Tampilkan postingan dengan label SELFLOVE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SELFLOVE. Tampilkan semua postingan

Terbiasa Sendiri

Walau tidak ditemani,

aku belajar berjalan sendiri, menyulam langkah di jalan sepi, menemani diriku dengan doa yang tak pernah mati.

Walau tidak didengar, aku memilih diam, membiarkan suara hatiku menjadi rahasia yang hanya aku pahami.

Kesepian datang seperti bayangan, melekat di sudut ruang, namun aku berusaha, agar terbiasa dengan sunyi yang panjang.

Karena dalam sepi, aku menemukan kekuatan, dalam diam, aku belajar ketabahan.

Walau tidak ditemani, aku tetap bisa berdiri, walau tidak didengar, aku tetap bisa berarti.



Andai Aku Sempurna Seperti Orang Lain

Perjalanan hati yang diremehkan manusia, namun selalu dibela oleh Allah

Ada banyak orang di dunia ini yang berjalan sambil menahan luka yang tidak terlihat. Mereka tersenyum, mereka bekerja, mereka melangkah… padahal ada bagian dalam dirinya yang retak dan tidak pernah sempat mereka perbaiki.

Dan di antara mereka, ada aku.
Ada kamu.
Ada kita, orang-orang yang sering merasa kalah sebelum apa pun dimulai.

Kadang, di tengah perjalanan hidup, muncul bisikan yang menyakitkan:
Andai aku sempurna seperti orang lain…

Andai aku secantik mereka yang selalu dipuji.
Andai aku sepintar mereka yang mudah dihargai.
Andai aku sekuat mereka yang tidak pernah terlihat jatuh.
Mungkin aku juga bisa merasakan dicintai dengan hebat, diperjuangkan tanpa ragu, dan dijaga tanpa pamrih.

Tapi hidup tidak pernah semudah itu.

Banyak dari kita tumbuh dengan rasa kurang—kurang dilihat, kurang dianggap, kurang dihargai.
Bukan karena kita tidak berharga, tapi karena mata manusia terkadang hanya suka melihat yang terang, bukan yang tulus.

Ada yang pernah dihina karena penampilannya.
Ada yang disepelekan karena tidak punya apa-apa.
Ada yang dipandang sebelah mata hanya karena hidupnya tidak seperti orang lain yang tampak “sempurna”.
Ada yang dimanfaatkan sampai habis, lalu ditinggalkan begitu saja seolah tidak pernah berarti.

Dan paling menyakitkan adalah ketika kita berbuat baik, tapi dibalas luka.
Ketika kita mengulurkan tangan, tapi yang kembali adalah kata-kata meremehkan.
Ketika kita berharap diperlakukan manusiawi, tapi malah dijadikan pelampiasan emosi, tempat singgah sementara, atau pilihan cadangan.

Banyak dari kita yang berjalan sambil bergumam di hati:
“Kenapa aku selalu jadi yang paling mudah disakiti?”
“Kenapa kebaikanku dianggap lemah?”
“Kenapa aku selalu jadi orang yang terakhir diingat, tapi paling dulu diandalkan?”

Dan yang paling menghantam adalah ketika kita akhirnya sadar:
kita tidak pernah menjadi “prioritas” bagi siapa pun.

Pedih?
Sangat.
Tapi itulah kehidupan sebagian besar dari kita.

Namun ada satu kebenaran yang sering terlambat kita sadari…

Setiap kali manusia merendahkan kita, itu bukan akhir cerita. Itu hanya awal dari bagaimana Allah meninggikan kita.

Ketika mereka menghina, itu bukan cerminan diri kita, itu cerminan hati mereka.
Ketika mereka menyepelekan, itu bukan ukuran nilai kita, itu ukuran kebutaan mereka.
Ketika mereka memanfaatkan kebaikan kita, itu bukan kerugian kita, itu hanya menunjukkan siapa sebenarnya mereka.

Dan kalau sudah sampai tahap disakiti tanpa alasan, diremehkan tanpa belas kasihan, atau dimanfaatkan tanpa hati…
maka urusannya bukan lagi dengan kita,
tapi dengan Allah langsung.

