Akhir Tahun 2025

Ada hari-hari ketika aku berjalan pelan,

Bukan karena lemah,

melainkan karena ingin lebih dekat pada-Nya.

Di antara sunyi dan sibuknya rasa,
seperti ada bisikan lembut dari langit:
“Tenanglah… Aku menjagamu.”

Maka aku tundukkan hati,
kulepaskan semua takut yang kupeluk terlalu lama,
kuserahkan seluruh perjalanan ini
pada Dia yang tak pernah meninggalkan.

Jika langkahku pelan,
biarlah, yang penting tetap menuju-Nya.

Dan di setiap jeda,
kusimpan doa:
semoga hidupku ditata
dengan cara paling indah oleh Allah,

meski aku hanya melangkah perlahan.








Di antara langkah pelan yang masih kujaga

Jika ada bab yang belum selesai, 

semoga Engkau selesaikan dengan cara-Mu yang paling lembut. 

Jika ada pintu yang tertutup, 

semoga Engkau bukakan yang lebih baik. 

Aku serahkan semuanya kepada-Mu, Ya Allah.


Ruang Tamu & Tugas

Di ruang tamu kutemukan ketenangan,

lantai kuning, dinding hijau jadi saksi. Laptop terbuka, tugas perlahan kutulis, di sela cahaya yang masuk dari pintu kaca.

Ada langkah-langkah lewat di luar sana, seperti ide yang datang, lalu pergi. Kadang fokus pecah, kadang hati tertawa, namun semangat tetap duduk di kursi ini.

Ruang sederhana, perjalanan besar, hari ini tugasku jadi semangatku



Syukur dalam Sepiring Ketela: Cerita Sahur Puasa Dawud-ku

Banyak yang bertanya, "Sahur apa hari ini?"

Mungkin bagi sebagian orang, sahur identik dengan meja makan yang penuh lauk pauk. Tapi bagiku, sahur adalah momen sunyi yang penuh kecukupan. Hari ini, di sepertiga malam yang tenang, menu sahurku sangat sederhana: beberapa keping biskuit, segelas air putih di tumbler kesayangan, dan istimewanya... ada ketela rebus.

Sebenarnya, menu tetapku biasanya cukup satu butir telur rebus, air putih, dan sebuah pisang. Sederhana, praktis, dan cukup untuk modal tenaga menjalankan Puasa Dawud. Namun, ada cerita manis di balik sahur kali ini.

Kemarin sore, seorang kerabat/tetangga memberi saya ketela rebus. Alhamdulillah, rezeki yang tidak disangka-sangka. Karena ada ketela, telur rebusnya saya simpan dulu untuk lain waktu. Menikmati pemberian orang lain sebagai menu sahur rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat. Ada rasa hangat di hati karena merasa dipedulikan oleh sesama, dan merasa dicukupkan oleh Allah melalui tangan orang lain.

Makan sahur tanpa nasi bukan berarti kekurangan. Justru di sini saya belajar, bahwa yang kita butuhkan sebenarnya tidak banyak, hanya rasa syukur yang perlu kita luaskan.

Menikmati pemberian orang lain sebagai menu sahur rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat. Ada rasa hangat di hati karena merasa dicukupkan oleh Allah melalui tangan orang lain.

Apalagi saat ini kita berada di bulan Rajab, salah satu bulan mulia (Asyhurul Hurum) yang menjadi pintu pembuka menuju Ramadan. Di waktu sahur yang mustajab ini, mari kita hiasi dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW agar kita disampaikan ke bulan suci nanti:

Doa Memasuki Bulan Rajab:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighnaa Ramadhana.

"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan."

Bagi teman-teman yang mungkin besok ingin menyusul berpuasa (baik Puasa Dawud, Senin-Kamis, atau puasa Qadha), jangan lupa niatnya ya. Cukup dalam hati dengan tulus:

"Nawaitu shauma Daawuda sunnatan lillaahi ta'aalaa." (Aku berniat puasa Dawud, sunnah karena Allah Ta'ala).

Semoga setiap ketela yang kita makan, setiap teguk air yang kita minum, dan setiap doa yang kita langitkan di bulan Rajab ini, menjadi saksi ketaatan kita di hadapan-Nya.

Dan semoga puasa hari ini diterima, dan semoga kita semua selalu diberi keikhlasan dalam setiap ibadah yang kita jalankan. Semangat untuk teman-teman yang juga sedang berjuang istiqomah dengan puasa sunnahnya!



Rajab hadir, sahurku jadi doa yang mengalir…

Ya Allah,  

di sepertiga malam yang sunyi,  

aku meneguk sahur dengan syukur,  

menyulam niat dalam hening Rajab-Mu.  


Berkahilah langkah kecilku,  

seperti embun yang jatuh di tanah kering,  

seperti doa yang menembus langit,  

sampaikanlah aku pada Ramadan-Mu.  


Rajab ini adalah jembatan,  

antara rindu dan persiapan,  

antara sabar dan cahaya,  

antara aku yang lemah,  

dan Engkau yang Maha Kuat.  


Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana  

wa ballighna Ramadhan.  





Selembar Mori dan Titipan yang Tak Bertepi

Seringkali kita terlalu sibuk mematut diri di depan cermin dunia, hingga lupa bahwa pakaian terakhir kita hanyalah selembar kain mori. Tanpa saku, tanpa perhiasan, tanpa gelar yang kita banggakan.

Dunia ini memang panggung yang penuh prasangka. Kadang, saat kita memegang sebuah amanah besar, orang lain hanya melihat "bungkusnya". Mereka mengira ada kemewahan di sana, mengira ada keuntungan duniawi yang melimpah, hingga tanpa sadar mereka datang hanya untuk memanfaatkan atau sekadar mencari celah.

Padahal, hanya Allah yang tahu betapa seringnya pundak ini gemetar. Hanya Allah yang tahu berapa banyak "rahasia" yang harus disimpan rapat antara diri ini dengan sajadah sepertiga malam. Tentang bagaimana harus tetap tegak berdiri demi harapan orang lain, sementara diri sendiri sedang berjuang tertatih memenuhi kebutuhan pribadi.

