Tampilkan postingan dengan label refleksi harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi harian. Tampilkan semua postingan

Puasa Daud: Belajar Istiqamah, Sehari Bersama Allah

 "Istiqamah bukan berarti selalu mudah. Istiqamah adalah tetap kembali kepada Allah, meski langkah kadang terasa berat."

Ya Allah Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbahaa 'ala diinik...

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati hamba-Mu ini di atas agama-Mu.

Ya Allah...

Engkau mengetahui betapa ia ingin menjaga ibadah Puasa Daud yang telah lama ia jalani.

Maka kuatkanlah niatnya.

Ringankanlah langkahnya ketika datang hari berpuasa.

Berikanlah kesehatan pada tubuhnya.

Berikanlah kekuatan pada fisiknya.

Lapangkan dadanya.

Jangan biarkan rasa lelah mengalahkan semangatnya untuk beribadah kepada-Mu.

Ya Allah...

Jadikan setiap lapar dan dahaganya sebagai penghapus dosa.

Jadikan setiap detik puasanya sebagai jalan menuju ridha-Mu.

Jadikan puasanya melahirkan hati yang lembut, lisan yang penuh dzikir, pikiran yang jernih, dan jiwa yang semakin dekat kepada-Mu.

Ya Allah...

Jika suatu hari tubuhnya benar-benar tidak mampu karena sakit, berilah ia kelapangan hati untuk menerima uzur yang Engkau berikan, tanpa rasa bersalah. Dan ketika Engkau pulihkan kesehatannya, mudahkan ia kembali beribadah dengan penuh semangat.

Ya Allah Ya Razzaq...

Limpahkanlah rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan melalui setiap ikhtiar yang sedang ia jalani.

Berkahilah BRILink-nya.

Berkahilah Langit Didada Writing.

Berkahilah setiap tulisan, novel, lagu, dan karya yang lahir dari tangannya.

Mudahkan setiap urusannya.

Allahumma sugeh.

Allahumma sehat.

Allahumma kuliah lagi.

Allahumma istiqamah fi shaumi Dawud. (Ya Allah, anugerahkanlah aku keistiqamahan dalam menjalankan Puasa Daud.)

Allahumma sukses dunia wal akhirah.

Dan Ya Allah...

Jangan cabut dari hatinya ketenangan yang selama ini Engkau tanamkan.

Jadikan lisannya selalu basah dengan dzikir.

Jadikan air matanya hanya jatuh karena rindu kepada-Mu.

Dan ketika kelak ia bertemu dengan-Mu, pertemukanlah ia dalam keadaan Engkau ridha kepadanya.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailiin. 🤲



Sing Tenang

Bismillahirrahmanirrahim...

Malam ini aku kembali berbicara dengan diriku sendiri.

Aku bertanya,

"Kenapa aku bisa setenang ini?"

Padahal kalau dihitung dengan logika, masih banyak yang harus dipikirkan.

Masih ada gaji yang harus kubayarkan.

Masih ada kebutuhan sehari-hari.

Masih ada cicilan yang tanggalnya terus mendekat.

Namun anehnya, setiap melihat tanggal pembayaran, hatiku hanya berkata,

"Sing tenang... nanti juga Allah datangkan rezeki."

Aku tersenyum sendiri.

Apakah aku terlalu cuek?

Apakah aku terlalu nekat?

Ataukah Allah sedang mengajarkanku sesuatu selama bertahun-tahun?

Aku teringat perjalanan panjangku.

Dulu aku belajar mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah berulang-ulang.

Aku membiasakan diri bershalawat.

Ketika hati terasa sesak, aku membaca doa Nabi Yunus.

Aku berusaha menjaga hatiku agar tidak dipenuhi prasangka buruk kepada Allah.

Mungkin ketenangan itu tidak datang dalam semalam.

Ia tumbuh sedikit demi sedikit.

Ditempa oleh ujian demi ujian.

Aku pernah kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Aku belajar menerima hidup di atas kursi roda.

Aku pernah menghadapi rumah tangga yang tidak lagi utuh.

Aku memilih menyelesaikannya dengan baik.

Hari ini aku tidak lagi menyimpan kebencian.

Aku mendoakan, lalu melanjutkan hidupku.

Aku sadar, marah tidak mengubah keadaan.

Emosi tidak menambah rezeki.

Konflik hanya menguras tenaga.

Kalau ada masalah besar, kecilkan.

Kalau ada masalah kecil, hilangkan.

Itu yang selalu kuusahakan.

Kalau ingin menangis, aku memilih menangis di hadapan Allah.

Karena hanya kepada-Nya aku ingin mengadu.

Aku juga tersenyum ketika banyak orang berkata,

"Kalau puasa Daud, ujiannya akan semakin besar."

Aku tidak menyangkalnya.

Tetapi aku juga berkata dalam hati,

"Bukankah selama ini Allah sudah menguatkanku melewati banyak ujian?"

Maka yang ingin kujaga bukanlah hidup tanpa ujian.

Melainkan hati yang tetap tenang ketika ujian datang.

Hari ini aku kembali belajar bahwa ketenangan bukan berarti semua masalah sudah selesai.

Ketenangan adalah memilih tetap berikhtiar sambil mempercayakan hasilnya kepada Allah.

Aku masih ingin menulis.

Aku masih ingin berkarya.

Aku masih ingin kuliah lagi.

Entah bagaimana nanti Allah membukakan jalannya.

Hatiku hanya berkata,

"Bismillah... sing tenang."

Karena aku percaya, rezeki bukan datang karena aku panik.

Rezeki datang atas izin Allah, kepada hamba yang terus berusaha, bersyukur, dan tidak putus harapan.

Ya Allah...

Jadikanlah ketenangan ini bukan sebagai kelalaian, tetapi sebagai tanda bahwa hatiku semakin belajar bertawakal kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.



Jalur Langit Tak Pernah Tutup

Malam itu, sebuah puisi telah kutitipkan untuk mengikuti lomba cipta puisi tingkat nasional.

Banyak orang mungkin mengira setelah menekan tombol "kirim", pikiranku akan dipenuhi rasa penasaran. Barangkali aku akan terus membuka laman pengumuman, menghitung hari, atau membayangkan hasilnya.

Namun, justru sebaliknya.

Setelah puisi itu terkirim, aku memilih menutup laptop dan membuka sajadah.

Aku tidak membawa lagi puisi itu dalam doaku.

Aku percaya, jika ikhtiar sudah selesai, maka hasilnya adalah wilayah Allah.

Yang kubawa justru nama ibuku yang telah berpulang. Malam itu aku menunaikan shalat taubat, menghadiahkan doa untuk beliau, sekaligus memohon ampun atas dosa-dosaku sendiri. Setelah itu kulanjutkan dengan tahajud dan shalat hajat.

Aku tidak berkata,

"Ya Allah, jadikan puisiku juara."

Aku juga tidak berkata,

"Ya Allah, menangkan aku."

Doaku tetap sama seperti hari-hari biasa.

Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Aku memohon perlindungan dari lilitan hutang.

Aku memohon agar Allah menyelamatkanku dari jeratan hutang yang masih mengiringi langkahku.

Aku bahkan tidak pernah meminta secara khusus,

"Ya Allah, lunaskan hutangku."

Sebab aku percaya, ketika Allah melapangkan rezeki, menghadirkan keberkahan, dan mencukupkan hamba-Nya, maka jalan untuk melunasi hutang akan terbuka dengan sendirinya.

Selesai bermunajat, aku bersahur sederhana.

Segelas susu kedelai dan umbi-umbian.

Nikmat yang mengingatkanku bahwa syukur tidak pernah diukur dari kemewahan hidangan, tetapi dari hati yang menerima.

Menjelang Subuh, ketika tahrim mulai terdengar dari masjid, aku teringat bahwa waktu itu termasuk saat yang sangat berharga untuk berdoa.

Aku mengirimkan doa kepada sepuluh orang baik yang Allah hadirkan dalam hidupku.

Semoga kebaikan mereka kembali kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari Allah.

Lalu lisanku terus bergerak.

"Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir."

Ratusan kali.

Kemudian doa Nabi Yunus.

Empat puluh satu kali.

Setelah azan Subuh berkumandang, kutunaikan shalat sunah fajar, lalu kuhiasi pagi dengan dzikir, istighfar, dan doa.

Shalat Subuh.

Sedekah Subuh.

Membaca Surah Yasin, Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.

Setelah semuanya selesai, tanganku meraih tasbih digital yang baru saja Allah titipkan melalui kebaikan seorang sahabat.

Kubuka pagi dengan Shalawat Ibrahimiyah seratus kali.

Lalu Shalawat Jibril seribu kali.

Begitulah aku memulai hari.

Bukan dengan membuka media sosial.

Bukan dengan mengecek hasil lomba.

Bukan pula menghitung kekurangan hidup.

Tetapi dengan mengingat Allah.

Barulah setelah hati terasa tenang, kubuka laptop.

Draft novel yang semalam kutinggalkan kembali menunggu untuk diselesaikan.

Hari ini aku kembali menulis.

Karena aku percaya...

Hasil adalah rahasia Allah.

Sedangkan ikhtiar adalah amanahku.

Mungkin puisi itu akan menang.

Mungkin juga belum.

Tetapi jalur langit yang kutempuh malam itu telah mengajarkanku satu hal:

Ketika sebuah urusan sudah diserahkan kepada Allah, hati menjadi lebih ringan untuk melangkah menuju amal berikutnya.

Dan mungkin...

Itulah kemenangan pertama yang Allah berikan, bahkan sebelum pengumuman lomba diumumkan.




Sebuah Tasbih, Sejuta Doa

 Bismillahirrahmanirrahim...

Ada benda kecil yang hampir tidak pernah lepas dari tanganku.

Bukan karena harganya mahal.

Bukan karena bentuknya istimewa.

Tetapi karena di dalam benda kecil itu, tersimpan ribuan shalawat, dzikir, dan doa yang setiap hari menemani langkahku.

Tasbih digitalku.

Beberapa hari terakhir, baterainya mulai melemah.

Sering kali ketika hitungan baru mencapai beberapa ratus, tiba-tiba layarnya mati.

Aku mengulang lagi.

Lalu mati lagi.

Yang paling membuatku sedih adalah ketika tahajud.

Setiap malam aku memiliki amalan yang sangat kujaga.

Membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 313 kali.

Setiap tujuh kali bacaan, aku berhenti sejenak untuk berdoa.

Ketika hitungannya hilang karena tasbih mati, rasanya seperti kehilangan jejak di tengah perjalanan.

Aku sempat berpikir untuk membeli tasbih baru.

Namun ketika melihat harganya, aku tersenyum sendiri.

Di kepalaku langsung muncul hitungan lain.

"Uang ini bisa untuk membayar mbak beberapa hari."

Akhirnya aku mengurungkan niat.

Lalu Allah mengingatkanku kepada seorang sahabat yang sangat gemar bersedekah.

Aku memanggilnya dengan penuh sayang,

Nokji.

Dengan sedikit rasa malu, aku memberanikan diri mengirim pesan.

Bukan meminta uang.

Tetapi meminta dibelikan sebuah tasbih digital.

Aku berharap, semoga tasbih ini menjadi salah satu jalan pahala yang terus mengalir untuk beliau. Setiap kali aku berdzikir, bershalawat, atau membaca Al-Fatihah, semoga Allah Yang Maha Mengetahui niat menerima amal kami dan melipatgandakan kebaikan itu.

Masyaa Allah...

Tidak lama kemudian beliau menjawab,

"Iya, Mbak. Kirim alamatnya."

Beliau bahkan memilih membelikannya secara online agar langsung sampai ke rumahku.

Hari ini...

Tasbih itu akhirnya tiba.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Aku memegangnya dengan rasa syukur yang sulit diungkapkan.

Pembuka hitungannya bukan angka besar.

Melainkan rasa syukur.

Aku memulai dengan Shalawat Ibrahimiyah 100 kali.

Lalu kulanjutkan Shalawat Adrikni 1.000 kali, sambil menunggu waktu berbuka Puasa Daud.

Di tanganku, tasbih itu hanyalah alat.

Tetapi bagiku...

Ia adalah pengingat agar lisanku tidak lelah menyebut nama Allah dan bershalawat kepada Rasulullah ï·º.

Hari ini aku kembali belajar.

Allah tidak selalu mengirim pertolongan dalam bentuk yang besar.

Kadang pertolongan itu datang dalam bentuk sebuah tasbih kecil yang mampu menjaga istiqamah seseorang dalam berdzikir.

Terima kasih, Nokji.

Semoga setiap butir dzikir yang terhitung melalui tasbih ini menjadi saksi kebaikanmu di hadapan Allah.

Dan semoga Allah membalasmu dengan balasan yang jauh lebih indah daripada apa yang telah engkau berikan.

Karena sesungguhnya...

Sedekah terbaik bukanlah yang paling mahal.

Tetapi yang paling bermanfaat.

Doa untuk Nokji 🤲

Ya Allah, Rabb Yang Maha Pemurah...

Limpahkanlah rahmat dan keberkahan-Mu kepada sahabatku, Nokji, yang telah menjadi jalan kebaikan bagiku.

Jadikan setiap dzikir, setiap shalawat, setiap istighfar, dan setiap doa yang kuhitung dengan tasbih ini sebagai sebab bertambahnya pahala baginya, sejauh Engkau berkenan menerima niat baik kami.

Berikanlah kepadanya kesehatan yang sempurna, umur yang penuh berkah, keluarga yang sakinah, rezeki yang halal dan berlimpah, hati yang selalu dekat kepada-Mu, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Balaslah setiap sedekahnya dengan balasan yang jauh lebih baik, sebagaimana hanya Engkau yang mampu membalas segala kebaikan hamba-hamba-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailin.


