Tampilkan postingan dengan label Ramadhan 2026. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan 2026. Tampilkan semua postingan

Daily Ramadhan ke-6

Kadang kaki lelah melangkah,

hati ragu menatap jalan yang belum pasti.
Namun di sela napas, terdengar lembut bisikan:
"Laa tahzan, innallaha ma’ana"

Setiap langkah kecil di jalan kebaikan adalah doa,
setiap tetes keringat adalah cahaya,
dan setiap niat ikhlas pasti Allah mudahkan jalannya. 

Meski sendiri, aku tak pernah benar-benar sendiri.
Allah menuntun, Allah memberi kekuatan,
Allah menyiapkan pertolongan tepat pada waktunya.

Di sinilah aku belajar,
bahwa kebaikan tidak selalu mudah,
tapi selalu indah bagi yang sabar dan yakin.


Ramadhan Day 5: Melangkah Meski Sendiri

Proposal sudah selesai: dicetak, dijilid rapi, dimasukkan ke dalam amplop—tinggal diantar.

Qadarullah… sampai hari ini belum ada satu pun teman pengurus yang Allah gerakkan untuk membantu proses pengantaran.

Sementara aku sendiri terbatas, karena untuk mengantar proposal butuh tenaga dan biaya. Harus sewa mobil, harus ada yang mendampingi, dan ini bukan kegiatan pribadi, ini amanah sosial. Yayasan ini bukan milik perseorangan, tapi milik bersama. Tidak ada gaji, tidak ada keuntungan. Semua benar-benar gerakan hati yang tulus dan ikhlas.

Kadang Allah membuka pintu pahala, tetapi kembali lagi pada hati masing-masing:
Ada yang siap melangkah duluan, ada yang menunggu semuanya “siap” baru ingin bergerak.

Bismillah…
Meski sendiri, aku tetap mulai menghubungi orang-orang yang setiap tahun ikut berdonasi Ramadhan. Semoga Allah cukupkan langkah kecil ini menjadi keberkahan besar, dan semoga apa pun yang dilakukan hari ini ditulis Allah sebagai amal shalih.



“Jangan titipkan harapanmu pada manusia
mereka hanya bayang yang datang dan pergi.
Titipkanlah pada Allah,
Dzat yang tak terlihat oleh mata,
namun selalu hadir dalam setiap detak hati.”

Refleksi Ramadhan Hari ke-4: Syahdu Hujan dan Kolak Cincau

Ahad, 22 Februari 2026

Alhamdulillah, hari ini terasa begitu tenang. Setelah semalam tidak tidur sama sekali, akhirnya siang tadi aku bisa beristirahat dengan nyenyak. Efek obat batuk pun mereda, dan ketika bangun tidur badan terasa segar kembali, batuk pun sudah hilang.

Seperti biasa di bulan Ramadhan, aku menargetkan khatam Al-Qur’an minimal sekali, dengan membaca satu juz setiap hari. Sholawat menjadi penguat batin, menenangkan hati di tengah kesibukan dunia.

Selain urusan akhirat, aku tetap menjalankan aktivitas sehari-hari sebagai affiliate di TikTok Shop: mengedit video produk parfum dan perlengkapan rumah tangga, sambil menunggu waktu berbuka. Sore ini, hujan turun di desaku tercinta. Allahumma shayyiban naafi‘an 🌧️ doa hujan pun terucap, menambah syahdu suasana puasa hari ini.

Menu berbuka sudah tersaji di meja: kolak cincau dan pisang goreng. Alhamdulillah, walau kepala dipenuhi banyak pikiran, Allah tetap memberikan ketenangan hati.


“Puasa bukan hanya menahan lapar, tapi juga menumbuhkan ketenangan jiwa.”

Salah Jam di Hari Sabtu: Panik Kecil yang Jadi Kenangan Ramadhan

Tentang fokus, lelah, dan tawa kecil yang lahir dari amanah Ramadhan.

Hari Sabtu itu harusnya jadi hari istirahat.
Tapi sejak pagi aku sudah duduk di depan meja yang penuh kertas, amplop coklat, dan print-printan proposal.
Tanganku sibuk menempel, melipat, menyusun, sementara pikiranku fokus pada jasa jilid yang tutup jam empat sore.

