Setiap bait di sini hanyalah jejak kecil dari perjalanan panjang. Jika hatimu ingin berjalan lebih jauh, menelusuri 139 puisi penuh rasa, silakan membuka e-book lengkap yang telah kususun dengan doa dan cinta.
📖 Unduh e-book lengkap di sini:
Setiap bait di sini hanyalah jejak kecil dari perjalanan panjang. Jika hatimu ingin berjalan lebih jauh, menelusuri 139 puisi penuh rasa, silakan membuka e-book lengkap yang telah kususun dengan doa dan cinta.
📖 Unduh e-book lengkap di sini:
Kasih ibu sepanjang masa
Ibu
yang berjuang untuk buah hatinya mulai dari mengandung, melahirkan, hingga
membesarkan.
Rela
menahan lapar sebelum mereka kenyang
Dari
pagi hingga malam hari tak lelah melayani
Sosok
perempuan itu bernama ibu
Tenaga
dan waktu di curahkan sepenuhnya
Sampai
tak menghiraukan kesehatannya sendiri
Demi
buah hati dengan doa agar bisa menjadi anak yang berguna dan berbakti
Perempuan
tangguh itu ibu
Banting
tulang kepala jadi kaki, kaki jadi kepala
Memutar
roda perekonomian keluarga
Semangat
membara demi masa depan putra putrinya
Pahlawan
tanpa sayap itu ibu
Madrasah
pertama bagi buah hatinya
Ada
surga di telapak kakinya
Doa²nya
di ijabah, redho ibu adalah redho-Nya
Selamat
Hari Ibu
Untuk
almarhumah ibuku
Untuk
ibu-ibu hebat Indonesia
Rabbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiira
Ketika aku ingin bercerita dan tidak ada tempat untuk bercerita pertama sangat memilukan, yang biasanya ada tempat untuk menceritakan semua kejadian yang ku alami setiap hari, tiba-tiba hilang
Menangis, menyalahkan diri sendiri hingga ingin bunuh diri
seketika berdiam dalam keramaian, bungkam dalam kericuhan pikiran
dan.. waktu itu benar-benar di fase ingin sendiri, menutup pintu pertemanan, menghindar dari hingar bingar. dan dari situ aku tau siapa yang benar-benar peduli.
Kadang hidup membawa kita pada titik paling sunyi—titik di mana cinta tidak lagi bicara tentang siapa yang paling tulus, tapi siapa yang paling dipilih.
Dan ketika kita tidak dipilih, luka itu terasa berbeda.
Lebih dalam.
Lebih diam.
Lebih menyiksa.
Narasi ini kutulis untuk siapa pun yang pernah bertahan terlalu lama, mencintai terlalu tulus, dan akhirnya melepaskan seseorang yang pada akhirnya memilih orang lain.
Aku pernah berdiri di depan cermin,
menatap wajahku sendiri lama sekali…
sampai akhirnya aku bertanya pelan,
“Barangkali memang aku tidak sempurna…
barangkali kekuranganku terlalu banyak,
sampai dia memilih mencari yang menurutnya lebih.”
Aku tidak menyangkal.
Aku tahu aku manusia, bukan yang tercantik,
bukan yang paling menarik,
dan bukan yang pandai menutupi luka-luka kecil yang kupikul sendiri.
Mungkin aku lelah,
mungkin aku tidak selalu siap,
mungkin aku tidak selalu bisa menjadi perempuan ideal yang orang lain bayangkan.
Dan mungkin, justru itu alasannya.
Dia memilih mencari “kesempurnaan” di luar rumah,
mengira ia menemukan sesuatu yang lebih baik,
lebih ringan,
lebih baru.
Sementara aku…
aku tetap bertahan,
bahkan ketika hatiku sudah hampir habis untuk melawan sepi.
Aku pernah mencintai seseorang
yang tetap aku doakan baik-baik,
meski diam-diam ia memeluk orang lain ketika aku tidak tahu.
Aku bertahan,
bahkan ketika lukaku semakin lebar.
