Berhenti sejenak untuk sahur

Pukul 03.14, malam masih sunyi, dan aku berhenti sejenak dari laporan yang menumpuk.

Hanya segelas susu kedelai menemani sahur sederhana ini, tapi rasanya cukup untuk menenangkan hati yang lelah dan menyiapkan tubuh untuk hari yang panjang.

Dalam hening itu, aku membisikkan niatku:
“Nawaitu shauma dawud lillahi ta’ala.”
Puasa Daud, puasa sunnah selang sehari, aku jalani hanya karena Allah.

Tiada kemewahan, tiada yang terlihat—hanya kesederhanaan dan ketulusan hati.
Semoga sahur ini menjadi berkah, semoga puasa hari ini menguatkan tubuh dan jiwa, dan semoga setiap langkah kecilku hari ini dicatat sebagai amal shalih.

Dan meski malam masih panjang, aku yakin setiap detik yang kutitipkan pada Allah tidak akan sia-sia.
Bismillah… untuk kesabaran, untuk keberkahan, dan untuk hari yang Allah mudahkan.