Tampilkan postingan dengan label jeda yang Allah ridhoi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jeda yang Allah ridhoi. Tampilkan semua postingan

Jeda yang Allah Ridhoi

Refleksi hati menjelang Ramadhan, tentang melambat, menerima diri, dan menemukan ketenangan yang selama ini hilang.

Bismillahirrahmanirrahim…

Tahun ini, langkahku terasa berbeda.
Tidak secepat dulu, tidak seramai dulu, tidak sesibuk tahun-tahun sebelumnya.
Jika dulu aku berlari mengejar jadwal dan program,
kini aku memilih berjalan perlahan, membiarkan hati memimpin arah.

Entah sejak kapan lelah itu terasa bukan hanya di badan,
tapi juga di hati.
Lelah menunggu orang lain ikut bergerak.
Lelah memikul semuanya sendirian.
Lelah mencari donasi sambil menahan malu.

Hingga akhirnya aku mengerti,
bahwa jeda bukan tanda menyerah,
melainkan tanda bahwa hati juga ingin pulang dan bernapas.

Aku teringat firman Allah:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Dan sabda Rasulullah :

“Sesungguhnya agama ini mudah, dan siapa yang memaksakan diri, ia akan dikalahkan olehnya.”

Kalimat itu seperti mengetuk pintu hati,
menyadarkanku bahwa menjaga diri juga bagian dari ibadah.
Bahwa memperlambat langkah bukan berarti berhenti berbuat baik.

Tahun ini, aku memilih menjadi cermin.
Jika ada gerakan, aku ikut bergerak.
Jika keadaan hening, aku pun ikut diam.
Jika ada yang mengantar proposal, aku bantu cetakkan.
Jika tidak ada, aku tidak memaksa.

Semua mengalir apa adanya…
Tanpa beban, tanpa paksaan, tanpa harus menjadi yang paling kuat setiap waktu.

Program Jumat Berbagi tetap aku jaga,
sederhana, setulus biasa, satu anak pada satu waktu.
Kebaikan kecil yang tidak pernah terasa berat,
kebaikan yang berjalan seirama dengan kemampuan.

Tahun ini bukan tentang banyaknya program,
bukan tentang seberapa sibuk aku terlihat.
Tahun ini tentang kembali menemukan diriku sendiri,
tentang merawat hati sebelum ia retak,
tentang menghargai diri yang selama ini terlalu sering memaksa kuat.

Ramadhan yang datang ini…
aku sambut dengan tenang, dengan pelan, dengan ikhlas.
Karena keikhlasan kadang tumbuh justru dari langkah yang paling perlahan.

Semoga Allah meridhai jeda ini.
Semoga diamku adalah bentuk taat.
Semoga kelelahanku diganti dengan ketenangan.
Dan semoga Ramadhan ini menjadi ruang untuk pulih,
ruang untuk kembali,
ruang untuk merasa cukup.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin…