Tampilkan postingan dengan label puisi kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi kehidupan. Tampilkan semua postingan

Pesona Hari Kamis

Pagi ini, Kamis datang dengan derasnya hujan. 

Langit seakan menumpahkan rahmat, menyejukkan bumi, membasuh segala resah. 

Ada pesona tersendiri saat hujan turun di hari Kamis seolah membuka pintu doa, 

mengingatkan kita pada kelembutan Allah yang selalu hadir.

Hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit, 

ia adalah tanda kasih. 

Ia mengajarkan sabar, menumbuhkan harapan, 

dan menyuburkan doa-doa yang kita titipkan pada-Nya.



Allahumma ṣayyiban nāfi‘an

Renungan Kamis Hujan

- Hujan adalah rahmat, bukan beban.

- Setiap tetesnya membawa pesan: jangan pernah putus asa.

- Kamis hujan adalah kesempatan untuk menenangkan hati, menulis doa, dan merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Hujan Di Awal Pekan

Senin pagi, langit menunduk pelan,

Menumpahkan rindu lewat gerimis yang sopan.

Bumi beraroma doa dan harapan,

Seolah berkata, *“Tenanglah, semua akan berjalan.”*


Tetes-tetesnya jatuh seperti nasehat,

Bahwa tak semua langkah harus cepat.

Kadang jeda adalah bagian dari kuat,

Dan diam justru tempat doa paling hangat.


Hujan turun, tapi hati tak redup,

Justru makin jernih seperti air yang mengalir lembut.

Hari baru dimulai, meski langit tak biru,

Ada rahmat Allah di setiap sendu.



24 Tahun Bersama Roda

24 tahun,  

bukan sekadar angka.  

Tapi perjalanan panjang bersama roda  

yang tak pernah berhenti berputar,  

meski langkahku tak lagi sama.


Pernah,  

di satu titik gelap,  

aku bertanya dalam diam:  

Kalau bukan dosa,  

mungkin aku sudah menyerah.”


Tapi Allah,  

dengan cara-Nya yang lembut,  

menahan aku.  

Lewat doa ibu,  

 lewat senyum orang asing,  

lewat pagi yang tetap datang meski aku tak memintanya.


Kursi ini bukan penjara.  

Ia adalah saksi.  

Dari air mata yang tak terlihat,  

dari sabar yang tak dipuji,  

dari doa yang tak bersuara.


Aku belajar,  

bahwa kekuatan bukan soal berdiri.  

Tapi soal bertahan,  

saat dunia tak tahu betapa beratnya duduk.


Dan kini,  

aku tak lagi malu.  

Karena roda ini bukan kelemahan.  

Ia adalah sayapku,  

yang membawaku terbang dengan cara yang berbeda.


24 tahun,  

aku masih di sini.  

Masih hidup.  

Masih belajar.  

Masih berdoa.  

Dan itu…  

sudah cukup untuk disebut kuat.

Aku pernah berada di titik gelap,  

di mana hidup terasa terlalu berat untuk dilanjutkan.  

Tapi Allah, dengan cara-Nya yang lembut,  

menahan aku untuk tetap di sini.  

  

24 tahun di kursi ini,  

bukan sebagai beban…  

tapi sebagai bukti bahwa aku masih bisa bertahan.



Senyum Palsu

Di dunia yang penuh sorot dan sapaan,  

aku belajar satu hal:  

senyum bukan selalu tanda cinta.  

Kadang, itu hanya formalitas.  

Kadang, itu hanya strategi.


Aku pernah percaya semua yang tersenyum padaku,  

adalah teman.  

Ternyata, beberapa hanya menunggu aku jatuh  

agar mereka bisa berkata, “Sudah kuduga.”


Tapi aku tak marah.  

Aku hanya lebih bijak sekarang.  

Dan lebih selektif pada siapa yang aku izinkan masuk ke dalam doa-doaku.



ES TEH JUMBO

Di tengah terik yang membakar,

aspal mengepul, motor pun sabar,

keringat nempel, baju pun lepek,

haus datang, tenggorokan nyedek.


Melipir sejenak di pinggir jalan,

kulirik warung, hatiku tertawan.

"Teh manis jumbo, ya, esnya banyak!"

Sekejap, dunia terasa cerah nan lapang.


