Tampilkan postingan dengan label puisicinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisicinta. Tampilkan semua postingan

"Seperti Pertama Kalinya"

Aku selalu mencintaimu

seperti pertama kalinya meski jarak menjelma dinding, meski waktu sering mencuri pertemuan.

Di setiap senja yang sunyi, aku mendengar namamu berbisik dari doa yang tak pernah letih, menyulam rindu jadi kekuatan.

Kau di sana, aku di sini, namun hati kita tak pernah berpisah. Setiap tatap yang tertunda, setiap pelukan yang menunggu, tetap hangat, tetap utuh, seperti pertama kalinya.

Dan bila esok kita kembali bertemu, biarlah dunia tahu cinta ini tak pernah menua, ia selalu lahir kembali, seperti pertama kalinya.



Rindu yang Tak Bersuara

Rindu ini berjalan tanpa suara,

menyusuri lorong hati yang sepi,

setiap detik terasa panjang,

menunggu hadir yang tak kunjung tiba.


Aku titipkan rindu pada angin,

biar ia menyapa dari kejauhan,

membawa kabar lembut,

tentang hati yang masih setia menanti.


Rindu bukan sekadar jarak,

ia adalah doa yang tak pernah padam,

meski tak bertemu di dunia,

semoga Allah pertemukan di surga-Nya.






Maaf dari Raga, Cinta dari Hati

Kata hatiku lirih berbisik,

maafkan aku yang tak mampu,

raga ini terbatas, lumpuh tak berdaya,

namun cinta dan doa selalu setia.


Aku tak bisa melayani seperti yang lain,

tangan ini lemah, langkah tak berjalan,

tapi hatiku tetap ingin memberi,

dengan sabar, dengan doa, dengan kasih.


Ya Allah, jadikan kekuranganku cahaya,

agar orang melihat bukan kelemahan,

melainkan ketulusan yang tak pernah padam,

karena cinta sejati tak butuh balasan.



TERIMAKASIH, KAMU

Terima Kasih, Kamu

Terima kasih, kamu, yang tahu caraku bernapas

di antara debur ombak dan pasir halus yang memeluk langkah.

Sampai dua pantai kita datangi, demi satu yang aku suka,

karena yang pertama hanya singgah, yang kedua jadi rumah.


Terima kasih, kamu, yang meluangkan waktumu

di tengah riuhnya dunia,

menemani dari pagi sampai senja

tanpa hitung-hitungan,

tanpa jeda.


Terima kasih, kamu, yang bilang “iya”

meski arahku kadang muter, kadang nyasar,

dan kita tetap ketawa

karena jalan salah bisa jadi cerita.


Terima kasih, kamu, yang sabar diam-diam

di tengah ributnya aku yang tak tahu diam,

mengikuti alur pikirku yang loncat sana-sini

dan tetap dengar, walau kadang isinya cuma receh dan nyeleneh.


Terima kasih, kamu,

karena hadirmu

adalah tempat tenang yang kutemukan tanpa harus mencari.


Kau, Hari Raya di Semua Hari-Hariku

Kau hadir seperti cahaya fajar,  

Menyelimuti langkahku dengan warna-warna hangat.  

Di setiap pagi yang biasa, kau menjadikannya luar biasa.  

Di setiap senja yang sederhana, kau mengukirnya jadi cerita.  


Kau adalah gema takbir di dadaku,  

Hadiah tanpa syarat dalam lelahku,  

Hidup terasa lebih luas, lebih lapang,  

Seperti hari raya yang tak mengenal usai.  


Di setiap detik yang berlalu,  

Kau adalah perayaan tanpa tanggal.  

Aku bersyukur, sebab dalam setiap waktu,  

Hidupku selalu bernuansa kamu


BUKAN CINTA MANUSIA BIASA

 Ini bukan sekadar rindu yang menepi  

Bukan hati yang mengemis temu  

Ini cinta yang tak terikat waktu  

Mengalir dalam doa, bertaut di langit biru  


Tak hanya lirih dalam senandung  

Tak hanya terucap dalam syair  

Ia menelusup ke dasar jiwa  

Menjadi cahaya yang tak pernah berakhir


Cinta ini suci, tak mengenal batas  

Mengalun bagai irama

Menghidupi arti yang lebih luas  

Bukan cinta manusia biasa




DALAM RINDU YANG SIBUK

Di antara jadwal yang padat,  

di sela kerja yang tiada henti,  

kita saling mencari,  

tanpa pernah lelah merindui.  


