Ketika hati sudah benar-benar berserah, bahkan di tengah kesulitan, yang tersisa hanyalah ketenangan.
Sebuah refleksi sederhana tentang pasrah, ikhlas, dan rasa damai yang datang sebelum pertolongan Allah tiba.
Entah sejak kapan, aku mulai tak lagi terburu-buru meminta segalanya selesai dengan cepat.
Mungkin karena aku sudah terlalu sering melihat, bahwa setiap yang tertunda pun, tetap akan sampai, asal Allah sudah mengizinkan.
Aneh memang, hatiku setenang ini sekarang.
Padahal masalah masih ada, kebutuhan masih menunggu, dan hal-hal kecil seperti ponsel mati pun belum menemukan jawaban.
Tapi justru di situ aku merasa,
bahwa tenang bukan karena keadaan,
melainkan karena keyakinan.
Aku tidak lagi menunggu sesuatu untuk kembali,
aku menunggu bagaimana Allah akan mengembalikannya dengan cara-Nya sendiri.
Mungkin nanti, mungkin besok, mungkin saat aku sudah benar-benar pasrah.
Ada waktu di mana aku hanya tersenyum saat sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.
Bukan karena aku kuat,
tapi karena aku tahu, setiap yang Allah izinkan terjadi, pasti punya maksud yang lebih indah.
Tenang itu bukan berarti semuanya baik-baik saja,
tapi karena aku sudah percaya,
bahwa di balik setiap ujian,
ada kasih sayang Allah yang sedang bekerja dengan lembut sekali.
Kadang Allah tidak langsung mengubah keadaan, karena Dia sedang menguatkan hati kita terlebih dahulu.
Dan di situlah, ketenangan itu tumbuh,bahkan sebelum segalanya berubah.