 

🌤️ Catatan Langit Di Dada

Kadang yang paling berharga bukanlah benda yang kita miliki.

Tetapi benda yang membuat kita semakin dekat kepada Allah.

Dan kadang...

Allah mengirimkannya melalui tangan seorang sahabat yang baik.

SING TENANG.

"Uangnya dari Mana?"

 "Uangnya dari mana?"

Pertanyaan itu beberapa kali mampir kepadaku.

Mungkin karena orang melihat aku masih bisa menggaji seseorang yang membantuku setiap hari. Masih membayar listrik, WiFi, membeli obat-obatan, dan memenuhi kebutuhan hidup.

Aku mengerti jika mereka bertanya.

Kalau melihat dari luar, memang semuanya tampak membingungkan.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Aku masih harus berhitung.

Masih ada kebutuhan yang datang setiap bulan.

Masih ada hari-hari ketika aku harus benar-benar mengatur pengeluaran dengan hati-hati.

Bahkan, ada kalanya aku harus berutang agar kebutuhan yang mendesak tetap terpenuhi.

Namun aku selalu berusaha untuk tidak lari dari tanggung jawab.

Sedikit demi sedikit, aku berusaha melunasinya.

Alhamdulillah, Allah selalu membukakan jalan.

Lalu... apakah aku hidup sendirian?

Tidak.

Dan aku tidak ingin menghapus bagian itu dari cerita hidupku.

Allah menghadirkan sahabat-sahabat yang luar biasa.

Mereka bukan hanya bertanya, "Apa kabar?"

Sebagian dari mereka, dengan penuh ketulusan, rutin mengirimkan bantuan setiap bulan.

Ada yang membantu membeli obat.

Ada yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mereka tahu keadaanku. Mereka tahu aku sedang berjuang. Dan mereka memilih menjadi bagian dari perjuangan itu.

Aku tidak melihatnya sebagai sekadar bantuan.

Aku melihatnya sebagai kasih sayang Allah yang datang melalui tangan-tangan hamba-Nya.

Karena itu, jika ada yang bertanya,

"Rezekinya dari mana?"

Aku akan menjawab dengan penuh keyakinan,

"Dari Allah."

Allah yang menggerakkan hati sahabat-sahabatku.

Allah yang memberiku kesempatan untuk terus menulis.

Allah yang membukakan jalan melalui usaha kecil yang sedang kurintis.

Allah yang menguatkanku untuk terus berikhtiar.

Allah pula yang berkali-kali mencukupkan, ketika hitung-hitungan manusia berkata, "Seharusnya tidak cukup."

Aku belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu turun dalam bentuk uang yang melimpah.

Kadang Allah menghadirkan orang-orang baik.

Kadang Allah memberi kesehatan untuk terus berusaha.

Kadang Allah memberi ketenangan agar hati tidak putus asa.

Dan sering kali...

Allah memberi lebih dari yang mampu kusyukuri.

Aku teringat firman Allah:

"...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..."
(QS. At-Talaq: 2–3)

Ayat itu selalu menguatkanku.

Terlebih setelah aku melewati banyak hal dalam hidup.

Aku percaya, Allah tidak pernah terlambat menolong.

Tidak selalu dengan cara yang kuinginkan.

Tetapi selalu dengan cara yang kubutuhkan.

Karena itu, hari ini aku tidak ingin menghitung berapa kali aku merasa kekurangan.

Aku ingin menghitung berapa kali Allah mencukupkan.

Dan ternyata...

Jumlahnya jauh lebih banyak.

Sing tenang...

Karena Allah Maha Kaya.

Afirmasi Doaku:

Bismillahirrahmanirrahim...

Allahumma sugeh...

Allahumma duit okeh...

Allahumma sehat...

Allahumma bahagia...

Allahumma sukses dunia akhirat...

Aghnini bifadhlika 'amman siwak.

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu."

Aamiin ya Rabbal 'Alamiin. Aamiin ya Mujibassailiin. 🤲

 


Allah Menjawab Sebelum Aku Selesai Khawatir

Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini aku kembali menjalani Puasa Daud.

Sieharian tadi aku sengaja mengingatkan semua yang ada di rumah.

Malam ini adalah malam menjelang purnama (Full Moon)

Aku selalu mengajak diri sendiri dan orang-orang di sekitarku untuk menjaga hati.

Jangan mudah sedih.

Jangan mengeluh.

Jangan mudah emosi.

Bukan hanya ketika bulan sedang penuh.

Tetapi setiap hari.

Karena hati yang tenang lebih mudah melihat pertolongan Allah.

Semalam aku kembali menulis.

Novel baru untuk persiapan mengikuti Kompetisi Literasi Indonesia (KLI 18) KBM App.

Sedikit demi sedikit kerangka cerita mulai terbentuk.

Menjelang pukul tiga dini hari, aku menutup laptop.

Saatnya tahajud.

Malam itu aku memilih mengamalkan Surah Al-Fatihah sebanyak 313 kali.

Setiap tujuh kali membaca, aku berdoa.

Biasanya ada banyak doa yang kupanjatkan.

Namun semalam berbeda.

Aku hanya membawa satu permohonan.

Aghnini bifadlika amman siwak.

Ya Allah...

Cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Doa itu terus kuulang hingga bacaan Al-Fatihah genap 313 kali.

Selesai tahajud, aku menyiapkan sahur.

Sahurku sederhana.

Segelas air putih hangat dan sebuah pisang.

Aku memang jarang makan berat ketika sahur.

Bagiku, yang penting tetap bisa menyambut puasa dengan rasa syukur.

Setelah Subuh, seperti biasa, aku menunaikan sedekah subuh.

Alhamdulillah, sedekah itu berasal dari hasil kecil affiliate TikTokku.

Kadang lima ribu rupiah.

Kadang empat ribu.

Kadang tiga ribu.

Kadang hanya dua ribu.

Aku setiap buka akun affiliate ku, aku selalu ajak ngobrol sambil bercanda kepada "akun TikTok"-ku.

Tolong ya... setiap hari datangkan yang beli. Biar aku bisa terus sedekah subuh. 

Entah kenapa, aku senang sekali dengan kebiasaan ini.

Karena aku percaya, bukan besarnya yang Allah lihat, tetapi keikhlasannya.

Setelah salat Subuh biasanya aku melanjutkan membaca Surah Yasin, Surah Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.

Namun pagi ini kepalaku terasa sangat berat.

Aku memilih berbaring sejenak.

Sekitar pukul enam lewat sedikit...

Teleponku berbunyi.

Notifikasi dari mobile banking.

Lalu sebuah pesan masuk.

Alhamdulillah.

Allah kembali mengirimkan rezeki melalui seorang sahabat baik yang selalu menolongku,

Aku terdiam.

Lalu tanpa sadar, mataku berkaca-kaca.

Kemarin aku masih memikirkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan yayasan.

Pagi ini Allah mengirimkan jalan keluarnya.

