Hari yang Penuh Isyarat

 Di balik sakit dan listrik padam, ada semangat yang tetap menyala

Hari ini terasa begitu padat, penuh kejadian yang datang bertubi‑tubi. Tubuhku sedang sakit, tapi tetap harus menanggapi pesan dari dinas yang meminta soft file lama, sesuatu yang sudah bertahun‑tahun tersimpan.

Belum selesai urusan itu, listrik mati seharian. Tugas yang harusnya bisa kuselesaikan jadi tertunda, dan di saat yang sama ada kabar dari pengadilan yang membuat hatiku bergetar.

Ketika listrik kembali menyala, aku membuka WhatsApp. Grup LKKS sudah ramai dengan surat undangan untuk Senin besok. Rasanya seperti dunia bergerak cepat, sementara aku masih berusaha menata langkah.

Di tengah semua itu, aku tetap berusaha menulis. Novel untuk kompetisi harus selesai 30 bab dalam 17 hari. Alhamdulillah, sudah 11 bab kutuntaskan. Meski sakit, meski listrik mati, meski pikiran bercabang ke pengadilan dan undangan, aku tetap menulis.

Hari ini mengajarkanku bahwa hidup memang penuh kejutan. Ada sakit, ada tugas, ada listrik padam, ada panggilan pengadilan, ada undangan mendadak. Tapi ada juga semangat yang terus hidup, ada doa yang terus terucap: Allahumma yassir wa laa tu’assir.

Aku belajar menerima bahwa semua ini bagian dari perjalanan. Aku tidak bisa mengendalikan segalanya, tapi aku bisa memilih untuk tetap melangkah, tetap menulis, tetap berharap.

Fa inna ma’al ‘usri yusra. Inna ma’al ‘usri yusra



BAB 6 UPDATE - HARAMKAH - LANGIT DIDADA

Liburan keluarga Raka yang seharusnya menyenangkan mendadak berakhir.

Satu telepon mengubah semuanya.

Ibunya dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani perawatan intensif di ICU.

Di tengah kecemasan sebagai seorang anak, Raka juga dihadapkan pada janji yang telah ia berikan kepada Sabrina.

Perjalanan ke luar negeri.

Honeymoon yang sudah lama mereka rencanakan.

Namun saat keluarga sedang diuji seperti ini...

masih pantaskah ia pergi?


HARAMKAH..? - Langit Didada *Chapter : JANJI YANG TERTUNDA* Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah: https://kbm.id/book/read/a8200d42-1d6c-4a3d-8745-f6f9f97fa407/df88d094-eede-476d-b11f-fd2faa8bad99

BELAJAR DARI BINTANG – Zoom Hari Ini




 

Masyaa Allah, sesi perdana BDB KBM bersama Bapak Isa Alamsyah, CEO KBM App. Dari tanda tangan di surat perjanjian, kini satu frame langsung penuh inspirasi 📚

Dilanjutkan sesi kedua bersama Asma Nadia, dengan bintang tamu Dr. Helvy Tiana Rosa. ✍️ Menulis Tanpa Menunggu Mood 🔥 Sebuah pelajaran berharga: konsistensi lebih penting daripada menunggu mood datang


Update Novel KLI 17

Alhamdulillah, "Cintai Aku Karena Allah" sudah sampai Bab 7. 🤍

Dan jujur...

Aku tidak menyangka akan menangis saat menulis beberapa adegannya.

Terutama saat seorang gadis kecil bernama Gladis diberi kesempatan meminta hadiah, namun justru memilih berbagi dengan anak-anak panti asuhan.

Perjalanan Gladis masih panjang.

Masih banyak rahasia yang belum terungkap.

Masih banyak ujian yang menanti.

Bismillah menuju 30 bab.

Doakan penulis istiqamah sampai selesai ya.





Pancasila, Nafas Persatuan By Langit Didada

Di tanah yang terbentang dari sabang hingga merauke,

berjuta langkah menapaki jalan yang sama.

Berbeda bahasa, adat, dan warna,

namun tetap satu dalam cinta Indonesia.


Pancasila hadir bagai pelita,

menerangi jalan bangsa yang beragam.

Menuntun hati untuk saling menghargai,

menguatkan tangan dalam semangat gotong royong.


Ketuhanan menjadi cahaya jiwa,

kemanusiaan menjadi wajah bangsa.

Persatuan menjelma ikatan yang kokoh,

musyawarah menghadirkan kebijaksanaan,

keadilan menjadi cita-cita bersama.


Hari ini, kita mengenang lahirmu,

bukan sekadar sebagai dasar negara,

melainkan sebagai janji yang terus dijaga,

agar Indonesia tetap berdiri megah dan bermartabat.


Wahai Pancasila,

engkau bukan hanya rangkaian kata,

engkau adalah nafas persatuan,

yang menghidupkan harapan di setiap generasi.


Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila

1 Juni 2026

Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia


https://www.wattpad.com/1632980398-pancasila-nafas-persatuan

KLI 17 - KBM App

Bismillah

Dengan penuh rasa syukur, novelku yang berjudul *Cintai Aku Karena Allah* resmi mengikuti Kompetisi Literasi Indonesia (KLI) 17 di KBM App.

📖 Sebuah kisah tentang perjuangan, luka, kesabaran, kehilangan, dan perjalanan hati dalam mencari cinta yang diridhai Allah.

Perjalanan ini masih panjang, target masih banyak, dan bab demi bab masih harus ditulis. Namun aku percaya, setiap langkah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa kita lebih dekat pada tujuan.

Mohon doa dan dukungannya, semoga Allah memudahkan proses penulisan hingga tamat dan menjadikan karya ini bermanfaat bagi banyak orang. 🤲

Karena 30 bab tidak ditulis dalam satu hari.

30 bab diselesaikan satu per satu, dengan sabar dan istiqamah. 

Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung dan mendoakan. Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan keberkahan yang berlipat ganda. 



“Suamiku Lukaku: Luka yang Terkunci”

Menulis Suamiku Lukaku adalah perjalanan hati. Setiap kata lahir dari luka yang pernah ada, lalu perlahan berubah menjadi makna. Bab awal terbuka untuk semua pembaca, sebagai pintu pertama menuju cerita. Namun bab berikutnya kini lock, hanya bisa unlock dengan koin di KBM App.

Lock bukanlah akhir, melainkan tanda eksklusif. Ia menjadi simbol bahwa kisah ini dititipkan kepada pembaca yang benar-benar setia. Semoga setiap bab yang terbuka bukan sekadar hiburan, tapi juga cermin kehidupan, doa, dan inspirasi.