Menjadi "penjaga amanah" itu sunyi. Kita dituntut untuk selalu ada, selalu memberi, dan selalu kuat. Namun, saya hanyalah manusia biasa. Ada kalanya rasa lelah itu datang menyapa, bukan karena ingin berhenti, tapi karena butuh jeda untuk sekadar bernapas dan menyadari bahwa saya pun butuh dicukupkan oleh-Nya.

Kelak, saat waktu saya selesai, saya akan meninggalkan semua ini. Entah itu gedung, sistem, atau nama baik yang selama ini dijaga. Saya ingin pulang dengan hati yang lapang, tanpa membawa beban dunia yang bukan milik saya.

Terima kasih untuk setiap ujian "prasangka" yang datang. Itu adalah cara Allah agar saya tidak terlalu cinta pada dunia dan lebih berharap pada balasan-Nya yang tak pernah salah alamat.


Pesona Senin: Dzikir di Sepertiga Malam

Sepertiga malam adalah waktu yang penuh rahasia. 

Sunyi menyelimuti kamar, hanya cahaya lembut yang menembus jendela. 

Di sudut ruangan, seorang perempuan berhijab duduk tenang. 

Jemarinya memainkan tasbeh digital, s

etiap klik menjadi saksi bisikan doa yang tak terdengar oleh telinga manusia, 

namun sampai ke langit yang terbuka.


Ia berbisik lirih:


رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku.”


Doa itu sederhana, namun mengandung harapan besar. 

Senin pagi bukan sekadar awal minggu, 

melainkan awal perjalanan baru. 

Setiap orang membawa beban, rencana, dan cita-cita. 

Namun di sepertiga malam, beban itu dilepaskan, 

diganti dengan keyakinan bahwa Allah-lah yang memegang kendali.


Doa Senin Penuh Berkah

“Ya Allah, jadikan Senin ini cahaya awal minggu. Bukakan pintu rezeki yang halal, kuatkan langkah kami dengan ikhlas, dan jadikan setiap usaha kami bernilai di sisi-Mu. Limpahkan rahmat-Mu pada yayasan kami, pada keluarga kami, dan pada setiap hati yang mencari-Mu.”


Dzikir yang sederhana

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar

mengalir lembut dari bibirnya. 

Setiap lafaz adalah permata yang menenangkan hati, menghapus resah, dan menumbuhkan syukur.


Refleksi Sepertiga Malam

Senin sering dianggap berat, penuh tugas dan rutinitas. Namun bagi mereka yang memulai dengan doa, Senin justru menjadi pesona. Ia bukan beban, melainkan kesempatan baru untuk menanam amal, menebar kebaikan, dan meraih ridha Allah.

Sepertiga malam mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari rencana manusia semata, melainkan dari doa yang tulus. Tasbeh digital di jemari hanyalah alat, namun hati yang khusyuk adalah inti.


Penutup

Semoga setiap Senin kita mulai dengan dzikir, doa, dan keyakinan. Semoga setiap langkah kita menjadi cahaya, setiap usaha menjadi amal, dan setiap lelah diganti dengan ketenangan.

Pesona Senin bukan sekadar rutinitas, melainkan perjalanan spiritual yang dimulai dari sepertiga malam.


Pesona hari Ahad,

Ahad datang lagi

matahari tersenyum lebih hangat,

pemain inti tak mengenal libur, 

karena perjuangan tak pernah berhenti.


Hari Ahad tetap tempur, 

bertarung dengan file yang menumpuk, 

menyibak tumpukan kertas, 

dikejar deadline


Di balik lelah ada cahaya, 

di balik tempur ada doa, 

dan di setiap langkah, 

ada Allah yang menjaga.


Wa Ufawwidu Amri Ilallah

Di antara kertas dan deadline, 

Aku berbisik lirih: Wa ufawwidu amri ilallah.

Ya Allah, 

Aku berusaha sekuat yang kupunya, 

Namun aku tahu, 

Hasilnya tetap dalam genggaman-Mu.

Maka tenangkan hatiku,

Ringankan langkahku, 

Jadikan setiap tugas ini jalan menuju ridha-Mu.


Di Antara Amanah dan Doa

Di sepertiga malam yang sunyi,

aku duduk bersama lelah dan harap,
menyebut nama-Mu lirih, ya Rabb,
karena hidupku penuh titipan.

Aku pernah bercerita pada-Mu,
tentang langkah yang tertatih,
tentang amanah yang kupikul
lebih berat dari yang terlihat mata.

Aku tak tahu esok bagaimana,
apakah tanganku masih Kau kuatkan
untuk menjaga amanah ini,
atau kakiku masih Kau izinkan melangkah
di jalan pengabdian.

Ya Allah,
jika aku masih Kau percaya,
jagalah hatiku agar tak lalai,
luruskan niatku agar tak goyah,
kuatkan badanku agar tak mudah menyerah.

Aku ingin tetap bisa membantu
anak-anak yatim di bawah lindungan-Mu,
menjadi perantara kasih sayang-Mu,
meski hanya dengan tenaga yang terbatas,
meski hanya dengan doa dan kesungguhan.

Jika suatu hari aku lelah,
ingatkan aku bahwa ini bukan milikku,
bahwa semua hanya titipan,
dan aku hanyalah hamba
yang Kau beri kesempatan berkhidmat.

Ya Rabb,
jika aku masih bisa mendampingi,
jadikan aku pendamping yang lembut,
yang sabar, yang ikhlas,
yang tak berharap selain ridha-Mu.

Dan jika kelak Kau ambil amanah ini dariku,
ambil pula dengan husnul khatimah,
tanpa luka di hati,
tanpa penyesalan yang panjang.

Cukuplah Engkau tahu,
aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa,
menjaga, mendampingi,
dan mencintai amanah ini
karena-Mu semata.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.


Doa Tolak Bala di Selasa Pagi

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm  

Allāhumma innā na‘ūdhu bika min jahdi al-balā’  
wa daraki al-shaqā’  
wa sū’i al-qaḍā’  
wa shamatati al-a‘dā’.

“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesulitan bala, dari kesengsaraan,

dari buruknya takdir, dan dari kegembiraan musuh atas penderitaan kami.”


