Tampilkan postingan dengan label Tahajut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahajut. Tampilkan semua postingan

Sekuat Apa Diriku, Ya Allah

Sekuat apa diriku, ya Allah, sehingga Engkau sangat percaya bahwa aku bisa melewatinya?

Air mata malam ini bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kejujuran hati. Aku menangis bukan karena kalah, tapi karena percaya: Engkau selalu ada, bahkan saat aku merasa rapuh.

Tahajud ini menjadi ruang paling intim untukku berbicara dengan-Mu. Aku ingin menyerahkan seluruh letih, seluruh rasa takut, dan seluruh harapan. Karena aku tahu, Engkau lebih dulu percaya aku mampu, meski aku sering meragukan diriku sendiri.

"Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin."

Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Ayat ini menjadi penguat: bahwa setiap langkah, setiap doa, bahkan setiap air mata, semuanya kembali kepada-Mu.



Sekuat apa diriku, ya Allah, hingga Engkau percaya aku mampu? Di balik rapuh ada cahaya, di balik letih ada doa. Aku berjalan, karena Engkau menuntunku



Doa kecil dari hati yang penuh syukur, semoga langkah kita selalu dalam ridho Allah

Di malam Nisfu Sya’ban yang hening,

langit seakan membuka pintu rahmat,

doa-doa naik bersama bisikan hati,

mengharap ampunan, mengharap kasih Ilahi.


Bulan separuh bercahaya lembut,

menyapa jiwa yang rindu ketenangan,

di antara sujud dan sholawat,

terasa dekat dengan Sang Pengasih.


Ya Allah, catatkan kebaikan untuk kami,

hapuskan dosa yang membelenggu langkah,

panjangkan umur dalam keberkahan,

lapangkan rezeki dalam ridho-Mu.


Nisfu Sya’ban, malam penuh harapan,

tempat hati bersandar tanpa ragu,

semoga Ramadhan nanti menyambut kita,

dengan cahaya iman yang semakin utuh.




Jangan Biarkan Aku Sendiri, Ya Hayyu Ya Qayyum

Di sepertiga malam yang sunyi,  

aku bersandar pada cahaya-Mu,  

Ya Hayyu, Yang Maha Hidup,  

Ya Qayyum, Yang Maha Berdiri Sendiri.  


Dengan rahmat-Mu aku memohon,  

biarlah segala urusanku Kau perbaiki,  

agar langkahku tak tersesat,  

dan hatiku tetap terikat pada-Mu.  


Jangan biarkan aku sendiri,  

walau sekejap mata,  

karena tanpa-Mu,  

aku hanyalah rapuh yang tak berdaya.  



Ya Hayyu Ya Qayyum,  

dalam dzikirku aku bernaung,  

dalam doa ini aku menemukan,  

cahaya yang tak pernah padam.


Lakal Hamdu dalam Gelapku

Allahumma…

Lakal hamdu, meski dadaku sesak, meski langkahku berat, meski malam terasa panjang tanpa cahaya.

Kepada-Mu segala pengaduan, aku titipkan air mata yang tak terlihat, aku serahkan resah yang tak terucap.

Engkaulah tempatku bersandar, saat dunia menutup pintu, saat hati hampir runtuh.

Tiada daya, tiada kuasa, kecuali Engkau yang Maha Tinggi, yang mengangkatku dari lumpur lelah, yang menyalakan lilin kecil di tengah gelap.

Maka biarlah aku diam dalam doa, biarlah aku kuat dalam pasrah, biarlah aku hidup dalam harapan, karena Engkau, ya Rabb, tak pernah meninggalkan hamba-Mu.


Yang Menanggung Senyap

Di sudut kecil ruang kerja yang sunyi,

aku menata tugas demi tugas
dengan tangan yang pernah lelah,
tapi tak pernah benar-benar berhenti.

