Tampilkan postingan dengan label LANGITDIDADA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LANGITDIDADA. Tampilkan semua postingan

Hari yang Penuh Isyarat

 Di balik sakit dan listrik padam, ada semangat yang tetap menyala

Hari ini terasa begitu padat, penuh kejadian yang datang bertubi‑tubi. Tubuhku sedang sakit, tapi tetap harus menanggapi pesan dari dinas yang meminta soft file lama, sesuatu yang sudah bertahun‑tahun tersimpan.

Belum selesai urusan itu, listrik mati seharian. Tugas yang harusnya bisa kuselesaikan jadi tertunda, dan di saat yang sama ada kabar dari pengadilan yang membuat hatiku bergetar.

Ketika listrik kembali menyala, aku membuka WhatsApp. Grup LKKS sudah ramai dengan surat undangan untuk Senin besok. Rasanya seperti dunia bergerak cepat, sementara aku masih berusaha menata langkah.

Di tengah semua itu, aku tetap berusaha menulis. Novel untuk kompetisi harus selesai 30 bab dalam 17 hari. Alhamdulillah, sudah 11 bab kutuntaskan. Meski sakit, meski listrik mati, meski pikiran bercabang ke pengadilan dan undangan, aku tetap menulis.

Hari ini mengajarkanku bahwa hidup memang penuh kejutan. Ada sakit, ada tugas, ada listrik padam, ada panggilan pengadilan, ada undangan mendadak. Tapi ada juga semangat yang terus hidup, ada doa yang terus terucap: Allahumma yassir wa laa tu’assir.

Aku belajar menerima bahwa semua ini bagian dari perjalanan. Aku tidak bisa mengendalikan segalanya, tapi aku bisa memilih untuk tetap melangkah, tetap menulis, tetap berharap.

Fa inna ma’al ‘usri yusra. Inna ma’al ‘usri yusra



BAB 6 UPDATE - HARAMKAH - LANGIT DIDADA

Liburan keluarga Raka yang seharusnya menyenangkan mendadak berakhir.

Satu telepon mengubah semuanya.

Ibunya dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani perawatan intensif di ICU.

Di tengah kecemasan sebagai seorang anak, Raka juga dihadapkan pada janji yang telah ia berikan kepada Sabrina.

Perjalanan ke luar negeri.

Honeymoon yang sudah lama mereka rencanakan.

Namun saat keluarga sedang diuji seperti ini...

masih pantaskah ia pergi?


HARAMKAH..? - Langit Didada *Chapter : JANJI YANG TERTUNDA* Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah: https://kbm.id/book/read/a8200d42-1d6c-4a3d-8745-f6f9f97fa407/df88d094-eede-476d-b11f-fd2faa8bad99

BELAJAR DARI BINTANG – Zoom Hari Ini




 

Masyaa Allah, sesi perdana BDB KBM bersama Bapak Isa Alamsyah, CEO KBM App. Dari tanda tangan di surat perjanjian, kini satu frame langsung penuh inspirasi 📚

Dilanjutkan sesi kedua bersama Asma Nadia, dengan bintang tamu Dr. Helvy Tiana Rosa. ✍️ Menulis Tanpa Menunggu Mood 🔥 Sebuah pelajaran berharga: konsistensi lebih penting daripada menunggu mood datang


Update Novel KLI 17

Alhamdulillah, "Cintai Aku Karena Allah" sudah sampai Bab 7. 🤍

Dan jujur...

Aku tidak menyangka akan menangis saat menulis beberapa adegannya.

Terutama saat seorang gadis kecil bernama Gladis diberi kesempatan meminta hadiah, namun justru memilih berbagi dengan anak-anak panti asuhan.

Perjalanan Gladis masih panjang.

Masih banyak rahasia yang belum terungkap.

Masih banyak ujian yang menanti.

Bismillah menuju 30 bab.

Doakan penulis istiqamah sampai selesai ya.





Pancasila, Nafas Persatuan By Langit Didada

Di tanah yang terbentang dari sabang hingga merauke,

berjuta langkah menapaki jalan yang sama.

Berbeda bahasa, adat, dan warna,

namun tetap satu dalam cinta Indonesia.


Pancasila hadir bagai pelita,

menerangi jalan bangsa yang beragam.

Menuntun hati untuk saling menghargai,

menguatkan tangan dalam semangat gotong royong.


