Peluk sebentar boleh,


 

Karena dunia terasa sunyi dan berat belakangan ini.  

Aku tak minta kau ubah langit,  

hanya jadi pelangi kecil di hujan pikiranku.


Kita diam bersama, tak perlu kata,  

biar detik pelan-pelan menyembuhkan luka.  

Dalam pelukmu, aku bukan sekadar tubuh yang lelah,  

tapi jiwa yang ingin percaya bahwa esok bisa cerah.


Dan kalau pun harus hujan lagi,  

biarlah kita basah bersama, bukan sendiri

Langkah Kecil di Jalan Sunyi

Tak banyak yang tahu,

Tentang langkah-langkahku yang pelan,

Melewati lorong waktu dengan dada penuh harap,

Bukan untuk dilihat,

Tapi agar tak ada yang tertinggal di belakang.


Tak selalu kuat,

Namun tak pernah ingin menyerah.

Bukan karena aku hebat,

Tapi karena ada yang lebih lemah yang harus tetap kuat.


Bukan tentang siapa aku,

Tapi tentang siapa yang bisa terbantu lewat aku.

Bukan tentang apa yang aku punya,

Tapi apa yang bisa aku bagi, meski hanya setitik cahaya.


Aku tak butuh sorot lampu,

Biarlah Allah yang tahu.

Jika langkahku kecil,

Semoga tetap berarti di hadapan-Nya yang Maha Tahu.


TESTIMONI




Tahun demi tahun menulis, bukan karena ingin terkenal…

tapi karena aku ingin berbagi. Tentang hidup, luka, harapan, dan keteguhan.

Sejak 2021, tulisanku telah terbit dalam berbagai antologi.

Namun tetap, setiap kali karyaku lolos seleksi dan akan dibukukan,

rasanya masih seperti pertama kali: haru dan penuh syukur.

Terimakasih Ya Alloh…

dan terimakasih untuk orang-orang baik yang diam-diam mendoakan dan menyemangati.

Semoga setiap baitku bisa jadi cahaya.

Sekecil apapun, semoga cukup untuk menghangatkan hati yang membacanya.

HBD SANG EXPLORE


 Di batas senja, usia bertambah,

bukan sekadar angka… tapi jejak penuh makna.

Ada tawa, ada air mata,

ada cerita yang tak semua orang bisa baca.


Cak Bolang, Sang Explore 

engkau bukan sekadar penjelajah jalan,

tapi penjelajah hati banyak orang.

Dengan langkah yang ringan,

engkau hadir membawa terang.

Setiap candamu menghapus duka,

setiap aksi gilamu menyemai suka.

Tapi di balik tawa itu,

ada niat tulus yang tak pernah kamu pamerkan.


Hari ini, semesta turut mengucap:

“Barakallahu fii umrik, wahai penebar bahagia.”

Semoga Allah jaga langkahmu,

panjangkan umurmu dalam taat,

dan lapangkan hatimu untuk terus menguatkan sesama.


Selamat milad,

tetaplah jadi kamu yang tak tergantikan.

Kami di sini, bangga pernah mengenalmu

sebagai sahabat... sekaligus pahlawan untuk anak2 yatim piatu

yang senantiasa menunggu genggaman tanganmu.




NASKAH POEBLIZER

Naskah ini kutulis dengan air mata dan cinta.

Kukirim bukan untuk dipuji, tapi agar semakin banyak yang tahu: perjuangan itu nyata, dan layak dibaca


"Yang Dikhianati Tak Pernah Benar-Benar Kalah"

Pernah ku jatuh dalam luka,

Dikhianati tanpa sedikit pun curiga.
Aku menangis, bukan karena lemah,
Tapi karena percaya yang salah.

Aku tak melawan, hanya diam.
Kutitipkan pedih pada Tuhan yang paham.

Lalu waktu berjalan...

Mereka yang menyakiti kini runtuh,
Saling menyakiti, saling menghancurkan.

