Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

"Seperti Pertama Kalinya"

Aku selalu mencintaimu

seperti pertama kalinya meski jarak menjelma dinding, meski waktu sering mencuri pertemuan.

Di setiap senja yang sunyi, aku mendengar namamu berbisik dari doa yang tak pernah letih, menyulam rindu jadi kekuatan.

Kau di sana, aku di sini, namun hati kita tak pernah berpisah. Setiap tatap yang tertunda, setiap pelukan yang menunggu, tetap hangat, tetap utuh, seperti pertama kalinya.

Dan bila esok kita kembali bertemu, biarlah dunia tahu cinta ini tak pernah menua, ia selalu lahir kembali, seperti pertama kalinya.



TULUS

 jika kamu bertanya

mengapa disaat kamu menyakitiku

dan aku masih saja tetap sayang dan mencintaimu

jawabanku cuma satu.. tulus

yaa.. sesakit apapun yang kamu berikan kepadaku

tak akan merubah rasa sayang dan cintaku padamu

tapi kamu juga harus ingat

orang yang tulus itu hanya akan kamu temukan

sekali dalam seumur hidupmu

kamu boleh mencari

kamu boleh memilih

bahkan jika kamu menemukan seseorang

yang mungkin menemukan kelebihan daripadaku

akan kupastikan tidak akan pernah sama

karena aku bisa bertahan sejauh ini denganmu

bukan karena kelebihanku

tapi karena ketulusanku


KATA-KATA HARI INI




 Ketika yang aku sembunyikan lebih dahsyat dari yang aku tuliskan

PERNAH

Pernah ingin mengakhiri hidup, tapi bisikan itu menghalangi. Betapa jahatnya aku pada diriku sendiri, tubuh ini menginginkan kehidupan, mengapa aku tega merenggutnya hanya karena sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.
Sejak saat itu aku tahu bahwa Alloh memberiku kesempatan untuk melakukan perbaikan, sebelum ajal menghampiri. Bahwa kematian yang sebenarnya adalah ketetapan dari-Nya, bukan karena paksaan. Baik itu dari dalam diri sendiri atau dari luar,
setiap orang memiliki cara sendiri untuk menghadapi sebuah permasalahan. Satu hal yang harus diingat, bahwa Alloh tidak akan memberi ujian di luar kemampuan umat-Nya. Seberat apa pun itu, kita harus yakin dengan adanya pertolongan Alloh. 





KEKUATAN DOA (HADIAH HP DARI SAHABAT TERBAIKKU)

Bismillah.. 
doa?  
Saya percaya. Terutama doa yang lahir dari rasa sakit, penderitaan, dan hati yang hancur—doa seperti itu punya pengaruh yang luar biasa.

Saya pernah merasakannya.  
Saat usaha sedang sepi dan saya tidak punya uang sama sekali, saya hanya bisa berdoa.  
Handphone satu-satunya yang biasa saya pakai untuk membuat video puisi sudah saya jual demi melunasi utang.  
Tidak ada bayangan sama sekali bisa membeli HP baru. Untuk kebutuhan sehari-hari pun saya kesulitan.

Saya hanya berserah dan memohon kepada Allah...  
Dan benar saja, kekuatan doa itu begitu dahsyat.  
Masyaa Allah tabarakallah—Allah kirimkan orang-orang baik tepat pada waktunya.

Sahabat saya, Bapak Mujarwo dan istrinya yang berhati mulia, datang membawa sebuah handphone baru dalam kardus.  
Allahu Akbar... sampai saat ini, saya masih terharu setiap kali mengingat momen itu.

Terima kasih sahabatku, yang begitu baik dan suka berbagi rezeki dengan saya dan teman-teman lainnya.  
Semoga Allah melipatgandakan rezekimu dan keluargamu, memberkahi setiap langkahmu, memberikan kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesan yang berlimpah.  
Aamiin... ya Mujibassailin.





