Tampilkan postingan dengan label LANGITDIDADA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LANGITDIDADA. Tampilkan semua postingan

Puasa Daud: Belajar Istiqamah, Sehari Bersama Allah

 "Istiqamah bukan berarti selalu mudah. Istiqamah adalah tetap kembali kepada Allah, meski langkah kadang terasa berat."

Ya Allah Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbahaa 'ala diinik...

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati hamba-Mu ini di atas agama-Mu.

Ya Allah...

Engkau mengetahui betapa ia ingin menjaga ibadah Puasa Daud yang telah lama ia jalani.

Maka kuatkanlah niatnya.

Ringankanlah langkahnya ketika datang hari berpuasa.

Berikanlah kesehatan pada tubuhnya.

Berikanlah kekuatan pada fisiknya.

Lapangkan dadanya.

Jangan biarkan rasa lelah mengalahkan semangatnya untuk beribadah kepada-Mu.

Ya Allah...

Jadikan setiap lapar dan dahaganya sebagai penghapus dosa.

Jadikan setiap detik puasanya sebagai jalan menuju ridha-Mu.

Jadikan puasanya melahirkan hati yang lembut, lisan yang penuh dzikir, pikiran yang jernih, dan jiwa yang semakin dekat kepada-Mu.

Ya Allah...

Jika suatu hari tubuhnya benar-benar tidak mampu karena sakit, berilah ia kelapangan hati untuk menerima uzur yang Engkau berikan, tanpa rasa bersalah. Dan ketika Engkau pulihkan kesehatannya, mudahkan ia kembali beribadah dengan penuh semangat.

Ya Allah Ya Razzaq...

Limpahkanlah rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan melalui setiap ikhtiar yang sedang ia jalani.

Berkahilah BRILink-nya.

Berkahilah Langit Didada Writing.

Berkahilah setiap tulisan, novel, lagu, dan karya yang lahir dari tangannya.

Mudahkan setiap urusannya.

Allahumma sugeh.

Allahumma sehat.

Allahumma kuliah lagi.

Allahumma istiqamah fi shaumi Dawud. (Ya Allah, anugerahkanlah aku keistiqamahan dalam menjalankan Puasa Daud.)

Allahumma sukses dunia wal akhirah.

Dan Ya Allah...

Jangan cabut dari hatinya ketenangan yang selama ini Engkau tanamkan.

Jadikan lisannya selalu basah dengan dzikir.

Jadikan air matanya hanya jatuh karena rindu kepada-Mu.

Dan ketika kelak ia bertemu dengan-Mu, pertemukanlah ia dalam keadaan Engkau ridha kepadanya.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailiin. 🤲



Afirmasi Rezeki Halal & Berkah | Ya Ghani Ya Mughni | Official Lyric Video - Langit Didada

Hari ini aku siap menerima...

Kelimpahan dari Allah...

Dengan hati penuh syukur...

Dan jiwa yang penuh harapan...


Aku melangkah dengan tenang...

Karena Allah selalu bersamaku...

Rezekiku datang...

Dengan mudah...Lancar...

Dan penuh berkah...


Aku adalah magnet rezeki...

Yang halal dan penuh keberkahan...

Allah membukakan jalan...

Yang tak pernah kuduga...


Aku bersahabat dengan rezeki...

Karena rezeki adalah amanah...

Datang membawa manfaat...

Pergi di jalan yang Allah ridhoi...


Ya Hannan...

Ya Maannan...

Ya Ghoni...

Ya Muughni...

Ya Fattah...

Ya Razzaq...

Bukakan pintu rezekiku...

Ya Hannan...

Ya Mannan...

Ya Ghoni...

Ya Mughni...

Hatiku tenang...

Langkahku ringan...

Rezekiku penuh keberkahan...


Hari demi hari...

Allah melapangkan jalanku...

Satu demi satu...

Segala urusanku dimudahkan...


Beban hidupku...

Allah angkat perlahan...

Allah cukupkan setiap kebutuhanku...

Dengan rezeki yang halal dan berkah...


Aku menerima...

Setiap nikmat-Mu...

Dengan rasa syukur...

Tenang...

Dan bahagia...


Ya Hannann.....

Ya Mannan....

Ya Ghoni.....

Ya Mughnii......


Aghnini bifadhlika...

'Amman siwak...


Ya Fattah...

Ya Razzaq...

Bukakan pintu rezekiku...


Hari ini...

Aku siap menerima...

Kelimpahan dari Allah...


Rezekiku mengalir...

Atas izin Allah...


Hatiku tenang...

Hidupku berkah...

Semua karena Allah...

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin...

Lirik dan Ciptaan: Ana Restuningtyas
Channel: Langit di Dada
© 2026 Langit Didada. All Rights Reserved.


https://youtu.be/Lj4h-dzj8K4?si=4PcWHI4vlseZMF9b

30 HARI MENYAPA HATI - WATTPAD

Bismillahirrahmanirrahim. 

Hari ini aku memulai sebuah perjalanan baru melalui tulisan Langit di Dada: 30 Hari Menyapa Hati.

Selama 30 hari ke depan, insya Allah akan hadir satu catatan setiap hari. Bukan untuk menggurui, melainkan menemani. Tentang hidup, doa, sabar, syukur, harapan, dan belajar berserah kepada Allah.

Jika sedang lelah, semoga tulisan ini bisa menjadi tempat beristirahat sejenak.

Jika sedang bahagia, semoga tulisan ini mengajarkan untuk semakin bersyukur.

Mari berjalan bersama, satu hari, satu catatan, satu langkah lebih dekat kepada Allah. 🤲

📖 *Baca di Wattpad:*

https://www.wattpad.com/story/414427667-30-hari-menyapa-hati

Terima kasih sudah berkenan mampir, membaca, memberikan bintang ⭐, dan meninggalkan jejak di kolom komentar. Semoga setiap kata yang tertulis menjadi pengingat untuk kita semua dan Allah menghadiahkan ketenangan bagi setiap hati yang membacanya.

Bismillah, perjalanan ini dimulai.


31 Juli 2026 — Ketika Hujan Datang Membawa Doa

Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillah...

Semalam Allah kembali menurunkan hujan.

Sudah cukup lama bumi terasa haus. Ketika rintik pertama mulai terdengar di atap, disusul petir kecil yang sesekali menyapa langit, hatiku langsung dipenuhi rasa syukur.