Aku terlalu tenggelam dalam pekerjaan.
Terlihat dari betapa mudahnya aku salah membaca waktu.

Saat jam menunjukkan pukul 14.00, entah kenapa di pikiranku berubah menjadi jam 16.00.
Aku langsung panik.
Kalau telat sedikit saja, tukang jilid tutup.
Kalau tutup, besok Minggu libur.
Kalau libur, Senin aku tidak bisa mengantar proposal ke bu ketua dan instansi-instansi yang menunggu.

Tanpa pikir panjang, aku panggil mbak yang sedang memasak.
“Cepet, mbak… jilid sekarang, keburu tutup!”
Mbak sampai mematikan kompor dan buru-buru pergi.


Aku pun chat pegawai tempat print.

“Sudah tutup belum, mbak?”

Dijawab: “Belum, masih buka mbak”

Masyaa Allah, lega.
Tapi panikku masih tersisa.

Beberapa menit kemudian, sambil mengetik “nama-nama” untuk amplop berikutnya, aku melirik jam lagi.
Dan di sana aku baru sadar…

Itu masih jam 2 siang.


Masih panjang.
Perjalanan pun dekat.

Aku terdiam sejenak, lalu tertawa pelan sambil istighfar.
Panikku barusan ternyata hanyalah akibat kecapekan.
Sejak malam belum tidur, fokus dari pagi, sampai waktu rasanya berjalan lebih cepat dari biasanya.

Tapi di balik semua itu, aku merasa hangat.
Karena di tengah kekacauan kecil ini, aku sedang menyiapkan sesuatu yang insyaa Allah bernilai besar:
untuk anak-anak yatim,
untuk Ramadhan,
untuk amanah.

Kadang, kesalahan kecil, bahkan salah jam, justru jadi kenangan manis.
Karena ia mengingatkanku bahwa lelah dalam kebaikan tetap terasa ringan,
selama niatnya karena Allah.



Ketika Langit Membuka Jalan

Jumat Berbagi — Ramadhan 2026

Sejak pagi, hujan turun tanpa jeda. Langit kelabu, bumi basah, dan udara terasa berat.

Di tengah derasnya hujan itu, ada satu kegelisahan kecil yang tumbuh di hatiku:
“Bagaimana anak yatim itu bisa datang ke kantor? Hujannya terlalu deras… kasihan dia.”

Jam terus berjalan.
Undangan kami terjadwal pukul 13.00.
Hujan masih deras, seolah tidak ingin berhenti.
Aku hanya bisa menatap jendela dan berdoa dalam hati,
“Ya Allah… mudahkan langkah kecilnya. Jangan biarkan ia kehujanan.”

Lalu sesuatu terjadi.
Ketika jarum jam tepat menyentuh pukul satu…
hujan tiba-tiba reda.
Awan membuka diri.
Cahaya matahari turun dengan lembut, seperti salam dari langit.

Adik yatim itu datang tepat waktu.
Kakinya tidak basah, bajunya tidak basah, langkahnya ringan.
Seolah alam pun menunggu kedatangannya.

Dan setelah ia pulang…
hujan turun lagi.
Lebih deras dari sebelumnya.
Seolah langit menutup pintunya kembali setelah memberi ruang bagi satu urusan kebaikan.

Masyaa Allah…
Hatiku langsung bergetar.

Betapa lembutnya Allah menata setiap detik.
Betapa halus pertolongan-Nya.
Betapa besar perhatian-Nya pada niat baik sekecil apa pun.

Ini bukan kebetulan.
Ini adalah cara Allah menunjukkan:

“Selama kau berjalan di jalan kebaikan, Aku akan buka jalannya.”

Jumat Berbagi hari ini terasa berbeda.
Tidak hanya tentang santunan, tidak hanya tentang program.
Tapi tentang bagaimana Allah sendiri turun tangan
untuk melindungi satu langkah kecil menuju sebuah kebaikan.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
Semoga kisah ini menjadi penguat bagi siapa pun yang membacanya.
Bahwa Allah selalu dekat…
bahkan di sela-sela rintik hujan.