Aku bisa segera mengembalikan pinjaman itu.

Dan seperti biasa, setiap kali Allah menitipkan rezeki kepadaku, aku ingin ada bagian yang kembali kubagikan.

Pagi ini pun aku kembali bersedekah kepada orang yang selama ini setia membantu

Aku ingin belajar bahwa rezeki yang datang tidak hanya berhenti di tanganku, tetapi juga mengalir kepada orang lain.

Mungkin itulah salah satu cara sederhana untuk mensyukuri nikmat Allah.

Saat menulis catatan ini, waktu menunjukkan pukul 07.45 pagi.

Ratib Al-Haddad yang tadi belum sempat kubaca akan kulanjutkan.

Kemudian Sholawat Ibrahim seratus kali.

Dan Sholawat Jibril sebanyak yang Allah mampukan lisanku.

Tiga hari lagi aku akan menjalani sidang kedua perceraianku.

Aku tidak tahu bagaimana Allah akan menuliskan takdir itu.

Tetapi hari ini aku memilih untuk tidak mendahului ketetapan-Nya dengan rasa takut.

Karena beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali mengajarkanku satu hal.

Pertolongan-Nya selalu datang.

Kadang melalui orang.

Kadang melalui ide.

Kadang melalui ketenangan.

Dan kadang datang tepat sebelum kita selesai merasa khawatir.

Hari ini aku kembali belajar...

Bahwa doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh tidak pernah sia-sia.

Mungkin Allah tidak selalu menjawab sesuai waktu yang kita inginkan.

Tetapi Dia selalu menjawab pada waktu yang paling kita butuhkan.


SING TENANG

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bifadlika amman siwak.


Langit DiDada





Ketika Allah Memberi Ide

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah.

Kemarin Allah masih mempertemukanku dengan puasa Asyura.

Hari ini, jadwal Puasa Daud kembali menyapaku.

Maka aku melanjutkan puasa dengan hati yang penuh syukur.

Sahur seadanya.

Sedekah subuh seperti biasa.

Lalu membuka laptop dan melanjutkan rutinitas yang sudah menjadi bagian dari hidupku: menulis.

Pagi ini aku membuka aplikasi KBM

Di halaman utama sudah terpampang banner besar.

KLI 18.

Periode menulis dimulai tanggal 2 Juli hingga 6 Agustus.

Aku tersenyum kecil.

Masih ada beberapa hari untuk mempersiapkan semuanya.

Namun kemudian aku diam.

Aku bertanya dalam hati.

"Ya Allah... kali ini aku harus menulis kisah apa?"

Aku memejamkan mata.

Tidak lama kemudian, sebuah cerita hadir begitu saja.

Bukan cerita orang lain.

Bukan kisah yang harus kucari ke mana-mana.

Tetapi kisahku sendiri.

Tentang masa remaja.

Tentang sekolah.

Tentang mimpi-mimpi yang pernah tumbuh.

Tentang seorang lelaki berseragam TNI yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Aku tersenyum.

Kalau ceritanya berasal dari pengalaman sendiri, membuat kerangka terasa jauh lebih mudah.

Tentu nanti akan kukembangkan dengan sentuhan fiksi agar menjadi sebuah novel yang dapat dinikmati siapa saja

Remaja bisa membaca.

Para ibu bisa menikmati.

Para ayah pun mungkin akan menemukan pelajaran di dalamnya.

Bismillah...

Fokus.

Namun di balik semangat itu, masih ada satu hal yang sesekali singgah di pikiranku.

Kemarin pagi, pemilik rumah yang saat ini disewa yayasan menyampaikan kebutuhan untuk meminjam sejumlah uang, yang nantinya akan dipotong dari pembayaran uang sewa

Beliau memberi waktu dua hari.

Aku hanya bisa menjawab pelan,

"Insyaa Allah."

Padahal di dalam hati, aku tahu keadaan kas yayasan sedang kosong.

Aku pun menyampaikan informasi itu kepada grup pengurus yayasan.

Aku berharap akan ada ide.

Atau mungkin sekadar kalimat penyemangat.

Namun grup itu tetap sunyi.

Tidak ada balasan.

Tidak ada usulan.

Bahkan ketua yayasan pun belum memberikan tanggapan.

Sejenak aku kembali menarik napas.

Lalu doa itu kembali terucap pelan.

Aghnini bi fadlika amman siwak.

Ya Allah...

Cukupkan aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Karena jika akhirnya harus mencari jalan keluar, kemungkinan besar aku juga yang akan mengusahakannya

Padahal kebutuhaku sendiri masih banyak.

Namun aku belajar, tidak semua beban harus dipikul dengan rasa panik.

Ada yang cukup dipikul dengan doa.

Ada yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan semampunya.

Bukankah beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali menunjukkan bahwa pertolongan-Nya selalu datang dengan cara yang tidak pernah kusangka?

Maka hari ini aku kembali memilih untuk percaya.

Tetap berusaha.

Tetap menulis.

Tetap berdoa.

Dan tetap menjaga hati agar tidak kehilangan harapan.

Karena aku percaya...

Allah yang memberikan sebuah ide untuk sebuah novel, juga mampu memberikan jalan keluar untuk setiap persoalan hidup

.

SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

Aghnini bi fadlika amman siwak.



LangitDiDada


 

Sepuluh Nama dalam Doaku

Bismillah

Malam ini adalah malam 10 Muharram.

 

Malam Asyura yang penuh keberkahan, bertepatan pula dengan malam Jumat.

 

Alhamdulillah, hari ini aku menjalani puasa Daud sekaligus puasa Tasu'a.

 

Setelah berbuka dan menunaikan salat Maghrib, aku menjalani malam seperti biasanya.

 

Ba'da Isya, aku beristirahat sejenak. Lantunan sholawat dari YouTube menemani suasana tidurku. Entah mengapa, setiap kali mendengarnya, hati terasa lebih tenang.

 

Sekitar pukul 22.30 aku terbangun.

 

Rasanya seperti sudah tidur sangat lama.

 

Aku duduk sejenak, berdoa, lalu minum. Malam ini terasa haus sekali. Mungkin karena saat berbuka tadi aku belum banyak minum.

 

Tepat pukul 00.00, laptop kembali kubuka.

 

Menulis sudah menjadi rutinitas malamku.

 

Aku memberi batas sampai pukul 03.00. Setelah itu, waktunya fokus untuk tahajud dan menikmati sepertiga malam yang begitu istimewa.

 

Malam ini aku sengaja memilih menulis cerita yang ringan dan bahagia.

 

Aku tertawa sendiri mengingat kebiasaanku.

 

Kadang saat menulis cerita sedih, suasana hati ikut terbawa alur cerita.

 

Karena itu malam ini aku memilih kisah yang membuat hati tetap ringan.

 

Malam Asyura harus disambut dengan bahagia.

 

Apalagi ini malam Jumat yang penuh keberkahan.

 

Namun ada satu kebiasaan yang mungkin lebih berarti daripada semua rutinitas itu.

