Tampilkan postingan dengan label Self Reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Self Reflection. Tampilkan semua postingan

Sebuah Tasbih, Sejuta Doa

 Bismillahirrahmanirrahim...

Ada benda kecil yang hampir tidak pernah lepas dari tanganku.

Bukan karena harganya mahal.

Bukan karena bentuknya istimewa.

Tetapi karena di dalam benda kecil itu, tersimpan ribuan shalawat, dzikir, dan doa yang setiap hari menemani langkahku.

Tasbih digitalku.

Beberapa hari terakhir, baterainya mulai melemah.

Sering kali ketika hitungan baru mencapai beberapa ratus, tiba-tiba layarnya mati.

Aku mengulang lagi.

Lalu mati lagi.

Yang paling membuatku sedih adalah ketika tahajud.

Setiap malam aku memiliki amalan yang sangat kujaga.

Membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 313 kali.

Setiap tujuh kali bacaan, aku berhenti sejenak untuk berdoa.

Ketika hitungannya hilang karena tasbih mati, rasanya seperti kehilangan jejak di tengah perjalanan.

Aku sempat berpikir untuk membeli tasbih baru.

Namun ketika melihat harganya, aku tersenyum sendiri.

Di kepalaku langsung muncul hitungan lain.

"Uang ini bisa untuk membayar mbak beberapa hari."

Akhirnya aku mengurungkan niat.

Lalu Allah mengingatkanku kepada seorang sahabat yang sangat gemar bersedekah.

Aku memanggilnya dengan penuh sayang,

Nokji.

Dengan sedikit rasa malu, aku memberanikan diri mengirim pesan.

Bukan meminta uang.

Tetapi meminta dibelikan sebuah tasbih digital.

Aku berharap, semoga tasbih ini menjadi salah satu jalan pahala yang terus mengalir untuk beliau. Setiap kali aku berdzikir, bershalawat, atau membaca Al-Fatihah, semoga Allah Yang Maha Mengetahui niat menerima amal kami dan melipatgandakan kebaikan itu.

Masyaa Allah...

Tidak lama kemudian beliau menjawab,

"Iya, Mbak. Kirim alamatnya."

Beliau bahkan memilih membelikannya secara online agar langsung sampai ke rumahku.

Hari ini...

Tasbih itu akhirnya tiba.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Aku memegangnya dengan rasa syukur yang sulit diungkapkan.

Pembuka hitungannya bukan angka besar.

Melainkan rasa syukur.

Aku memulai dengan Shalawat Ibrahimiyah 100 kali.

Lalu kulanjutkan Shalawat Adrikni 1.000 kali, sambil menunggu waktu berbuka Puasa Daud.

Di tanganku, tasbih itu hanyalah alat.

Tetapi bagiku...

Ia adalah pengingat agar lisanku tidak lelah menyebut nama Allah dan bershalawat kepada Rasulullah ﷺ.

Hari ini aku kembali belajar.

Allah tidak selalu mengirim pertolongan dalam bentuk yang besar.

Kadang pertolongan itu datang dalam bentuk sebuah tasbih kecil yang mampu menjaga istiqamah seseorang dalam berdzikir.

Terima kasih, Nokji.

Semoga setiap butir dzikir yang terhitung melalui tasbih ini menjadi saksi kebaikanmu di hadapan Allah.

Dan semoga Allah membalasmu dengan balasan yang jauh lebih indah daripada apa yang telah engkau berikan.

Karena sesungguhnya...

Sedekah terbaik bukanlah yang paling mahal.

Tetapi yang paling bermanfaat.

Doa untuk Nokji 🤲

Ya Allah, Rabb Yang Maha Pemurah...

Limpahkanlah rahmat dan keberkahan-Mu kepada sahabatku, Nokji, yang telah menjadi jalan kebaikan bagiku.

Jadikan setiap dzikir, setiap shalawat, setiap istighfar, dan setiap doa yang kuhitung dengan tasbih ini sebagai sebab bertambahnya pahala baginya, sejauh Engkau berkenan menerima niat baik kami.

Berikanlah kepadanya kesehatan yang sempurna, umur yang penuh berkah, keluarga yang sakinah, rezeki yang halal dan berlimpah, hati yang selalu dekat kepada-Mu, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Balaslah setiap sedekahnya dengan balasan yang jauh lebih baik, sebagaimana hanya Engkau yang mampu membalas segala kebaikan hamba-hamba-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailin.


 

🌤️ Catatan Langit Di Dada

Kadang yang paling berharga bukanlah benda yang kita miliki.

Tetapi benda yang membuat kita semakin dekat kepada Allah.

Dan kadang...

Allah mengirimkannya melalui tangan seorang sahabat yang baik.

SING TENANG.

Kirain jam 4.20, ternyata masih 3.20 😅

Semalam aku tidur lebih awal, sekitar jam 10. Biasanya terbangun di jam 1 atau 2, tapi kali ini aku lihat jam sudah menunjukkan 4.20. Aku pun buru‑buru sahur dengan air putih, pisang, dan obat. Namun hati masih bingung, karena biasanya menjelang subuh terdengar lantunan sholawat dan bacaan Al‑Qur’an dari masjid, tapi kali ini sepi.