Ada amanah yang datang tanpa mengetuk,
ada tanggung jawab yang jatuh ke pangkuan
begitu saja,
tanpa ditanya apakah aku mampu,
atau sedang baik-baik saja.

Mereka diam.
Tapi aku tetap berjalan.
Dengan roda yang setia memeluk lantai,
dan doa yang tak pernah putus dari dada.

Aku bukan ingin disanjung,
bukan pula menagih balasan.
Hanya ingin sedikit bahu tempat bersandar,
sedikit suara yang berkata,
“Aku bantu.”

Tapi dunia tidak selalu begitu…
dan kadang, yang kuat harus menangis diam-diam,
agar esok pagi tetap terlihat tegar.

Hari-hari terakhir ini,
aku mengumpulkan remah keberanian
untuk menata program,
untuk menyambut kunjungan,
untuk menjaga senyum anak-anak binaan
agar tetap tumbuh meski kantong sendiri kosong.

Ya Allah…
Aku bukan pahlawan.
Hanya seorang hamba yang tak enak hati
melihat amanah tergeletak tanpa penjaga.

Maka biarkan air mata turun malam ini.
Biarkan beban itu luruh pada sajadah.
Karena aku tahu…
rezeki, kekuatan, dan pertolongan
tak pernah datang dari manusia,
tapi dari-Mu yang Maha Melihat
setiap langkah kecilku di tempat yang sepi.

Dan biarlah dunia tak paham,
asal Engkau paham.
Biarkan manusia diam,
asal Engkau mendengar.

Aku akan tetap berjalan,
pelan…
tapi pasti.
Dengan hati yang remuk,
tapi tetap hidup.

Karena aku percaya…
Selama tujuan ini lillah,
Engkau akan menuntun
walau jalanku penuh sunyi. 



Dzikir Pagi-Petang untuk Rezeki dan Kesehatan

1. Dzikir Tawakal

حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ، عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Hasbiyallahu laa ilaaha illa huwa, ‘alayhi tawakkaltu wa huwa rabbul-‘arshil-‘azhiim
Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.

📌 Dibaca 7 kali pagi dan 7 kali sore.

2. Doa Rezeki dan Kesehatan

اَللّٰهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَاشْفِنِي شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Allahumma ikfini bihalaalika ‘an haraamika, wa aghnini bifadhlika ‘amman siwaaka, wa ishfini shifaa’an laa yughaadiru saqaman
Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu, jauhkan aku dari yang haram. Kayakanlah aku dengan karunia-Mu, bukan dengan selain-Mu. Dan sembuhkanlah aku dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.

📌 Dibaca 1–3 kali pagi dan sore.

3. Doa Kesehatan Tubuh

اَللّٰهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اَللّٰهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اَللّٰهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ
Allahumma ‘aafini fii badanii, Allahumma ‘aafini fii sam‘ii, Allahumma ‘aafini fii basharii, laa ilaaha illa anta
Ya Allah, berilah aku kesehatan pada tubuhku, pendengaranku, dan penglihatanku. Tiada Tuhan selain Engkau.

📌 Dibaca 1–3 kali pagi dan sore

Refleksi

  • Dzikir ini menguatkan hati dengan tawakal.

  • Menjadi doa untuk rezeki halal dan cukup.

  • Menjadi permohonan kesehatan tubuh, pendengaran, dan penglihatan.

🌸 Dengan istiqamah membacanya, hati akan lebih tenang, tubuh lebih kuat, dan rezeki terasa cukup meski dalam keterbatasa



Syukur dalam Sepiring Ketela: Cerita Sahur Puasa Dawud-ku

Banyak yang bertanya, "Sahur apa hari ini?"

Mungkin bagi sebagian orang, sahur identik dengan meja makan yang penuh lauk pauk. Tapi bagiku, sahur adalah momen sunyi yang penuh kecukupan. Hari ini, di sepertiga malam yang tenang, menu sahurku sangat sederhana: beberapa keping biskuit, segelas air putih di tumbler kesayangan, dan istimewanya... ada ketela rebus.

