Tampilkan postingan dengan label Self Reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Self Reflection. Tampilkan semua postingan

Kirain jam 4.20, ternyata masih 3.20 😅

Semalam aku tidur lebih awal, sekitar jam 10. Biasanya terbangun di jam 1 atau 2, tapi kali ini aku lihat jam sudah menunjukkan 4.20. Aku pun buru‑buru sahur dengan air putih, pisang, dan obat. Namun hati masih bingung, karena biasanya menjelang subuh terdengar lantunan sholawat dan bacaan Al‑Qur’an dari masjid, tapi kali ini sepi.


Aku buka jadwal imsakiyah, ternyata belum masuk subuh. Lalu aku cek HP, kaget sekali… ternyata baru jam 03.20. Ya Allah, aku salah lihat jam dinding yang tertutup lighting live streaming. Alhamdulillah, masih banyak waktu untuk sahur dan bisa tahajud.


Pagi ini aku belum selesai menulis bab baru, masih berupa kerangka dan coretan. Ada kejadian lain juga: aku beli antena TV indoor, ternyata tidak bisa dipakai. Sudah panggil ahli pemasangan, tapi beliau baik sekali, tidak mau menerima ongkos karena antena tidak jadi dipasang. Disarankan pakai antena luar rumah, insyaAllah nanti kalau ada rezeki.


Hari ini puasa Dzulhijjah berjalan lancar hingga maghrib. Alhamdulillah, setiap kejadian kecil terasa sebagai pelajaran: tentang waktu, tentang syukur, dan tentang kebaikan orang lain.



PERJALANAN HIDUP MENUJU AKU

Ada hari yang terasa jauh

Langkah berat, hati pun rapuh

Namun waktu terus membawaku

Menemukan arti di tiap ragu

 

Ada luka yang tak terlihat

Kupendam dalam sunyi yang pekat

Tapi diri tak ingin rebah

Meski perjalanan tak selalu ramah

 

Ku belajar menerima

Tak semua tanya harus terjawab sempurna

 

Beginilah perjalanan ini

Mengajariku berdiri lagi

Saat dunia terasa sepi

Tetap kutemukan cara untuk berani

 

Dan bila bayangan masa lalu

Mencoba menahan langkahku

Ku percaya setiap detikku

Sedang membentuk siapa diriku

 

Ada mimpi yang hampir hilang

Tertutup waktu yang panjang

Namun hati tetap mencoba

Menjaga nyala kecil di dada

 

Ku belajar percaya

Bahwa esok bisa membawa cahaya

 

Beginilah perjalanan ini

Mengajariku berdiri lagi

Saat dunia terasa sepi

Tetap kutemukan cara untuk berani

 

Dan bila bayangan masa lalu

Mencoba menahan langkahku

Ku percaya setiap detikku

Sedang membentuk siapa diriku

 

Dan bila suatu hari nanti

Ku memandang kembali

Ku tahu semua langkah ini

Tak ada yang pergi tak berarti

 



Saat Aku Belajar Mencintai Diri


Aku terlalu sering menyalahkan diri,

Pada luka yang tak sempat aku hindari,

Menyebut diri ini lemah dan tak berarti,

Hingga lupa… cara membahagiakan diri sendiri.


Malam-malamku penuh suara yang berisik,

Tentang “aku yang kurang” dan “aku yang gagal”,

Aku menelan semua tanpa sempat menjerit,

Seolah air mata pun tak layak ku kenal.


Hari ini aku lelah memusuhi diriku,

Lelah berpura-pura semua baik-baik saja,

Aku ingin memeluk semua rapuh dalam kalbu,

Meski tangan ini gemetar menerimanya.


Perlahan aku belajar menyebut namaku dengan lembut,

Tanpa benci, tanpa kata yang melukai,

Jika dunia tak pernah benar-benar memelukku,

Setidaknya… aku tak lagi meninggalkan diri sendiri.

Quote - Langit Di Dada

 “Kadang aku rindu… tapi aku belajar diam, karena yang kunanti selalu sibuk.”



"Jejak Sang Pejuang Cahaya: Mengenang Senyum di Balik Rasa Sakit

Ada jiwa-jiwa yang diciptakan Tuhan untuk menjadi pengingat bagi kita semua. Mereka yang tidak sekadar menjalani hidup, tetapi bertarung di dalamnya dengan simpul senyum yang tak pernah pudar. Ujian baginya bukan lagi tentang keluhan, melainkan tentang seberapa banyak tawa yang bisa ia bagikan sebelum waktu benar-benar habis.

Kita melihatnya berdiri tegak, menyanyi dengan suara yang tetap merdu, meski di baliknya ada lelah yang tak terkatakan dan rasa sakit yang terus menghujam. Ia mengajarkan kita bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut atau rasa sakit; keberanian adalah tetap melangkah dan tetap menjadi berkat bagi orang lain, bahkan saat tubuh sendiri sedang rapuh.

Kini, ketika lembar ujian itu telah terisi penuh dengan tinta kebaikan, bel terakhir telah berbunyi. Tugasnya untuk menginspirasi telah tuntas. Tidak ada lagi jarum, tidak ada lagi ruang tunggu yang dingin, dan tidak ada lagi perjuangan yang menyesakkan dada.

Ia tidak pergi, ia hanya sedang menempuh jalan yang paling tenang. Ia sedang melangkah menuju sebuah tempat di mana rasa sakit tidak lagi punya kuasa. Sebuah kepulangan yang indah bagi seorang pejuang yang telah menyelesaikan ujiannya dengan nilai yang sangat istimewa.

Selamat beristirahat dalam damai. Terima kasih telah mengajari kami cara mencintai hidup sampai detik terakhir.

"Sebab pada akhirnya, yang kita bawa pulang bukanlah penderitaan kita, melainkan seberapa besar cinta yang sempat kita tinggalkan di dunia."