Banyak orang bertanya kepadaku, mengapa aku menjalankan puasa Daud?
Ada yang berkata, "Kamu puasa terus, tapi kok nggak kurus-kurus?"
Aku biasanya hanya tersenyum lalu menjawab, "Tujuanku puasa bukan untuk kurus. Aku berpuasa karena Allah Ta'ala."
Ada pula yang berkomentar, "Kalau aku jadi kamu juga kuat puasa. Orang cuma rebahan saja."
Kalimat seperti itu kadang membuat hati sedih. Sebab mereka tidak tahu bagaimana hari-hariku berjalan. Mereka hanya melihat tubuh yang terbaring, tetapi tidak melihat aktivitas yang kulakukan dari tempat tidur.
Aku menulis. Aku mengedit video setiap hari sebagai affiliate. Aku mengurus yayasan. Aku harus selalu siap ketika ada tugas yang datang dari dinas. Ada banyak hal yang tetap harus diselesaikan meski kondisi fisik tidak sempurna.
Namun aku belajar satu hal. Tidak semua orang akan mengerti perjuangan kita. Dan tidak semua penjelasan harus diberikan.
Aku memilih diam dan melanjutkan langkahku.
Awalnya, setelah kecelakaan yang mengubah hidupku, aku terbiasa berpuasa hampir setiap hari, kecuali saat ada uzur syar'i. Sampai suatu hari aku mendengar tausiah bahwa puasa sunnah yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud, yaitu sehari puasa dan sehari tidak.
Aku sempat mencoba puasa Senin-Kamis. Namun entah mengapa hati ini masih ingin lebih banyak bersama Allah. Akhirnya aku memilih puasa Daud.
Bukan karena ingin terlihat salehah.
Bukan karena ingin dipuji kuat.
Aku hanya ingin dekat dengan Allah.
Aku ingin setiap hari mengingat-Nya.
Aku ingin hidupku, ibadahku, matiku, semuanya karena-Nya.
Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin.
Seiring waktu, aku mulai merasakan banyak sekali hikmah dari puasa yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.
Bukan harta berlimpah.
Bukan kemewahan.
Tetapi kemudahan-kemudahan yang datang tepat pada waktunya.
Saat aku dirawat di rumah sakit, pernah terjadi kesalahan administrasi sehingga biaya pengobatan tidak masuk ke jaminan yang seharusnya. Aku baru menyadarinya ketika hendak pulang.
Aku menangis.
Aku tidak tahu harus membayar dari mana.
Namun Allah kembali menunjukkan pertolongan-Nya. Teman-temanku datang pada waktu yang tepat dan membantu melunasi biaya rumah sakit.
Bukan sekali itu saja.
Berkali-kali aku menyaksikan bagaimana Allah membuka jalan ketika jalan itu terlihat buntu.
Mungkin karena itulah aku semakin yakin bahwa tidak ada yang sia-sia dari setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas.
Tahun 2022 aku menandatangani formulir donor mata.
Aku ingin, ketika suatu saat Allah memanggilku, masih ada bagian tubuhku yang bisa memberi manfaat bagi orang lain.
Karena itulah aku berusaha menjaga mata ini dari hal-hal yang tidak baik. Aku ingin mata ini lebih banyak digunakan untuk membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu, dan melihat hal-hal yang diridhai Allah.
Aku juga berusaha menjaga tubuhku sebaik mungkin. Bahkan jika suatu hari ada yang membutuhkan organ tubuhku dan aku mampu menolongnya, aku ingin bisa menjadi manfaat.
Mungkin hidupku tidak sempurna.
Bantuan dari keluarga pun tidak selalu ada.
Kadang aku juga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kadang harus menggali lubang dan menutup lubang.
Namun aku memilih untuk tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti bersyukur.
Aku lebih suka mengumpulkan alasan untuk tetap tersenyum.
Aku menghindari kebiasaan mengeluh.
Aku menghindari pikiran-pikiran negatif.
Aku memilih berprasangka baik kepada Allah.
Aku memilih memperbanyak doa.
Aku memilih memperbanyak shalawat.
Aku memilih memperbanyak syukur.
Karena aku percaya, hidup akan mengikuti arah hati kita memandangnya.
Jika hari ini ada yang bertanya apa manfaat terbesar dari puasa Daud yang kulakukan selama bertahun-tahun, jawabanku sederhana:
Bukan tubuh yang lebih sehat.
Bukan rezeki yang lebih banyak.
Bukan pula pujian manusia.
Manfaat terbesar yang kurasakan adalah hati yang lebih dekat kepada Allah.
Dan ketika hati sudah dekat kepada-Nya, segala sesuatu terasa lebih ringan untuk dijalani.
Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita semua dalam beribadah.
Semoga setiap lelah yang kita sembunyikan dari manusia menjadi amal yang Allah terima.
Dan semoga ketika hidup terasa berat, kita selalu ingat bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita sangka.
Aamiin.