Sebenarnya, menu tetapku biasanya cukup satu butir telur rebus, air putih, dan sebuah pisang. Sederhana, praktis, dan cukup untuk modal tenaga menjalankan Puasa Dawud. Namun, ada cerita manis di balik sahur kali ini.

Kemarin sore, seorang kerabat/tetangga memberi saya ketela rebus. Alhamdulillah, rezeki yang tidak disangka-sangka. Karena ada ketela, telur rebusnya saya simpan dulu untuk lain waktu. Menikmati pemberian orang lain sebagai menu sahur rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat. Ada rasa hangat di hati karena merasa dipedulikan oleh sesama, dan merasa dicukupkan oleh Allah melalui tangan orang lain.

Makan sahur tanpa nasi bukan berarti kekurangan. Justru di sini saya belajar, bahwa yang kita butuhkan sebenarnya tidak banyak, hanya rasa syukur yang perlu kita luaskan.

Menikmati pemberian orang lain sebagai menu sahur rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat. Ada rasa hangat di hati karena merasa dicukupkan oleh Allah melalui tangan orang lain.

Apalagi saat ini kita berada di bulan Rajab, salah satu bulan mulia (Asyhurul Hurum) yang menjadi pintu pembuka menuju Ramadan. Di waktu sahur yang mustajab ini, mari kita hiasi dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW agar kita disampaikan ke bulan suci nanti:

Doa Memasuki Bulan Rajab:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighnaa Ramadhana.

"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan."

Bagi teman-teman yang mungkin besok ingin menyusul berpuasa (baik Puasa Dawud, Senin-Kamis, atau puasa Qadha), jangan lupa niatnya ya. Cukup dalam hati dengan tulus:

"Nawaitu shauma Daawuda sunnatan lillaahi ta'aalaa." (Aku berniat puasa Dawud, sunnah karena Allah Ta'ala).

Semoga setiap ketela yang kita makan, setiap teguk air yang kita minum, dan setiap doa yang kita langitkan di bulan Rajab ini, menjadi saksi ketaatan kita di hadapan-Nya.

Dan semoga puasa hari ini diterima, dan semoga kita semua selalu diberi keikhlasan dalam setiap ibadah yang kita jalankan. Semangat untuk teman-teman yang juga sedang berjuang istiqomah dengan puasa sunnahnya!



Rajab hadir, sahurku jadi doa yang mengalir…

Ya Allah,  

di sepertiga malam yang sunyi,  

aku meneguk sahur dengan syukur,  

menyulam niat dalam hening Rajab-Mu.  


Berkahilah langkah kecilku,  

seperti embun yang jatuh di tanah kering,  

seperti doa yang menembus langit,  

sampaikanlah aku pada Ramadan-Mu.  


Rajab ini adalah jembatan,  

antara rindu dan persiapan,  

antara sabar dan cahaya,  

antara aku yang lemah,  

dan Engkau yang Maha Kuat.  


Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana  

wa ballighna Ramadhan.  





Pesona Senin: Dzikir di Sepertiga Malam

Sepertiga malam adalah waktu yang penuh rahasia. 

Sunyi menyelimuti kamar, hanya cahaya lembut yang menembus jendela. 

Di sudut ruangan, seorang perempuan berhijab duduk tenang. 

Jemarinya memainkan tasbeh digital, s

etiap klik menjadi saksi bisikan doa yang tak terdengar oleh telinga manusia, 

namun sampai ke langit yang terbuka.


Ia berbisik lirih:


رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku.”


Doa itu sederhana, namun mengandung harapan besar. 

Senin pagi bukan sekadar awal minggu, 

melainkan awal perjalanan baru. 

Setiap orang membawa beban, rencana, dan cita-cita. 

Namun di sepertiga malam, beban itu dilepaskan, 

diganti dengan keyakinan bahwa Allah-lah yang memegang kendali.