Sampai akhirnya aku sadar,
bukan aku yang tidak cukup,
bukan aku yang kalah.
Aku hanya bukan orang yang ia pilih.
Sesederhana itu. Sesakit itu.
Aku akhirnya melepaskan bukan karena tidak sayang,
tapi karena aku tidak mau berubah menjadi perempuan
yang menyakiti dirinya sendiri
demi seseorang yang tak lagi melihat nilainya.
Dan setelah semuanya pecah,
aku memilih mundur.
Bukan karena aku lemah,
tapi karena aku sudah selesai memperjuangkan seseorang
yang sudah lebih dulu memberi ruang kepada perempuan lainnya.
Kadang yang paling menyakitkan
bukan ditinggalkan,
tapi disuruh mengerti
tanpa pernah dijelaskan.
Hari itu aku berhenti menunggu.
Bukan karena aku tidak cinta,
tapi karena akhirnya aku mencintai diriku sendiri
lebih daripada aku mencintai seseorang
yang tidak pernah benar-benar kembali.
Jika kamu membaca ini dan merasa kisahmu mirip denganku, ketahuilah satu hal:
kamu tidak kalah.
Kamu hanya terlalu berharga
untuk dipertahankan oleh orang yang tidak tahu cara menggenggammu.
Dan suatu hari nanti, semesta akan mempertemukanmu
dengan seseorang yang memilihmu tanpa ragu,
tanpa diam-diam,
tanpa menyembunyikanmu dari dunia.
Sampai hari itu tiba,
sembuhkan dirimu, pelan, tapi pasti.
Di penghujung bulan yang kesembilan
Kutitipkan rindu pada langit jingga
Di tepi jendela, kuraih pena
Meramu bait bait kata kala gelap bersua
Bercengkrama dengan waktu
Mengapa kau biarkan aku sendirian menapaki kehidupan
Tak kan kulupakan ketika masih bersamamu
Walau kini tinggal angan angan kehampaan
Perih menusuk luka hati nurani
Terkadang terpikir ingin menyerah
Namun... masih panjang narasi dimana namamu terbingkai rapi
Dan aku mencoba selalu tabah menunggunya entah
Rencana semesta menyadarkan
Betapa mencintai tak bisa memiliki selamanya
Bahwa jodoh rezeki maut hak mutlak Tuhan
Kita hanya mengikuti skenario terbaik-Nya
GEGAP GEMPITA
MENYAMBUT KEMERDEKAAN NEGERI
Ana Restuningtyas
Peringatan hari
kemerdekaan tahun duaribu duapuluhdua
Nyala gelora
semangat rakyat kembali membara
Setelah dua tahun
terhenti karena corona
Saatnya kita
pekikkan lagi dengan lantang
MERDEKA
Berbagai lomba
mulai di adakan
Dari sekolah,
kelurahan dan perkantoran
Siswa sekolah
hingga ibu ibu rumahan
Karnaval, pentas
seni, gerak jalan juga panjat pinang yang paling di nantikan
Perayaan
kemerdekaan negeri
77 tahun yang
lalu perjuangan pahlawan di peringati
Mengenang para
pahlawan dalam pertempuran
Melawan penjajah
banyak sudah darah tertumpah
Dulu dengan
semboyan MERDEKA atau MATI
Para pejuang
dengan gagah berani berjuang demi bumi pertiwi
Tak peduli nyawa
taruhannya, sampai kemerdekaan dalam genggaman
Dan proklamasi di
bacakan dengan lantang
(video
proklamasi)
Mari kita teruskan
perjuangan para pahlawan
Dengan menjaga
persatuan dan kesatuan
DIRGAHAYU TANAH
AIRKU
INDONESIA
Pagi yang
selalu kunanti
Ku awali
dengan menyebut Asma Alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang
Memulai
hari melangkah dengan pasti
Hangatnya
mentari memberi semangat setiap insani
Pagi yang
selalu menakjubkan
Dari
udaranya yang segar, aku belajar tentang kesabaran
Kita
adalah luka yang belum tersembuhkan
Kita
masih butuh jeda untuk saling berinstropeksi diri
Menikmati
sarapan dengan sebait puisi
Masih
banyak hal yang ingin kutuliskan
Ingin ku
ungkapkan rasa dalam kata
Tentang
kita yang dipisahkan oleh keadaan
Secangkir
kopi menemani pagi
Menghirup
sinar matahari
Segala
hal tentangmu, membuatku kian mencandu
Semakin
liar dalam ruang imajiku
Bahwa aku sangat merindukanmu
Aku pernah bertanya,
apa sih tujuan hidupku?