Bagiku, hujan bukan sekadar air yang turun dari langit.

Hujan adalah salah satu waktu yang selalu mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa.

Seperti biasanya, aku mengangkat doa kepada Allah.

"Ya Allah... jadikan hujan yang Engkau turunkan ini sebagai hujan yang membawa kebaikan. Hujan kesejahteraan. Hujan keberkahan. Hujan kedamaian. Hujan ketenangan. Hujan kerukunan. Hujan yang menjaga kelestarian alam dan menjadi rahmat bagi seluruh makhluk-Mu."

"Namun jika di dalamnya terdapat mudarat, maka jauhkanlah dari kami. Pindahkanlah ke tempat yang tidak membahayakan manusia, ke tengah lautan atau tempat yang Engkau kehendaki."

Di sela-sela derasnya hujan, lisanku terus membaca Surah Al-Kautsar.

Tiga ayat yang singkat, tetapi selalu menghadirkan rasa cukup di dalam hati.

Hujan terus turun selama kurang lebih dua hingga tiga jam.

Setelah bumi mulai tenang dan rintiknya berhenti, aku kembali membuka laptop.

Masih ada bab-bab novel yang menunggu untuk diselesaikan.

Aku melanjutkan menulis, menikmati sunyinya malam, sambil menunggu datangnya waktu yang selalu kurindukan.

Waktu tahajud.

Pukul 03.30 aku menghadap Allah.

Membawa syukur, harapan, dan seluruh isi hati yang hanya mampu kupasrahkan kepada-Nya.

Pukul 04.00 aku bersahur.

Sederhana.

Sebutir telur rebus dan segelas air putih.

Alhamdulillah.

Aku kembali diingatkan bahwa nikmat tidak selalu diukur dari banyaknya hidangan yang tersaji.

Kadang, satu butir telur dan segelas air putih yang Allah berkahi sudah lebih dari cukup untuk menguatkan langkah hari ini.

Aku belajar lagi...

Bahwa hujan mengajarkan kesabaran.

Malam mengajarkan keheningan.

Tahajud mengajarkan kepasrahan.

Dan sahur mengajarkan kesederhanaan.

Ya Allah...

Sebagaimana Engkau menurunkan hujan yang membasahi bumi, basahilah pula hati kami dengan rahmat-Mu.

Sebagaimana Engkau menghidupkan tanah yang kering, hidupkanlah hati kami dengan iman, syukur, dan ketenangan.

Jadikan setiap tetes hujan sebagai saksi bahwa kami tidak pernah berhenti berharap kepada-Mu.

Bismillah... sing tenang.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.



TERIMA KASIH – Langit Didada (Official Lyric Video)

Pernah ada cerita...

Yang Allah tuliskan untuk kita...

Pernah ada tawa...

Yang kini kusimpan sebagai doa...


Terima kasih...

Pernah berjalan di sampingku...

Pernah membuatku percaya...

Bahwa bahagia itu nyata...


Tak semua kisah...

Harus berakhir dengan bersama...

Kadang Allah hanya mempertemukan...

Agar kita belajar menerima...


Kini kuikhlaskan...

Semua yang telah berlalu...

Semoga Allah menjagamu...

Dan menjaga langkahku...


Aku tak lagi menggenggam...

Aku tak lagi memaksa...

Yang pergi biarlah pergi...

Yang tinggal menjadi hikmah...


Dan izinkan...

Aku melangkah perlahan...

Menyambut hari-hari...

Yang telah Allah siapkan...


Aku belum tahu...

Rahasia apa yang menantiku...

Namun aku percaya...

Allah tak pernah meninggalkanku...


Bila pertemuan adalah takdir...

Maka perpisahan pun adalah takdir...

Dan di antara keduanya...

Ada pelajaran yang menguatkanku...


Allahumma in kunta katabtani min ahlis syaqawah, famhuni, waktubni min ahlissa'adah. Fa innaka tamhu ma tasha' wa tutsbit, wa 'indaka Ummul Kitab...


Ya Allah...

Jika dahulu namaku termasuk orang yang celaka,

hapuslah...

Dan tuliskanlah aku sebagai hamba yang berbahagia...

Karena hanya Engkaulah...

Pemilik segala takdir...


Terima kasih...

Untuk setiap kenangan...

Kini aku undur diri...

Dengan hati yang telah belajar ikhlas...


Semoga Allah...

Menjaga langkahmu...

Dan menjaga langkahku...

Hingga kita sama-sama menemukan

ridha-Nya...

Aamiin...

https://youtu.be/hBb3F1oURgk?si=mrr_IioySua4Zyas

Lirik dan Ciptaan: Ana Restuningtyas
Channel: Langit di Dada
© 2026 Langit Didada. All Rights Reserved.





Sing Tenang

Bismillahirrahmanirrahim...

Malam ini aku kembali berbicara dengan diriku sendiri.

Aku bertanya,

"Kenapa aku bisa setenang ini?"

Padahal kalau dihitung dengan logika, masih banyak yang harus dipikirkan.

Masih ada gaji yang harus kubayarkan.

Masih ada kebutuhan sehari-hari.

Masih ada cicilan yang tanggalnya terus mendekat.

Namun anehnya, setiap melihat tanggal pembayaran, hatiku hanya berkata,

"Sing tenang... nanti juga Allah datangkan rezeki."

Aku tersenyum sendiri.

Apakah aku terlalu cuek?

Apakah aku terlalu nekat?

Ataukah Allah sedang mengajarkanku sesuatu selama bertahun-tahun?

Aku teringat perjalanan panjangku.

Dulu aku belajar mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah berulang-ulang.

Aku membiasakan diri bershalawat.

Ketika hati terasa sesak, aku membaca doa Nabi Yunus.

Aku berusaha menjaga hatiku agar tidak dipenuhi prasangka buruk kepada Allah.

Mungkin ketenangan itu tidak datang dalam semalam.

Ia tumbuh sedikit demi sedikit.

Ditempa oleh ujian demi ujian.

Aku pernah kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Aku belajar menerima hidup di atas kursi roda.

Aku pernah menghadapi rumah tangga yang tidak lagi utuh.

Aku memilih menyelesaikannya dengan baik.

