Tampilkan postingan dengan label penulis indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penulis indonesia. Tampilkan semua postingan

COMING SOON... KLI 18 - KBM App

Katanya...

Waktu bisa menyembuhkan segalanya.

Lalu mengapa, setelah bertahun-tahun berlalu, aku masih belum sanggup melupakan lelaki berseragam loreng itu?

Ia datang bukan membawa janji-janji manis.

Ia datang membawa kesungguhan.

Bahkan keberaniannya mengetuk pintu rumahku jauh lebih besar daripada keberanianku memberikan jawaban.

Ada cinta yang tidak kalah karena hadirnya orang ketiga.

Ada cinta yang tidak berakhir karena pengkhianatan.

Melainkan... karena sebuah keraguan yang datang pada waktu yang salah.

DI UJUNG SERAGAM LORENG

Sebuah novel remaja yang terinspirasi dari kisah yang pernah singgah dalam hidup.

Insya Allah... segera hadir.

Siapkan hati, karena mungkin... kamu akan menemukan sepotong kisahmu di dalamnya. 

A Novel by Langit Didada






Ketika Allah Memberi Ide

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah.

Kemarin Allah masih mempertemukanku dengan puasa Asyura.

Hari ini, jadwal Puasa Daud kembali menyapaku.

Maka aku melanjutkan puasa dengan hati yang penuh syukur.

Sahur seadanya.

Sedekah subuh seperti biasa.

Lalu membuka laptop dan melanjutkan rutinitas yang sudah menjadi bagian dari hidupku: menulis.

Pagi ini aku membuka aplikasi KBM

Di halaman utama sudah terpampang banner besar.

KLI 18.

Periode menulis dimulai tanggal 2 Juli hingga 6 Agustus.

Aku tersenyum kecil.

Masih ada beberapa hari untuk mempersiapkan semuanya.

Namun kemudian aku diam.

Aku bertanya dalam hati.

"Ya Allah... kali ini aku harus menulis kisah apa?"

Aku memejamkan mata.

Tidak lama kemudian, sebuah cerita hadir begitu saja.

Bukan cerita orang lain.

Bukan kisah yang harus kucari ke mana-mana.

Tetapi kisahku sendiri.

Tentang masa remaja.

Tentang sekolah.

Tentang mimpi-mimpi yang pernah tumbuh.

Tentang seorang lelaki berseragam TNI yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Aku tersenyum.

Kalau ceritanya berasal dari pengalaman sendiri, membuat kerangka terasa jauh lebih mudah.

Tentu nanti akan kukembangkan dengan sentuhan fiksi agar menjadi sebuah novel yang dapat dinikmati siapa saja

Remaja bisa membaca.

Para ibu bisa menikmati.

Para ayah pun mungkin akan menemukan pelajaran di dalamnya.

Bismillah...

Fokus.

Namun di balik semangat itu, masih ada satu hal yang sesekali singgah di pikiranku.

Kemarin pagi, pemilik rumah yang saat ini disewa yayasan menyampaikan kebutuhan untuk meminjam sejumlah uang, yang nantinya akan dipotong dari pembayaran uang sewa

Beliau memberi waktu dua hari.

Aku hanya bisa menjawab pelan,

"Insyaa Allah."

Padahal di dalam hati, aku tahu keadaan kas yayasan sedang kosong.

Aku pun menyampaikan informasi itu kepada grup pengurus yayasan.

Aku berharap akan ada ide.

Atau mungkin sekadar kalimat penyemangat.

Namun grup itu tetap sunyi.

Tidak ada balasan.

Tidak ada usulan.

Bahkan ketua yayasan pun belum memberikan tanggapan.

Sejenak aku kembali menarik napas.

Lalu doa itu kembali terucap pelan.

Aghnini bi fadlika amman siwak.

Ya Allah...

Cukupkan aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Karena jika akhirnya harus mencari jalan keluar, kemungkinan besar aku juga yang akan mengusahakannya

Padahal kebutuhaku sendiri masih banyak.

Namun aku belajar, tidak semua beban harus dipikul dengan rasa panik.

Ada yang cukup dipikul dengan doa.

Ada yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan semampunya.

Bukankah beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali menunjukkan bahwa pertolongan-Nya selalu datang dengan cara yang tidak pernah kusangka?

Maka hari ini aku kembali memilih untuk percaya.

Tetap berusaha.

Tetap menulis.

Tetap berdoa.

Dan tetap menjaga hati agar tidak kehilangan harapan.

Karena aku percaya...

Allah yang memberikan sebuah ide untuk sebuah novel, juga mampu memberikan jalan keluar untuk setiap persoalan hidup

.

SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

Aghnini bi fadlika amman siwak.



LangitDiDada


 

H-2 KLI 17 📖


Ada langkah yang sudah sampai di titik cukup,

tapi jiwa memilih untuk melampaui.
Bab minimal telah terlewati,
dan kini pena kembali bergerak
menyusuri bab-bab yang belum bernama.
Semangat, jangan padam.