PERTOLONGAN ALLOH

Sudah 5 bulan ini listrik di rumah dab deb dab deb (turun voltase), sebulan, dua bulan masih belum memikirkan, setelah setiap hari masih dab deb, baru merasakan dampaknya. Es batu yang biasanya sehari sudah jadi es, sekarang menunggu 2 – 3 hari baru jadi. Bagaimana dengan barang elektronik lainnya?
Bapak memanggil orang untuk merapikan kabel-kabel yang tidak teratur, mungkin dari itu voltase jadi naik turun. Tetapi masih sama.
Aku mau panggil yang pinter dalam bidang listrik tapi ga’ punya uang. kalau panggil pribadi kan bayar. hehee...
Sedih banget ga’ sih…?
Hanya bisa bilang sama Alloh, mohon perlindungan agar barang-barang elektronik tidak rusak karena voltase listrik yang turun terus ini, mohon petunjuk dan jalan keluar.
Punya teman bekerja di PLN, mau minta tolong ga’ enak.

Waktu terus berlalu.. 5 bulan sudah voltase listrik di rumah masih dab deb turun naik terus.
Pompa air sudah kena dampaknya, rusak.
Mungkin bagi orang “normal” yang bisa berjalan bisa laporan ke kantor PLN, tetapi saya tidak bisa. Mau kirim pengaduan lewat aplikasi PLN, saat ini sedang tidak punya handphone. Ada handphone jadul hanya bisa buat telepon seluler.
Hari itu, tiba-tiba ada pikiran browsing PLN, ada alamat/link untuk pengaduan tentang listrik. Alhamdulillah masih ada laptop, bisa untuk browsing, menulis, dll.
Dan mata ini berhenti di tulisan alamat email PLN, “coba aku tulis pengaduan lewat email saja ya..” gumamku dalam hati.
Kemudian aku langsung tulis pengaduanku di email. Hari jumat aku kirim email.
Alhamdulillah langsung di respon oleh PLN, tetapi waktu itu aku belum buka email, aku baru buka email keesokan harinya. Ada beberapa pertanyaan dari PLN dan aku langsung kirim jawabannya. Aku pikir karena hari ahad libur, mungkin besok responnya lagi. Aku tutup email.
Selang 1 jam ada telepon masuk, aku angkat, dan ternyata dari petugas PLN daerahku, mau memperbaiki listrik di rumahku.
Masyaa Alloh tabarakalloh.. cepet banget respon PLN.
Petugasnya baik banget, karena aku ga’ punya pulsa aku bisanya miskol, dan beliau langsung telepon balik.
Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”

5 bulan hanya bisa diam dan bisanya Cuma berdoa. Dan Alloh permudah dengan sekejap. Listrik di rumah sudah kembali normal, dab deb sedikit.
Di dalam hati sempat berkata, “kok ga’ dari awal-awal yaa, kenapa baru sekarang sesudah 5 bulan berjalan”
Petunjuk dari Alloh baru di dapat sekarang, dan Alloh kasih waktu yang tepat sehingga di beri kemudahan”.
Semuanya atas ijin Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.
Allohu Akbar…
Terimakasih kakak-kakak admin PLN yang cepat merespon pengaduan saya
Terimakasih para petugas lapangan PLN yang juga respon cepat memperbaiki listrik di rumah sehingga sekarang sudah normal kembali.
Semoga selalu sehat, di beri rezky yg berlimpah, selalu dalam perlindungan Alloh dalam menjalankan tugasnya dan Alloh lipatgandakan kebaikan kalian. Aamiinn Ya Robbal’alamiin…
 
Terimakasih PLN
Ahad, 21 November 2021
Ana Restuningtyas





PEREMPUAN TANGGUH DI BALIK KEMUDI TRUK TRAILER (Cerita Pendek)

 


Pukul 04.00 pagi Nur sudah bangun, sebagai ibu rumah tangga yang merangkap juga sebagai ayah bagi anak-anaknya.

Suami Nur sudah meninggal dua tahun yang lalu karena sakit. Sehingga Nur yang sekarang menjadi tulang punggung untuk anak-anaknya yang masih kecil.