Hari ini aku tidak lagi menyimpan kebencian.

Aku mendoakan, lalu melanjutkan hidupku.

Aku sadar, marah tidak mengubah keadaan.

Emosi tidak menambah rezeki.

Konflik hanya menguras tenaga.

Kalau ada masalah besar, kecilkan.

Kalau ada masalah kecil, hilangkan.

Itu yang selalu kuusahakan.

Kalau ingin menangis, aku memilih menangis di hadapan Allah.

Karena hanya kepada-Nya aku ingin mengadu.

Aku juga tersenyum ketika banyak orang berkata,

"Kalau puasa Daud, ujiannya akan semakin besar."

Aku tidak menyangkalnya.

Tetapi aku juga berkata dalam hati,

"Bukankah selama ini Allah sudah menguatkanku melewati banyak ujian?"

Maka yang ingin kujaga bukanlah hidup tanpa ujian.

Melainkan hati yang tetap tenang ketika ujian datang.

Hari ini aku kembali belajar bahwa ketenangan bukan berarti semua masalah sudah selesai.

Ketenangan adalah memilih tetap berikhtiar sambil mempercayakan hasilnya kepada Allah.

Aku masih ingin menulis.

Aku masih ingin berkarya.

Aku masih ingin kuliah lagi.

Entah bagaimana nanti Allah membukakan jalannya.

Hatiku hanya berkata,

"Bismillah... sing tenang."

Karena aku percaya, rezeki bukan datang karena aku panik.

Rezeki datang atas izin Allah, kepada hamba yang terus berusaha, bersyukur, dan tidak putus harapan.

Ya Allah...

Jadikanlah ketenangan ini bukan sebagai kelalaian, tetapi sebagai tanda bahwa hatiku semakin belajar bertawakal kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.



BENIH DOA

Kutanam doa di ladang waktu,

Bukan untuk dipanen esok pagi.
Aku percaya, hujan rahmat-Mu
Tak pernah salah memilih musim sendiri.

Kupupuk dengan sabar yang menggigil,
Kusiram dengan sujud yang panjang.
Meski angin ragu berulang kali datang,
Akar harap tetap menembus terang.

Hingga suatu fajar mengetuk jendela,
Bukan membawa semua yang kuminta.
Melainkan menghadirkan jawaban paling sempurna,
Yang bahkan tak sempat kususun dalam kata.

Kini kutahu, doa bukan sekadar suara,
Ia adalah benih yang hidup dalam jiwa.
Dan ketika Allah berkehendak menyapa,
Seluruh semesta ikut berkata: "Inilah waktunya.



Jalur Langit Tak Pernah Tutup

Malam itu, sebuah puisi telah kutitipkan untuk mengikuti lomba cipta puisi tingkat nasional.

Banyak orang mungkin mengira setelah menekan tombol "kirim", pikiranku akan dipenuhi rasa penasaran. Barangkali aku akan terus membuka laman pengumuman, menghitung hari, atau membayangkan hasilnya.

Namun, justru sebaliknya.

Setelah puisi itu terkirim, aku memilih menutup laptop dan membuka sajadah.

Aku tidak membawa lagi puisi itu dalam doaku.

Aku percaya, jika ikhtiar sudah selesai, maka hasilnya adalah wilayah Allah.

Yang kubawa justru nama ibuku yang telah berpulang. Malam itu aku menunaikan shalat taubat, menghadiahkan doa untuk beliau, sekaligus memohon ampun atas dosa-dosaku sendiri. Setelah itu kulanjutkan dengan tahajud dan shalat hajat.

Aku tidak berkata,

"Ya Allah, jadikan puisiku juara."

Aku juga tidak berkata,

"Ya Allah, menangkan aku."

Doaku tetap sama seperti hari-hari biasa.

Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Aku memohon perlindungan dari lilitan hutang.

Aku memohon agar Allah menyelamatkanku dari jeratan hutang yang masih mengiringi langkahku.

Aku bahkan tidak pernah meminta secara khusus,

"Ya Allah, lunaskan hutangku."

Sebab aku percaya, ketika Allah melapangkan rezeki, menghadirkan keberkahan, dan mencukupkan hamba-Nya, maka jalan untuk melunasi hutang akan terbuka dengan sendirinya.

Selesai bermunajat, aku bersahur sederhana.

Segelas susu kedelai dan umbi-umbian.

Nikmat yang mengingatkanku bahwa syukur tidak pernah diukur dari kemewahan hidangan, tetapi dari hati yang menerima.

Menjelang Subuh, ketika tahrim mulai terdengar dari masjid, aku teringat bahwa waktu itu termasuk saat yang sangat berharga untuk berdoa.

Aku mengirimkan doa kepada sepuluh orang baik yang Allah hadirkan dalam hidupku.

Semoga kebaikan mereka kembali kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari Allah.

Lalu lisanku terus bergerak.

"Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir."

Ratusan kali.

Kemudian doa Nabi Yunus.

Empat puluh satu kali.

Setelah azan Subuh berkumandang, kutunaikan shalat sunah fajar, lalu kuhiasi pagi dengan dzikir, istighfar, dan doa.

Shalat Subuh.

Sedekah Subuh.

Membaca Surah Yasin, Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.

Setelah semuanya selesai, tanganku meraih tasbih digital yang baru saja Allah titipkan melalui kebaikan seorang sahabat.

Kubuka pagi dengan Shalawat Ibrahimiyah seratus kali.

Lalu Shalawat Jibril seribu kali.

Begitulah aku memulai hari.

Bukan dengan membuka media sosial.

Bukan dengan mengecek hasil lomba.

Bukan pula menghitung kekurangan hidup.

Tetapi dengan mengingat Allah.

Barulah setelah hati terasa tenang, kubuka laptop.

Draft novel yang semalam kutinggalkan kembali menunggu untuk diselesaikan.

Hari ini aku kembali menulis.

Karena aku percaya...

Hasil adalah rahasia Allah.

Sedangkan ikhtiar adalah amanahku.

Mungkin puisi itu akan menang.

Mungkin juga belum.

Tetapi jalur langit yang kutempuh malam itu telah mengajarkanku satu hal:

Ketika sebuah urusan sudah diserahkan kepada Allah, hati menjadi lebih ringan untuk melangkah menuju amal berikutnya.

Dan mungkin...

