Tampilkan postingan dengan label pegiat sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pegiat sosial. Tampilkan semua postingan

Langkah yang Kembali Menguatkan

Ada hari-hari ketika perjuangan terasa begitu sunyi.

Laporan dikirim ke grup, tetapi hanya centang biru yang datang. Ajakan untuk bersedekah disampaikan dengan harapan ada hati yang tergerak, namun balasan sering kali hanya keheningan. Rasanya seperti berbicara kepada ruang yang kosong.

Aku pernah bertanya dalam hati, "Haruskah aku terus membuat laporan? Haruskah aku terus mengingatkan?"

Lalu aku tersenyum sendiri.

Bukankah sejak awal perjuangan ini memang bukan tentang banyaknya tepuk tangan? Bukan pula tentang banyaknya orang yang memuji. Yayasan ini lahir karena ingin menjadi jalan manfaat. Selama masih ada anak-anak yang menunggu uluran tangan, selama masih ada amanah yang harus dijaga, maka langkah ini akan terus berjalan, meski perlahan.

Hari ini Allah kembali memberikan hadiah kecil yang membuat hatiku hangat.

Nomor Induk Berusaha (NIB) yayasan akhirnya resmi terbit.

Mungkin bagi sebagian orang itu hanya selembar dokumen. Namun bagiku, itu adalah jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan diam-diam. Bukti bahwa setiap berkas yang diurus, setiap antrean yang dijalani, setiap usaha yang tampak sederhana, tidak pernah luput dari perhatian Allah.

Aku bahkan mencetaknya, melaminatingnya, lalu memasangnya dalam pigura.

Bukan untuk berbangga diri.

Tetapi agar setiap kali melihatnya, aku kembali diingatkan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang terus berikhtiar.

Perjalanan ini masih panjang.

Masih banyak mimpi yang belum terwujud. Aku masih berharap suatu hari nanti yayasan memiliki tempat yang lebih layak, program yang semakin luas, dan semakin banyak anak yang bisa merasakan kasih sayang dari orang-orang baik yang Allah kirimkan.

Namun hari ini aku memilih untuk berhenti sejenak.

Bukan berhenti melangkah.

Melainkan berhenti untuk bersyukur.

Karena sering kali kita terlalu sibuk mengejar tujuan besar hingga lupa merayakan langkah-langkah kecil yang telah Allah mudahkan.

Aku belajar satu hal.

Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar, dan menjaga amanah sebaik mungkin.

Adapun siapa yang Allah gerakkan untuk membantu, dari mana rezeki itu datang, dan kapan pertolongan itu tiba, semuanya adalah hak Allah.

Maka aku ingin terus melangkah dengan tenang.

Tidak menggantungkan harapan kepada manusia.

Tidak mengukur keberhasilan dari ramainya komentar atau banyaknya respons.

Cukup memastikan bahwa setiap hari ada satu langkah kecil yang mendekatkanku kepada tujuan yang Allah ridai.

Hari ini langkah kecil itu bernama NIB.

Besok, entah apa lagi hadiah dari langit.

Aku tidak tahu.

Tetapi aku percaya, selama Allah masih menuntunku untuk melangkah, selalu ada alasan untuk menjaga harapan.

"Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)."
(QS. At-Talaq: 3)

Semoga suatu hari nanti, ketika aku membaca kembali catatan ini, aku bisa tersenyum sambil berkata,

"Ya Allah... ternyata benar. Engkau tidak pernah meninggalkan hamba-Mu yang terus mengetuk pintu-Mu."

Allahumma aghnini bi fadhlika 'amman siwak.

Allahumma sugeh. Allahumma duit okeh. Allahumma sehat. Allahumma bahagia. Allahumma sukses.

Aamiin ya Mujibassailiin.


Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya, Tapi AKU

Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya

Hari ini aku belajar satu hal penting: jangan buru-buru menyalahkan link.

Beberapa saat lalu Dinas Sosial mengirimkan file Instrumen Akreditasi LKS. Semangat sekali aku ingin mempelajarinya. Namun ketika file itu kubuka, hasilnya nihil. Tidak terbuka. Aku mencoba lagi. Tetap tidak bisa.

Dalam hati mulai muncul berbagai dugaan.

"Mungkin link-nya rusak."

"Mungkin filenya bermasalah."

Karena merasa ada yang tidak beres, aku pun menghubungi petugas yang mengirimkan file tersebut. Dengan penuh keyakinan aku menyampaikan bahwa file tidak bisa dibuka.

Beberapa saat kemudian beliau membalas singkat.

"Link apa?"

Di titik itu aku mulai sedikit bingung, tetapi tetap menjelaskan dengan serius. Setelah itu aku menunggu balasan.

Sementara menunggu, aku mencoba membuka file itu lagi. Kali ini aku memperhatikan lebih teliti. Lalu aku melihat tiga huruf kecil yang sebelumnya tidak terlalu kuperhatikan:

RAR.

Aku terdiam.

RAR?

Bukankah itu berarti file harus diekstrak terlebih dahulu?

Dengan rasa penasaran bercampur harap-harap cemas, aku menekan tombol "Ekstrak".

Dan...

Subhanallah.

Semua file langsung muncul dengan rapi.

Instrumen ada.

Dokumen ada.

Semuanya ada.

Saat itulah aku menyadari sebuah fakta yang cukup menampar harga diri:

Linknya tidak bermasalah.

File-nya tidak bermasalah.

Yang bermasalah adalah...

Aku.😄

Dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, aku sudah lebih dulu melapor bahwa file tidak bisa dibuka. Padahal aku sendiri belum mengekstraknya.

Akhirnya aku kembali menghubungi petugas tersebut.

"Maaf, Pak. Ternyata filenya sudah bisa dibuka. Saya lupa mengekstrak file RAR terlebih dahulu."

Alhamdulillah beliau belum sempat repot-repot mencari solusi untuk masalah yang ternyata berasal dari diriku sendiri

Pelajaran hari ini:

Sebelum menyalahkan sistem, link, aplikasi, atau jaringan internet, pastikan dulu file RAR sudah diekstrak

Karena terkadang masalah teknologi yang terlihat rumit ternyata hanya membutuhkan satu tombol kecil bernama"Ekstrak".

Dan terkadang, rasa malu datang bukan karena kita gagal, melainkan karena kita terlalu percaya diri sebelum membaca petunjuk. 😅


Belakangan aku baru sadar, mungkin akar masalahnya bukan pada file RAR itu.

Akar masalahnya dimulai hari sebelumnya.

Aku tidak hadir dalam Rakor LKKS.

Setelah itu, aku juga lupa meminta notulen kepada sekretaris LKKS

Akibatnya, ketika semua orang sudah memahami alur dan berkas yang dibagikan, aku masih sibuk menebak-nebak sendiri.

Dan seperti biasa, orang yang menebak tanpa informasi lengkap sering kali sampai pada kesimpulan yang salah.

Termasuk aku yang dengan percaya diri mengira link bermasalah, padahal file itu hanya menunggu untuk diekstrak.