Anak pertama bernama Azizah umur 12 Tahun, kelas 6 SD, dan anak yang kedua Ahmad Fauzan atau biasa di panggil Fauzan umur 4 Tahun.

 

Seperti biasa bangun tidur Nur mengerjakan sholat Tahajud dahulu, sambil menunggu adzan Subuh, Nur tilawah Al-Qur'an.

Selalu terbayang wajah almarhum suaminya menjadikan Nur berlinang air mata. Begitu rindu Nur kepada suaminya. Nur belum ada keinginan untuk menikah lagi, karena begitu cintanya dia kepada suaminya.

Nur membangunkan Azizah putri sulungnya untuk menunaikan ibadah sholat subuh.

Setelah selesai sholat subuh, Nur dan putrinya bergegas ke dapur, Nur persiapkan masakan untuk sarapan, sedangkan Azizah mengambil sapu untuk menyapu halaman rumahnya.

Azizah berkata kepada ibunya : "Ibu, azizah menyapu halaman depan dulu ya.."

"Iya nak" jawab Nur sambil mengelus rambut putrinya.

Tiada henti Nur berucap syukur pada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala telah di titipkan seorang putri yang shaleha, walaupun usianya masih 12 tahun tetapi sudah mengeri kondisi orang tuanya.

 

Sepeninggal suami tercinta, Nur bekerja sebagai pengemudi truk trailer, pekerjaan kaum lelaki tetapi sekarang sudah banyak perempuan yang berprofesi sebagai sopir truk ataupun bus.

Orang tua Nur tinggal tidak begitu jauh dari rumah Nur, jadi jikalau ada pekerjaan yang mengharuskan sampai lebih dari satu hari, Nur titipkan anak-anaknya kepada orang tua atau adik-adiknya.

Seperti hari ini, Nur ada tugas membawa barang ke luar kota sehingga mungkin pulangnya besok atau lusa.

 

Nur masih sibuk di dapur memasak untuk sarapan pagi, adik fauzan (putra kedua) bangun.

Fauzan : "Ibu..."

Nur : "Masyaa Alloh, putra sholehku sudah bangun..?"

Sambil menggandeng fauzan ke kamar mandi.

Fauzan bangun pukul 05.00 pagi, jadi langsung bisa menunaikan sholat subuh.

Walaupun masih 4 tahun, Nur sudah membiasakan Fauzan untuk menunaikan sholat 5 waktu.

Setelah berwudhu, Fauzan di antar ke mushola kecil di rumahnya untuk menunaikan sholat Subuh.

Dengan sabar Nur membimbing putranya mengerjakan sholat. Setelah selesai sholat, Nur mengajarkan putranya untuk mendoakan almarhum ayahnya.

Nur : "Fauzan sudah hafal belum doa untuk kedua orang tua nak..?"

Fauzan : "Sudah ibu.."

Bismillahirrohmanirrohim

Allahumma fighfirlii wa liwaa lidhayya warham humaa kamaa rabbayaa nii shokhiroon

Sambil masih cadel lidahnya dalam membacanya.

"Aamiinn Ya Robbal'alamiin" sahut Nur meng-Aamiinnkan doa putranya.

Setelah selesai menunaikan sholat, Nur membuatkan minum susu untuk Fauzan. Kemudian Fauzan menghampiri kakaknya yang sedang membersihkan halaman rumah.

Fauzan : "Kakak.."

Azizah : "eh adik udah bangun.. Alhamdulillah"

Fauzan : "Uzan sudah sholat subuh kakak"

Azizah : "pinter adik kakak ini" sambil memeluk Fauzan.

Fauzan : "Kakak, Uzan mau main peda yaa?"

Azizah : "Iyaa, tapi di sekitar halaman saja yaa.."

Fauzan : "Iyaa.. Terimakasih kakak.."

Sambil berlari ke dalam rumah mengambil sepedanya.