📖 Suamiku Lukaku — Langit di Dada



Suamiku Lukaku — Langit di Dada Bab awal terbuka, bab berikutnya lock… unlock dengan koin. 📖 Klik di sini: http://kbm.id/book/detail/f5d2b01b-667d-4e7b-a4c3-b414808e0f9b

CERPEN - “Iduladha di Dusun Negeri Angin”

Menjelang siang, matahari sudah mulai naik tinggi. Panitia mulai membereskan peralatan, anak-anak yang tadi main kejar-kejaran kini duduk kecapekan sambil makan es lilin, dan Ibu-ibu… tentu masih berkumpul, belum bubar. Mak-mak kalau sudah kumpul itu ibarat rapat desa tanpa agenda, ngalor-ngidul tapi seru.

Bu Mirna masih memandangi plastik dagingnya seperti memandangi mantan yang tidak sesuai ekspektasi.

“Cuma segini… rasanya tuh… kayak nunggu chat yang tak pernah dibalas,” gumamnya.

Bu Rina langsung ngakak sampai melorot jilbabnya.

“Ya ampun Mirna, kamu tuh puitis banget kalau lagi kecewa.”

“Terserah. Yang penting sore ini aku mau masak juga, tapi jadi bingung mau masak apa…”

Tiba-tiba Bu Tatik ikut nimbrung. Ibu satu ini terkenal suka berkomentar pedas, tapi justru dia yang paling jarang bantu-bantu panitia.

“Ya masak apa aja lah, Bu. Sedikit juga yang penting jadi. Kita ini harus bersyukur…”
Nada suaranya terdengar… menggurui.

Bu Rina bisik-bisik ke Bu Mirna:
“Itu mulut paling nyinyir sedusun. Sering bilang ‘bersyukur’ karena dia tadi dapat bagian yang paling banyak.”

Bu Mirnai langsung manyun,
“Iyaaa! Pantes ngomongnya gampang betul. Dia dapat bagian besar. Kalo dapat kecil, pasti langsung bikin IG story ‘Dunia tidak adil’.”

Ibu-ibu lain langsung ngakak.

Bu Tatik yang merasa dirinya sedang diperhatikan mendadak mendekat,
“Apa tuh? Pada ketawa apa? Cerita lucu yaaa?”

Ibu-ibu kompak jawab,
“Lagi bahas resep masakan, Bu!”

Padahal tidak ada hubungannya sama resep.

Di pojokan balai, tampak Pak Karman dan anaknya yang kemarin upload foto sapi.

Si anak tampak gelisah karena sejak pagi banyak ibu-ibu nyeletuk,
“Lho, sapinya mana nak? Kok nggak disembelih di sini?”

Anaknya sudah lelah senyum palsu.

“Astaghfirullah… salah sendiri ngaku-ngaku,” bisik Bu Mirna.

Bu Rina menoyor lengannya,
“Jangan gituu… kasian kalau didenger. Tapi ya memang salah sendiri sih.”

Sementara itu, Mbah Dargo sudah pulang. Setelah sekian kali bolak-balik mengawasi timbangan digital yang dia tidak percaya, akhirnya beliau duduk di kursi depan rumah sambil nyeruput kopi.

“Yen panitia akeh ngono, yo sing nimbang gantian wae, ben ora curiga terus…” gumamnya, meski tidak ada siapa pun yang dimintai pendapat.

Istrinya cuma geleng-geleng.

“Mbah iki, urip kok isine curiga thok…”

Sore harinya, aroma masakan mulai merebak di seluruh Dusun Negeri Angin. Masing-masing rumah punya menu andalan.

Ada yang bikin sate, ada yang bikin gulai, ada yang bikin sop. Ada juga yang cuma bikin tumisan daging tipis karena bagian yang mereka dapat belum cukup buat satu piring besar.

Di rumah Bu Mirna, keadaan dapur seperti lokasi lomba memasak dadakan.

Bu Rina datang membawa tambahan daging seperti janjinya tadi.
“Ini yaaa… aku tambahin dikit, biar gulaimu nggak cuma rasa kuah.”

Bu Mirnai langsung memeluknya dramatis,
“Rinn… kamu tuh pahlawan keluarga kecilku!”

“Ya ampun lebay banget, Mir. Masak sanaaa!”

Mereka berdua akhirnya memasak bersama. Sambil nguleg bumbu, sambil gibah manis, sambil ngakak tiap kali ingat kejadian pagi tadi.

“Rin… kamu lihat ekspresi Bu Tatik waktu dipanggil dapat jatah? Kayak mau photoshoot majalah dapur!”

“HAHHAHA iyaaa! Dan dia sempat bilang, ‘Ah sedikit…’ padahal itu paling banyak!”

“Makanya… yang nyuruh orang lain bersyukur itu biasanya yang bagiannya paling gede!”

Mereka berdua ngakak lagi sampai harus pegangan meja.

Saat waktu Maghrib tiba, dusun itu terdengar sangat damai.

Suara takbir bersahutan dari musala kecil, aroma masakan menguar dari setiap rumah, dan para warga, meski sempat ada drama kecil, keluhan, dan nyinyiran, tetap duduk makan malam bersama keluarga masing-masing dengan hati hangat.

Di rumah Bu Mirna, gulai akhirnya jadi.

Tidak terlalu banyak memang… tapi cukup membuat seluruh keluarga makan dengan senyum puas.

“Bu, enak banget…” kata anaknya.

“Yaiyalah, ini gulai perjuangan,” jawab Bu Mirna sambil bangga.

Bu Rina menyusul datang sambil bawa sepiring sate,
“Mir, aku bagi sate juga. Biar komplit hari ini.”

Bu Mirna sampai terharu,
“Masyaa Allah, Rin… kamu tuh memang temen sejati…”

“Udah udah, jangan lebay. Makan sanaaaa!”

Mereka berdua makan sambil saling cerita, sambil tertawa, sambil sesekali saling sindir.

Dan begitulah…
Hari Raya Kurban di Dusun Negeri Angin selalu penuh warna.

Ada drama, ada tawa, ada ibu-ibu julid, ada kakek suudzon, ada bapak-bapak sok sibuk, ada yang dapat bagian banyak, ada yang dapat bagian sedikit, ada yang ngaku-ngaku kurban sapi, ada yang upload foto palsu…

Tapi pada akhirnya, semua kembali pada satu hal:

Kebersamaan.
Keikhlasan.
Dan tawa-tawa kecil yang membuat kehidupan terasa ringan.

Karena di dusun seperti ini,
bahkan perbedaan ukuran plastik daging pun bisa jadi bahan cerita seru sampai tahun depan.