Waktu berlari, tugas menumpuk,  

namun di hatiku, kau tak pernah tergerus,  

cinta kita bukan sekadar temu,  

tapi kepercayaan yang tumbuh tanpa ragu.  


Aku tahu kau sibuk,  

kau tahu aku pun tak selalu luang,  

tapi kita mengerti, kita percaya,  

bahwa kasih tak diukur dari berapa sering berjumpa.  


Dan saat dunia memberi jeda,  

saat tatap kita akhirnya menyatu,  

segala rindu tak lagi terucap,  

hanya terserap dalam dekap.  


Kita adalah bukti,  

bahwa cinta tak perlu selalu hadir,  

cukup mengisi ruang hati,  

dengan percaya yang tak pernah pudar


MENULIS DI TEPI SENJA

Kubuka buku catatan,

Halaman kosong menanti cerita,

Tinta pena menari pelan,

Sambil angin pantai menyisir jiwa.


Ombak tak pernah lelah bercerita,

Aku dengarkan, kuresapi maknanya,

Kadang aku tulis, kadang hanya kurasa,

Seperti rahasia yang hanya aku dan laut tahu isinya.


Dia duduk tak jauh dariku,

Membiarkanku larut dalam imajinasi,

Tak mengganggu, tak bertanya,

Cukup hadir, dan itu puisi paling abadi.


Pantai jadi tempatku bercerita tanpa suara

Saat dunia terlalu ramai, dan kepala penuh kata.

Kupilih duduk lama biar pikiran reda

Biar aku dan dia menyatu dalam senja


Senja memudar di ujung cakrawala,

Aku masih menulis,

Tentang hari ini, tentang dia, tentang segala,

Yang tak sempat kukatakan, tapi abadi di kertas tipis



CINTA YANG TAK TERBATAS

Aku ingin mencintaimu  

lebih banyak dari debar—  

dalam setiap denyut yang menggema,  

mengisi sunyi dengan getar namamu.  


Aku ingin mencintaimu  

lebih besar dari sabar

menanti dalam doa,  

merangkai harapan dalam ketulusan yang tak pudar.  


Aku ingin mencintaimu  

lebih lama dari selamanya—  

melebur waktu dalam kenangan,  

mengabadikan kasih dalam keabadian.  


Di antara bintang dan senja,  

di antara nafas dan doa,  

cinta ini tetap ada, tetap nyata, tetap mengakar.  

Karena untukmu, aku ingin mencinta  

tanpa batas, tanpa akhir.


SAYAP TAK TERLIHAT

Manusia tak bersayap,

tapi percaya bisa terbang.

Bukan karena angin,

bukan karena awan yang memanggil dari kejauhan.


Namun karena seseorang di sisinya,

yang tak memberinya janji,

tapi memberi harapan.

Yang tak mengangkat tubuhnya,

tapi menguatkan jiwanya.


Dengan tatap yang menenangkan,

dengan kata yang menyala lembut,

dengan hadir yang tak selalu dekat,

tapi selalu terasa hangat.


Manusia pun terbang—

bukan di langit biru,

tapi di dalam semesta hati yang baru.

Karena kadang,

sayap itu bukan milik punggung…

melainkan milik rasa yang tumbuh diam-diam


DI SELA KESIBUKAN KITA



Di antara detik yang terus berputar,  

Langkah kita berbeda sementara  

bukan karena saling menjauh 

tapi karena impian yang harus dijaga.  


Kau sibuk di duniamu, aku di duniaku,  

jarang bersua, sekadar sapa pun kadang berlalu,  

namun di tiap hembusan lelah yang menyapa,  

aku tahu, ada cinta yang tetap setia.  


Meski raga tak selalu berjumpa,  

doa-doa kita bertemu di langit yang sama,  

sebab jarak bukan tentang seberapa jauh,  

tapi tentang hati yang tetap utuh.  


Terimakasih atas waktumu untukku

Dalam riuhnya kesibukanmu

Bersama dalam hembusan nafas kita  

Menumpahkan rindu yang menggumpal di dada  


✨💖  


DICINTAI SEMPURNA

Cintailah dia yang mencintaimu,

bukan karena rupa atau waktu,

tapi karena hatinya memilihmu,

dalam diam, dalam doa yang tak pernah jemu.


