Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Allahumma A'inni 'Ala Hadzihil Amanah

Ketika Aku Lelah, Aku Memilih Bersandar kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim...

Ada hari-hari ketika aku merasa kuat.

Namun ada juga hari ketika aku hanya mampu berkata,

"Ya Allah... aku capek."

Bukan karena aku tidak mencintai amanah ini.

Justru karena aku sangat mencintainya.

Sejak tahun 2017, Allah mengizinkanku membersamai perjalanan LKSA Peduli Sahabat Batang.

Tahun demi tahun berlalu.

Alhamdulillah, pada tahun 2023 Allah menghadiahkan akreditasi dengan nilai A.

Sebuah nikmat yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Namun perjalanan belum selesai.

Masih banyak langkah yang harus ditempuh.

Masih banyak anak-anak yang menunggu untuk dipeluk dengan kasih sayang.

Masih banyak doa yang terus kulangitkan.

Sering kali orang hanya melihat dokumentasi.

Mereka melihat senyum anak-anak.

Melihat amplop yang diserahkan.

Melihat foto-foto yang dibagikan setiap Jumat.

Padahal, di balik setiap foto itu ada doa-doa yang tidak terlihat.

Ada harapan yang terus dipanjatkan.

Ada air mata yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Ada malam-malam ketika aku bertanya dalam hati,

"Ya Allah... sanggupkah aku menjaga amanah ini?"

Aku bukan orang yang paling kuat.

Aku juga pernah merasa lelah.

Pernah merasa berjalan sendirian.

Pernah berpikir, bagaimana jika aku berhenti saja?

Namun setiap kali hati mulai melemah, Allah selalu menguatkanku dengan cara-Nya.

Kadang melalui senyum seorang anak.

Kadang melalui doa seorang dermawan.

Kadang melalui orang-orang yang mengingatkanku agar tetap berharap kepada-Nya.

Hingga akhirnya aku mengenal sebuah doa yang begitu sederhana.

Namun terasa sangat dalam maknanya.

اللهم أعني على هذه الأمانة

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

"Ya Allah, tolonglah aku dalam memikul amanah ini."

Sejak saat itu, aku menyadari sesuatu.

Ternyata yang kubutuhkan bukan hanya tambahan rezeki.

Bukan hanya tambahan tenaga.

Tetapi yang paling kubutuhkan adalah pertolongan Allah.

Karena tanpa pertolongan-Nya, sekuat apa pun aku, suatu hari pasti akan lelah.

Hari ini aku tidak ingin meminta kepada Allah agar semua jalan menjadi mudah.

Aku hanya memohon,

"Ya Allah... jangan lepaskan tangan-Mu dari langkahku."

Jika suatu hari aku kembali lelah...

Kuatkan aku.

Jika suatu hari aku kembali menangis...

Tenangkan aku.

Jika suatu hari aku merasa berjalan sendiri...

Ingatkan aku bahwa Engkau selalu bersamaku.

Karena aku percaya...

Amanah ini bukan milikku.

Ini adalah titipan-Mu.

Dan hanya dengan pertolongan-Mu aku mampu menjaganya.

Untuk siapa pun yang sedang memikul amanah...

Entah sebagai orang tua.

Guru.

Relawan.

Pengurus yayasan.

Atau siapa saja yang sedang berjuang dalam kebaikan.

Izinkan aku berbagi doa yang kini menjadi teman perjalananku.

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

"Ya Allah, tolonglah aku dalam memikul amanah ini."

Sesederhana itu.

Namun semoga doa ini menjadi pengingat bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian.

Selama masih ada Allah yang membersamai setiap langkah.


Ya Allah... Engkau yang telah mempercayakan amanah ini kepadaku. Jangan biarkan aku mengandalkan kekuatanku sendiri. Tolonglah aku ketika lelah. Teguhkan aku ketika goyah. Lapangkan rezeki agar aku dapat terus berbagi. Hadirkan orang-orang yang mau berjalan bersama dalam kebaikan. Jagalah hatiku agar tetap ikhlas, rendah hati, dan istiqamah hingga akhir hayat. Jika suatu hari nanti Engkau mengabulkan doa-doaku, jadikan semua itu bukan untuk kebanggaanku, tetapi agar semakin banyak anak-anak yang merasakan kasih sayang dan pertolongan-Mu.

Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah.

Allahumma sehat.

Allahumma sugeh.

Allahumma duit okeh.

Aamiin ya Mujibassailin.

Aku tidak tahu sampai kapan Allah mengizinkanku berjalan.

Tetapi selama masih diberi kesempatan, aku ingin terus melangkah.

Bukan karena aku merasa mampu.

Melainkan karena setiap kali aku hampir menyerah, selalu ada doa yang menguatkanku.

"Allahumma a'inni 'ala hadzihil amanah."

Dan semoga, ketika suatu hari nanti perjalanan ini selesai, aku dapat menghadap Allah dengan hati yang tenang seraya berkata,

"Ya Allah... aku sudah berusaha menjaga amanah yang Engkau titipkan kepadaku. Selebihnya, semua karena pertolongan-Mu."



Allah Tidak Pernah Terlambat

Bismillah.

Hari ini aku kembali belajar satu hal:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Sejak pagi hari, rasanya semua berjalan di luar rencana.

Orang yang biasa menggantikan yang libur ternyata libur juga.