 

Masakan Nur sudah hampir selesai, menanak nasi, masak lauk telur rolade dan sayur kesukaan anak-anaknya. Sambil menghidupkan mesin cuci untuk mencuci pakaian.

Nur menyiapkan sarapan di meja makan.

Azizah sedang menyapu di ruang tengah. Fauzan masih di depan rumah main sepeda.

Nur : "Sarapan dulu nak, panggil adik yaa.."

Azizah : "Iya ibu"

Azizah keluar memanggil Fauzan.

Azizah : "Adik.. Di panggil ibu, kita sarapan dulu"

Fauzan : "Iyaa kak.."

Fauzan dan Azizah masuk ke rumah.

Nur : "Sudah cuci tangan belum nak?"

Azizah & Fauzan kompak menjawab : "Sudah ibu"

Nur : "Sebelum makan berdoa dulu, adik yang pimpin doanya yaa.."?

Sambil mengelus kepala Fauzan.

Fauzan : (Menggangguk)

Bismillahirrohmanirrohim

Allahumma Baarik lanaa fiima rozaqtanaa, wa qinaa ‘adzaa bannaar

 

Di sela sela makan, Nur berbicara kepada anak-anaknya.

Nur : "Nak, Ibu nanti berangkat ke luar kota, jadi nanti kakek nenek atau paman bibi yang jagain di rumah yaa..?"

Mereka berdua mengangguk

Nur kembali melanjutkan bicaranya, : "Kakak seperti hari biasa, setelah mandi, daring ya?"

"Iya bu" Jawan Azizah

Nur : "Yang pinter ya nak.. Semoga wabah corona nya segera pergi, biar kakak dan adik bisa berangkat ke sekolah lagi"

"Aamiinn..."

Azizah : "Ibu, hati-hati dalam bekerja yaa.., kakak dan adik berdoa selalu untuk ibu"

Nur : "Iyaa nak.. Terimakasih doanya yaa.." sambil tersenyum hati Nur menangis, terharu mempunyai anak yang masih kecil tetapi sudah taat dalam beragama. Masyaa Alloh tabarakalloh... Ucap hati Nur.

 

Setelah selesai sarapan, Nur memandikan Fauzan.

Azizah sudah mandi dan masih siap-siap untuk daring.

Fauzan selesai mandi, sudah rapi duduk di depan televisi menonton film kartun kesukaannya.

 

Ibu dan Bapak Nur datang untuk menemani cucu-cucunya selama Nur bekerja.

Kakek & Nenek : "Assalamualaikum..."

Fauzan : "Waalaikumsalam..

Kakek Nenek..." senang sekali Fauzan kakek neneknya datang.

Azizah masih di dalam kamar , masih belajar online bersama teman-teman sekolahnya.

Nur keluar dari belakang, "Waalaikumsalam, Alhamdulillah pak bu, ayok makan pagi dulu, Nur sudah masak, sudah buatin bapak kopi dan ibu teh susu kesukaan ibu" sambil menggandeng tangan kedua orang tuanya ke ruang makan.

Bapak : "Wah wah.. Bau masakan Nur ini khas sekali ya bu.."

Ibu : "Iyaa pak, paling pintar memasak putri kita ini"

Nur : "ah ibu bapak bisa aja ya memuji Nur" sambil tersenyum malu.

Sambil menemani Ibu dan Bapak sarapan, Nur berbicara kalau hari ini Nur mengantar barang ke luar kota, jadi Nur titip anak-anak ya bu pak.."

Ibu : "Iya nak, konsentrasi dalam bekerja ya, anak-anakmu biar ibu dan bapak yang jagain".

Bapak : "Hati-hati dalam mengemudi, jaga kesehatannya, semoga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala melindungimu selalu nak, Aamiinn.."

Aamiinn Ya Robbal'alamiin... Jawab Ibu dan Nur

Nur : "Ya sudah kalau begitu, Nur mau mandi dan siap-siap berangkat kerja dulu ya pak, bu.."

