Aku pernah menjadi
laut yang tak tenang,
menyimpan badai tanpa
arah yang pasti,
ombak-ombak kecil
memukul hatiku diam-diam,
hingga aku lupa
rasanya menjadi teduh.
Di cermin, kulihat
wajah yang asing,
penuh retak dari
kata-kata sendiri,
aku berjalan jauh
mencari penerimaan,
tanpa sadar yang
kucari ada dalam diri.
Hari ini aku pulang
pada diriku,
mengumpulkan serpihan
yang tercecer pelan,
kubiarkan luka
bercerita tanpa dihakimi,
lalu kupeluk ia
sebagai bagian perjalanan.
Aku bukan lagi badai
yang kehilangan arah,
melainkan langit yang
belajar menerima awan,
dan dalam tenang yang
sederhana itu,
aku menemukan rumah:
diriku sendiri.