Renungan Selasa Pagi

🌿 Doa ini bisa dibaca setelah shalat Subuh atau kapan saja di pagi hari.
🌿 Sertakan niat: “Ya Allah, jadikan pagi ini awal yang damai,

jauhkan kami dari segala bala, dan limpahkan rahmat-Mu sepanjang hari.
🌿 Tambahkan dzikir dan shalawat untuk memperkuat hati.


Barangsiapa bertakwa, Allah cukupkan segala urusan.

Wa man yattaqillaha yaj‘al lahu makhraja  

Wa yarzuq-hu min haitsu la yahtasib  

Wa man yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuh  

Inna Allaha balighu amrih  

Qad ja‘ala Allahu likulli shai’in qadra

Ayat 1000 Dinar (QS. At-Talaq 2–3)


“Takwa membuka jalan, tawakkal menenangkan hati. Rezeki hadir dari arah yang tak pernah kita kira. Ayat 1000 Dinar bukan sekadar bacaan, ia adalah janji yang menguatkan jiwa.”

Pesona Hari Kamis

Pagi ini, Kamis datang dengan derasnya hujan. 

Langit seakan menumpahkan rahmat, menyejukkan bumi, membasuh segala resah. 

Ada pesona tersendiri saat hujan turun di hari Kamis seolah membuka pintu doa, 

mengingatkan kita pada kelembutan Allah yang selalu hadir.

Hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit, 

ia adalah tanda kasih. 

Ia mengajarkan sabar, menumbuhkan harapan, 

dan menyuburkan doa-doa yang kita titipkan pada-Nya.



Allahumma ṣayyiban nāfi‘an

Renungan Kamis Hujan

- Hujan adalah rahmat, bukan beban.

- Setiap tetesnya membawa pesan: jangan pernah putus asa.

- Kamis hujan adalah kesempatan untuk menenangkan hati, menulis doa, dan merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Hayati Bayati Arruhi Bimahi

Hidupku adalah rumah bagi ruhku, disirami oleh air kehidupan.  

Di setiap helai napas, aku menemukan rumah bagi ruhku. Tempat yang sunyi, namun penuh gema doa. Air kehidupan mengalir, membersihkan luka, menumbuhkan harapan, dan menenangkan segala resah.  

Kadang hidup terasa rapuh, seperti dinding rumah yang retak. Namun ruh tetap bersemayam, mencari cahaya, meneguhkan langkah. Air itu, rahmat yang tak pernah kering, menjadi saksi bahwa setiap perjalanan adalah bagian dari penyembuhan.  

Aku belajar bahwa hidup bukan sekadar waktu yang berlalu, melainkan wadah bagi ruh untuk tumbuh. Dan air kehidupan adalah pelukan lembut dari Sang Pencipta, mengingatkan bahwa setiap kesedihan bisa larut, setiap kegembiraan bisa mekar.  



"Di rumah hidupku, ruhku beristirahat; dan air kehidupan terus menulis puisi yang tak pernah selesai."



Scorpio

Kenapa Suka Menunda Kerjaan

(tapi tetap bisa selesai dengan total?)

01. Scorpio bukannya malas, tapi mereka butuh mood & energi emosional yang pas. Scorpio bukan tipe “kerja asal kelar.” Kalau belum klik secara mental dan emosional, mereka bakal menunda. Tapi bukan berarti lupa, mereka menunggu momen “klik batin” itu datang. Dan kalau sudah datang… semua dikerjakan sampai tuntas, bahkan dengan hasil yang sempurna. 

“Kalau hatiku belum ikut kerja, otakku juga gak akan jalan.”

02. Scorpio punya sistem kerja yang misterius dan intuitif. Mereka bisa terlihat nyantai, rebahan, atau scrolling TikTok sambil ngemil, tapi dalam otaknya mereka sedang menyusun strategi internal. Kayak ngebangun puzzle besar di kepala saat waktunya pas, tinggal eksekusi semuanya sekaligus.

03. Karena Scorpio butuh kontrol penuh, mereka gak suka dipaksa kerja dalam tekanan orang lain. Mereka ingin merasa bahwa merekalah yang memilih waktu dan cara menyelesaikannya. Makanya, terkesan “santai dulu,” padahal itu bagian dari proses membangun kekuatan batin.

04. Scorpio si moodie. Begitu mood-nya dapet, mereka akan kerja kayak mesin perang: fokus, teliti, dan gak bisa diganggu. Bahkan sampai lupa makan atau tidur. Scorpio itu kayak “singa tidur” terlihat malas, tapi sekalinya bangun? Habis semua.

05. Suka nyantai dulu, padahal banyak kerjaan. Tapi itulah gaya Scorpio: menunda bukan karena malas, melainkan karena mereka tahu kapan energi batin harus dipakai. Sekali bergerak, hasilnya selalu total.


Allahumma Barik

𝘚𝘦𝘭𝘢𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨

Selasa tiba seperti embun

yang jatuh perlahan di tepi hari

tak bersuara, tapi mampu menenangkan

segala gelisah yang semalam belum sempat pulang.


Ada bisik lembut di balik langit:

bahwa hidup selalu diberi kesempatan baru

meski langkah sempat gemetar,

meski hati kadang letih mencari arah.


Ya Allah…

pada Selasa yang lembut ini,

tambahkan keberanian dalam diam kami,

dan selimuti perjalanan ini

dengan penjagaan-Mu yang tak pernah alpa.


Bila beban terasa berat,

jadikan ia tangga menuju penguatan.

Bila harapan terasa jauh,

dekatkan ia dengan cara-cara-Mu yang indah.


Karena kami percaya

setiap pagi adalah pertanda cinta,

setiap hari adalah tempat doa berlabuh,

dan Selasa pun memiliki cahaya

bagi siapa saja yang mau melihatnya.


Aamiinn. 



Tawakkal: Menyerahkan Urusan kepada Allah

"Wa ufawwiḍu amrī ilallāh, innallāha baṣīrun bil-‘ibād" (Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. — QS Ghafir: 44)

Ada saat di mana manusia sudah berusaha sekuat tenaga, namun hasilnya tetap di luar kendali. Di titik itu, ayat ini hadir sebagai pengingat: menyerahkan urusan kepada Allah bukan berarti menyerah, melainkan percaya bahwa Dia Maha Melihat setiap langkah, setiap air mata, dan setiap doa yang kita bisikkan.