— Tamat —

 

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447H
Taqobalallahu minna wa minkum



© 2026 Langit Didada
Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang menyalin, mengutip, mempublikasikan ulang tanpa izin penulis

Di Antara Takbir dan Doa yang Diam


Di antara gema takbir yang bersahutan,

ada doa-doa yang diam-diam dilangitkan.

Tentang hati yang ingin tetap kuat,

tentang langkah yang ingin tetap taat.


Idul Adha mengajarkan ikhlas,

meski kadang hidup tak selalu jelas.

Tentang melepaskan yang berat,

dan percaya Allah selalu paling tepat.


Maka hari ini,

biarlah air mata menjadi doa,

biarlah rindu menjadi sabar,

dan biarlah segala luka perlahan Allah tukar dengan bahagia.


Taqabbalallahu minna wa minkum 

Semoga Allah menerima setiap ketulusan yang tak pernah sempat diceritakan.





PERJALANAN DZULHIJJAHKU

Di awal Dzulhijah, tubuhku sempat rapuh,

Namun hati tetap berbisik lirih:

“Ya Allah, sehatkan aku,

Aku ingin puasa penuh sembilan hari.”


Alhamdulillah, Engkau kabulkan,

Langkahku ringan, puasaku terjaga,

Sembilan hari tanpa halangan,

Hanya syukur yang mengalir deras di dada.


Hari Arafah pun tiba,

Air mata jadi saksi keikhlasan,

Doa untuk sahabat, doa untuk keluarga,

Doa untuk jiwa yang mendamba ketentraman.


Idul Adha menyapa dengan takbir agung,

Allahu Akbar menggema di langit dan bumi,

Mengajarkan arti pengorbanan,

Menguatkan hati dalam ridha Ilahi.


BERBUKA DI DZULHIJJAH 9

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melancarkan ibadah puasa dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah tanpa halangan apapun. Hati terasa ringan menjalankannya, meski di awal sempat sakit. Dalam sahur aku berdoa: “Ya Allah, sehatkan aku, aku ingin puasa full 9 hari.” Dan benar, doa itu Engkau kabulkan.

Terima kasih ya Allah atas kesehatan, kekuatan, dan ketentraman hati yang Engkau anugerahkan. Semoga puasa ini menjadi amal yang Engkau terima, dan menjadi jalan menuju ridha-Mu

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Laa ilaaha illallahu wallahu Akbar

Allahu Akbar wa lillahil hamd


Refleksi Dzulhijjah ke‑9

Semalam penuh doa, ba’da Isya aku tenggelam dalam dzikir:

Laa ilaha illallahu wahdahu la syarika lah… seribu kali, sebagai penguat tauhid di dada.

Selesai dzikir, aku melanjutkan berbuka, lalu menulis bab demi bab novel KBM. Malam ini aku tidak tidur, bergadang demi menyelesaikan bab kedua. Setelah rampung, aku berdiri dalam tahajud, lalu sahur, dan menunaikan sedekah subuh.

Usai shalat Subuh, aku tenggelam dalam lantunan Surah Al‑Ikhlas seribu kali, mengisi pagi dengan cinta kepada Allah.

Mumpung masih pagi, aku siapkan tenaga untuk siang nanti: mengedit video produk affiliate sebelum Asar, agar ikhtiar duniawi tetap berjalan seiring ibadah.





Mahkota Eksklusif di KBM

Alhamdulillah… delapan novelku kini eksklusif di KBM, dan profilku pun diberi mahkota. Bukan untuk berbangga diri, tapi sebagai pengingat bahwa setiap langkah kecil yang dijaga dengan ikhlas bisa berbuah pengakuan.

Mahkota ini bukan sekadar simbol, melainkan amanah agar aku terus menulis dengan hati, menjaga keaslian karya, dan menghadirkan cerita yang bisa menjadi cahaya bagi pembaca.

Semoga Allah senantiasa melapangkan hati, melapangkan rezeki, dan menguatkan langkah dalam setiap ikhtiar… 🤲



Kirain jam 4.20, ternyata masih 3.20 😅

Semalam aku tidur lebih awal, sekitar jam 10. Biasanya terbangun di jam 1 atau 2, tapi kali ini aku lihat jam sudah menunjukkan 4.20. Aku pun buru‑buru sahur dengan air putih, pisang, dan obat. Namun hati masih bingung, karena biasanya menjelang subuh terdengar lantunan sholawat dan bacaan Al‑Qur’an dari masjid, tapi kali ini sepi.


Aku buka jadwal imsakiyah, ternyata belum masuk subuh. Lalu aku cek HP, kaget sekali… ternyata baru jam 03.20. Ya Allah, aku salah lihat jam dinding yang tertutup lighting live streaming. Alhamdulillah, masih banyak waktu untuk sahur dan bisa tahajud.


Pagi ini aku belum selesai menulis bab baru, masih berupa kerangka dan coretan. Ada kejadian lain juga: aku beli antena TV indoor, ternyata tidak bisa dipakai. Sudah panggil ahli pemasangan, tapi beliau baik sekali, tidak mau menerima ongkos karena antena tidak jadi dipasang. Disarankan pakai antena luar rumah, insyaAllah nanti kalau ada rezeki.


Hari ini puasa Dzulhijjah berjalan lancar hingga maghrib. Alhamdulillah, setiap kejadian kecil terasa sebagai pelajaran: tentang waktu, tentang syukur, dan tentang kebaikan orang lain.



Cahaya Sedekah di Pagi Hari

Bismillah

Pagi selalu datang membawa pesan syukur. Di setiap langkah kecil berbagi, ada doa yang terbang ke langit, ada senyum yang tumbuh di wajah orang lain. Inilah catatan hati, refleksi sederhana tentang bagaimana Allah melapangkan rezeki lewat tangan yang memberi.

Ya Allah, Sang Maha Pemberi,

cukupkanlah aku dengan kasih-Mu,

lapangkanlah rezeki yang Engkau titipkan,

agar tangan ini tak pernah letih memberi.

Ya Razzaq, Ya Dzul Quwwah,

kuatkan langkah meski kursi roda menuntun,

jadikan setiap sedekah cahaya,

yang membahagiakan hati banyak insan.

Dan kembalikanlah, ya Rabb,

setiap yang keluar dari genggamanku,

dengan lipatan rahmat,

agar aku tetap bisa menjadi jalan kebaikan.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan kasih-Mu,

lapangkanlah rezeki yang Engkau titipkan,

agar aku tetap bisa memberi,

meski pundak ini lelah,

meski langkah ini terbatas.

Jadikanlah setiap sedekah cahaya,

yang menghapus gelap dari hati,

dan mengundang senyum dari banyak wajah.

Aamiinn..