Sementara aku?
Bangkit.
Berkembang.
Dan dicintai oleh seseorang yang tak perlu ku minta untuk setia.

Dulu aku dianggap biasa,
Kini aku jadi perempuan luar biasa.

Tak perlu balas dengan dendam,
Cukup buktikan...

Yang sabar selalu menang di akhir kisah.


LM B12 VOL.2

Aku baru saja mengirimkan sebuah kisah...

Tentang cinta, luka, dan keputusan yang menggantung di ujung keikhlasan.
Sebuah cerpen yang kutulis dengan jujur dan penuh rasa—untuk mewakili banyak hati yang pernah ada di posisi yang sama:
“Ceraikan istrimu dulu…”
Kalimat yang mengguncang logika, tapi lahir dari kejujuran paling dalam.

Karya ini sudah kukirim untuk event LM B12 VOL 2 oleh @halopenulis
Mohon doanya yaa semoga hasilnya terbaik 🤍

📖 Lalu, kisah apa lagi yang akan kutulis selanjutnya...?
Tunggu yaa… mungkin kisahmu akan menjadi bagian dari tulisanku berikutnya. 😌🖋️



DIAM ITU......

Diam itu...bukan karena kita lemah...  

Tapi karena kita yakin, Gusti Allah mboten sare.  

Maka kita diam, lalu doakan.  

Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minaz zhaalimin.  

Ya Allah, ya Jabbar, peneguh hati yang rapuh.




CERPEN TERBARUKU

Ceraikan istrimu dulu!"

Kalimat itu terus terngiang di telinga Tiara…

Saat tahu dia bukan satu-satunya, dan hanya jadi batu loncatan demi cinta laki-laki pengecut kepada perempuan lain.

Tapi hidup belum selesai…

Dan Allah belum selesai membalas segalanya.

📌 Cerpen based on true story — coming soon!

🩶 Judul: Ceraikan Istrimu Dulu!

💌 Siapa yang lagi di posisi Tiara?

Stay tune…


MEMILIKI PASANGAN PENULIS ITU...

“Menjadi pasangan seorang penulis… bukan tentang mengerti semua kata-kata yang ia tuangkan,

tapi tentang menerima jeda di tengah cerita,

memeluknya saat ia ragu pada alur hidupnya sendiri,

dan tetap hadir ketika mood-nya menari seperti plot tak terduga.”


“Sebab cinta itu bukan hanya tentang jadi tokoh utama…

kadang kita harus rela jadi penonton yang sabar,

menyaksikan prosesnya menemukan akhir yang layak untuk dirayakan.”








LUKA

Ada luka yang tak terlihat,tapi menetap dalam diam.

Bukan karena siapa yang menyakiti,
tapi karena siapa yang pernah membuat kita percaya...
lalu pergi,
meninggalkan ruang hampa yang tak bisa diisi lagi.

Aku pernah ada di sana
di batas antara menerima dan menyangkal,
antara memaafkan atau memudar perlahan
dari kehidupan orang yang dulu kucintai sepenuh jiwa.

Tapi luka bukan akhir dari cerita.
Ia bagian dari perjalanan...
yang membentuk aku hari berikutnya


LOMBA CIPTA PUISI 2025

 Kukira hanya menulis rasa, ternyata bisa ikut serta...

Bismillah, sudah terkirim puisinya ✍️

Langkah kecil dari Alas Roban, menuju semesta kata


Terima kasih, diriku…

Terima kasih, diriku…

untuk malam-malam panjang yang kamu lalui sendiri,
untuk doa-doa yang tak terdengar,
untuk tangis yang tak pernah kamu tunjukkan.
Aku bangga padamu…
karena sejauh ini, kamu tidak hilang—
kamu tetap memilih bertahan.



