Lakal Hamdu dalam Gelapku

Allahumma…

Lakal hamdu, meski dadaku sesak, meski langkahku berat, meski malam terasa panjang tanpa cahaya.

Kepada-Mu segala pengaduan, aku titipkan air mata yang tak terlihat, aku serahkan resah yang tak terucap.

Engkaulah tempatku bersandar, saat dunia menutup pintu, saat hati hampir runtuh.

Tiada daya, tiada kuasa, kecuali Engkau yang Maha Tinggi, yang mengangkatku dari lumpur lelah, yang menyalakan lilin kecil di tengah gelap.

Maka biarlah aku diam dalam doa, biarlah aku kuat dalam pasrah, biarlah aku hidup dalam harapan, karena Engkau, ya Rabb, tak pernah meninggalkan hamba-Mu.


Yang Menanggung Senyap

Di sudut kecil ruang kerja yang sunyi,

aku menata tugas demi tugas
dengan tangan yang pernah lelah,
tapi tak pernah benar-benar berhenti.

Ada amanah yang datang tanpa mengetuk,
ada tanggung jawab yang jatuh ke pangkuan
begitu saja,
tanpa ditanya apakah aku mampu,
atau sedang baik-baik saja.

Mereka diam.
Tapi aku tetap berjalan.
Dengan roda yang setia memeluk lantai,
dan doa yang tak pernah putus dari dada.

Aku bukan ingin disanjung,
bukan pula menagih balasan.
Hanya ingin sedikit bahu tempat bersandar,
sedikit suara yang berkata,
“Aku bantu.”

Tapi dunia tidak selalu begitu…
dan kadang, yang kuat harus menangis diam-diam,
agar esok pagi tetap terlihat tegar.

Hari-hari terakhir ini,
aku mengumpulkan remah keberanian
untuk menata program,
untuk menyambut kunjungan,
untuk menjaga senyum anak-anak binaan
agar tetap tumbuh meski kantong sendiri kosong.

Ya Allah…
Aku bukan pahlawan.
Hanya seorang hamba yang tak enak hati
melihat amanah tergeletak tanpa penjaga.

Maka biarkan air mata turun malam ini.
Biarkan beban itu luruh pada sajadah.
Karena aku tahu…
rezeki, kekuatan, dan pertolongan
tak pernah datang dari manusia,
tapi dari-Mu yang Maha Melihat
setiap langkah kecilku di tempat yang sepi.

Dan biarlah dunia tak paham,
asal Engkau paham.
Biarkan manusia diam,
asal Engkau mendengar.

Aku akan tetap berjalan,
pelan…
tapi pasti.
Dengan hati yang remuk,
tapi tetap hidup.

Karena aku percaya…
Selama tujuan ini lillah,
Engkau akan menuntun
walau jalanku penuh sunyi. 



Rindu yang Tak Bersuara

Rindu ini berjalan tanpa suara,

menyusuri lorong hati yang sepi,

setiap detik terasa panjang,

menunggu hadir yang tak kunjung tiba.


Aku titipkan rindu pada angin,

biar ia menyapa dari kejauhan,

membawa kabar lembut,

tentang hati yang masih setia menanti.


Rindu bukan sekadar jarak,

ia adalah doa yang tak pernah padam,

meski tak bertemu di dunia,

semoga Allah pertemukan di surga-Nya.






Di Antara Amanah dan Sunyi

Di balik tumpukan berkas

dan agenda yang menunggu,
ada hatiku yang diam-diam letih,
menyimpan segala yang tak mungkin kuceritakan
pada siapa pun.

Aku berjalan sendirian
di jalan yang seharusnya dilalui bersama,
menggendong amanah yang kadang terlalu berat,
namun tetap kupeluk erat
karena aku tahu ini bukan sekadar tugas,
ini jalan kebaikan.

Aku yang tak pernah bersuara keras,
menyembunyikan luka di balik senyum kecil,
dan menyeka air mata
di sela-sela doa panjangku malam hari.

Bukan karena aku lemah,
tapi karena aku terlalu sering kuat
hingga tak ada tempat tersisa
untuk mengeluh pada manusia.

Kadang aku iri
pada mereka yang bisa meminta tolong
tanpa ragu,
yang dikelilingi tangan-tangan yang siap membantu.
Sementara aku…
menyusun rencana demi rencana
dengan tangan sendiri,
dengan rezeki yang tak seberapa,
dengan hati yang terus berkata,
“Bertahanlah… ini semua karena Allah.”