Itulah kemenangan pertama yang Allah berikan, bahkan sebelum pengumuman lomba diumumkan.




ALLAHUMMA A'INNI 'ALA HADZIHIL AMANAH | Official Lyric Video - Langit Didada

Di setiap langkah yang Kau titipkan...

Ada amanah yang harus kujaga...
Kadang hatiku mulai lelah...
Namun kasih-Mu tak pernah berubah...

Ku tatap langit, kuangkat doa...
Memohon kuat dari Yang Esa...
Bukan karena aku mampu...
Namun karena Engkau penolongku...

Saat langkahku mulai goyah...
Saat air mata jatuh berserah...
Peluklah hatiku dengan rahmat-Mu...
Jangan biarkan aku menjauh...

Allahumma a'inni...
'Ala hadzihil amanah...

Allahumma a'inni...
'Ala hadzihil amanah...

Ya Allah...
Tolonglah hamba-Mu...

Saat lemah kuatkan aku...
Saat letih peluk hatiku...

Ku percaya...
Engkau tak pernah meninggalkanku...

Jika jalan terasa panjang...
Ajarkan sabar dalam perjuangan...
Jika dunia menutup pintu...
Rahmat-Mu selalu mengetuk kalbu...

Aku hanyalah hamba-Mu...
Yang belajar ikhlas setiap waktu...
Semoga langkah kecil ini...
Menjadi jalan menuju ridha-Mu...

Bukan tentang hebat diriku...
Bukan tentang kuat pundakku...

Semua hanya karena-Mu...
Semua hanya untuk-Mu...

Allahumma a'inni...
'Ala hadzihil amanah...

Allahumma a'inni...
'Ala hadzihil amanah...

Tuntun langkahku...
Jaga hatiku...

Hingga kelak...
Aku pulang...
Dengan senyum karena-Mu...

Bismillahilladzi laa yadhurru ma'asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa' wa huwas samii'ul 'aliim. 

Lirik dan Ciptaan: Ana Restuningtyas
Channel: Langit di Dada
© 2026 Langit Didada. All Rights Reserved.


https://youtu.be/r4lKa26JmqA?si=gkXVJW36vLEWhoiC

Allahumma A'inni 'Ala Hadzihil Amanah

Ketika Aku Lelah, Aku Memilih Bersandar kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim...

Ada hari-hari ketika aku merasa kuat.

Namun ada juga hari ketika aku hanya mampu berkata,

"Ya Allah... aku capek."

Bukan karena aku tidak mencintai amanah ini.

Justru karena aku sangat mencintainya.

Sejak tahun 2017, Allah mengizinkanku membersamai perjalanan LKSA Peduli Sahabat Batang.

Tahun demi tahun berlalu.

Alhamdulillah, pada tahun 2023 Allah menghadiahkan akreditasi dengan nilai A.

Sebuah nikmat yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Namun perjalanan belum selesai.

Masih banyak langkah yang harus ditempuh.

Masih banyak anak-anak yang menunggu untuk dipeluk dengan kasih sayang.

Masih banyak doa yang terus kulangitkan.

Sering kali orang hanya melihat dokumentasi.

Mereka melihat senyum anak-anak.

Melihat amplop yang diserahkan.

Melihat foto-foto yang dibagikan setiap Jumat.

Padahal, di balik setiap foto itu ada doa-doa yang tidak terlihat.

Ada harapan yang terus dipanjatkan.

Ada air mata yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Ada malam-malam ketika aku bertanya dalam hati,

"Ya Allah... sanggupkah aku menjaga amanah ini?"

Aku bukan orang yang paling kuat.

Aku juga pernah merasa lelah.

Pernah merasa berjalan sendirian.

Pernah berpikir, bagaimana jika aku berhenti saja?

Namun setiap kali hati mulai melemah, Allah selalu menguatkanku dengan cara-Nya.

Kadang melalui senyum seorang anak.

Kadang melalui doa seorang dermawan.

Kadang melalui orang-orang yang mengingatkanku agar tetap berharap kepada-Nya.

Hingga akhirnya aku mengenal sebuah doa yang begitu sederhana.

Namun terasa sangat dalam maknanya.

اللهم أعني على هذه الأمانة

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

"Ya Allah, tolonglah aku dalam memikul amanah ini."

Sejak saat itu, aku menyadari sesuatu.

Ternyata yang kubutuhkan bukan hanya tambahan rezeki.

Bukan hanya tambahan tenaga.

Tetapi yang paling kubutuhkan adalah pertolongan Allah.

Karena tanpa pertolongan-Nya, sekuat apa pun aku, suatu hari pasti akan lelah.

Hari ini aku tidak ingin meminta kepada Allah agar semua jalan menjadi mudah.

Aku hanya memohon,

"Ya Allah... jangan lepaskan tangan-Mu dari langkahku."

Jika suatu hari aku kembali lelah...

Kuatkan aku.

Jika suatu hari aku kembali menangis...

Tenangkan aku.

Jika suatu hari aku merasa berjalan sendiri...

Ingatkan aku bahwa Engkau selalu bersamaku.

Karena aku percaya...

Amanah ini bukan milikku.

Ini adalah titipan-Mu.

Dan hanya dengan pertolongan-Mu aku mampu menjaganya.

Untuk siapa pun yang sedang memikul amanah...

Entah sebagai orang tua.

Guru.

Relawan.

Pengurus yayasan.

Atau siapa saja yang sedang berjuang dalam kebaikan.

Izinkan aku berbagi doa yang kini menjadi teman perjalananku.

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

"Ya Allah, tolonglah aku dalam memikul amanah ini."

Sesederhana itu.

Namun semoga doa ini menjadi pengingat bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian.

Selama masih ada Allah yang membersamai setiap langkah.


Ya Allah... Engkau yang telah mempercayakan amanah ini kepadaku. Jangan biarkan aku mengandalkan kekuatanku sendiri. Tolonglah aku ketika lelah. Teguhkan aku ketika goyah. Lapangkan rezeki agar aku dapat terus berbagi. Hadirkan orang-orang yang mau berjalan bersama dalam kebaikan. Jagalah hatiku agar tetap ikhlas, rendah hati, dan istiqamah hingga akhir hayat. Jika suatu hari nanti Engkau mengabulkan doa-doaku, jadikan semua itu bukan untuk kebanggaanku, tetapi agar semakin banyak anak-anak yang merasakan kasih sayang dan pertolongan-Mu.