"Dalam Diamku"

Dalam diamku ada ribuan kata

Yang tak sempat kutuliskan pada semesta

Tapi Allah tahu segalanya

Tentang luka, tentang doa yang kusembunyikan di balik senyuman biasa


Wajah ini mungkin tampak tenang

Tapi hati? Pernah karam berkali-kali dan tetap memilih pulang

Pulang pada harap, pada cinta yang tak menuntut balasan

Pada perjuangan yang tak semua orang mengerti jalan


Aku tak butuh tepuk tangan

Tak perlu dipahami oleh setiap insan

Cukuplah Allah tahu apa yang kuperjuangkan

Dan aku tetap di sini… melangkah dalam iman


Untuk kamu, yang ada di cermin…

aku tahu lelahmu,

aku tahu luka yang kamu simpan diam-diam.

Tapi lihatlah,

kamu tetap di sini
masih berdiri, masih berjuang.
Terima kasih, ya.

Untuk Diriku yang Masih Bertahan

Terima kasih, diriku…

Untuk pagi-pagi yang kamu Jalani meski semalam kamu menangis.

Untuk tetap tersenyum di depan banyak orang,

Padahal hatimu sedang remuk di dalam diam.


Terima kasih,

Sudah memilih sabar,

Padahal kamu punya banyak Alasan untuk menyerah.

Sudah memilih diam,

Padahal kamu ingin sekali didengar.


Aku tahu, kamu pernah lelah.

Pernah merasa sendiri.

Pernah merasa tidak ada yang paham.

Tapi kamu tetap melangkah.

Tidak sempurna, tapi sungguh luar biasa.


Diriku yang tercinta…

Maaf jika selama ini aku terlalu keras padamu,

Menuntutmu untuk kuat terus,

Padahal kamu juga butuh pelukan,

butuh jeda, butuh istirahat.


Hari ini,

Aku ingin bilang:

Kamu hebat.

Bukan karena kamu tak pernah jatuh,

Tapi karena kamu selalu mau bangkit, meski berkali-kali roboh.



Terima kasih…

Sudah bertahan sejauh ini.

Insyaa Allah, pelan-pelan… Semua akan terbayar.

Bukan hanya di dunia, tapi juga di sisi-Nya.


Peluk untuk diri sendiri,

Karena tidak ada yang lebih Tahu perjuanganmu, selain Allah dan dirimu sendiri.

Untuk Mbak Endah, dengan hati yang tulus


Aku pernah merasa dunia terlalu sunyi,
saat langkah-langkahku berat dan sendiri,
lalu Allah kirimkan dirimu,
sebagai bukti bahwa kebaikan itu nyata,
dan kasih sayang bisa hadir tanpa diminta.

Mbak Endah...
entah dari mana harus kumulai mengucap terima kasih,
karena bahkan rasa syukurku pun tak cukup untuk membalas
apa yang telah Mbak berikan dalam diam,
dengan tulus, tanpa pernah meminta kembali.

Doaku hari ini dan seterusnya,
semoga Allah selalu menyelimutimu dengan rahmat,
menjagamu dalam sebaik-baik penjagaan,
dan menumbuhkan kebahagiaan yang tak pernah layu
di setiap musim hidupmu.

Barakallahu fii umrik, Mbak Endah…
Semoga setiap langkahmu dilapangkan,
dan setiap niat baikmu diganjar surga tanpa hisab.

Dari aku,
yang menulis ini sambil menangis,
karena terlalu banyak kebaikanmu yang tinggal di hatiku.

SELAMAT DATANG SAFAR

Muharram telah berlalu,  

Meninggalkan jejak doa yang belum selesai kusebut.  

Langkahku masih basah oleh airmata rindu,  

Namun Safar mengetuk dengan tenang:  

“Sudah waktunya berjalan lagi.”


Ya Allah,  

Di bulan ini, tidak kupinta kemudahan tanpa hikmah,  

Hanya hati yang sabar,  

Jiwa yang tabah,  

Dan jalan pulang yang Engkau redai.