Aku buka jadwal imsakiyah, ternyata belum masuk subuh. Lalu aku cek HP, kaget sekali… ternyata baru jam 03.20. Ya Allah, aku salah lihat jam dinding yang tertutup lighting live streaming. Alhamdulillah, masih banyak waktu untuk sahur dan bisa tahajud.


Pagi ini aku belum selesai menulis bab baru, masih berupa kerangka dan coretan. Ada kejadian lain juga: aku beli antena TV indoor, ternyata tidak bisa dipakai. Sudah panggil ahli pemasangan, tapi beliau baik sekali, tidak mau menerima ongkos karena antena tidak jadi dipasang. Disarankan pakai antena luar rumah, insyaAllah nanti kalau ada rezeki.


Hari ini puasa Dzulhijjah berjalan lancar hingga maghrib. Alhamdulillah, setiap kejadian kecil terasa sebagai pelajaran: tentang waktu, tentang syukur, dan tentang kebaikan orang lain.



PERJALANAN HIDUP MENUJU AKU

Ada hari yang terasa jauh

Langkah berat, hati pun rapuh

Namun waktu terus membawaku

Menemukan arti di tiap ragu

 

Ada luka yang tak terlihat

Kupendam dalam sunyi yang pekat

Tapi diri tak ingin rebah

Meski perjalanan tak selalu ramah

 

Ku belajar menerima

Tak semua tanya harus terjawab sempurna

 

Beginilah perjalanan ini

Mengajariku berdiri lagi

Saat dunia terasa sepi

Tetap kutemukan cara untuk berani

 

Dan bila bayangan masa lalu

Mencoba menahan langkahku

Ku percaya setiap detikku

Sedang membentuk siapa diriku

 

Ada mimpi yang hampir hilang

Tertutup waktu yang panjang

Namun hati tetap mencoba

Menjaga nyala kecil di dada

 

Ku belajar percaya

Bahwa esok bisa membawa cahaya

 

Beginilah perjalanan ini

Mengajariku berdiri lagi

Saat dunia terasa sepi

Tetap kutemukan cara untuk berani

 

Dan bila bayangan masa lalu

Mencoba menahan langkahku

Ku percaya setiap detikku

Sedang membentuk siapa diriku

 

Dan bila suatu hari nanti

Ku memandang kembali

Ku tahu semua langkah ini

Tak ada yang pergi tak berarti

 



Saat Aku Belajar Mencintai Diri


Aku terlalu sering menyalahkan diri,

Pada luka yang tak sempat aku hindari,

Menyebut diri ini lemah dan tak berarti,

Hingga lupa… cara membahagiakan diri sendiri.


Malam-malamku penuh suara yang berisik,

Tentang “aku yang kurang” dan “aku yang gagal”,

Aku menelan semua tanpa sempat menjerit,

Seolah air mata pun tak layak ku kenal.


Hari ini aku lelah memusuhi diriku,

Lelah berpura-pura semua baik-baik saja,

Aku ingin memeluk semua rapuh dalam kalbu,

Meski tangan ini gemetar menerimanya.


Perlahan aku belajar menyebut namaku dengan lembut,

Tanpa benci, tanpa kata yang melukai,

Jika dunia tak pernah benar-benar memelukku,

Setidaknya… aku tak lagi meninggalkan diri sendiri.

Quote - Langit Di Dada

 “Kadang aku rindu… tapi aku belajar diam, karena yang kunanti selalu sibuk.”



"Jejak Sang Pejuang Cahaya: Mengenang Senyum di Balik Rasa Sakit

Ada jiwa-jiwa yang diciptakan Tuhan untuk menjadi pengingat bagi kita semua. Mereka yang tidak sekadar menjalani hidup, tetapi bertarung di dalamnya dengan simpul senyum yang tak pernah pudar. Ujian baginya bukan lagi tentang keluhan, melainkan tentang seberapa banyak tawa yang bisa ia bagikan sebelum waktu benar-benar habis.

Kita melihatnya berdiri tegak, menyanyi dengan suara yang tetap merdu, meski di baliknya ada lelah yang tak terkatakan dan rasa sakit yang terus menghujam. Ia mengajarkan kita bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut atau rasa sakit; keberanian adalah tetap melangkah dan tetap menjadi berkat bagi orang lain, bahkan saat tubuh sendiri sedang rapuh.

Kini, ketika lembar ujian itu telah terisi penuh dengan tinta kebaikan, bel terakhir telah berbunyi. Tugasnya untuk menginspirasi telah tuntas. Tidak ada lagi jarum, tidak ada lagi ruang tunggu yang dingin, dan tidak ada lagi perjuangan yang menyesakkan dada.

Ia tidak pergi, ia hanya sedang menempuh jalan yang paling tenang. Ia sedang melangkah menuju sebuah tempat di mana rasa sakit tidak lagi punya kuasa. Sebuah kepulangan yang indah bagi seorang pejuang yang telah menyelesaikan ujiannya dengan nilai yang sangat istimewa.

Selamat beristirahat dalam damai. Terima kasih telah mengajari kami cara mencintai hidup sampai detik terakhir.

"Sebab pada akhirnya, yang kita bawa pulang bukanlah penderitaan kita, melainkan seberapa besar cinta yang sempat kita tinggalkan di dunia."