Tampilkan postingan dengan label TENTANG PENULIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TENTANG PENULIS. Tampilkan semua postingan

My mind’s a crime scene

Tapi bukan yang berdarah-darah. Lebih kayak... berantakan. Banyak pikiran yang nggak selesai, banyak perasaan yang nggak sempat diungkap. Kadang aku ngerasa kayak jadi detektif di kepala sendiri, nyari tahu kenapa bisa overthinking, kenapa hal kecil bisa bikin anxious, kenapa mimpi-mimpi yang dulu,sekarang malah bikin takut.  

Ada jejak-jejak luka lama yang belum bersih, ada suara-suara yang bilang ‘kamu nggak sempurna’, padahal aku tahu itu bukan suara Tuhan.  

Tapi di tengah kekacauan itu, aku belajar pelan-pelan. Belajar untuk nggak buru-buru nyalahin diri sendiri. Belajar untuk kasih ruang buat healing.  

So, my mind’s a crime scene. But I’m not just the victim, I’m also the investigator, the healer, and the storyteller. Dan aku tahu, Tuhan nggak pernah ninggalin TKP.


AUTHOR

Seorang penulis tidak selalu menulis tentang dirinya sendiri.

Tulisan galau bukan berarti ia sedang patah hati.

Tulisan jatuh cinta bukan berarti ia sedang mabuk asmara.

Tulisan sedih pun, bukan berarti ia sedang menangis.


Kadang tulisan lahir dari imajinasi.

Kadang pula dari cerita nyata orang lain.

Bisa jadi, justru yang ia tulis adalah kisahmu,

yang tak pernah kau utarakan, tapi diam-diam ia rasakan lewat kata.


Begitulah penulis, menulis bukan sekadar tentang dirinya,

tapi tentang kehidupan, tentang kita semua.




Loving a Writer Through Harsh Criticism

Menjadi pasangan seorang penulis…

means standing beside someone

whose words are constantly judged.


Kadang dia terlihat kuat,

padahal hatinya baru saja runtuh

karena satu komentar:

“Cerita kamu nggak masuk akal.”


She smiles,

but you know that smile is stitched with self-doubt.


“Am I too much?”

“Is my writing too emotional?”

“Should I stop?”


And you remind her:

Her words have healed strangers.

Her stories have made people feel seen.


Kamu peluk dia,

bukan untuk membungkam rasa sakit…

tapi untuk menguatkan suara yang sempat gemetar.


Because loving a writer

means loving someone

who bleeds silently through every sentence.


Dan kamu adalah satu-satunya pembaca

yang tak pernah menuntut ending bahagia…

cukup dia tetap menulis,

dan tetap menjadi dirinya sendiri.


Terima kasih…

karena kamu nggak pernah minta aku jadi sempurna.

You just asked me to be real.

And for that…

I’ll keep writing,

with you in every page.


Langkah Kecil di Jalan Sunyi

Tak banyak yang tahu,

Tentang langkah-langkahku yang pelan,

Melewati lorong waktu dengan dada penuh harap,

Bukan untuk dilihat,

Tapi agar tak ada yang tertinggal di belakang.


Tak selalu kuat,

Namun tak pernah ingin menyerah.

Bukan karena aku hebat,

Tapi karena ada yang lebih lemah yang harus tetap kuat.


Bukan tentang siapa aku,

Tapi tentang siapa yang bisa terbantu lewat aku.

Bukan tentang apa yang aku punya,

Tapi apa yang bisa aku bagi, meski hanya setitik cahaya.


Aku tak butuh sorot lampu,

Biarlah Allah yang tahu.

Jika langkahku kecil,

Semoga tetap berarti di hadapan-Nya yang Maha Tahu.


MEMILIKI PASANGAN PENULIS ITU...

“Menjadi pasangan seorang penulis… bukan tentang mengerti semua kata-kata yang ia tuangkan,

tapi tentang menerima jeda di tengah cerita,

memeluknya saat ia ragu pada alur hidupnya sendiri,

dan tetap hadir ketika mood-nya menari seperti plot tak terduga.”


“Sebab cinta itu bukan hanya tentang jadi tokoh utama…

kadang kita harus rela jadi penonton yang sabar,

menyaksikan prosesnya menemukan akhir yang layak untuk dirayakan.”








PENULIS ITU....

Ada jiwa yang tak bisa diam.  

Setiap detik jadi cerita, setiap rasa jadi aksara.  


Kadang aku menulis tentangka

Saat dunia terasa sempit dan kata jadi pelarian.  

Kadang tentangmu, atau mereka 


Puisi, cerpen, fragmen.  

Semua berujung sama:  

Cara tubuhku merawat luka  

Dan hati belajar memaafkan.


Karena bagi seorang penulis,  

Hidup bukan sekadar dijalani

Ia harus dituliskan.


WAKTU

Waktu bukan milik kita,

ia hanya dipinjamkan,

untuk mencintai,

untuk memperbaiki,

untuk kembali pada-Nya.


Setiap detik adalah saksi,

apakah kita menayukuri

atau hanya sibuk mengejar dunia

yang tak pernah puas adanya 


Waktu tak bisa dibeli,

tak bisa disimpan,

Ia mengajarkan bahwa hidup bukan tentang panjangnya usia,

tapi tentang isi dari perjalanan.


Tentang sujud panjangnya

tentang sabar yang tak terlihat,

tentang ikhlas yang tak diumumkan.


Dan saat waktu habis,

tak ada yang bisa kita bawa,

kecuali amal,

dan cinta yang kita tanam dalam diam.


SERTIFIKAT KARYA TERPILIH



Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal dari sebuah kenangan yang indah.