Karena Allah tidak pernah tidur.
Allah tidak pernah lalai.
Allah tidak pernah diam ketika hamba-Nya dizalimi, diremehkan, atau disakiti.

Kadang Allah membiarkan kita dilukai agar kita tahu siapa yang pantas mendapatkan tempat di hati kita, dan siapa yang tidak.
Kadang Allah membiarkan kita disingkirkan agar kita berdiri lebih dekat pada-Nya.
Kadang Allah membiarkan orang lain menghina kita agar kita paham bahwa harga diri tidak pernah berasal dari mulut manusia.

Dan ketika manusia memandang rendah, Allah memandang tinggi.
Ketika manusia menolak, Allah menerima.
Ketika manusia berpaling, Allah mendekat.

Itulah sebabnya… di tengah semua rasa sakit, ada ketenangan yang tiba-tiba muncul.
Sebuah rasa damai yang tidak datang dari dunia, tapi dari Tuhan yang maha mengetahui semuanya, bahkan luka yang tidak pernah kita ceritakan pada siapa pun.

Mungkin kita tidak sempurna seperti orang lain.
Mungkin kita tidak punya kelebihan yang membuat dunia bertepuk tangan.
Mungkin kita tidak masuk standar manusia yang sering berubah-ubah.

Tapi kita selalu cukup bagi Allah.
Cinta-Nya tidak menuntut kita menjadi siapa-siapa.
Kasih-Nya tidak meminta kita menjadi sempurna.
Rahmat-Nya tidak pernah memandang fisik, status, atau kekuatan.

Dan itu cukup.

Sebab manusia bisa mencintai hari ini lalu mengecewakan besok.
Manusia bisa memuji hari ini lalu menghina di belakang.
Tapi Allah?
Allah mencintai tanpa jeda.
Allah menjaga tanpa batas.
Allah membalas setiap kebaikan sekecil apa pun, bahkan yang tidak terlihat mata manusia.

Jadi, untuk semua yang pernah merasa tidak cukup,
yang pernah diremehkan,
yang pernah dipandang rendahan,
yang pernah dimanfaatkan sampai hancur, 
ingat satu hal:

Harga dirimu tidak ditentukan oleh mereka.
Harga dirimu ditentukan oleh Allah.

Dan selama Allah mencintaimu,
maka tidak ada satu pun penghinaan manusia yang bisa merendahkanmu.


Tiga Tahun Mengetuk Pintu, Hingga Allah Membukanya




Ada perjalanan yang tak pernah terlihat oleh mata orang lain.
Ada lelah yang tidak tercatat dalam laporan, tetapi tercetak dalam tulang belakang seseorang yang terus berdiri.
Ada doa yang tidak bersuara, tetapi mengguncang langit.
Dan itulah perjalanan kecilku bersama LKSA Peduli Sahabat Batang.

Tahun 2022, aku memberanikan diri mengirim proposal.
Dengan harapan sederhana: agar yayasan kecil ini punya napas untuk berjalan.
Belum ada jawaban.

Tahun 2023, aku kirim lagi.
Masih dengan keyakinan yang sama, meski jalannya terasa makin panjang.
Belum ada titik terang.

Tahun 2024 aku tetap mengetuk pintu yang sama.
Sampai akhirnya…
Tahun 2025, setelah tiga tahun menunggu,
pintu itu benar-benar dibukakan oleh Allah.
Dana hibah itu cair.
Dan aku menangis… bukan karena nominalnya,
tapi karena akhirnya yayasan ini diperhatikan.

 

Delapan tahun kami berjalan tanpa sarana prasarana.
Delapan tahun semua alat kerja adalah milikku pribadi
laptopku, meja kerjaku, printerku, semua kupakai untuk yayasan.
Sampai dua laptopku rusak dipakai untuk kerja sosial.