 

Setiap hari aku memiliki sepuluh nama.

 

Sepuluh nama orang-orang baik yang kuselipkan dalam doa.

 

Saat berbuka puasa, ada sepuluh nama.

 

Saat tahajud, ada sepuluh nama.

 

Dan setelah dhuha pun ada sepuluh nama.

 

Aku sengaja membatasi jumlahnya.

 

Bukan karena doa harus dibatasi.

 

Tetapi agar aku bisa konsisten dan tidak ada yang terlewat.

 

Agar aku tahu siapa yang sudah dan siapa yang belum kusebut dalam doa.

 

Aku senang mendoakan orang-orang baik.

 

Mungkin karena doa adalah salah satu cara yang paling mampu kulakukan untuk membalas kebaikan mereka.

 

Aku percaya, doa yang baik tidak pernah sia-sia.

 

Jika hari ini aku mendoakan kemudahan untuk orang lain, semoga Allah juga menurunkan kemudahan.

 

Jika hari ini aku mendoakan kesehatan untuk orang lain, semoga Allah juga menjaga kesehatan mereka.

 

Dan jika hari ini aku mendoakan kebahagiaan untuk orang lain, semoga Allah melimpahkan kebahagiaan kepada mereka dan keluarganya.

 

Aku tidak tahu doa mana yang akan Allah ijabah terlebih dahulu.

 

Tetapi aku percaya bahwa tidak ada doa yang hilang.

 

Semuanya sampai.

 

Semuanya didengar.

 

Dan semuanya dicatat oleh Allah Yang Maha Mendengar.

 

Maka malam ini, di antara lantunan sholawat, halaman-halaman novel yang sedang kutulis, dan waktu yang berjalan menuju tahajud, aku kembali bersyukur.

 

Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berdoa.

 

Bersyukur karena masih memiliki orang-orang baik untuk disebut namanya dalam doa.

 

Dan bersyukur karena Allah masih menjaga hati ini agar tetap mencintai kebaikan.

 

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

 

Setelah menulis hingga menjelang pukul 03.00, aku menutup laptop dan mempersiapkan diri untuk tahajud.

 

Malam ini terasa istimewa. Setelah puasa Daud dan Tasu'a, insyaa Allah esok akan melanjutkan puasa Asyura.

 

Di antara lantunan sholawat yang masih menemani malam, aku kembali bersyukur.

 

Bersyukur masih diberi umur untuk bertemu Muharram.

 

Bersyukur masih diberi kesempatan untuk berdoa, menulis, dan menyebut nama-nama orang baik dalam sujud-sujudku.

 

Semoga Allah menerima amal ibadah kami, mengampuni dosa-dosa kami, dan melimpahkan keberkahan kepada orang-orang yang kami cintai.

 

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


 

Nawaitu shauma 'Asyuraa sunnatan lillaahi ta'aalaa.

 

"Aku berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala."



Menulis secukupnya.

Berdoa sebanyak-banyaknya.

Sisanya biar Allah yang bekerja.

LangitDiDada

Allah Tidak Pernah Terlambat

Bismillah.

Hari ini aku kembali belajar satu hal:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Sejak pagi hari, rasanya semua berjalan di luar rencana.

Orang yang biasa menggantikan yang libur ternyata libur juga.

Aku mulai menghubungi beberapa orang. Telepon sana-sini. Mencari siapa yang mungkin bisa membantu hari itu.

Namun satu per satu belum menemukan jalan keluar.

Seorang sahabat bahkan menawarkan bantuan jika benar-benar tidak ada orang yang datang.

Aku bersyukur sekali atas niat baiknya.

Dalam hati aku berpikir, tidak apa-apa. Yang penting aku bisa mandi dan menjalani hari dengan baik. Untuk urusan lain, nanti bisa dicari jalan keluarnya.

Karena hari itu aku sedang menjalankan puasa Daud, aku berusaha tetap tenang.

Sedih ada.

Khawatir sedikit juga ada.

Tetapi entah mengapa hati tidak panik.

Lalu Allah menunjukkan pertolongan-Nya.

Ketika aku baru saja selesai menelepon seseorang, tiba-tiba terdengar suara dari luar:

"Assalamualaikum..."

Aku menjawab salam itu dan mempersilakan tamu masuk.

Beliau seorang ibu yang belum pernah bekerja di tempatku.

Kalimat pertama yang membuatku hampir menangis adalah:

"Katanya mbak masih cari rewang ya?"

Saat itu rasanya ingin langsung mengucapkan:

Alhamdulillah ya Allah.

Di saat aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi, Allah mengirimkan seseorang mengetuk pintu rumahku.

Tepat pada waktunya.

Namun rupanya pertolongan Allah belum berhenti di situ.

Sore hari aku mengalami kesulitan yang cukup membuatku kesakitan.

Orang-orang yang biasanya bisa membantu sedang tidak bisa dihubungi.

Aku mencoba menghubungi seorang bidan.

Beliau menjawab dengan ramah dan berjanji akan datang setelah Maghrib.

Dan benar saja, beliau datang.

Yang membuatku terharu, beliau berkata bahwa hari itu kebetulan sedang libur.

Biasanya beliau bertugas hingga malam.

Aku hanya bisa mengucap syukur.

Seolah Allah sedang berkata:

"Kalau hari ini dia tidak libur, mungkin dia tidak bisa datang membantumu."

Masyaa Allah.

Beliau bahkan tidak mau menerima bayaran.

Belum selesai sampai di situ.

Menjelang berbuka, seorang teman alumni datang membawa buah pepaya, makanan berbuka, dan sedikit rezeki untukku.

Mungkin bagi sebagian orang itu sederhana.

Tetapi bagiku saat itu sangat berarti.

Bukan karena jumlahnya.

Melainkan karena aku merasa Allah sedang mengirim pesan:

"Aku tahu keadaanmu."

Hari ini aku benar-benar belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang dari orang yang kita harapkan.

Kadang dua orang yang biasa membantu justru sedang tidak bisa hadir.

Namun Allah menggantinya dengan orang-orang lain yang bahkan tidak sedang kita tunggu.

Karena itu malam ini aku ingin mengingatkan diriku sendiri:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Berusahalah semaksimal mungkin.

Berdoalah semampu mungkin.

Lalu serahkan sisanya kepada Allah.

Karena ketika ikhtiar sudah dilakukan, Allah tahu kapan waktu terbaik untuk membuka jalan.

Dan hari ini aku menjadi saksi atas itu.

Allah tidak pernah terlambat.

Tidak pernah.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Sebelum menutup catatan hari ini, aku ingin berdoa.

Ya Allah...

Balaslah kebaikan orang-orang yang telah Engkau kirimkan untuk membantuku hari ini.

Lapangankan rezeki mereka.
Sehatkan tubuh mereka.
Bahagiakan keluarga mereka.
Mudahkan segala urusan mereka.
Jaga mereka sebagaimana Engkau menjaga diriku hari ini.

