Tampilkan postingan dengan label refleksi harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi harian. Tampilkan semua postingan

Laa Ilaaha Illaa Anta, Subhaanaka Innii Kuntu Minazh-Zhaalimiin


REFLEKSI HARIAN

Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.

Hari ini aku ingin bercerita tentang sesuatu yang cukup berat bagiku.

Tentang niat baik yang ternyata membawa beban panjang.

Tentang kepercayaan yang kuberikan kepada seseorang.

Dan tentang bagaimana aku belajar menyerahkan sesuatu yang tidak mampu kuselesaikan sendiri kepada Allah.

Awalnya, ada seseorang yang berutang melalui aku. Ketika tiba waktunya membayar angsuran, ia mengatakan belum bisa membayar karena ada keluarganya yang sakit.

Aku mencoba memahami keadaannya.

Kebetulan saat itu aku masih memiliki rezeki, maka kubayarkan angsurannya terlebih dahulu.

Bulan berikutnya, ia kembali belum bisa membayar. Kali ini karena keluarganya yang sakit meninggal dunia.

Aku kembali mencoba memahami keadaannya. Aku tahu kehilangan seseorang yang dicintai bukan perkara mudah. Maka sekali lagi, aku membayarkan angsurannya.

Bulan demi bulan berlalu.

Ada kebutuhan lain yang harus diurus keluarganya. Aku terus berusaha memahami, hingga akhirnya empat bulan berturut-turut aku membayarkan angsuran yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Aku tidak pernah menyangka, niatku membantu justru membuatku berada dalam keadaan yang sulit.

Ketika masa berduka sudah berlalu, aku mulai menagih uangku.

Sebab uang yang kugunakan untuk membayar angsurannya bukan seluruhnya milikku. Aku sampai meminjam dengan menggadaikan kalung milik seorang teman.

Aku sudah jujur sejak awal. Aku mengatakan bahwa kalung itu harus segera ditebus atau dibayar sebelum jatuh tempo.

Waktu terus berjalan.

Ketika aku menghubunginya, tidak ada jawaban yang kudapatkan. Pesan demi pesan kukirimkan, tetapi tetap tidak ada respons.

Sekarang sudah lima bulan berlalu.

Uangku belum kembali.

Sementara waktu jatuh tempo gadai semakin dekat. Aku bahkan sudah berusaha mencari jalan keluar, tetapi orang yang kuharapkan bisa menyelesaikan tanggung jawabnya justru tidak memberikan kabar.

Di sinilah aku mulai merasakan beratnya keadaan.

Aku juga punya kebutuhan.

Aku juga punya kewajiban.

Aku juga harus memikirkan kehidupan sehari-hariku.

Dan yang mungkin tidak selalu dipahami orang lain, aku adalah seorang penyandang disabilitas dengan kondisi lumpuh. Aku tidak memiliki keleluasaan untuk bekerja dan mencari uang seperti kebanyakan orang.

Dulu, keadaan ekonomiku tidak seperti sekarang. Ada pemasukan yang bisa kuandalkan. Tetapi hari ini, aku harus lebih berhati-hati dalam mengatur setiap rupiah yang kumiliki.

Aku pun sedang berjuang memenuhi kebutuhanku sendiri.

Lalu mengapa aku harus terus memikul kewajiban orang lain, sementara keadaanku sendiri juga sedang sulit?

Aku tidak menuliskan ini untuk membenci siapa pun.

Aku hanya manusia yang bisa merasa lelah.

Aku bisa kecewa.

Aku bisa sedih ketika niat baikku tidak diiringi tanggung jawab yang sama.

Tetapi di tengah semua itu, aku tidak ingin kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang: ketenangan hatiku.

Maka aku kembali mengingat doa Nabi Yunus AS ketika beliau berada dalam kegelapan:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.

Doa ini mengingatkanku bahwa ketika keadaan terasa gelap, aku masih memiliki tempat untuk kembali.

Allah.

Aku tidak harus menyimpan semua kegelisahan ini sendirian. Aku bisa menceritakan semuanya kepada-Nya, tanpa perlu menyusun kata-kata yang indah.

Aku bisa mengakui bahwa aku lelah.

Aku bisa memohon agar Allah membukakan jalan.

Aku bisa menangis dalam doa, lalu kembali berusaha ketika hatiku lebih tenang.

Ya Allah, aku tidak tahu bagaimana urusan ini akan selesai.

Aku tidak tahu bagaimana uangku akan kembali.

Aku tidak tahu bagaimana aku harus menghadapi jatuh tempo gadai yang semakin dekat.

Tetapi aku tahu bahwa Engkau mengetahui seluruh keadaanku.

Engkau tahu niatku ketika membantu.

Engkau tahu keterbatasanku.

Engkau tahu bahwa aku pun sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidupku sendiri.

Maka aku memohon kepada-Mu, ya Allah, bukakanlah jalan keluar yang baik.

Lunakkanlah hati orang yang memiliki tanggung jawab kepadaku agar ia tergerak untuk menyelesaikan kewajibannya.

Berikanlah ia kesadaran untuk tidak menghindar dari tanggung jawabnya.

Dan berikanlah aku kekuatan untuk menjaga hakku tanpa harus kehilangan ketenangan hati.

Aku ingin tetap menjadi orang yang suka membantu.

Tetapi aku juga harus belajar bahwa membantu orang lain bukan berarti mengabaikan keselamatan dan kebutuhan diriku sendiri.

Aku boleh berempati kepada kesulitan orang lain, tetapi aku juga harus jujur terhadap keterbatasanku.

Aku boleh memberi pertolongan, tetapi aku tidak harus terus-menerus menanggung kewajiban yang bukan milikku.

Berbuat baik tidak berarti aku harus membiarkan diriku sendiri berada dalam kesulitan yang semakin besar.

Hari ini aku belajar untuk lebih bijaksana.

Aku akan tetap berdoa untuknya dan untuk diriku sendiri.

Aku akan tetap mengusahakan jalan keluar.

Aku akan menagih hakku dengan baik dan tegas.

Dan aku akan belajar menyerahkan hasil yang tidak mampu kukendalikan kepada Allah.

Sebab aku percaya, mendekat kepada Allah bukan berarti aku tidak boleh memperjuangkan hakku.

Justru aku ingin melakukannya tanpa kebencian, tanpa kezaliman, dan tanpa kehilangan arah.

🤲 Doa Hari Ini

Ya Allah...

Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.

Ya Allah, aku datang kepada-Mu dengan segala kegelisahan yang tidak selalu mampu kuceritakan kepada manusia.

Engkau mengetahui apa yang sedang kuhadapi.

Engkau mengetahui kewajiban yang harus kuselesaikan.

Engkau mengetahui uang yang harus kembali kepadaku, tanggung jawab yang sedang menungguku, dan keterbatasan yang harus kujalani setiap hari.

Ya Allah, jangan biarkan kesulitan ini membuat hatiku dipenuhi kebencian.

Namun jangan pula biarkan aku kehilangan keberanian untuk memperjuangkan hakku.

Tunjukkan kepadaku jalan keluar yang halal dan baik.

Cukupkan rezekiku.

Mudahkan urusanku.

Bantulah aku menyelesaikan kewajiban yang ada di hadapanku.

Jika ada hakku yang tertahan, mudahkanlah agar hak itu kembali kepadaku.

Jika ada jalan yang belum kulihat, tunjukkanlah.

Jika aku harus mengambil keputusan, bimbinglah agar aku tidak bertindak karena amarah ataupun ketakutan.

Ya Allah, aku ingin terus berbuat baik, tetapi aku juga ingin belajar menjadi lebih bijaksana.

Ajari aku menolong tanpa melampaui kemampuanku.

Ajari aku ikhlas tanpa mengabaikan tanggung jawab.

Ajari aku berserah diri tanpa berhenti berikhtiar.

Dan ketika aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, ingatkan aku untuk kembali kepada-Mu.

Aku tidak tahu bagaimana jalan keluarnya, ya Allah. Tetapi aku percaya Engkau mengetahui jalan yang tidak kuketahui.

Aku serahkan kegelisahanku kepada-Mu, sambil terus melakukan apa yang masih mampu kulakukan.

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin. 🤲🏻

Catatan untuk Diriku

Aku boleh memiliki hati yang lembut, tetapi aku juga harus memiliki batas yang sehat.

Aku boleh membantu orang lain, tetapi aku tidak harus mengorbankan kebutuhan pokokku sendiri.

Aku boleh memaafkan, tetapi aku tetap berhak meminta pertanggungjawaban.

Dan aku boleh menyerahkan segala urusan kepada Allah, sambil terus berusaha menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabku.

Ya Allah, jagalah hatiku agar tetap baik, dan tuntunlah langkahku agar tetap bijaksana.




Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir

Ya Allah, cukupkanlah rezekiku untuk segala kebutuhan yang harus kutunaikan. Mudahkan langkahku, bukakan jalan yang baik, dan hadirkan pertolongan-Mu dari arah yang tidak kusangka-sangka. Jangan jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, tetapi cukupkan aku dengan pertolongan-Mu. Aamiinn ya Mujibassailiin.. 



KUN FAYAKUN

 

Refleksi Harian

Hari ini aku kembali mengingat satu kalimat yang begitu sederhana, tetapi begitu besar maknanya:

KUN FAYAKUN.

Jadilah, maka jadilah.

Betapa sering aku melihat masalah dari ukuranku sendiri.

Aku menghitung kemampuan.

Aku menghitung uang.

Aku menghitung waktu.

Aku menghitung siapa yang bisa membantu.

Aku menghitung kemungkinan-kemungkinan.

Lalu aku berpikir,

“Bagaimana mungkin semuanya bisa selesai?”

Padahal aku lupa...

Aku sedang menghitung dengan kemampuan manusia.

Sementara aku memiliki Allah Yang Maha Kuasa.

Apa yang terasa mustahil bagiku, tidak mustahil bagi Allah.

Apa yang tidak bisa kubuka dengan tanganku, bisa Allah bukakan melalui jalan yang tidak pernah terpikirkan.

Apa yang tidak mampu kuselesaikan dengan kekuatanku, bisa Allah selesaikan dengan kehendak-Nya.

Maka hari ini aku tidak ingin terlalu sibuk memikirkan “bagaimana caranya?”

Aku ingin lebih banyak mengingat siapa yang memiliki segala cara.

Allah.

Allah yang menciptakan langit dan bumi.

Allah yang menggenggam seluruh rezeki.

Allah yang membolak-balikkan keadaan.

Allah yang mampu mengubah kesulitan menjadi kemudahan.

Allah yang mampu menghadirkan pertolongan dari arah yang tidak pernah kusangka.

KUN FAYAKUN.

Jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, tidak ada manusia yang mampu menghalanginya.

Dan jika Allah belum menghendaki sesuatu terjadi, aku pun tidak perlu memaksakan kehendakku.

Tugasku adalah meminta.

Berdoa.

Berikhtiar.

Bersabar.

Kemudian percaya kepada keputusan-Nya.

Aku tidak tahu kapan pertolongan itu datang.

Aku tidak tahu melalui pintu yang mana.

Aku tidak tahu seperti apa bentuknya.

Tetapi aku percaya...

Allah tahu.

Dan itu cukup untuk membuat hatiku tenang.

Hari ini aku melihat banyak hal yang belum selesai.

Tetapi aku tidak ingin lagi melihatnya hanya dengan mata dan pikiranku sendiri.

Aku ingin melihatnya dengan keyakinan kepada Allah.

Sebab bisa jadi hari ini aku melihat jalan yang buntu.

Tetapi Allah melihat jalan yang belum terbuka.

Bisa jadi hari ini aku melihat kekurangan.

Tetapi Allah sedang menyiapkan kecukupan.

Bisa jadi hari ini aku melihat masalah yang besar.

Tetapi di hadapan Allah, tidak ada sesuatu pun yang terlalu besar.

Maka hari ini aku berkata kepada hatiku:

Tenanglah.

Kita punya Allah.

Allah Maha Kaya.

Allah Maha Kuasa.

Allah tidak pernah kehabisan jalan.

Jika Dia berkehendak, KUN FAYAKUN.

🤲 Doa Hari Ini

Ya Allah...

Aku datang kepada-Mu dengan segala sesuatu yang terasa sulit bagiku.

Ada hal-hal yang tidak mampu kuselesaikan sendiri.

Ada jalan yang belum kutemukan.

Ada kebutuhan yang belum terpenuhi.

Ada doa yang masih menunggu jawaban.

Tetapi hari ini aku tidak ingin takut.

Aku percaya kepada-Mu.

Jika sesuatu itu baik untukku, bukakan jalannya dengan cara-Mu yang terbaik.

Jika ada rezeki yang Engkau takdirkan untukku, dekatkanlah.

Jika ada pertolongan yang sedang Engkau siapkan, mudahkanlah kedatangannya.

Dan jika ada sesuatu yang belum Engkau berikan, berikan aku hati yang ikhlas untuk menunggu waktu-Mu.

Ya Allah...

Jadikan aku hamba yang tetap berikhtiar tanpa kehilangan tawakal.

Tetap berharap tanpa memaksa takdir.

Tetap berdoa tanpa berputus asa.

Dan tetap yakin bahwa kuasa-Mu jauh melampaui segala keterbatasanku.

Aku tidak tahu bagaimana semuanya akan terjadi.

Tetapi aku tahu...

Engkau Maha Mengetahui.

Maka hari ini aku serahkan semuanya kepada-Mu.

Dan aku percaya pada satu hal:

Jika Engkau berkehendak, tidak ada yang mustahil.

KUN FAYAKUN.

Aamiinn ya Mujibassailiin. 🤲🏻



Aku Tidak Sendiri Memikul Semua Ini

 


Refleksi Harianku

Ada begitu banyak hal yang harus kuselesaikan.

Memikirkan yayasan.
Memikirkan kehidupan.
Memikirkan kebutuhan sehari-hari.
Memikirkan berbagai tanggung jawab yang belum selesai.

Kalau semuanya kupikul sendiri...

Kalau semuanya kupikirkan sendiri...

Rasanya berat sekali.

Bahkan mungkin terlalu berat untuk kemampuan seorang manusia sepertiku.

Tetapi hari ini aku kembali diingatkan:

Mengapa aku harus memikul semuanya sendiri, sementara aku punya Allah?

Allah yang menciptakan semuanya.

Allah yang mengetahui semuanya.

Allah yang mengizinkan sesuatu terjadi.

Dan kalau Allah mengizinkan aku berada di suatu keadaan, aku percaya Allah juga sudah mengetahui jalan yang akan membawaku melewatinya.

Mungkin jalannya belum terlihat.

Mungkin jawabannya belum datang.

Mungkin hari ini aku masih bertanya-tanya bagaimana semuanya akan selesai.

Tetapi aku tidak ingin lagi memaksa pikiranku mencari semua jawabannya.

Aku serahkan kepada Allah.

Bukan berarti aku berhenti berusaha.

Aku tetap akan melakukan bagianku.

Aku tetap akan mengetik, menghubungi, mengurus, mencari jalan, berdoa, dan melakukan apa yang mampu kulakukan.

Tetapi setelah itu...

Aku tidak mau membawa beban yang bukan lagi bagian dari kemampuanku.

Aku serahkan kepada Allah.

Karena ada batas kemampuan manusia.

Tetapi tidak ada batas kekuasaan Allah.

Aku tidak tahu bagaimana urusan yayasan akan berjalan.

Aku tidak tahu bagaimana kehidupanku ke depan.

Aku tidak tahu dari mana rezeki akan datang.

Aku tidak tahu bagaimana satu per satu kebutuhan akan terpenuhi.

Dan ternyata...

Aku tidak harus tahu semuanya.

Allah tahu.

Itu sudah cukup.

Hari ini aku ingin semakin dekat kepada-Nya.

Ketika pikiranku mulai penuh, aku berdzikir.

Ketika hatiku mulai takut, aku berdoa.

Ketika aku merasa tidak mampu, aku berserah diri.

Ketika ada kemudahan, aku bersyukur.

Dan ketika belum ada jawaban, aku belajar menunggu.

Aku percaya...

Allah tidak pernah meminta aku mengendalikan seluruh hidupku.

Allah hanya meminta aku percaya, beribadah, berikhtiar, dan berjalan di jalan yang diridai-Nya.

Maka hari ini aku lepaskan beban yang selama ini terlalu lama kugenggam sendiri.

Aku letakkan semuanya di hadapan Allah.

Tentang yayasan, aku serahkan kepada Allah.

Tentang rezeki, aku serahkan kepada Allah.

Tentang kehidupanku, aku serahkan kepada Allah.

Tentang hari esok, aku serahkan kepada Allah.

Aku tetap berjalan, tetapi tidak lagi sendirian.

Karena ada Allah bersamaku.

Dan aku percaya...

Jika Allah mengizinkan sebuah perjalanan terjadi, Allah juga mampu mempersiapkan jalan keluarnya.

🤲 Doa Hari Ini

Ya Allah...

Hari ini aku datang kepada-Mu dengan segala beban yang ada di pikiranku.

Aku sudah terlalu lama mencoba memikirkan semuanya sendiri.

Aku tidak mampu, ya Allah.

Maka aku serahkan semuanya kepada-Mu.

Urusanku, Engkau yang urus.

Rezekiku, Engkau yang atur.

Jalanku, Engkau yang tuntun.

Masa depanku, Engkau yang jaga.

Berikan aku kekuatan untuk menjalankan bagianku dan ketenangan untuk menyerahkan bagian yang bukan kuasa tanganku.