Catatan Puasa Daud: Ketika Aku Hanya Ingin Dekat dengan Allah

Banyak orang bertanya kepadaku, mengapa aku menjalankan puasa Daud?

Ada yang berkata, "Kamu puasa terus, tapi kok nggak kurus-kurus?"

Aku biasanya hanya tersenyum lalu menjawab, "Tujuanku puasa bukan untuk kurus. Aku berpuasa karena Allah Ta'ala."

Ada pula yang berkomentar, "Kalau aku jadi kamu juga kuat puasa. Orang cuma rebahan saja."

Kalimat seperti itu kadang membuat hati sedih. Sebab mereka tidak tahu bagaimana hari-hariku berjalan. Mereka hanya melihat tubuh yang terbaring, tetapi tidak melihat aktivitas yang kulakukan dari tempat tidur.

Aku menulis. Aku mengedit video setiap hari sebagai affiliate. Aku mengurus yayasan. Aku harus selalu siap ketika ada tugas yang datang dari dinas. Ada banyak hal yang tetap harus diselesaikan meski kondisi fisik tidak sempurna.

Namun aku belajar satu hal. Tidak semua orang akan mengerti perjuangan kita. Dan tidak semua penjelasan harus diberikan.

Aku memilih diam dan melanjutkan langkahku.

Awalnya, setelah kecelakaan yang mengubah hidupku, aku terbiasa berpuasa hampir setiap hari, kecuali saat ada uzur syar'i. Sampai suatu hari aku mendengar tausiah bahwa puasa sunnah yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud, yaitu sehari puasa dan sehari tidak.

Aku sempat mencoba puasa Senin-Kamis. Namun entah mengapa hati ini masih ingin lebih banyak bersama Allah. Akhirnya aku memilih puasa Daud.

Bukan karena ingin terlihat salehah.

Bukan karena ingin dipuji kuat.

Aku hanya ingin dekat dengan Allah.

Aku ingin setiap hari mengingat-Nya.

Aku ingin hidupku, ibadahku, matiku, semuanya karena-Nya.

Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin.

Seiring waktu, aku mulai merasakan banyak sekali hikmah dari puasa yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Bukan harta berlimpah.

Bukan kemewahan.

Tetapi kemudahan-kemudahan yang datang tepat pada waktunya.

Saat aku dirawat di rumah sakit, pernah terjadi kesalahan administrasi sehingga biaya pengobatan tidak masuk ke jaminan yang seharusnya. Aku baru menyadarinya ketika hendak pulang.

Aku menangis.

Aku tidak tahu harus membayar dari mana.

Namun Allah kembali menunjukkan pertolongan-Nya. Teman-temanku datang pada waktu yang tepat dan membantu melunasi biaya rumah sakit.

Bukan sekali itu saja.

Berkali-kali aku menyaksikan bagaimana Allah membuka jalan ketika jalan itu terlihat buntu.

Mungkin karena itulah aku semakin yakin bahwa tidak ada yang sia-sia dari setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas.

Tahun 2022 aku menandatangani formulir donor mata.

Aku ingin, ketika suatu saat Allah memanggilku, masih ada bagian tubuhku yang bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Karena itulah aku berusaha menjaga mata ini dari hal-hal yang tidak baik. Aku ingin mata ini lebih banyak digunakan untuk membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu, dan melihat hal-hal yang diridhai Allah.

Aku juga berusaha menjaga tubuhku sebaik mungkin. Bahkan jika suatu hari ada yang membutuhkan organ tubuhku dan aku mampu menolongnya, aku ingin bisa menjadi manfaat.

Mungkin hidupku tidak sempurna.

Bantuan dari keluarga pun tidak selalu ada.

Kadang aku juga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kadang harus menggali lubang dan menutup lubang.

Namun aku memilih untuk tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti bersyukur.

Aku lebih suka mengumpulkan alasan untuk tetap tersenyum.

Aku menghindari kebiasaan mengeluh.

Aku menghindari pikiran-pikiran negatif.

Aku memilih berprasangka baik kepada Allah.

Aku memilih memperbanyak doa.

Aku memilih memperbanyak shalawat.

Aku memilih memperbanyak syukur.

Karena aku percaya, hidup akan mengikuti arah hati kita memandangnya.

Jika hari ini ada yang bertanya apa manfaat terbesar dari puasa Daud yang kulakukan selama bertahun-tahun, jawabanku sederhana:

Bukan tubuh yang lebih sehat.

Bukan rezeki yang lebih banyak.

Bukan pula pujian manusia.

Manfaat terbesar yang kurasakan adalah hati yang lebih dekat kepada Allah.

Dan ketika hati sudah dekat kepada-Nya, segala sesuatu terasa lebih ringan untuk dijalani.

Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita semua dalam beribadah.

Semoga setiap lelah yang kita sembunyikan dari manusia menjadi amal yang Allah terima.

Dan semoga ketika hidup terasa berat, kita selalu ingat bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita sangka.

Aamiin.