Doa Senin Penuh Berkah

“Ya Allah, jadikan Senin ini cahaya awal minggu. Bukakan pintu rezeki yang halal, kuatkan langkah kami dengan ikhlas, dan jadikan setiap usaha kami bernilai di sisi-Mu. Limpahkan rahmat-Mu pada yayasan kami, pada keluarga kami, dan pada setiap hati yang mencari-Mu.”


Dzikir yang sederhana

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar

mengalir lembut dari bibirnya. 

Setiap lafaz adalah permata yang menenangkan hati, menghapus resah, dan menumbuhkan syukur.


Refleksi Sepertiga Malam

Senin sering dianggap berat, penuh tugas dan rutinitas. Namun bagi mereka yang memulai dengan doa, Senin justru menjadi pesona. Ia bukan beban, melainkan kesempatan baru untuk menanam amal, menebar kebaikan, dan meraih ridha Allah.

Sepertiga malam mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari rencana manusia semata, melainkan dari doa yang tulus. Tasbeh digital di jemari hanyalah alat, namun hati yang khusyuk adalah inti.


Penutup

Semoga setiap Senin kita mulai dengan dzikir, doa, dan keyakinan. Semoga setiap langkah kita menjadi cahaya, setiap usaha menjadi amal, dan setiap lelah diganti dengan ketenangan.

Pesona Senin bukan sekadar rutinitas, melainkan perjalanan spiritual yang dimulai dari sepertiga malam.


Di Antara Amanah dan Doa

Di sepertiga malam yang sunyi,

aku duduk bersama lelah dan harap,
menyebut nama-Mu lirih, ya Rabb,
karena hidupku penuh titipan.

Aku pernah bercerita pada-Mu,
tentang langkah yang tertatih,
tentang amanah yang kupikul
lebih berat dari yang terlihat mata.

Aku tak tahu esok bagaimana,
apakah tanganku masih Kau kuatkan
untuk menjaga amanah ini,
atau kakiku masih Kau izinkan melangkah
di jalan pengabdian.

Ya Allah,
jika aku masih Kau percaya,
jagalah hatiku agar tak lalai,
luruskan niatku agar tak goyah,
kuatkan badanku agar tak mudah menyerah.

Aku ingin tetap bisa membantu
anak-anak yatim di bawah lindungan-Mu,
menjadi perantara kasih sayang-Mu,
meski hanya dengan tenaga yang terbatas,
meski hanya dengan doa dan kesungguhan.

Jika suatu hari aku lelah,
ingatkan aku bahwa ini bukan milikku,
bahwa semua hanya titipan,
dan aku hanyalah hamba
yang Kau beri kesempatan berkhidmat.

Ya Rabb,
jika aku masih bisa mendampingi,
jadikan aku pendamping yang lembut,
yang sabar, yang ikhlas,
yang tak berharap selain ridha-Mu.

Dan jika kelak Kau ambil amanah ini dariku,
ambil pula dengan husnul khatimah,
tanpa luka di hati,
tanpa penyesalan yang panjang.

Cukuplah Engkau tahu,
aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa,
menjaga, mendampingi,
dan mencintai amanah ini
karena-Mu semata.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.


Tawakkal: Menyerahkan Urusan kepada Allah

"Wa ufawwiḍu amrī ilallāh, innallāha baṣīrun bil-‘ibād" (Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. — QS Ghafir: 44)

Ada saat di mana manusia sudah berusaha sekuat tenaga, namun hasilnya tetap di luar kendali. Di titik itu, ayat ini hadir sebagai pengingat: menyerahkan urusan kepada Allah bukan berarti menyerah, melainkan percaya bahwa Dia Maha Melihat setiap langkah, setiap air mata, dan setiap doa yang kita bisikkan.

Tawakkal adalah seni melepaskan beban, agar hati kembali ringan. Takdir bisa berganti, cahaya bisa lahir dari gelap, selama kita masih berdoa dan berharap kepada-Nya.





