Pukul
06.30 pagi, seperti biasa kesibukan ibu di pagi itu sebelum bapak berangkat
bekerja, memandikan putri sulungnya dulu
sebelum adiknya bangun. Kakak sudah
terbiasa bangun sebelum bapak berangkat kerja, karena kakak selalu ikut mengantar bapak ke
pintu sebelum pamit kerja.
Ibu, seorang ibu rumah tangga
biasa dengan dua putri, putri yang
pertama ber umur 3 tahun dan adiknya umur 2 bulan. Bapak bekerja sebagai
karyawan di sebuah Perusahaan Textil
swasta yang ternama di kota tempat mereka
tinggal.
Setelah
selesai memandikan kakak (putri
sulungnya), sudah rapi dan wangi, ibu menyuapin
kakak sarapan bubur nasi, menu sarapan rutin kakak yang ibu beli di warung
sebelah.
Ibu sekeluarga menghuni
rumah kontrakan yang di siapkan perusahaan bapak bekerja, satu rumah seperti
asrama,
terdiri dari beberapa kamar, jadi
sangat ramai setiap hari, apalagi lokasi rumah yang berdekatan dengan jalan
raya.
Adik
bangun tidur, menangis, bergegas ibu menghampiri
adik yang berada di ayunan, menggendong adik yang
minta nenen.
Setelah
selesai menyusui adik, ibu memasak air di dapur dan menyiapkan air untuk
memandikan adik.
Adik di temani kakak bermain main di kamar.
Setelah
selesai menyiapkan air, ibu memandikan adik
dulu.
Kakak
yang sendirian di kamar melihat
di meja ada pensil (pensil alis
ibu yang tinggal separo)
dan buku kasbon (catatan hutang
belanja) ibu yang sudah kucel, di ambil dan di bawanya
keluar rumah.
Kakak
berjalan menyusuri trotoar di
sepanjang jln LPI, sambil bernyanyi nyanyi kecil.
Banyak
yang bertanya kepada kakak sepanjang jalan,
‘’Siwok
(nama panggilan kesayangan kakak) mau
kemana, kok sendirian? Ibu dimana?’’
Kakak
menjawab : “siwok
mau toyah (mau sekolah), mau toyah’’
Sepanjang
jalan setiap ada yang nanya, kakak jawab “mau
toyah’’
Jarak
antara rumah kontrakan dengan sekolah
Taman Kanak-Kanak (TK) yang di tuju kakak sekitar 500
meter. Waktu itu belum ada sekolah PAUD.
Di
sekolah TK sudah berlangsung kegiatan
belajar ketika kakak sampai, kakak terdiam di
pintu sekolah, sambil melihat
kedalam kelas, ibu guru melihat ada anak kecil berdiri di pintu sambil membawa buku dan pensil, mendatangi
kakak, di bawanya
masuk kelas, di dudukkan sambil
bertanya :
Ibu
guru : “Namanya siapa?”
Kakak
: “Siwok”
Ibu
guru : “Siwok mau apa ke
sekolah?”
Kakak
: “Siwok mau toyah (sambil memperlihatkan
pensil alis dan buku kasbon ibu).”
Ibu
guru tersenyum : “Siwok
kesini sama siapa?”
(bu
guru bertanya sambil melihat keluar sekolah,
tidak ada orang tuanya yang mengantar).
Kakak
: “Cendili (sendiri).”.
Kembali ke rumah kontrakan
Selesai
memandikan adik, ibu memanggil-manggil kakak, “kakak.. kok sepi kemana ya itu anak (ibu bertanya
dalam hati) mungkin ada di sebelah
(pikirnya).”
Dan
ibu pun melanjutkan mengurus adik. Setelah adik sudah selesai, sudah cantik dan wangi, ibu menggendong
adik, sambil mencari kakak di
sebelah, tidak ada. Di kamar sebelahnya lagi juga tidak ada, semua kamar di rumah kontrakan tidak
ada kakak disana.
Ibu
panik, kemana kakak pergi, khawatir ke luar rumah karena di luar sudah jalan trotoar, ramai orang lalu lalang karena rumah kontrakannya
berada di pusat kota
.
Ibu
menitipkan adik di kamar sebelah, kemudian bergegas pergi mencari kakak.
Sambil
memanggil-manggil nama kakak di sepanjang jalan LPI.
Ibu
bertanya ke tetangga,
di toko-toko sebelah, apa kakak main disitu, tetapi tidak ada semua.
Semakin
panik ibu, tiba-tiba Nyah Cempli (toko
jamu) bilang sama ibu kalau tadi melihat kakak berjalan membawa pensil alis dan
buku kecil di tangan sambil bernyanyi-nyanyi.
Nyah
Cempli sempat bertanya “Siwok mau kemana?”
terus dijawab, “Siwok
mau toyah, mau toyah..,”
sambil berjalan lurus kesana, mungkin ke sekolahan TK.