Semoga setiap langkah untuk berbagi menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup kita. Semoga Allah melipatgandakan rezeki, menguatkan hati, dan menjadikan kita perantara kebahagiaan bagi banyak orang. Ya Allah, jadikanlah sedekah ini bukan sekadar pemberian, tetapi jembatan menuju ridha-Mu.



LANGKAH DI JALAN BERKAH

Bismillah

Langkah kecil di jalan sunyi,

menjadi jejak menuju cahaya.

Senyum yatim, doa dermawan,

bertemu di pintu keberkahan 

Aku hanyalah perantara amanah,

namun setiap amplop yang terbuka

adalah doa yang terbang ke langit,

mengetuk rahmat Allah tanpa henti.


"Ya Allah, di hari penuh berkah ini aku bersyukur atas para dermawan yang Engkau gerakkan hatinya untuk berbagi dengan anak-anak yatim.

Aku hanyalah perantara kecil yang menyalurkan amanah, namun setiap senyum mereka adalah cahaya yang menenangkan hati.

Rezeki mungkin datang dari arah yang tak terduga, kadang cukup, kadang kurang, namun Engkau selalu menjaga jalan kebaikan ini.

Selama ada niat tulus untuk menjadi jalan bahagia bagi orang lain, aku percaya Engkau akan menjaga langkah kami.

Kuatkan aku dalam puasa, dalam amanah sosial, dan dalam karya-karya yang kutulis.

Jadikan setiap Jumat sebagai pintu keberkahan, ketenangan, dan kekuatan baru.

Aamiin.



NOVEL BARU "HARAMKAH" SUDAH TAYANG

Menjadi istri kedua tidak pernah ada dalam rencana hidup Sabrina.

Di usia 23 tahun, saat banyak perempuan seusianya masih mengejar mimpi dan karier, Sabrina justru menerima pinangan seorang pria yang telah memiliki keluarga.

Raka.

Seorang pejabat kaya raya yang mapan, berwibawa, dan begitu mencintainya.

Pernikahan mereka sah.
Diakadkan dengan wali.
Disaksikan penghulu.

Namun keberadaannya harus disembunyikan dari dunia.

Di balik tembok tinggi rumah mewah yang menjadi hadiah pernikahannya, Sabrina hidup dalam cinta yang begitu besar. Raka memanjakannya, melindunginya, dan berjanji akan membahagiakannya.

Tetapi cinta saja ternyata tidak selalu cukup.

Karena di luar sana masih ada Dina, istri pertama yang belum mengetahui rahasia terbesar suaminya.

Ketika Sabrina mulai mengalami mual, lemas, dan keterlambatan yang mengarah pada satu kemungkinan besar, ketakutan itu perlahan muncul.

Bagaimana jika ia benar-benar hamil?

Akankah kebahagiaan mereka bertambah?

Atau justru menjadi awal dari terbongkarnya rahasia yang selama ini dijaga mati-matian?

Sebuah kisah tentang cinta, pengorbanan, rahasia, dan pilihan yang tidak pernah mudah.

📖 Ikuti perjalanan Sabrina dan Raka dalam novel "Haramkah?"

Karena terkadang...

yang paling menyakitkan bukanlah mencintai orang yang salah.

Melainkan mencintai orang yang halal, tetapi harus terus bersembunyi.



Ikuti kisah misteriusnya di HARAMKAH..? - Langit Didada *Chapter : AKAD DALAM SUNYI, CINTA DALAM SEMBUNYI* Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah: https://kbm.id/book/read/a8200d42-1d6c-4a3d-8745-f6f9f97fa407/ce72fe86-6c75-42cd-a447-6ed27d34211f

IDE, TAHAJUD DAN PUASA

Semalam tak bisa tidur,

ide datang mengetuk pintu,

kerangka kutulis, eksekusi kulanjutkan,

koleksi novel eksklusif bertambah di KBM.

 

Tahajud menenangkan hati,

sahur menguatkan niat.

Tertidur sekejap, lalu bangun dengan mual,

asam lambung kembali naik.

 

Namun dengan Bismillah,

puasa sunah tetap kulanjutkan hari ini.

Lelah tubuh bukan alasan berhenti,

justru doa dan niat menjadi cahaya,

menuntun langkah di bulan mulia.



NOVELKU DI KBM

📚 Setiap judul hanyalah pintu.

Di baliknya, ada dunia fiksi yang penuh cinta, perjuangan, dan makna.

Novel-novelku di KBM siap menemani harimu dengan cerita yang tak biasa.

👉 Temukan kisahnya, rasakan imajinasinya

~ Langit DIdada




https://kbm.id/profile/penulis/bb578d83-96a4-4803-a2b7-a2c2ba264636


MARHABAN YA DZULHIJJAH 1447H

Selamat datang, Dzulhijjah

bulan tempat doa menjadi lebih lirih,

dan harapan menjadi lebih jernih.


Angin malam membawa bisik-bisik langit,

seolah mengingatkan hati

bahwa waktu terbaik untuk kembali

telah tiba lagi.


Dzulhijjah,

bulan yang memeluk rindu para perindu surga,

bulan yang mengetuk lembut

pintu-pintu taubat yang hampir rapuh,

bulan yang membentangkan jalan

menuju ampunan yang begitu luas.


Ya Allah…

di awal bulan mulia ini,

tenangkan hati kami, kuatkan langkah kami,

dan jadikan setiap detik yang kami jalani

sebagai saksi cinta kami kepada-Mu.


Selamat datang, Dzulhijjah

semoga Engkau membawa keberkahan,

membawa damai, membawa cahaya,

ke dalam hari-hari kami.Di Antara Takbir dan Doa yang Diam

Selamat Hari Raya Idul Adha 


Taqabbalallahu minna wa minkum.

Semoga Allah menerima setiap doa, keikhlasan, dan perjuangan kita yang sering kali tidak diketahui siapa pun selain-Nya.



DOA SAHUR DI BULAN MULIA

Tubuh lemah, perut bergejolak,

asam lambung naik, muntah yang tak tertahan.

Aku sudah hati-hati memilih santapan,

namun pikiran dan lelah tetap mengetuk pintu sakit.

 

Di sela bab novel yang harus rampung,

di antara live TikTok dan sunyi edit video,

badan berbisik lirih: “Istirahatlah, aku pun punya hak.”

 

Namun Alhamdulillah…

di bulan mulia ini, aku masih mampu

menjalankan puasa Dawud, puasa Dzulhijjah.

Saat sahur aku berdoa:

“Ya Allah, sehatkan, hamba ingin berpuasa sunah besok.”

 

Obat hadir, dikirim sahabat lama,

siang aku rebah, malam selepas Isya aku terlelap,

lalu bangun jam satu atau dua,

menyulam kata, menulis bab baru.