Tawakkal adalah seni melepaskan beban, agar hati kembali ringan. Takdir bisa berganti, cahaya bisa lahir dari gelap, selama kita masih berdoa dan berharap kepada-Nya.





Ketika Semua Berpaling, Allah Tetap Ada

Fa in tawallaw faqul ḥasbiyallāh, lā ilāha illā huwa, 'alayhi tawakkaltu wa huwa rabbul-'arsyil-'aẓīm.

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” — QS At-Taubah: 129)

Rasulullah sendiri pernah merasakan beratnya beban umat, namun tetap menyayangi mereka dengan kelembutan. Dan ketika tak ada yang mendengar, beliau berkata: “Cukuplah Allah bagiku.

Tawakkal bukan sekadar pasrah. Ia adalah keberanian untuk tetap melangkah, meski tak ada yang melihat. Ia adalah keyakinan bahwa Allah Maha Melihat, Maha Menyantuni, dan Maha Menguatkan.

Di bawah langit subuh ini, aku menyerahkan urusanku kepada-Nya. Karena hanya Dia yang tahu isi hati, luka yang tak terlihat, dan doa yang belum terucap.


"Jika semua berpaling, Allah tetap cukup. Tawakkal adalah tempat pulang yang paling aman."

Daily Volunteer

A quiet corner, not grand just sincere.  

A green wall, a soft rug, a tray of water.

This is where kindness sits,  

where prayers echo in silence,  

where the weak are welcomed without judgment. I sit here not to impress, but to serve, to protect, to remember.  

That even in a small room,  Allah's mercy can fill every corner


Hasbunallahu wa ni'mal wakil. 

La hawla wa la quwwata illa billah


Sepertiga malam

Tiga hari ini sakit cukup berat sampai benar-benar tidak berdaya. Alhamdulillah malam ini dokter datang memeriksa, dan kondisi mulai membaik.

Masyaa Allah… di saat sakit, aku makin paham siapa yang benar-benar peduli. Sekali lagi, sahabat-sahabatku yang justru menjadi penolong utama. Semoga Allah membalas semua kebaikan mereka, dan memberikan kesembuhan total untukku. 



Mengetuk Pintu Langit di Sepertiga Malam


Di sepertiga malam yang sunyi ini, ketika pintu langit terbuka dan doa-doa naik tanpa penghalang… 

aku kembali mengetuk pintu-Mu, Ya Rabb.  

Besok adalah hari Jumat, penghulu segala hari.  

Aku ingin menyambutnya dengan hati yang tenang, bersih, dan bersandar penuh pada-Mu.


Ya Allah…  

Lindungi hatiku dari rasa ingin tahu  

tentang hal-hal yang hanya akan melukai  

dan merampas ketenanganku.  

Jauhkan aku dari kabar, prasangka, dan perasaan  

yang bisa membuat jiwaku goyah.


Dan Ya Rabb…  

Tuntun aku pada apa yang membawa bahagia,  

yang menenangkan jiwa, dan Engkau ridhai.  

Perlihatkanlah kepadaku kebaikan yang Kau simpan,  

dan jauhkan aku dari sesuatu yang Kau tahu  

tidak baik untuk diriku.


Pertemukan aku dengan orang-orang  

yang pantas disambung tali silaturahim,  

yang kehadirannya mendekatkan aku kepada-Mu,  

bukan menjauh dari rahmat-Mu.  

Karuniakan aku sahabat-sahabat yang saling menguatkan,


Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad  

wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.  


Aamiin ya Rabbal ‘alaamiin. 🤲✨


Semoga sepertiga malam ini menjadi saksi  

akan doa-doaku yang Kau ijabah, Ya Rabb.











DROP

Kadang tubuh diuji, kadang langkah terasa berat.

Tapi hatiku yakin… kalau Allah izinkan aku melewati ini, berarti Allah tahu aku mampu.


Biar pelan, biar dari kamar, aku tetap jalanin amanah satu per satu.

Yang penting terus bergerak, terus berusaha, terus bertawakkal.

Karena setiap sakit pasti ada pelajaran, dan setiap ujian selalu membawa kebaikan. 









Doa Merubah Takdir: Dari Gelap Menuju Cahaya

"Takdir bukanlah akhir, ia bisa berubah dengan doa dan harapan yang tulus." 

Allahumma in kunta katabtani ‘indaka fi ummil kitabi shaqiyyan aw mahruuman, famhu Allahumma bifadhlika wa athbitni sa‘idan marzuqan muwaffaqan lil khairat.

Ya Allah, jika Engkau menuliskan aku sebagai orang yang celaka atau terhalang, maka hapuslah dengan karunia-

"Doa ini adalah pengingat bahwa setiap malam membawa kesempatan baru. Takdir bisa berganti, cahaya bisa lahir dari gelap, selama kita masih berdoa dan berharap kepada-Nya."

dan tetapkanlah aku sebagai orang yang bahagia, diberi rezeki, serta diberi taufik untuk kebaikan.

Sunyi yang Menyembuhkan

 Wa istagni ‘amman syi’ta takun nadziroh

Berlepaslah dari siapa pun yang kau kehendaki, niscaya kau menjadi pemberi peringatan.

Ada saat di mana sunyi justru menjadi ruang penyembuhan. Dalam kesepian, kita belajar bahwa tidak semua orang akan mendengar, tidak semua akan menerima. Namun tugas kita tetap sama: menyampaikan kebaikan.

Refleksi

  • Sunyi bukan berarti berhenti, melainkan kesempatan untuk mendengar suara hati.

  • Menyampaikan kebaikan tidak harus ramai, cukup ikhlas dan konsisten.

  • Peringatan yang lahir dari ruang sederhana bisa lebih menyentuh daripada panggung besar.





Jangan takut pada sepi. Justru di sanalah niatmu diuji.

Kebaikan tidak selalu mendapat tepuk tangan. Tapi ia selalu bernilai di sisi Allah.

PESONA HARI RABU

R-nya apa? R nya: Raga ini bukan milik kita. Ia hanyalah titipan dari Allah,yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya.  