Safar,  

Kau bukan sekadar bulan sunyi,  

Kau ruang kosong tempat aku belajar percaya.  

Bahwa luka pun bisa jadi rahmat,  

Dan diam pun bisa jadi syukur.


Selamat datang, Safar.  

Ijinkan aku menjadi hamba  

Yang tak sekadar melangkah,  

Tapi kembali.


Cerpen terbaruku

Cerpen terbaruku sudah selesai…

Satu kisah nyata, kubungkus dalam fiksi.

Tapi… tak ada yang tahu siapa tokohnya.


📌 Next, kisah siapa lagi yang akan kuangkat?

Ada banyak cerita yang mengendap.

Tinggal menunggu waktu untuk kutulis.


Diam – Cermati – Eksekusi

Jangan-jangan… giliran kamu yang jadi tokoh berikutnya. 😌✍️



AKU HARI INI

Aku hari ini,

Memeluk pena dengan hati yang penuh,

Menulis kisah di sela tugas dan waktu,

Menyusun huruf demi huruf

di antara panggilan sosial dan kewajiban hidup.


Ada tanggung jawab yang mengetuk,

Ada jiwa yang harus dilayani,

Dan ada diriku sendiri

Yang masih ingin tumbuh,

masih ingin berarti.


Aku hari ini,

Menyeka lelah dengan senyum yang tak selalu terlihat,

Berjualan meski tubuh ingin rebah,

Menjawab satu per satu kebutuhan

Yang tak pernah menunggu esok.


Tapi aku tetap melangkah.

Bukan karena kuat,

Melainkan karena cinta

Dan rasa ingin terus berguna.


Aku hari ini

Bukan sempurna,

Tapi selalu mencoba

Jadi versi terbaik

Meski hari kadang berat terasa.


PENULIS ITU....

Ada jiwa yang tak bisa diam.  

Setiap detik jadi cerita, setiap rasa jadi aksara.  


Kadang aku menulis tentangka

Saat dunia terasa sempit dan kata jadi pelarian.  

Kadang tentangmu, atau mereka 


Puisi, cerpen, fragmen.  

Semua berujung sama:  

Cara tubuhku merawat luka  

Dan hati belajar memaafkan.


Karena bagi seorang penulis,  

Hidup bukan sekadar dijalani

Ia harus dituliskan.


CERITA DIBALIK KAMERA

Di balik tawa yang terekam lensa,

Ada rindu yang tak sempat dieja.

Langkah kaki menyusuri sunyi,

Bukan untuk diri, tapi untuk mereka yang dicintai.


Kamera menyala, senyum dipasang,

Padahal hati nyaris tumbang,

Bukan tak ingin pulang lebih cepat,

Tapi hidup menuntut tetap kuat.


Suara anak hanya lewat layar,

Diputar berkali agar hati tetap sabar.

Malam datang, badan lelah,

Tapi wajah mereka tetap jadi arah.


Aku bukan pahlawan bersayap cahaya,

Hanya ayah yang terus mencoba.

Menukar waktu demi secercah harapan,

Agar esok, mereka punya masa depan.


Jika ada yang bertanya tentang bahagia,

Tak perlu banyak kata.

Cukup lihat tawa anak-anak saat ku pulang,

Itulah akhir dari semua perjuangan panjang.


AKU CEMBURU

Aku cemburu,

Ketika tak sengaja membaca

Jejak yang pernah ramai di dunia maya

Walau kini, semuanya sudah redup dan tak ada rasa


Aku diam tak berkata,

Tentang gemuruh kecil yang singgah di dada

Seperti biasa,

Menyimpannya hingga kapanpun jua


Aku cemburu,

Pada komentar lama yang terbaca,

Pada tawa digital yang tersisa,

Meski kini tak lagi ada alasan untuk marah.


Bukan karena tak percaya,

Tapi karena pernah terluka,

Dan rasa itu kadang membisik di saat tak terduga.