Seteguk dua teguk,

ademnya menusuk,

tenggorokan girang...

eh tapi, batuk!


Ternyata nikmat ada risikonya,

tapi tak apa, jiwaku bahagia.

Es teh jumbo, kamu tak bersalah,

yang salah akunya,


gak tahan godaan, padahal belum pulih total 😅

Langkah Kecil di Jalan Sunyi

Tak banyak yang tahu,

Tentang langkah-langkahku yang pelan,

Melewati lorong waktu dengan dada penuh harap,

Bukan untuk dilihat,

Tapi agar tak ada yang tertinggal di belakang.


Tak selalu kuat,

Namun tak pernah ingin menyerah.

Bukan karena aku hebat,

Tapi karena ada yang lebih lemah yang harus tetap kuat.


Bukan tentang siapa aku,

Tapi tentang siapa yang bisa terbantu lewat aku.

Bukan tentang apa yang aku punya,

Tapi apa yang bisa aku bagi, meski hanya setitik cahaya.


Aku tak butuh sorot lampu,

Biarlah Allah yang tahu.

Jika langkahku kecil,

Semoga tetap berarti di hadapan-Nya yang Maha Tahu.


AKU HARI INI

Aku hari ini,

Memeluk pena dengan hati yang penuh,

Menulis kisah di sela tugas dan waktu,

Menyusun huruf demi huruf

di antara panggilan sosial dan kewajiban hidup.


Ada tanggung jawab yang mengetuk,

Ada jiwa yang harus dilayani,

Dan ada diriku sendiri

Yang masih ingin tumbuh,

masih ingin berarti.


Aku hari ini,

Menyeka lelah dengan senyum yang tak selalu terlihat,

Berjualan meski tubuh ingin rebah,

Menjawab satu per satu kebutuhan

Yang tak pernah menunggu esok.


Tapi aku tetap melangkah.

Bukan karena kuat,

Melainkan karena cinta

Dan rasa ingin terus berguna.


Aku hari ini

Bukan sempurna,

Tapi selalu mencoba

Jadi versi terbaik

Meski hari kadang berat terasa.


CERITA DIBALIK KAMERA

Di balik tawa yang terekam lensa,

Ada rindu yang tak sempat dieja.

Langkah kaki menyusuri sunyi,

Bukan untuk diri, tapi untuk mereka yang dicintai.


Kamera menyala, senyum dipasang,

Padahal hati nyaris tumbang,

Bukan tak ingin pulang lebih cepat,

Tapi hidup menuntut tetap kuat.


Suara anak hanya lewat layar,

Diputar berkali agar hati tetap sabar.

Malam datang, badan lelah,

Tapi wajah mereka tetap jadi arah.


Aku bukan pahlawan bersayap cahaya,

Hanya ayah yang terus mencoba.

Menukar waktu demi secercah harapan,

Agar esok, mereka punya masa depan.


Jika ada yang bertanya tentang bahagia,

Tak perlu banyak kata.

Cukup lihat tawa anak-anak saat ku pulang,

Itulah akhir dari semua perjuangan panjang.


PELAN TAK APA

Untuk diriku, yang sedang belajar pulang

Pelan tak apa

selama langkahmu masih jujur pada hati.

Biarkan dunia berlomba,

kau cukup jadi penonton yang tenang,

menyeduh keberanian dalam diam.


Tak perlu selalu gagah,

cukup pulih hari ini tanpa terburu.

Karena mencintai diri,

kadang artinya membiarkan luka bernapas,

tidak ditekan, tidak disembunyikan… 

hanya ditemani.


Dan pada akhirnya,

yang kau butuhkan bukan finish line

tapi tanganmu sendiri yang tak lagi tergenggam erat kesedihan.

Pelan tak apa,

asal pulangnya tetap ke dirimu. 

LELAKI YANG TAK PERNAH BERCERITA

Ia tak pandai melukis lelah dalam kata,  

Tak sempat mengeluh saat peluh jatuh membasah.  

Langkahnya berat, namun mantap menuju rumah,  

Demi satu senyum hangat yang menyambut di ambang pintu.


Lelaki itu...  

Tak pernah memamerkan luka yang ia sembunyikan,  

Tapi selalu pulang dengan tangan terbuka.  