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

Allahumma sehat.

Allahumma sugeh.

Allahumma duit okeh.

Aamiin ya Mujibassailin.

Aku tidak tahu sampai kapan Allah mengizinkanku berjalan.

Tetapi selama masih diberi kesempatan, aku ingin terus melangkah.

Bukan karena aku merasa mampu.

Melainkan karena setiap kali aku hampir menyerah, selalu ada doa yang menguatkanku.

"Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah."

Dan semoga, ketika suatu hari nanti perjalanan ini selesai, aku dapat menghadap Allah dengan hati yang tenang seraya berkata,

"Ya Allah... aku sudah berusaha menjaga amanah yang Engkau titipkan kepadaku. Selebihnya, semua karena pertolongan-Mu."



Langkah yang Kembali Menguatkan

Ada hari-hari ketika perjuangan terasa begitu sunyi.

Laporan dikirim ke grup, tetapi hanya centang biru yang datang. Ajakan untuk bersedekah disampaikan dengan harapan ada hati yang tergerak, namun balasan sering kali hanya keheningan. Rasanya seperti berbicara kepada ruang yang kosong.

Aku pernah bertanya dalam hati, "Haruskah aku terus membuat laporan? Haruskah aku terus mengingatkan?"

Lalu aku tersenyum sendiri.

Bukankah sejak awal perjuangan ini memang bukan tentang banyaknya tepuk tangan? Bukan pula tentang banyaknya orang yang memuji. Yayasan ini lahir karena ingin menjadi jalan manfaat. Selama masih ada anak-anak yang menunggu uluran tangan, selama masih ada amanah yang harus dijaga, maka langkah ini akan terus berjalan, meski perlahan.

Hari ini Allah kembali memberikan hadiah kecil yang membuat hatiku hangat.

Nomor Induk Berusaha (NIB) yayasan akhirnya resmi terbit.

Mungkin bagi sebagian orang itu hanya selembar dokumen. Namun bagiku, itu adalah jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan diam-diam. Bukti bahwa setiap berkas yang diurus, setiap antrean yang dijalani, setiap usaha yang tampak sederhana, tidak pernah luput dari perhatian Allah.

Aku bahkan mencetaknya, melaminatingnya, lalu memasangnya dalam pigura.

Bukan untuk berbangga diri.

Tetapi agar setiap kali melihatnya, aku kembali diingatkan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang terus berikhtiar.

Perjalanan ini masih panjang.

Masih banyak mimpi yang belum terwujud. Aku masih berharap suatu hari nanti yayasan memiliki tempat yang lebih layak, program yang semakin luas, dan semakin banyak anak yang bisa merasakan kasih sayang dari orang-orang baik yang Allah kirimkan.

Namun hari ini aku memilih untuk berhenti sejenak.

Bukan berhenti melangkah.

Melainkan berhenti untuk bersyukur.

Karena sering kali kita terlalu sibuk mengejar tujuan besar hingga lupa merayakan langkah-langkah kecil yang telah Allah mudahkan.

Aku belajar satu hal.

Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar, dan menjaga amanah sebaik mungkin.

Adapun siapa yang Allah gerakkan untuk membantu, dari mana rezeki itu datang, dan kapan pertolongan itu tiba, semuanya adalah hak Allah.

Maka aku ingin terus melangkah dengan tenang.

Tidak menggantungkan harapan kepada manusia.

Tidak mengukur keberhasilan dari ramainya komentar atau banyaknya respons.

Cukup memastikan bahwa setiap hari ada satu langkah kecil yang mendekatkanku kepada tujuan yang Allah ridai.

Hari ini langkah kecil itu bernama NIB.

Besok, entah apa lagi hadiah dari langit.

Aku tidak tahu.

Tetapi aku percaya, selama Allah masih menuntunku untuk melangkah, selalu ada alasan untuk menjaga harapan.

"Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)."
(QS. At-Talaq: 3)

Semoga suatu hari nanti, ketika aku membaca kembali catatan ini, aku bisa tersenyum sambil berkata,

"Ya Allah... ternyata benar. Engkau tidak pernah meninggalkan hamba-Mu yang terus mengetuk pintu-Mu."

Allahumma aghnini bi fadhlika 'amman siwak.

Allahumma sugeh. Allahumma duit okeh. Allahumma sehat. Allahumma bahagia. Allahumma sukses.

Aamiin ya Mujibassailiin.


Bismillah.. SAFAR 1448 H

Kamis, 1 Safar 1448H

Pagi ini ditemani segelas susu kedelai pemberian seorang sahabat.

Aku kembali diingatkan bahwa rezeki tidak selalu datang dalam jumlah yang besar. Kadang ia hadir dalam bentuk perhatian, kepedulian, dan kebaikan-kebaikan sederhana yang menghangatkan hati.

Alhamdulillah atas setiap nikmat yang sering kali datang tanpa diduga.

Bismillah...

Semoga Allah menjaga orang-orang baik di sekelilingku, melapangkan rezeki mereka, menguatkan langkah mereka, dan membalas setiap kebaikan dengan balasan yang jauh lebih indah.



Modal Pertamaku Bernama Bismillah

Malam ini aku kembali menulis. Bukan tentang novel. Bukan pula tentang yayasan. Melainkan tentang perjalanan kecil yang baru saja dimulai.

Beberapa hari lalu aku resmi menjadi Agen BRILink.

Kalau orang bertanya, "Modalnya berapa?"

Aku mungkin hanya tersenyum.

Sebab sejujurnya, modal pertamaku adalah Bismillah.

Bukan berarti aku mengabaikan ikhtiar. Justru karena aku sadar modal yang kumiliki belum banyak, aku belajar menghargai setiap transaksi yang datang.

Hari-hari pertama menjadi agen ternyata penuh cerita.

Aku sempat bingung menentukan tarif.

Bingung mencatat pembukuan.

Bingung membedakan biaya admin dan jasa agen.

Bahkan transfer pertama membuatku deg-degan.

Ada pelanggan yang membeli pulsa.

Ada yang membeli token listrik.

Ada yang transfer ke bank lain.

Ada pula yang ingin membayar tagihan listrik sekitar delapan ratus lima puluh ribu rupiah.