Bapak & Ibu : "Iya nak"

 

Selang beberapa saat, Nur pun sudah siap berangkat kerja, walaupun pekerjaan Nur sebagai pengemudi truk trailer, tetapi Nur perempuan biasa, penampilan yang anggun dan bersahaja.

Nur berpamitan dengan kedua orang tuanya dan anak-anaknya.

Nur : "Ibu Bapak, Nur berangkat kerja dulu yaa.. Mohon doakan Nur selalu"

Sambil mencium tangan Ibu Bapaknya.

Kemudian Nur pergi ke kamar Azizah yang sedang belajar, Nur berpamitan dan mencium kening putri sulungnya.

Fauzan berlari menghampiri Nur, sambil memeluk, "Ibu mau berangkat kerja ya?, hati-hati kerja ya ibu". Dengan suara cadelnya Fauzan memberi semangat kepada Ibunya.

"Masyaa Alloh.. Putra ibu yang sholeh, terimakasih nak" jawab Nur sambil memeluk dan mencium pipi Fauzan.

 

Nur berangkat kerja, melangkah dengan iringan doa kedua orang tua dan anak-anaknya.

Sampai di tempat kerja, sudah ramai rekan kerja Nur sesama sopir truk, menyapa hangat seperti biasanya.

Di balik kemudi truk besar Nur bekerja membanting tulang, untuk kehidupan keluarga kecilnya, walaupun sebagai seorang perempuan, dan seorang ibu, tidak menghalanginya untuk bisa bekerja sebagai pengemudi truk trailer nan besar dan panjang.

Truk melaju di jalanan, melaju mengejar waktu untuk bisa tepat waktu sampai di tempat tujuan.

Semua pekerjaan terasa ringan di jalankan apabila menjalankannya dengan penuh keikhlasan.

Nur seorang perempuan tangguh yang mandiri, bekerja keras tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang ibu dan merangkap sebagai ayah di dalam keluarga kecilnya.

 

 

MASA KECIL EMANG MENYENANGKAN YAA..? (CERITA PENDEK)

 

Pukul 06.30 pagi, seperti biasa kesibukan ibu di pagi itu sebelum bapak berangkat bekerja, memandikan putri sulungnya dulu sebelum adiknya bangun. Kakak sudah terbiasa bangun sebelum bapak berangkat kerja, karena kakak selalu ikut mengantar bapak ke pintu sebelum pamit kerja.

 

Ibu, seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua putri, putri yang pertama ber umur 3 tahun dan adiknya umur 2 bulan. Bapak bekerja sebagai karyawan di sebuah Perusahaan Textil swasta yang ternama di kota tempat mereka tinggal.

 

Setelah selesai memandikan kakak (putri sulungnya), sudah rapi dan wangi, ibu menyuapin kakak sarapan bubur nasi, menu sarapan rutin kakak yang ibu beli di warung sebelah.

Ibu sekeluarga menghuni rumah kontrakan yang di siapkan perusahaan bapak bekerja, satu rumah seperti asrama, terdiri dari beberapa kamar, jadi sangat ramai setiap hari, apalagi lokasi rumah yang berdekatan dengan jalan raya.

 

Adik bangun tidur, menangis, bergegas ibu menghampiri adik yang berada di ayunan, menggendong adik yang minta nenen.

Setelah selesai menyusui adik, ibu memasak air di dapur dan menyiapkan air untuk memandikan adik.

Adik di temani kakak bermain main di kamar.

Setelah selesai menyiapkan air, ibu memandikan adik dulu.

Kakak yang sendirian di kamar melihat di meja ada pensil (pensil alis ibu yang tinggal separo) dan buku kasbon (catatan hutang belanja) ibu yang sudah kucel, di ambil dan di bawanya keluar rumah.

Kakak berjalan menyusuri trotoar di sepanjang jln LPI, sambil bernyanyi nyanyi kecil.

Banyak yang bertanya kepada kakak sepanjang jalan,

‘’Siwok (nama panggilan kesayangan kakak) mau kemana, kok sendirian? Ibu dimana?’’