Dan aku di sini,

Mendengar, mengerti,

Menampung tanpa bertanya,

Karena cinta yang kuat,

Ditempa oleh kesabaran yang teramat sangat

dan kini ia tumbuh

Untuk berjalan bersama hingga kelah ke surgaNya



MENELUSURI GELAPNYA ALAS ROBAN



Malam turun tanpa suara,

aku dan langkah kecilku menelusuri sunyi semesta.

Di antara kabut, hening, dan bisik dedaunan,

Alas Roban bercerita—dengan caranya yang diam.


Tak hanya gelap yang kami lawan,

tapi juga ragu, dan bayang-bayang dalam pikiran.

Namun niat baik menuntun jalan,

dan cahaya hati jadi penerang di belantara kehidupan.


Bukan uji nyali, ini bagian dari langkah cinta,

untuk sebuah harapan, untuk secercah bahagia.

Malam ini, aku menyapa hutan dengan doa,

semoga setiap langkahku diridhoi-Nya.


LAPTOP YANG TANGGUH

Aku punya sahabat, bukan mesin biasa  

keyboard-nya sudah tak lentur,  

layarnya menyala dengan azam,  

walau kadang error jadi bahasa cinta


Dulu pinjaman, kini jadi mitra  

tak perlu dikembalikan—karena mungkin tahu,  

aku butuh teman yang bisa bertahan,  

lebih lama dari mood tulisanku


Ia tak pernah protes,  

meski CV, proposal, dan puisi  

menumpuk bagai harapan yang belum cair  

Dan aku pun tak mematikannya…  

bukan karena lupa,  

tapi karena tahu:  

jika ia mati, aku yang ikut diam 


DUA TAHUN CAA

 Dua Tahun CAA 

(aku tulis sebagai ucapan Milad Ke-2 untuk Creator Abal-Abal)


Dua tahun berjalan, tak sekadar waktu berlalu,

Langkah kaki CAA menembus semesta tanpa ragu

Membawa harap, membangun rumah cinta,

Untuk yatim piatu yang menanti pelita.


Bukan hanya tangan, tapi hati yang bekerja,

Bukan hanya kamera, tapi nurani yang bicara.

Dari tayangan yang sederhana,

Lahir amal jariyah yang luar biasa.


Keringat kalian adalah doa yang hidup,

Tawa kalian menjadi peneduh tiap peluk,

Setiap batu yang terangkat—menjadi saksi,

Bahwa perjuangan ini bukan “konten” semata, tapi bakti.


Selamat ulang tahun Tim CAA tersayang,

Semoga tetap kompak, istiqomah, dan penuh semangat juang.

Kita doakan: setiap langkah kalian,

Menjadi sebab turunnya keberkahan dari Tuhan.


Aamiin ya Mujibassailiin...






Aku Masih Melangkah

Aku tidak punya sayap,

tapi aku punya harapan.

Aku tak bisa berlari,

tapi aku tak pernah berhenti berjalan.


Meski langit kadang gelap,

aku percaya fajar selalu datang.

Meski dunia tak selalu ramah,

aku percaya Allah selalu mendekap.


Aku mungkin terjatuh,

tapi aku tak akan tinggal di bawah.

Aku menangis,

tapi aku tak pernah menyerah.


Karena aku tahu,

setiap sabar akan diganti tawa,

setiap luka akan berubah doa,

dan setiap langkahku…

pasti mengarah ke surga.


TEMPATKU BERSANDAR

Tak perlu janji manis,  

bahumu sudah cukup jadi alasan  

kenapa aku bertahan dalam sepi,  

meski dunia tak selalu ramah  


Saat kau pegang setir,  

aku bersandar di bahu yang tak goyah oleh hujan  

dan tanganmu yang menjaga kepalaku,  

seolah bilang: “di sini, cintamu aman”


Kita tak butuh ribuan pesan,  

satu pelukan diam di tengah laju  

sudah jadi pengingat,  

bahwa cinta itu bukan ramai, tapi dalam


Doaku sederhana…  

semoga bahu ini tetap jadi tempat pulang,  

meski waktu dan jarak  

kadang mengetuk kesabaran kita.