 

Sakit bukan penghalang,

justru ia mengajarkan sabar,

menyulam syukur di sela doa,

menjadikan ibadah lebih dekat,

lebih tulus, lebih indah

 

- Langit Didada

 

“Di sahur yang sunyi, doa tulus menjadi cahaya.”

SUKA & DUKA MENJADI PENULIS NOVEL

Menjadi penulis novel itu ibarat naik roller coaster emosi. 

Ada saat-saat penuh tawa, ada pula momen yang bikin hati ikut sesak.

Sukanya:

Menulis adegan bahagia membuatku seolah kembali jadi remaja, penuh mimpi dan semangat. Musik remaja jadi latar, imajinasi berlarian bebas.

Menciptakan tokoh yang hidup di kepala lalu menjelma di halaman, rasanya seperti punya sahabat baru.

Melihat pembaca baper karena cerita yang kutulis, itu menjadi kebahagiaan tersendiri.

Dukanya:

Ikut baper sendiri saat menulis konflik, sampai gemas dan malah memperpanjang adegan.

Disangka kisah pribadi, padahal itu hanya imajinasi.🤦🏻‍♀️

Lelah tapi puas, begadang demi menyelesaikan bab, lalu tersenyum melihat cerita akhirnya rampung.

Jadi...

Menulis novel bukan sekadar pekerjaan, tapi perjalanan rasa. Setiap kata adalah cermin hati, setiap bab adalah potongan jiwa. Suka dukanya justru yang membuat proses ini indah dan layak dikenang.

🔥 Siap-siap emosinya naik turun



TEASER BAB 7 - Kerikil Kecil Sebelum Pernikahan - Perselingkuhan Suamiku

“Hitungan hari menuju pernikahan… tapi justru godaan datang dari kantor.”

Azka baru kembali dari perjalanan.

Alena sibuk menyiapkan hari bahagia mereka.

Lalu muncul sekretaris baru cantik, muda, dan terlalu berani.

Sekali melangkah, kantor langsung heboh.

Cowok terpukau. Cewek mengernyit.

Tapi satu hal yang pasti:

➡️ Dia punya target.

➡️ Dan target itu adalah Azka, calon pengantin.

Padahal Azka sudah menunggu tujuh tahun untuk menikahi Alena.

Padahal cinta mereka sudah melalui banyak rintangan.

Tapi yang namanya godaan… selalu datang tanpa permisi.

“Kerikil sebelum pernikahan kadang kecil… kadang bisa berubah jadi badai.”


PERSELINGKUHAN SUAMIKU - Yang Hampir Hilang dari Sebuah Pernikahan - Langit Didada *Chapter : KERIKIL KECIL SEBELUM PERNIKAHAN* Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah: https://kbm.id/book/read/a39c0939-e882-42bc-9b2e-ea96b741681f/825012f9-efb4-4194-b7c8-e9c8189639f3

Menulis Adalah Cahaya

Alhamdulillah, sudah absen dan ikut KBM bersama Asma Nadia. Kata-kata beliau seperti lentera yang menyalakan ruang hati. Menulis bukan sekadar merangkai huruf, tapi merawat jiwa dan menyalakan harapan. Semoga perjalanan ini jadi catatan yang menguatkan diri dan orang lain.




Perjalanan Menemukan Ketenangan: Dari Ujian Hidup Menuju Cahaya Baru

Kisah seorang perempuan yang bangkit, sembuh, dan memulai hidup baru dengan kekuatan doa, afirmasi, dan keberanian.

Ada fase dalam hidup ketika segalanya terasa runtuh dalam satu waktu, finansial, rumah tangga, kesehatan, hingga emosi. Banyak orang menyerah pada titik ini.

Tapi bagiku, justru di titik paling gelap itulah cahaya pertama mulai terlihat.

Ini adalah ceritaku. Cerita tentang bagaimana aku bangkit, bagaimana aku kembali menemukan senyumku, bagaimana aku belajar percaya sepenuhnya kepada Allah, dan bagaimana hidupku berubah satu per satu, perlahan… tapi pasti.

Hidup yang Tiba-tiba Berubah

Beberapa tahun lalu, hidupku tiba-tiba berbelok tajam. Masalah rumah tangga terjadi, kondisi fisik lemah sampai harus duduk di kursi roda, dan beban finansial menumpuk tanpa henti.
Tagihan-tagihan harus dibayar, kebutuhan rumah berjalan terus, tapi pemasukan hampir tidak ada.

Di saat seperti itu, menangis rasanya jadi makanan sehari-hari. Aku bahkan sampai mencari informasi tentang panti jompo, karena rasanya tidak sanggup lagi mengurus diriku sendiri.

Tapi hidup tetap harus berjalan.
Aku tetap bangun pagi, tetap menguatkan diri, dan tetap berusaha tersenyum.

Titik Balik yang Tidak Kusangka

Setelah masa-masa gelap itu, perlahan aku mulai melakukan satu hal kecil yang akhirnya mengubah segalanya: sedekah subuh.

Tidak banyak, kadang hanya 5.000 rupiah.
Tapi setiap kali aku mengirimkan sedekah itu, aku selalu berdoa:

“Ya Allah, luaskan rezeki hamba… agar hamba bisa membahagiakan banyak orang.”

Selain itu, aku mulai melakukan afirmasi positif setiap hari.
Bukan yang muluk-muluk, hanya:

“Sing tenang…”
“Semua akan baik-baik saja…”
“Allah itu dekat…”

Aku mulai melepaskan orang-orang toxic yang hanya membawa keluhan, agar tidak terseret energi negatif mereka. Pikiran dan hatiku harus senantiasa positif, dari bangun tidur hingga menjelang tidur. Sebab kebahagiaan, pikiran yang jernih, dan hati yang penuh syukur akan menarik datangnya rezeki dan keberlimpahan
Karena....
"Uang akan datang kepada mereka yang bahagia, berpikir positif, dan menjaga hati tetap bersyukur. Semakin kita memancarkan energi baik, semakin mudah keberlimpahan mengalir dalam hidup."

Dan ternyata, kalimat sederhana ini pelan-pelan mempengaruhi jiwaku.
Aku mulai tenang, perasaanku stabil, air mata makin jarang turun.

Hidupku tidak tiba-tiba kaya, tidak juga tiba-tiba sempurna…
Tapi rasanya jauh lebih ringan.

Rezeki dimudahkan, datang dari arah yang tak terduga. 
Aku bersyukur atas sahabat-sahabat yang selalu mendukung tanpa lelah, dengan semangat dan materi yang tulus
Masalah yang dulu terasa berat, mendadak terasa bisa aku tangani.
Kebahagiaan hadir lagi meski perlahan.