Jangan biarkan aku sibuk memikirkan bagaimana semuanya akan selesai hingga lupa bahwa aku memiliki-Mu.

Dekatkan aku kepada-Mu.

Tenangkan hatiku.

Cukupkan aku dengan pertolongan-Mu.

Dan ketika aku mulai takut lagi, ingatkan aku:

Aku tidak sedang menghadapi semuanya sendirian.

Aku punya Allah.

Allah Yang Maha Kaya.

Allah Yang Maha Kuasa.

Allah Yang Maha Mengetahui.

Allah Yang tidak pernah kehabisan jalan untuk menolong hamba-Nya.

Maka hari ini aku memilih untuk percaya.

Aku serahkan semua bebanku kepada-Mu, ya Allah.

Dan aku akan terus mendekat kepada-Mu.

Aamiinn ya Mujibassailiin. 🤲🏻

Aku Tidak Ingin Mendahului Skenario Allah

Hari ini aku tidak ingin terlalu banyak berpikir tentang hari esok.

Bukan karena aku tidak punya masalah.

Bukan karena hidupku sudah baik-baik saja.

Justru ada banyak hal yang sebenarnya bisa membuat pikiranku sibuk memikirkan masa depan.

Tetapi kali ini aku memilih berhenti.

Aku tidak ingin mendahului apa yang sudah Allah tuliskan untukku.

Aku percaya penuh kepada Allah.

Kalau hari ini aku masih diberi kesempatan untuk menjalani hari, maka tugasku adalah menjalani hari ini sebaik mungkin.

Bukan hidup di hari esok.

Bukan memikirkan semua kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi.

Hari ini saja.

Aku akan mengikuti skenario Allah.

Kalau hari ini Allah memberiku kemudahan, aku akan bersyukur.

Kalau hari ini Allah memberiku ujian, aku akan berusaha bersabar.

Kalau hari ini ada sesuatu yang belum selesai, aku akan mengusahakannya semampuku.

Kalau ada sesuatu yang belum bisa kuselesaikan, aku akan menyerahkannya kepada Allah.

Karena aku mulai memahami...

Tidak semua hal harus kuselesaikan dengan pikiranku sendiri.

Ada hal-hal yang memang menjadi bagian Allah untuk mengaturnya.

Aku hanya perlu menjalankan bagianku.

Berdoa.

Berikhtiar.

Bersyukur.

Bersabar.

Dan tetap mendekat kepada-Nya.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

Tetapi aku tidak takut.

Karena Allah sudah ada di sana sebelum aku sampai di sana.

Betapa sering aku mencemaskan sesuatu yang ternyata tidak terjadi.

Betapa sering aku memikirkan jalan keluar, sementara Allah kemudian membukakan jalan yang sama sekali tidak terpikirkan olehku.

Maka hari ini aku ingin belajar percaya lebih dalam.

Kalau Allah yang mengatur, aku tidak perlu takut pada masa depan.

Aku akan menjalani hari ini.

Menikmati apa yang Allah berikan hari ini.

Mengerjakan apa yang bisa kukerjakan hari ini.

Dan ketika malam tiba, aku akan menyerahkan hari yang telah kulalui kepada-Nya.

Besok?

Biarlah besok menjadi urusan Allah.

Aku akan sampai di sana ketika waktunya tiba.

Dan aku percaya, ketika aku sampai di sana, Allah sudah menyiapkan apa yang aku perlukan untuk melewatinya.

🤲 Doa Hari Ini

Ya Allah...

Aku serahkan hari esok kepada-Mu.

Aku tidak ingin terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi.

Aku tidak ingin ketakutan terhadap masa depan merampas ketenanganku hari ini.

Ajari aku menikmati setiap hari yang Engkau berikan.

Jika ada sesuatu yang harus kuhadapi, kuatkan aku ketika waktunya tiba.

Jika ada rezeki yang sedang Engkau siapkan, tuntun aku menuju jalan itu.

Jika ada ujian yang harus kulewati, berikan aku kekuatan untuk melewatinya.

Dan jika ada sesuatu yang belum mampu kupahami hari ini, berikan aku kesabaran untuk menunggu penjelasan-Mu.

Aku percaya kepada-Mu, ya Allah.

Maka hari ini aku memilih tenang.

Aku memilih bersyukur.

Aku memilih terus mendekat kepada-Mu.

Dan aku memilih menjalani hidup ini...

satu hari demi satu hari, mengikuti skenario-Mu.

Aamiinn ya Mujibassailiin. 🤲🏻



Satu per Satu Allah Selesaikan

Hari ini aku bingung harus bercerita dari mana.

Terlalu banyak yang ada di dalam pikiran.

Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan, begitu banyak urusan yang belum selesai, begitu banyak kekhawatiran yang kadang datang bersamaan.

Kalau semuanya ingin kuceritakan, mungkin tidak akan selesai dalam satu tulisan.

Tapi hari ini aku justru ingin berhenti sejenak.

Menarik napas.

Lalu melihat kembali apa yang sudah terjadi.

Ternyata satu per satu Allah selesaikan.

Tidak sekaligus.

Tidak selalu dengan cara yang aku bayangkan.

Kadang aku sempat bertanya, “Bagaimana ini?”

Lalu Allah bukakan satu jalan.

Ketika muncul persoalan lain, aku kembali bertanya, “Kalau yang ini bagaimana?”

Dan lagi-lagi Allah menunjukkan jalan.

Mungkin belum semuanya selesai.

Masih ada yang harus kuusahakan.
Masih ada yang harus kutunggu.
Masih ada yang belum kutemukan jawabannya.

Tetapi bukankah selama ini Allah juga sudah berkali-kali menolongku?

Maka untuk apa aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana semuanya akan selesai?

Tugasku bukan mengatur seluruh jalan.

Tugasku adalah terus berusaha, terus berdoa, dan terus mendekat kepada Allah.

Ketika pikiranku penuh, aku kembali kepada-Nya.

Ketika hatiku takut, aku kembali kepada-Nya.

Ketika tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa, aku kembali kepada-Nya.

Dan ketika satu urusan selesai, aku ingin mengingat bahwa itu bukan semata-mata karena aku mampu.

Ada Allah yang memudahkan.

Hari ini aku belajar untuk tidak menuntut diriku mengetahui semua jawaban.

Aku hanya perlu menjalani apa yang ada di depan mata.

Satu hari.

Satu langkah.

Satu doa.

Satu ikhtiar.

Kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

Tetapi aku tahu kepada siapa aku menitipkan hari esok.

Allah Maha Kaya.
Allah Maha Mengetahui.
Allah Maha Mengatur.

Maka hari ini aku memilih tenang.

Bukan karena semua masalah sudah selesai.

Tetapi karena aku percaya...

Satu per satu, Allah akan menyelesaikannya.

Dan tugasku sederhana:

Terus mendekat kepada Allah.

🤲 Doa Hari Ini

Ya Allah...

Aku tidak tahu bagaimana semua urusanku akan selesai.

Aku tidak tahu dari mana pertolongan-Mu akan datang.

Tetapi aku percaya Engkau tahu apa yang tidak aku ketahui.

Maka ketika pikiranku penuh, lapangkanlah.

Ketika hatiku lelah, kuatkanlah.

Ketika jalanku terasa buntu, bukakanlah jalan.

Ketika rezekiku terasa sempit, luaskanlah dengan cara-Mu yang terbaik.

Dan jangan biarkan kesulitan membuatku menjauh dari-Mu.

Jadikan kesulitan ini justru membuatku semakin dekat kepada-Mu.

Aku serahkan apa yang belum mampu kuselesaikan kepada-Mu.

Selesaikanlah dengan cara-Mu, ya Allah.

Aku akan tetap berikhtiar.

Aku akan tetap berdoa.

Aku akan tetap bershalawat.

Aku akan tetap percaya.

Karena Engkau tidak pernah kehabisan jalan untuk menolong hamba-Mu.

Aamiinn ya Mujibassailiin. 🤲🏻



Saat Aku Sedang Dalam Kesulitan

 Refleksi Hari Ini

“Aku Tidak Harus Mengetahui Semua Jawabannya Hari Ini.”

Hari ini aku sedang berada di masa yang tidak mudah.

Ada banyak hal yang harus kupikirkan. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan keadaan yang terkadang membuat hati bertanya, “Sampai kapan aku harus melalui semua ini?”

Aku tidak akan berpura-pura bahwa aku selalu kuat.

Ada saatnya aku lelah.
Ada saatnya aku takut.
Ada saatnya aku ingin menangis karena rasanya terlalu banyak yang harus kupikul.

Namun hari ini aku belajar satu hal:

Aku tidak harus mengetahui bagaimana semuanya akan selesai. Aku hanya perlu percaya bahwa Allah mengetahui jalannya.

Mungkin hari ini belum ada jalan keluar yang terlihat.
Mungkin pertolongan belum datang dalam bentuk yang kuharapkan.
Tetapi bukan berarti Allah sedang meninggalkanku.