Ketuhanan menjadi cahaya jiwa,

kemanusiaan menjadi wajah bangsa.

Persatuan menjelma ikatan yang kokoh,

musyawarah menghadirkan kebijaksanaan,

keadilan menjadi cita-cita bersama.


Hari ini, kita mengenang lahirmu,

bukan sekadar sebagai dasar negara,

melainkan sebagai janji yang terus dijaga,

agar Indonesia tetap berdiri megah dan bermartabat.


Wahai Pancasila,

engkau bukan hanya rangkaian kata,

engkau adalah nafas persatuan,

yang menghidupkan harapan di setiap generasi.


Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila

1 Juni 2026

Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia


https://www.wattpad.com/1632980398-pancasila-nafas-persatuan

KLI 17 - KBM App

Bismillah

Dengan penuh rasa syukur, novelku yang berjudul *Cintai Aku Karena Allah* resmi mengikuti Kompetisi Literasi Indonesia (KLI) 17 di KBM App.

📖 Sebuah kisah tentang perjuangan, luka, kesabaran, kehilangan, dan perjalanan hati dalam mencari cinta yang diridhai Allah.

Perjalanan ini masih panjang, target masih banyak, dan bab demi bab masih harus ditulis. Namun aku percaya, setiap langkah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa kita lebih dekat pada tujuan.

Mohon doa dan dukungannya, semoga Allah memudahkan proses penulisan hingga tamat dan menjadikan karya ini bermanfaat bagi banyak orang. 🤲

Karena 30 bab tidak ditulis dalam satu hari.

30 bab diselesaikan satu per satu, dengan sabar dan istiqamah. 

Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung dan mendoakan. Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan keberkahan yang berlipat ganda. 



“Suamiku Lukaku: Luka yang Terkunci”

Menulis Suamiku Lukaku adalah perjalanan hati. Setiap kata lahir dari luka yang pernah ada, lalu perlahan berubah menjadi makna. Bab awal terbuka untuk semua pembaca, sebagai pintu pertama menuju cerita. Namun bab berikutnya kini lock, hanya bisa unlock dengan koin di KBM App.

Lock bukanlah akhir, melainkan tanda eksklusif. Ia menjadi simbol bahwa kisah ini dititipkan kepada pembaca yang benar-benar setia. Semoga setiap bab yang terbuka bukan sekadar hiburan, tapi juga cermin kehidupan, doa, dan inspirasi.

📖 Suamiku Lukaku — Langit di Dada



Suamiku Lukaku — Langit di Dada Bab awal terbuka, bab berikutnya lock… unlock dengan koin. 📖 Klik di sini: http://kbm.id/book/detail/f5d2b01b-667d-4e7b-a4c3-b414808e0f9b

CERPEN - “Iduladha di Dusun Negeri Angin”

Menjelang siang, matahari sudah mulai naik tinggi. Panitia mulai membereskan peralatan, anak-anak yang tadi main kejar-kejaran kini duduk kecapekan sambil makan es lilin, dan Ibu-ibu… tentu masih berkumpul, belum bubar. Mak-mak kalau sudah kumpul itu ibarat rapat desa tanpa agenda, ngalor-ngidul tapi seru.

Bu Mirna masih memandangi plastik dagingnya seperti memandangi mantan yang tidak sesuai ekspektasi.

“Cuma segini… rasanya tuh… kayak nunggu chat yang tak pernah dibalas,” gumamnya.

Bu Rina langsung ngakak sampai melorot jilbabnya.

“Ya ampun Mirna, kamu tuh puitis banget kalau lagi kecewa.”

“Terserah. Yang penting sore ini aku mau masak juga, tapi jadi bingung mau masak apa…”

Tiba-tiba Bu Tatik ikut nimbrung. Ibu satu ini terkenal suka berkomentar pedas, tapi justru dia yang paling jarang bantu-bantu panitia.

“Ya masak apa aja lah, Bu. Sedikit juga yang penting jadi. Kita ini harus bersyukur…”
Nada suaranya terdengar… menggurui.

Bu Rina bisik-bisik ke Bu Mirna:
“Itu mulut paling nyinyir sedusun. Sering bilang ‘bersyukur’ karena dia tadi dapat bagian yang paling banyak.”

Bu Mirnai langsung manyun,
“Iyaaa! Pantes ngomongnya gampang betul. Dia dapat bagian besar. Kalo dapat kecil, pasti langsung bikin IG story ‘Dunia tidak adil’.”