Aku mulai menghubungi beberapa orang. Telepon sana-sini. Mencari siapa yang mungkin bisa membantu hari itu.

Namun satu per satu belum menemukan jalan keluar.

Seorang sahabat bahkan menawarkan bantuan jika benar-benar tidak ada orang yang datang.

Aku bersyukur sekali atas niat baiknya.

Dalam hati aku berpikir, tidak apa-apa. Yang penting aku bisa mandi dan menjalani hari dengan baik. Untuk urusan lain, nanti bisa dicari jalan keluarnya.

Karena hari itu aku sedang menjalankan puasa Daud, aku berusaha tetap tenang.

Sedih ada.

Khawatir sedikit juga ada.

Tetapi entah mengapa hati tidak panik.

Lalu Allah menunjukkan pertolongan-Nya.

Ketika aku baru saja selesai menelepon seseorang, tiba-tiba terdengar suara dari luar:

"Assalamualaikum..."

Aku menjawab salam itu dan mempersilakan tamu masuk.

Beliau seorang ibu yang belum pernah bekerja di tempatku.

Kalimat pertama yang membuatku hampir menangis adalah:

"Katanya mbak masih cari rewang ya?"

Saat itu rasanya ingin langsung mengucapkan:

Alhamdulillah ya Allah.

Di saat aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi, Allah mengirimkan seseorang mengetuk pintu rumahku.

Tepat pada waktunya.

Namun rupanya pertolongan Allah belum berhenti di situ.

Sore hari aku mengalami kesulitan yang cukup membuatku kesakitan.

Orang-orang yang biasanya bisa membantu sedang tidak bisa dihubungi.

Aku mencoba menghubungi seorang bidan.

Beliau menjawab dengan ramah dan berjanji akan datang setelah Maghrib.

Dan benar saja, beliau datang.

Yang membuatku terharu, beliau berkata bahwa hari itu kebetulan sedang libur.

Biasanya beliau bertugas hingga malam.

Aku hanya bisa mengucap syukur.

Seolah Allah sedang berkata:

"Kalau hari ini dia tidak libur, mungkin dia tidak bisa datang membantumu."

Masyaa Allah.

Beliau bahkan tidak mau menerima bayaran.

Belum selesai sampai di situ.

Menjelang berbuka, seorang teman alumni datang membawa buah pepaya, makanan berbuka, dan sedikit rezeki untukku.

Mungkin bagi sebagian orang itu sederhana.

Tetapi bagiku saat itu sangat berarti.

Bukan karena jumlahnya.

Melainkan karena aku merasa Allah sedang mengirim pesan:

"Aku tahu keadaanmu."

Hari ini aku benar-benar belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang dari orang yang kita harapkan.

Kadang dua orang yang biasa membantu justru sedang tidak bisa hadir.

Namun Allah menggantinya dengan orang-orang lain yang bahkan tidak sedang kita tunggu.

Karena itu malam ini aku ingin mengingatkan diriku sendiri:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Berusahalah semaksimal mungkin.

Berdoalah semampu mungkin.

Lalu serahkan sisanya kepada Allah.

Karena ketika ikhtiar sudah dilakukan, Allah tahu kapan waktu terbaik untuk membuka jalan.

Dan hari ini aku menjadi saksi atas itu.

Allah tidak pernah terlambat.

Tidak pernah.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Sebelum menutup catatan hari ini, aku ingin berdoa.

Ya Allah...

Balaslah kebaikan orang-orang yang telah Engkau kirimkan untuk membantuku hari ini.

Lapangankan rezeki mereka.
Sehatkan tubuh mereka.
Bahagiakan keluarga mereka.
Mudahkan segala urusan mereka.
Jaga mereka sebagaimana Engkau menjaga diriku hari ini.

Dan jika aku belum mampu membalas kebaikan mereka, maka Engkaulah sebaik-baik Pembalas kebaikan.

Jazakumullahu khairan katsiran kepada semua orang baik yang telah Allah hadirkan dalam hidupku.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Ketika Hati Sedih, Tapi Tidak Panik

Bismillah.

Hari ini Allah kembali mengajarkanku tentang ketenangan.

Sejak pagi ada sedikit perubahan rencana. Hari Minggu biasanya ada petugas pengganti yang membantu karena petugas utama sedang libur. Namun qadarullah, petugas yang biasa menggantikan tidak bisa datang karena anaknya sedang kurang sehat.

Sempat kaget ketika membaca pesan itu. Manusiawi.

Tetapi anehnya, hati tetap tenang.

Aku mencoba mencari solusi satu per satu. Menghubungi orang yang mungkin bisa membantu, memberi arahan pekerjaan, dan menyesuaikan keadaan yang ada.

Di tengah semua itu, ada hal lain yang juga sedang kupikirkan.

Ada sebuah kewajiban yang harus segera diselesaikan. Nominalnya tidak kecil bagiku. Sementara bulan ini Allah belum menghadirkan rezeki sebanyak yang kubutuhkan.

Sedih?

Tentu saja.

Aku juga manusia.

Tetapi aku tidak ingin panik.

Karena sepanjang hidupku, aku sudah terlalu sering melihat bagaimana Allah membuka jalan dari arah yang tidak pernah kusangka.

Hari ini aku kembali mengulang doa yang sering kupanjatkan:

"Aghnini bifadhlika 'amman siwak."