Menjadi Jalan Kebaikan Tanpa Kusadari

Aku aktif mengurus yayasan sosial, tempat anak-anak yatim tersenyum setiap hari.
Kadang donasi masuk, kadang tidak.
Kadang aku pakai uangku sendiri, meski sebenarnya aku sedang benar-benar kosong.

Tapi setiap kali aku memberi, aku merasa:

“Mungkin ini sebabnya hidupku tetap dijaga Allah.”

Dan aku percaya…
Selama aku menjadi jalan bahagia untuk orang lain, Allah akan menjaga jalanku.

Kembali Menemukan Jati Diri Lewat Menulis

Setelah lama vakum dari media sosial dan dunia tulis-menulis, tiba-tiba aku kembali membuka Facebook dan Instagram.
Bukan untuk bersosialisasi…
tapi untuk promosi karya.

Ternyata, aku kembali menulis dan aku menikmatinya.
Menulis menjadi pelarian, menjadi terapi jiwa, dan menjadi sumber semangat baru.

Orang-orang di luar sana mungkin kaget melihat aku kembali muncul membawa banyak karya.
Mungkin ada yang bingung, mungkin ada yang iri.

Tapi aku memilih untuk tidak peduli.
Bagiku, menulis adalah jalan hidup baruku. Jalan rezekiku. Jalan penyembuhanku.

Hidup Baru yang Sedang Aku Bangun

Sekarang, aku tidak lagi menangis seperti dulu.
Aku tidak lagi takut pada hari esok.
Bahkan ketika uang belum ada, aku bisa tetap tenang.

Karena aku percaya, sepenuhnya percaya, bahwa Allah selalu mencukupkan.

Aku sedang melewati proses hukum, proses hidup, proses hati…
Semua aku jalani dengan lapang dada.
Bukan karena aku kuat, tapi karena aku akhirnya belajar berserah.

“Kadang-kadang, Allah hancurkan jalan kita bukan untuk menghukum… tapi agar kita berbalik dan menemukan jalan yang lebih indah.”

Jika Kamu Sedang Lelah, Tenanglah… Kamu Tidak Sendirian

Jika kamu membaca ini dan sedang berada di titik terendah hidupmu, percayalah:
yang kamu butuhkan hanyalah satu langkah kecil untuk mulai naik.

Sedekah kecil.
Doa tulus.
Afirmasi positif.
Hati yang terus percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Aku melewatinya.
Dan kamu pun akan melewatinya.

Dengan izin Allah, kamu akan lebih kuat dari hari ini.
Aamiin.

Salam

- Langit Didada



Akan Ada Masanya Kamu Dirayakan


Dalam perjalanan hidup, sering kali kita merasa berjalan sendirian, seolah cinta yang kita berikan tidak pernah kembali dengan utuh. Namun, jangan lupa: akan ada masanya di mana kehadiranmu dirayakan.

Akan ada seseorang yang melihatmu bukan hanya sebagai sosok biasa, melainkan sebagai anugerah. Ia akan bersyukur setiap hari karena memilikimu, mencintaimu dengan hebat, dan menjadikanmu alasan untuk terus berjuang.

Cinta seperti itu tidak datang tergesa-gesa. Ia tumbuh dari kesabaran, dari luka yang pernah sembuh, dari doa yang pernah dipanjatkan. Dan ketika waktunya tiba, kamu akan tahu: semua penantianmu tidak sia-sia.

Karena pada akhirnya, setiap hati berhak dirayakan. Setiap jiwa berhak dicintai dengan tulus. Dan kamu, ya kamu, akan sampai pada masanya itu.

Sing tenang...

Teaser Bab: Selangkah Menuju Pelaminan - PERSELINGKUHAN SUAMIKU - KBM APP

Jejak Hari Ini

“Lamaran selesai… keluarga kembali ke Medan.

Malam itu, Azka pamit dari rumah Alena.

Satu tahap sudah terlewati.


💍 Tinggal selangkah lagi menuju pelaminan.

Tapi… apakah perjalanan mereka mulus?

Azka — advokat sibuk di Jakarta.

Alena — Direktur Operasional PT Nusantara Energi Persada.

Dua karier besar, dua dunia penuh tanggung jawab.

Ditambah tradisi Jawa yang kental…

Mereka harus mencari hari baik.

“Selangkah Menuju Pelaminan” 

Apakah cinta mereka mampu menembus padatnya jadwal dan kuatnya adat…?”


https://kbm.id/book/read/a39c0939-e882-42bc-9b2e-ea96b741681f/e96d36aa-be4a-4927-a0b4-fa0980398f77

NOVEL - KISAH GELAP AGNES - KBM APP

PERTEMUAN YANG TIDAK PERNAH KEBETULAN* Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah: https://kbm.id/book/read/07a8b943-b830-4b13-b145-8f273448f013/45218cc8-fa66-410b-80cf-b45d2ab1248a

Teaser:

Maya mengira semua bukti sudah di tangannya.

Foto-foto itu, Agnes dan Doni dalam satu mobil, senyum yang terasa terlalu akrab, momen-momen kecil yang terlihat seperti “lebih dari sekadar rekan kerja” dia simpan rapi. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk meledakkannya di depan Mas Arif.

Tapi yang tidak Maya tahu adalah…

Ada satu foto yang tak sengaja tertangkap kamera.

Satu momen yang seharusnya mustahil terjadi.

Satu momen yang bahkan Agnes sendiri belum berani mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri.

Senyum Doni.

Tatapan itu.

Dan detak jantung Agnes yang berkhianat… untuk pertama kalinya.

Dan di saat semua ini mulai manis…

bahaya justru semakin dekat.

Karena seseorang lain…

ikut memperhatikan mereka.

Bukan Maya.

Yang satu ini… jauh lebih berbahaya.

“Kalau Maya saja bisa melihat apa yang mulai tumbuh di antara Agnes dan Doni…

Lalu siapa sosok lain yang diam-diam memperhatikan mereka dari jauh?


Bab selanjutnya… jauh lebih manis.

Tapi juga jauh lebih berbahaya.

Siap lanjut?”





Are you oke? Aman saja

Kalimat sederhana “Are you ok?” sering muncul sebagai bentuk kepedulian. Pertanyaan itu seolah mengetuk pintu hati, menanyakan keadaan seseorang di balik senyum atau diamnya.

Jawaban “aman saja” terdengar singkat, tapi menyimpan makna: ada ketenangan, ada kekuatan, meski mungkin banyak hal sedang terjadi. Kata “aman” memberi rasa lega, seolah berkata: aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir.