Dan dalam keheningan,
hatiku menjawab:
“Hidupku bukan milikku sendiri.”
Maka, meski ragaku terbatas,
aku ingin kelak—saat nafasku berhenti—
ada bagian dari diriku yang tetap hidup,
yang terus memberi arti,
walau aku telah pergi.
Mataku mungkin akan terpejam selamanya,
tapi semoga bisa membuka pandangan bagi jiwa lain,
yang masih ingin melihat dunia…
yang masih punya mimpi.
Sebab aku percaya,
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘alamin.
Segala ibadah, hidup, dan matiku… untuk Allah semata.
Terima kasih telah menjadi jembatan harapan ini.
Semoga kebaikan kecil ini membawa manfaat yang besar
Kehidupan kita semakin bahagia
Kehadiran bayi mungil buah cinta kita
Aku makmum yang menjalankan perintah agama
Sebagai ibu rumah tangga nan bahagia
Seiring waktu, bermunculan sifat aslinya
Semakin hari semakin nyata
Lelaki yang aku cinta tak seperti pertama jumpa
Sejak saat iitu percik api pertengkaran mulai ada
Rumah tangga sudah tak sehat lagi
Terlontar kata talak dari mulut suami
Kubertahan walau hati terus di tusuk duri
Hingga akhirnya aku memiliih untuk pergi
Penat membebani badan
Semua luka, hantaman,
cobaan tak bosan menghapiri
datang silih berganti
Walau di paksa kuat oleh
keadaan
Dan terus berpura-pura kokoh
yang membuat hati kian cedera
Haii Tuan…
Bolehkah aku pinjam
pundakmu
Tuk senderkan isi kepala
yang riuh
Gemuruhnya menghantam dari
segala sisi, serasa ingin membelah
Biar berjatuhan seluruh
tekanan di tumpukan gelisah
Terkadang.. ingin menyerah
di tengah bait-bait takdir
Entah sudah berapa alenia
goresan tinta aksara
Sudah berapa putaran jarum
jam yang tak pernah lelah terus berputar
Sudah berapa kali layar
monitorku mati karena kehabisan tenaganya
Dan.. apakah aku harus
seperti jarum jam yang terus berputar hingga mati sendiri
Atau aku harus seperti
layar monitorku yang sudah kehabisan daya namun terus di paksa, di jejali dengan
bermacam-macam file-file kehidupan setiap waktunya.
Tuan…
Aku lelah
Alarm berbunyi membangunkan tidur lelapku
Jumah dini hari,kemilau di rintik sepi
Bercengkrama dengan sang pemilik semesta
Dalam ruang paling rahasia berbentuk doa
Di luar jendela langit masih meneteskan air mata
Rinai hujan yang menyapa dalam ruang hati nan sunyi
Di atas sajadah tafakuri diri
Memahat aksara dengan rasa
Tuhan peluk aku dalam kerapuhan
Jiwaku lelah berselimut pasrah
Bertasbih dalam keheningan, tangisku berbicara
Berharap ampunan atas segala dosa
Perjalanan hari nan penuh berkah
Merangkai asa bersama keterbatasanku
Mendekap erat hidayah Illahi
Sebelum nyawa berpulang kepangkuanNya
Kisah rasululloh yang menggetarkan jiwa seluruh umatnya
27 rajab bulan ketujuh tahun hijriyah
Al isra Wal mi’raj
Kebesaran Allah Ta’ala dalam memperjalankan hambaNya
Dari masjidil haram mekah Menuju masjidil aqsa
Mengendarai Buraq yang dapat berlari laksana kilat
Yang di bawa Malaikat Jibril dari surga
Menemani perjalanan penuh cahaya keberkahan di sekelilingnya
Peristiwa penuh makna rasulullah di malam itu
Melanjutkan perjalanan naik menuju sidratul muntaha
Malaikat Jibril sudah tak menyertainya
Rasulullah berjumpa Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Mendapat perintah sholat lima waktu untuk setiap harinya
Al isra wal mi’raj
Suatu mukjizat kebenaran Illahi
Pelajaran keimanan untuk tunduk dan taat pada aturan-Nya
Dalam menjalani kehidupan sehari-hariLangit sore menumpahkan tangisnya,
rintik-rintik menari di jalan tanah,
seorang gadis kecil mengayuh sepeda,
dagangannya basah, tapi impiannya tak punah.