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Aku juga tersenyum mengingat kebiasaanku sendiri.

Kadang aku berkata:

"Allahumma sugeh."

"Allahumma duit okeh."

Dengan bahasa sederhana yang hanya ingin menyampaikan satu hal:

Ya Allah, Engkau Maha Kaya.

Dan aku percaya kepada-Mu.

Kebutuhanku memang banyak. Ada biaya operasional, kebutuhan harian, gaji pekerja, belanja, dan berbagai tanggung jawab lainnya.

Tetapi hari ini aku memilih untuk tetap percaya.

Karena sering kali pertolongan Allah datang bukan ketika aku sudah melihat jalan keluarnya.

Melainkan ketika aku masih duduk menunggu sambil berusaha tenang.

Mungkin hari ini aku belum tahu dari mana jawabannya akan datang.

Namun aku tahu kepada siapa aku meminta.

Dan itu sudah cukup untuk membuat hati lebih tenang.

Maka hari ini aku ingin mencatat satu hal:

Sedih itu manusiawi. Tetapi percaya kepada Allah adalah pilihan yang ingin terus kujaga.

Alhamdulillah 'ala kulli hal.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.



Allah Menghadirkan Pertolongan Melalui Tangan-Tangan Baik

 Bismillah.

Alhamdulillah, hari ini salah satu proses yang cukup panjang dalam hidupku dimulai. Sidang pertama perceraianku berjalan dengan baik.

Jujur, ada banyak hal yang kupikirkan sebelumnya. Bukan hanya tentang sidang itu sendiri, tetapi juga tentang segala sesuatu yang menyertainya.

Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, setiap kali harus keluar rumah ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Ada biaya transportasi, biaya sewa mobil, bantuan tenaga untuk mengangkatku ke kursi roda dan ke dalam kendaraan, serta berbagai kebutuhan lain yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang.

Karena itulah, kehadiran tim kuasa hukum yang mendampingi hari ini menjadi nikmat yang sangat besar bagiku.

Aku juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim pendamping dari LBH Garda Keadilan Indonesia yang telah dengan sabar membantu, mendampingi, dan mewakili kepentinganku dalam proses ini.

Terima kasih atas kesabaran, perhatian, dan profesionalisme yang diberikan. Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, pendampingan ini sangat berarti bagiku karena membantu meringankan berbagai kendala yang harus kuhadapi dalam proses persidangan.

Mungkin bagi sebagian orang ini adalah pekerjaan dan tanggung jawab yang biasa. Namun bagiku, bantuan tersebut sangat berarti dan meringankan banyak hal.

Hari ini kembali mengingatkanku bahwa Allah sering kali menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan baik yang ada di sekitar kita.

Ketika kita merasa tidak mampu melakukan semuanya sendiri, Allah mengirimkan orang-orang yang membantu menyempurnakan kekurangan kita.

Untuk sidang berikutnya, insyaa Allah akan dilaksanakan bulan depan. Aku tidak tahu bagaimana proses ke depannya, tetapi hari ini aku memilih untuk bersyukur.

Bersyukur karena Allah memberikan kemudahan.

Bersyukur karena Allah menghadirkan orang-orang baik.

Bersyukur karena Allah menguatkan hati untuk menjalani setiap tahap kehidupan.

Aku percaya, setiap takdir yang Allah tuliskan pasti mengandung hikmah yang terbaik.

Dan hari ini, aku hanya ingin mencatat satu hal:

Terima kasih ya Allah, karena sekali lagi Engkau menunjukkan bahwa aku tidak berjalan sendirian.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin. 🤲



Menulis Adalah Perjalanan: Inspirasi dari Mas Dwi Wahyudi

 






Komunitas penulis KBM malam ini kembali belajar dari bintang. Kisah Mas Dwi Wahyudi dari Blora adalah pengingat bahwa mimpi seorang penulis tidak pernah mati, meski jalan penuh liku.

Bertahun-tahun ia menulis tanpa hasil besar. Naik sedikit, turun lagi. Ada masa ketika hasilnya nyaris tak terlihat. Namun ia tidak berhenti. Ia tetap menulis, tetap mengirim naskah, tetap mengikuti lomba.

Perlahan, namanya mulai dikenal: 🏆 Finalis Inspiring Story: Sang Petarung 🏆 Finalis KLI 12: Jerat Dosa Nadia 🏆 Juara Harapan KLI 13: Pernikahan yang Sempurna

Puncaknya datang ketika karyanya Surga di Bawah Telapak Kaki Terpidana Mati berhasil menjadi Juara Utama Spesial Ramadan 3. Sebuah capaian yang bukan hanya penghargaan, bukan hanya apresiasi, tetapi juga hadiah perjalanan umroh 🕋.

Kisah ini bukan hanya milik Mas Dwi Wahyudi, tetapi juga milik kita semua sebagai penulis KBM. Ia mengajarkan bahwa:

  • Ketekunan adalah kunci, meski hasil belum terlihat.

  • Kesabaran menjaga mimpi tetap hidup.

  • Syukur dan cahaya menjadikan setiap karya bermakna, bahkan melampaui waktu.

Mari kita jadikan kisah ini sebagai pengingat: jangan pernah berhenti menulis, jangan pernah berhenti bermimpi. Setiap kata yang kita tulis adalah doa, setiap karya adalah cahaya.

Dengan syukur dan cahaya, kita akan terus belajar… belajar… dan belajar.