Sayangnya, saat itu limit yang tersedia di aplikasiku hanya sekitar lima ratus ribu rupiah.

Aku tidak mencari alasan.

Aku hanya berkata jujur,

"Mohon maaf, Pak. Saat ini saya belum bisa melayani nominal sebesar itu."

Beliau kemudian melanjutkan pembayaran di tempat lain.

Aneh ya...

Aku tidak merasa gagal.

Justru aku merasa sedang belajar menjaga kepercayaan.

Lebih baik mengatakan belum mampu daripada memaksakan sesuatu yang belum bisa kulakukan.

Malam demi malam, aku juga mulai belajar tentang pembukuan.

Mana transaksi pelanggan.

Mana transaksi pribadi.

Mana yang menjadi pendapatan usaha.

Mana yang tidak boleh dicampur.

Aku ingin usaha kecil ini bertumbuh dengan tertib.

Aku juga sempat berpikir tentang Dana Talangan.

Bukan karena ingin memiliki uang.

Tetapi karena terlintas keinginan sederhana.

"Kalau suatu hari ada pelanggan dengan transaksi besar, semoga aku tetap bisa melayaninya."

Namun aku juga belajar, setiap fasilitas harus dipahami terlebih dahulu.

Tidak semua yang tersedia harus langsung digunakan.

Ada hal lain yang membuatku tersenyum malam ini.

Ternyata sejak resmi menjadi agen, sudah ada sekitar dua puluh transaksi.

Mungkin bagi sebagian orang angka itu kecil.

Tetapi bagiku, dua puluh transaksi berarti dua puluh kali seseorang mempercayakan uangnya kepadaku.

Dan kepercayaan selalu lebih mahal daripada angka.

Aku masih malu bertanya kepada pendamping BRI.

Masih khawatir dianggap terlalu baru.

Masih takut terlihat belum bisa.

Namun aku mulai menyadari...

Belajar bukanlah sesuatu yang memalukan.

Yang memalukan adalah berpura-pura tahu, padahal belum paham.

Malam ini aku menutup buku pembukuan dengan satu doa.

Semoga suatu hari nanti, ketika buku ini telah penuh oleh catatan transaksi, aku masih mengingat malam-malam ketika semuanya berawal dari kebingungan rasa malu, dan keberanian kecil untuk terus belajar.

Karena mungkin...

Allah tidak langsung memberiku modal yang besar.

Tetapi Allah memberiku pelanggan, satu per satu.

Dan mungkin memang begitulah cara Allah mengajarkan aku membangun usaha.

Pelan-pelan.

Sedikit demi sedikit.

Dengan jujur.

Dengan amanah.

Dan selalu dimulai dengan satu kalimat yang sama.

Bismillahirrahmanirrahim.


Refleksi Malamku

"Ya Allah... aku tidak meminta jalan yang mudah. Aku hanya memohon agar Engkau selalu membersamai setiap langkah kecilku. Jadikan setiap transaksi sebagai amanah, setiap pelanggan sebagai jalan rezeki yang halal, dan setiap kebingungan sebagai pintu ilmu. Jika hari ini usahaku masih kecil, berkahilah yang kecil itu hingga tumbuh dengan cara yang Engkau ridhai."

Allahumma yassir wa la tu'assir.

Allahumma barik fi rizqi.

Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.

Sebuah Tasbih, Sejuta Doa

 Bismillahirrahmanirrahim...

Ada benda kecil yang hampir tidak pernah lepas dari tanganku.

Bukan karena harganya mahal.

Bukan karena bentuknya istimewa.

Tetapi karena di dalam benda kecil itu, tersimpan ribuan shalawat, dzikir, dan doa yang setiap hari menemani langkahku.

Tasbih digitalku.

Beberapa hari terakhir, baterainya mulai melemah.

Sering kali ketika hitungan baru mencapai beberapa ratus, tiba-tiba layarnya mati.

Aku mengulang lagi.

Lalu mati lagi.

Yang paling membuatku sedih adalah ketika tahajud.

Setiap malam aku memiliki amalan yang sangat kujaga.

Membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 313 kali.

Setiap tujuh kali bacaan, aku berhenti sejenak untuk berdoa.

Ketika hitungannya hilang karena tasbih mati, rasanya seperti kehilangan jejak di tengah perjalanan.

Aku sempat berpikir untuk membeli tasbih baru.

Namun ketika melihat harganya, aku tersenyum sendiri.

Di kepalaku langsung muncul hitungan lain.

"Uang ini bisa untuk membayar mbak beberapa hari."

Akhirnya aku mengurungkan niat.

Lalu Allah mengingatkanku kepada seorang sahabat yang sangat gemar bersedekah.

Aku memanggilnya dengan penuh sayang,

Nokji.

Dengan sedikit rasa malu, aku memberanikan diri mengirim pesan.

Bukan meminta uang.

Tetapi meminta dibelikan sebuah tasbih digital.

Aku berharap, semoga tasbih ini menjadi salah satu jalan pahala yang terus mengalir untuk beliau. Setiap kali aku berdzikir, bershalawat, atau membaca Al-Fatihah, semoga Allah Yang Maha Mengetahui niat menerima amal kami dan melipatgandakan kebaikan itu.

Masyaa Allah...

Tidak lama kemudian beliau menjawab,

"Iya, Mbak. Kirim alamatnya."

Beliau bahkan memilih membelikannya secara online agar langsung sampai ke rumahku.

Hari ini...

Tasbih itu akhirnya tiba.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Aku memegangnya dengan rasa syukur yang sulit diungkapkan.

Pembuka hitungannya bukan angka besar.

Melainkan rasa syukur.

Aku memulai dengan Shalawat Ibrahimiyah 100 kali.

Lalu kulanjutkan Shalawat Adrikni 1.000 kali, sambil menunggu waktu berbuka Puasa Daud.

Di tanganku, tasbih itu hanyalah alat.

Tetapi bagiku...

Ia adalah pengingat agar lisanku tidak lelah menyebut nama Allah dan bershalawat kepada Rasulullah ï·º.

Hari ini aku kembali belajar.

Allah tidak selalu mengirim pertolongan dalam bentuk yang besar.

Kadang pertolongan itu datang dalam bentuk sebuah tasbih kecil yang mampu menjaga istiqamah seseorang dalam berdzikir.

