Seringkali kita terlalu sibuk mematut diri di depan cermin dunia, hingga lupa bahwa pakaian terakhir kita hanyalah selembar kain mori. Tanpa saku, tanpa perhiasan, tanpa gelar yang kita banggakan.
Dunia ini memang panggung yang penuh prasangka. Kadang, saat kita memegang sebuah amanah besar, orang lain hanya melihat "bungkusnya". Mereka mengira ada kemewahan di sana, mengira ada keuntungan duniawi yang melimpah, hingga tanpa sadar mereka datang hanya untuk memanfaatkan atau sekadar mencari celah.
Padahal, hanya Allah yang tahu betapa seringnya pundak ini gemetar. Hanya Allah yang tahu berapa banyak "rahasia" yang harus disimpan rapat antara diri ini dengan sajadah sepertiga malam. Tentang bagaimana harus tetap tegak berdiri demi harapan orang lain, sementara diri sendiri sedang berjuang tertatih memenuhi kebutuhan pribadi.
Menjadi "penjaga amanah" itu sunyi. Kita dituntut untuk selalu ada, selalu memberi, dan selalu kuat. Namun, saya hanyalah manusia biasa. Ada kalanya rasa lelah itu datang menyapa, bukan karena ingin berhenti, tapi karena butuh jeda untuk sekadar bernapas dan menyadari bahwa saya pun butuh dicukupkan oleh-Nya.
Kelak, saat waktu saya selesai, saya akan meninggalkan semua ini. Entah itu gedung, sistem, atau nama baik yang selama ini dijaga. Saya ingin pulang dengan hati yang lapang, tanpa membawa beban dunia yang bukan milik saya.
Terima kasih untuk setiap ujian "prasangka" yang datang. Itu adalah cara Allah agar saya tidak terlalu cinta pada dunia dan lebih berharap pada balasan-Nya yang tak pernah salah alamat.