Kakak menjawab : siwok mau toyah (mau sekolah), mau toyah’’

Sepanjang jalan setiap ada yang nanya, kakak jawab mau toyah’’

 

Jarak antara rumah kontrakan dengan sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) yang di tuju kakak sekitar 500 meter. Waktu itu belum ada sekolah PAUD.

Di sekolah TK sudah berlangsung kegiatan belajar ketika kakak sampai, kakak terdiam di pintu sekolah, sambil melihat kedalam kelas, ibu guru melihat ada anak kecil berdiri di pintu sambil membawa buku dan pensil, mendatangi kakak, di bawanya masuk kelas, di dudukkan sambil bertanya :

Ibu guru : Namanya siapa?

Kakak : “Siwok

Ibu guru : “Siwok mau apa ke sekolah?

Kakak : “Siwok mau toyah (sambil memperlihatkan pensil alis dan buku kasbon ibu).”

Ibu guru tersenyum : “Siwok kesini sama siapa?

(bu guru bertanya sambil melihat keluar sekolah, tidak ada orang tuanya yang mengantar).

Kakak : Cendili (sendiri).”.

 

Kembali ke rumah kontrakan

Selesai memandikan adik, ibu memanggil-manggil kakak, “kakak.. kok sepi kemana ya itu anak (ibu bertanya dalam hati) mungkin ada di sebelah (pikirnya).”

Dan ibu pun melanjutkan mengurus adik. Setelah adik sudah selesai, sudah cantik dan wangi, ibu menggendong adik, sambil mencari kakak di sebelah, tidak ada. Di kamar sebelahnya lagi juga tidak ada, semua kamar di rumah kontrakan tidak ada kakak disana.

Ibu panik, kemana kakak pergi, khawatir ke luar rumah karena di luar sudah jalan trotoar, ramai orang lalu lalang karena rumah kontrakannya berada di pusat kota

.

Ibu menitipkan adik di kamar sebelah, kemudian bergegas pergi mencari kakak.

Sambil memanggil-manggil nama kakak di sepanjang jalan LPI.

Ibu bertanya ke tetangga, di toko-toko sebelah, apa kakak main disitu, tetapi tidak ada semua.

Semakin panik ibu, tiba-tiba Nyah Cempli (toko jamu) bilang sama ibu kalau tadi melihat kakak berjalan membawa pensil alis dan buku kecil di tangan sambil bernyanyi-nyanyi.

Nyah Cempli sempat bertanya “Siwok mau kemana?” terus dijawab, “Siwok mau toyah, mau toyah..,” sambil berjalan lurus kesana, mungkin ke sekolahan TK.

Ibu pun bergegas menuju ke sekolahan sambil mengucapkan terimakasih kepada Nyah Cempli yang sudah memberi tahu.

 

Sesampainya di sekolah

Ibu : Assalamualaikum... salam ibu sambil ketuk-ketuk pintu kelas.

Waalaikumsalam’’ jawab Ibu guru sambil keluar membukakan pintu kelas.          

Ibu : mohon maaf bu guru, mau bertanya, apakah anak saya ada disini?’’

Sambil menceritakan ciri-ciri putri sulungnya.

Ibu guru : ooo iyaa ibu, putri ibu ada disini, itu sedang bersama teman-temannya’’(sambil menunjuk kedalam kelas).

Ibu guru : “Saya tanya, namanya siapa.., di jawab namanya Siwok, mau toyah katanya sambil menunjukkan pensil alis dan buku kecil.

Ibu : Ya Allah.. maaf bu guru, jadi merepotkan. Tadi saya tinggal memandikan adiknya, jadi tidak tahu kalau kakak keluar dan kesini. Itu yang dibawa buku kasbon saya (jawab ibu sambil tersipu malu)’’

Kemudian ibu pun dibawa masuk ke ruang kelas, ibu melihat kakak sedang duduk di atas meja di kerumunin teman-temannya.

kakak melihat ibu datang langsung bilang sama ibu : “Siwok toyah bue’’

ibu tersenyum meng-iyakan, sambil mengajaknya pulang.