Bisa jadi, pertolongan itu sedang disiapkan melalui jalan yang belum kuketahui.

Maka hari ini aku memilih untuk tetap melangkah, meskipun perlahan.

Aku akan melakukan apa yang mampu kulakukan.
Aku akan menyelesaikan apa yang bisa kuselesaikan.
Selebihnya, aku serahkan kepada Allah.

Ya Allah...

Jika hari ini aku merasa terlalu lemah untuk membawa semuanya, maka kuatkanlah hatiku.

Jika pikiranku terlalu penuh, tenangkanlah.

Jika rezekiku sedang sempit, bukakanlah pintu rezeki dari arah yang tidak pernah kusangka.

Jika aku sedang menunggu pertolongan-Mu, ajarkan aku untuk tetap sabar tanpa kehilangan harapan.

Aku percaya...

Kesulitan ini bukan akhir dari ceritaku.

Aku mungkin belum melihat jalannya, tetapi Allah sudah mengetahui ke mana langkah ini akan membawaku.

Hari ini aku tidak meminta agar hidupku langsung menjadi mudah.

Aku hanya meminta agar Allah memberiku kekuatan untuk melewati hari ini.

Satu hari saja.
Satu langkah saja.
Satu doa lagi.

Dan aku akan terus percaya:

Allah tidak pernah salah memilih waktu untuk menolong hamba-Nya.

Aamiinn ya Mujibassailiin. 🤲🏻

Catatan untuk diriku

Tidak apa-apa kalau hari ini aku hanya mampu bertahan.

Bertahan juga sebuah keberanian.

Aku tidak kalah hanya karena sedang berada dalam kesulitan.

Aku sedang belajar percaya kepada Allah, bahkan ketika aku belum melihat jawabannya.

Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin.



Rabu Wekasan: Antara Tradisi, Kekhawatiran, dan Tawakal kepada Allah Bismillahirrahmanirrahim.

Ada satu hal yang belakangan ini kembali sering kudengar.

Tentang Rabu Wekasan.

Tentang Rabu terakhir di bulan Safar.

Tentang bala yang konon turun pada hari tersebut.

Tentang banyaknya musibah yang katanya akan diturunkan.

Jujur, dulu aku pun pernah bertanya-tanya.

Benarkah demikian?

Apakah benar ada satu hari tertentu dalam setahun yang harus lebih ditakuti daripada hari-hari lainnya?

Karena itu, daripada hanya ikut mendengar dan mempercayai apa yang beredar, aku memilih berhenti sejenak dan belajar.

Dan dari sana aku menemukan satu hal yang membuat hatiku jauh lebih tenang:

Tidak ada dalil sahih yang menetapkan bahwa Rabu terakhir bulan Safar adalah hari khusus turunnya bala.

Ada riwayat dan keterangan yang beredar di tengah masyarakat mengenai hal tersebut, bahkan ada yang menyebut jumlah bala tertentu.

Namun, keterangan semacam itu tidak dapat dijadikan dasar untuk meyakini bahwa pada Rabu terakhir Safar pasti turun bala dalam jumlah tertentu.

Maka aku belajar untuk berhati-hati.

Bukan berarti aku meremehkan musibah.

Bukan pula berarti aku berhenti berdoa meminta perlindungan.

Justru sebaliknya.

Aku ingin memohon perlindungan kepada Allah setiap hari.

Sebab yang menentukan keselamatan bukan hari.

Bukan bulan.

Bukan tanggal.

Melainkan Allah.

 

Aku Tidak Ingin Takut kepada Safar

Ada satu hal yang ingin terus kuingatkan kepada diriku sendiri.

Safar bukan bulan sial.

Rabu bukan hari sial.

Dan tidak ada satu waktu pun yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan musibah dengan sendirinya.

Allah-lah yang mengatur seluruh kehidupan.

Karena itu, ketika memasuki akhir Safar, aku tidak ingin memenuhi hati dengan ketakutan.

Aku ingin mengisinya dengan doa.

Dengan istighfar.

Dengan shalawat.

Dengan membaca Al-Qur'an.

Dengan sedekah.

Dengan memperbaiki diri.

Dengan memperbanyak amal kebaikan.

Bukan karena aku percaya Rabu Wekasan pasti membawa bala.

Tetapi karena setiap hari memang merupakan kesempatan untuk semakin dekat kepada Allah.

 

Jika Ada Bala, Kepada Siapa Aku Berlindung?

Pertanyaan ini justru membuatku semakin tenang.

Jika musibah datang, kepada siapa aku meminta perlindungan?

Kepada Allah.

Jika penyakit datang, kepada siapa aku memohon kesembuhan?

Kepada Allah.

Jika rezeki terasa sempit, kepada siapa aku meminta kelapangan?

Kepada Allah.

Jika hati dipenuhi kekhawatiran, kepada siapa aku mengadu?

Kepada Allah.

Maka mengapa aku harus takut kepada sebuah tanggal?

Aku lebih memilih takut kepada Allah dalam arti menjaga diri agar tidak jauh dari-Nya, daripada takut kepada sebuah hari yang pada dirinya sendiri tidak memiliki kekuatan apa pun.

 

Aku Memilih Tawakal

Hidup sudah mengajarkanku banyak hal.

Aku pernah melewati hari-hari yang tidak mudah.

Ada keterbatasan.

Ada kehilangan.

Ada urusan yang harus diselesaikan.

Ada kebutuhan yang harus dipenuhi.

Ada hari ketika aku bertanya dalam hati,

"Ya Allah, bagaimana nanti?"

Tetapi berkali-kali pula Allah menunjukkan bahwa sesuatu yang terlihat sulit bagiku, bisa menjadi mudah ketika Allah membukakan jalannya.

Maka hari ini aku belajar lagi:

Jangan takut kepada apa yang belum tentu terjadi.

Berdoalah.

Berikhtiarlah.

Berhati-hatilah.

Tetapi setelah itu...

sing tenang.

Karena hidup ini berada di dalam genggaman Allah.

 

Doa Perlindungan

Menjelang pergantian bulan, aku ingin berdoa.

Bukan karena aku menganggap akhir Safar sebagai hari sial.

Bukan karena aku percaya pasti ada bala yang turun.

Tetapi karena aku memang membutuhkan perlindungan Allah setiap saat.

Bismillahirrahmanirrahim.

Ya Allah, Rabb Yang Maha Pengasih dan Maha Melindungi,

Lindungilah aku, keluargaku, orang-orang yang aku cintai, dan seluruh kaum muslimin dari segala bala, musibah, penyakit, fitnah, kejahatan, dan keburukan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

Jika ada sesuatu yang buruk sedang menuju kepada kami, maka palingkanlah ia dengan rahmat-Mu.

Jika ada sesuatu yang baik sedang Engkau siapkan untuk kami, maka dekatkanlah dan berkahilah.

Ya Allah, jadikan setiap pergantian waktu sebagai pergantian menuju kebaikan.

Ampunilah dosa-dosaku.

Tenangkan hatiku.

Sehatkan tubuhku.

Lapangkan rezekiku.

Mudahkan segala urusanku.

Dan istiqamahkan aku dalam ketaatan kepada-Mu.

Jauhkan aku dari rasa takut yang berlebihan dan prasangka buruk kepada-Mu.

Tanamkan dalam hatiku keyakinan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.

Hasbunallahu wa ni'mal wakil.

Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung.

Ya Allah...

Tutup bulan ini dengan ampunan dan keberkahan.

Bukakan bulan berikutnya dengan kesehatan, keselamatan, rezeki yang halal, kedamaian, dan keberkahan.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Aamiin ya Mujibassailiin.

 

Bukan Rabu yang Kutakuti

Pada akhirnya, aku ingin mengingat satu kalimat sederhana:

Bukan pergantian bulan yang kutakuti, tetapi kepada Allah aku meminta perlindungan.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di bulan berikutnya.

Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa jam setelah tulisan ini selesai.

Tetapi aku tahu kepada siapa aku bisa berserah.

Allah.

Maka jika Rabu terakhir Safar datang, aku tidak ingin menyambutnya dengan ketakutan.

Aku ingin menyambutnya dengan doa.

Jika bulan Safar berlalu, aku ingin mengucapkan:

Alhamdulillah.

Dan ketika Rabiulawal datang, aku ingin kembali memperbanyak shalawat, mengingat Rasulullah ﷺ, dan belajar mencintai beliau dengan cara yang benar.

Karena setiap pergantian waktu seharusnya membuatku semakin dekat kepada Allah, bukan semakin takut kepada waktu itu sendiri.

Tidak ada hari yang sia-sia jika diisi dengan mengingat Allah.

Tidak ada bulan yang perlu ditakuti jika hati kita bergantung kepada-Nya.

Dan tidak ada ujian yang terlalu besar jika Allah memberikan kekuatan untuk menjalaninya.

Maka...

Bismillah.