Ibu-ibu lain langsung ngakak.

Bu Tatik yang merasa dirinya sedang diperhatikan mendadak mendekat,
“Apa tuh? Pada ketawa apa? Cerita lucu yaaa?”

Ibu-ibu kompak jawab,
“Lagi bahas resep masakan, Bu!”

Padahal tidak ada hubungannya sama resep.

Di pojokan balai, tampak Pak Karman dan anaknya yang kemarin upload foto sapi.

Si anak tampak gelisah karena sejak pagi banyak ibu-ibu nyeletuk,
“Lho, sapinya mana nak? Kok nggak disembelih di sini?”

Anaknya sudah lelah senyum palsu.

“Astaghfirullah… salah sendiri ngaku-ngaku,” bisik Bu Mirna.

Bu Rina menoyor lengannya,
“Jangan gituu… kasian kalau didenger. Tapi ya memang salah sendiri sih.”

Sementara itu, Mbah Dargo sudah pulang. Setelah sekian kali bolak-balik mengawasi timbangan digital yang dia tidak percaya, akhirnya beliau duduk di kursi depan rumah sambil nyeruput kopi.

“Yen panitia akeh ngono, yo sing nimbang gantian wae, ben ora curiga terus…” gumamnya, meski tidak ada siapa pun yang dimintai pendapat.

Istrinya cuma geleng-geleng.

“Mbah iki, urip kok isine curiga thok…”

Sore harinya, aroma masakan mulai merebak di seluruh Dusun Negeri Angin. Masing-masing rumah punya menu andalan.

Ada yang bikin sate, ada yang bikin gulai, ada yang bikin sop. Ada juga yang cuma bikin tumisan daging tipis karena bagian yang mereka dapat belum cukup buat satu piring besar.

Di rumah Bu Mirna, keadaan dapur seperti lokasi lomba memasak dadakan.

Bu Rina datang membawa tambahan daging seperti janjinya tadi.
“Ini yaaa… aku tambahin dikit, biar gulaimu nggak cuma rasa kuah.”

Bu Mirnai langsung memeluknya dramatis,
“Rinn… kamu tuh pahlawan keluarga kecilku!”

“Ya ampun lebay banget, Mir. Masak sanaaa!”

Mereka berdua akhirnya memasak bersama. Sambil nguleg bumbu, sambil gibah manis, sambil ngakak tiap kali ingat kejadian pagi tadi.

“Rin… kamu lihat ekspresi Bu Tatik waktu dipanggil dapat jatah? Kayak mau photoshoot majalah dapur!”

“HAHHAHA iyaaa! Dan dia sempat bilang, ‘Ah sedikit…’ padahal itu paling banyak!”

“Makanya… yang nyuruh orang lain bersyukur itu biasanya yang bagiannya paling gede!”

Mereka berdua ngakak lagi sampai harus pegangan meja.

Saat waktu Maghrib tiba, dusun itu terdengar sangat damai.

Suara takbir bersahutan dari musala kecil, aroma masakan menguar dari setiap rumah, dan para warga, meski sempat ada drama kecil, keluhan, dan nyinyiran, tetap duduk makan malam bersama keluarga masing-masing dengan hati hangat.

Di rumah Bu Mirna, gulai akhirnya jadi.

Tidak terlalu banyak memang… tapi cukup membuat seluruh keluarga makan dengan senyum puas.

“Bu, enak banget…” kata anaknya.

“Yaiyalah, ini gulai perjuangan,” jawab Bu Mirna sambil bangga.

Bu Rina menyusul datang sambil bawa sepiring sate,
“Mir, aku bagi sate juga. Biar komplit hari ini.”

Bu Mirna sampai terharu,
“Masyaa Allah, Rin… kamu tuh memang temen sejati…”

“Udah udah, jangan lebay. Makan sanaaaa!”

Mereka berdua makan sambil saling cerita, sambil tertawa, sambil sesekali saling sindir.

Dan begitulah…
Hari Raya Kurban di Dusun Negeri Angin selalu penuh warna.