Setiap langkah, setiap gerak, adalah kesempatan untuk berbuat baik.  

Bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diri sendiri.  

Karena kebaikan yang kita tanam, akan kembali kepada kita dengan penuh berkah."


📖 "In ahsantum, ahsantum li-anfusikum..."  

"Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri."  

(QS. Al-Isra: 7)


Di Ambang Lautan Doa

Sudah hampir dua pekan aku mengamalkan Hizib Bahr, dua kali dalam sehari, bada Subuh dan bada Isya. Kadang, di waktu Dhuha, aku putar rekamannya sendiri. Meski tak langsung bersama jamaah, rasanya tetap ada getaran yang sama: ketenangan, harapan, dan keyakinan.

Ada satu momen yang selalu membuatku berhenti lebih lama, menunduk lebih dalam: saat lantunan sampai pada kalimat wa ḥāṣilanā dhahaba al-baḥru. Di titik itu, kyai mempersilakan kami untuk memanjatkan doa-doa hajat. Rasanya seperti berdiri di tepi lautan yang baru saja surut, jalan terbuka, langit lapang, dan hati penuh harap.

Aku pun menyampaikan segala yang selama ini kupendam: harapan, kesedihan, cita-cita, dan rasa syukur. Ada keyakinan yang tumbuh pelan-pelan… bahwa Allah Maha Mendengar. Doa-doa itu bukan hanya harapan, tapi juga bentuk cinta dan percaya. Semoga terus menjadi jalan menuju kebaikan, untukku dan untuk siapa pun yang membaca ini.

Aku menuliskan ini bukan untuk pamer ibadah, tapi sebagai pengingat dan ajakan lembut. Semoga ada yang terinspirasi, semoga ada yang ikut mendekat. Jika ada manfaat, semoga menjadi amal jariyah. Jika ada kekurangan, semoga Allah ampuni.




KATA-KATA HARI INI

Tidur dengan hati bersyukur, bangun dengan jiwa yang penuh doa.



Pesona Hari Senin,

S-nya apa?

S nya, Serahkan semua pada Allah, karena di tangan-Nya, segala yang sederhana bisa menjadi berkah.

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)"

(QS. At-Talaq: 3)


Hari ini aku ingin mengirim doa terbaik untuk orang-orang baik 

yang selalu hadir di saat aku tak berdaya,

yang tak banyak bicara, tapi sigap memberi uluran tangan saat aku tak bisa apa-apa.


Semoga Allah membalas setiap kebaikan mereka dengan keberkahan tanpa batas,

dan menjadikan langkah mereka ringan di setiap urusan dunia dan akhirat. 


*Untuk setiap kebaikan yang tak sempat kubalas, semoga Allah yang menyempurnakannya.*


Sebelum Tidur, Aku Hapus Semua yang Mengecewakan

 Hari ini tidak berjalan seperti yang kuharapkan. Ada rasa sedih yang datang tanpa diundang, dan kecewa yang menempel di sudut hati. Beberapa harapan tak bertemu kenyataan, dan kata-kata yang kutunggu tak pernah tiba. Tapi aku tahu, semua ini bukan kebetulan. Setiap luka kecil, setiap sunyi yang terasa berat, semua terjadi atas izin Allah.

Dan karena itu… aku selalu bilang: nggak apa-apa.

Aku tidak menyangkal sedihnya. Tapi aku memilih untuk tidak menyimpannya.

Karena malam adalah waktu terbaik untuk menyerahkan segalanya. Untuk berkata, “Ya Allah, aku lelah… tapi aku percaya.”

Dan di kamar yang tenang ini, di bawah cahaya lampu yang hangat, aku memeluk diriku sendiri. Aku berterima kasih pada hati yang masih mau percaya, pada jiwa yang tetap lembut meski sempat retak.

Besok, insyaa Allah, aku akan bangun dengan hati yang lebih lapang. Karena malam ini, aku sudah mengikhlaskan.




Pesona Hari Ahad: Awali dengan Syukur atas Anugerah Kehidupan

A- nya apa?

A — Awali dengan syukur atas setiap anugerah kehidupan.

Sebab setiap pagi adalah tanda kasih Allah yang tak pernah berhenti.

Bangun dengan hati ringan, tersenyum pada dunia, dan biarkan hari ini menjadi awal penuh berkah.

“Dan jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)


2 November, bukan sekadar tanggal di dinding,

tapi pengingat lembut bahwa Allah masih memberiku waktu untuk memperbaiki diri,

menyebar kebaikan, dan menjaga hati agar tetap tulus di jalan-Nya.


Terimakasih ya Allah, untuk usia yang Kau panjangkan, hati yang Kau lembutkan, dan segala anugerah yang tak henti Kau titipkan.

Izinkan aku menjaga rasa syukur ini tetap hidup, dalam setiap langkah menuju ridha-Mu.




DOA DI HARI LAHIRKU

Ya Allah, Engkau yang meniupkan ruh ke dalam jasadku, 

dan menuliskan takdirku sebelum aku mengenal dunia. 

Di hari kelahiranku ini, aku kembali bersujud, 

memohon agar setiap langkahku menjadi jalan menuju-Mu.

"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)


Jadikanlah hidupku sebagai ibadah, 

setiap karya sebagai amal jariyah, 

setiap luka sebagai jalan penyembuhan, 

dan setiap cinta sebagai cermin kasih-Mu.


Jika aku lupa, ingatkan aku dengan ayat-Mu. 

Jika aku lelah, kuatkan aku dengan dzikir. 

Jika aku jatuh, bangunkan aku dengan rahmat.

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6)


Di hari lahir ini, 

aku tidak meminta umur panjang, 

tapi umur yang berkah. 

Tidak meminta dunia yang gemerlap, 

tapi hati yang tenang dalam ridha-Mu.


Pesona Hari Sabtu


 
S-nya apa?
S-nya Selamat Datang Bulan Kelahiran

November selalu punya cara untuk membuatku diam sebentar 
menengok ke belakang dengan senyum kecil,
lalu melangkah lagi dengan hati yang lebih lapang.

