.

Aku bukan ingin disanjung,
bukan pula menagih balasan.
Hanya ingin sedikit bahu tempat bersandar,
sedikit suara yang berkata,
“Aku bantu.”

Tapi dunia tidak selalu begitu…
dan kadang, yang kuat harus menangis diam-diam,
agar esok pagi tetap terlihat tegar.

Hari-hari terakhir ini,
aku mengumpulkan remah keberanian
untuk menata program,
untuk menyambut kunjungan,
untuk menjaga senyum anak-anak binaan
agar tetap tumbuh meski kantong sendiri kosong.

Ya Allah…
Aku bukan pahlawan.
Hanya seorang hamba yang tak enak hati
melihat amanah tergeletak tanpa penjaga.

Maka biarkan air mata turun malam ini.
Biarkan beban itu luruh pada sajadah.
Karena aku tahu…
rezeki, kekuatan, dan pertolongan
tak pernah datang dari manusia,
tapi dari-Mu yang Maha Melihat
setiap langkah kecilku di tempat yang sepi.

Dan biarlah dunia tak paham,
asal Engkau paham.
Biarkan manusia diam,
asal Engkau mendengar.

Aku akan tetap berjalan,
pelan…
tapi pasti.
Dengan hati yang remuk,
tapi tetap hidup.

Karena aku percaya…
Selama tujuan ini lillah,
Engkau akan menuntun
walau jalanku penuh sunyi. 



Di Antara Amanah dan Sunyi

Di balik tumpukan berkas

dan agenda yang menunggu,
ada hatiku yang diam-diam letih,
menyimpan segala yang tak mungkin kuceritakan
pada siapa pun.

Aku berjalan sendirian
di jalan yang seharusnya dilalui bersama,
menggendong amanah yang kadang terlalu berat,
namun tetap kupeluk erat
karena aku tahu ini bukan sekadar tugas,
ini jalan kebaikan.

Aku yang tak pernah bersuara keras,
menyembunyikan luka di balik senyum kecil,
dan menyeka air mata
di sela-sela doa panjangku malam hari.

Bukan karena aku lemah,
tapi karena aku terlalu sering kuat
hingga tak ada tempat tersisa
untuk mengeluh pada manusia.

Kadang aku iri
pada mereka yang bisa meminta tolong
tanpa ragu,
yang dikelilingi tangan-tangan yang siap membantu.
Sementara aku…
menyusun rencana demi rencana
dengan tangan sendiri,
dengan rezeki yang tak seberapa,
dengan hati yang terus berkata,
“Bertahanlah… ini semua karena Allah.”

Jika dunia tak melihat,
tak apa…
karena aku tahu Allah melihat
bahkan setetes air mata yang jatuh
sebelum aku sempat menyentuhnya.

Jika manusia diam,
tak apa…
karena cukup satu doa kecil
untuk menjadikan langkahku kembali kuat.

Aku bukan ingin pujian,
hanya ingin sedikit dipahami.
Sedikit saja…

Tapi bila itu pun tak ada,
aku tetap berjalan
dengan bekal sabar,
dengan roda yang menemani,
dengan senyum anak-anak binaan
yang membuatku kembali ingat:
inilah alasanku bertahan.

Dan pada akhirnya,
aku yakin…
Allah akan mengembalikan setiap lelahku
dengan sesuatu yang jauh lebih indah
daripada yang pernah kupinta. 


Tiga Tahun Mengetuk Pintu, Hingga Allah Membukanya




Ada perjalanan yang tak pernah terlihat oleh mata orang lain.
Ada lelah yang tidak tercatat dalam laporan, tetapi tercetak dalam tulang belakang seseorang yang terus berdiri.
Ada doa yang tidak bersuara, tetapi mengguncang langit.
Dan itulah perjalanan kecilku bersama LKSA Peduli Sahabat Batang.

Tahun 2022, aku memberanikan diri mengirim proposal.
Dengan harapan sederhana: agar yayasan kecil ini punya napas untuk berjalan.
Belum ada jawaban.