Ada drama, ada tawa, ada ibu-ibu julid, ada kakek suudzon, ada bapak-bapak sok sibuk, ada yang dapat bagian banyak, ada yang dapat bagian sedikit, ada yang ngaku-ngaku kurban sapi, ada yang upload foto palsu…

Tapi pada akhirnya, semua kembali pada satu hal:

Kebersamaan.
Keikhlasan.
Dan tawa-tawa kecil yang membuat kehidupan terasa ringan.

Karena di dusun seperti ini,
bahkan perbedaan ukuran plastik daging pun bisa jadi bahan cerita seru sampai tahun depan.

— Tamat —

 

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447H
Taqobalallahu minna wa minkum



© 2026 Langit Didada
Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang menyalin, mengutip, mempublikasikan ulang tanpa izin penulis

Di Antara Takbir dan Doa yang Diam


Di antara gema takbir yang bersahutan,

ada doa-doa yang diam-diam dilangitkan.

Tentang hati yang ingin tetap kuat,

tentang langkah yang ingin tetap taat.


Idul Adha mengajarkan ikhlas,

meski kadang hidup tak selalu jelas.

Tentang melepaskan yang berat,

dan percaya Allah selalu paling tepat.


Maka hari ini,

biarlah air mata menjadi doa,

biarlah rindu menjadi sabar,

dan biarlah segala luka perlahan Allah tukar dengan bahagia.


Taqabbalallahu minna wa minkum 

Semoga Allah menerima setiap ketulusan yang tak pernah sempat diceritakan.





PERJALANAN DZULHIJJAHKU

Di awal Dzulhijah, tubuhku sempat rapuh,

Namun hati tetap berbisik lirih:

“Ya Allah, sehatkan aku,

Aku ingin puasa penuh sembilan hari.”


Alhamdulillah, Engkau kabulkan,

Langkahku ringan, puasaku terjaga,

Sembilan hari tanpa halangan,

Hanya syukur yang mengalir deras di dada.


Hari Arafah pun tiba,

Air mata jadi saksi keikhlasan,

Doa untuk sahabat, doa untuk keluarga,

Doa untuk jiwa yang mendamba ketentraman.


Idul Adha menyapa dengan takbir agung,

Allahu Akbar menggema di langit dan bumi,

Mengajarkan arti pengorbanan,

Menguatkan hati dalam ridha Ilahi.


BERBUKA DI DZULHIJJAH 9

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melancarkan ibadah puasa dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah tanpa halangan apapun. Hati terasa ringan menjalankannya, meski di awal sempat sakit. Dalam sahur aku berdoa: “Ya Allah, sehatkan aku, aku ingin puasa full 9 hari.” Dan benar, doa itu Engkau kabulkan.

Terima kasih ya Allah atas kesehatan, kekuatan, dan ketentraman hati yang Engkau anugerahkan. Semoga puasa ini menjadi amal yang Engkau terima, dan menjadi jalan menuju ridha-Mu

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Laa ilaaha illallahu wallahu Akbar

Allahu Akbar wa lillahil hamd


Refleksi Dzulhijjah ke‑9

Semalam penuh doa, ba’da Isya aku tenggelam dalam dzikir:

Laa ilaha illallahu wahdahu la syarika lah… seribu kali, sebagai penguat tauhid di dada.

Selesai dzikir, aku melanjutkan berbuka, lalu menulis bab demi bab novel KBM. Malam ini aku tidak tidur, bergadang demi menyelesaikan bab kedua. Setelah rampung, aku berdiri dalam tahajud, lalu sahur, dan menunaikan sedekah subuh.

Usai shalat Subuh, aku tenggelam dalam lantunan Surah Al‑Ikhlas seribu kali, mengisi pagi dengan cinta kepada Allah.

Mumpung masih pagi, aku siapkan tenaga untuk siang nanti: mengedit video produk affiliate sebelum Asar, agar ikhtiar duniawi tetap berjalan seiring ibadah.





Mahkota Eksklusif di KBM

Alhamdulillah… delapan novelku kini eksklusif di KBM, dan profilku pun diberi mahkota. Bukan untuk berbangga diri, tapi sebagai pengingat bahwa setiap langkah kecil yang dijaga dengan ikhlas bisa berbuah pengakuan.

Mahkota ini bukan sekadar simbol, melainkan amanah agar aku terus menulis dengan hati, menjaga keaslian karya, dan menghadirkan cerita yang bisa menjadi cahaya bagi pembaca.