Terima kasih, Nokji.

Semoga setiap butir dzikir yang terhitung melalui tasbih ini menjadi saksi kebaikanmu di hadapan Allah.

Dan semoga Allah membalasmu dengan balasan yang jauh lebih indah daripada apa yang telah engkau berikan.

Karena sesungguhnya...

Sedekah terbaik bukanlah yang paling mahal.

Tetapi yang paling bermanfaat.

Doa untuk Nokji 🤲

Ya Allah, Rabb Yang Maha Pemurah...

Limpahkanlah rahmat dan keberkahan-Mu kepada sahabatku, Nokji, yang telah menjadi jalan kebaikan bagiku.

Jadikan setiap dzikir, setiap shalawat, setiap istighfar, dan setiap doa yang kuhitung dengan tasbih ini sebagai sebab bertambahnya pahala baginya, sejauh Engkau berkenan menerima niat baik kami.

Berikanlah kepadanya kesehatan yang sempurna, umur yang penuh berkah, keluarga yang sakinah, rezeki yang halal dan berlimpah, hati yang selalu dekat kepada-Mu, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Balaslah setiap sedekahnya dengan balasan yang jauh lebih baik, sebagaimana hanya Engkau yang mampu membalas segala kebaikan hamba-hamba-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailin.


 

🌤️ Catatan Langit Di Dada

Kadang yang paling berharga bukanlah benda yang kita miliki.

Tetapi benda yang membuat kita semakin dekat kepada Allah.

Dan kadang...

Allah mengirimkannya melalui tangan seorang sahabat yang baik.

SING TENANG.

REZEKI DARI-MU | Official Lyric Video - Langit Didada

Bismillah kubuka hariku

Dengan hati penuh syukur

Kutitipkan mimpi dalam doa

Kuyakini janji-Mu selalu nyata


Saat dunia terasa sempit

Engkau bukakan jalan sedikit demi sedikit

Kutapaki dengan sabar dan yakin

Karena Engkau sebaik-baik Pemberi


Rezeki-Mu luas tak berbatas

Datang indah atas izin-Mu

Halal, berkah, menenangkan hati

Kusambut dengan syukur setiap hari


Ya Hannan...

Ya Mannan...

Ya Fattah...

Ya Razzaq...

Ya Ghani...

Ya Mughni...


Bukakan pintu-pintu kebaikan

Yang tak pernah kuduga sebelumnya

Cukupkan segala kebutuhanku

Dengan karunia-Mu yang mulia


Takkan lelah aku berikhtiar

Takkan lelah aku berharap

Karena bersama-Mu tak ada yang sia-sia

Setiap langkah bernilai ibadah


Allahumma ikfini bihalalika 'an haramika

Wa aghnini bifadhlika 'amman siwak


Rabbi inni lima anzalta ilayya

Min khairin faqir...


Allahumma sugeh...

Allahumma sehat...

Allahumma bahagia...

Allahumma sukses...


Alhamdulillah...

Alhamdulillah...

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin...

Lirik dan Ciptaan: Ana Restuningtyas
Channel: Langit di Dada
© 2026 Langit Didada. All Rights Reserved.

https://youtu.be/kXtqul_BnUI?si=k55t7PmmMp5wcx8I

#RezekiDariMu

#LangitDidada

#OfficialLyricVideo

#LaguReligi

#PopReligiIndonesia

#LaguInspiratif

#DoaRezeki

#AfirmasiPositif

#YaHannan

#YaMannan

#YaFattah

#YaRazzaq

#MusikIndonesia

#LaguMotivasi

#IslamicMusic

Menulis Fiksi yang Mengubah Cara Pandang Pembaca

Malam ini saya mengikuti sesi Belajar dari Bintang bersama Dr. Helvy Tiana Rosa. Tema yang diangkat sungguh menyentuh: bagaimana fiksi mampu mengubah cara pandang pembaca.

Sering kali kita membaca sebuah novel, lalu tanpa sadar cara kita melihat hidup ikut bergeser. Bukan karena cerita itu menggurui, melainkan karena ia berhasil menyentuh hati, membuka pikiran, dan meninggalkan pertanyaan yang terus hidup bahkan setelah halaman terakhir ditutup.

Dr. Helvy mengingatkan bahwa fiksi bukan sekadar hiburan. Ia bisa menjadi jembatan untuk memahami perbedaan, menghargai perjuangan, menyadari kesalahan, bahkan menemukan harapan di saat hidup terasa gelap. Sejarah pun membuktikan, banyak karya sastra yang telah menggerakkan hati manusia dan memengaruhi cara masyarakat memandang persoalan.

Sebagai penulis, kita memegang tanggung jawab besar. Kata-kata yang kita tulis bisa menjadi cahaya kecil yang menuntun pembaca, atau bahkan mengubah hidup seseorang.

Malam ini saya belajar bahwa menulis bukan hanya soal merangkai kata indah, tetapi soal menghadirkan cerita yang terus hidup di benak pembaca. Semoga setiap karya yang lahir dari tangan kita mampu menjadi bagian dari perjalanan perubahan itu.

📖





MELANGKAH LAGI | Official Lyric Video - Langit Didada

Hari baru kembali menyapa

Kubuka langkah dengan bismillah

Tak kutahu apa yang menanti

Namun kupercaya Allah menemani


Bukan hidup tanpa air mata

Bukan jalan tanpa cerita

Namun selama hati berserah

Tak ada langkah yang sia-sia


Saat lelah menghampiri diri

Kuingat janji-Mu setiap hari


Melangkah lagi... bersama Allah

Takkan berhenti mengejar berkah

Rezeki halal telah Kau sediakan

Aku yakin... Engkau cukupkan


Melangkah lagi... tanpa ragu

Kutitipkan semua hanya pada-Mu

Allahumma sugeh... di dalam doa

Aghnini bi fadhlika 'amman siwak


Kubangun mimpi sedikit demi sedikit

Dengan sabar dan penuh ikhtiar

Tak kuukur hidup dari manusia

Cukuplah ridha-Mu menjadi tujuan


Walau jalanku tak selalu mudah

Harapanku tak pernah berubah

Karena kutahu di balik ujian

Selalu ada pintu pertolongan


Hari ini aku memilih bangkit

Hari ini aku memilih yakin

Hari ini aku memilih syukur

Sebab rahmat-Mu tak pernah gugur


Melangkah lagi... bersama Allah

Hatiku tenang dalam amanah

Apa pun yang datang menyapa

Kuucap Alhamdulillah


Melangkah lagi... hingga nanti

Menjemput mimpi yang Engkau redhoi


Rabbi inni lima anzalta ilayya

Min khairin faqir...