Kakak tidak mau di ajak pulang, “Siwok mau toyah, mau toyah’’

 

Ibu guru bicara sama ibu : ‘’biar putrinya disini dulu bu, keinginan sekolahnya kuat sekali, kasihan kalau tidak di ijinkan, besok ibu daftarkan putrinya sekolah’’

Ibu : ‘’tetapi putri saya masih berumur 3 tahun bu guru’’?

Ibu guru : ‘’tidak apa-apa bu, ikut-ikutan sekolah dulu sambil menunggu umurnya sampai untuk masuk TK Nol kecil’’

Ibu : Baik bu guru, terimakasih.

 

Akhirnya ibupun menunggu kakak sekolah hari itu karena kakak tidak mau di ajak pulang.

Pukul 10.00 pagi, murid-murid sudah keluar dari kelas, ternyata sudah waktunya pulang sekolah. Kakak pun ikut keluar.

Sambil berpamitan kepada ibu guru, ibu mengucapkan terimakasih, sudah menerima kakak dengan baik.

Sepanjang jalan pulang kakak bernyanyi, wajahnya ceria sekali.

Kakak bertanya kepada ibu : bue, besok siwok toyah lagi yaa? (dialog anak kecil)

Ibu mengangguk dan menjawab : ‘’iyaa, besok siwok sekolah lagi’’

Kakak senang sekali mendengarnya, serasa hari nya pingin langsung besok saja.

Dalam perjalanan pulang dari sekolah sampai rumah banyak yang bertanya, “Siwok dari mana?

Siwok toyah, jawab kakak.(dengan wajah berseri-seri).

 

Sesampainya di rumah, ibu langsung ke kamar sebelah yang dititipin adik, sambil meminta maaf sudah merepotkan karena di tinggal mencari kakak. Dan ibu pun menceritakan kejadian yang barusan terjadi.

Bulek (panggilan ke tetangga kamar sebelah) menciumi kakak sambil bilang : anak pinter, sudah pingin sekolah ya..dan di jawab anggukan kepala oleh kakak sambil tersenyum riang.

 

Pukul 14.15 WIB Bapak pulang kerja, kakak sudah menunggunya di ruang depan. Di rumah kontrakan ada ruang luas di depan.

Begitu bapak datang, langsung menggendong kakak, kakak pun bercerita kalau tadi kakak toyah (sekolah).

Bapak masih belum paham apa yang kakak ceritakan, kemudian bertanya sama ibu

Siwok toyah tadi katanya, bener apa bu?

Kemudian ibu pun menceritakan semuanya, sambil menemani bapak makan siang.

Ibu bilang, itu anak berarti kalau ibu ajak ke puskesmas (sebelah sekolah TK)  dia hapalin jalannyaya pak?”

Yang ibu takutkan, itu  kan trotoar besar, banyak yang lalu lalang orang dari mana-mana, karena berada di depan pasar utama, terus jalan nya juga berbelok, kok hapal ya anak kita,

Itu yang ibu tidak habis pikir pak.

Karena kemauan sekolahnya tinggi jadi di hapalin jalan ke sekolahnya. Dia bawa pensil alis ibu yang sudah pendek dan buku kasbon kucel ibu (sambil tersenyum malu).

Bapak mendengarkan cerita ibu sambil ikut tersenyum, “Alhamdulillah bu, anak kita sudah pingin sekali sekolah, tidak perlu kita menyuruhnya.”

 

Sore harinya bapak mengajak kakak jalan-jalan ke toko sepatu untuk membelikan kakak sepatu buat sekolah dan tas sekolah juga peralatan sekolah TK.

Kakak gembira sekali, sampai rumah langsung di pakai sepatu dan tas nya.

Sambil muter-muter di depan kaca. Bapak dan ibu melihat sambil senyum-senyum.

Bapak berpesan sama kakak, “Di sekolah tidak  boleh rewel ya, anak pinter, anak sholeha. Kakak mengangguk, “iya pak..”