Refleksi Perjalanan 30 Bab KLI 17: Tentang Ikhtiar, Doa, dan Tidak Menyerah

Alhamdulillah.

Hari ini aku ingin berhenti sejenak, bukan untuk merayakan kemenangan, melainkan untuk bersyukur atas sebuah proses.

Target minimal 30 bab untuk naskah KLI 17 akhirnya tercapai.

Mungkin bagi sebagian orang, angka 30 bab adalah hal biasa. Namun bagiku, angka ini menyimpan banyak cerita. Ada rasa lelah, ada rasa ragu, ada hari-hari ketika ide terasa mengalir deras, dan ada hari-hari ketika aku hanya bisa menatap layar sambil berdoa agar Allah memudahkan langkah berikutnya.

Aku sadar bahwa perjalanan ini masih panjang.

Views ku masih jauh dibandingkan para penulis senior yang mengikuti kompetisi yang sama. Namun saya memilih untuk tidak menjadikan mereka sebagai pembanding yang melemahkan semangat.

Sebaliknya, aku memilih melihat mereka sebagai bukti bahwa sebuah perjalanan panjang memang mungkin ditempuh.

Jika mereka bisa sampai di titik itu, maka saya pun harus terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus melangkah.

Karena setiap penulis besar pun pernah memulai dari nol.

Melalui perjalanan menulis ini, aku belajar bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada kesempurnaan.

Satu bab yang selesai lebih berharga daripada seratus rencana yang tidak pernah ditulis.

Satu langkah kecil lebih berarti daripada menunggu waktu yang dianggap sempurna.

Dan satu doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh sering kali mampu menguatkan hati ketika semangat mulai menurun.

Aku juga belajar bahwa hasil bukanlah wilayahku.

Tugasku hanyalah berikhtiar.

Menulis sebaik mungkin.

Mengunggah sebaik mungkin.

Belajar sebaik mungkin.

Sedangkan hasil akhirnya adalah hak Allah semata.

Karena itu hari ini aku tidak ingin terlalu sibuk memikirkan peringkat, jumlah views, atau hasil kompetisi.

Aku hanya ingin bersyukur.

Bersyukur karena Allah masih memberi kesehatan.

Bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan untuk belajar.

Bersyukur karena Allah masih mengizinkan saya menyelesaikan target yang dulu terasa begitu berat.

Dan saya ingin menyimpan tulisan ini sebagai pengingat.

Kelak ketika semangat menurun.

Kelak ketika merasa tertinggal dari orang lain.

Kelak ketika merasa perjalanan terlalu panjang.

Semoga saya bisa kembali membaca tulisan ini dan mengingat bahwa Allah pernah membantuku sampai sejauh ini.

Afirmasi dan doa yang ingin terus aku pegang:

Bismillah.

Allahumma yassir wa la tu'assir.

Allahumma barik.

Allahumma sehat.

Allahumma lancar.

Allahumma mudahkan setiap langkah yang baik.

Allahumma berkahi setiap ilmu yang dipelajari.

Allahumma berkahi setiap huruf yang ditulis.

Dan doa yang selalu membuatku tersenyum:

Allahumma sugeh.

Ya Allah, cukupkan rezeki kami dengan rezeki yang halal, berkah, dan bermanfaat.

Jika tulisan ini kelak menjadi jalan rezeki, jadikan ia rezeki yang mendekatkan kepada-Mu.

Jika tulisan ini kelak dibaca banyak orang, jadikan ia sumber kebaikan.

Jika tulisan ini kelak berhasil, jangan biarkan hati menjadi sombong.

Dan jika belum berhasil, jangan biarkan hati kehilangan harapan.

Alhamdulillah atas 30 bab pertama.

Bismillah untuk bab-bab berikutnya.

Karena perjalanan ini belum selesai.



Baca selengkapnya di KBM App:

https://kbm.id/book/detail/e9f7b585-93c4-4b79-a099-12e469302744







Hari ini mungkin sedang kosong. Tapi hatiku tidak lagi seberisik dulu

Catatan Jumat Mubarak

Jumat, 12 Juni 2026

Alhamdulillah, pagi ini kembali dibuka dengan Bismillah. Sebelum tahajud tadi, Allah izinkan aku menyelesaikan satu novel baru. Novel itu lahir dari kisah seseorang yang dengan tulus mempercayakan ceritanya kepadaku untuk ditulis. Tentu saja sudah kubumbui dengan fiksi, agar menjadi karya yang lebih utuh dan tetap menjaga banyak hal.

Aku tersenyum sendiri setelah menulis kata terakhirnya. Rasanya seperti Allah sedang mengingatkanku bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Dari tempat tidur pun, Allah masih memberi jalan untuk menulis dan menebar manfaat.

Untuk kegiatan sosial Jumat Berbagi Anak Yatim dari yayasan, hari ini sudah kutugaskan kepada Korwil Timur. Aku memang sengaja mengacak penerima manfaat setiap Jumat, agar keberkahan itu bisa menyapa lebih banyak anak-anak yang membutuhkan.

Alhamdulillah juga untuk kesehatan hari ini. Badan terasa lebih ringan, hati lebih tenang. Nikmat sehat memang sering terasa sederhana, padahal ia adalah salah satu karunia terbesar dari Allah.