Lirik dan Ciptaan: Ana Restuningtyas
Channel: Langit di Dada
© 2026 Langit Didada. All Rights Reserved.


https://youtu.be/RCMderidEp8?si=TJjXbo9dxo6fC5kH

"Uangnya dari Mana?"

 "Uangnya dari mana?"

Pertanyaan itu beberapa kali mampir kepadaku.

Mungkin karena orang melihat aku masih bisa menggaji seseorang yang membantuku setiap hari. Masih membayar listrik, WiFi, membeli obat-obatan, dan memenuhi kebutuhan hidup.

Aku mengerti jika mereka bertanya.

Kalau melihat dari luar, memang semuanya tampak membingungkan.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Aku masih harus berhitung.

Masih ada kebutuhan yang datang setiap bulan.

Masih ada hari-hari ketika aku harus benar-benar mengatur pengeluaran dengan hati-hati.

Bahkan, ada kalanya aku harus berutang agar kebutuhan yang mendesak tetap terpenuhi.

Namun aku selalu berusaha untuk tidak lari dari tanggung jawab.

Sedikit demi sedikit, aku berusaha melunasinya.

Alhamdulillah, Allah selalu membukakan jalan.

Lalu... apakah aku hidup sendirian?

Tidak.

Dan aku tidak ingin menghapus bagian itu dari cerita hidupku.

Allah menghadirkan sahabat-sahabat yang luar biasa.

Mereka bukan hanya bertanya, "Apa kabar?"

Sebagian dari mereka, dengan penuh ketulusan, rutin mengirimkan bantuan setiap bulan.

Ada yang membantu membeli obat.

Ada yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mereka tahu keadaanku. Mereka tahu aku sedang berjuang. Dan mereka memilih menjadi bagian dari perjuangan itu.

Aku tidak melihatnya sebagai sekadar bantuan.

Aku melihatnya sebagai kasih sayang Allah yang datang melalui tangan-tangan hamba-Nya.

Karena itu, jika ada yang bertanya,

"Rezekinya dari mana?"

Aku akan menjawab dengan penuh keyakinan,

"Dari Allah."

Allah yang menggerakkan hati sahabat-sahabatku.

Allah yang memberiku kesempatan untuk terus menulis.

Allah yang membukakan jalan melalui usaha kecil yang sedang kurintis.

Allah yang menguatkanku untuk terus berikhtiar.

Allah pula yang berkali-kali mencukupkan, ketika hitung-hitungan manusia berkata, "Seharusnya tidak cukup."

Aku belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu turun dalam bentuk uang yang melimpah.

Kadang Allah menghadirkan orang-orang baik.

Kadang Allah memberi kesehatan untuk terus berusaha.

Kadang Allah memberi ketenangan agar hati tidak putus asa.

Dan sering kali...

Allah memberi lebih dari yang mampu kusyukuri.

Aku teringat firman Allah:

"...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..."
(QS. At-Talaq: 2–3)

Ayat itu selalu menguatkanku.

Terlebih setelah aku melewati banyak hal dalam hidup.

Aku percaya, Allah tidak pernah terlambat menolong.

Tidak selalu dengan cara yang kuinginkan.

Tetapi selalu dengan cara yang kubutuhkan.

Karena itu, hari ini aku tidak ingin menghitung berapa kali aku merasa kekurangan.

Aku ingin menghitung berapa kali Allah mencukupkan.

Dan ternyata...

Jumlahnya jauh lebih banyak.

Sing tenang...

Karena Allah Maha Kaya.

Afirmasi Doaku:

Bismillahirrahmanirrahim...

Allahumma sugeh...

Allahumma duit okeh...

Allahumma sehat...

Allahumma bahagia...

Allahumma sukses dunia akhirat...

Aghnini bifadhlika 'amman siwak.

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu."

Aamiin ya Rabbal 'Alamiin. Aamiin ya Mujibassailiin. 🤲

 


BISMILLAH, SURVIVE | Official Lyric Video | Langit di Dada

Alhamdulillah...

Kini kututup lembar yang telah usai
Bukan akhir dari cerita
Namun awal langkah menuju ridha-Mu

Ya Allah...
Kuatkan kakiku menapaki hari
Apa pun takdir yang Engkau beri
Bismillah... aku bertahan
Bismillah... aku melangkah

Ajarkan aku mencintai diri
Menjaga amanah yang Kau titipkan
Jiwaku...
Hatiku...
Sehatku...
Semua hanya milik-Mu

Allahumma sugeh...
Limpahkan rezeki-Mu yang halal dan berkah
Allahumma duit okeh...
Cukupkan hidupku untuk berbagi

Allahumma sehat...
Kuatkan tubuh dan setiap ikhtiarku
Allahumma bahagia...
Bahagia karena dekat kepada-Mu

Bismillah...
Aku survive bersama-Mu

Aku ingin berkarya tanpa lelah
Menjadi manfaat bagi sesama
Menghidupkan yayasan dengan cinta
Menjadi jalan rezeki bagi sesama

Bila rezeki datang
Kuucap syukur
Bila tertunda
Kuucap sabar

Karena Kau...
Tak pernah meninggalkan hamba-Mu

Allahumma sukses...
Berkahi setiap karya dan langkahku
Jadikan hidupku cahaya
Untuk keluarga...
Untuk sesama...
Untuk agama...

Aghnini bi fadhlika 'amman siwak...

Allahumma sugeh...
Allahumma duit okeh...
Allahumma sehat...
Allahumma bahagia...
Allahumma sukses...

Ya Allah...
Semua hanya karena-Mu

Innasholati...
Wanusuki...
Wamahyaya...
Wamamati...

Lillahi Rabbil 'Alamin...

Bismillah...
Aku survive.


Lirik dan Ciptaan: Ana Restuningtyas
Channel: Langit di Dada
© 2026 Langit Didada. All Rights Reserved.