Aku masih ingat hari itu…
Laptopku mati total.
Tepat saat deadline tugas-tugas LKSA menumpuk.
Dan aku duduk lama… bingung harus bagaimana.
Sampai akhirnya aku menyewa laptop hanya untuk menyelesaikan laporan.
Begitu berat.
Tapi tetap kulakukan karena amanah ini bukan main-main.

Di titik paling lelah itu, Allah kirimkan bantuan:
seorang sahabat alumni SMA,
yang dengan kebaikan hatinya berkata,
“Pakai laptopku dulu an”
Dan hari itu… aku merasa seperti diberi napas.

Laptop pinjaman itu menjadi nyawa yayasan.
Menjadi jembatan agar semua laporan bisa selesai.
Menjadi bukti bahwa Allah menolong lewat tangan-tangan yang tak disangka.

Dan kini…
Yayasan kecil yang dulu tak punya apa-apa,
pelan-pelan bisa membeli laptop sendiri, komputer sendiri, meja, kursi, lemari arsip, perlengkapan kantor, dan semua kebutuhan dasar.

Bukan karena kami hebat.
Tetapi karena Allah menggerakkan hati banyak orang baik.

 

Hari ini, LPJ itu akhirnya selesai dan diserahkan.
Tebal, rapi, penuh perjuangan,
penuh malam tidak tidur, penuh kekhawatiran yang aku simpan sendiri.
Tapi juga penuh kelegaan…
karena untuk pertama kalinya, yayasan ini berdiri dengan fasilitas yang layak.

Aku menuliskan ini bukan untuk membanggakan diri
tetapi untuk mengingatkan diriku sendiri:

Bahwa doa yang terus dipanjatkan tidak pernah sia-sia.
Bahwa perjuangan sunyi suatu saat akan berbuah.
Bahwa kalau niatnya baik, Allah akan menolong dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dan bahwa setiap langkah kecil yang kutapakkan hari ini,
adalah hadiah dari tiga tahun yang tidak pernah berhenti mengetuk pintu.

Alhamdulillah…
Alhamdulillah…
Alhamdulillah ya Rabb.

LKSA Peduli Sahabat Batang,
semoga terus menjadi rumah bagi banyak harapan.
Dan semoga Allah menjaga setiap amanah yang dipercayakan kepada kami.

















Di antara langkah pelan yang masih kujaga

Jika ada bab yang belum selesai, 

semoga Engkau selesaikan dengan cara-Mu yang paling lembut. 

Jika ada pintu yang tertutup, 

semoga Engkau bukakan yang lebih baik. 

Aku serahkan semuanya kepada-Mu, Ya Allah.


Barangsiapa bertakwa, Allah cukupkan segala urusan.

Wa man yattaqillaha yaj‘al lahu makhraja  

Wa yarzuq-hu min haitsu la yahtasib  

Wa man yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuh  

Inna Allaha balighu amrih  

Qad ja‘ala Allahu likulli shai’in qadra

Ayat 1000 Dinar (QS. At-Talaq 2–3)


“Takwa membuka jalan, tawakkal menenangkan hati. Rezeki hadir dari arah yang tak pernah kita kira. Ayat 1000 Dinar bukan sekadar bacaan, ia adalah janji yang menguatkan jiwa.”

Hayati Bayati Arruhi Bimahi

Hidupku adalah rumah bagi ruhku, disirami oleh air kehidupan.  

Di setiap helai napas, aku menemukan rumah bagi ruhku. Tempat yang sunyi, namun penuh gema doa. Air kehidupan mengalir, membersihkan luka, menumbuhkan harapan, dan menenangkan segala resah.  

Kadang hidup terasa rapuh, seperti dinding rumah yang retak. Namun ruh tetap bersemayam, mencari cahaya, meneguhkan langkah. Air itu, rahmat yang tak pernah kering, menjadi saksi bahwa setiap perjalanan adalah bagian dari penyembuhan.  

Aku belajar bahwa hidup bukan sekadar waktu yang berlalu, melainkan wadah bagi ruh untuk tumbuh. Dan air kehidupan adalah pelukan lembut dari Sang Pencipta, mengingatkan bahwa setiap kesedihan bisa larut, setiap kegembiraan bisa mekar.  