Ibu
pun bergegas menuju ke
sekolahan sambil mengucapkan terimakasih kepada Nyah Cempli
yang sudah memberi tahu.
Sesampainya
di sekolah
Ibu
: “Assalamualaikum...” salam ibu sambil
ketuk-ketuk pintu kelas.
“Waalaikumsalam…’’ jawab Ibu guru sambil keluar
membukakan pintu kelas.
Ibu
: “mohon maaf bu guru, mau
bertanya, apakah anak saya ada
disini?’’
Sambil
menceritakan ciri-ciri putri sulungnya.
Ibu
guru : “ooo iyaa ibu, putri ibu
ada disini, itu sedang bersama teman-temannya’’(sambil menunjuk kedalam kelas).
Ibu guru : “Saya tanya,
namanya siapa..,
di jawab namanya Siwok,
mau toyah katanya sambil menunjukkan pensil alis dan buku kecil.
Ibu
: “Ya Allah.. maaf bu
guru, jadi merepotkan. Tadi saya tinggal memandikan adiknya, jadi tidak tahu
kalau kakak keluar dan kesini. Itu yang dibawa buku kasbon saya (jawab ibu
sambil tersipu malu)’’
Kemudian
ibu pun dibawa masuk ke ruang kelas, ibu melihat kakak sedang duduk di atas
meja di kerumunin teman-temannya.
kakak
melihat ibu datang langsung bilang sama ibu : “Siwok toyah bue’’
ibu
tersenyum meng-iyakan, sambil mengajaknya pulang.
Kakak
tidak mau di ajak pulang, “Siwok
mau toyah, mau toyah’’
Ibu
guru bicara sama ibu : ‘’biar putrinya disini
dulu bu, keinginan sekolahnya kuat sekali, kasihan kalau tidak di ijinkan,
besok ibu daftarkan putrinya
sekolah’’
Ibu : ‘’tetapi putri saya masih berumur 3 tahun bu guru’’?
Ibu guru : ‘’tidak
apa-apa bu, ikut-ikutan sekolah dulu sambil menunggu umurnya sampai untuk masuk TK Nol kecil’’
Ibu : Baik bu guru, terimakasih.
Akhirnya ibupun menunggu kakak sekolah
hari itu karena kakak tidak mau di ajak pulang.
Pukul
10.00 pagi, murid-murid sudah keluar dari kelas, ternyata sudah waktunya pulang
sekolah. Kakak pun ikut keluar.
Sambil
berpamitan kepada ibu guru, ibu mengucapkan terimakasih, sudah menerima kakak
dengan baik.
Sepanjang
jalan pulang kakak bernyanyi,
wajahnya ceria sekali.
Kakak
bertanya kepada ibu : bue, besok siwok toyah lagi yaa? (dialog anak kecil)
Ibu
mengangguk dan menjawab : ‘’iyaa, besok
siwok sekolah lagi’’
Kakak
senang sekali mendengarnya, serasa hari nya pingin langsung besok saja.
Dalam
perjalanan pulang dari sekolah
sampai rumah banyak yang bertanya, “Siwok dari mana?”
“Siwok toyah”, jawab kakak.(dengan wajah berseri-seri).
Sesampainya
di rumah, ibu langsung ke kamar sebelah yang dititipin adik, sambil meminta
maaf sudah merepotkan karena di tinggal mencari kakak. Dan ibu pun menceritakan
kejadian yang barusan terjadi.
Bulek
(panggilan ke tetangga kamar sebelah) menciumi kakak sambil bilang : anak pinter,
sudah pingin sekolah ya..dan di jawab anggukan kepala oleh kakak sambil tersenyum riang.
Pukul
14.15 WIB Bapak pulang kerja, kakak sudah menunggunya di ruang depan. Di rumah kontrakan ada ruang luas di depan.
Begitu
bapak datang, langsung menggendong kakak, kakak pun bercerita kalau tadi kakak
toyah (sekolah).
Bapak
masih belum paham apa yang kakak ceritakan, kemudian bertanya sama ibu
“Siwok toyah tadi
katanya, bener apa bu?”
Kemudian
ibu pun menceritakan semuanya, sambil menemani bapak makan siang.
Ibu
bilang, “itu anak berarti kalau ibu ajak ke puskesmas
(sebelah sekolah TK) dia hapalin jalannyaya pak?”
“Yang ibu takutkan, itu kan trotoar besar, banyak yang lalu lalang orang dari
mana-mana, karena berada di depan
pasar utama, terus jalan nya juga berbelok, kok
hapal ya anak kita,
Itu
yang ibu tidak habis pikir pak.”
“Karena kemauan
sekolahnya tinggi jadi di hapalin jalan ke sekolahnya. Dia bawa pensil alis ibu
yang sudah pendek dan buku kasbon kucel ibu (sambil tersenyum malu).”