Jika dunia tak melihat,
tak apa…
karena aku tahu Allah melihat
bahkan setetes air mata yang jatuh
sebelum aku sempat menyentuhnya.

Jika manusia diam,
tak apa…
karena cukup satu doa kecil
untuk menjadikan langkahku kembali kuat.

Aku bukan ingin pujian,
hanya ingin sedikit dipahami.
Sedikit saja…

Tapi bila itu pun tak ada,
aku tetap berjalan
dengan bekal sabar,
dengan roda yang menemani,
dengan senyum anak-anak binaan
yang membuatku kembali ingat:
inilah alasanku bertahan.

Dan pada akhirnya,
aku yakin…
Allah akan mengembalikan setiap lelahku
dengan sesuatu yang jauh lebih indah
daripada yang pernah kupinta. 


Dzikir Pagi-Petang untuk Rezeki dan Kesehatan

1. Dzikir Tawakal

حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ، عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Hasbiyallahu laa ilaaha illa huwa, ‘alayhi tawakkaltu wa huwa rabbul-‘arshil-‘azhiim
Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.

📌 Dibaca 7 kali pagi dan 7 kali sore.

2. Doa Rezeki dan Kesehatan

اَللّٰهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَاشْفِنِي شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Allahumma ikfini bihalaalika ‘an haraamika, wa aghnini bifadhlika ‘amman siwaaka, wa ishfini shifaa’an laa yughaadiru saqaman
Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu, jauhkan aku dari yang haram. Kayakanlah aku dengan karunia-Mu, bukan dengan selain-Mu. Dan sembuhkanlah aku dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.

📌 Dibaca 1–3 kali pagi dan sore.

3. Doa Kesehatan Tubuh

اَللّٰهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اَللّٰهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اَللّٰهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ
Allahumma ‘aafini fii badanii, Allahumma ‘aafini fii sam‘ii, Allahumma ‘aafini fii basharii, laa ilaaha illa anta
Ya Allah, berilah aku kesehatan pada tubuhku, pendengaranku, dan penglihatanku. Tiada Tuhan selain Engkau.

📌 Dibaca 1–3 kali pagi dan sore

Refleksi

  • Dzikir ini menguatkan hati dengan tawakal.

  • Menjadi doa untuk rezeki halal dan cukup.

  • Menjadi permohonan kesehatan tubuh, pendengaran, dan penglihatan.

🌸 Dengan istiqamah membacanya, hati akan lebih tenang, tubuh lebih kuat, dan rezeki terasa cukup meski dalam keterbatasa



Maaf dari Raga, Cinta dari Hati

Kata hatiku lirih berbisik,

maafkan aku yang tak mampu,

raga ini terbatas, lumpuh tak berdaya,

namun cinta dan doa selalu setia.


Aku tak bisa melayani seperti yang lain,

tangan ini lemah, langkah tak berjalan,

tapi hatiku tetap ingin memberi,

dengan sabar, dengan doa, dengan kasih.


Ya Allah, jadikan kekuranganku cahaya,

agar orang melihat bukan kelemahan,

melainkan ketulusan yang tak pernah padam,

karena cinta sejati tak butuh balasan.



Tiga Tahun Mengetuk Pintu, Hingga Allah Membukanya




Ada perjalanan yang tak pernah terlihat oleh mata orang lain.
Ada lelah yang tidak tercatat dalam laporan, tetapi tercetak dalam tulang belakang seseorang yang terus berdiri.
Ada doa yang tidak bersuara, tetapi mengguncang langit.
Dan itulah perjalanan kecilku bersama LKSA Peduli Sahabat Batang.

Tahun 2022, aku memberanikan diri mengirim proposal.
Dengan harapan sederhana: agar yayasan kecil ini punya napas untuk berjalan.
Belum ada jawaban.

Tahun 2023, aku kirim lagi.
Masih dengan keyakinan yang sama, meski jalannya terasa makin panjang.
Belum ada titik terang.

Tahun 2024 aku tetap mengetuk pintu yang sama.
Sampai akhirnya…
Tahun 2025, setelah tiga tahun menunggu,
pintu itu benar-benar dibukakan oleh Allah.
Dana hibah itu cair.
Dan aku menangis… bukan karena nominalnya,
tapi karena akhirnya yayasan ini diperhatikan.