Di matanya tergenggam harap istri dan anak-anak,

Tentang pengganjal lapar, atau selembar biaya sekolah  

yang mungkin belum lunas,  

Tapi tak pernah ia biarkan terlewat dari doa.


Ia pejuang, dalam diamnya yang mulia.  

Ia cahaya, meski kadang meredup oleh dunia.  

Tapi setiap detik ia berjalan,  

ada cinta yang ia bawa pulang dalam wujud sederhana:  

Kehadiran, keteguhan... dan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja


WELAS ASIH

Welas asih...  

bukan sekadar simpati yang singgah di permukaan,  

ia adalah pelukan yang diam-diam menyembuhkan,  

perasaan yang memahami sebelum dijelaskan,  

yang memilih untuk mengerti, bukan menghakimi.


Ia adalah cahaya

bukan hanya menerangi,  

tapi juga menghangatkan langkah jiwa yang tersesat.  

Sumber energi yang tak terlihat,  

namun mampu mengubah dunia yang terasa keras.


Welas asih adalah rasa…  

yang ketika dicubit sakit, memilih untuk tidak mencubit,  

yang ketika dilukai, tetap memberi ruang untuk damai.  

Karena ia tahu,  

kebaikan tidak tumbuh dari dendam,  

tapi dari keberanian untuk mencintai setulus hati




DI ANTARA MEREKA

Ada yang menunggu,  

menunggu kau hancur, jatuh, tenggelam  

seperti malam menanti fajar terlambat datang.  


Ada yang berharap,  

berharap kau lelah, menyerah  

seperti angin menguji nyala api kecil di tepi jalan.  


Ada yang menginginkan,  

ingin melihatmu rapuh, terbawa arus, hilang arah  

seperti daun gugur yang tak lagi berpijak.  


Namun, kau bukan malam yang ditelan gelap,  

kau adalah cahaya yang menembus batas.  

Kau bukan api yang mudah padam,  

kau adalah bara yang tak gentar pada angin.  

Kau bukan daun yang menyerah pada musim,  

kau adalah akar yang menolak tercerabut.  


Biarlah mereka menunggu, berharap, menginginkan.  

Sebab kau melangkah bukan untuk jatuh,  

melainkan untuk berdiri lebih tegak, lebih kuat,  

lebih tak terkalahkan.


INFUS DI PERGELANGAN TANGANKU

Pergelangan tanganku tak lagi kosong,

ada selang bening yang menggantikan doa.

Cairan masuk perlahan,

seperti harapan yang dipaksakan tetap hidup.


Aku diam,

tapi tubuhku bicara lewat tetes-tetes itu

tentang lelah yang tak sempat ditulis,

tentang luka yang tak bisa dijual.


Infus ini bukan kelemahan,

ia adalah tanda bahwa aku bertahan,

meski dunia tak tahu

berapa kali aku ingin menyerah.


Dan jika kamu melihatku terbaring,

jangan kira aku kalah.

Aku hanya sedang belajar

mencintai tubuhku yang terus berjuang.




GADIS KECIL DAN HUJAN

Langit sore menumpahkan tangisnya,  

rintik-rintik menari di jalan tanah,  

seorang gadis kecil mengayuh sepeda,  

dagangannya basah, tapi impiannya tak punah.  


Di rumah, ayah dan ibu terbaring lemah,  

ia ingin melihat senyum mereka kembali merekah,  

maka setiap sore sepulang sekolah,  

ia berkeliling membawa harapan di pundaknya.  


Dingin merayap di jemari mungilnya,  

plastik pembungkus tak cukup melindungi,  

namun langkahnya tetap menyusuri desa,  

tak peduli awan kelabu yang mengiringi.  


Setiap tetes hujan adalah ujian,  

namun ia tak menyerah pada derasnya rintik,  

esok mentari akan tersenyum padanya,  

menghangatkan hati yang gigih dan tak terusik.  


Baginya, kerja keras bukan sekadar kewajiban,  

tapi bukti cinta, bakti, dan harapan,  

suatu hari ia akan membahagiakan mereka,  

menghapus duka dengan kehangatan kasihnya

Parade menulis puisi selama 30 hari berturut² yang di selenggarakan oleh @writerpreneur academy