"Di rumah hidupku, ruhku beristirahat; dan air kehidupan terus menulis puisi yang tak pernah selesai."



Scorpio

Kenapa Suka Menunda Kerjaan

(tapi tetap bisa selesai dengan total?)

01. Scorpio bukannya malas, tapi mereka butuh mood & energi emosional yang pas. Scorpio bukan tipe “kerja asal kelar.” Kalau belum klik secara mental dan emosional, mereka bakal menunda. Tapi bukan berarti lupa, mereka menunggu momen “klik batin” itu datang. Dan kalau sudah datang… semua dikerjakan sampai tuntas, bahkan dengan hasil yang sempurna. 

“Kalau hatiku belum ikut kerja, otakku juga gak akan jalan.”

02. Scorpio punya sistem kerja yang misterius dan intuitif. Mereka bisa terlihat nyantai, rebahan, atau scrolling TikTok sambil ngemil, tapi dalam otaknya mereka sedang menyusun strategi internal. Kayak ngebangun puzzle besar di kepala saat waktunya pas, tinggal eksekusi semuanya sekaligus.

03. Karena Scorpio butuh kontrol penuh, mereka gak suka dipaksa kerja dalam tekanan orang lain. Mereka ingin merasa bahwa merekalah yang memilih waktu dan cara menyelesaikannya. Makanya, terkesan “santai dulu,” padahal itu bagian dari proses membangun kekuatan batin.

04. Scorpio si moodie. Begitu mood-nya dapet, mereka akan kerja kayak mesin perang: fokus, teliti, dan gak bisa diganggu. Bahkan sampai lupa makan atau tidur. Scorpio itu kayak “singa tidur” terlihat malas, tapi sekalinya bangun? Habis semua.

05. Suka nyantai dulu, padahal banyak kerjaan. Tapi itulah gaya Scorpio: menunda bukan karena malas, melainkan karena mereka tahu kapan energi batin harus dipakai. Sekali bergerak, hasilnya selalu total.


Allahumma Barik

𝘚𝘦𝘭𝘢𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨

Selasa tiba seperti embun

yang jatuh perlahan di tepi hari

tak bersuara, tapi mampu menenangkan

segala gelisah yang semalam belum sempat pulang.


Ada bisik lembut di balik langit:

bahwa hidup selalu diberi kesempatan baru

meski langkah sempat gemetar,

meski hati kadang letih mencari arah.


Ya Allah…

pada Selasa yang lembut ini,

tambahkan keberanian dalam diam kami,

dan selimuti perjalanan ini

dengan penjagaan-Mu yang tak pernah alpa.


Bila beban terasa berat,

jadikan ia tangga menuju penguatan.

Bila harapan terasa jauh,

dekatkan ia dengan cara-cara-Mu yang indah.


Karena kami percaya

setiap pagi adalah pertanda cinta,

setiap hari adalah tempat doa berlabuh,

dan Selasa pun memiliki cahaya

bagi siapa saja yang mau melihatnya.


Aamiinn. 



Sunyi yang Menyembuhkan

 Wa istagni ‘amman syi’ta takun nadziroh

Berlepaslah dari siapa pun yang kau kehendaki, niscaya kau menjadi pemberi peringatan.

Ada saat di mana sunyi justru menjadi ruang penyembuhan. Dalam kesepian, kita belajar bahwa tidak semua orang akan mendengar, tidak semua akan menerima. Namun tugas kita tetap sama: menyampaikan kebaikan.

Refleksi

  • Sunyi bukan berarti berhenti, melainkan kesempatan untuk mendengar suara hati.

  • Menyampaikan kebaikan tidak harus ramai, cukup ikhlas dan konsisten.

  • Peringatan yang lahir dari ruang sederhana bisa lebih menyentuh daripada panggung besar.





Jangan takut pada sepi. Justru di sanalah niatmu diuji.

Kebaikan tidak selalu mendapat tepuk tangan. Tapi ia selalu bernilai di sisi Allah.