Dan jika aku belum mampu membalas kebaikan mereka, maka Engkaulah sebaik-baik Pembalas kebaikan.

Jazakumullahu khairan katsiran kepada semua orang baik yang telah Allah hadirkan dalam hidupku.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Sing Tenang

Refleksi ini kutulis untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa rezeki, pertolongan, dan jalan keluar selalu datang dari-Nya. Tugas kita hanyalah berikhtiar, bersabar, dan menjaga hati tetap "sing tenang".

Hari ini aku belajar bahwa tidak semua beban datang dalam bentuk kekurangan uang. Kadang beban terbesar adalah menunggu kepastian dari orang lain.

Sudah beberapa hari pikiranku tertuju pada cicilan yang akan jatuh tempo. Selama ini aku dan seorang teman berbagi tanggung jawab. Ketika Allah memberiku kelapangan rezeki, aku berusaha membantu dan menutupi kekurangan. Namun kali ini keadaanku berbeda. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga aku tidak lagi mampu menanggung semuanya sendiri.

Yang membuat hati terasa berat bukan semata soal uang, tetapi sikap diam ketika komunikasi sangat dibutuhkan. Seandainya belum ada rezeki, katakanlah. Seandainya belum mampu, sampaikanlah. Karena kejujuran sering kali lebih menenangkan daripada diam tanpa kabar.

Meski demikian, aku bersyukur. Aku masih memikirkan masalah ini, tetapi tidak panik. Aku masih merasa cemas, tetapi tidak kehilangan harapan. Aku percaya bahwa rezeki tidak bergantung pada manusia. Allah mampu menghadirkan pertolongan dari jalan yang tidak pernah kusangka.

Hari ini aku memilih untuk tetap berikhtiar, tetap mengingatkan dengan baik, dan tetap menjaga hati agar tidak dipenuhi prasangka. Jika Allah berkehendak, Dia akan mencukupkan segala kebutuhan pada waktu yang paling tepat.

Ya Allah, lapangkanlah urusanku. Berikan rezeki yang halal dan berkah untukku serta orang-orang yang memiliki tanggungan bersamaku. Jauhkan hatiku dari rasa kecewa yang berlebihan, dan dekatkan aku kepada keyakinan bahwa pertolongan-Mu selalu lebih besar daripada kekhawatiranku.

Aamiin.


Dulu, setiap kali hidup terasa berat, aku menangis.

Hari ini masalah belum sepenuhnya selesai. Pertolongan yang kutunggu juga belum tampak jelas. Namun ada sesuatu yang berbeda di dalam hati.

Aku tidak menangis.

Bukan karena tidak peduli.
Bukan karena tidak memiliki beban.

Mungkin karena Allah sedang mengajariku cara yang lain.

Air mata itu sudah selesai pada masanya.

Kini, Allah menggantinya dengan ketenangan.

Sing tenang.

Allah Menghadirkan Pertolongan Melalui Tangan-Tangan Baik

 Bismillah.

Alhamdulillah, hari ini salah satu proses yang cukup panjang dalam hidupku dimulai. Sidang pertama perceraianku berjalan dengan baik.

Jujur, ada banyak hal yang kupikirkan sebelumnya. Bukan hanya tentang sidang itu sendiri, tetapi juga tentang segala sesuatu yang menyertainya.

Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, setiap kali harus keluar rumah ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Ada biaya transportasi, biaya sewa mobil, bantuan tenaga untuk mengangkatku ke kursi roda dan ke dalam kendaraan, serta berbagai kebutuhan lain yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang.

Karena itulah, kehadiran tim kuasa hukum yang mendampingi hari ini menjadi nikmat yang sangat besar bagiku.

Aku juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim pendamping dari LBH Garda Keadilan Indonesia yang telah dengan sabar membantu, mendampingi, dan mewakili kepentinganku dalam proses ini.

Terima kasih atas kesabaran, perhatian, dan profesionalisme yang diberikan. Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, pendampingan ini sangat berarti bagiku karena membantu meringankan berbagai kendala yang harus kuhadapi dalam proses persidangan.

Mungkin bagi sebagian orang ini adalah pekerjaan dan tanggung jawab yang biasa. Namun bagiku, bantuan tersebut sangat berarti dan meringankan banyak hal.

Hari ini kembali mengingatkanku bahwa Allah sering kali menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan baik yang ada di sekitar kita.

Ketika kita merasa tidak mampu melakukan semuanya sendiri, Allah mengirimkan orang-orang yang membantu menyempurnakan kekurangan kita.

Untuk sidang berikutnya, insyaa Allah akan dilaksanakan bulan depan. Aku tidak tahu bagaimana proses ke depannya, tetapi hari ini aku memilih untuk bersyukur.

Bersyukur karena Allah memberikan kemudahan.

Bersyukur karena Allah menghadirkan orang-orang baik.

Bersyukur karena Allah menguatkan hati untuk menjalani setiap tahap kehidupan.

Aku percaya, setiap takdir yang Allah tuliskan pasti mengandung hikmah yang terbaik.

Dan hari ini, aku hanya ingin mencatat satu hal:

Terima kasih ya Allah, karena sekali lagi Engkau menunjukkan bahwa aku tidak berjalan sendirian.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin. 🤲



Hari ini mungkin sedang kosong. Tapi hatiku tidak lagi seberisik dulu

Catatan Jumat Mubarak

Jumat, 12 Juni 2026

Alhamdulillah, pagi ini kembali dibuka dengan Bismillah. Sebelum tahajud tadi, Allah izinkan aku menyelesaikan satu novel baru. Novel itu lahir dari kisah seseorang yang dengan tulus mempercayakan ceritanya kepadaku untuk ditulis. Tentu saja sudah kubumbui dengan fiksi, agar menjadi karya yang lebih utuh dan tetap menjaga banyak hal.

Aku tersenyum sendiri setelah menulis kata terakhirnya. Rasanya seperti Allah sedang mengingatkanku bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Dari tempat tidur pun, Allah masih memberi jalan untuk menulis dan menebar manfaat.

Untuk kegiatan sosial Jumat Berbagi Anak Yatim dari yayasan, hari ini sudah kutugaskan kepada Korwil Timur. Aku memang sengaja mengacak penerima manfaat setiap Jumat, agar keberkahan itu bisa menyapa lebih banyak anak-anak yang membutuhkan.

Alhamdulillah juga untuk kesehatan hari ini. Badan terasa lebih ringan, hati lebih tenang. Nikmat sehat memang sering terasa sederhana, padahal ia adalah salah satu karunia terbesar dari Allah.

Lalu tentang keuangan…

Hari ini mungkin sedang kosong. Tapi anehnya, hatiku tidak lagi seberisik dulu. Aku percaya bahwa Allah Maha Kaya dan tidak pernah salah mengatur rezeki hamba-Nya. Yang tugasku hanyalah berikhtiar, berdoa, dan menjaga hati agar tetap baik sangka kepada-Nya.