Semoga Allah senantiasa melapangkan hati, melapangkan rezeki, dan menguatkan langkah dalam setiap ikhtiar… 🤲



Kirain jam 4.20, ternyata masih 3.20 😅

Semalam aku tidur lebih awal, sekitar jam 10. Biasanya terbangun di jam 1 atau 2, tapi kali ini aku lihat jam sudah menunjukkan 4.20. Aku pun buru‑buru sahur dengan air putih, pisang, dan obat. Namun hati masih bingung, karena biasanya menjelang subuh terdengar lantunan sholawat dan bacaan Al‑Qur’an dari masjid, tapi kali ini sepi.


Aku buka jadwal imsakiyah, ternyata belum masuk subuh. Lalu aku cek HP, kaget sekali… ternyata baru jam 03.20. Ya Allah, aku salah lihat jam dinding yang tertutup lighting live streaming. Alhamdulillah, masih banyak waktu untuk sahur dan bisa tahajud.


Pagi ini aku belum selesai menulis bab baru, masih berupa kerangka dan coretan. Ada kejadian lain juga: aku beli antena TV indoor, ternyata tidak bisa dipakai. Sudah panggil ahli pemasangan, tapi beliau baik sekali, tidak mau menerima ongkos karena antena tidak jadi dipasang. Disarankan pakai antena luar rumah, insyaAllah nanti kalau ada rezeki.


Hari ini puasa Dzulhijjah berjalan lancar hingga maghrib. Alhamdulillah, setiap kejadian kecil terasa sebagai pelajaran: tentang waktu, tentang syukur, dan tentang kebaikan orang lain.



Cahaya Sedekah di Pagi Hari

Bismillah

Pagi selalu datang membawa pesan syukur. Di setiap langkah kecil berbagi, ada doa yang terbang ke langit, ada senyum yang tumbuh di wajah orang lain. Inilah catatan hati, refleksi sederhana tentang bagaimana Allah melapangkan rezeki lewat tangan yang memberi.

Ya Allah, Sang Maha Pemberi,

cukupkanlah aku dengan kasih-Mu,

lapangkanlah rezeki yang Engkau titipkan,

agar tangan ini tak pernah letih memberi.

Ya Razzaq, Ya Dzul Quwwah,

kuatkan langkah meski kursi roda menuntun,

jadikan setiap sedekah cahaya,

yang membahagiakan hati banyak insan.

Dan kembalikanlah, ya Rabb,

setiap yang keluar dari genggamanku,

dengan lipatan rahmat,

agar aku tetap bisa menjadi jalan kebaikan.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan kasih-Mu,

lapangkanlah rezeki yang Engkau titipkan,

agar aku tetap bisa memberi,

meski pundak ini lelah,

meski langkah ini terbatas.

Jadikanlah setiap sedekah cahaya,

yang menghapus gelap dari hati,

dan mengundang senyum dari banyak wajah.

Aamiinn..

Semoga setiap langkah untuk berbagi menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup kita. Semoga Allah melipatgandakan rezeki, menguatkan hati, dan menjadikan kita perantara kebahagiaan bagi banyak orang. Ya Allah, jadikanlah sedekah ini bukan sekadar pemberian, tetapi jembatan menuju ridha-Mu.



LANGKAH DI JALAN BERKAH

Bismillah

Langkah kecil di jalan sunyi,

menjadi jejak menuju cahaya.

Senyum yatim, doa dermawan,

bertemu di pintu keberkahan 

Aku hanyalah perantara amanah,

namun setiap amplop yang terbuka

adalah doa yang terbang ke langit,

mengetuk rahmat Allah tanpa henti.


"Ya Allah, di hari penuh berkah ini aku bersyukur atas para dermawan yang Engkau gerakkan hatinya untuk berbagi dengan anak-anak yatim.

Aku hanyalah perantara kecil yang menyalurkan amanah, namun setiap senyum mereka adalah cahaya yang menenangkan hati.

Rezeki mungkin datang dari arah yang tak terduga, kadang cukup, kadang kurang, namun Engkau selalu menjaga jalan kebaikan ini.

Selama ada niat tulus untuk menjadi jalan bahagia bagi orang lain, aku percaya Engkau akan menjaga langkah kami.

Kuatkan aku dalam puasa, dalam amanah sosial, dan dalam karya-karya yang kutulis.

Jadikan setiap Jumat sebagai pintu keberkahan, ketenangan, dan kekuatan baru.

Aamiin.