Dzikir di Ujung Malam

Alhamdulillahi robbil 'alamin

aku bersyukur, bukan karena segalanya mudah,  

tapi karena dalam gelap pun,  

ada cahaya yang tak pernah padam.  


Alhamdulillahi 'ala kulli haal

dalam tawa yang lirih,  

dalam tangis yang tak sempat dijelaskan,  

dalam diam yang hanya Engkau pahami.  


Aku duduk di antara sajadah dan langit,  

membawa luka yang telah kupeluk,  

dan harapan yang tak pernah lelah mengetuk pintu-Mu.  


Malam ini, aku tidak meminta dunia,  

aku hanya ingin Engkau tetap dekat,  

menyentuh hatiku dengan kelembutan-Mu,  

menguatkan langkahku dengan ridha-Mu.  


Inna haza larizquna ma lahu min nafad 

Engkau beri tanpa batas,  

bahkan saat aku hanya mampu membawa air mata.  

Rezeki-Mu bukan hanya harta,  

tapi juga ketenangan,  

kesabaran,  

dan cinta yang tak pernah meninggalkan.  


Jumat pun datang seperti pelukan dari langit,  

mengusap lelah yang tak terlihat,  

menguatkan hati yang terus bertahan.  

Dan aku tahu,  

di antara bintang dan bisikan doa,  

Engkau mendengarku.


DERITA YANG KUCINTA

Aku mencinta takdirku,

Meski setiap helaan napas terasa pedih,

Meski luka menari di relung hatiku,

Aku tetap bertahan…

Hanya karena Engkau, Ya Allah,

Menyaksikan kesetiaanku dalam sepi.


Tugasku sederhana: bertahan.

Bertahan menahan rindu akan kebahagiaan

Yang entah kapan akan Engkau kirimkan,

Atau menanti kematian memelukku perlahan.


Aku takut, Ya Rabb…

Takut hati ini jauh dari cahaya-Mu,

Takut Engkau meninggalkanku dalam gelap,

Namun aku tahu…

Setiap air mata, setiap derita,

Adalah bait-bait cinta-Mu padaku,

Yang meski pahit, tetap harus kucintai




Di Beranda yang Sunyi


Di beranda yang sunyi, waktu berhenti,

seorang jiwa duduk, berselimut pagi.

Genggaman ponsel, bukan sekadar benda,

ia menyimpan cerita, tawa, dan tanya.


Langit tak bicara, tapi daun mengerti,

bahwa diam pun bisa menjadi puisi.

Tiang kuning berdiri, saksi hari-hari,

di mana harapan tak pernah pergi.


Tanaman di pot, kecil tapi setia,

menemani langkah yang tak selalu nyata.

Dan jendela hijau, memantulkan dunia,

yang kadang jauh, kadang terasa dekat di dada.


Di kursi roda, bukan lelah yang terpeta,

melainkan kekuatan yang tak semua bisa baca.

Ia duduk, ia hidup, ia ada

dengan cara yang lembut, tapi luar biasa

"Yang Dikhianati Tak Pernah Benar-Benar Kalah"

Pernah ku jatuh dalam luka,

Dikhianati tanpa sedikit pun curiga.
Aku menangis, bukan karena lemah,
Tapi karena percaya yang salah.

Aku tak melawan, hanya diam.
Kutitipkan pedih pada Tuhan yang paham.

Lalu waktu berjalan...

Mereka yang menyakiti kini runtuh,
Saling menyakiti, saling menghancurkan.

Sementara aku?
Bangkit.
Berkembang.
Dan dicintai oleh seseorang yang tak perlu ku minta untuk setia.

Dulu aku dianggap biasa,
Kini aku jadi perempuan luar biasa.

Tak perlu balas dengan dendam,
Cukup buktikan...

Yang sabar selalu menang di akhir kisah.


DIAM ITU......

Diam itu...bukan karena kita lemah...  

Tapi karena kita yakin, Gusti Allah mboten sare.  

Maka kita diam, lalu doakan.  

Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minaz zhaalimin.  