Tahun 2023, aku kirim lagi.
Masih dengan keyakinan yang sama, meski jalannya terasa makin panjang.
Belum ada titik terang.

Tahun 2024 aku tetap mengetuk pintu yang sama.
Sampai akhirnya…
Tahun 2025, setelah tiga tahun menunggu,
pintu itu benar-benar dibukakan oleh Allah.
Dana hibah itu cair.
Dan aku menangis… bukan karena nominalnya,
tapi karena akhirnya yayasan ini diperhatikan.

 

Delapan tahun kami berjalan tanpa sarana prasarana.
Delapan tahun semua alat kerja adalah milikku pribadi
laptopku, meja kerjaku, printerku, semua kupakai untuk yayasan.
Sampai dua laptopku rusak dipakai untuk kerja sosial.

Aku masih ingat hari itu…
Laptopku mati total.
Tepat saat deadline tugas-tugas LKSA menumpuk.
Dan aku duduk lama… bingung harus bagaimana.
Sampai akhirnya aku menyewa laptop hanya untuk menyelesaikan laporan.
Begitu berat.
Tapi tetap kulakukan karena amanah ini bukan main-main.

Di titik paling lelah itu, Allah kirimkan bantuan:
seorang sahabat alumni SMA,
yang dengan kebaikan hatinya berkata,
“Pakai laptopku dulu an”
Dan hari itu… aku merasa seperti diberi napas.

Laptop pinjaman itu menjadi nyawa yayasan.
Menjadi jembatan agar semua laporan bisa selesai.
Menjadi bukti bahwa Allah menolong lewat tangan-tangan yang tak disangka.

Dan kini…
Yayasan kecil yang dulu tak punya apa-apa,
pelan-pelan bisa membeli laptop sendiri, komputer sendiri, meja, kursi, lemari arsip, perlengkapan kantor, dan semua kebutuhan dasar.

Bukan karena kami hebat.
Tetapi karena Allah menggerakkan hati banyak orang baik.

 

Hari ini, LPJ itu akhirnya selesai dan diserahkan.
Tebal, rapi, penuh perjuangan,
penuh malam tidak tidur, penuh kekhawatiran yang aku simpan sendiri.
Tapi juga penuh kelegaan…
karena untuk pertama kalinya, yayasan ini berdiri dengan fasilitas yang layak.

Aku menuliskan ini bukan untuk membanggakan diri
tetapi untuk mengingatkan diriku sendiri:

Bahwa doa yang terus dipanjatkan tidak pernah sia-sia.
Bahwa perjuangan sunyi suatu saat akan berbuah.
Bahwa kalau niatnya baik, Allah akan menolong dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dan bahwa setiap langkah kecil yang kutapakkan hari ini,
adalah hadiah dari tiga tahun yang tidak pernah berhenti mengetuk pintu.

Alhamdulillah…
Alhamdulillah…
Alhamdulillah ya Rabb.

LKSA Peduli Sahabat Batang,
semoga terus menjadi rumah bagi banyak harapan.
Dan semoga Allah menjaga setiap amanah yang dipercayakan kepada kami.

















Ruang Tamu & Tugas

Di ruang tamu kutemukan ketenangan,

lantai kuning, dinding hijau jadi saksi. Laptop terbuka, tugas perlahan kutulis, di sela cahaya yang masuk dari pintu kaca.

Ada langkah-langkah lewat di luar sana, seperti ide yang datang, lalu pergi. Kadang fokus pecah, kadang hati tertawa, namun semangat tetap duduk di kursi ini.

Ruang sederhana, perjalanan besar, hari ini tugasku jadi semangatku



Selembar Mori dan Titipan yang Tak Bertepi

Seringkali kita terlalu sibuk mematut diri di depan cermin dunia, hingga lupa bahwa pakaian terakhir kita hanyalah selembar kain mori. Tanpa saku, tanpa perhiasan, tanpa gelar yang kita banggakan.