Dalam percakapan sehari-hari, kombinasi ini bisa menjadi simbol komunikasi yang hangat. Pertanyaan singkat, jawaban ringkas, namun keduanya mencerminkan perhatian dan keteguhan.


KALIAN GA TAU KAN?

Hari ini aku kembali menyusuri rutinitas di kantor: menata arsip yang mulai menumpuk, mencetak kegiatan Jumat Berbagi, dan memperbarui cetakan surat masuk dari dinas untuk lembaga tri semester pertama. Di sela kesibukan itu, waktuku juga terbagi untuk live affiliate di TikTok, sambil menjaga ritme menulis bab‑bab baru novel yang sudah terjadwal setiap harinya.

Kadang aku tersenyum sendirI.... kalian ga tahu kan? semua ini aku jalani sendiri. Kalau pun minta bantuan orang, aku yang menanggung biayanya, bukan yayasan. Di sini tidak ada gaji, hanya niat dan keikhlasan yang terus aku jaga.

Setiap aktivitas terasa seperti potongan puzzle yang perlahan membentuk gambaran besar perjalanan hidup. Ada kerja, ada berbagi, ada kreativitas yang terus tumbuh. Semoga Allah senantiasa melapangkan hati, melapangkan rezeki, memberi kesehatan, dan menguatkan langkah dalam setiap ikhtiar… 🤲



Jadwal Update Bab Novel – Platform KBM


Halo pembaca tersayang, berikut aku bagikan jadwal rilis bab terbaru dari masing-masing judul novelku.

Semoga ini memudahkan teman-teman untuk mengikuti tiap kisah tanpa terlewat.



Risiko Memiliki Pasangan Seorang Penulis: Antara Imajinasi, Baper, dan Kenyataan

Buat yang punya pasangan penulis:

Menjalani hubungan dengan seorang penulis itu seperti hidup berdampingan dengan dua dunia: dunia nyata dan dunia imajinasi yang kadang jauh lebih riuh dari kehidupan sehari-hari. Penulis bekerja dengan hati, menggunakan emosi sebagai bahan bakar, dan meminjam banyak situasi, baik yang dialami, didengar, maupun sekadar diamati, untuk diubah menjadi cerita. Dan di titik inilah sering muncul risiko yang jarang dibicarakan: pasangan bisa ikut terbawa perasaan.

1. Penulis Memiliki Radar Emosi yang Lebih Pekat

Penulis sering menulis berdasarkan detail kecil yang bagi orang lain mungkin tak berarti. Tatapan seseorang, percakapan yang lewat di telinga, atau bahkan suasana hujan bisa berubah menjadi kisah. Kadang pasangan salah paham, mengira semua yang ditulis adalah kode, sindiran, atau cerminan isi hati yang sebenarnya, padahal tidak selalu begitu.

2. Tokoh Fiksi Bisa Membuat Pasangan Merasa “Tersaingi”

Penulis menciptakan tokoh yang ideal: tampan, sabar, romantis, kuat, kadang nyebelin tapi bikin jatuh hati. Tokoh ini lahir dari proses kreatif, bukan karena penulis tidak puas dengan pasangannya. Namun ada kalanya pasangan merasa dibandingkan, merasa kalah, atau takut tokoh fiksi itu lebih sempurna dari dirinya.

3. Pembaca Baper, Pasangan Ikut Baper

Salah satu risiko terbesar adalah: bukan hanya pembaca yang mudah terbawa perasaan, pasangan pun bisa ikut merasakan hal yang sama. Ketika ribuan orang berkomentar bahwa tokoh pria dalam cerita sangat mempesona atau tokoh wanitanya begitu menarik, pasangan bisa merasa cemburu. Padahal itu sekadar respon terhadap karya seni.

4. Penulis Tidak Menulis dari Satu Sumber

Ini penting: cerita penulis tidak selalu datang dari pengalaman pribadi. Penulis merangkai potongan realitas dari mana saja, teman, tetangga, sahabat, film, trauma masa lalu, postingan viral, bahkan cerita orang tak dikenal. Tapi sering kali pasangan merasa: “Jangan-jangan ini tentang aku…”

Padahal belum tentu. Justru terkadang penulis sengaja menjaga privasi pasangan dengan memodifikasi cerita jauh dari kenyataan.

5. Penulis Butuh Ruang untuk Berkarya

Di balik karya yang disukai banyak pembaca, ada kreativitas yang butuh dibiarkan berjalan bebas. Jika penulis harus selalu mengkhawatirkan perasaan pasangannya setiap kali menulis, kreativitas bisa terkunci. Pasangan penulis perlu memahami bahwa menulis adalah bagian dari identitas, bukan ancaman.

Pesan untuk Pasangan Seorang Penulis

Untuk kamu yang hidup berdampingan dengan seorang penulis, percayalah:

Menjadi pasangan mereka bukanlah kompetisi antara dirimu dan karakter fiksi. Kamu adalah dunia nyata yang tidak bisa digantikan oleh imajinasi mana pun.

Penulis bisa menciptakan seribu tokoh, tapi hanya mencintai satu orang di kehidupan nyata — orang yang hadir, mendampingi, mengerti proses kreatifnya, dan tidak mudah tersulut oleh cerita yang bahkan bukan tentang dirinya.

Jika sesekali cemburu atau baper, itu wajar. Itu tandanya kamu sayang.

Tapi ingat juga: cerita adalah cerita, cinta adalah kamu.

Jadi, ketika pasanganmu menulis kisah yang dramatis, romantis, pedas, atau membuat pembaca heboh

tenanglah… semua itu adalah bagian dari karya, bukan cermin dari hubungan kalian.

Peluk penulismu dengan pengertian.

Karena di balik semua paragraf dan karakter fiksi itu, ada satu tokoh utama yang selalu mereka pilih di dunia nyata: kamu.

Salam hangat

-Langit Didada



Langkah kaki di jalan sunyi

Hari ini aku menandatangani surat kuasa perceraian. Langkah ini bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, tapi juga tanda bahwa aku berani menatap hidup baru dengan segala konsekuensinya.

Aku ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada tim kuasa hukumku. Mereka sabar mendengarkan, menenangkan, dan mendampingi setiap proses yang melelahkan. Di tengah rasa rapuh, mereka menjadi penopang yang membuatku tetap berdiri.

Perjalanan ini belum selesai, palu hakim belum diketuk. Tapi aku tahu, setiap langkah sudah mengarah pada kelegaan. Dan di balik semua luka, ada harapan untuk lembaran baru.



Refleksi Hari Ini

Di antara lelah yang singgah,

ada lega karena amanah terjaga.

Jadwal berbagi sudah tertata,

bab-bab baru lahir setiap hari,

Novel pun menyapa dunia.