 

Delapan tahun kami berjalan tanpa sarana prasarana.
Delapan tahun semua alat kerja adalah milikku pribadi
laptopku, meja kerjaku, printerku, semua kupakai untuk yayasan.
Sampai dua laptopku rusak dipakai untuk kerja sosial.

Aku masih ingat hari itu…
Laptopku mati total.
Tepat saat deadline tugas-tugas LKSA menumpuk.
Dan aku duduk lama… bingung harus bagaimana.
Sampai akhirnya aku menyewa laptop hanya untuk menyelesaikan laporan.
Begitu berat.
Tapi tetap kulakukan karena amanah ini bukan main-main.

Di titik paling lelah itu, Allah kirimkan bantuan:
seorang sahabat alumni SMA,
yang dengan kebaikan hatinya berkata,
“Pakai laptopku dulu an”
Dan hari itu… aku merasa seperti diberi napas.

Laptop pinjaman itu menjadi nyawa yayasan.
Menjadi jembatan agar semua laporan bisa selesai.
Menjadi bukti bahwa Allah menolong lewat tangan-tangan yang tak disangka.

Dan kini…
Yayasan kecil yang dulu tak punya apa-apa,
pelan-pelan bisa membeli laptop sendiri, komputer sendiri, meja, kursi, lemari arsip, perlengkapan kantor, dan semua kebutuhan dasar.

Bukan karena kami hebat.
Tetapi karena Allah menggerakkan hati banyak orang baik.

 

Hari ini, LPJ itu akhirnya selesai dan diserahkan.
Tebal, rapi, penuh perjuangan,
penuh malam tidak tidur, penuh kekhawatiran yang aku simpan sendiri.
Tapi juga penuh kelegaan…
karena untuk pertama kalinya, yayasan ini berdiri dengan fasilitas yang layak.

Aku menuliskan ini bukan untuk membanggakan diri
tetapi untuk mengingatkan diriku sendiri:

Bahwa doa yang terus dipanjatkan tidak pernah sia-sia.
Bahwa perjuangan sunyi suatu saat akan berbuah.
Bahwa kalau niatnya baik, Allah akan menolong dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dan bahwa setiap langkah kecil yang kutapakkan hari ini,
adalah hadiah dari tiga tahun yang tidak pernah berhenti mengetuk pintu.

Alhamdulillah…
Alhamdulillah…
Alhamdulillah ya Rabb.

LKSA Peduli Sahabat Batang,
semoga terus menjadi rumah bagi banyak harapan.
Dan semoga Allah menjaga setiap amanah yang dipercayakan kepada kami.

















Ketika Aku Harus Melepaskanmu

Aku pernah mundur dari seseorang

bukan karena cinta ini padam,
bukan karena hatiku berhenti bergetar,
tapi karena ada hati lain
yang lebih memanggil namanya.

Ada tangan lain
yang lebih ia cari,
ada dekap lain
yang lebih menenangkan jiwanya.

Dan aku…
hanya menepi,
memberi ruang bagi takdir
untuk memilih tempat terbaik baginya.

Mundur bukan berarti kalah,
bukan berarti rasa ini berakhir.
Justru di sanalah cinta diuji—
mampu merelakan,
meski dada sendiri
yang paling terasa hampa.

Aku mundur dengan perlahan,
tanpa drama,
tanpa meminta ia kembali.
Sebab aku tahu,
di suatu tempat,
ada sosok yang lebih ia butuhkan…
dan ia pun lebih bahagia di sana.



Berhenti sejenak untuk sahur

Pukul 03.14, malam masih sunyi, dan aku berhenti sejenak dari laporan yang menumpuk.

Hanya segelas susu kedelai menemani sahur sederhana ini, tapi rasanya cukup untuk menenangkan hati yang lelah dan menyiapkan tubuh untuk hari yang panjang.

Dalam hening itu, aku membisikkan niatku:
“Nawaitu shauma dawud lillahi ta’ala.”
Puasa Daud, puasa sunnah selang sehari, aku jalani hanya karena Allah.

Tiada kemewahan, tiada yang terlihat—hanya kesederhanaan dan ketulusan hati.
Semoga sahur ini menjadi berkah, semoga puasa hari ini menguatkan tubuh dan jiwa, dan semoga setiap langkah kecilku hari ini dicatat sebagai amal shalih.

Dan meski malam masih panjang, aku yakin setiap detik yang kutitipkan pada Allah tidak akan sia-sia.
Bismillah… untuk kesabaran, untuk keberkahan, dan untuk hari yang Allah mudahkan.