Dunia ini memang panggung yang penuh prasangka. Kadang, saat kita memegang sebuah amanah besar, orang lain hanya melihat "bungkusnya". Mereka mengira ada kemewahan di sana, mengira ada keuntungan duniawi yang melimpah, hingga tanpa sadar mereka datang hanya untuk memanfaatkan atau sekadar mencari celah.

Padahal, hanya Allah yang tahu betapa seringnya pundak ini gemetar. Hanya Allah yang tahu berapa banyak "rahasia" yang harus disimpan rapat antara diri ini dengan sajadah sepertiga malam. Tentang bagaimana harus tetap tegak berdiri demi harapan orang lain, sementara diri sendiri sedang berjuang tertatih memenuhi kebutuhan pribadi.

Menjadi "penjaga amanah" itu sunyi. Kita dituntut untuk selalu ada, selalu memberi, dan selalu kuat. Namun, saya hanyalah manusia biasa. Ada kalanya rasa lelah itu datang menyapa, bukan karena ingin berhenti, tapi karena butuh jeda untuk sekadar bernapas dan menyadari bahwa saya pun butuh dicukupkan oleh-Nya.

Kelak, saat waktu saya selesai, saya akan meninggalkan semua ini. Entah itu gedung, sistem, atau nama baik yang selama ini dijaga. Saya ingin pulang dengan hati yang lapang, tanpa membawa beban dunia yang bukan milik saya.

Terima kasih untuk setiap ujian "prasangka" yang datang. Itu adalah cara Allah agar saya tidak terlalu cinta pada dunia dan lebih berharap pada balasan-Nya yang tak pernah salah alamat.


Pesona hari Ahad,

Ahad datang lagi

matahari tersenyum lebih hangat,

pemain inti tak mengenal libur, 

karena perjuangan tak pernah berhenti.


Hari Ahad tetap tempur, 

bertarung dengan file yang menumpuk, 

menyibak tumpukan kertas, 

dikejar deadline


Di balik lelah ada cahaya, 

di balik tempur ada doa, 

dan di setiap langkah, 

ada Allah yang menjaga.


Wa Ufawwidu Amri Ilallah

Di antara kertas dan deadline, 

Aku berbisik lirih: Wa ufawwidu amri ilallah.

Ya Allah, 

Aku berusaha sekuat yang kupunya, 

Namun aku tahu, 

Hasilnya tetap dalam genggaman-Mu.

Maka tenangkan hatiku,

Ringankan langkahku, 

Jadikan setiap tugas ini jalan menuju ridha-Mu.


Di Antara Amanah dan Doa

Di sepertiga malam yang sunyi,

aku duduk bersama lelah dan harap,
menyebut nama-Mu lirih, ya Rabb,
karena hidupku penuh titipan.

Aku pernah bercerita pada-Mu,
tentang langkah yang tertatih,
tentang amanah yang kupikul
lebih berat dari yang terlihat mata.

Aku tak tahu esok bagaimana,
apakah tanganku masih Kau kuatkan
untuk menjaga amanah ini,
atau kakiku masih Kau izinkan melangkah
di jalan pengabdian.

Ya Allah,
jika aku masih Kau percaya,
jagalah hatiku agar tak lalai,
luruskan niatku agar tak goyah,
kuatkan badanku agar tak mudah menyerah.

Aku ingin tetap bisa membantu
anak-anak yatim di bawah lindungan-Mu,
menjadi perantara kasih sayang-Mu,
meski hanya dengan tenaga yang terbatas,
meski hanya dengan doa dan kesungguhan.

Jika suatu hari aku lelah,
ingatkan aku bahwa ini bukan milikku,
bahwa semua hanya titipan,
dan aku hanyalah hamba
yang Kau beri kesempatan berkhidmat.

Ya Rabb,
jika aku masih bisa mendampingi,
jadikan aku pendamping yang lembut,
yang sabar, yang ikhlas,
yang tak berharap selain ridha-Mu.

Dan jika kelak Kau ambil amanah ini dariku,
ambil pula dengan husnul khatimah,
tanpa luka di hati,
tanpa penyesalan yang panjang.

Cukuplah Engkau tahu,
aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa,
menjaga, mendampingi,
dan mencintai amanah ini
karena-Mu semata.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.


Daily Volunteer

“Tidak semua perjuangan terlihat, tetapi setiap langkah kebaikan bernilai di sisi Allah.

Advokasi ini merupakan salah satu ikhtiar yayasan untuk memastikan keluarga pra-sejahtera mendapatkan hak bantuan sosial yang layak.

Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi untuk semakin memperkuat kepedulian dan solidaritas bersama.”



KARENA ALLAH MAHA MELIHAT


Di jalan sunyi perjuangan,

Ada hati-hati yang tetap bertahan.

Tak digaji, tak selalu dipuji,

Tapi memilih melangkah demi kemanusiaan yang hakiki.


Ada yang memberi dengan diam,

Ada yang memberi dengan ramai.

Ada yang peduli sampai ke detail,

Bahkan memikirkan ongkos dan lelah yang mengiringi amal.


Terkadang harus merogoh saku sendiri,

Untuk administrasi, logistik, atau sekadar transportasi.

Namun semua dijalani dengan senyum,

Karena keyakinan bahwa semua ini bukan untuk dunia semata.


Dunia sosial memang tak selalu mudah,

Tak semua berjalan lurus seperti yang diharap.

Namun di tengah segala ujian dan celah,

Selalu ada cahaya: Allah yang Maha Melihat segala langkah.


Pejuang kemanusiaan tak selalu punya panggung,

Namun mereka punya langit sebagai saksi.

Tak selalu dipeluk oleh manusia,

Namun selalu dijaga oleh Yang Maha Cinta.


Teruslah melangkah,

Walau pelan, walau sendiri.

Karena di balik letih yang tersembunyi,

Ada pahala yang Allah simpan abadi.

Dari Pelukan Kecil, Kini Mereka Berlari

Dulu...

Kami menyambut mereka dalam pelukan kecil

Tangis tanpa ayah, senyum yang tetap kuat walau kehilangan arah.

Satu per satu kami datangi, bukan sekadar memberi,

tapi mendengarkan... merangkul... menemani tumbuhnya harapan.


Hari ini, mereka berlari kecil ke sekolah

dengan seragam yang dulu hanya mimpi,

dengan tawa yang kini tak lagi diselimuti sepi.

Mereka tumbuh... dan kami menjadi saksi

bahwa kasih yang tulus tak pernah sia-sia.


Ada rindu di dada ini

rindu mengetuk pintu rumah mereka,

rindu cerita polos dan peluk hangat dari anak-anak luar biasa.

Semoga kelak, langkah kaki kami kembali diberi daya,

untuk menjemput senyum mereka satu per satu...

dalam kasih yang tak pernah padam.


Untuk anak-anak binaan tercinta, dari LKSA Peduli Sahabat Batang


Mari Menjadi Bagian dari Perubahan Hidup Seorang Anak yatim piatu

Dik Ririn, anak yatim piatu yang tinggal di rumah tak layak huni,

akan segera memiliki tempat tinggal yang lebih layak melalui misi sosial Tim CAA.

Kami mengetuk hati sahabat semua,

untuk ikut bergandengan tangan,

membangun harapan,

menghadirkan kenyamanan.


Satu keping donasi darimu,

adalah batu bata bagi rumah masa depannya.

Setiap rupiah yang kau beri,

bisa jadi saksi kebaikan yang tak pernah mati.


Bersama Tim CAA,

kita wujudkan rumah penuh cinta untuk Dik Ririn.

Bismillah, semoga menjadi amal jariyah tak terputus


JEJAK MENUJU REDHO-NYA

Mereka berjalan tanpa pamrih,  

Menata rumah bagi jiwa yang sunyi,  

Di tangan mereka, harapan terlahir,  

Di langkah mereka, kasih bersemi.  


Bukan harta yang mereka kejar,  

Bukan sanjungan yang mereka harapkan,  

Hanya ridha Allah yang mereka cari,  

Hanya keberkahan yang mereka nanti.  