Sebab di matanya, kau tak perlu menjadi lebih,

tak harus sempurna atau serupa bintang di langit bersih,

karena baginya, dirimu sudah cukup,

cukup indah, cukup utuh, cukup penuh harap.


Ia melihatmu bukan dengan mata,

tapi dengan jiwa yang rela,

menerima luka dan tawa,

menjadikanmu satu-satunya makna.


Cintailah dia yang mencintaimu,

karena hanya di hatinya,

kau akan selalu terasa sempurna,

meski dunia berkata sebaliknya.




CINTA DALAM KEIKHLASAN




Aku memilih jalan ini dengan hati lapang,
Bukan karena tak mampu menghalangi,
Tapi karena cinta yang kupahami,
Adalah memberi waktu, bukan hanya memiliki.

Bahagiaku bukan saat dia di sisiku selalu,
Tapi saat rumah pertamanya tetap utuh.
Saat wajahnya berseri karena damai,
Saat tanggung jawabnya tetap terjaga.

Walau hatiku menjerit merindu
Ingin mengeluh, tapi kuurungkan.
Karena aku tahu, mencintai dengan hati,
Berarti merelakan tanpa menguasai.

Jalan ini mungkin tak semua pahami,
Tapi bagiku, cinta bukan hanya tentang aku.
Selama dia tetap dalam kejujuran
Aku pun bahagia dalam doa yang kupanjatkan

AKU DAN WAKTUMU

Aku dan waktumu, dua jiwa yang berbeda

Bertemu dalam kesempatan, yang tidak terduga

Aku yang selalu menunggu, waktumu yang selalu berlalu

Tapi dalam pertemuan kita, aku merasa waktu berhenti


Waktumu yang cepat berlari, aku yang ingin mengejar

Tapi aku sadar, waktu tidak bisa dikejar

Aku hanya bisa menikmati, setiap detik yang kita miliki

Dan berharap, waktumu bisa menjadi milikku


Tapi aku tahu, waktumu tidak bisa dimiliki

Aku hanya bisa menikmati, setiap saat yang kita bagi

Dan berharap, kenangan kita, bisa menjadi abadi


Bolehkah Aku Meminta Waktumu Sebentar?

 




Tak banyak, hanya sekejap dalam genggaman hari

Aku tahu dunia menuntutmu berlari

Tapi aku di sini, merindukanmu tanpa henti


Langit malam kerap jadi teman bicara

Menanyakan kabarmu yang kian jauh

Aku tak ingin mengganggu langkahmu yang berharga

Namun, tidakkah ada celah di sela lelahmu?


Aku rindu percakapan tanpa batas waktu

Tawa sederhana, tatapan yang dulu hangat

Kini, aku hanya tamu dalam sibukmu

Menunggu sisa detik yang mungkin tersisa


Jika memang tak bisa lama, tak apa

Hanya sebentar, biarkan aku ada

Karena bagiku, satu menit bersamamu

Lebih berharga dari seharian tanpamu.


TERNYATA CINTA ITU....


Hari itu sudah tidak seperti biasanya

Chatku hanya kau baca tanpa membalasnya

Karena aku sudah terbiasa

Tanpa kabar setiap harinya

 

Hingga diapun menghilang tak tahu tentang keberadaanya

Aksaraku tersedak sesaat, berkecamuk dalam pikiran

Hubungan kami baik-baik saja, tak ada perselisihan maupun pertengkaran

Secepat itu semesta merenggut hasta

 

Tak terasa tetesan air mata menggores kertas putih di depanku

Walau aku sudah terbiasa dengan kepergianmu

Hingga kedatanganmu untuk mengucap janji suci akan menemani hingga akhir waktu

Dengan lakara arungi surga dunia

 

Namun.. kebahagiaan itu hanya sekejap mata

Goresan pisau di hati sangatlah lara

Kini dia hadir kembali dengan rasa penyesalannya

Dan.. Apakah aku akan kembali menerima juga mempercayainya?

