TERNYATA

Ternyata... 

Ada spasi dalam kata,  

agar makna bisa dirangkai,  

ada jeda dalam suara,  

agar pesan dapat sampai.  


Ada henti dalam langkah,  

bukan untuk menyerah,  

tapi agar jejak yang tertinggal,  

tak lagi keliru terbaca.  


Belajarlah dewasa,  

bukan hanya dengan waktu,  

tetapi tahu,  

kapan menjaga, kapan melepaskan,  

dan kapan melangkah kembali.




DALAM PELUKAN LANGIT SENJA

Di ufuk barat, mentari perlahan tenggelam,

Langit dilukis jingga, merah, dan kelam,

Aku duduk di pasir, angin laut bersenandung,

Gelombang menyapa kaki, pelan namun agung.


Di sebelahku kamu, diam tapi bicara,

Lewat tatapmu yang teduh, lewat senyum yang sederhana,

Tak perlu kata—laut sudah cukup jadi saksi,

Betapa senja memeluk kita dalam harmoni.


Pantai jadi rumah saat dunia terasa berat,

Tempat kuletakkan beban, kutemukan hangat,

Di sana, aku menulis, tak selalu dengan pena,

Kadang hanya menatap laut, dan segalanya jadi makna.



Aku, senja, pantai, dan kamu

Sebuah puisi yang tak ingin kutamatkan dulu

RELAWAN SOSIAL



Di jalan sunyi penuh debu dan duri,
Melangkah tanpa ragu, tanpa pamrih.
Hati kecil membawa terang,
Meski badai tak henti menghadang.

Tanganmu adalah pelita bagi mereka,
Yang kehilangan harapan di tengah derita.
Kau bangun kembali senyum yang redup,
Dengan cinta, kau teguhkan yang hampir runtuh.

Tak jarang lelah merayap dalam diam,
Namun tekad ini tak pernah padam.
Rintangan datang seperti gelombang,
Namun hatimu tetap kuat, tetap tenang.

Dalam gelap kau menyalakan cahaya,
Meski sering sendiri di tengah bahaya.
Tak kau hitung peluh yang tercurah,
Karena kasih adalah nafas yang kau pasrah.

Wahai relawan, pahlawan tanpa tanda,
Kau adalah bukti cinta masih ada.
Meski dunia sering abai akan kisahmu,
Alloh tahu setiap langkah perjuanganmu.

Tetaplah berdiri, meski angin mengguncang,
Kau adalah harapan yang takkan hilang.
Karena lewat tanganmu yang penuh kasih,
Dunia belajar apa arti berbagi.


14rajab
_Ana Lksa PSB_

AKU DAN TULISANKU

 Aku dan Tulisanku

Kata-kataku tumbuh dari rindu,  

melayang bebas di antara sunyi,  

setiap huruf adalah denyut nadiku,  

setiap kalimat adalah cerminan diri.  


Tulisanku adalah senja yang bicara,  

menyimpan rahasia dalam warna,  

ia tak sekadar tinta di atas kertas,  

ia adalah aku—utuh dan nyata.  


Di antara dunia yang gaduh,  

ia menjemputku dengan lembut,  

menjadi suara saat aku tak bersuara,  

menjadi rumah saat dunia terasa jauh


SENJA & DIA

Langit memerah perlahan,

Mentari pamit pulang dengan tenang,

Aku duduk memeluk sunyi,

Di sampingku—dia, menatap laut yang sepi.


Ombak datang dan pergi tanpa janji,

Tapi kami diam, tak perlu banyak arti,

Hanya suara alam, hembusan angin,

Dan detak hati yang diam-diam saling ingin.


Pantai jadi tempatku bercerita tanpa suara,

Saat dunia terlalu ramai, dan kepala penuh kata,

Kupilih duduk lama, biar pikiran reda,

Biar aku dan dia menyatu dengan senja.


Aku suka laut, gelombang, dan langit terbuka,

Tapi yang paling membuatku lupa segalanya—dia,

Dia yang tak berkata apa-apa,

Tapi hadirnya seperti doa yang selalu kupinta


AKU DAN TULISANKU

 Di atas kertas yang bisu,  

kutulis rindu dalam aksara,  

huruf-huruf berbaris rapi,  

menjadi suara hatiku yang tak bersuara.  


Aku dan tulisanku,  

berjalan beriringan dalam sunyi,  

menjadi saksi perjalanan,  

antara mimpi dan realita yang berselimut sepi.  


Tinta mengalir seperti sungai,  

membawa kisah yang tak terucap,  

tentang aku, tentang dunia,  

tentang cinta yang tak ingin lenyap.  


Aku dan tulisanku,  

tak terpisahkan oleh waktu,  

sebab kata adalah cahaya,  

yang menuntun langkahku