Ketika Semua Berpaling, Allah Tetap Ada

Fa in tawallaw faqul ḥasbiyallāh, lā ilāha illā huwa, 'alayhi tawakkaltu wa huwa rabbul-'arsyil-'aẓīm.

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” — QS At-Taubah: 129)

Rasulullah sendiri pernah merasakan beratnya beban umat, namun tetap menyayangi mereka dengan kelembutan. Dan ketika tak ada yang mendengar, beliau berkata: “Cukuplah Allah bagiku.

Tawakkal bukan sekadar pasrah. Ia adalah keberanian untuk tetap melangkah, meski tak ada yang melihat. Ia adalah keyakinan bahwa Allah Maha Melihat, Maha Menyantuni, dan Maha Menguatkan.

Di bawah langit subuh ini, aku menyerahkan urusanku kepada-Nya. Karena hanya Dia yang tahu isi hati, luka yang tak terlihat, dan doa yang belum terucap.


"Jika semua berpaling, Allah tetap cukup. Tawakkal adalah tempat pulang yang paling aman."

Mengetuk Pintu Langit di Sepertiga Malam


Di sepertiga malam yang sunyi ini, ketika pintu langit terbuka dan doa-doa naik tanpa penghalang… 

aku kembali mengetuk pintu-Mu, Ya Rabb.  

Besok adalah hari Jumat, penghulu segala hari.  

Aku ingin menyambutnya dengan hati yang tenang, bersih, dan bersandar penuh pada-Mu.


Ya Allah…  

Lindungi hatiku dari rasa ingin tahu  

tentang hal-hal yang hanya akan melukai  

dan merampas ketenanganku.  

Jauhkan aku dari kabar, prasangka, dan perasaan  

yang bisa membuat jiwaku goyah.


Dan Ya Rabb…  

Tuntun aku pada apa yang membawa bahagia,  

yang menenangkan jiwa, dan Engkau ridhai.  

Perlihatkanlah kepadaku kebaikan yang Kau simpan,  

dan jauhkan aku dari sesuatu yang Kau tahu  

tidak baik untuk diriku.


Pertemukan aku dengan orang-orang  

yang pantas disambung tali silaturahim,  

yang kehadirannya mendekatkan aku kepada-Mu,  

bukan menjauh dari rahmat-Mu.  

Karuniakan aku sahabat-sahabat yang saling menguatkan,


Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad  

wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.  


Aamiin ya Rabbal ‘alaamiin. 🤲✨


Semoga sepertiga malam ini menjadi saksi  

akan doa-doaku yang Kau ijabah, Ya Rabb.











Doa Merubah Takdir: Dari Gelap Menuju Cahaya

"Takdir bukanlah akhir, ia bisa berubah dengan doa dan harapan yang tulus." 

Allahumma in kunta katabtani ‘indaka fi ummil kitabi shaqiyyan aw mahruuman, famhu Allahumma bifadhlika wa athbitni sa‘idan marzuqan muwaffaqan lil khairat.

Ya Allah, jika Engkau menuliskan aku sebagai orang yang celaka atau terhalang, maka hapuslah dengan karunia-

"Doa ini adalah pengingat bahwa setiap malam membawa kesempatan baru. Takdir bisa berganti, cahaya bisa lahir dari gelap, selama kita masih berdoa dan berharap kepada-Nya."

dan tetapkanlah aku sebagai orang yang bahagia, diberi rezeki, serta diberi taufik untuk kebaikan.

Sebanyak Kebaikan Nabi

Allahumma sholli wa sallim, 

Pada nama yang membuat langit bersujud, Muhammad, 

Cahaya yang tak padam, 

Yang setiap jejaknya adalah jalan kebaikan


Sebanyak kebaikan beliau, 

Sebanyak itu pula kami memohon rahmat, 

Karena tak ada bilangan yang cukup 

Untuk menampung cinta yang beliau wariskan.