Bukan lagi tentang siapa yang pergi atau tinggal,
tapi tentang bagaimana aku belajar
*mencintai diriku sendiri.*

Selamat datang, bulan kelahiran...
semoga langkah-langkahku di bulan ini
senantiasa dipenuhi keberkahan, ketenangan, dan kabar baik dari langit.

Catatan kecil menjelang tanggal 2 November

Selamat datang, November.

Bulan kelahiran, bulan harapan yang kutanam dengan doa. 

Aku tidak meminta dunia tunduk padaku, 

hanya memohon agar hatiku tetap tunduk pada-Nya.


Semoga kebahagiaan datang bukan karena segalanya mudah, 

tapi karena aku dimudahkan dalam bersyukur. 

Semoga rezeki mengalir bukan hanya dalam bentuk materi, 

tapi juga dalam bentuk ketenangan, keberkahan, dan rasa cukup.


Semoga setiap urusan menjadi ringan, 

karena Allah yang menggenggamnya. 

Semoga aku istiqomah dalam ibadah, meski dunia terus berubah.


Jauhkan aku dari hal-hal yang tidak baik, 

yang mengaburkan cahaya dalam diri. 

Lindungi aku, ya Rabb, 

seperti Engkau melindungi hamba-hamba yang Kau cintai.


Di bulan kelahiranku ini, 

aku ingin menjadi lebih berguna, lebih bersih, lebih dekat. 

Karena hidup bukan tentang berapa lama aku ada, 

tapi tentang seberapa banyak aku memberi.


Tenang Sebelum Segala Sesuatu Berubah

Ketika hati sudah benar-benar berserah, bahkan di tengah kesulitan, yang tersisa hanyalah ketenangan. 

Sebuah refleksi sederhana tentang pasrah, ikhlas, dan rasa damai yang datang sebelum pertolongan Allah tiba.


Entah sejak kapan, aku mulai tak lagi terburu-buru meminta segalanya selesai dengan cepat.

Mungkin karena aku sudah terlalu sering melihat, bahwa setiap yang tertunda pun, tetap akan sampai, asal Allah sudah mengizinkan.

Aneh memang, hatiku setenang ini sekarang.

Padahal masalah masih ada, kebutuhan masih menunggu, dan hal-hal kecil seperti ponsel mati pun belum menemukan jawaban.

Tapi justru di situ aku merasa,

bahwa tenang bukan karena keadaan,

melainkan karena keyakinan.


Aku tidak lagi menunggu sesuatu untuk kembali,

aku menunggu bagaimana Allah akan mengembalikannya dengan cara-Nya sendiri.

Mungkin nanti, mungkin besok, mungkin saat aku sudah benar-benar pasrah.


Ada waktu di mana aku hanya tersenyum saat sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Bukan karena aku kuat,

tapi karena aku tahu, setiap yang Allah izinkan terjadi, pasti punya maksud yang lebih indah.


Tenang itu bukan berarti semuanya baik-baik saja,

tapi karena aku sudah percaya,

bahwa di balik setiap ujian,

ada kasih sayang Allah yang sedang bekerja dengan lembut sekali. 


Kadang Allah tidak langsung mengubah keadaan, karena Dia sedang menguatkan hati kita terlebih dahulu. 

Dan di situlah, ketenangan itu tumbuh,bahkan sebelum segalanya berubah.





Daily Volunteer

“Tidak semua perjuangan terlihat, tetapi setiap langkah kebaikan bernilai di sisi Allah.

Advokasi ini merupakan salah satu ikhtiar yayasan untuk memastikan keluarga pra-sejahtera mendapatkan hak bantuan sosial yang layak.

Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi untuk semakin memperkuat kepedulian dan solidaritas bersama.”



Sebanyak Kebaikan Nabi

Allahumma sholli wa sallim, 

Pada nama yang membuat langit bersujud, Muhammad, 

Cahaya yang tak padam, 

Yang setiap jejaknya adalah jalan kebaikan


Sebanyak kebaikan beliau, 

Sebanyak itu pula kami memohon rahmat, 

Karena tak ada bilangan yang cukup 

Untuk menampung cinta yang beliau wariskan.


Kami sebut namanya di Subuh yang sunyi, 

Di antara desir angin dan dzikir hati, 

Agar hidup kami ikut bercahaya, 

Meski hanya setitik dari samudera beliau.


Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada Nabi yang Engkau cintai, 

Kepada keluarganya yang menjaga warisan, 

Kepada sahabatnya yang menyalakan lentera zaman.

Sebanyak kebaikan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam

Sebanyak itu pula kami berharap Engkau mencintai kami, karena kami mencintai beliau.


Allahumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ‘adada hasanaati sayyidina Muhammad.


Setenang Itu Aku Sekarang

Ada masa di mana aku tak lagi berlari mencari tenang di luar diri.

Karena kini aku tahu, ketenangan sejati bukan datang dari siapa yang menemani, tapi dari seberapa dalam aku berserah pada Allah.

Malam-malamku bukan lagi sepi, tapi ruang untuk berbicara tanpa suara antara aku, Allah, dan Rasul.

Setiap dzikir seakan memelukku, setiap sholawat membawa cahaya, dan setiap ayat yang kubaca menenangkan hatiku.

Aku tak ingin menonjolkan apa yang kulakukan,

cukup ingin berbagi rasa bahwa kedamaian itu nyata 

dan ia datang ketika kita berhenti berpegang pada dunia, lalu menggenggam erat nama-Nya.


Sunyi yang Menenangkan

Di sunyi malam, aku belajar diam,

bukan karena letih, tapi karena ingin mendengar.

Ada bisikan lembut di dada,

mengajak pulang pada Yang Maha Ada.


Tiap hela napas terasa ringan,

seolah beban dunia dilepaskan perlahan.

Sholawat jadi jembatan rindu,

mendekat pada cahaya Rasul-Mu.


Tak ada lagi resah yang menggigil,

hanya damai yang menetes seperti embun subuh.

Kupeluk tenang, bukan karena aku kuat,

tapi karena Engkau tak pernah jauh, ya Allah.


Ketenangan ini bukan karena aku tak diuji,

tapi karena aku belajar memahami setiap ujian adalah cara Allah memelukku dengan cara yang paling lembut.



Doa sebelum tidur

Ya Allah,

malam ini aku serahkan segala lelah dan pikiranku pada-Mu.

