Suaminya pergi tanpa pamit. Hati hancur, penuh pertanyaan yang tak terjawab.
Kalau ingin pergi, kenapa kembali lagi? Bahkan menikahi
Rindu dan keraguan menyesakkan dada, tapi ada sesuatu yang tak bisa ia lepaskan, cinta yang tulus.
Setiap malam, ia menatap langit, menulis namanya dalam doa, berharap takdir akan memberi jawaban, atau setidaknya menjaga hati yang saling memiliki.
Hari itu, mereka bertemu lagi untuk pertama kalinya setelah lama terpisah.
Matanya menatap suaminya, suara gemetar:
“Aku… masih istrimu atau tidak?”
Suaminya terdiam sejenak, mata mereka bertemu, seolah membaca semua pertanyaan yang tak terucap selama ini.
Lalu ia tersenyum lembut, menatap penuh cinta:
“Masih dong.”
Hatinya meledak dalam lega dan air mata yang tak tertahan. Semua keraguan dan kesedihan sirna dalam satu kata itu.
Suaminya meraih tangannya, menggenggam erat, seakan menegaskan bahwa tidak ada yang berubah. Cinta mereka tetap hidup, tulus, dan abadi, meski dunia tak selalu memberi ruang.
Di balik senyum dan kata-kata manis, ada rindu yang hanya mereka berdua yang tahu.
Takdir kadang kejam, tapi cinta tetap berbisik di antara sunyi.
Mereka menulis namanya dalam doa, berharap kebahagiaan akan datang, atau setidaknya menjaga hati yang saling memiliki…
Di hari anniversary mereka, tak ada pesta megah, tak ada hadiah mahal.
Istri hanya meminta satu hal: waktu, hanya quality time bersama.
Suaminya tersenyum, meraih tangannya, dan bertatapan mata diam tapi penuh arti.
Karena cinta sejati tak butuh banyak kata, hanya hati yang saling memahami dan waktu yang dijalani bersama…