Di mata anak-anak yatim yang bersinar,  

Ada rahmat yang turun dari langit,  

Bukan sekadar bangunan yang mereka dirikan,  

Tapi perlindungan yang dititipkan.  


Tak ada upah tertulis di dunia,  

Namun ada pahala yang tak terhitung,  

Setiap bata yang mereka letakkan,  

Mengukir pahala yang tak terhitung


Teruslah berjuang, wahai para pembawa cahaya,  

Jangan lelah dalam memberi,  

Karena yang kau bangun bukan hanya rumah,  

Tapi doa yang mengalir hingga akhir nanti.  


Ana

CAALovers


SAMBUTAN & DOA UNTUK TIM CAA

"Allahumma yassir walaa tu’assir"

Ya Allah, mudahkanlah, jangan Engkau persulit..."


Dalam langkah penuh berkah kalian datang,

Membawa cahaya harapan di tengah keterbatasan,

Tak sekadar kamera atau konten jalan,

Namun hati yang peduli, yang tak semua orang bisa tunjukkan.


Adik kecil kami, Ririn namanya,

Sejak dini menapaki hidup tanpa pelukan ibu 

Tanpa teduhnya naungan seorang ayah,

Namun Allah tak pernah pergi…

Ia kirimkan kalian 

Sebagai perpanjangan tangan kasih-Nya.


Hari ini bukan sekadar survey,

Ini adalah momen dituliskannya cerita baru,

Tentang rumah yang mungkin akan dibangun,

Tentang hidup yang semoga kembali punya ruang untuk tumbuh dan berlindung.


Kami berdoa…

Semoga langkah kalian ringan dan diberkahi,

Dipenuhi kemudahan dari awal hingga akhir,

Dilindungi dari segala hal yang memberatkan hati dan pikiran.

Diberi balasan terbaik oleh Allah, dunia dan akhirat,

Dan semoga setiap konten yang dihasilkan,

Menjadi jalan dakwah dan jembatan rezeki yang tak terputuskan.


Aamiin Ya Mujibassailiin.

Terima kasih telah peduli.

Selamat datang, pejuang kebaikan sejati 


Ana

24052025


RINDU YANG TAK BISA DIAM

(Kutulis untuk anak2 LKSA Peduli Sahabat Batang)


Hari-hari berlalu dalam kesibukan,

tapi di sela itu, ada rindu yang diam-diam tumbuh dalam diam.

Rindu senyum-senyum polos penuh harapan,

rindu tawa kecil yang tulus, tanpa beban.


Mereka bukan sekadar anak binaan,

mereka bagian dari doa yang kusebutkan setiap malam.

Setiap nama, setiap wajah,

tersimpan rapi di ruang hati yang tak pernah lelah.


Andai bisa kugenggam waktu,

ingin sekali datang dan memeluk satu-satu.

Bercerita, mendengar, dan menyeka duka,

walau hanya dengan tatapan hangat seadanya.


Ya Robb.. sampaikan rinduku lewat angin,

biar mereka tahu:

di manapun aku berada…

mereka tak pernah jauh dari doa.



LILLAH, MAKA KUAT

Kami melangkah bukan karena kuat,

tapi karena Allah yang menguatkan niat.

Tak digaji, tak dipuji,

tapi hati ini cukup dengan ridha Ilahi.


Kami relawan,

bekerja senyap dalam bising dunia,

mengulurkan tangan di kala lupa,

mengusap luka yang tak tampak mata.


Tak perlu sanjungan,

karena yang kami harap hanya pandangan Tuhan.

Tak perlu upah,

karena yang kami cari adalah berkah.


Jika lelah mulai menjalar,

kami ingat:

“Barang siapa meringankan beban saudaranya,

maka Allah akan ringankan hidupnya di dunia dan akhirat.”


Jangan lelah, wahai hati yang ikhlas,

karena kerja kita bukan untuk dilihat manusia,

tapi agar bernilai di hadapan-Nya.