KAMU

Satu yang Ditakdirkan

Di bawah langit yang tak lelah menyimpan rahasia,

Ada satu nama yang kusebut pelan dalam setiap sujudku.

Bukan karena sempurna,

Tapi karena ia menuntunku mendekat kepada-Nya.


Bukan hanya aku yang mencintai,

Tapi doa-doa pun ikut jatuh hati padamu.

Kau bukan sekadar teman hidup,

Kau adalah harapan untuk hidup setelah hidup.


Aku mencintaimu dengan ridha, bukan ragu.

Dengan sabar, bukan sekadar senang.

Dengan yakin, bahwa cinta ini bukan milikku,

Tapi titipan yang akan kukembalikan pada surga-Nya.


Jika waktu menua dan kulit kita berubah,

Biar cinta tetap muda dalam amal dan taqwa.

Satu, karena dua akan terlalu ramai,

dan kamu sudah menjadi arah yang paling tenang


Rumah di Desa-Tengah Alas Roban

Rumah di Desa-Tengah Alas Roban

(aku tulis untuk Tim CAA dan para Hamba Alloh)


Di tengah heningnya Alas Roban,

tempat di mana sinyal kerap menghilang,

listrik padam tak beraturan,

jalanan menanjak tak kenal ampun,

kalian datang…

membawa hati seluas lautan.


Rumah itu dulu cuma tanah…

sunyi, tak bertuan,

tempat bocah yatim piatu menunduk tanpa harapan.


Lalu kalian hadir,

dengan tangan-tangan yang tak segan kotor,

dengan keringat yang tak pernah dihitung,

dengan senyum yang selalu merekah

meski raga letih,

meski semua serba susah.


Dua puluh lima hari 

bukan waktu yang pendek.

Tapi kalian tak pernah singkat dalam keikhlasan.

Bersama herbel, semen dan kayu,

kalian tancapkan cinta,

kalian sematkan doa,

di setiap sudut rumah itu.


Kini rumah itu telah berdiri,

kokoh, rapi, bersih, penuh arti.

Tempat adik Ririn memulai hidup baru,

di bawah atap yang dibangun oleh cinta kalian,

oleh doa para dermawan,

oleh kasih dari hamba-hamba Allah

yang tak ingin namanya disebutkan

tapi amalnya mengalir tanpa henti.


Terima kasih…

takkan pernah cukup satu kata itu,

tapi biarlah semesta yang mencatat

betapa luhur niat dan langkah kalian.


Kebaikan ini bukan hanya membangun rumah,

tapi juga membangun harapan.

Semoga Alloh membalas semuanya

dengan rumah yang lebih indah di surga kelak.

Aamiin Ya Mujibassailin


Batang, 9 Juli 2025

Ana


Tak Harus Sendiri

Ada hari-hari di mana aku memilih diam,  

bukan karena kalah,  

tapi karena sedang menata ulang semangatku.


Aku mundur selangkah,  

bukan untuk menyerah,  

melainkan mengatur napas  

agar langkah selanjutnya lebih mantap.


Di balik sunyi,  

ada percakapan dengan diri sendiri—  

tentang impian yang belum padam,  

dan harapan yang terus tumbuh diam-diam.


Aku tidak menghindar,  

aku sedang memeluk diriku sendiri,  

mengisi ruang kosong dengan keberanian baru.


Karena mencintai hidup,  

kadang artinya memberi jeda sejenak—  

bukan untuk berhenti,  

tapi untuk kembali melangkah  

dengan hati yang lebih teguh  

dan cahaya yang lebih terang.