Aku kembali mengulang doa yang sering kupeluk dalam diam:

Aghnini bifadlika ‘amman siwak

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”

Dan sungguh, berkali-kali Allah membuktikan bahwa pertolongan-Nya datang dari arah yang tak pernah kusangka.

Hari ini aku hanya ingin bersyukur.

Atas nafas yang masih Allah titipkan.

Atas tangan yang masih bisa menulis.

Atas hati yang masih ingin dekat dengan-Nya.

Atas kesempatan untuk tetap menjadi manfaat, walau sedikit.

Semoga Jumat ini membawa keberkahan untuk kita semua. Semoga Allah melapangkan rezeki yang halal dan baik, menjaga kesehatan, menguatkan iman, dan menerima setiap amal yang kita lakukan hanya karena-Nya. Aamiinn..




Catatan Puasa Daud: Ketika Aku Hanya Ingin Dekat dengan Allah

Banyak orang bertanya kepadaku, mengapa aku menjalankan puasa Daud?

Ada yang berkata, "Kamu puasa terus, tapi kok nggak kurus-kurus?"

Aku biasanya hanya tersenyum lalu menjawab, "Tujuanku puasa bukan untuk kurus. Aku berpuasa karena Allah Ta'ala."

Ada pula yang berkomentar, "Kalau aku jadi kamu juga kuat puasa. Orang cuma rebahan saja."

Kalimat seperti itu kadang membuat hati sedih. Sebab mereka tidak tahu bagaimana hari-hariku berjalan. Mereka hanya melihat tubuh yang terbaring, tetapi tidak melihat aktivitas yang kulakukan dari tempat tidur.

Aku menulis. Aku mengedit video setiap hari sebagai affiliate. Aku mengurus yayasan. Aku harus selalu siap ketika ada tugas yang datang dari dinas. Ada banyak hal yang tetap harus diselesaikan meski kondisi fisik tidak sempurna.

Namun aku belajar satu hal. Tidak semua orang akan mengerti perjuangan kita. Dan tidak semua penjelasan harus diberikan.

Aku memilih diam dan melanjutkan langkahku.

Awalnya, setelah kecelakaan yang mengubah hidupku, aku terbiasa berpuasa hampir setiap hari, kecuali saat ada uzur syar'i. Sampai suatu hari aku mendengar tausiah bahwa puasa sunnah yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud, yaitu sehari puasa dan sehari tidak.

Aku sempat mencoba puasa Senin-Kamis. Namun entah mengapa hati ini masih ingin lebih banyak bersama Allah. Akhirnya aku memilih puasa Daud.

Bukan karena ingin terlihat salehah.

Bukan karena ingin dipuji kuat.

Aku hanya ingin dekat dengan Allah.

Aku ingin setiap hari mengingat-Nya.

Aku ingin hidupku, ibadahku, matiku, semuanya karena-Nya.

Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin.

Seiring waktu, aku mulai merasakan banyak sekali hikmah dari puasa yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Bukan harta berlimpah.

Bukan kemewahan.

Tetapi kemudahan-kemudahan yang datang tepat pada waktunya.

Saat aku dirawat di rumah sakit, pernah terjadi kesalahan administrasi sehingga biaya pengobatan tidak masuk ke jaminan yang seharusnya. Aku baru menyadarinya ketika hendak pulang.

Aku menangis.

Aku tidak tahu harus membayar dari mana.

Namun Allah kembali menunjukkan pertolongan-Nya. Teman-temanku datang pada waktu yang tepat dan membantu melunasi biaya rumah sakit.

Bukan sekali itu saja.

Berkali-kali aku menyaksikan bagaimana Allah membuka jalan ketika jalan itu terlihat buntu.

Mungkin karena itulah aku semakin yakin bahwa tidak ada yang sia-sia dari setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas.

Tahun 2022 aku menandatangani formulir donor mata.

Aku ingin, ketika suatu saat Allah memanggilku, masih ada bagian tubuhku yang bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Karena itulah aku berusaha menjaga mata ini dari hal-hal yang tidak baik. Aku ingin mata ini lebih banyak digunakan untuk membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu, dan melihat hal-hal yang diridhai Allah.

Aku juga berusaha menjaga tubuhku sebaik mungkin. Bahkan jika suatu hari ada yang membutuhkan organ tubuhku dan aku mampu menolongnya, aku ingin bisa menjadi manfaat.

Mungkin hidupku tidak sempurna.

Bantuan dari keluarga pun tidak selalu ada.

Kadang aku juga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kadang harus menggali lubang dan menutup lubang.

Namun aku memilih untuk tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti bersyukur.

Aku lebih suka mengumpulkan alasan untuk tetap tersenyum.

Aku menghindari kebiasaan mengeluh.

Aku menghindari pikiran-pikiran negatif.

Aku memilih berprasangka baik kepada Allah.

Aku memilih memperbanyak doa.

Aku memilih memperbanyak shalawat.

Aku memilih memperbanyak syukur.

Karena aku percaya, hidup akan mengikuti arah hati kita memandangnya.

Jika hari ini ada yang bertanya apa manfaat terbesar dari puasa Daud yang kulakukan selama bertahun-tahun, jawabanku sederhana:

Bukan tubuh yang lebih sehat.

Bukan rezeki yang lebih banyak.

Bukan pula pujian manusia.

Manfaat terbesar yang kurasakan adalah hati yang lebih dekat kepada Allah.

Dan ketika hati sudah dekat kepada-Nya, segala sesuatu terasa lebih ringan untuk dijalani.

Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita semua dalam beribadah.

Semoga setiap lelah yang kita sembunyikan dari manusia menjadi amal yang Allah terima.

Dan semoga ketika hidup terasa berat, kita selalu ingat bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita sangka.

Aamiin.



Hari yang Penuh Isyarat

 Di balik sakit dan listrik padam, ada semangat yang tetap menyala

Hari ini terasa begitu padat, penuh kejadian yang datang bertubi‑tubi. Tubuhku sedang sakit, tapi tetap harus menanggapi pesan dari dinas yang meminta soft file lama, sesuatu yang sudah bertahun‑tahun tersimpan.

Belum selesai urusan itu, listrik mati seharian. Tugas yang harusnya bisa kuselesaikan jadi tertunda, dan di saat yang sama ada kabar dari pengadilan yang membuat hatiku bergetar.

Ketika listrik kembali menyala, aku membuka WhatsApp. Grup LKKS sudah ramai dengan surat undangan untuk Senin besok. Rasanya seperti dunia bergerak cepat, sementara aku masih berusaha menata langkah.

Di tengah semua itu, aku tetap berusaha menulis. Novel untuk kompetisi harus selesai 30 bab dalam 17 hari. Alhamdulillah, sudah 11 bab kutuntaskan. Meski sakit, meski listrik mati, meski pikiran bercabang ke pengadilan dan undangan, aku tetap menulis.