Jika ada resah di hatiku, tenangkanlah dengan kasih-Mu.

Jika ada harap yang belum Engkau kabulkan,

jadikan aku sabar menunggu dengan keyakinan bahwa Engkau tahu waktu terbaik.


Lindungilah aku dalam tidurku,

jaga hatiku dari rasa takut dan gelisah.

Bangunkan aku di waktu terbaik,

untuk mengingat nama-Mu, memuji-Mu,

dan memohon ampun di sepertiga malam-Mu yang suci.


Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin 🤲🌿



HP BLACK SCREEN

Hari ini, HP-ku belum menyala. Black screen. Sunyi. Tapi justru di situ aku belajar: bahwa tak semua yang gelap berarti rusak. Kadang, Allah sedang mengajak kita diam, berhenti sejenak dari dunia yang bising.

Mungkin ini waktu untuk lebih banyak dzikir, lebih sedikit scroll. Waktu untuk menatap langit, bukan layar. Waktu untuk mendengar hati, bukan notifikasi.

Aku ridha. karena setiap kejadian, bahkan yang kecil dan remeh, bisa jadi jalan menuju cahaya. Qadarullah. Dan aku percaya, Allah tak pernah salah menulis takdir.



Di Sepertiga Malam Jum’at: Salam untuk Sang Rasul

Di kamar yang sunyi, 

Di antara dinding yang menyimpan dzikir, 

Aku bentangkan sajadah, 

Seperti membuka lembaran hati yang ingin kembali.


Tasbih tergeletak di sisi, 

Butir-butirnya seperti bintang kecil yang menghitung setiap harap, 

Setiap luka yang ingin sembuh dalam sujud.

Al-Qur’an terbuka, ayat-ayatnya berbisik lembut, 

Seperti pelukan 

Dari langit yang menenangkan jiwa yang lelah berjalan.


Di dinding, tertulis: “Jumu’ah Mubarak” 

Bukan sekadar ucapan, 

Tapi doa yang mengalir 

Dari hati ke langit.


Wahai Rasulullah, 

Assolatu wasalamualaika ya sayyidi ya Rasulullah 

 Shalawat ini kutitipkan dalam malam, 

Dalam sepi yang penuh makna.


Engkau yang datang membawa cahaya, 

Di saat dunia gelap dan jiwa kehilangan arah. 

Engkau yang mengajarkan cinta tanpa syarat, 

San sabar yang tak pernah padam.


Di malam Jum’at ini, 

Aku ingin menjadi hamba yang kembali, 

Yang tak hanya membaca, 

Tapi meresapi setiap ayat sebagai pelita.


Aku ingin menjadi saksi, 

Bahwa malam bukan sekadar waktu, 

Tapi ruang untuk bertemu, 

Dengan Rabb yang Maha Mendengar.


Wahai jiwa, 

Jangan kau lewatkan malam ini dengan kelalaian. 

Karena di sepertiga malam, 

Ada pintu yang terbuka, 

Ada rahmat yang turun, 

Ada cinta yang menunggu untuk disambut.


Dan jika air mata jatuh, 

Biarlah itu menjadi saksi, 

Bahwa kau pernah berharap, 

Pernah mencintai, dan pernah kembali.


Yang Tahu Segala Bisikan

(Refleksi dari Surah Al-Mulk ayat 13)

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Al-Mulk: 13)




Di sepertiga malam, 

saat dunia tertidur dalam pelukan sunyi, 

ia duduk bersimpuh di atas sajadah, 

dengan tasbih sederhana 

di jemari yang gemetar lembut. 

Tak ada suara, hanya detak hati yang berdzikir, 

dan air mata yang menetes pelan, seperti hujan kecil yang malu-malu mengetuk jendela langit.


Ia tak berkata-kata, karena ia tahu, 

Bahwa Tuhan-nya mendengar bahkan yang tak terucap. 

Bahwa bisikan yang ia sembunyikan dari dunia, telah lama sampai ke Arasy, 

Sebelum ia sempat merangkai kata.


"Wa asirru qoulakum awijharuu bih..." 

 Rahasiakanlah, atau nyatakanlah, 

Sungguh Dia Maha Mengetahui segala isi hati. 

Dan ia pun menangis, bukan karena lemah, 

Tapi karena akhirnya merasa dilihat, 

Oleh Yang Maha Melihat, meski dunia tak pernah benar-benar tahu.


Tasbih itu terus berpindah dari satu butir ke butir lain, 

Seperti langkah-langkah kecil menuju ampunan, 

Seperti harapan yang tak putus meski gelap masih menyelimuti. 

Ia tak meminta dunia, ia hanya meminta 

Agar hatinya tetap hidup, 

Agar niatnya tetap bersih, 

Agar amalnya, meski kecil, 

Menjadi cahaya yang tak padam di akhirat kelak


Dan malam itu, 

Di antara remang dan rindu, ia merasa cukup. 

Karena ia tahu, bahwa Tuhan-nya tahu. 

Segala isi hati. 

Segala luka. 

Segala cinta. 

Segala doa yang tak pernah sempat ia ucapkan.

Hujan Sore dan Perpisahan

Di bawah langit yang menangis pelan, 

Hujan sore turun seperti doa yang diam. 

Ada jejak langkah yang tak lagi kembali, 

Ada pelukan yang tertinggal di hati.


Enam tahun bukan sekadar waktu, 

ia menjahit kenangan, tawa, dan rindu. 

Mbak, engkau bukan hanya penolong, 

engkau saudara dalam diam yang tulus dan panjang.


Hari ini, engkau pamit dengan alasan mulia, 

menyambut cucu yang akan lahir ke dunia. 

Dan aku, yang terbiasa melihatmu di pagi hingga sore hari, 

menangis dalam syukur dan haru yang tak henti.


Maaf atas khilaf yang pernah singgah, 

terima kasih atas sabar yang tak pernah lelah. 

Kita saling memaafkan, saling mendoakan, 

di bawah hujan yang menjadi saksi perpisahan.


Semoga langkahmu diberkahi cahaya, 

semoga cucumu lahir dalam pelukan bahagia. 

