Ada cerita yang tak lagi untuk diulang,
tapi cukup dituliskan… lalu diikhlaskan.
Mas Ton, sebuah cerpen yang lahir dari perjalanan rasa, kini melangkah mengikuti lomba cerpen nasional.
Ada cerita yang tak lagi untuk diulang,
tapi cukup dituliskan… lalu diikhlaskan.
Mas Ton, sebuah cerpen yang lahir dari perjalanan rasa, kini melangkah mengikuti lomba cerpen nasional.
Di antara perjalanan hari ini,
ada satu hal yang tidak ingin aku lewatkan:
ucapan terima kasih
untuk seseorang yang telah meluangkan waktunya,
meninggalkan kesibukannya,
dan memilih untuk hadir demi sebuah amanah kecil
yang tidak mungkin kuselesaikan sendiri.
Terima kasih…
atas support yang tidak pernah setengah hati,
atas kesediaan mengantar, menunggu, dan mendampingi,
atas kesabaran yang menenangkan langkahku hari ini.
Tanpa beliau,
SPT yayasan ini tidak akan terkirim.
Karena NPWP beliau terhubung otomatis di sistem,
karena tanda tangan beliau yang dibutuhkan,
karena kehadirannya yang memudahkan.
Segala kemudahan hari ini
adalah bentuk kasih Allah
yang disampaikan melalui tangan-tangan baik
yang Allah hadirkan tepat pada waktunya.
Dan aku bersyukur…
benar-benar bersyukur,
bahwa di tengah lelahku,
ada seseorang yang tetap memilih berada di sisiku
hingga amanah ini terselesaikan.
Terima kasih…
semoga setiap langkah dan waktunya
Allah balas dengan kebaikan yang lebih luas dari langit.
Jumat Berbagi — Ramadhan 2026
Sejak pagi, hujan turun tanpa jeda. Langit kelabu, bumi basah, dan udara terasa berat.
Di tengah derasnya hujan itu, ada satu kegelisahan kecil yang tumbuh di hatiku:
“Bagaimana anak yatim itu bisa datang ke kantor? Hujannya terlalu deras… kasihan dia.”
Jam terus berjalan.
Undangan kami terjadwal pukul 13.00.
Hujan masih deras, seolah tidak ingin berhenti.
Aku hanya bisa menatap jendela dan berdoa dalam hati,
“Ya Allah… mudahkan langkah kecilnya. Jangan biarkan ia kehujanan.”
Lalu sesuatu terjadi.
Ketika jarum jam tepat menyentuh pukul satu…
hujan tiba-tiba reda.
Awan membuka diri.
Cahaya matahari turun dengan lembut, seperti salam dari langit.
Adik yatim itu datang tepat waktu.
Kakinya tidak basah, bajunya tidak basah, langkahnya ringan.
Seolah alam pun menunggu kedatangannya.
Dan setelah ia pulang…
hujan turun lagi.
Lebih deras dari sebelumnya.
Seolah langit menutup pintunya kembali setelah memberi ruang bagi satu urusan kebaikan.
Masyaa Allah…
Hatiku langsung bergetar.
Betapa lembutnya Allah menata setiap detik.
Betapa halus pertolongan-Nya.
Betapa besar perhatian-Nya pada niat baik sekecil apa pun.
Ini bukan kebetulan.
Ini adalah cara Allah menunjukkan:
“Selama kau berjalan di jalan kebaikan, Aku akan buka jalannya.”
Jumat Berbagi hari ini terasa berbeda.
Tidak hanya tentang santunan, tidak hanya tentang program.
Tapi tentang bagaimana Allah sendiri turun tangan
untuk melindungi satu langkah kecil menuju sebuah kebaikan.
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
Semoga kisah ini menjadi penguat bagi siapa pun yang membacanya.
Bahwa Allah selalu dekat…
bahkan di sela-sela rintik hujan.