Lalu tentang keuangan…

Hari ini mungkin sedang kosong. Tapi anehnya, hatiku tidak lagi seberisik dulu. Aku percaya bahwa Allah Maha Kaya dan tidak pernah salah mengatur rezeki hamba-Nya. Yang tugasku hanyalah berikhtiar, berdoa, dan menjaga hati agar tetap baik sangka kepada-Nya.

Aku kembali mengulang doa yang sering kupeluk dalam diam:

Aghnini bifadlika ‘amman siwak

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”

Dan sungguh, berkali-kali Allah membuktikan bahwa pertolongan-Nya datang dari arah yang tak pernah kusangka.

Hari ini aku hanya ingin bersyukur.

Atas nafas yang masih Allah titipkan.

Atas tangan yang masih bisa menulis.

Atas hati yang masih ingin dekat dengan-Nya.

Atas kesempatan untuk tetap menjadi manfaat, walau sedikit.

Semoga Jumat ini membawa keberkahan untuk kita semua. Semoga Allah melapangkan rezeki yang halal dan baik, menjaga kesehatan, menguatkan iman, dan menerima setiap amal yang kita lakukan hanya karena-Nya. Aamiinn..




Catatan Puasa Daud: Ketika Aku Hanya Ingin Dekat dengan Allah

Banyak orang bertanya kepadaku, mengapa aku menjalankan puasa Daud?

Ada yang berkata, "Kamu puasa terus, tapi kok nggak kurus-kurus?"

Aku biasanya hanya tersenyum lalu menjawab, "Tujuanku puasa bukan untuk kurus. Aku berpuasa karena Allah Ta'ala."

Ada pula yang berkomentar, "Kalau aku jadi kamu juga kuat puasa. Orang cuma rebahan saja."

Kalimat seperti itu kadang membuat hati sedih. Sebab mereka tidak tahu bagaimana hari-hariku berjalan. Mereka hanya melihat tubuh yang terbaring, tetapi tidak melihat aktivitas yang kulakukan dari tempat tidur.

Aku menulis. Aku mengedit video setiap hari sebagai affiliate. Aku mengurus yayasan. Aku harus selalu siap ketika ada tugas yang datang dari dinas. Ada banyak hal yang tetap harus diselesaikan meski kondisi fisik tidak sempurna.

Namun aku belajar satu hal. Tidak semua orang akan mengerti perjuangan kita. Dan tidak semua penjelasan harus diberikan.

Aku memilih diam dan melanjutkan langkahku.

Awalnya, setelah kecelakaan yang mengubah hidupku, aku terbiasa berpuasa hampir setiap hari, kecuali saat ada uzur syar'i. Sampai suatu hari aku mendengar tausiah bahwa puasa sunnah yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud, yaitu sehari puasa dan sehari tidak.

Aku sempat mencoba puasa Senin-Kamis. Namun entah mengapa hati ini masih ingin lebih banyak bersama Allah. Akhirnya aku memilih puasa Daud.

Bukan karena ingin terlihat salehah.

Bukan karena ingin dipuji kuat.

Aku hanya ingin dekat dengan Allah.

Aku ingin setiap hari mengingat-Nya.

Aku ingin hidupku, ibadahku, matiku, semuanya karena-Nya.

Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin.

Seiring waktu, aku mulai merasakan banyak sekali hikmah dari puasa yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Bukan harta berlimpah.

Bukan kemewahan.

Tetapi kemudahan-kemudahan yang datang tepat pada waktunya.

Saat aku dirawat di rumah sakit, pernah terjadi kesalahan administrasi sehingga biaya pengobatan tidak masuk ke jaminan yang seharusnya. Aku baru menyadarinya ketika hendak pulang.

Aku menangis.

Aku tidak tahu harus membayar dari mana.

Namun Allah kembali menunjukkan pertolongan-Nya. Teman-temanku datang pada waktu yang tepat dan membantu melunasi biaya rumah sakit.

Bukan sekali itu saja.

Berkali-kali aku menyaksikan bagaimana Allah membuka jalan ketika jalan itu terlihat buntu.

Mungkin karena itulah aku semakin yakin bahwa tidak ada yang sia-sia dari setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas.

Tahun 2022 aku menandatangani formulir donor mata.

Aku ingin, ketika suatu saat Allah memanggilku, masih ada bagian tubuhku yang bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Karena itulah aku berusaha menjaga mata ini dari hal-hal yang tidak baik. Aku ingin mata ini lebih banyak digunakan untuk membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu, dan melihat hal-hal yang diridhai Allah.

Aku juga berusaha menjaga tubuhku sebaik mungkin. Bahkan jika suatu hari ada yang membutuhkan organ tubuhku dan aku mampu menolongnya, aku ingin bisa menjadi manfaat.

Mungkin hidupku tidak sempurna.

Bantuan dari keluarga pun tidak selalu ada.

Kadang aku juga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kadang harus menggali lubang dan menutup lubang.

Namun aku memilih untuk tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti bersyukur.

Aku lebih suka mengumpulkan alasan untuk tetap tersenyum.

Aku menghindari kebiasaan mengeluh.

Aku menghindari pikiran-pikiran negatif.

Aku memilih berprasangka baik kepada Allah.

Aku memilih memperbanyak doa.

Aku memilih memperbanyak shalawat.

Aku memilih memperbanyak syukur.

Karena aku percaya, hidup akan mengikuti arah hati kita memandangnya.