 

TASBIH CINTA


TASBIH CINTA

Teruntuk Satu Nama Yang Menjadi Diksi Disetiap Puisiku

Aku Tahu Bahwa Kamu Bukan Orang Yang Mudah Untuk Percaya

Tapi Kamu Harus Dengar Ini:

Perihal Hati, Aku Bukan Orang Yang Mudah Mengubah Rasa

Dan Perihal Rasa, Kamulah Pemiliknya

Hanya Denganmu Aku Merasa Sejiwa

Aku Yang Bahagia Tanpa Di Buat-Buat

Aku Yang Menjadi Diri Sendiri Tanpa Berpura-Pura

Kau Imamku

Yang Menuntunku Menuju Surganya

 

Tuan

Jalan Kita Akan

Masih Panjang...

Batunya Mungkin Juga Masih Banyak

Kita Jalani Sama-Sama Ya...

 

Semoga Kita Adalah Sepasang Cinta Yang Disegerakan, Dibahagiakan Dalam Bingkai Keimanan Yang Menentramkan.



TERIMAKASIH TELAH MEMBUATKU PULIH

 


TERIMAKASIH TELAH MEMBUATKU PULIH

 

Tuan..

Bersamamu Semuanya Terasa Cukup

Di Pelukanmu Hilang Segala Gulana

Di Dekapanmu Luapkan Rindu Tanpa Ampun

Meski Peluk Tak Selalu Kita Dekap Setiap Saat

Namun Kau Dan Aku Akan Tetap Sama Saling Menjaga

 

Segala Hal Tentangmu Akan Terus Menjelma Menjadi Sastra

Walau Di Hadapanmu Hilang Semua Konsonan Kata

Ada Ketenangan Yang Sulit Aku Tuliskan

 

 

Kepada Kamu Yang Peluknya Memberi Hangat Luar Biasa

Aku Di Anugrahi Untuk Selalu Mempercayaimu

Kamu Begitu Baik Menjagaku

Terimakasih Telah Membuatku Pulih

 

Kepada Kamu Yang Saat Ini Menjadi Belahan Jiwaku

Kau Saja Satu, Cukup Untukku

Kita Sudah Melalui Fase Yang Sangat Mendewasakan

Jangan Ada Perpisahan Lagi Yaa

Temani Aku Hingga Akhir Nanti




JUNI DAN KEBAHAGIAAN





JUNI DAN KEBAHAGIAAN

Ana Restuningtyas


Semesta seakan tahu ada dua insan sedang melepas rindu

Di tepi pantai di iringi aluran deburan ombak yang tenang

Aku dan kamu

Mata kita beradu

Sesekali salah tingkah

Ada kau di depanku, apa yg lebih tampan dari pada itu

 

Tanganku di dalam tanganmu

Kau tau, aku merasa menjadi manusia yg paling beruntung denganmu

Pundak ternyaman tempatku besandar

 

Debaran jantung beradu

Kita tak berucap apa-apa, diam membisu

Hahya desahan nafas yang terdengar

 

Setelah berpuluh kali purnama

Akhirnya kita berjumpa

Aku malu pertama kali bertemu

Kita sudah banyak berubah

Kita sudah banyak berbenah

Pemikiran kita semakin terarah

 

Sebenernya aku menahan kuat-kuat agar air mata tak jatuh

Pura pura kuat di depanmu

Tapi selalu gagal, air mata ini semakin jatuh semakin menderas saat bersamamu

Air mata bahagia berada di dekapanmu

Air mata sedih dan trauma takut kau meninggalkanku lagi

 

Tuan

Tetap bersamaku ya

Hingga akhir waktu menjemputku

JANGAN LEPASKAN TANGANKU

Aku selalu berharap

Disetiap aksara yang aku rangkai untukmu

Bisa membuat jantungmu berdebar

Sesuatu yang membuatmu tersenyum

Dan kau menikmatinya, itulah yang aku inginkan

 




Dia yang selalu aku rindukan

Dia Yang Selalu Ada Dalam Puisiku

Tuan, Berhentilah Sejenak Dari Sibukmu

Puisi ini masih kutulis di atas namamu

 

Lihatlah, aku tetap menunggumu

Tidak peduli dimanapun kita berada

Asal hati kita sama

Jadi.. jangan lepas tanganku yaa..

Dan aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu

 

Akan aku berikan bagian paling rapuh dalam hidupku

Yaitu.. hatiku yang selalu memeluk hangat sukmamu