Masuklah hari-hari berikutnya.

Aku tidak tahu apa yang menunggu di depan.

Tetapi aku tahu:

Allah ada.

Dan untuk itu...

sing tenang. 


— Catatan Langit Didada

 


Ketika Aku Mengingat Kasih Sayang Rasulullah ﷺ di Tengah Perjalanan Hidupku

Bismillahirrahmanirrahim.

Ada satu ayat yang sejak lama dekat dengan hatiku.

Setiap selesai salat fardu, aku membacanya sebanyak tujuh kali:

Laqad jāakum rasūlum min anfusikum 'azīzun 'alaihi mā 'anittum ḥarīṣun 'alaikum bil-muminīna ra`ūfur raḥīm.

"Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keselamatan bagimu, dan terhadap orang-orang mukmin, dia sangat penyantun dan penyayang."

Setiap kali membacanya, ada rasa yang sulit dijelaskan.

Aku membayangkan betapa besar kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya.

Beliau mengetahui bahwa umatnya akan menghadapi berbagai ujian.

Akan ada yang menangis.

Akan ada yang kehilangan.

Akan ada yang hidup dalam kesulitan.

Akan ada yang merasa sendirian.

Akan ada yang berjuang dalam diam.

Dan mungkin, aku adalah salah satu dari mereka.

Aku tidak bisa berjalan seperti kebanyakan orang.

Ada banyak hal dalam hidup yang harus kulalui dengan bantuan orang lain.

Ada kebutuhan yang harus kupikirkan.

Ada kewajiban yang harus kutunaikan.

Ada rezeki yang kadang terasa sempit.

Ada hari-hari ketika aku bertanya dalam hati,

"Ya Allah... cukupkah?"

Namun anehnya, setelah semua itu, hatiku sering kembali berkata:

Sing tenang.

Bukan karena aku tidak memiliki masalah.

Bukan karena hidupku selalu mudah.

Tetapi karena aku percaya, Allah selalu melihatku.

Dan ketika membaca ayat ini, aku kembali diingatkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat menyayangi umatnya.

Kalimat "عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ" membuatku terdiam.

Berat terasa oleh beliau penderitaan yang dialami umatnya.

Betapa indahnya memiliki seorang Rasul yang begitu peduli kepada umatnya.

Maka ketika hidup terasa berat, aku tidak ingin hanya memikirkan kesulitanku.

Aku ingin mengingat Rasulullah ﷺ.

Aku ingin memperbanyak shalawat.

Aku ingin belajar menjadi umat yang baik.

Aku ingin menjaga hati.

Kalau ada yang berbuat baik kepadaku, aku doakan.

Kalau ada yang menyakitiku, aku belajar memaafkan.

Kalau ada yang membuatku kecewa, aku memilih menyerahkannya kepada Allah.

Karena hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan kemarahan.

Aku ingin menggunakan sisa perjalanan hidupku untuk berbuat manfaat.

Menulis.

Berkarya.

Mendoakan orang lain.

Membantu sebisaku.

Dan terus belajar mendekat kepada Allah.

Mungkin tubuhku memiliki keterbatasan.

Tetapi semoga keterbatasan itu tidak pernah menjadi alasan bagiku untuk berhenti menjadi manusia yang bermanfaat.

Setiap selesai salat, ketika ayat itu kembali kubaca, aku seperti sedang mengingatkan diriku sendiri:

Aku tidak sendirian.

Allah ada.

Rasulullah ﷺ mencintai umatnya.

Dan aku masih memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki diri.

Ya Allah...

Jadikan aku umat Nabi Muhammad ﷺ yang Engkau cintai dan Engkau rahmati.

Jadikan aku pribadi yang lembut hatinya, mudah memaafkan, ringan mendoakan, dan istiqamah dalam kebaikan.

Jika hidupku masih panjang, gunakanlah sisa umurku untuk sesuatu yang bermanfaat.

Jika rezekiku masih sempit, lapangkanlah dengan cara-Mu.

Jika jalanku masih panjang, kuatkanlah langkahku.

Jika suatu hari aku kembali merasa takut, ingatkanlah hatiku untuk berkata:

"Sing tenang. Allah ada."

Dan semoga shalawat yang terus kulantunkan menjadi pengikat cintaku kepada Rasulullah ﷺ.

Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.

Ya Allah...

Jangan biarkan aku hanya mengagumi Rasul-Mu melalui kata-kata.

Bimbing aku agar sedikit demi sedikit mampu meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Aamiin ya Mujibassailiin. 🤲

Catatan kecil seorang hamba yang sedang belajar berjalan dengan hati, ketika kakinya tidak mampu melangkah.

31 Juli 2026 — Ketika Hujan Datang Membawa Doa

Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillah...

Semalam Allah kembali menurunkan hujan.

Sudah cukup lama bumi terasa haus. Ketika rintik pertama mulai terdengar di atap, disusul petir kecil yang sesekali menyapa langit, hatiku langsung dipenuhi rasa syukur.

Bagiku, hujan bukan sekadar air yang turun dari langit.

Hujan adalah salah satu waktu yang selalu mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa.

Seperti biasanya, aku mengangkat doa kepada Allah.

"Ya Allah... jadikan hujan yang Engkau turunkan ini sebagai hujan yang membawa kebaikan. Hujan kesejahteraan. Hujan keberkahan. Hujan kedamaian. Hujan ketenangan. Hujan kerukunan. Hujan yang menjaga kelestarian alam dan menjadi rahmat bagi seluruh makhluk-Mu."

"Namun jika di dalamnya terdapat mudarat, maka jauhkanlah dari kami. Pindahkanlah ke tempat yang tidak membahayakan manusia, ke tengah lautan atau tempat yang Engkau kehendaki."

Di sela-sela derasnya hujan, lisanku terus membaca Surah Al-Kautsar.

Tiga ayat yang singkat, tetapi selalu menghadirkan rasa cukup di dalam hati.

Hujan terus turun selama kurang lebih dua hingga tiga jam.

Setelah bumi mulai tenang dan rintiknya berhenti, aku kembali membuka laptop.

Masih ada bab-bab novel yang menunggu untuk diselesaikan.

Aku melanjutkan menulis, menikmati sunyinya malam, sambil menunggu datangnya waktu yang selalu kurindukan.

Waktu tahajud.

Pukul 03.30 aku menghadap Allah.

Membawa syukur, harapan, dan seluruh isi hati yang hanya mampu kupasrahkan kepada-Nya.

Pukul 04.00 aku bersahur.

Sederhana.

Sebutir telur rebus dan segelas air putih.

Alhamdulillah.

Aku kembali diingatkan bahwa nikmat tidak selalu diukur dari banyaknya hidangan yang tersaji.

Kadang, satu butir telur dan segelas air putih yang Allah berkahi sudah lebih dari cukup untuk menguatkan langkah hari ini.

Aku belajar lagi...

Bahwa hujan mengajarkan kesabaran.

Malam mengajarkan keheningan.

Tahajud mengajarkan kepasrahan.

Dan sahur mengajarkan kesederhanaan.

Ya Allah...

Sebagaimana Engkau menurunkan hujan yang membasahi bumi, basahilah pula hati kami dengan rahmat-Mu.

Sebagaimana Engkau menghidupkan tanah yang kering, hidupkanlah hati kami dengan iman, syukur, dan ketenangan.

Jadikan setiap tetes hujan sebagai saksi bahwa kami tidak pernah berhenti berharap kepada-Mu.

Bismillah... sing tenang.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.



Sing Tenang

Bismillahirrahmanirrahim...

Malam ini aku kembali berbicara dengan diriku sendiri.

Aku bertanya,

"Kenapa aku bisa setenang ini?"

Padahal kalau dihitung dengan logika, masih banyak yang harus dipikirkan.

Masih ada gaji yang harus kubayarkan.

Masih ada kebutuhan sehari-hari.

Masih ada cicilan yang tanggalnya terus mendekat.

Namun anehnya, setiap melihat tanggal pembayaran, hatiku hanya berkata,

"Sing tenang... nanti juga Allah datangkan rezeki."

Aku tersenyum sendiri.

Apakah aku terlalu cuek?

Apakah aku terlalu nekat?

Ataukah Allah sedang mengajarkanku sesuatu selama bertahun-tahun?

Aku teringat perjalanan panjangku.

Dulu aku belajar mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah berulang-ulang.

Aku membiasakan diri bershalawat.

Ketika hati terasa sesak, aku membaca doa Nabi Yunus.

Aku berusaha menjaga hatiku agar tidak dipenuhi prasangka buruk kepada Allah.

Mungkin ketenangan itu tidak datang dalam semalam.

Ia tumbuh sedikit demi sedikit.

Ditempa oleh ujian demi ujian.

Aku pernah kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Aku belajar menerima hidup di atas kursi roda.

Aku pernah menghadapi rumah tangga yang tidak lagi utuh.

Aku memilih menyelesaikannya dengan baik.