JEJAK KEBAIKAN

Datang kalian tanpa janji,

membawa harap di tengah sunyi,

di desa kecil yang terpencil,

kalian bangunkan rumah dari kejernihan hati


Bukan karena nama, bukan demi pujian,

tapi karena cinta yang kalian tanamkan.

Langkah kalian penuh arti,

menjadi cahaya bagi yang selama ini sendiri.


Keringat kalian adalah doa,

jerih payah kalian adalah berkah,

dan senyum anak yatim piatu itu,

adalah bukti: perjuangan kalian tak pernah sia-sia.


Terima kasih wahai pahlawan tanpa tanda jasa,

terima kasih wahai Tim CAA luar biasa.

Semoga setiap langkah dibalas surga,

dan misi kalian terus diberkahi-Nya.


Jejak kalian di tanah ini, abadi di hati kami.


Batang, 08Juli 2025

Ana CAA Lovers


TERIMAKASIH CAA

Malam terakhir bersama para pejuang kebaikan 🤍

Terima kasih Tim CAA atas dedikasi, kerja keras, dan ketulusan hatinya.

Di desa kecil ini, kalian tinggalkan jejak besar yang tak akan pernah terlupa.

Satu rumah telah berdiri, satu hati telah terobati.

Bismillah… semoga setiap langkah kalian selalu dilimpahi keberkahan.

Sampai jumpa di misi-misi berikutnya 💪🏼❤️


TERIMAKASIH, KAMU

Terima Kasih, Kamu

Terima kasih, kamu, yang tahu caraku bernapas

di antara debur ombak dan pasir halus yang memeluk langkah.

Sampai dua pantai kita datangi, demi satu yang aku suka,

karena yang pertama hanya singgah, yang kedua jadi rumah.


Terima kasih, kamu, yang meluangkan waktumu

di tengah riuhnya dunia,

menemani dari pagi sampai senja

tanpa hitung-hitungan,

tanpa jeda.


Terima kasih, kamu, yang bilang “iya”

meski arahku kadang muter, kadang nyasar,

dan kita tetap ketawa

karena jalan salah bisa jadi cerita.


Terima kasih, kamu, yang sabar diam-diam

di tengah ributnya aku yang tak tahu diam,

mengikuti alur pikirku yang loncat sana-sini

dan tetap dengar, walau kadang isinya cuma receh dan nyeleneh.


Terima kasih, kamu,

karena hadirmu

adalah tempat tenang yang kutemukan tanpa harus mencari.


Peluklah Diri Sendiri (untuk segala hal yang membuatmu lelah)

Peluklah diri sendiri,  

seperti langit memeluk senja dalam tenang.  

Untuk setiap letih yang tak terucap,  

Allah tahu—dan itu cukup.


Peluklah diri sendiri,  

karena hatimu telah berjalan jauh,  

melewati badai yang tak semua orang lihat.  

Dan dalam setiap langkah tersembunyi,  

ada malaikat yang mencatat sabarmu.


Peluklah diri sendiri,  

bukan karena kau lemah,  

tapi karena kau telah kuat terlalu lama.  

Istirahatlah dalam dzikir,  

biarkan namanya menjadi pelipur lelahmu.


Peluklah diri sendiri,  

sebab Rabb-mu tak pernah jauh.  

Dalam sujud yang lirih,  

dalam doa yang nyaris tak bersuara,  

Dia mendengar segalanya.




"Lelah yang Tak Bisa Diceritakan"

Ada lelah yang tak bisa diceritakan,
seperti mendung yang memilih diam di langit,
bukan karena tak ingin turun hujan,
tapi karena takut tak ada yang sudi meneduh.

Ada letih yang tak tahu ke mana pulang,
ditelan rutinitas,
dipeluk harapan,
disesap sepi yang tak minta pengertian.

Ingin menangis,
tapi mata sudah biasa kering.
Ingin bercerita,
tapi kata tak tahu harus ke mana berjalan.