Jika hari ini ada yang bertanya apa manfaat terbesar dari puasa Daud yang kulakukan selama bertahun-tahun, jawabanku sederhana:

Bukan tubuh yang lebih sehat.

Bukan rezeki yang lebih banyak.

Bukan pula pujian manusia.

Manfaat terbesar yang kurasakan adalah hati yang lebih dekat kepada Allah.

Dan ketika hati sudah dekat kepada-Nya, segala sesuatu terasa lebih ringan untuk dijalani.

Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita semua dalam beribadah.

Semoga setiap lelah yang kita sembunyikan dari manusia menjadi amal yang Allah terima.

Dan semoga ketika hidup terasa berat, kita selalu ingat bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita sangka.

Aamiin.



Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya, Tapi AKU

Ternyata yang Bermasalah Bukan Linknya

Hari ini aku belajar satu hal penting: jangan buru-buru menyalahkan link.

Beberapa saat lalu Dinas Sosial mengirimkan file Instrumen Akreditasi LKS. Semangat sekali aku ingin mempelajarinya. Namun ketika file itu kubuka, hasilnya nihil. Tidak terbuka. Aku mencoba lagi. Tetap tidak bisa.

Dalam hati mulai muncul berbagai dugaan.

"Mungkin link-nya rusak."

"Mungkin filenya bermasalah."

Karena merasa ada yang tidak beres, aku pun menghubungi petugas yang mengirimkan file tersebut. Dengan penuh keyakinan aku menyampaikan bahwa file tidak bisa dibuka.

Beberapa saat kemudian beliau membalas singkat.

"Link apa?"

Di titik itu aku mulai sedikit bingung, tetapi tetap menjelaskan dengan serius. Setelah itu aku menunggu balasan.

Sementara menunggu, aku mencoba membuka file itu lagi. Kali ini aku memperhatikan lebih teliti. Lalu aku melihat tiga huruf kecil yang sebelumnya tidak terlalu kuperhatikan:

RAR.

Aku terdiam.

RAR?

Bukankah itu berarti file harus diekstrak terlebih dahulu?

Dengan rasa penasaran bercampur harap-harap cemas, aku menekan tombol "Ekstrak".

Dan...

Subhanallah.

Semua file langsung muncul dengan rapi.

Instrumen ada.

Dokumen ada.

Semuanya ada.

Saat itulah aku menyadari sebuah fakta yang cukup menampar harga diri:

Linknya tidak bermasalah.

File-nya tidak bermasalah.

Yang bermasalah adalah...

Aku.😄

Dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, aku sudah lebih dulu melapor bahwa file tidak bisa dibuka. Padahal aku sendiri belum mengekstraknya.

Akhirnya aku kembali menghubungi petugas tersebut.

"Maaf, Pak. Ternyata filenya sudah bisa dibuka. Saya lupa mengekstrak file RAR terlebih dahulu."

Alhamdulillah beliau belum sempat repot-repot mencari solusi untuk masalah yang ternyata berasal dari diriku sendiri

Pelajaran hari ini:

Sebelum menyalahkan sistem, link, aplikasi, atau jaringan internet, pastikan dulu file RAR sudah diekstrak

Karena terkadang masalah teknologi yang terlihat rumit ternyata hanya membutuhkan satu tombol kecil bernama"Ekstrak".

Dan terkadang, rasa malu datang bukan karena kita gagal, melainkan karena kita terlalu percaya diri sebelum membaca petunjuk. 😅


Belakangan aku baru sadar, mungkin akar masalahnya bukan pada file RAR itu.

Akar masalahnya dimulai hari sebelumnya.

Aku tidak hadir dalam Rakor LKKS.

Setelah itu, aku juga lupa meminta notulen kepada sekretaris LKKS

Akibatnya, ketika semua orang sudah memahami alur dan berkas yang dibagikan, aku masih sibuk menebak-nebak sendiri.

Dan seperti biasa, orang yang menebak tanpa informasi lengkap sering kali sampai pada kesimpulan yang salah.

Termasuk aku yang dengan percaya diri mengira link bermasalah, padahal file itu hanya menunggu untuk diekstrak.

PERJALANAN DZULHIJJAHKU

Di awal Dzulhijah, tubuhku sempat rapuh,

Namun hati tetap berbisik lirih:

“Ya Allah, sehatkan aku,

Aku ingin puasa penuh sembilan hari.”


Alhamdulillah, Engkau kabulkan,

Langkahku ringan, puasaku terjaga,

Sembilan hari tanpa halangan,

Hanya syukur yang mengalir deras di dada.


Hari Arafah pun tiba,

Air mata jadi saksi keikhlasan,

Doa untuk sahabat, doa untuk keluarga,

Doa untuk jiwa yang mendamba ketentraman.


Idul Adha menyapa dengan takbir agung,

Allahu Akbar menggema di langit dan bumi,

Mengajarkan arti pengorbanan,

Menguatkan hati dalam ridha Ilahi.


Cahaya Sedekah di Pagi Hari

Bismillah

Pagi selalu datang membawa pesan syukur. Di setiap langkah kecil berbagi, ada doa yang terbang ke langit, ada senyum yang tumbuh di wajah orang lain. Inilah catatan hati, refleksi sederhana tentang bagaimana Allah melapangkan rezeki lewat tangan yang memberi.