Kami sebut namanya di Subuh yang sunyi, 

Di antara desir angin dan dzikir hati, 

Agar hidup kami ikut bercahaya, 

Meski hanya setitik dari samudera beliau.


Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada Nabi yang Engkau cintai, 

Kepada keluarganya yang menjaga warisan, 

Kepada sahabatnya yang menyalakan lentera zaman.

Sebanyak kebaikan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam

Sebanyak itu pula kami berharap Engkau mencintai kami, karena kami mencintai beliau.


Allahumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ‘adada hasanaati sayyidina Muhammad.


Setenang Itu Aku Sekarang

Ada masa di mana aku tak lagi berlari mencari tenang di luar diri.

Karena kini aku tahu, ketenangan sejati bukan datang dari siapa yang menemani, tapi dari seberapa dalam aku berserah pada Allah.

Malam-malamku bukan lagi sepi, tapi ruang untuk berbicara tanpa suara antara aku, Allah, dan Rasul.

Setiap dzikir seakan memelukku, setiap sholawat membawa cahaya, dan setiap ayat yang kubaca menenangkan hatiku.

Aku tak ingin menonjolkan apa yang kulakukan,

cukup ingin berbagi rasa bahwa kedamaian itu nyata 

dan ia datang ketika kita berhenti berpegang pada dunia, lalu menggenggam erat nama-Nya.


Sunyi yang Menenangkan

Di sunyi malam, aku belajar diam,

bukan karena letih, tapi karena ingin mendengar.

Ada bisikan lembut di dada,

mengajak pulang pada Yang Maha Ada.


Tiap hela napas terasa ringan,

seolah beban dunia dilepaskan perlahan.

Sholawat jadi jembatan rindu,

mendekat pada cahaya Rasul-Mu.


Tak ada lagi resah yang menggigil,

hanya damai yang menetes seperti embun subuh.

Kupeluk tenang, bukan karena aku kuat,

tapi karena Engkau tak pernah jauh, ya Allah.


Ketenangan ini bukan karena aku tak diuji,

tapi karena aku belajar memahami setiap ujian adalah cara Allah memelukku dengan cara yang paling lembut.



Di Sepertiga Malam Jum’at: Salam untuk Sang Rasul

Di kamar yang sunyi, 

Di antara dinding yang menyimpan dzikir, 

Aku bentangkan sajadah, 

Seperti membuka lembaran hati yang ingin kembali.


Tasbih tergeletak di sisi, 

Butir-butirnya seperti bintang kecil yang menghitung setiap harap, 

Setiap luka yang ingin sembuh dalam sujud.

Al-Qur’an terbuka, ayat-ayatnya berbisik lembut, 

Seperti pelukan 

Dari langit yang menenangkan jiwa yang lelah berjalan.


Di dinding, tertulis: “Jumu’ah Mubarak” 

Bukan sekadar ucapan, 

Tapi doa yang mengalir 

Dari hati ke langit.


Wahai Rasulullah, 

Assolatu wasalamualaika ya sayyidi ya Rasulullah 

 Shalawat ini kutitipkan dalam malam, 

Dalam sepi yang penuh makna.


Engkau yang datang membawa cahaya, 

Di saat dunia gelap dan jiwa kehilangan arah. 

Engkau yang mengajarkan cinta tanpa syarat, 

San sabar yang tak pernah padam.


Di malam Jum’at ini, 

Aku ingin menjadi hamba yang kembali, 

Yang tak hanya membaca, 

Tapi meresapi setiap ayat sebagai pelita.


Aku ingin menjadi saksi, 

Bahwa malam bukan sekadar waktu, 

Tapi ruang untuk bertemu, 

Dengan Rabb yang Maha Mendengar.


Wahai jiwa, 

Jangan kau lewatkan malam ini dengan kelalaian. 

Karena di sepertiga malam, 

Ada pintu yang terbuka, 

Ada rahmat yang turun, 

Ada cinta yang menunggu untuk disambut.


