Tampilkan postingan dengan label sahur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahur. Tampilkan semua postingan

Berhenti sejenak untuk sahur

Pukul 03.14, malam masih sunyi, dan aku berhenti sejenak dari laporan yang menumpuk.

Hanya segelas susu kedelai menemani sahur sederhana ini, tapi rasanya cukup untuk menenangkan hati yang lelah dan menyiapkan tubuh untuk hari yang panjang.

Dalam hening itu, aku membisikkan niatku:
“Nawaitu shauma dawud lillahi ta’ala.”
Puasa Daud, puasa sunnah selang sehari, aku jalani hanya karena Allah.

Tiada kemewahan, tiada yang terlihat—hanya kesederhanaan dan ketulusan hati.
Semoga sahur ini menjadi berkah, semoga puasa hari ini menguatkan tubuh dan jiwa, dan semoga setiap langkah kecilku hari ini dicatat sebagai amal shalih.

Dan meski malam masih panjang, aku yakin setiap detik yang kutitipkan pada Allah tidak akan sia-sia.
Bismillah… untuk kesabaran, untuk keberkahan, dan untuk hari yang Allah mudahkan.


Syukur dalam Sepiring Ketela: Cerita Sahur Puasa Dawud-ku

Banyak yang bertanya, "Sahur apa hari ini?"

Mungkin bagi sebagian orang, sahur identik dengan meja makan yang penuh lauk pauk. Tapi bagiku, sahur adalah momen sunyi yang penuh kecukupan. Hari ini, di sepertiga malam yang tenang, menu sahurku sangat sederhana: beberapa keping biskuit, segelas air putih di tumbler kesayangan, dan istimewanya... ada ketela rebus.

Sebenarnya, menu tetapku biasanya cukup satu butir telur rebus, air putih, dan sebuah pisang. Sederhana, praktis, dan cukup untuk modal tenaga menjalankan Puasa Dawud. Namun, ada cerita manis di balik sahur kali ini.

Kemarin sore, seorang kerabat/tetangga memberi saya ketela rebus. Alhamdulillah, rezeki yang tidak disangka-sangka. Karena ada ketela, telur rebusnya saya simpan dulu untuk lain waktu. Menikmati pemberian orang lain sebagai menu sahur rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat. Ada rasa hangat di hati karena merasa dipedulikan oleh sesama, dan merasa dicukupkan oleh Allah melalui tangan orang lain.

Makan sahur tanpa nasi bukan berarti kekurangan. Justru di sini saya belajar, bahwa yang kita butuhkan sebenarnya tidak banyak, hanya rasa syukur yang perlu kita luaskan.

Menikmati pemberian orang lain sebagai menu sahur rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat. Ada rasa hangat di hati karena merasa dicukupkan oleh Allah melalui tangan orang lain.

Apalagi saat ini kita berada di bulan Rajab, salah satu bulan mulia (Asyhurul Hurum) yang menjadi pintu pembuka menuju Ramadan. Di waktu sahur yang mustajab ini, mari kita hiasi dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW agar kita disampaikan ke bulan suci nanti:

Doa Memasuki Bulan Rajab:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighnaa Ramadhana.

"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan."

Bagi teman-teman yang mungkin besok ingin menyusul berpuasa (baik Puasa Dawud, Senin-Kamis, atau puasa Qadha), jangan lupa niatnya ya. Cukup dalam hati dengan tulus:

"Nawaitu shauma Daawuda sunnatan lillaahi ta'aalaa." (Aku berniat puasa Dawud, sunnah karena Allah Ta'ala).

Semoga setiap ketela yang kita makan, setiap teguk air yang kita minum, dan setiap doa yang kita langitkan di bulan Rajab ini, menjadi saksi ketaatan kita di hadapan-Nya.

Dan semoga puasa hari ini diterima, dan semoga kita semua selalu diberi keikhlasan dalam setiap ibadah yang kita jalankan. Semangat untuk teman-teman yang juga sedang berjuang istiqomah dengan puasa sunnahnya!