Hari ini aku tidak lagi menyimpan kebencian.

Aku mendoakan, lalu melanjutkan hidupku.

Aku sadar, marah tidak mengubah keadaan.

Emosi tidak menambah rezeki.

Konflik hanya menguras tenaga.

Kalau ada masalah besar, kecilkan.

Kalau ada masalah kecil, hilangkan.

Itu yang selalu kuusahakan.

Kalau ingin menangis, aku memilih menangis di hadapan Allah.

Karena hanya kepada-Nya aku ingin mengadu.

Aku juga tersenyum ketika banyak orang berkata,

"Kalau puasa Daud, ujiannya akan semakin besar."

Aku tidak menyangkalnya.

Tetapi aku juga berkata dalam hati,

"Bukankah selama ini Allah sudah menguatkanku melewati banyak ujian?"

Maka yang ingin kujaga bukanlah hidup tanpa ujian.

Melainkan hati yang tetap tenang ketika ujian datang.

Hari ini aku kembali belajar bahwa ketenangan bukan berarti semua masalah sudah selesai.

Ketenangan adalah memilih tetap berikhtiar sambil mempercayakan hasilnya kepada Allah.

Aku masih ingin menulis.

Aku masih ingin berkarya.

Aku masih ingin kuliah lagi.

Entah bagaimana nanti Allah membukakan jalannya.

Hatiku hanya berkata,

"Bismillah... sing tenang."

Karena aku percaya, rezeki bukan datang karena aku panik.

Rezeki datang atas izin Allah, kepada hamba yang terus berusaha, bersyukur, dan tidak putus harapan.

Ya Allah...

Jadikanlah ketenangan ini bukan sebagai kelalaian, tetapi sebagai tanda bahwa hatiku semakin belajar bertawakal kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.



Jalur Langit Tak Pernah Tutup

Malam itu, sebuah puisi telah kutitipkan untuk mengikuti lomba cipta puisi tingkat nasional.

Banyak orang mungkin mengira setelah menekan tombol "kirim", pikiranku akan dipenuhi rasa penasaran. Barangkali aku akan terus membuka laman pengumuman, menghitung hari, atau membayangkan hasilnya.

Namun, justru sebaliknya.

Setelah puisi itu terkirim, aku memilih menutup laptop dan membuka sajadah.

Aku tidak membawa lagi puisi itu dalam doaku.

Aku percaya, jika ikhtiar sudah selesai, maka hasilnya adalah wilayah Allah.

Yang kubawa justru nama ibuku yang telah berpulang. Malam itu aku menunaikan shalat taubat, menghadiahkan doa untuk beliau, sekaligus memohon ampun atas dosa-dosaku sendiri. Setelah itu kulanjutkan dengan tahajud dan shalat hajat.

Aku tidak berkata,

"Ya Allah, jadikan puisiku juara."

Aku juga tidak berkata,

"Ya Allah, menangkan aku."

Doaku tetap sama seperti hari-hari biasa.

Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Aku memohon perlindungan dari lilitan hutang.

Aku memohon agar Allah menyelamatkanku dari jeratan hutang yang masih mengiringi langkahku.

Aku bahkan tidak pernah meminta secara khusus,

"Ya Allah, lunaskan hutangku."

Sebab aku percaya, ketika Allah melapangkan rezeki, menghadirkan keberkahan, dan mencukupkan hamba-Nya, maka jalan untuk melunasi hutang akan terbuka dengan sendirinya.

Selesai bermunajat, aku bersahur sederhana.

Segelas susu kedelai dan umbi-umbian.

Nikmat yang mengingatkanku bahwa syukur tidak pernah diukur dari kemewahan hidangan, tetapi dari hati yang menerima.

Menjelang Subuh, ketika tahrim mulai terdengar dari masjid, aku teringat bahwa waktu itu termasuk saat yang sangat berharga untuk berdoa.

Aku mengirimkan doa kepada sepuluh orang baik yang Allah hadirkan dalam hidupku.

Semoga kebaikan mereka kembali kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari Allah.

Lalu lisanku terus bergerak.

"Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir."

Ratusan kali.

Kemudian doa Nabi Yunus.

Empat puluh satu kali.

Setelah azan Subuh berkumandang, kutunaikan shalat sunah fajar, lalu kuhiasi pagi dengan dzikir, istighfar, dan doa.

Shalat Subuh.

Sedekah Subuh.

Membaca Surah Yasin, Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.

Setelah semuanya selesai, tanganku meraih tasbih digital yang baru saja Allah titipkan melalui kebaikan seorang sahabat.

Kubuka pagi dengan Shalawat Ibrahimiyah seratus kali.

Lalu Shalawat Jibril seribu kali.

Begitulah aku memulai hari.

Bukan dengan membuka media sosial.

Bukan dengan mengecek hasil lomba.

Bukan pula menghitung kekurangan hidup.

Tetapi dengan mengingat Allah.

Barulah setelah hati terasa tenang, kubuka laptop.

Draft novel yang semalam kutinggalkan kembali menunggu untuk diselesaikan.

Hari ini aku kembali menulis.

Karena aku percaya...

Hasil adalah rahasia Allah.

Sedangkan ikhtiar adalah amanahku.

Mungkin puisi itu akan menang.

Mungkin juga belum.

Tetapi jalur langit yang kutempuh malam itu telah mengajarkanku satu hal:

Ketika sebuah urusan sudah diserahkan kepada Allah, hati menjadi lebih ringan untuk melangkah menuju amal berikutnya.

Dan mungkin...

Itulah kemenangan pertama yang Allah berikan, bahkan sebelum pengumuman lomba diumumkan.




Allahumma A'inni 'Ala Hadzihil Amanah

Ketika Aku Lelah, Aku Memilih Bersandar kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim...

Ada hari-hari ketika aku merasa kuat.

Namun ada juga hari ketika aku hanya mampu berkata,

"Ya Allah... aku capek."

Bukan karena aku tidak mencintai amanah ini.

Justru karena aku sangat mencintainya.

Sejak tahun 2017, Allah mengizinkanku membersamai perjalanan LKSA Peduli Sahabat Batang.

Tahun demi tahun berlalu.

Alhamdulillah, pada tahun 2023 Allah menghadiahkan akreditasi dengan nilai A.

Sebuah nikmat yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Namun perjalanan belum selesai.

Masih banyak langkah yang harus ditempuh.

Masih banyak anak-anak yang menunggu untuk dipeluk dengan kasih sayang.

Masih banyak doa yang terus kulangitkan.

Sering kali orang hanya melihat dokumentasi.

Mereka melihat senyum anak-anak.

Melihat amplop yang diserahkan.

Melihat foto-foto yang dibagikan setiap Jumat.

Padahal, di balik setiap foto itu ada doa-doa yang tidak terlihat.

Ada harapan yang terus dipanjatkan.

Ada air mata yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Ada malam-malam ketika aku bertanya dalam hati,

"Ya Allah... sanggupkah aku menjaga amanah ini?"

Aku bukan orang yang paling kuat.

Aku juga pernah merasa lelah.

Pernah merasa berjalan sendirian.

Pernah berpikir, bagaimana jika aku berhenti saja?

Namun setiap kali hati mulai melemah, Allah selalu menguatkanku dengan cara-Nya.

Kadang melalui senyum seorang anak.

Kadang melalui doa seorang dermawan.

Kadang melalui orang-orang yang mengingatkanku agar tetap berharap kepada-Nya.

Hingga akhirnya aku mengenal sebuah doa yang begitu sederhana.

Namun terasa sangat dalam maknanya.

اللهم أعني على هذه الأمانة

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

"Ya Allah, tolonglah aku dalam memikul amanah ini."

Sejak saat itu, aku menyadari sesuatu.

Ternyata yang kubutuhkan bukan hanya tambahan rezeki.

Bukan hanya tambahan tenaga.

Tetapi yang paling kubutuhkan adalah pertolongan Allah.

Karena tanpa pertolongan-Nya, sekuat apa pun aku, suatu hari pasti akan lelah.

Hari ini aku tidak ingin meminta kepada Allah agar semua jalan menjadi mudah.

Aku hanya memohon,

"Ya Allah... jangan lepaskan tangan-Mu dari langkahku."

Jika suatu hari aku kembali lelah...

Kuatkan aku.

Jika suatu hari aku kembali menangis...

Tenangkan aku.

Jika suatu hari aku merasa berjalan sendiri...

Ingatkan aku bahwa Engkau selalu bersamaku.

Karena aku percaya...

Amanah ini bukan milikku.

Ini adalah titipan-Mu.

Dan hanya dengan pertolongan-Mu aku mampu menjaganya.

Untuk siapa pun yang sedang memikul amanah...

Entah sebagai orang tua.

Guru.

Relawan.

Pengurus yayasan.

Atau siapa saja yang sedang berjuang dalam kebaikan.

Izinkan aku berbagi doa yang kini menjadi teman perjalananku.

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

"Ya Allah, tolonglah aku dalam memikul amanah ini."

Sesederhana itu.

Namun semoga doa ini menjadi pengingat bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian.

Selama masih ada Allah yang membersamai setiap langkah.


Ya Allah... Engkau yang telah mempercayakan amanah ini kepadaku. Jangan biarkan aku mengandalkan kekuatanku sendiri. Tolonglah aku ketika lelah. Teguhkan aku ketika goyah. Lapangkan rezeki agar aku dapat terus berbagi. Hadirkan orang-orang yang mau berjalan bersama dalam kebaikan. Jagalah hatiku agar tetap ikhlas, rendah hati, dan istiqamah hingga akhir hayat. Jika suatu hari nanti Engkau mengabulkan doa-doaku, jadikan semua itu bukan untuk kebanggaanku, tetapi agar semakin banyak anak-anak yang merasakan kasih sayang dan pertolongan-Mu.

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

Allahumma sehat.

Allahumma sugeh.

Allahumma duit okeh.

Aamiin ya Mujibassailin.

Aku tidak tahu sampai kapan Allah mengizinkanku berjalan.

Tetapi selama masih diberi kesempatan, aku ingin terus melangkah.

Bukan karena aku merasa mampu.

Melainkan karena setiap kali aku hampir menyerah, selalu ada doa yang menguatkanku.

"Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah."

Dan semoga, ketika suatu hari nanti perjalanan ini selesai, aku dapat menghadap Allah dengan hati yang tenang seraya berkata,

"Ya Allah... aku sudah berusaha menjaga amanah yang Engkau titipkan kepadaku. Selebihnya, semua karena pertolongan-Mu."



Bismillah.. SAFAR 1448 H

Kamis, 1 Safar 1448H

Pagi ini ditemani segelas susu kedelai pemberian seorang sahabat.

Aku kembali diingatkan bahwa rezeki tidak selalu datang dalam jumlah yang besar. Kadang ia hadir dalam bentuk perhatian, kepedulian, dan kebaikan-kebaikan sederhana yang menghangatkan hati.

Alhamdulillah atas setiap nikmat yang sering kali datang tanpa diduga.

Bismillah...

Semoga Allah menjaga orang-orang baik di sekelilingku, melapangkan rezeki mereka, menguatkan langkah mereka, dan membalas setiap kebaikan dengan balasan yang jauh lebih indah.



Sebuah Tasbih, Sejuta Doa

 Bismillahirrahmanirrahim...

Ada benda kecil yang hampir tidak pernah lepas dari tanganku.

Bukan karena harganya mahal.

Bukan karena bentuknya istimewa.

Tetapi karena di dalam benda kecil itu, tersimpan ribuan shalawat, dzikir, dan doa yang setiap hari menemani langkahku.

Tasbih digitalku.

Beberapa hari terakhir, baterainya mulai melemah.

Sering kali ketika hitungan baru mencapai beberapa ratus, tiba-tiba layarnya mati.

Aku mengulang lagi.

Lalu mati lagi.

Yang paling membuatku sedih adalah ketika tahajud.

Setiap malam aku memiliki amalan yang sangat kujaga.

Membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 313 kali.

Setiap tujuh kali bacaan, aku berhenti sejenak untuk berdoa.

Ketika hitungannya hilang karena tasbih mati, rasanya seperti kehilangan jejak di tengah perjalanan.

Aku sempat berpikir untuk membeli tasbih baru.

Namun ketika melihat harganya, aku tersenyum sendiri.

Di kepalaku langsung muncul hitungan lain.

"Uang ini bisa untuk membayar mbak beberapa hari."

Akhirnya aku mengurungkan niat.

Lalu Allah mengingatkanku kepada seorang sahabat yang sangat gemar bersedekah.

Aku memanggilnya dengan penuh sayang,

Nokji.

Dengan sedikit rasa malu, aku memberanikan diri mengirim pesan.

Bukan meminta uang.

Tetapi meminta dibelikan sebuah tasbih digital.

Aku berharap, semoga tasbih ini menjadi salah satu jalan pahala yang terus mengalir untuk beliau. Setiap kali aku berdzikir, bershalawat, atau membaca Al-Fatihah, semoga Allah Yang Maha Mengetahui niat menerima amal kami dan melipatgandakan kebaikan itu.

Masyaa Allah...

Tidak lama kemudian beliau menjawab,

"Iya, Mbak. Kirim alamatnya."

Beliau bahkan memilih membelikannya secara online agar langsung sampai ke rumahku.

Hari ini...

Tasbih itu akhirnya tiba.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Aku memegangnya dengan rasa syukur yang sulit diungkapkan.

Pembuka hitungannya bukan angka besar.

Melainkan rasa syukur.

Aku memulai dengan Shalawat Ibrahimiyah 100 kali.

Lalu kulanjutkan Shalawat Adrikni 1.000 kali, sambil menunggu waktu berbuka Puasa Daud.

Di tanganku, tasbih itu hanyalah alat.

Tetapi bagiku...

Ia adalah pengingat agar lisanku tidak lelah menyebut nama Allah dan bershalawat kepada Rasulullah ﷺ.

Hari ini aku kembali belajar.

Allah tidak selalu mengirim pertolongan dalam bentuk yang besar.

Kadang pertolongan itu datang dalam bentuk sebuah tasbih kecil yang mampu menjaga istiqamah seseorang dalam berdzikir.

Terima kasih, Nokji.

Semoga setiap butir dzikir yang terhitung melalui tasbih ini menjadi saksi kebaikanmu di hadapan Allah.

Dan semoga Allah membalasmu dengan balasan yang jauh lebih indah daripada apa yang telah engkau berikan.

Karena sesungguhnya...

Sedekah terbaik bukanlah yang paling mahal.

Tetapi yang paling bermanfaat.

Doa untuk Nokji 🤲

Ya Allah, Rabb Yang Maha Pemurah...

Limpahkanlah rahmat dan keberkahan-Mu kepada sahabatku, Nokji, yang telah menjadi jalan kebaikan bagiku.

Jadikan setiap dzikir, setiap shalawat, setiap istighfar, dan setiap doa yang kuhitung dengan tasbih ini sebagai sebab bertambahnya pahala baginya, sejauh Engkau berkenan menerima niat baik kami.

Berikanlah kepadanya kesehatan yang sempurna, umur yang penuh berkah, keluarga yang sakinah, rezeki yang halal dan berlimpah, hati yang selalu dekat kepada-Mu, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Balaslah setiap sedekahnya dengan balasan yang jauh lebih baik, sebagaimana hanya Engkau yang mampu membalas segala kebaikan hamba-hamba-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailin.


 

🌤️ Catatan Langit Di Dada

Kadang yang paling berharga bukanlah benda yang kita miliki.

Tetapi benda yang membuat kita semakin dekat kepada Allah.

Dan kadang...

Allah mengirimkannya melalui tangan seorang sahabat yang baik.

SING TENANG.

"Uangnya dari Mana?"

 "Uangnya dari mana?"

Pertanyaan itu beberapa kali mampir kepadaku.

Mungkin karena orang melihat aku masih bisa menggaji seseorang yang membantuku setiap hari. Masih membayar listrik, WiFi, membeli obat-obatan, dan memenuhi kebutuhan hidup.

Aku mengerti jika mereka bertanya.

Kalau melihat dari luar, memang semuanya tampak membingungkan.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Aku masih harus berhitung.

Masih ada kebutuhan yang datang setiap bulan.

Masih ada hari-hari ketika aku harus benar-benar mengatur pengeluaran dengan hati-hati.

Bahkan, ada kalanya aku harus berutang agar kebutuhan yang mendesak tetap terpenuhi.

Namun aku selalu berusaha untuk tidak lari dari tanggung jawab.

Sedikit demi sedikit, aku berusaha melunasinya.

Alhamdulillah, Allah selalu membukakan jalan.

Lalu... apakah aku hidup sendirian?

Tidak.

Dan aku tidak ingin menghapus bagian itu dari cerita hidupku.

Allah menghadirkan sahabat-sahabat yang luar biasa.

Mereka bukan hanya bertanya, "Apa kabar?"

Sebagian dari mereka, dengan penuh ketulusan, rutin mengirimkan bantuan setiap bulan.

Ada yang membantu membeli obat.

Ada yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mereka tahu keadaanku. Mereka tahu aku sedang berjuang. Dan mereka memilih menjadi bagian dari perjuangan itu.

Aku tidak melihatnya sebagai sekadar bantuan.

Aku melihatnya sebagai kasih sayang Allah yang datang melalui tangan-tangan hamba-Nya.

Karena itu, jika ada yang bertanya,

"Rezekinya dari mana?"

Aku akan menjawab dengan penuh keyakinan,

"Dari Allah."

Allah yang menggerakkan hati sahabat-sahabatku.

Allah yang memberiku kesempatan untuk terus menulis.

