Ada masa di mana aku tak lagi berlari mencari tenang di luar diri.
Karena kini aku tahu, ketenangan sejati bukan datang dari siapa yang menemani, tapi dari seberapa dalam aku berserah pada Allah.
Malam-malamku bukan lagi sepi, tapi ruang untuk berbicara tanpa suara antara aku, Allah, dan Rasul.
Setiap dzikir seakan memelukku, setiap sholawat membawa cahaya, dan setiap ayat yang kubaca menenangkan hatiku.
Aku tak ingin menonjolkan apa yang kulakukan,
cukup ingin berbagi rasa bahwa kedamaian itu nyata
dan ia datang ketika kita berhenti berpegang pada dunia, lalu menggenggam erat nama-Nya.
Sunyi yang Menenangkan
Di sunyi malam, aku belajar diam,
bukan karena letih, tapi karena ingin mendengar.
Ada bisikan lembut di dada,
mengajak pulang pada Yang Maha Ada.
Tiap hela napas terasa ringan,
seolah beban dunia dilepaskan perlahan.
Sholawat jadi jembatan rindu,
mendekat pada cahaya Rasul-Mu.
Tak ada lagi resah yang menggigil,
hanya damai yang menetes seperti embun subuh.
Kupeluk tenang, bukan karena aku kuat,
tapi karena Engkau tak pernah jauh, ya Allah.
Ketenangan ini bukan karena aku tak diuji,
tapi karena aku belajar memahami setiap ujian adalah cara Allah memelukku dengan cara yang paling lembut.
