KESAKTIAN PANCASILA

Sejarah itu masih tertulis jelas
Bagaimana para pahlawan di bunuh dengan kejamnya
7 jendral meregang nyawa dalam kebengisan pki
Pembantaian massal dimana²

1 oktober 1965
Hari kesaktian pancasila menggema
Memperingati para pahlawan revolusi
Yang rela mati demi memegang teguh ideologi 

Bagaimana dengan kita para penerus bangsa?
Sila² pancasila yang mengandung penuh makna
Sila pertama sampai sila kelima
Tugas anak bangsa untuk mengamalkannya

Mengheningkan cipta mengenang para pahlawan bangsa
Memegang kokoh ideologi pancasila
Sebagai dasar negara 
Pemersatu bangsa dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika

MAAFKAN AKU

KETIDAKSEMPURNAANKU
Karya : Ana Restuningtyas

Maafkan aku yang tak sempurna
Yang tak dapat setiap waktu bersamamu
Yang tak dapat memberi kebahagiaan dengan wujud nyata
Yang tak dapat merajut nikmat semesta

Maafkan aku yang tak sempurna
Yang hanya bisa menunggu kabarmu
Dalam hari-hari sepiku
Menantikan kehadiranmu yang tak kunjung temu

Maafkan aku yang tak sempurna
Yang belum bisa membahagiakanmu
Dan masih sering merepotkanmu
Karena aku tak sempurna seperti dulu

Maafkan aku yang tak sempurna
Kecelakaan itu telah merenggut kebahagiaan kita
Sebagai hamba hanya bisa menerima apa yang menjadi titah Nya
Semoga Alloh memberi kesempatan aku untuk bisa berjalan lagi seperti sedia kala.

TRAGEDI DI BULAN SEPTEMBER

21 September 2001
20 tahun yang lalu
Aku sedang dalam keadaan yang kesakitan
kesakitan yang teramat sangat
Dengan kedua tangan tertancap jarum infus
Slang oksigen membantu pernafasanku lengkap monitor komputer di sebelahnya
Antara sadar dan tidak hidupku waktu itu
Aku belum mengetahui yang sakit itu apa
Punggungku tertimpa mesin
Dan tidak ada darah yang keluar dari tubuhku
Aku juga belum mengetahui bahwa kaki ini sudah tidak bisa di gerakkan lagi
Karena seluruh tubuh masih di ikat untuk tidak boleh bergerak² 
Hari itu... Antara hidup dan matiku
Kesakitan
Hingga saat ini.

20 tahun ku di kursi roda

SAJAK RINDU

Karya : Ana restuningtyas

Dalam setiap narasi yang ku tulis
Dalam setiap hentakan penaku
Dalam helaan nafasku
Dalam degup jantungku
Segalanya tentangmu

Masih seperti dulu
Kamu adalah alasanku yang membuatku bergairah mengharungi kehidupan 
Walau hanya sekedar bayangan 
Terkadang aku cemburu dengan waktu yang selalu mendampingimu

Dia yang selalu membuatku jatuh cinta
Selalu hadir dalam goresan aksara
Memendam rasa yang membuncah di dada

Entah sampai kapan aku bisa menahan gejolak ini
Denganmu aku menemukan kasih nan tulus
Namun.. Cinta meminta sabar
Dan hanya bisa kudawamkan dalam doa 

TERPAKU WAKTU

Karya : Ana restuningtyas

Menjelang siang di hari jumat 
Menghirup udara penuh keberkahan
Matahari nan cantik tertutup awan awan tebal
Seketika langit menurunkan rintik air hujan
Dingin menembus sampai ke tulang

Aku masih duduk sendiri
Menghentakkan pena mengikuti irama tetes air hujan
Entah kenapa, akhir-akhir ini
Tiada gairah menyusun aksara
Melahirkan sebuah diksi syair insani

Tak terhitung lagi, tetesan keberapa aku masih terpaku
Terbayang wajah nya nan sendu
Kita masih terpisahkan oleh keadaan
Mengikuti alur skenario Tuhan

Karena kamu, aku masih bertahan
Menjalani hari-hari penuh perjuangan
Melintasi waktu dan ruang
Meski terkadang lelah itu datang.