Hari ini mengajarkanku bahwa hidup memang penuh kejutan. Ada sakit, ada tugas, ada listrik padam, ada panggilan pengadilan, ada undangan mendadak. Tapi ada juga semangat yang terus hidup, ada doa yang terus terucap: Allahumma yassir wa laa tu’assir.

Aku belajar menerima bahwa semua ini bagian dari perjalanan. Aku tidak bisa mengendalikan segalanya, tapi aku bisa memilih untuk tetap melangkah, tetap menulis, tetap berharap.

Fa inna ma’al ‘usri yusra. Inna ma’al ‘usri yusra



PERJALANAN DZULHIJJAHKU

Di awal Dzulhijah, tubuhku sempat rapuh,

Namun hati tetap berbisik lirih:

“Ya Allah, sehatkan aku,

Aku ingin puasa penuh sembilan hari.”


Alhamdulillah, Engkau kabulkan,

Langkahku ringan, puasaku terjaga,

Sembilan hari tanpa halangan,

Hanya syukur yang mengalir deras di dada.


Hari Arafah pun tiba,

Air mata jadi saksi keikhlasan,

Doa untuk sahabat, doa untuk keluarga,

Doa untuk jiwa yang mendamba ketentraman.


Idul Adha menyapa dengan takbir agung,

Allahu Akbar menggema di langit dan bumi,

Mengajarkan arti pengorbanan,

Menguatkan hati dalam ridha Ilahi.


BERBUKA DI DZULHIJJAH 9

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melancarkan ibadah puasa dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah tanpa halangan apapun. Hati terasa ringan menjalankannya, meski di awal sempat sakit. Dalam sahur aku berdoa: “Ya Allah, sehatkan aku, aku ingin puasa full 9 hari.” Dan benar, doa itu Engkau kabulkan.

Terima kasih ya Allah atas kesehatan, kekuatan, dan ketentraman hati yang Engkau anugerahkan. Semoga puasa ini menjadi amal yang Engkau terima, dan menjadi jalan menuju ridha-Mu

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Laa ilaaha illallahu wallahu Akbar

Allahu Akbar wa lillahil hamd


Mahkota Eksklusif di KBM

Alhamdulillah… delapan novelku kini eksklusif di KBM, dan profilku pun diberi mahkota. Bukan untuk berbangga diri, tapi sebagai pengingat bahwa setiap langkah kecil yang dijaga dengan ikhlas bisa berbuah pengakuan.

Mahkota ini bukan sekadar simbol, melainkan amanah agar aku terus menulis dengan hati, menjaga keaslian karya, dan menghadirkan cerita yang bisa menjadi cahaya bagi pembaca.

Semoga Allah senantiasa melapangkan hati, melapangkan rezeki, dan menguatkan langkah dalam setiap ikhtiar… 🤲



Kirain jam 4.20, ternyata masih 3.20 😅

Semalam aku tidur lebih awal, sekitar jam 10. Biasanya terbangun di jam 1 atau 2, tapi kali ini aku lihat jam sudah menunjukkan 4.20. Aku pun buru‑buru sahur dengan air putih, pisang, dan obat. Namun hati masih bingung, karena biasanya menjelang subuh terdengar lantunan sholawat dan bacaan Al‑Qur’an dari masjid, tapi kali ini sepi.


Aku buka jadwal imsakiyah, ternyata belum masuk subuh. Lalu aku cek HP, kaget sekali… ternyata baru jam 03.20. Ya Allah, aku salah lihat jam dinding yang tertutup lighting live streaming. Alhamdulillah, masih banyak waktu untuk sahur dan bisa tahajud.


Pagi ini aku belum selesai menulis bab baru, masih berupa kerangka dan coretan. Ada kejadian lain juga: aku beli antena TV indoor, ternyata tidak bisa dipakai. Sudah panggil ahli pemasangan, tapi beliau baik sekali, tidak mau menerima ongkos karena antena tidak jadi dipasang. Disarankan pakai antena luar rumah, insyaAllah nanti kalau ada rezeki.


Hari ini puasa Dzulhijjah berjalan lancar hingga maghrib. Alhamdulillah, setiap kejadian kecil terasa sebagai pelajaran: tentang waktu, tentang syukur, dan tentang kebaikan orang lain.



Cahaya Sedekah di Pagi Hari

Bismillah

Pagi selalu datang membawa pesan syukur. Di setiap langkah kecil berbagi, ada doa yang terbang ke langit, ada senyum yang tumbuh di wajah orang lain. Inilah catatan hati, refleksi sederhana tentang bagaimana Allah melapangkan rezeki lewat tangan yang memberi.

Ya Allah, Sang Maha Pemberi,

cukupkanlah aku dengan kasih-Mu,

lapangkanlah rezeki yang Engkau titipkan,

agar tangan ini tak pernah letih memberi.

Ya Razzaq, Ya Dzul Quwwah,

kuatkan langkah meski kursi roda menuntun,

jadikan setiap sedekah cahaya,

yang membahagiakan hati banyak insan.

Dan kembalikanlah, ya Rabb,

setiap yang keluar dari genggamanku,

dengan lipatan rahmat,

agar aku tetap bisa menjadi jalan kebaikan.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan kasih-Mu,

lapangkanlah rezeki yang Engkau titipkan,

agar aku tetap bisa memberi,

meski pundak ini lelah,

meski langkah ini terbatas.

Jadikanlah setiap sedekah cahaya,

yang menghapus gelap dari hati,

dan mengundang senyum dari banyak wajah.

Aamiinn..

Semoga setiap langkah untuk berbagi menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup kita. Semoga Allah melipatgandakan rezeki, menguatkan hati, dan menjadikan kita perantara kebahagiaan bagi banyak orang. Ya Allah, jadikanlah sedekah ini bukan sekadar pemberian, tetapi jembatan menuju ridha-Mu.



LANGKAH DI JALAN BERKAH

Bismillah

Langkah kecil di jalan sunyi,

menjadi jejak menuju cahaya.

Senyum yatim, doa dermawan,

bertemu di pintu keberkahan 

Aku hanyalah perantara amanah,

namun setiap amplop yang terbuka

adalah doa yang terbang ke langit,

mengetuk rahmat Allah tanpa henti.


"Ya Allah, di hari penuh berkah ini aku bersyukur atas para dermawan yang Engkau gerakkan hatinya untuk berbagi dengan anak-anak yatim.

Aku hanyalah perantara kecil yang menyalurkan amanah, namun setiap senyum mereka adalah cahaya yang menenangkan hati.

Rezeki mungkin datang dari arah yang tak terduga, kadang cukup, kadang kurang, namun Engkau selalu menjaga jalan kebaikan ini.

Selama ada niat tulus untuk menjadi jalan bahagia bagi orang lain, aku percaya Engkau akan menjaga langkah kami.

Kuatkan aku dalam puasa, dalam amanah sosial, dan dalam karya-karya yang kutulis.

Jadikan setiap Jumat sebagai pintu keberkahan, ketenangan, dan kekuatan baru.

Aamiin.