Dan jika air mata jatuh, 

Biarlah itu menjadi saksi, 

Bahwa kau pernah berharap, 

Pernah mencintai, dan pernah kembali.


Yang Tahu Segala Bisikan

(Refleksi dari Surah Al-Mulk ayat 13)

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Al-Mulk: 13)




Di sepertiga malam, 

saat dunia tertidur dalam pelukan sunyi, 

ia duduk bersimpuh di atas sajadah, 

dengan tasbih sederhana 

di jemari yang gemetar lembut. 

Tak ada suara, hanya detak hati yang berdzikir, 

dan air mata yang menetes pelan, seperti hujan kecil yang malu-malu mengetuk jendela langit.


Ia tak berkata-kata, karena ia tahu, 

Bahwa Tuhan-nya mendengar bahkan yang tak terucap. 

Bahwa bisikan yang ia sembunyikan dari dunia, telah lama sampai ke Arasy, 

Sebelum ia sempat merangkai kata.


"Wa asirru qoulakum awijharuu bih..." 

 Rahasiakanlah, atau nyatakanlah, 

Sungguh Dia Maha Mengetahui segala isi hati. 

Dan ia pun menangis, bukan karena lemah, 

Tapi karena akhirnya merasa dilihat, 

Oleh Yang Maha Melihat, meski dunia tak pernah benar-benar tahu.


Tasbih itu terus berpindah dari satu butir ke butir lain, 

Seperti langkah-langkah kecil menuju ampunan, 

Seperti harapan yang tak putus meski gelap masih menyelimuti. 

Ia tak meminta dunia, ia hanya meminta 

Agar hatinya tetap hidup, 

Agar niatnya tetap bersih, 

Agar amalnya, meski kecil, 

Menjadi cahaya yang tak padam di akhirat kelak


Dan malam itu, 

Di antara remang dan rindu, ia merasa cukup. 

Karena ia tahu, bahwa Tuhan-nya tahu. 

Segala isi hati. 

Segala luka. 

Segala cinta. 

Segala doa yang tak pernah sempat ia ucapkan.

Allahumma suq ilayya

Bawalah kepadaku, ya Rabb, 

Segala yang Engkau tahu aku butuhkan, 

Meski belum sempat aku pinta.


Bukan sekadar rezeki yang mengalir, 

Tapi ketenangan yang menetap, 

Cinta yang menumbuhkan, 

Dan arah yang Engkau berkahi.


Bawalah aku pada pertemuan yang Engkau ridhai, 

Pada langkah yang tak tersesat, 

Pada cahaya yang tak padam, 

Meski malam panjang dan hati lelah.


Aku menungguMu, 

Dengan hati yang lapang, 

Dengan jiwa yang percaya, 

Bahwa tak ada yang datang 

Tanpa Engkau yang menggiringnya.


Balasan yang Tak Pernah Salah Alamat

Di sepertiga malam, 

saat dunia tertidur dalam pelupaannya, 

ada tangan-tangan yang terangkat, 

bukan untuk meminta dunia, 

tapi untuk menitipkan lelah yang tak terlihat.


kau yang memberi, 

tanpa panggung, tanpa sorotan, 

kau yang menahan tangis saat kebaikanmu dibalas sunyi

Allah melihatmu.


Hal jazā`ul-ihsāni illal-ihsān 

 Tak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan pula. 

Dan kebaikan dari-Nya… 

selalu datang tepat waktu, 

meski bukan waktu yang kau harapkan.


Mungkin bukan hari ini. 

Mungkin bukan dari orang yang kau bantu. 

Tapi dari langit, 

dalam bentuk ketenangan, 

dalam bentuk pelukan tak kasat mata, 

dalam bentuk kekuatan untuk terus berjalan.


Teruslah menjadi cahaya, 

meski tak semua mata bisa melihatmu bersinar. 

Karena Allah… tak pernah salah alamat dalam membalas ihsan.