Hujan diluar semakin deras
Dalam hening tercipta rasa dan asa
Kumulai menata aksara 
Menitipkan kepada semesta
Semoga kita semua selalu dalam perlindunganNya




SEPERTIGA MALAMKU

Terbangun dari mimpi
Melihat jam di dinding menunjukkan pukul 03.00 dini hari
Waktunya aku mencurahkan isi hati 
Hanya kepada Illahi Robbi

Robbisrohli Sodri
Ku eja ayatMu satu persatu
Ya Alloh.. Lapangkanlah dadaku
Hilangkanlah segala rasa yang menyesakkan kalbu
Hanya kepadaMu lah aku mengadu

Wa Yassirli Amri
Permudahkanlah urusanku
Kesulitan dan kesempitan
Apa karena dosaku yang tak terhitung lagi?
Tak terasa, air mata jatuh berderai
Tersungkur ku di atas bentangan sajadah ini

Ampuni hamba Ya Robbi..
Di sepertiga malam ku ketuk pintu arsy-Mu
Merengek, merayu, bermanja kepada-Mu
Malaikat bersaksi untuk setiap malam-malam munajatku.

wahlul uqdatam millisani yafqohu qouli
Lepaskanlah kekakuan lidahku dalam berucap
Malam semakin mengiris sepi
Lantunan doa-doa kulangitkan
Memburu keredhoan-Nya 
Menggapai cinta-Nya



TERUNTUK ALMARHUMAH IBUKU

Karya Ana Restuningtyas


27 September 2019
Bagai di sambar petir mendengar kabar ibu
Duka cita yang teramat sangat
Malam itu,hembusan nafas terakhirnya.
Semesta bumi dan langit seketika gelap gulita.

Ibu
Genap 2 tahun sepeninggalmu
Di atas pusaramu
Kulafadzkan doa-doa
Untukmu yang sudah berada di surga
Semoga Alloh memelukmu selalu dengan penuh cinta

Ibu 
Aku sangat merindukanmu
Hampa hidup ini semenjak kepergianmu
Kehilanganmu adalah duka sepanjang hidupku
Ikhlas menjalani takdir yang sudah menjadi ketetapan-Nya

Ibu
Masih teringat terakhir kali melihatmu
Yang sedang sangat kesakitan 
Dan Alloh mengajakmu pulang agar engkau tidak lagi merasakan kesakitan.

Ibu
Walaupun sudah tiada
Tetap ada dalam hati ini selamanya
Cinta dan kasih sayangnya
Canda tawanya
Nasehat dan petuahnya
Memelukku sepanjang masa
Hingga waktunya tiba 
Kita bersua kembali di alam sana

Allahummaghfirlaha warhamha wa 'afiha wa'fuanha.

PURNAMA MERINDU

Poem : Ana Restuningtyas
Bulan purnama menyapa lewat jendela kamarku
Malam semakin pekat
Sunyi sepi di temani denting suara jam di dinding
Memegang sebuah pena, untuk mulai berkelana menggores tinta
Merambah kata lewat narasi cerita 

Secangkir kopi hitam sudah kusiapkan
Kopi hitam yang selalu kuseduh untuknya
Dulu… sewaktu masih bersama
Kehidupan bahagia yang pernah kita jalani sebelumnya
Hingga akhirnya perpisahan itu merenggut pondasi jalinan cinta kita

Menulis cerita ini, sambil senyum senyum sendiri
Masih hangat pelukan eratmu
Masih membekas kecupan keningmu
Walau luka terpatri di dalam hati
Kusimpan rapat dalam album kenangan

Hadirmu dalam bayangan semu
Penyemangat kalbu setiap waktu
Walau kita tak bisa bersatu
Namamu selalu dalam doaku
Semoga kamu bahagia selalu