Di awal Dzulhijah, tubuhku sempat rapuh,
Namun hati tetap berbisik lirih:
“Ya Allah, sehatkan aku,
Aku ingin puasa penuh sembilan hari.”
Alhamdulillah, Engkau kabulkan,
Langkahku ringan, puasaku terjaga,
Sembilan hari tanpa halangan,
Hanya syukur yang mengalir deras di dada.
Hari Arafah pun tiba,
Air mata jadi saksi keikhlasan,
Doa untuk sahabat, doa untuk keluarga,
Doa untuk jiwa yang mendamba ketentraman.
Idul Adha menyapa dengan takbir agung,
Allahu Akbar menggema di langit dan bumi,
Mengajarkan arti pengorbanan,
Menguatkan hati dalam ridha Ilahi.