Karena kakak masih berumur 3 tahun takut rewel di sekolah. .  

Keesokan hari kakakpun berangkat sekolah, ibu mengantar dan menjemputnya.

Dan tidak terasa kakak sekolah sudah masuk kelas TK Nol Besar.

 

Hari ini kakak tanggal kelahirannya, sudah menjadi acara rutin ibu setiap kakak ulang tahun di rayakan, walaupun dengan sederhana. genap usia 5 tahun, kakak rencana mau merayakan ulang tahun di sekolahnya bersama teman-teman.

Ibu pagi-pagi sekali sudah sibuk memasak nasi kuning dan lauk nya, ibu hobby sekali memasak dan membuat kue. Jadi kalau kakak ulang tahun ibu masak dan membuat kue sendiri.

Kakak sudah berada di sekolah karena hari itu kegiatan sekolah seperti biasa.

Jam 10.00 WIB ibu datang di antar becak membawa makanan dan kue ulang tahun kakak, ibu sudah bilang sama bu guru jauh-jauh hari kalau hari itu mau merayakan ulang tahun kakak di sekolahnya.

Dengan di bantu ibu guru dan ibu-ibu yang putra putrinya sekolah di TK tersebut, ibu menyiapkan pesta kecil ulang tahun kakak.

Dan lonceng sekolah pun berbunyi, tanda jam pulang sekolah. Murid-murid berlarian keluar, semua pada berkumpul di halaman sekolah tempat bermain.

Menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama, membuat permainan dan kemudian makan bersama-sama.

 

Tahun berganti, kakak sudah masuk ke Sekolah Dasar (SD), mereka sekeluarga pindah ke desa, karena ibu hamil anak yang ketiga sampai ke empat.

Di desa ibu berjualan baju keliling dari desa ke desa, bapak masih bekerja di perusahaan yang sama. Sebagai anak sulung, kakak di rumah menjaga adik-adiknya.

 

Kelas V (Lima) Madrasah Ibtidaiyah (MI) kakak sekolah sambil berjualan makanan ringan di sekolah. Berangkat sekolah sambil membawa kantong kresek besar isi makanan, menggelar dagangannya jam istirahat, sambil menyeret-nyeret bangku ke luar kelas untuk menggelar dagangannya.

Setelah jam istirahat selesai, di masukkannya kembali dagangannya ke dalam kantong kresek besar. Pulang sekolah, uangnya di kasihkan ibu semua, untuk ibu belanjakan lagi.

Kelas VI (Enam) menjelang Ujian Sekolah, kakak tidak berjualan, karena harus konsentrasi belajar menghadapi Ujian Nasional.

 

Masuk bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ibu sudah tidak jualan baju lagi, tetapi ganti berjualan makanan, di titipkan di warung-warung.

Jam 2 dini hari ibu sudah di dapur, menyiapkan bahan-bahan dagangannya, ibu jualan gorengan Pia-pia, pastel, kue dadar gulung.

Jam 5.30 pagi, sebagian dagangannya sudah siap untuk di titipkan, ibu membangunkan anak-anaknya untuk siap-siap berangkat sekolah.

Kakak sudah bangun duluan, karena tugasnya membawa makanan di titipkan ke warung-warung di sekitar rumah. Kakak juga membawa dagangan ke sekolah untuk di titipkan di kantin sekolah.

 

Ibu mendidik kakak menjadi anak yang mandiri, sebagai anak sulung yang mempunyai 3 orang adik, tumbuh dalam keluarga sederhana.

Lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak bisa seperti teman-temannya yang langsung meneruskan kuliah, tetapi kakak harus bekerja dulu.

Begitupun dengan adik-adiknya, ibu mendidiknya menjadi anak-anak yang tangguh, dalam keadaan dan situasi apapun, sebagai awal Langkah Perempuan Indonesia yang mandiri.

 

Dan kini ibu sudah tidak bersama lagi, satu tahun yang lalu ibu di panggil Allah Subhanahu Wa Ta’ala.