Ya Allah, ya Jabbar, peneguh hati yang rapuh.




CERPEN TERBARUKU

Ceraikan istrimu dulu!"

Kalimat itu terus terngiang di telinga Tiara…

Saat tahu dia bukan satu-satunya, dan hanya jadi batu loncatan demi cinta laki-laki pengecut kepada perempuan lain.

Tapi hidup belum selesai…

Dan Allah belum selesai membalas segalanya.

📌 Cerpen based on true story — coming soon!

🩶 Judul: Ceraikan Istrimu Dulu!

💌 Siapa yang lagi di posisi Tiara?

Stay tune…


Terima kasih, diriku…

Terima kasih, diriku…

untuk malam-malam panjang yang kamu lalui sendiri,
untuk doa-doa yang tak terdengar,
untuk tangis yang tak pernah kamu tunjukkan.
Aku bangga padamu…
karena sejauh ini, kamu tidak hilang—
kamu tetap memilih bertahan.



Untuk kamu, yang ada di cermin…

aku tahu lelahmu,

aku tahu luka yang kamu simpan diam-diam.

Tapi lihatlah,

kamu tetap di sini
masih berdiri, masih berjuang.
Terima kasih, ya.

Untuk Diriku yang Masih Bertahan

Terima kasih, diriku…

Untuk pagi-pagi yang kamu Jalani meski semalam kamu menangis.

Untuk tetap tersenyum di depan banyak orang,

Padahal hatimu sedang remuk di dalam diam.


Terima kasih,

Sudah memilih sabar,

Padahal kamu punya banyak Alasan untuk menyerah.

Sudah memilih diam,

Padahal kamu ingin sekali didengar.


Aku tahu, kamu pernah lelah.

Pernah merasa sendiri.

Pernah merasa tidak ada yang paham.

Tapi kamu tetap melangkah.

Tidak sempurna, tapi sungguh luar biasa.


Diriku yang tercinta…

Maaf jika selama ini aku terlalu keras padamu,

Menuntutmu untuk kuat terus,

Padahal kamu juga butuh pelukan,

butuh jeda, butuh istirahat.


Hari ini,

Aku ingin bilang:

Kamu hebat.

Bukan karena kamu tak pernah jatuh,

Tapi karena kamu selalu mau bangkit, meski berkali-kali roboh.



Terima kasih…

Sudah bertahan sejauh ini.

Insyaa Allah, pelan-pelan… Semua akan terbayar.

Bukan hanya di dunia, tapi juga di sisi-Nya.


Peluk untuk diri sendiri,

Karena tidak ada yang lebih Tahu perjuanganmu, selain Allah dan dirimu sendiri.

PENULIS ITU....

Ada jiwa yang tak bisa diam.  

Setiap detik jadi cerita, setiap rasa jadi aksara.  


Kadang aku menulis tentangka

Saat dunia terasa sempit dan kata jadi pelarian.  

Kadang tentangmu, atau mereka 


Puisi, cerpen, fragmen.  

Semua berujung sama:  

Cara tubuhku merawat luka  

Dan hati belajar memaafkan.


Karena bagi seorang penulis,  

Hidup bukan sekadar dijalani

Ia harus dituliskan.


CAPEK GA?

“Capek, ga?”

Pertanyaan itu terdengar biasa.

Tiga kata pendek, tanpa hiasan,

tapi bisa membelah sunyi yang kita peluk rapat-rapat setiap malam.


Karena sering kali…

yang kita butuhkan bukan solusi,

bukan nasihat panjang,

tapi pengakuan bahwa apa yang kita rasa… nyata.

Bahwa lelah ini bukan cuma ada di dalam kepala.


“Capek, ga?”

Itu bukan sekadar tanya.

Itu cara paling halus untuk berkata:

“Aku lihat kamu,

dan aku tahu kamu berjuang.”


Kadang kita jawab,

“enggak kok…” sambil senyum kecil,

padahal dada rasanya sesak seperti langit yang menahan hujan.

Seolah kata-kata itu terlalu sempit

buat menjelaskan beratnya bertahan sendirian.