Tampilkan postingan dengan label diary ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diary ramadhan. Tampilkan semua postingan

“Ketika Ramadhan Mulai Berkemas”

Ramadhan mulai merapikan cahanya.

Hari-harinya yang tenang terasa seperti daun yang gugur perlahan indah, tapi membuat hati ikut lirih.
Setiap malam semakin sunyi, namun justru di sanalah doa-doa menemukan bisikannya yang paling jujur.

Ada haru yang pelan-pelan tumbuh,
bukan karena Ramadhan pergi,
tapi karena kita takut tak diberi kesempatan untuk kembali memeluknya tahun depan.

Di sela keheningan itu, doa ini kembali terucap, lebih lembut dari sebelumnya:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Ya Allah… Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau mencintai maaf.
Maka ampuni, lapangkan, dan kuatkan aku.

Semoga umur ini Allah jaga.
Semoga langkah ini Allah arahkan.
Semoga hati ini tetap dekat dengan-Nya,
hingga Ramadhan kembali datang mengetuk,
dan kita masih diberi ruang untuk menyambutnya lagi.


Catatan Ramadhan 19

Hari ini aku belajar bahwa ketenangan adalah anugerah yang tidak ternilai. Meski badan kurang sehat, urusan datang satu per satu, dan banyak kejadian tak terduga, Allah tetap menjagaku agar mampu melewati semuanya dengan hati yang sabar.

Dari asisten yang sakit, kaca lemari yang pecah, hingga mesin cuci yang rewel, semuanya terasa berat. Namun Alhamdulillah, Allah menghadirkan bantuan lewat tangan-tangan baik yang sigap menolong.

Di tengah riwehnya hari, aku tetap dapat menyempurnakan puasa. Setiap lelah dan pengeluaran mendadak, aku niatkan sebagai sedekah Ramadhan dan bagian dari perjalanan ibadah.

Semoga Allah mengganti semua capek hari ini dengan keberkahan yang luas.
Alhamdulillah untuk setiap ujian yang mendewasakan dan setiap pertolongan yang menenangkan hati.



Daily Ramadhan ke-6

Kadang kaki lelah melangkah,

hati ragu menatap jalan yang belum pasti.
Namun di sela napas, terdengar lembut bisikan:
"Laa tahzan, innallaha ma’ana"

Setiap langkah kecil di jalan kebaikan adalah doa,
setiap tetes keringat adalah cahaya,
dan setiap niat ikhlas pasti Allah mudahkan jalannya. 

Meski sendiri, aku tak pernah benar-benar sendiri.
Allah menuntun, Allah memberi kekuatan,
Allah menyiapkan pertolongan tepat pada waktunya.

Di sinilah aku belajar,
bahwa kebaikan tidak selalu mudah,
tapi selalu indah bagi yang sabar dan yakin.


Ramadhan Day 5: Melangkah Meski Sendiri

Proposal sudah selesai: dicetak, dijilid rapi, dimasukkan ke dalam amplop—tinggal diantar.

Qadarullah… sampai hari ini belum ada satu pun teman pengurus yang Allah gerakkan untuk membantu proses pengantaran.

Sementara aku sendiri terbatas, karena untuk mengantar proposal butuh tenaga dan biaya. Harus sewa mobil, harus ada yang mendampingi, dan ini bukan kegiatan pribadi, ini amanah sosial. Yayasan ini bukan milik perseorangan, tapi milik bersama. Tidak ada gaji, tidak ada keuntungan. Semua benar-benar gerakan hati yang tulus dan ikhlas.

Kadang Allah membuka pintu pahala, tetapi kembali lagi pada hati masing-masing:
Ada yang siap melangkah duluan, ada yang menunggu semuanya “siap” baru ingin bergerak.

Bismillah…
Meski sendiri, aku tetap mulai menghubungi orang-orang yang setiap tahun ikut berdonasi Ramadhan. Semoga Allah cukupkan langkah kecil ini menjadi keberkahan besar, dan semoga apa pun yang dilakukan hari ini ditulis Allah sebagai amal shalih.



“Jangan titipkan harapanmu pada manusia
mereka hanya bayang yang datang dan pergi.
Titipkanlah pada Allah,
Dzat yang tak terlihat oleh mata,
namun selalu hadir dalam setiap detak hati.”

Salah Jam di Hari Sabtu: Panik Kecil yang Jadi Kenangan Ramadhan

Tentang fokus, lelah, dan tawa kecil yang lahir dari amanah Ramadhan.

Hari Sabtu itu harusnya jadi hari istirahat.
Tapi sejak pagi aku sudah duduk di depan meja yang penuh kertas, amplop coklat, dan print-printan proposal.
Tanganku sibuk menempel, melipat, menyusun, sementara pikiranku fokus pada jasa jilid yang tutup jam empat sore.

Aku terlalu tenggelam dalam pekerjaan.
Terlihat dari betapa mudahnya aku salah membaca waktu.

Saat jam menunjukkan pukul 14.00, entah kenapa di pikiranku berubah menjadi jam 16.00.
Aku langsung panik.
Kalau telat sedikit saja, tukang jilid tutup.
Kalau tutup, besok Minggu libur.
Kalau libur, Senin aku tidak bisa mengantar proposal ke bu ketua dan instansi-instansi yang menunggu.

Tanpa pikir panjang, aku panggil mbak yang sedang memasak.
“Cepet, mbak… jilid sekarang, keburu tutup!”
Mbak sampai mematikan kompor dan buru-buru pergi.


Aku pun chat pegawai tempat print.

“Sudah tutup belum, mbak?”

Dijawab: “Belum, masih buka mbak”

Masyaa Allah, lega.
Tapi panikku masih tersisa.

Beberapa menit kemudian, sambil mengetik “nama-nama” untuk amplop berikutnya, aku melirik jam lagi.
Dan di sana aku baru sadar…

Itu masih jam 2 siang.


Masih panjang.
Perjalanan pun dekat.

Aku terdiam sejenak, lalu tertawa pelan sambil istighfar.
Panikku barusan ternyata hanyalah akibat kecapekan.
Sejak malam belum tidur, fokus dari pagi, sampai waktu rasanya berjalan lebih cepat dari biasanya.

Tapi di balik semua itu, aku merasa hangat.
Karena di tengah kekacauan kecil ini, aku sedang menyiapkan sesuatu yang insyaa Allah bernilai besar:
untuk anak-anak yatim,
untuk Ramadhan,
untuk amanah.

Kadang, kesalahan kecil, bahkan salah jam, justru jadi kenangan manis.
Karena ia mengingatkanku bahwa lelah dalam kebaikan tetap terasa ringan,
selama niatnya karena Allah.



Pelukan yang Menyapa dalam Mimpi

Siang itu, dalam hening yang lembut,

ada sosok datang menyapa, membawa pelukan yang lama tak singgah.

Aku tak pernah menunggu, tak pernah menyebut namanya, namun semesta menitipkan kehadiran, sekilas rindu, sekilas bahagia, lalu pergi, meninggalkan senyum samar di hati.