 

Jumat ini bukan sekadar hari,

ia jadi saksi doa dan karya.

Semoga setiap langkah ini

menjadi cahaya besar di jalan panjang.



PENA YANG TERLUPA RAK BUKU

Aku mencintaimu dengan jiwa,

meski kadang kau tak merasa.

Ketulusanku tak pernah sirna,

meski hatimu sering terlupa.

 

Hari-hari kulalui dengan doa,

agar cintamu tetap terjaga.

Namun kau sibuk dengan dunia,

hingga aku hanya jadi bayang semata.

 

Kelak saat aku tiada,

kau akan merindukan suara.

Baru kau tahu cinta sejati ada,

dalam hatiku yang penuh setia.

 

Jangan tunggu aku tiada,

baru kau hargai cinta yang nyata.

Karena kasih takkan kembali lagi,

saat aku pergi selamanya.

 


Ikhlas, Cahaya yang Menyembuhkan

Pagi ini, tim kuasa hukum datang ke rumah untuk menanyakan beberapa hal terkait berita acara gugatan perceraian. Besok, insyaa Allah, proses akan berlanjut dengan penandatanganan surat kuasa. Alhamdulillah, hati yang selama ini terasa digantung bertahun-tahun, kini mulai menemukan jalan terang. Ada rasa lega, karena akhirnya bisa melepaskan dengan ikhlas.

Perjalanan panjang ini bukan sekadar tentang berpisah, tetapi tentang keberanian untuk memilih kejelasan, tentang menerima takdir dengan lapang dada. Melepaskan bukan berarti kalah, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh, sembuh, dan menemukan kembali cahaya.

Hari ini, aku belajar bahwa ikhlas adalah kekuatan. Bahwa setiap akhir adalah pintu menuju awal yang baru. Semoga langkah ini menjadi jalan menuju ketenangan, dan semoga hati tetap terjaga dalam doa dan rasa syukur.


TERGODA ISTRI TETANGGA I EKSKLUSIF KBM

Kisah dewasa penuh intrik, cinta terlarang, dan keputusan yang mengguncang hati.

Disclaimer: Novel ini adalah karya fiksi 18+. Jika terasa relate, itu hanya kebetulan. Nikmati ceritanya tanpa beban.

Scroll ke bawah, temukan tautan baca, dan biarkan dirimu tenggelam dalam kisah terlarang yang penuh intrik. Jangan hanya dengar cerita, alami sendiri setiap godaannya




*TERGODA ISTRI TETANGGA - langitdidada* Rahmat, seorang duda empat puluh tahun lebih, hidupnya selalu datar, hingga malam ketika seorang perempuan bersuami mengetuk pintu sunyinya. Maya, tetangganya sendiri, datang dengan mata lelah d... Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah: http://kbm.id/book/detail/cd68913d-501d-4d0b-9249-b58394947a30

MENANG

Aku tidak tertarik menang di mata orang.

Karena kemenangan yang sejati bukanlah tepuk tangan, bukan pula sorak sorai.

Aku lebih tertarik membangun hidup yang kokoh,

hidup yang tidak runtuh saat tidak dipilih,

tidak goyah saat dibandingkan,

dan tidak hancur meski ditinggalkan.

 

Menjadi kuat bukan berarti tak pernah jatuh,

tetapi mampu berdiri lagi dengan hati yang utuh.

Menjadi teguh bukan berarti tak pernah rapuh,

tetapi tetap melangkah meski luka masih terasa.

 

Aku ingin hidup yang berdiri di atas fondasi cinta

cinta pada diri sendiri, cinta pada perjalanan,

cinta pada Tuhan yang selalu menuntun.

Karena ketika cinta itu kokoh,

tak ada penolakan yang bisa meruntuhkan,

tak ada perbandingan yang bisa menggoyahkan,

tak ada kepergian yang bisa menghancurkan.

 

Dan di sanalah aku menemukan arti:

bahwa hidup bukan tentang terlihat menang,

melainkan tentang tetap utuh,

meski dunia mencoba merobeknya.

 


MELEPASKAN DAN MENERIMA

Di gerbang Mei yang baru terbuka,

Aku lepaskan lelah yang sempat bertahta.

Setiap baris doa kini mulai menyala,

Mengganti ragu menjadi percaya yang nyata.


Aku layak untuk bahagia yang tenang,

Aku pantas untuk hasil yang gemilang.

Bulan ini, rezeki datang tanpa penghalang,

Segala usaha berbuah manis dan terang.


Mei adalah tentang tumbuh dan mekar,

Menjadi kuat meski jalanan sempat sukar.

Aku adalah pemenang yang takkan gentar,

Menjemput mimpi dengan langkah yang sabar.


Rumah yang Kembali Kutemukan

Aku pernah menjadi laut yang tak tenang,

menyimpan badai tanpa arah yang pasti,

ombak-ombak kecil memukul hatiku diam-diam,

hingga aku lupa rasanya menjadi teduh.

 

Di cermin, kulihat wajah yang asing,

penuh retak dari kata-kata sendiri,

aku berjalan jauh mencari penerimaan,

tanpa sadar yang kucari ada dalam diri.

 

Hari ini aku pulang pada diriku,

mengumpulkan serpihan yang tercecer pelan,

kubiarkan luka bercerita tanpa dihakimi,

lalu kupeluk ia sebagai bagian perjalanan.

 

Aku bukan lagi badai yang kehilangan arah,

melainkan langit yang belajar menerima awan,

dan dalam tenang yang sederhana itu,

aku menemukan rumah: diriku sendiri.


 


Suamiku, Lukaku: Eksklusif di KBM

Alhamdulillah, perjalanan menulis ini kembali menghadirkan kejutan indah. Dari empat karya yang kutitipkan di KBM, satu di antaranya kini resmi menjadi karya eksklusif: Suamiku, Lukaku.

Aku bersyukur atas setiap langkah kecil yang membawaku sampai di sini. Menulis bukan sekadar kata, melainkan perjalanan rasa, tentang jatuh, bangkit, dan menjadi kuat. Eksklusif bukan hanya label, tapi juga cahaya yang lahir dari luka.

Terima kasih untuk doa dan dukungan yang selalu menguatkan. Semoga karya ini bisa menjadi cerita yang menemani dan menguatkan siapa pun yang membacanya.


*SUAMIKU,LUKAKU - langitdidada* Nayla menjalani pernikahan dua tahun bersama Arga, suami yang tidak pernah benar-benar menginginkannya. Ia disalahkan atas semua hal, termasuk soal keturuna, padahal diam-diam dokter pernah mengatakan... Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah: http://kbm.id/book/detail/f5d2b01b-667d-4e7b-a4c3-b414808e0f9b