Ada hari-hari ketika perjuangan terasa begitu sunyi.
Laporan dikirim ke grup, tetapi hanya centang biru yang datang. Ajakan untuk bersedekah disampaikan dengan harapan ada hati yang tergerak, namun balasan sering kali hanya keheningan. Rasanya seperti berbicara kepada ruang yang kosong.
Aku pernah bertanya dalam hati, "Haruskah aku terus membuat laporan? Haruskah aku terus mengingatkan?"
Lalu aku tersenyum sendiri.
Bukankah sejak awal perjuangan ini memang bukan tentang banyaknya tepuk tangan? Bukan pula tentang banyaknya orang yang memuji. Yayasan ini lahir karena ingin menjadi jalan manfaat. Selama masih ada anak-anak yang menunggu uluran tangan, selama masih ada amanah yang harus dijaga, maka langkah ini akan terus berjalan, meski perlahan.
Hari ini Allah kembali memberikan hadiah kecil yang membuat hatiku hangat.
Nomor Induk Berusaha (NIB) yayasan akhirnya resmi terbit.
Mungkin bagi sebagian orang itu hanya selembar dokumen. Namun bagiku, itu adalah jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan diam-diam. Bukti bahwa setiap berkas yang diurus, setiap antrean yang dijalani, setiap usaha yang tampak sederhana, tidak pernah luput dari perhatian Allah.
Aku bahkan mencetaknya, melaminatingnya, lalu memasangnya dalam pigura.
Bukan untuk berbangga diri.
Tetapi agar setiap kali melihatnya, aku kembali diingatkan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang terus berikhtiar.
Perjalanan ini masih panjang.
Masih banyak mimpi yang belum terwujud. Aku masih berharap suatu hari nanti yayasan memiliki tempat yang lebih layak, program yang semakin luas, dan semakin banyak anak yang bisa merasakan kasih sayang dari orang-orang baik yang Allah kirimkan.
Namun hari ini aku memilih untuk berhenti sejenak.
Bukan berhenti melangkah.
Melainkan berhenti untuk bersyukur.
Karena sering kali kita terlalu sibuk mengejar tujuan besar hingga lupa merayakan langkah-langkah kecil yang telah Allah mudahkan.
Aku belajar satu hal.
Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar, dan menjaga amanah sebaik mungkin.
Adapun siapa yang Allah gerakkan untuk membantu, dari mana rezeki itu datang, dan kapan pertolongan itu tiba, semuanya adalah hak Allah.
Maka aku ingin terus melangkah dengan tenang.
Tidak menggantungkan harapan kepada manusia.
Tidak mengukur keberhasilan dari ramainya komentar atau banyaknya respons.
Cukup memastikan bahwa setiap hari ada satu langkah kecil yang mendekatkanku kepada tujuan yang Allah ridai.
Hari ini langkah kecil itu bernama NIB.
Besok, entah apa lagi hadiah dari langit.
Aku tidak tahu.
Tetapi aku percaya, selama Allah masih menuntunku untuk melangkah, selalu ada alasan untuk menjaga harapan.
"Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)."
(QS. At-Talaq: 3)
Semoga suatu hari nanti, ketika aku membaca kembali catatan ini, aku bisa tersenyum sambil berkata,
"Ya Allah... ternyata benar. Engkau tidak pernah meninggalkan hamba-Mu yang terus mengetuk pintu-Mu."
Allahumma aghnini bi fadhlika 'amman siwak.
Allahumma sugeh. Allahumma duit okeh. Allahumma sehat. Allahumma bahagia. Allahumma sukses.
Aamiin ya Mujibassailiin.