Dan semoga perpisahan ini bukan akhir, 

melainkan awal dari doa yang terus mengalir.


Rahmat yang Digiring oleh-Nya

Refleksi dari Ali Imran ayat 74

Yakhtaṣṣu biraḥmatihī may yasyā’, wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm

“Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Ali Imran: 74)


Di antara banyaknya harapan yang kita panjatkan, ada satu yang paling lembut: 

agar Allah menggiring rahmat-Nya kepada kita. 

Bukan karena kita layak, tapi karena Dia Maha Pemurah.


Setiap pagi, setelah Subuh, aku ulangi ayat ini enam kali. 

Bukan sekadar dzikir, tapi doa yang tersembunyi di dalamnya:

Agar rahmat-Nya datang, 

Meski aku belum sempat memintanya dengan kata-kata.


Aku percaya, 

Rahmat Allah tidak selalu berupa hal besar. 

Kadang ia datang dalam bentuk ketenangan, 

Dalam cinta yang menumbuhkan, 

Dalam arah yang tak membuatku tersesat.


Dan aku tahu, 

Jika ada yang membaca ini lalu ikut mengamalkan, 

Maka pahala akan mengalir seperti cahaya yang tak padam. 

Karena kebaikan, 

Selalu punya cara untuk kembali kepada yang menanamnya.




Allahumma suq ilayya

Bawalah kepadaku, ya Rabb, 

Segala yang Engkau tahu aku butuhkan, 

Meski belum sempat aku pinta.


Bukan sekadar rezeki yang mengalir, 

Tapi ketenangan yang menetap, 

Cinta yang menumbuhkan, 

Dan arah yang Engkau berkahi.


Bawalah aku pada pertemuan yang Engkau ridhai, 

Pada langkah yang tak tersesat, 

Pada cahaya yang tak padam, 

Meski malam panjang dan hati lelah.


Aku menungguMu, 

Dengan hati yang lapang, 

Dengan jiwa yang percaya, 

Bahwa tak ada yang datang 

Tanpa Engkau yang menggiringnya.


Kata-kata hari ini

 Aku tau, Allah pasti nolong aku


Hujan Di Awal Pekan

Senin pagi, langit menunduk pelan,

Menumpahkan rindu lewat gerimis yang sopan.

Bumi beraroma doa dan harapan,

Seolah berkata, *“Tenanglah, semua akan berjalan.”*


Tetes-tetesnya jatuh seperti nasehat,

Bahwa tak semua langkah harus cepat.

Kadang jeda adalah bagian dari kuat,

Dan diam justru tempat doa paling hangat.


Hujan turun, tapi hati tak redup,

Justru makin jernih seperti air yang mengalir lembut.

Hari baru dimulai, meski langit tak biru,

Ada rahmat Allah di setiap sendu.



Balasan yang Tak Pernah Salah Alamat

Di sepertiga malam, 

saat dunia tertidur dalam pelupaannya, 

ada tangan-tangan yang terangkat, 

bukan untuk meminta dunia, 

tapi untuk menitipkan lelah yang tak terlihat.


kau yang memberi, 

tanpa panggung, tanpa sorotan, 

kau yang menahan tangis saat kebaikanmu dibalas sunyi

Allah melihatmu.


Hal jazā`ul-ihsāni illal-ihsān 

 Tak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan pula. 

Dan kebaikan dari-Nya… 

selalu datang tepat waktu, 

meski bukan waktu yang kau harapkan.


Mungkin bukan hari ini. 

Mungkin bukan dari orang yang kau bantu. 

Tapi dari langit, 

dalam bentuk ketenangan, 

dalam bentuk pelukan tak kasat mata, 

dalam bentuk kekuatan untuk terus berjalan.


Teruslah menjadi cahaya, 

meski tak semua mata bisa melihatmu bersinar. 

Karena Allah… tak pernah salah alamat dalam membalas ihsan.


Jangan Biarkan Hatiku Pergi

Di sepertiga malam, 

aku tak minta dunia, aku cuma takut… 

takut hatiku berpaling setelah Kau beri petunjuk.


Rabbana… 

 Jangan biarkan aku kembali gelap, 

setelah Kau nyalakan cahaya di dalamku.


La tuzigh qulubana

jangan biarkan hatiku miring, 

meski dunia terus menggoda arah.


Wahab lana milladunka rahmatan

beri aku rahmat, 

yang tak datang dari manusia, 

tapi langsung dari sisi-Mu.


Innaka antal Wahhab

Engkau Maha Pemberi, 

dan aku… hanya seorang peminta yang tak tahu jalan

tanpa cahaya dari-Mu.


“Rabbana la tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wa wahab lana milladunka rahmatan, innaka antal Wahhab”


SERTIFIKAT LCP #41

Alhamdulillah 

Meski belum jadi juara, saya tetap bersyukur bisa ikut berpartisipasi dalam Lomba Cipta Puisi Nasional 41 📖


Bagi saya, menulis bukan sekadar mengejar juara,

tetapi tentang keberanian menuangkan rasa,

dan berbagi kisah melalui kata.


Kemenangan sejati adalah ketika hati tetap tenang,

dan semangat untuk berkarya tak pernah hilang 🤍


#LombaPuisiNasional #PuisiHati #MenulisDenganHati #TetapBerkarya


“Rezeki yang Tak Pernah Usai”

(QS. Shad: 54)

“Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya.” (QS. Shad: 54)

 

Di antara sepi yang belum sempat bicara, 

aku duduk, menghadap langit yang masih biru muda. 

“Inna haadza larisqunaa…” 

bisikku, pelan, seperti doa yang malu-malu.

Ini rezeki dari-Mu, ya Rabb, 

yang tak pernah habis, tak pernah lelah datang. 

Bukan hanya dalam bentuk rupiah, 

tapi dalam napas, dalam sabar, dalam pelukan pagi.

Aku tak meminta banyak, 

hanya cukup untuk hidup dengan hati yang lapang. 

Untuk mencintai tanpa takut kekurangan, 

untuk memberi tanpa takut kehilangan.

Dan Subuh pun menjadi saksi, 

bahwa aku percaya pada janji-Mu yang tak pernah usai. 

Maa lahu min nafadin

tak akan habis, tak akan hilang.