Ya Allah, Sang Maha Pemberi,

cukupkanlah aku dengan kasih-Mu,

lapangkanlah rezeki yang Engkau titipkan,

agar tangan ini tak pernah letih memberi.

Ya Razzaq, Ya Dzul Quwwah,

kuatkan langkah meski kursi roda menuntun,

jadikan setiap sedekah cahaya,

yang membahagiakan hati banyak insan.

Dan kembalikanlah, ya Rabb,

setiap yang keluar dari genggamanku,

dengan lipatan rahmat,

agar aku tetap bisa menjadi jalan kebaikan.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan kasih-Mu,

lapangkanlah rezeki yang Engkau titipkan,

agar aku tetap bisa memberi,

meski pundak ini lelah,

meski langkah ini terbatas.

Jadikanlah setiap sedekah cahaya,

yang menghapus gelap dari hati,

dan mengundang senyum dari banyak wajah.

Aamiinn..

Semoga setiap langkah untuk berbagi menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup kita. Semoga Allah melipatgandakan rezeki, menguatkan hati, dan menjadikan kita perantara kebahagiaan bagi banyak orang. Ya Allah, jadikanlah sedekah ini bukan sekadar pemberian, tetapi jembatan menuju ridha-Mu.



Perjalanan Menemukan Ketenangan: Dari Ujian Hidup Menuju Cahaya Baru

Kisah seorang perempuan yang bangkit, sembuh, dan memulai hidup baru dengan kekuatan doa, afirmasi, dan keberanian.

Ada fase dalam hidup ketika segalanya terasa runtuh dalam satu waktu, finansial, rumah tangga, kesehatan, hingga emosi. Banyak orang menyerah pada titik ini.

Tapi bagiku, justru di titik paling gelap itulah cahaya pertama mulai terlihat.

Ini adalah ceritaku. Cerita tentang bagaimana aku bangkit, bagaimana aku kembali menemukan senyumku, bagaimana aku belajar percaya sepenuhnya kepada Allah, dan bagaimana hidupku berubah satu per satu, perlahan… tapi pasti.

Hidup yang Tiba-tiba Berubah

Beberapa tahun lalu, hidupku tiba-tiba berbelok tajam. Masalah rumah tangga terjadi, kondisi fisik lemah sampai harus duduk di kursi roda, dan beban finansial menumpuk tanpa henti.
Tagihan-tagihan harus dibayar, kebutuhan rumah berjalan terus, tapi pemasukan hampir tidak ada.

Di saat seperti itu, menangis rasanya jadi makanan sehari-hari. Aku bahkan sampai mencari informasi tentang panti jompo, karena rasanya tidak sanggup lagi mengurus diriku sendiri.

Tapi hidup tetap harus berjalan.
Aku tetap bangun pagi, tetap menguatkan diri, dan tetap berusaha tersenyum.

Titik Balik yang Tidak Kusangka

Setelah masa-masa gelap itu, perlahan aku mulai melakukan satu hal kecil yang akhirnya mengubah segalanya: sedekah subuh.

Tidak banyak, kadang hanya 5.000 rupiah.
Tapi setiap kali aku mengirimkan sedekah itu, aku selalu berdoa:

“Ya Allah, luaskan rezeki hamba… agar hamba bisa membahagiakan banyak orang.”

Selain itu, aku mulai melakukan afirmasi positif setiap hari.
Bukan yang muluk-muluk, hanya:

“Sing tenang…”
“Semua akan baik-baik saja…”
“Allah itu dekat…”

Aku mulai melepaskan orang-orang toxic yang hanya membawa keluhan, agar tidak terseret energi negatif mereka. Pikiran dan hatiku harus senantiasa positif, dari bangun tidur hingga menjelang tidur. Sebab kebahagiaan, pikiran yang jernih, dan hati yang penuh syukur akan menarik datangnya rezeki dan keberlimpahan
Karena....
"Uang akan datang kepada mereka yang bahagia, berpikir positif, dan menjaga hati tetap bersyukur. Semakin kita memancarkan energi baik, semakin mudah keberlimpahan mengalir dalam hidup."

Dan ternyata, kalimat sederhana ini pelan-pelan mempengaruhi jiwaku.
Aku mulai tenang, perasaanku stabil, air mata makin jarang turun.

Hidupku tidak tiba-tiba kaya, tidak juga tiba-tiba sempurna…
Tapi rasanya jauh lebih ringan.

Rezeki dimudahkan, datang dari arah yang tak terduga. 
Aku bersyukur atas sahabat-sahabat yang selalu mendukung tanpa lelah, dengan semangat dan materi yang tulus
Masalah yang dulu terasa berat, mendadak terasa bisa aku tangani.
Kebahagiaan hadir lagi meski perlahan.

Menjadi Jalan Kebaikan Tanpa Kusadari

Aku aktif mengurus yayasan sosial, tempat anak-anak yatim tersenyum setiap hari.
Kadang donasi masuk, kadang tidak.
Kadang aku pakai uangku sendiri, meski sebenarnya aku sedang benar-benar kosong.

Tapi setiap kali aku memberi, aku merasa:

“Mungkin ini sebabnya hidupku tetap dijaga Allah.”

Dan aku percaya…
Selama aku menjadi jalan bahagia untuk orang lain, Allah akan menjaga jalanku.