Maka kutulis diam dalam hati,
kusimpan retak di balik senyuman.
Biar lelah ini tetap berwibawa,
meski diam-diam ingin rebah dan hilang sementara.

Karena tidak semua luka butuh suara,
tidak semua penat bisa diterka.
Ada yang cukup Tuhan saja yang tahu…
dan itu… cukup membuatku bertahan.



Ruang Ikhlas

Selalu sisakan ruang…

untuk ikhlas yang diam-diam tumbuh,

di antara harapan yang tiba-tiba runtuh.


Sebab hidup kadang tak mengetuk,

ia masuk tiba-tiba, membawa kecewa

yang tak pernah sempat kita jaga.


Bukan salahmu berharap,

dan bukan salah siapa pun saat kenyataan memilih arah lain.

Yang perlu…

hanya sepotong hati yang bersedia melunak,

dan ruang kecil di dalam dada

untuk menerima

apa yang tak bisa kita ubah.


Sebab tak semua luka datang untuk melukai,

kadang… ia datang agar kita lebih pandai

memaafkan,

melepaskan,

dan melanjutkan.




PERGI LEBIH DULU

Orang baik,

Memang sering pergi lebih dulu.

Bukan karena kalah,

Tapi karena sudah cukup menang

Melawan dunia yang keras dan sempit.


Sakitnya,bukan hukuman 

tapi cara Alloh

membersihkan langkahnya menuju surga.


Dan kini… ia pulang,

Tanpa pamit,

Tapi membawa sejuta doa yang menyertainya.


Selamat jalan,

Aku saksi bahwa kamu

adalah titipan Alloh yang indah

Yang kini telah kembali

pada Pemiliknya.






LANGIT DI DADA


Di tengah gelap yang datang perlahan,  

lampu padam, dunia jadi tenang.  

Tapi tak satu pun cahaya hilang,  

karena di dadanya, langit tetap terang.


Tangan menari di atas kertas,  

huruf-huruf lahir dari cahaya batin.  

Tak butuh gemerlap kota yang bising,  

cukup satu lentera, dan hati yang yakin.


Ia menulis bukan sekadar kata,  

tapi doa yang menyala di tiap jeda.  

Di ruang kecil, di waktu yang sempit,  


ia bawa langit turun, ke dalam setiap kalimat yang ia titip


CAPEK GA?

“Capek, ga?”

Pertanyaan itu terdengar biasa.

Tiga kata pendek, tanpa hiasan,

tapi bisa membelah sunyi yang kita peluk rapat-rapat setiap malam.


Karena sering kali…

yang kita butuhkan bukan solusi,

bukan nasihat panjang,

tapi pengakuan bahwa apa yang kita rasa… nyata.

Bahwa lelah ini bukan cuma ada di dalam kepala.


“Capek, ga?”

Itu bukan sekadar tanya.

Itu cara paling halus untuk berkata:

“Aku lihat kamu,

dan aku tahu kamu berjuang.”


Kadang kita jawab,

“enggak kok…” sambil senyum kecil,

padahal dada rasanya sesak seperti langit yang menahan hujan.

Seolah kata-kata itu terlalu sempit

buat menjelaskan beratnya bertahan sendirian.


PELAN TAK APA

Untuk diriku, yang sedang belajar pulang

Pelan tak apa

selama langkahmu masih jujur pada hati.

Biarkan dunia berlomba,

kau cukup jadi penonton yang tenang,

menyeduh keberanian dalam diam.


Tak perlu selalu gagah,

cukup pulih hari ini tanpa terburu.

Karena mencintai diri,

kadang artinya membiarkan luka bernapas,

tidak ditekan, tidak disembunyikan… 

hanya ditemani.


Dan pada akhirnya,

yang kau butuhkan bukan finish line

tapi tanganmu sendiri yang tak lagi tergenggam erat kesedihan.

Pelan tak apa,

asal pulangnya tetap ke dirimu.