Di rumah, ayah dan ibu terbaring lemah,
ia ingin melihat senyum mereka kembali merekah,
maka setiap sore sepulang sekolah,
ia berkeliling membawa harapan di pundaknya.
Dingin merayap di jemari mungilnya,
plastik pembungkus tak cukup melindungi,
namun langkahnya tetap menyusuri desa,
tak peduli awan kelabu yang mengiringi.
Setiap tetes hujan adalah ujian,
namun ia tak menyerah pada derasnya rintik,
esok mentari akan tersenyum padanya,
menghangatkan hati yang gigih dan tak terusik.
Baginya, kerja keras bukan sekadar kewajiban,
tapi bukti cinta, bakti, dan harapan,
suatu hari ia akan membahagiakan mereka,
menghapus duka dengan kehangatan kasihnya
Parade menulis puisi selama 30 hari berturut² yang di selenggarakan oleh @writerpreneur academy
Saat ini aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan
Dalam heningku, tangisku, ceriaku, bahagiaku semua karenamu
Pikiran melayang jauh, daksaku penuh peluh
Meski raga terbentang jarak, perihalmu tak kan lekang oleh waktu
Dari sebuat bait menjadi narasi
Kuhidangkan dari dalam hati
Satu persatu kenangan, ku ingat kembali
Tertulis rapi menjadi puisi penuh elegy
Kepada lelaki yang aku cintai
Kita pasti bisa melalui fase sulit ini
Jika suatu saat nanti semesta mempertemukan kita
Menetaplah denganku, jangan ada lagi ada jeda
Teruntukmu seseorang pelengkap takdirku
Izinkan aku tetap melangitkan namamu
Kuhangatkan kau dengan doa-doa panjangku
Aku sangat bersyukur memilikmu
Resonansi Keindahan Pagi Pada Bait Perjuangan Anak Negeri...
Karya : Budi Haryanto Atta Di bacakan oleh : Kak Oyyo Nurhidayah Siregar, S.Pd,. M.Ag Wahai Sang Bila, Lihat kami anak-anak negeri di pagi hari... Wahai Sang Masa, Beri kami para anak-anak pertiwi satu waktu... Untuk, Tinggikan Merah Putih kami... Gelorakan Semangat Garuda kami... Sampaikan Saktinya Pancasila kami... Pada, Semua keindahan tepian embun... Semua imajinasi kabut pagi ini... Semua harapan hati di negeri ini... Semua pasang mata didunia... Dengan, Stevia kami yang menjadi nadi ekonomi... Stevia kami yang menjadi penentu regulasi... Stevia kami yang menjadi tumpu asa anak bangsa... Mari... Rebut kembali jayanya Indonesia sebagai raja gula... Walau kali ini jaya sebagai raja gula non sukrosa... Namun tetap kibarkan Merah Putih kita sebagai penentu harga gula non sukrosa... Karena... Kalau bukan kita, Siapa lagi... Kalau bukan sekarang, kapan lagi ... *Padamu Negeri, Kami Berjanji,* *Bagimu Negeri, Jiiwa Raga Kami...* *Amor Patriae Nostra Lex, _Cinta Tanah Air Adalah Hukum Kami_*#Janganpernahlelahmencintaiindonesiayanghebatini...