NOVEL BARU "HARAMKAH" SUDAH TAYANG

Menjadi istri kedua tidak pernah ada dalam rencana hidup Sabrina.

Di usia 23 tahun, saat banyak perempuan seusianya masih mengejar mimpi dan karier, Sabrina justru menerima pinangan seorang pria yang telah memiliki keluarga.

Raka.

Seorang pejabat kaya raya yang mapan, berwibawa, dan begitu mencintainya.

Pernikahan mereka sah.
Diakadkan dengan wali.
Disaksikan penghulu.

Namun keberadaannya harus disembunyikan dari dunia.

Di balik tembok tinggi rumah mewah yang menjadi hadiah pernikahannya, Sabrina hidup dalam cinta yang begitu besar. Raka memanjakannya, melindunginya, dan berjanji akan membahagiakannya.

Tetapi cinta saja ternyata tidak selalu cukup.

Karena di luar sana masih ada Dina, istri pertama yang belum mengetahui rahasia terbesar suaminya.

Ketika Sabrina mulai mengalami mual, lemas, dan keterlambatan yang mengarah pada satu kemungkinan besar, ketakutan itu perlahan muncul.

Bagaimana jika ia benar-benar hamil?

Akankah kebahagiaan mereka bertambah?

Atau justru menjadi awal dari terbongkarnya rahasia yang selama ini dijaga mati-matian?

Sebuah kisah tentang cinta, pengorbanan, rahasia, dan pilihan yang tidak pernah mudah.

📖 Ikuti perjalanan Sabrina dan Raka dalam novel "Haramkah?"

Karena terkadang...

yang paling menyakitkan bukanlah mencintai orang yang salah.

Melainkan mencintai orang yang halal, tetapi harus terus bersembunyi.



Ikuti kisah misteriusnya di HARAMKAH..? - Langit Didada *Chapter : AKAD DALAM SUNYI, CINTA DALAM SEMBUNYI* Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah: https://kbm.id/book/read/a8200d42-1d6c-4a3d-8745-f6f9f97fa407/ce72fe86-6c75-42cd-a447-6ed27d34211f

IDE, TAHAJUD DAN PUASA

Semalam tak bisa tidur,

ide datang mengetuk pintu,

kerangka kutulis, eksekusi kulanjutkan,

koleksi novel eksklusif bertambah di KBM.

 

Tahajud menenangkan hati,

sahur menguatkan niat.

Tertidur sekejap, lalu bangun dengan mual,

asam lambung kembali naik.

 

Namun dengan Bismillah,

puasa sunah tetap kulanjutkan hari ini.

Lelah tubuh bukan alasan berhenti,

justru doa dan niat menjadi cahaya,

menuntun langkah di bulan mulia.



NOVELKU DI KBM

📚 Setiap judul hanyalah pintu.

Di baliknya, ada dunia fiksi yang penuh cinta, perjuangan, dan makna.

Novel-novelku di KBM siap menemani harimu dengan cerita yang tak biasa.

👉 Temukan kisahnya, rasakan imajinasinya

~ Langit DIdada




https://kbm.id/profile/penulis/bb578d83-96a4-4803-a2b7-a2c2ba264636


DOA SAHUR DI BULAN MULIA

Tubuh lemah, perut bergejolak,

asam lambung naik, muntah yang tak tertahan.

Aku sudah hati-hati memilih santapan,

namun pikiran dan lelah tetap mengetuk pintu sakit.

 

Di sela bab novel yang harus rampung,

di antara live TikTok dan sunyi edit video,

badan berbisik lirih: “Istirahatlah, aku pun punya hak.”

 

Namun Alhamdulillah…

di bulan mulia ini, aku masih mampu

menjalankan puasa Dawud, puasa Dzulhijjah.

Saat sahur aku berdoa:

“Ya Allah, sehatkan, hamba ingin berpuasa sunah besok.”

 

Obat hadir, dikirim sahabat lama,

siang aku rebah, malam selepas Isya aku terlelap,

lalu bangun jam satu atau dua,

menyulam kata, menulis bab baru.

 

Sakit bukan penghalang,

justru ia mengajarkan sabar,

menyulam syukur di sela doa,

menjadikan ibadah lebih dekat,

lebih tulus, lebih indah

 

- Langit Didada

 

“Di sahur yang sunyi, doa tulus menjadi cahaya.”