Allah yang membukakan jalan melalui usaha kecil yang sedang kurintis.

Allah yang menguatkanku untuk terus berikhtiar.

Allah pula yang berkali-kali mencukupkan, ketika hitung-hitungan manusia berkata, "Seharusnya tidak cukup."

Aku belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu turun dalam bentuk uang yang melimpah.

Kadang Allah menghadirkan orang-orang baik.

Kadang Allah memberi kesehatan untuk terus berusaha.

Kadang Allah memberi ketenangan agar hati tidak putus asa.

Dan sering kali...

Allah memberi lebih dari yang mampu kusyukuri.

Aku teringat firman Allah:

"...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..."
(QS. At-Talaq: 2–3)

Ayat itu selalu menguatkanku.

Terlebih setelah aku melewati banyak hal dalam hidup.

Aku percaya, Allah tidak pernah terlambat menolong.

Tidak selalu dengan cara yang kuinginkan.

Tetapi selalu dengan cara yang kubutuhkan.

Karena itu, hari ini aku tidak ingin menghitung berapa kali aku merasa kekurangan.

Aku ingin menghitung berapa kali Allah mencukupkan.

Dan ternyata...

Jumlahnya jauh lebih banyak.

Sing tenang...

Karena Allah Maha Kaya.

Afirmasi Doaku:

Bismillahirrahmanirrahim...

Allahumma sugeh...

Allahumma duit okeh...

Allahumma sehat...

Allahumma bahagia...

Allahumma sukses dunia akhirat...

Aghnini bifadhlika 'amman siwak.

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu."

Aamiin ya Rabbal 'Alamiin. Aamiin ya Mujibassailiin. 🤲

 


Ketika Allah Mengajarkanku Berdiri

Bismillahirrahmanirrahim.

Beberapa hari ini tubuhku sedang beristirahat.

Saluran pipisku terluka.

Efek obat membuatku lebih banyak tidur.

Namun Alhamdulillah, aku masih Allah kuatkan untuk menjalani Puasa Daud.

Di sela-sela rasa sakit itu, ada satu urusan besar yang juga sedang berjalan.

Sidang perceraianku.

Tanggal 2 Juli, sidang berlangsung dengan baik.

Kini aku hanya menunggu keputusan pada tanggal 8 Juli.

Aku sudah menyerahkannya kepada Allah.

Aku tidak datang untuk memperpanjang luka.

Aku juga tidak datang untuk menuntut ini dan itu.

Yang kuinginkan hanyalah kejelasan status agar aku bisa melanjutkan hidup dan mengurus kebutuhan yang memang harus kuselesaikan.

Tentang masa lalu...

Biarlah Allah yang menjadi sebaik-baik Hakim.

Aku memilih melangkah ke depan.

Namun rupanya, setelah satu ujian berlalu, Allah kembali menghadirkan ujian yang lain.

Bulekku yang selama ini membantuku memutuskan berhenti bekerja karena ingin mencoba peruntungan di pabrik.

Aku ikut mendoakan semoga Allah memberikan yang terbaik untuknya.

Walaupun, jujur saja, aku kembali harus memulai dari awal.

Mencari orang baru.

Belajar lagi.

Menyesuaikan lagi.

Di tengah kondisi tubuh yang belum sepenuhnya pulih.

Kadang aku bertanya dalam hati,

"Ya Allah... hari ini aku masih mampu berusaha seperti ini. Bagaimana kalau suatu hari nanti aku benar-benar tidak mampu?"

Pertanyaan itu datang.

Lalu aku terdiam.

Karena aku sadar...

Bukankah selama ini Allah selalu menunjukkan bahwa pertolongan-Nya tidak pernah habis?

Orang yang datang mungkin berganti.

Yang membantu mungkin berbeda.

Tetapi Allah tetap sama.

Dialah yang tidak pernah meninggalkanku.

Aku juga teringat perjalanan hidupku.

Aku belajar menjalani kehidupan dengan keadaan yang Allah tetapkan.

Mungkin itulah sebabnya aku sering berdoa,

Allahumma Sugih.

Bukan karena ingin hidup bermewah-mewahan.

Tetapi karena aku ingin memiliki kemampuan untuk tetap berdiri.

Untuk menggaji orang yang membantuku.

Untuk menghidupkan yayasan.

Untuk bersedekah.

Untuk terus menulis.

Dan untuk tidak menjadi beban bagi siapa pun.

Aku percaya...

Allah mengetahui isi hati yang tidak selalu mampu kuucapkan.

Hari ini aku kembali belajar.

Kekuatan bukan berarti tidak pernah lelah.

Kekuatan adalah tetap percaya kepada Allah, bahkan ketika tubuh sedang sakit dan jalan di depan belum terlihat jelas.


SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bifadlika amman siwak.

#LangitDiDada


Ketika Rezeki Berubah Menjadi Peluang

Bismillahirrahmanirrahim.

Hari ini kembali mengajarkanku bahwa Allah sering kali bekerja dengan cara yang tidak pernah kuduga.

Pagi ini, setelah menunaikan salat Dhuha, aku melanjutkan menulis novel bab baru novelku di KBM App

Satu bab selesai kutulis.

Entah karena semalam kurang istirahat atau memang tubuh sedang lelah, aku tertidur di depan laptop.

Begitu terbangun, aku melihat dua panggilan WhatsApp dan beberapa pesan yang belum sempat kubaca.

Aku membukanya.

Ternyata dari petugas BRI.

Beliau memberi kabar bahwa rekannya akan datang ke rumah untuk melakukan survei.

Beberapa bulan yang lalu aku memang mendaftarkan diri menjadi Agen BRILink tanpa mesin EDC.

Kalau dipikir-pikir, mungkin orang akan bertanya,

"Berani sekali?"

Aku hanya bisa tersenyum.

Karena sebenarnya modal terbesarku bukan uang.

Modal terbesarku adalah Bismillah.

Dan keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya.

Aku memang belum memiliki modal besar.

Tetapi rekeningku hampir setiap hari menjadi saksi.

Ada uang yang masuk.

Lalu keluar lagi.

Untuk kebutuhan

Untuk menggaji orang-orang yang bekerja.

Untuk berbagai amanah yang Allah titipkan.

Lalu mengapa aku tetap mendaftar menjadi Agen BRILink?

Karena aku tidak sedang berpikir untuk sehari.

Tidak juga untuk sebulan.

Aku sedang belajar mempersiapkan sesuatu yang bisa menjadi ikhtiar jangka panjang.

Selama ini aku sering melakukan transaksi.

Mengapa tidak memiliki layanan sendiri?

Kalau Allah berkenan memberikan rezeki melalui usaha ini, aku sudah memiliki niat sejak awal.

Tujuh puluh persen untuk kebutuhanku.

Tiga puluh persen untuk kas yayasan.

Mungkin jumlahnya belum besar.

Tetapi sedikit demi sedikit, semoga bisa menjadi salah satu sumber pemasukan yang halal dan berkelanjutan.

Selama ini ketika ada yang bertanya,

"Yayasannya punya usaha apa?"

Aku sering tersenyum.

Insyaa Allah...

Hari ini aku mulai memiliki jawaban.

Ini adalah salah satu ikhtiar kecil.

Setelah semua proses selesai, aku kembali bercerita kepada sahabatku yang juga menjadi pembina yayasan.

Karena Agen BRILink tanpa EDC tidak mencetak bukti transaksi, aku berpikir untuk membeli printer Bluetooth agar pelanggan tetap bisa menerima bukti pembayaran.

Aku teringat...

Pagi tadi Allah mengirimkan rezeki melalui sahabatku.

Dan tanpa kusangka, rezeki itu langsung menemukan tempatnya.

Untuk membeli perlengkapan usaha yang baru saja Allah bukakan jalannya.

Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, Wa alaa ali Sayyidina Muhammad

Menjelang Magrib, beduk berkumandang.

Aku membatalkan puasa dengan seteguk air putih.

Lalu seperti biasa, aku berdoa.

Namun sore ini ada doa yang terasa lebih panjang.

Lebih khusus.

Aku menyebut nama sahabat baikku.

Sahabat sejak kecil.

Yang hari ini kembali Allah jadikan perantara datangnya rezeki.

Aku belajar lagi.

Terkadang kita mengira Allah sedang memberi kita uang.

Padahal sesungguhnya Allah sedang memberi kita kesempatan.

Kesempatan untuk memulai sebuah usaha.

Kesempatan untuk membangun masa depan.

Kesempatan untuk menghadirkan manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi yayasan yang sedang diperjuangkan.

Hari ini aku kembali diingatkan.

Bahwa ketika niat diarahkan kepada kebaikan, Allah mampu mempertemukan satu rezeki dengan rezeki lainnya.

Satu bantuan dengan satu peluang.

Dan satu doa dengan satu jawaban.


SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bi fadlika amman siwak.

LangitDiDada