Kembali Menemukan Jati Diri Lewat Menulis

Setelah lama vakum dari media sosial dan dunia tulis-menulis, tiba-tiba aku kembali membuka Facebook dan Instagram.
Bukan untuk bersosialisasi…
tapi untuk promosi karya.

Ternyata, aku kembali menulis dan aku menikmatinya.
Menulis menjadi pelarian, menjadi terapi jiwa, dan menjadi sumber semangat baru.

Orang-orang di luar sana mungkin kaget melihat aku kembali muncul membawa banyak karya.
Mungkin ada yang bingung, mungkin ada yang iri.

Tapi aku memilih untuk tidak peduli.
Bagiku, menulis adalah jalan hidup baruku. Jalan rezekiku. Jalan penyembuhanku.

Hidup Baru yang Sedang Aku Bangun

Sekarang, aku tidak lagi menangis seperti dulu.
Aku tidak lagi takut pada hari esok.
Bahkan ketika uang belum ada, aku bisa tetap tenang.

Karena aku percaya, sepenuhnya percaya, bahwa Allah selalu mencukupkan.

Aku sedang melewati proses hukum, proses hidup, proses hati…
Semua aku jalani dengan lapang dada.
Bukan karena aku kuat, tapi karena aku akhirnya belajar berserah.

“Kadang-kadang, Allah hancurkan jalan kita bukan untuk menghukum… tapi agar kita berbalik dan menemukan jalan yang lebih indah.”

Jika Kamu Sedang Lelah, Tenanglah… Kamu Tidak Sendirian

Jika kamu membaca ini dan sedang berada di titik terendah hidupmu, percayalah:
yang kamu butuhkan hanyalah satu langkah kecil untuk mulai naik.

Sedekah kecil.
Doa tulus.
Afirmasi positif.
Hati yang terus percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Aku melewatinya.
Dan kamu pun akan melewatinya.

Dengan izin Allah, kamu akan lebih kuat dari hari ini.
Aamiin.

Salam

- Langit Didada



Akan Ada Masanya Kamu Dirayakan


Dalam perjalanan hidup, sering kali kita merasa berjalan sendirian, seolah cinta yang kita berikan tidak pernah kembali dengan utuh. Namun, jangan lupa: akan ada masanya di mana kehadiranmu dirayakan.

Akan ada seseorang yang melihatmu bukan hanya sebagai sosok biasa, melainkan sebagai anugerah. Ia akan bersyukur setiap hari karena memilikimu, mencintaimu dengan hebat, dan menjadikanmu alasan untuk terus berjuang.

Cinta seperti itu tidak datang tergesa-gesa. Ia tumbuh dari kesabaran, dari luka yang pernah sembuh, dari doa yang pernah dipanjatkan. Dan ketika waktunya tiba, kamu akan tahu: semua penantianmu tidak sia-sia.

Karena pada akhirnya, setiap hati berhak dirayakan. Setiap jiwa berhak dicintai dengan tulus. Dan kamu, ya kamu, akan sampai pada masanya itu.

Sing tenang...

Are you oke? Aman saja

Kalimat sederhana “Are you ok?” sering muncul sebagai bentuk kepedulian. Pertanyaan itu seolah mengetuk pintu hati, menanyakan keadaan seseorang di balik senyum atau diamnya.

Jawaban “aman saja” terdengar singkat, tapi menyimpan makna: ada ketenangan, ada kekuatan, meski mungkin banyak hal sedang terjadi. Kata “aman” memberi rasa lega, seolah berkata: aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir.

Dalam percakapan sehari-hari, kombinasi ini bisa menjadi simbol komunikasi yang hangat. Pertanyaan singkat, jawaban ringkas, namun keduanya mencerminkan perhatian dan keteguhan.


Langkah kaki di jalan sunyi

Hari ini aku menandatangani surat kuasa perceraian. Langkah ini bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, tapi juga tanda bahwa aku berani menatap hidup baru dengan segala konsekuensinya.

Aku ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada tim kuasa hukumku. Mereka sabar mendengarkan, menenangkan, dan mendampingi setiap proses yang melelahkan. Di tengah rasa rapuh, mereka menjadi penopang yang membuatku tetap berdiri.

Perjalanan ini belum selesai, palu hakim belum diketuk. Tapi aku tahu, setiap langkah sudah mengarah pada kelegaan. Dan di balik semua luka, ada harapan untuk lembaran baru.



Ikhlas, Cahaya yang Menyembuhkan

Pagi ini, tim kuasa hukum datang ke rumah untuk menanyakan beberapa hal terkait berita acara gugatan perceraian. Besok, insyaa Allah, proses akan berlanjut dengan penandatanganan surat kuasa. Alhamdulillah, hati yang selama ini terasa digantung bertahun-tahun, kini mulai menemukan jalan terang. Ada rasa lega, karena akhirnya bisa melepaskan dengan ikhlas.

Perjalanan panjang ini bukan sekadar tentang berpisah, tetapi tentang keberanian untuk memilih kejelasan, tentang menerima takdir dengan lapang dada. Melepaskan bukan berarti kalah, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh, sembuh, dan menemukan kembali cahaya.

Hari ini, aku belajar bahwa ikhlas adalah kekuatan. Bahwa setiap akhir adalah pintu menuju awal yang baru. Semoga langkah ini menjadi jalan menuju ketenangan, dan semoga hati tetap terjaga dalam doa dan rasa syukur.