Menjadi penulis itu kadang lucu. Cerita yang kutulis sering dikira sebagai kisah hidupku sendiri. Ada yang ikut baper, ada yang kirim pesan menenangkan, bahkan ada yang marah karena merasa ceritanya terlalu mirip dengan kehidupannya. Padahal, fiksi lahir dari imajinasi, riset, dan inspirasi kecil yang kadang muncul begitu saja.
Tapi di situlah indahnya menulis, ketika kata-kata mampu menyentuh hati, membuat orang merasa dekat, seolah kisah itu milik mereka. Mungkin itulah kekuatan cerita: ia hidup bukan hanya di kepala penulis, tapi juga di hati pembaca. Dan aku bersyukur, setiap bab yang kutulis bisa jadi jembatan rasa, meski kadang disalahpahami. Karena sejatinya, tulisan adalah doa yang mengalir, semoga membawa kebaikan bagi siapa pun yang membacanya.
- Langit Didada