Bapak mendengarkan cerita ibu sambil ikut tersenyum, “Alhamdulillah
bu, anak kita sudah pingin sekali sekolah, tidak perlu kita menyuruhnya.”
Sore
harinya bapak mengajak kakak jalan-jalan ke toko sepatu untuk membelikan kakak
sepatu buat sekolah dan tas sekolah juga peralatan sekolah TK.
Kakak
gembira sekali, sampai rumah langsung di pakai sepatu dan tas nya.
Sambil
muter-muter di depan kaca. Bapak dan ibu melihat sambil senyum-senyum.
Bapak
berpesan sama kakak, “Di
sekolah tidak boleh rewel ya, anak pinter, anak sholeha.” Kakak mengangguk, “iya pak..”
Karena
kakak masih berumur
3 tahun takut rewel di sekolah. .
Keesokan hari kakakpun berangkat sekolah, ibu mengantar
dan menjemputnya.
Dan tidak terasa kakak sekolah sudah masuk kelas TK
Nol Besar.
Hari ini kakak tanggal kelahirannya, sudah
menjadi acara rutin ibu setiap kakak ulang tahun di rayakan, walaupun dengan
sederhana. genap usia 5 tahun, kakak rencana mau merayakan ulang tahun di
sekolahnya bersama teman-teman.
Ibu
pagi-pagi sekali sudah sibuk memasak nasi kuning dan lauk nya, ibu hobby sekali
memasak dan membuat kue. Jadi kalau kakak ulang tahun ibu masak dan membuat kue
sendiri.
Kakak
sudah berada di sekolah karena hari itu kegiatan sekolah seperti biasa.
Jam
10.00 WIB ibu datang di antar becak membawa
makanan dan kue ulang tahun kakak, ibu sudah
bilang sama bu guru jauh-jauh hari kalau hari itu mau merayakan ulang tahun
kakak di sekolahnya.
Dengan
di bantu ibu guru dan ibu-ibu
yang putra putrinya sekolah di TK tersebut, ibu
menyiapkan pesta kecil ulang tahun kakak.
Dan
lonceng sekolah pun berbunyi, tanda jam pulang sekolah. Murid-murid berlarian
keluar, semua pada berkumpul di halaman sekolah tempat bermain.
Menyanyikan
lagu selamat ulang tahun bersama, membuat permainan dan kemudian makan
bersama-sama.
Tahun berganti, kakak sudah masuk ke Sekolah Dasar
(SD), mereka sekeluarga pindah ke desa, karena ibu hamil anak yang ketiga
sampai ke empat.
Di desa ibu berjualan baju keliling dari desa ke desa,
bapak masih bekerja di perusahaan yang sama. Sebagai anak sulung, kakak di
rumah menjaga adik-adiknya.
Kelas V (Lima) Madrasah Ibtidaiyah (MI) kakak sekolah
sambil berjualan makanan ringan di sekolah. Berangkat sekolah sambil membawa
kantong kresek besar isi makanan, menggelar dagangannya jam istirahat, sambil
menyeret-nyeret bangku ke luar kelas untuk menggelar dagangannya.
Setelah jam istirahat selesai, di masukkannya kembali
dagangannya ke dalam kantong kresek besar. Pulang sekolah, uangnya di kasihkan
ibu semua, untuk ibu belanjakan lagi.
Kelas VI (Enam) menjelang Ujian Sekolah, kakak tidak
berjualan, karena harus konsentrasi belajar menghadapi Ujian Nasional.
Masuk bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ibu sudah
tidak jualan baju lagi, tetapi ganti berjualan makanan, di titipkan di
warung-warung.
Jam 2 dini hari ibu sudah di dapur, menyiapkan
bahan-bahan dagangannya, ibu jualan gorengan Pia-pia, pastel, kue dadar gulung.
Jam 5.30 pagi, sebagian dagangannya sudah siap untuk
di titipkan, ibu membangunkan anak-anaknya untuk siap-siap berangkat sekolah.
Kakak sudah bangun duluan, karena tugasnya membawa
makanan di titipkan ke warung-warung di sekitar rumah. Kakak juga membawa
dagangan ke sekolah untuk di titipkan di kantin sekolah.
Ibu mendidik kakak menjadi anak yang mandiri, sebagai
anak sulung yang mempunyai 3 orang adik, tumbuh dalam keluarga sederhana.
Lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak bisa seperti
teman-temannya yang langsung meneruskan kuliah, tetapi kakak harus bekerja
dulu.
Begitupun dengan adik-adiknya, ibu mendidiknya menjadi
anak-anak yang tangguh, dalam keadaan dan situasi apapun, sebagai awal Langkah
Perempuan Indonesia yang mandiri.
Dan kini ibu sudah tidak bersama lagi, satu tahun yang
lalu ibu di panggil Allah Subhanahu Wa Ta’ala.